Feeds:
Posts
Comments

Istanbul, 27 Maret 2025 sekitar jam 7 pagi waktu setempat.

Pesawatku dari Jakarta baru tak lama mendarat di bandara Istanbul untuk transit kurang lebih 6 jam lamanya. Aku baru saja selesai zoom meeting untuk merekam ucapan ulang tahun untuk boss ku. Aku sedang bersiap-siap untuk ke toilet buat sikat gigi dan cuci muka, karena flight dari Jakarta sebelumnya adalah tengah malam. Pria itu datang untuk mencharge handphone nya di tempat aku duduk. Ya di situ memang ada beberapa kursi dan beberapa stop kontak. Pria paruh baya dengan tampilan seperti India atau ya sekitarnya ini tampak agak kebingungan. Beberapa kali dia memindahkan kabel nya dari satu colokan ke colokan lain tetapi tampaknya tidak ada listrik yang mengalir ke hp nya. Dia lalu melihatku dan bertanya apakah aku punya kabel charger. Seperti biasa aku yang introvert ini selalu enggan berkomunikasi dengan orang asing, sehingga kujawab saja untuk mencoba di lubang yang lain. Namun setelah berpindah 2-3 kali tidak berhasil dan dia bilang sepertinya yang bermasalah adalah kabel chargernya dan dia bertanya apakah aku punya kabel charger.

Entah karena kasihan atau apa, akhirmya aku mengeluarkan kabel charger ku dan kuberikan padanya. Dan memang dengan kabel ku hp nya bisa dicharge. Dia bilang bolehkah pinjam sebentar? Laku kubilang pakai saja, aku hanya akan ke toilet 10-15 menit jd selama itu dia bisa pakai. Tapi alih-alih ke toilet, aku malah duduk lagi. Kuakui ada sedikit rasa khawatir meninggalkan begitu saja kabel charger ku ke orang asing. Akhirnya singkat cerita pria ini mengajak ngobrol. Dia orang Pakistan yang bekerja di Dubai, seharusnya dia meneruskan penerbangan ke Armenia atau mana, aku agak kurang jelas, namun dia tertahan dan tidak diijinkan terbang dengan connecting flight nya. Dia bahkan harus membeli tiket pesawat baru untuk ke negara lain, Azerbaijan. Rencananya selain traveling dia juga sekaligus survey untuk membuka bisnis. Pria ini tipe yang extrovert, dia harus berkomunikasi dengan orang lain untuk recharge energy nya, itu dia sampaikan kepadaku sambil mengucapkan terima kasih. Akhirnya setelah lebih dari setengah jam, setelah dia ke toilet dan aku juga bergantian ke toilet, kupikir harusnya hp nya sudah terisi setidaknya 50% maka aku bilang padanya aku harus melanjutkan perjalananku. Akhirnya kami berpisah, bahkan tanpa saling bertanya nama masing-masing. Kupikir di kehidupan lalu mungkin dia pernah membantuku, maka saat ini adalah kesempatanku membalas dan membantunya. Jikalaupun kami belum pernah bertemu sebelumnya, mungkin dia pernah melakukan kebaikan dan saat ini dia menerima balasan atas kebaikannya melalui aku.

Luzern, 28 Maret 2025, pagi jam 8an

Kemarin secara tidak sengaja saat mengecek IG, aku melihat story Mba Ririen yang sepertinya sedang di Itali. Iseng aku DM menanyakan sampai kapan di Itali, karena kebetulan aku akan ada jadwal ke Milan. Mba Ririen membalas kalau dia, Mas Wibi dan satu temannya sedang menuju Swiss. Wah kebetulan sekali, aku sudah tidak ketemu mba Ririen mungkin sekitar 5 tahun an. Walau sama-sama di Indonesia, sejak pindah ke Palembang, sepertinya aku hanya sempat ketemu 2 kali, sekali waktu aku tugas kantor ke Palembang sekitar tahun 2010, dan terakhir di Jakarta sebelum pandemi di 2019. Mba Ririen adalah teman sekantorku dulu sewaktu di Sinarmas tahun 2007-2010, dan dulu kami cukup dekat. 

Trip kali ini karena kesibukan sebelum berangkat, aku belum membuat itinerary detail, aku hanya baru menentukan aku akan tinggal di kota apa dan kapan, jadi karena kebetulan mba Ririen di Swiss maka kuputuskam untuk bertemu dengannya, dan di sinilah di Luzern aku bertemu dengan mba Ririen. Sehari ini aku ikut jadwal mba Ririen yang menyewa mobil, kami pergi ke Itsewald, ke danau di mana syuting film drama Korea: Crush Landing on You. Tapi memang ya tidak ada yang kebetulan, karena pergi dengan mba Ririen aku jadi mengunjungi tempat ini, yang awalnya aku tidak tahu apakah akan aku kunjungi atau tidak. Begitulah hari ini kuhabiskan dengan mba Ririen, Mas Wibi dan Tarida teman mba Ririen. Karena jadwal kami yang berbeda, jadi kami akan berpisah setelah hari ini.

Aku dan Mba Ririen di stasiun sebelum kami berpisah

Milan, 30 Maret 2025 jam 12 siang.

Belakangan ini, aku tidak terlalu suka untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah ataupun yang berbau kuno atau antik. Ada perasaan tidak nyaman saat mengunjungi tempat-tempat itu, maka untuk 2 hari ku di Milan, saat browsing ‘what to do in Milan’ akhirnya aku mendaftar cooking class untuk membuat Pasta dan Tiramisu. Chef nya seorang Italia yang sebenarnya lahir dan besar di Brazil. Nenek Kakeknya berasal dari Itali dan migrasi ke Brazil. Raffael, nama chef tersebut memutuskan untuk ke Itali dan memulai karir menjadi Chef setelah sebelumnya sempat bekerja secara profesional di General Motor. Peserta lain, pasangan suami istri dari Amerika yang mana si istri bernama sama denganku, Jennifer. Nenek nya juga berasal dari Itali. Kelas berlangsung hangat karena dilakukan di rumah dan sambil mengobrol santai. Obrolan dari mulai masakan, politik hingga kekhawatiran orangtua terhadap anaknya. Sungguh buatku ini seperti pelajaran hidup yang tak terlupakan.

Duomo – Milan, 31 Maret 2025 sekitar jam 8 pagi lewat waktu setempat.

Karena keretaku kembali ke Swiss adalah jam 3 sore, maka untuk mengisi waktu pagi hari aku mengunjungi Katedral Milan setelah sebelumnya membeli tiket masuk online. Tiket yang kubeli termasuk akses ke terrace dengan Lift, karena kupikir waktuku terbatas jadi aku perlu akses cepat sampai atas, dan tetap turun dengan tangga nantinya.

Jam setengah 9 pagi belum ada orang di depan pintu masuk lift. Tidak lama kulihat sepasang suami istri bule mungkin sekitar 60an tahun lebih usianya. Tampaknya mereka juga akan masuk melalui akses lift. Aku lupa bagaimana awalnya, sepertinya karena menanyakan pintu masuk, tapi akhirnya kami mengobrol. Mereka ternyata berasal dari Canada dan sedang liburan ke Itali. Saat waktu hampir jam 9 pagi, tiba-tiba petugas datang dan bilang arah antrian dari ujung belakang. Saat itu di sana juga sudah berkumpul beberapa orang. Maka setelah aku pindah, si suami istri ini dan satu perempuan bule juga bilang ke orang-orang di sana kalau kita sudah mengantri duluan. Aku yang orang Asia, apalagi tipe yang ga suka cari ribut, hanya diam saja sambil senyum. Tetapi si suami istri ini bilang, jangan takut, kami akan bantu kamu untuk masuk duluan. Singkat cetita aku masuk nomor 3, karena ada pasangan yang tampak ngotot di depan. Si suami istri Canada di belakang, disusul si perempuan bule yang cukup berani tadi bersama putrinya. Akhirnya saya dan si suami istri jadi berbarengan dan sempat saling bantu foto. Kami berpisah saat si suami istri ini masuk ke area doa di dalam gereja. Sebenarnya aku ingin menyampaikan salam perpisahan, tapi ya kami akhirnya berpisah begitu saja. Aku sempat berpikir untuk menunggu mereka selesai berdoa, karena sepertinya merasa tidak enak saja kalau tidak mengucapkan salam apapun, tapi setelah menunggu sekian lama mereka tampaknya belum selesai dan aku sudah harus kembali, jadi ya sudah kami berpisah tanpa sepatah dua patah kata.

Stasiun Intetlaken Ost, 1 April 2025 sekitar jam 8 pagi.

Hari ini aku berencana ke Jungfraujoch dan dari Interlaken west tempat penginapanku, pagi-pagi aku sudah naik kereta ke Interlakem Ost untuk lanjut ke Grindelwald. Saat akan berganti kereta di stasiu Interlaken Ost, tiba-tiba ada yang memanggilku, kulihat seorang anak laki-laki China mungkin usianya sekitar 20an, dia bertanya apa aku bicara bahas Inggris atau Mandarin? Kujawab dua-duanya aku bisa. Lalu dia menanyakan kereta arah Grindelwald, rupanya dia juga akan pergi ke Jungfrau dengan rute yang sama dengan aku. Akhirnya di kereta kami duduk bersama dan mengobrol sampai memutuskan oke kita jalan sama-sama karena kebetulan saya sendiri dan dia juga sendiri. Anak ini sedang program pertukaran pelajar di Jerman, dia asal Chengdu, China. Dia hanya ke Swiss selama 2 hari untuk jalan-jalan. Jadi selama di Jungfrau kami saling bantu foto bergantian. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar terang walau udara sangat dingin. Di top op Europe, sambil menunggu foto dengan bendera udara sangat dingin bahkan aku dengan sarung tangan saja masih kedinginan, tapi Nan Xie, si anak China ini sepertinya tanpa persiapan sehingga dia tidak bawa sarung tangan. Aku lihat dia sepertinya kedinginan dan aku kebetulan membawa syal, jadi kutawarkan dia untuk menghangatkan tangannya dengan syal ku. Setelah selesai foto-foto kami kembali ke dalam, dan aku tanya apakah dia bawa air minum. Kali ini aku cukup persiapan, pagi-pagi aku sudah mengisi tumbler ku dengan air panas. Kebetulan Nan bawa botol, jadi kubagi sedikit air panas sehingga dia bisa menghangatkan tangannya.

Perjalanan kembali kami menggunakan rute berbeda, kali ini dengan kereta. Saat naik kereta dari stasiun Kleine Scheidegg di kursi sebelah ada anak laki-laki China dengan mama nya. Usia anak ini juga mungkin sekitar 20 tahunan. Karena sebelumnya sudah baca-baca beberapa artikel aku jadi sudah memilih kursi di sisi yang tepat, sisi dimana bisa terlihat pemandangan gunung-gunung. Karena ingin foto pemandangan, maka si anak China yang berdua dengan ibunya ini berdiri ke sisi tempat aku dan Nan duduk. Dasar Nan memang anaknya cukup berani dan ramah, dia mengajak si anak ini.bicara dan bahkan membiarkan anak ini duduk di kursinya untuk mengambil foto-foto. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Nan, ternyata dia dari Hongkong dan baru lulus kuliah dan bekerja.

Akhirnya kami tiba di stasiun Lauterbrunnen, di situ harusnya kami melanjutkan dengan kereta ke Interlaken Ost, tapi kaerena masih agak pagi, masih sekitar jam 3an, Nan menanyaiku apakah mau ikut mereka ke air terjun, aku pikir toh aku tidak ada jadwal, jadi aku ikut bersama mereka. Setelah dari melihat air terjun (dari jauh), kami lanjut naik bus dan cable car ke desa Murren, desa di kaki gunung Alpen.

Sewaktu naik cable car hanya kami ber 4 dan 1 perepuan bule. Mama si anak Hongkong (sampai terakhir lupa tanya namanya), menawari aku snack, walau awalnya kutolak tapi karena dia memaksa akhirnya kuambil juga walau tidak langsung kumakan.

Dari Murren kami kembali ke stasiun Lauterbrunnen dan naik kereta ke arah Interlaken. Sebelum sampai Interlaken Ost si anak Hongkong turun terlebih dahulu di 2 stasiun sebelum Interlaken Ost karena katanya dari sana ada bus yang akan lewat tepat depan hotelnya. Mereka, ibu dan anak ini juga tinggal di Interlaken west sepertiku hanya saja penginapanku sangat dekat dengan stasiun Interlaken west sehingga aku akan turun di sana. Akhirnya sampailah aku dan Nan di stasiun Interlaken Ost, di sana kami berpisah, Nan akan kembali ke Jerman lusa dan dia akan tinggal di Laussane kalau tidak salah. 

Laussane, 4 April 2025 sekitar jam setengah 12 siang di Port de Ouchy

Hari ini aku menempuh rute Laussane, Vevey dan Montreux, tapi sebelumnya pagi-pagi aku sempat mengunjungi La Passerelle de l’Utopie yang kemarin di forward oleh ci Wai wai. Tadinya jadwal ke Laussane adalah kemarin, tapi karena aku kesiangan, akhirnya kuganti rute ke Geneva dulu kemarin dan baru ke Laussane hari ini.

Begitu sampai di pinggir danau ini aku langsung foto-foto mengabadikan keindahan alam Swiss. Aku perhatikan ada satu cowok bule sudah berumur, mungkin sekitar 60an lebih, seperti mengikuti ke mana arah aku pergi. Saat jam hampir menunjukkan pukul 12 siang, aku mencari kursi kosong, duduk dan mengeluarkan bekalku. Kebetulan semalam aku buat Indomie goreng dan menyisakan sebagian yang lalu kugoreng dengan telur tadi pagi. Aku duduk makan di situ, kulihat si cowok bule ada melewatiku, kupikir dia mungkin sedang mencari spot-spot foto karena dia sedang memegang kamera. Selesai makan aku melanjutkan jalan, dari google kulihat ada beberapa spot dan juga ada museum Olympic. Sepanjang jalan seperti biasa aku memfoto spot-spot yang menarik perhatianku yang menurutku indah kalau diabadikan dengan kamera, meskipun hanya kamera handphone tentunya.

Saat sedang berjalan dan memfoto, tiba-tiba si cowok bule tadi mengajak bicara, dia bilang sepertinya aku banyak melihat spot-spot foto bagus, dia sampai seperti mengikuti aku, memfoto spot-spot yang aku foto. Tidak seperti aku biasanya, entah kenapa perjalanan kali ini aku lebih memberanikan diri untuk berbicara dengan orang asing, termasuk si bule ini sehingga terjadilah percakapan di antara kami. Dia orang Swiss asal Zurich dan sedang berlibur ke Laussane. Dia lalu bertanya apakah aku akan ke museum, dan kujawab ya. Akhirnya kami berjalan bersama ke museum. Sepanjang perjalanan kami ngobrol macam-macam. Dia sempat bertanya apakah aku professor, kujawab bukan, aku seorang marketing yang mengurus export. Dan ternyata dia bekerja di perbankan. Kami mengobrol sampai tiba di museum dan kami sama-sama memutuskan tidak masuk, tapi hanya berjalan di taman sekeliling museum. Lalu kami beristirahat, duduk di sebuah kursi di taman. Di situ kami mengobrol banyak hal, agak aneh untuk aku bisa ngobtol panjang lebat ke orang asing, dan lebih aneh lagi aku merasa cara dia menatapku membuat aku agak merasa risih. Tatapannya seperti penuh dengan kekaguman seperti itu. Belakangan saat aku memikirkan hal ini, aku jadi teringat waktu aku kuliah dulu, ada seorang sahabat cowok yang memandangku persis seperti si bule ini, dan semua temanku bilang kalau sahabatku itu naksir aku. Dan bukan geer tapi aku bisa merasakan hal yang sama saat ini, saat si bule ini memandangku. Di tengah-tengah obrolan kami dia lalu memperkenalkan diri, namanya Martin, dan seketika aku merasa sangat aneh. Kenapa? Sedari kecil entah kenapa, bila aku sedang main rumah-rumahan atau sedang mengarang cerita, pasti nama cowok nya adalah Martin. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku suka aja, dan seperti mengidamkan punya pacar yang namanya Martin. Jadi begitu mendengar namanya, aku merasa aneh dan merasa ada hal luar biasa. Saat ngobrol dia ada bilang ini luar biasa, belum pernah dia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Sejujurnya mendengar pernyataan ini aku merasa sedikit heran, kupikir dia kan orang Swiss, harusnya merasakan dan melihat pemandangan indah ini bukan hal yang baru, tidak seperti aku yang tidak akan menemui ini di negaraku. Belakangan aku sempat berpikir, apakah perasaan yang dia maksud adalah terhadap suasana dimana kami mengobrol bersama?

Kami ngobrol cukup lama sampai waktu menunjukkan pukul 1 siang lebih dan kami memutuskan untuk kembali. Saat itu dia pikir kami sudah akan berpisah sehingga kami bersalaman dan saling berpelukan, oh ya untuk hal ini aku juga jadi mulai membiasakan, sejauh itu pelukan tanda persahabatan, it’s ok. Tapi Martin memang tinggi sekali, dia sampai harus membungkuk, dan waktu ngobrol dengannya sambil jalan, aku harus sedikit-sedikit mendongakkan kepalaku.

Kami naik MRT, aku akan kembali ke stasiun kereta karena akan meneruskan ke Vevey, sementara Martin akan turun satu stasiun setelah aku. Di dalam MRT sebenarnya aku sudah ingin sekali mengajak dia foto bersama sebagai kenang-kenangan, tapi otakku berpikir panjang, dari awal kulihat ada cincin di jari manisnya, jadi hampir dipastikan dia sudah berkeluarga, terlepas bagaimana situasinya, aku tidak ingin memperpanjang hal ini. Kalau aku mengajak foto, mungkin dia akan minta dikirim fotonya dan kami harus bertukar kontak? No no, aku tidak pernah berpikir akan hal itu. Jadi kuurungkan niatku untuk mengajak foto, biarkan bayangannya hanya ada dalam memoriku yang mungkin akan segera hilang

Saat berpisah kami kembali bersalaman, dan di situ terakhir kali aku melihat tatapan itu, tatapan yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Kami berpisah tanpa banyak kata.

Akhirnya tulisan yang panjang ini selesai juga. Semula aku berencana menuliskannya seperti biasa aku melakukan kontemplasi, tapi kupikir aku tidak ingin melewatkan setiap pengalaman yang tidak terlupakan ini, sehingga kuputuskan menuliskannya apa adanya. Tulisan ini kutilis dari masih ada di Aitport Zurich sampai di atas pesawat ke Istanbul dan sekarang di atas kapal cruise di Istanbul. Aku akan menuliskan semua apa yang aku rasakan di tulisan berikutnya.

Istanbul, 6 April 2025

pk 21.34 waktu Istanbul

~Jen~

Sudah lama tidak menulis, sebenarnya akhir-akhir ini jangankan menulis, bahkan untuk melakukan hal-hal yang menjadi hobby ku dulu saja sudah hampir tidak ada waktu. Segala kesibukan ini, kadangkala aku bertanya sebenarnya “untuk apa?’ , ‘mengapa?’, ‘sampai kapan?’ dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain yang kerap timbul disaat aku sedang sendiri, di saat aku sedang lelah dengan semua yang ada…

Kali ini kembali aku mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di negara baru lagi, Korea Selatan, yang memang belum pernah kukunjungi, dan ini karena urusan pekerjaan. Buat sebagian besar orang yang sering melihat aku pergi ke luar negeri dan dibayar oleh perusahaan, tampaknya membuat iri kan? Kadangkala memang yang terlihat di luar selalu indah dan menyenangkan. Tapi apakah selalu begitu adanya? Buat aku yang sebenarnya tidak terlalu suka traveling, tidak terlalu suka bertemu orang asing, ada tekanan tersendiri saat harus menjalani semua ini. Ya, di satu sisi aku akui ini sebuah kesempatan yang tentu saja baik, tentu aku bersyukur karenanya, aku bukan tidak tahu bersyukur. Tapi aku hanya ingin orang tahu bahwa masing-masing orang memiliki preference masing-masing. Apa yang mungkin kalian lihat sebagai sesuatu yang menyenangkan, belum tentu begitu adanya buat orang lain.

Again, aku tegaskan aku bukan tidak bersyukur, aku sangat beryukur bahkan. Banyak hal dalam hidup ini yang harus kita terima dan syukuri dibanding kita keluhkan. Bahkan di setiap ketidaknyamanan yang aku rasakan aku selalu belajar untuk melihat dari sisi positifnya, bersyukur atas semuanya. Karena aku percaya segala sesuatu pasti ada sebabnya, dan langit sudah mengatur segalanya agar aku bisa belajar, belajar untuk menjadi lebih baik, belajar untuk menurunkan ego-ku, belajar untuk lebih bersabar dan aku bisa melayakkan diri dan mendekatkan hati pada Yang Maha Kuasa.

Pagi ini aku seakan kembali diingatkan bahwa menerima dengan lapang dada, dan belajar menikmati segala ketidaknyamanan yang merupakan proses ini adalah apa yang seharusnya aku lakukan. Pagi menjelang siang ini aku berencana untuk brunch sekaligus menikmati suasana kota Seoul ini. Entah karena memang otak yang tidak sinkron atau karena memang hampir tidak pernah makan, saat membaca menu bacon omelette burger, yang terbayang di otakku adalah spam omelette, sehingga buatku masih okelah. Buat yang tidak tahu, aku hampir tidak pernah makan bacon, karena aku sedikit ‘geli’ melihat lapisan lemaknya. Ya, biarpun aku gemuk, aku tidak suka makan daging-dagingan, terlebih daging dengan lemak. Saat makanan disajikan, terlihatlah lapisan daging dan lemak diapit oleh omelette dan roti. Oh no, aku baru sadar, iya ini bacon bukan spam seperti apa yang ada dalam bayanganku. Biasanya aku pasti akan memberikan bacon ke orang lain atau kubuang tidak kumakan. Tapi hari ini tiba-tiba aku seperti diingatkan, bacon ini seperti halnya hal-hal tidak menyenangkan yang kuhadapi. Dia sudah tersaji di depanku, ya aku punya pilihan untuk menyingkirkannya, tapi bukankah itu seperti ‘lari’, menghindar dari apa yang aku tidak suka. Jadi hari ini, alih-alih menghindar, aku memaksakan diri untuk memakannya. Walau aku makan dengan cepat, tanpa mencoba merasakan bagaimana rasanya, ditambah untungnya aku membawa sambal sachet, akhirnya berhasil juga aku makan bacon itu.

Dolce latte and Bacon Omelette Burger

Bacon ini buatku adalah sesuatu yang tidak kusuka, tapi jelas banyak orang yang suka. Mungkin buat kalian yang suka, kalian akan bilang aku bodoh. Tapi sama halnya buat kalian yang tidak suka sayur, tidak suka durian, pasti kalian juga tidak akan mau memakannya, atau kalaupun dipaksa akan merasa ‘tersiksa’ saat makan. Seperti itulah masing-masing orang dihadapi pada hal-hal yang disuka dan tidak disuka, yang tentunya berbeda-beda untuk satu sama lainnya.

Hari ini, karena peristiwa bacon ini, aku seperti diingatkan beberapa hal. Pertama, akulah yang memilih jalan ini, seperti aku yang memilih bacon tadi. Untuk jalan yang sudah kupilih, nyatanya ini tidak selalu menyenangkan, aku harus menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Kedua, untuk jalan yang sudah kupilih, aku harus menjalaninya walau itu tidak menyenangkan. Ya, aku harus belajar menikmati makan bacon ini walau terasa tidak menyenangkan untukku. Aku bisa memilih untuk tidak makan, tapj berarti aku menghindar, dan sampai kapanpun, hal sama akan terus aku hadapi, sampai aku bisa mengatasinya, dan bukan menghindarinya. Ketiga, segala ketidaknyamanan ini adalah proses untuk belajar menghilangkan ego ku, belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan ‘mauku’. Bukan hal yang mudah, tapi bukan pula hal yang tidak mungkin, tinggal sebagaimana aku berusaha untuk bisa melakukannya.

Pada akhirnya, sekali lagi aku merasa sangat bersyukur, untuk semua pelajaran-pelajaran, bimbingan, dan segala hal yang aku dapatkan sejauh ini. Sungguh seringkali aku merasa tidak pantas untuk mendapat semua ini. Tapi aku akan belajar dan berusaha agar aku menjadi pantas untuk berada di jalan ini, menjadi pantas untuk dekat dengan-Mu. Semoga aku bisa terus belajar dan mendekatkan diri, dan pada akhirnya dapat menjalani ini semua untuk bisa kembali kepada-Mu.

Cheongdam-Seoul, 7 July 2024

-Jen-

01.08 pm waktu Seoul

Encounter

Hari ini hari terakhir aku berada di Laos. Sedari dua hari yang lalu aku sudah ada di Luang Prabang, sebuah kota yang dinobatkan sebagai salah satu World Heritage oleh UNESCO. Berada di kota ini seakan membangkitkan kenangan masa kecilku. Sudut kota, orang-orang dan aktivitas di sini membuatku seperti kembali ke masa lalu.

Sejujurnya aku masih tidak percaya akhirnya aku bisa mengunjungi tempat ini. Tetapi segala sesuatu memang tidak ada yang kebetulan. Perjalanan ke negara ini sebenarnya termasuk dalam perjalanan “pencarian” ku. Meskipun setelah tiba di sini, aku tidak mendapatkan “rasa” itu, tidak seperti ketika aku mengunjungi Sri Lanka ataupun Myanmar. Namun demikian, bisa berada di sini sudah menandakan aku memiliki jalinan jodoh dengan tenpat ini, apapun itu bentuknya.

Dalam hidup ini kita mungkin bertemu orang-orang yang hanya lewat begitu saja dalam hidup kita, dengan pertemuan yang relatif singkat, namun meninggalkan kenangan dan “pelajaran” mendalam buat kita. Encounter atau Pertemuan adalah sebuah takdir, begitupula bagaimana kita menjadi anak dari kedua orangtua kita, menjadi kakak atau adik dari saudara sekandung kita, menjadi suami atau istri dari pasangan kita, ataupun menjadi orangtua bagi anak-anak kita. Semua sudah ada jalinan jodohnya masing-masing.

Dalam one day tour kemarin, tour guide yang membawa kami menjelaskan bagaimana suku Hmong memilih pasangan mereka, dengan melemparkan bola sebanyak tiga kali ke calon pasangan. Bila satu kali saja tidak bisa ditangkap, maka artinya kedua orang ini tidak berjodoh. Awalnya tour guide kami tidak menjelaskan makna permainan ini, dia hanya memegang bola yang terbuat dari kain itu dan berkata padaku untuk menangkapnya. Dua kali aku berhasil menangkap, sebelum lemparan ketiga, dia mengatakan bahwa harus menangkap dengan satu tangan, maka gagal lah aku dalam menangkap bola pada lemparan ketiga, karena memang tidak semudah itu untuk menangkap dengan satu tangan.

Selama perjalanan tour, beberapa kali aku merasa tour guide ini cukup perhatian padaku. Ada satu kali dia menyampaikan padaku, saat pertama kali melihatku dia sempat berpikir aku orang Laos karena wajahku mirip dengan orang Laos. Lagi-lagi muka bunglon saya bahkan kali ini bisa dibilang orang Laos. Mungkin muka saya sangat typical Asia Tenggara? Entahlah.

Setelah kembali ke hotel, aku jadi sempat berpikir, kenapa si tour guide memilihku untuk permainan lempar bola tadi? Dan bagaimana perhatian dia kepadaku, mungkin dia merasakan sesuatu, perasaan pernah bertemu? Ya mungkin saja, karena pertemuan sekarang ada karena pertemuan sebelumnya. Perasaan-perasaan seperti ini yang juga sering aku alami saat bertemu dengan orang-orang baru. Perasaan dekat, perasaan hangat, perasaan tidak suka, dan banyak perasaan-perasaan lainnya.

Pak Ou Cave, Luang Prabang

Sebentar lagi aku akan naik ke pesawat yang akan membawaku ke Thailand. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali lagi ke tempat ini atau tidak. Tadi pagi aku berniat untuk melakukan pindapatta, tapi apa daya aku keluar agak siang sehingga melewatkan momen itu. Aku tidak menyesal, karena aku percaya segala pertemuan adalah takdir. Mungkin di lain kesempatan aku bisa melakukannya, atau bahkan sama sekali tidak ada kesempatan itu? Tidak ada yang tahu…

Encounter…

Saat kita bertemu, tolong tersenyum padaku, agar aku bisa mengenalimu…

Luang Prabang, 16 January 2024

-Jen~

09.31 waktu Laos

Do you believe in destiny? Selama ini aku selalu percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, segala sesuatu terjadi karena ada alasan atau sebabnya.

Sekitar seminggu yang lalu, di pesawat yang membawaku kembali ke Indonesia, aku menyempatkan diri untuk menonton film sebagai pengisi waktu sekitar 6 jam penerbangan dari Taiwan ke Jakarta. Kali ini film yang aku pilih berjudul “Past Lives”.

Tidak ada alasan spesial waktu memilih film ini, tapi mungkin judulnya cukup menarik perhatianku. Aku tidak akan membahas mengenai isi film ini, tapi apa yang menjadi tema di film ini seperti menjadi pengingat bagiku.

Dalam film ini disampaikan mengenai “In-Yeon” yang merupakan bahasa Korea, karena kebetulan film ini bercerita tentang tokoh utama yang merupakan orang Korea. “In-Yeon” atau dalam bahasa Inggris nya “Destiny” atau “Ming Yun” dalam bahasa Mandarin, atau kita menyebutnya “Takdir” dalam bahasa Indonesia, merupakan kata yang mungkin sering kita dengar. Saya pernah membahas mengenai “Takdir” ini sebelumnya, dan buat saya akan lebih pas jika disebut sebagai “karma”. Orang-orang yang ditakdirkan saling bertemu di kehidupan ini, pastilah memiliki jalinan karma satu dengan yang lain. Begitupula dengan tempat kita berada, apakah itu tempat lahir, tempat kita dibesarkan, tempat kita tinggal saat ini, ataupun hanya sekedar tempat-tempat yang kita kunjungi.

Bagaimana takdir ini mempertemukan kita dengan orang di sekitar kita dan dengan tempat kita berada saat ini, pastilah semua ada sebabnya. Sebagai orang yang percaya akan banyak kehidupan dan kehidupan masa lalu, buatku hal ini mungkin tidak terlalu sulit untuk diterima dan dipahami. Banyak hal pula di dalam kehidupanku saat ini yang memperkuat keyakinanku atas hal ini. Mungkin hal ini pula yang membuat aku begitu ingin mengunjungi negara-negara yang bernuansa Buddhis seperti Laos salah satunya.

Sudah lama terpikir dalam benakku untuk bisa berkunjung ke Laos, dan kebetulan Laos pula menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang belum aku kunjungi. Setelah tiga tahun masa pandemi yang tidak memungkinkan untuk bepergian keluar negeri, maka akhirnya sekarang aku memberanikan diri untuk pergi ke negara ini seorang diri. Yah, seorang diri, tanpa ikut tour ataupun ada teman yang menemani.

Sebenarnya aku cukup sering bepergian sendiri, tapi untuk tempat yang belum pernah sama sekali aku kunjungi, biasanya akan ada yang menemaniku. Tapi kali ini aku benar-benar nekad untuk pergi seorang diri. Ini juga menjadi sebuah hadiah ulang tahun untuk diriku sendiri.

Di sini aku tidak akan bercerita bagaimana aku memulai perjalanan ke Laos, tetapi aku akan menuliskan bagaimana aku disadarkan bahwa kehidupan ini tidak terlepas dari yang namanya takdir.

Pertemuan yang pertama, setelah sampai di stasiun di Nong Khai, dari saat membeli tiket kereta hingga sampai di Stasiun Thanaleng di Laos, ada satu cowok bule yang kebetulan sepertinya juga akan melakukan perjalanan yang sama denganku. Saat membeli tiket dia kebetulan ada di depanku, begitu juga saat akan ke toilet sampai saat mengantri di imigrasi. Entah kenapa aku tidak ada minat untuk beramah tamah, senyumpun tidak. Dan hal yang sama juga aku rasakan dengan si bule ini. Kami sama-sama sendiri, tapi sama-sama juga saling cuek, walau berapa kali kedapatan melakukan hal yang sama. Sampai saat tiba di stasiun Thanaleng, dari yang aku baca di blog yang ditulis orang, harusnya akan banyak kendaraan van yang menawarkan transport sampai ke Vang Vieng, tapi sesampainya di sana tidak ada apa-apa. Walau begitu aku juga enggan untuk sekedar bertanya ke si bule, mungkin karena aku lihat dia tipe yang pendiam dan juga cowok, jadi lebih segan. Sampai setelah aku selesai membeli simcard dan mencoba untuk booking kereta ke Vang Vieng, si bule dan juga penumpang lain sudah meninggalkan stasiun.

Di tengah kebingungan aku mencoba ke depan, dan terjadilah pertemuan yang kedua, kali ini sepertinya gadis laos yang merupakan petugas di stasiun. Untungnya dia bisa berbahasa Inggris dan selamatlah aku, ditunjukkan bahwa untuk pesan taxi bisa menggunakan applikasi in driver. Pertemuan singkat, tapi gadis ini sudah menolongku, mungkin dulu aku pernah menolongnya, atau sama juga dulu aku ditolongnya? Entahlah, tapi aku berterima kasih, semoga di kehidupan selanjutnya aku bisa membalas kebaikannya.

Untungnya aku berhasil membeli tiket kereta cepat dari Vientiane menuju Vang Vieng di jam 11 siang hari yang sama. Saat naik ke kereta, kulihat sudah ada sepasang suami istri Korea setengah baya, dan si perempuan menempati kursiku. Saat itu ada petugas, dan setelah kutunjukkan tiketku yang ada di kursi bagian jendela maka berpindahlah si perempuan ke kursi jendela yang ada di sisi satunya. Setelah aku duduk, tak lama si suami bertanya dengan bahasa Inggris terbata-bata: “Change?” Aku sebenarnya mengerti maksudnya, dia meminta aku bertukar tempat dengan istrinya supaya mereka bisa duduk bersebelahan. Tapi saat itu ego menguasaiku, dan aku hanya menjawab, “I sit here.” Si suami tampak sedikit kesal. Lalu tidak sampai lima menit, aku berpikir, tempat duduk yang diajak tukar juga di bagian jendela, aku toh pergi sendiri, tidak perduli siapa yang ada di sebelahku, tapi buat mereka berdua, mungkin akan lebih nyaman menempuh perjalanan kereta selama hampir satu jam dengan duduk bersebelahan. Akhirnya aku menuruti kata hatiku, kukatakan pada si suami, sambil menunjuk tempat duduk istrinya dan tempat dudukku, “Want to change?” Akhirnya bertukar duduklah saya dengan si istri, dan mereka berdua mengucapkan terima kasih padaku. Inilah pertemuan ketiga, dimana aku hampir menjalin jodoh buruk dengan pasangan suami istri ini. Jika aku tidak bertukar tempat, mungkin dalam hati mereka menyimpan rasa tidak suka padaku, meskipun aku tidak salah, tapi siapa yang tahu di kehidupan selanjutnya, mereka membalasnya dengan lebih tidak menyenangkan, dan itu tidak aku harapkan.

Sampai di stasiun Vang Vieng, kembali aku bingung untuk transport ke hotel, terutama karena aku harus membeli tiket ke Luang Prabang dulu, maka saat aku selesai, stasiun sudah tampak sepi. Yang aku lihat hanya semacam tuk tuk, ada beberapa yang ngetem di sana.

Saat sedang melihat-lihat sekitar, mataku berpapasan dengan perempuan berumur dengan backpack besar di punggung, modelan emak-emak tapi entah kenapa aku merasa familiar dengan mukanya. Saat tatapan kami bertemu, secara otomatis aku tersenyum dan begitu pula dengan perempuan itu yang dilanjutkan dengan sapaan dalam bahasa Thailand. Memang dari sedari tiba, hampir semua orang yang bertemu aku selalu menyapa dalam bahasa Thai, mumgkin mukaku yang bunglon ini tampak “Thailand” bagi mereka. Lalu sapaan perempuan itu kubalas, “I’m not Thai, I’m Indonesian” dan si perempuan sedikit kaget lalu dia bicara bahasa Thai yang mungkin kalau diartikan dia pasti bilang dikiranya saya orang Thai. Si perempuan ternyata berdua dengan anak laki-laki sekitar 20an tahun yang sepertinya anaknya, si anak yang menjadi penerjemah bagi si ibu. Mereka terlihat ramah sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya bagaimana mereka akan keluar dari stasiun ini. Si anak membantuku menanyakan harga tuk tuk, lalu dia bertanya di mana hotel tempat aku tinggal. Setelah melihat peta, dia bilang, aku bisa ikut dengan mereka for free, karena si anak ada order taxi online dengan apps lokal sepertinya dengan harga murah 42000 kip. Singkat cerita, aku ikut bersama di mobil mereka, dan si anak bahkan bilang ke supirnya untuk mengantarku setelah menurunkan dia dan ibunya. Dia bilang aku cukup membayar 5000 kip saja ke si supir. Setelah sampai di hotel mereka, aku membayar separuh harga taxi ke si anak, awalnya dia bilang tidak perlu, tapi aku juga tidak mau berhutang, dan menurutku, aku sudah cukup terbantu dengan dia menawarkan untuk ikut bersama mereka. Setelah aku memaksa, akhirnya dia menerima, aku bilang tidak apa untuk share ongkos taxi nya. Maka sampai di sini pertemuan keempatku dengan si ibu dan anak Thai ini.

Setelah kejadian-kejadian ini, tentunya masih banyak lagi pertemuan lainnya, begitu pula di dalam hidup kita, baik itu yang hanya lewat dan tanpa interaksi seperti pertemuan pertama aku dengan si bule, atau bahkan yang sampai berlangsung lama. Setiap pertemuan adalah takdir, ada ‘waktu’, ‘tempat’ dan ‘keadaan yang memungkinkan itu terjadi. Di setiap pertemuan takdir ini, bagaimana kita bersikap, tindakan apa yang kita ambil, itulah yang akan menentukan takdir kita selanjutnya. Hal ini adalah seperti apa yang disampaikan di dalam film “Past Lives”.

View from the top of Tham Chang Cave, Vang Vieng

Perjalanan ini masih berlanjut, jalan kehidupanku, meskipun umur kembali berkurang setahun, tapi sejauh ini masih akan berlanjut. Siapa yang tahu masa depan? Tapi sebenarnya semua sudah ada takdir yang menentukan, tinggal bagaimana kita “menyambut” takdir ini dan menjalaninya. Dalam perjalanan ini aku diingatkan, bahwa seharusnyalah aku menjalin hubungan takdir yang baik. Sekalipun mungkin yang kuhadapi tidak menyenangkan, terimalah, karena itu adalah apa yang seharusnya aku terima. Jangan membalas dengan perbuatan yang bisa mendatangkan jalinan jodoh yang tidak baik. Jangan biarkan “ego” menjadikan jalan mu ke depan menjadi penuh rintangan. Hadapilah rintangan yang sudah terlanjur ada saat ini dengan lapang dada. Segala hutang harus dibayar lunas, maka kamu baru akan bisa kembali pulang…

Vang Vieng, 13 January 2024

~Jen~

11.48 waktu Laos

Wedding Anniversary

It’s been a while…

No no ini bukan a while lagi… vakum selama 3 tahun an… banyak peristiwa dan hal yang sebenarnya terjadi, banyak ceritera yang seharusnya bisa kutulis… tapi apa daya, pikiran dan hati tidak bisa menyatu…

Tahun 2020 awal, dalam sejarah hidup ku mengalami apa yang dinamakan pandemi. Adanya virus Covid-19 yang mematikan dan datang berepisode-episode sampai lebih dari 3 tahun, peristiwa kehilangan orang terdekat, hingga kembalinya si anak yang tersesat. Walaupun 3 tahunan ini penuh dengan kebimbangan, rasa sedih, jenuh, marah, dan seribu satu perasaan lainnya, namun aku sangat-sangat bersyukur bahwa pada akhirnya aku bisa kembali menemukan ‘jalan untuk pulang’.

Yan, perjalanan yang harus ditempuh masih panjang tentunya, dan sudah pasti tidak mudah, tapi setidaknya aku sudah menemukannya… aku tidak lagi tersesat…

Atas semua apa yang sudah terjadi dalam hidupku, aku sungguh-sungguh bersyukur. Bersyukur karena aku masih diterima untuk kembali, setelah segala perbuatanku yang menyimpang dan tercela. Aku bersyukur atas pemaafan yang aku dapatkan, atas segala penyertaan dan berkah yang kuterima hingga saat ini. Aku berharap semoga aku bisa tetap berada di jalan yang seharusnya, dan menempuhnya dengan segala kesabaran, ketabahan sehingga bisa pulang kembali ke tempat yang seharusnya.

Hari ini adalah ulang tahun perkawinan Papi dan Mami, dan aku masih berada jauh dari tanah airku. Aku bersyukur bahwa jodoh mempertemukan papi dan mami, dan jodoh pula menjadikanku terlahir sebagai putri mereka.

Happy Wedding Anniversary Papi dan Mami, semoga jodoh kembali mempertemukan kita sebagai keluarga. Saat itu tiba, semoga aku bisa menjadi anak yang lebih berbakti kepada kalian berdua dan memiliki waktu yang cukup untuk membahagiakan kalian.

Eiffel Tower

Autumn in Paris, October 23rd, 2022

~Jen~

6.40 pm waktu Paris

Matimu Kali Ini

Bagaimana rasanya mati, lalu kemudian hidup kembali…

Mati bukan dalam arti nafas yang terhenti, atau fisik yang membeku biru.

Tapi mati saat kau meninggalkan semua masa lalu, pikiran-pikiran dan persepsimu tentang hidup yang sebelumnya.

Lalu dalam sekejap engkau hidup kembali, saat kau melihat sinar terang itu dan rasa bahagia yang membuat bibirmu ingin tersenyum, walau sakit masih terasa di sekujur tubuhmu akibat hantaman bertubi-tubi yang mungkin belum seberapa dari siksa neraka.

Ini hidup yang baru, kau lahir kembali walau masih dalam rupa, nama dan wujud yang sama.

Tapi kau tau hidupmu tak akan lagi sama, tak boleh lagi sama.

Semua dosa masa lalu, apakah sudah terhapuskan?

Mungkin belum, tapi setidaknya kesadaranmu seharusnya membuatmu tak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Kau adalah jiwa yang baru, jalani hidupmu dengan lebih bermakna.

Matimu kali ini adalah pelajaran dan peringatan untukmu, agar dapat menemukan jalanmu untuk kembali…

Pergunakan kesempatan yang diberikan ini, untuk sungguh-sungguh berlatih, untuk memulai jalan yang telah kau pilih sendiri, agar kau tak lagi tersesat, agar kau semakin mendekatkan diri pada Tuhan dan tak lagi tinggi hati. Karena kau tak lebih dari setitik debu di angkasa dan jagad raya yang luas ini, seperti yang pernah kutunjukkan padamu dulu sekali…

Jangan lengah! Berlatihlah lebih keras lagi, karena waktumu tak lagi banyak!

img-20190910-wa00088494361070078310991.jpg
Yogyakarta, 10 September 2019
~Jen~
15.52 WIB

Hidup Baru

Sebenarnya tulisan ini tentang kematian. Topik “kematian” sudah pernah aku tulis juga sebelumnya di tulisan dengan judul Kematian ini. Tapi alih-alih memberi judul “kematian” yang mungkin buat sebagian besar orang menakutkan, maka aku lebih suka menggunakan istilah “Hidup Baru”.

Kenapa sih kok aku ingin menulis topik ini lagi? Karena sejujurnya buatku sekarang, kematian tak lebih dari suatu proses yang memang akan dialami oleh kita semua, makhluk yang masih berada di samsara. Akhir-akhir ini memang ada beberapa peristiwa yang membuat aku kembali merenung dan berpikir tentang kematian.

Entah sejak kapan aku tidak begitu ingat, kematian bukan lagi hal yang menakutkan buatku, tetapi masih menjadi hal yang menyedihkan, karena seperti yang disampaikan oleh Guru Buddha, berpisah dengan yang dicintai adalah sebuah penderitaan. Dan tentu saja penderitaan itu mendatangkan kesedihan.

Dulu aku selalu merasa sedih bila ada orang yang meninggal, ini pula yang membuatku berpikir untuk tidak menjadi seorang dokter, bukan karena aku takut darah ataupun lainnya, tapi lebih kepada aku tidak tahan melihat kematian, karena kupikir aku pasti akan menangis sedih jika menghadapi kematian.

Tetapi perjalanan hidup memberiku begitu banyak pelajaran, kematian demi kematian dari orang-orang disekelilingku dan terdekatku telah membentuk aku yang sekarang. Aku yang sekarang yang tak lagi bersedih saat melihat kematian. Aku yang sekarang yang memandang kematian hanya sebagai suatu bagian dari kenyataan hidup dan proses dalam perjalanan di samsara ini.

Sempat terbersit dalam benakku apakah aku telah berubah menjadi orang yang tidak berperasaan? Tapi setelah merenungkan lebih dalam, tidaklah demikian adanya. Aku pernah menyikapi kematian dengan kemarahan, kesedihan dan ketidakpuasan untuk waktu yang cukup lama. Kematian papi itu mungkin menjadi satu titik balik dalam hidupku dalam proses “mencari kebenaran”. Dan waktu akhirnya memberikanku banyak pelajaran dan jawaban atas tanya dan ketidakpuasanku. Dalam perjalanan waktu, aku bisa memahami pesan yang kuterima, bahwasannya keterikatan dan keakuanlah yang menyebabkan kesedihan itu.

Saat harus sekali lagi mengalami peristiwa kematian orang yang aku cintai, yaitu kematian mami, aku lebih bisa menerimanya dengan berbesar hati. Tentu saja sebagai manusia yang normal yang masih memiliki perasaan dan ego, aku tetap menangis dan merasa kehilangan. Tapi dibalik rasa kesedihan itu aku juga mengerti bahwa kematian itu sesungguhnya tidak pernah memisahkanku dari orang-orang yang kucintai itu. Mereka hanya sudah terlebih dahulu memulai hidup yang baru, dalam wujud dan dimensi yang berbeda, dan suatu saat nanti mungkin aku akan kembali bertemu dengan mereka lagi.

Aku menulis tulisan ini dari mulai menunggu boarding hingga sekarang berada di atas pesawat yang membawaku kembali ke Jakarta. Sambil memandang ke luar jendela, melihat hamparan awan-awan putih diselingi mentari senja, mengingatkanku akan masa kecilku. Waktu kecil aku sempat bertanya, apakah orang yang meninggal itu akan berada di awan? Karena pelajaran yang kuterima, surga itu adanya di atas, dan sejauh kumemandang langit terlihat hamparan awan seputih kapas. Ada satu kali, sambil memandang awan di langit, aku menangis, teringat kakekku yang sudah meninggal saat itu. Saat ini, saat memandang awan, kupikir seperti itu pulalah kematian. Kadangkala mereka yang pergi menjadi awan, lalu turun sebagai hujan, bergabung menjadi ombak di lautan hingga kembali menjadi awan begitu seterusnya. Mereka tidak pernah pergi, mereka selalu ada, hanya bagaimana kita bisa mengenalinya dalam wujud dan rupa yang berbeda.

Yang lahir pasti mati, karenanya usahlah bersedih. Hidup yang satu dan hidup yang baru hanya sebatas pemikiran kita. Yang terpenting bagaimana kita bersiap untuk memulai hidup baru yang bisa datang kapan saja menghampiri kita…

Di atas langit senja Jakarta,

~Jen~

05.49 pm

Akhirnya aku bisa mengunjungi Bhutan, negara yang tingkat kebahagiaan penduduknya tinggi. Jika melihat kondisi alamnya, memang sangat indah dan asri. Dari tour guide lokal aku mengetahui bahwa pemerintah tetap menjaga agar 60% dari area haruslah ditanami pepohonan. Tidak heran udara di sini masih sangat segar dan bersih.

Hari pertama aku punya kesempatan mengunjungi Buddha Point atau Buddha Dordenma, sebuah patung Buddha yang sangat besar yang pembangunannya sudah diramalkan untuk menjaga perdamaian di Bhutan.

Bangunan patung ini sangat besar, di dalamnya masih terdapat ribuan patung-patung Buddha kecil dan juga terdapat patung Buddha Vayrocana dan Buddha-Buddha lainnya. Di dalam ruangan aku sempat bernamaskara dan bermeditasi sejenak. Setelah selesai aku berkeliling di halaman luar ruangan.

Entah apakah ini hanya perasaanku ataukah memang ada ‘pesan’ yang ingin disampaikan padaku, tetapi saat berjalan keliling itu aku jadi menangis, dan seolah ada yang berbicara padaku, kenapa aku berpikir bahwa tidak ada gunanya lagi aku hidup? Tulisanku sebelum ini memang berisi perasaanku tentang hidup yang aku jalani saat ini, bagaimana aku merasa bahwa sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup setelah kepergian kedua orangtuaku. Tapi pesan yang aku terima di Buddha Donderma menyuruhku membuka mataku, merasakan dengan hatiku, bahwa masih banyak yang bisa aku lakukan, di luar sana masih banyak hal indah yang bisa aku rasakan.

Aku menangis saat mendapat pesan itu, walau singkat, tetapi menguatkan dan menenangkan. Hidup ini tidak hanya sekedar hutang piutang. Dalam perjalanan kali ini aku bertemu orang-orang baru, merasakan cinta kasih dari mereka, dan sebaliknya juga bisa berbagi kasih dengan mereka. Jika hanya didasarkan pada hutang piutang, mungkin kita hanya jadi berhitung, tapi hidup seharusnya tidak seperti itu. Cinta yang aku miliki, berkah yang ada dalam diriku, seyogyanya kupergunakan dengan baik, agar bisa menuntunku pada jalan pembebasan sejati.

Thimphu, Bhutan, 5 June 2019

~Jen~

05.21 am waktu Bhutan