Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2009

Beberapa waktu yang lalu saat sedang memindahkan file-file lagu ke dalam laptop, tanpa sengaja saya melihat sebuah file lagu lama yang sangat saya sukai. Lagu Can’t Cry Hard Enough, yang pernah dinyanyikan oleh William Brothers, tapi kebetulan file yang saya punya ini versi yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita: Bellefire. Saya sangat suka lagu ini, entah mengapa, mungkin karena lirik dan melody nya yang mellow atau memang karena kebetulan saya suka jenis musiknya. Lagu ini menceritakan tentang kehilangan orang yang dikasihi. Iseng-iseng saya putar lagu ini dan coba mendengarkan liriknya satu per satu.

I let go of you like, a child letting go of his kite
There it goes up in the sky
There it goes beyond the clouds
for no reason why…

Ah, tiba-tiba saja saya merasa lirik ini begitu indah… lirik ini memberi saya sedikit pencerahan.

Setelah mengenal Dharma, saya menyadari bahwa ‘keterikatan’ seringkali menjadi sumber ‘ketidakpuasan’. Karena keterikatan pada benda-benda yang kita sayangi, keterikatan akan pangkat dan kedudukan kita, saat itu semua ‘pergi’ dari kita, entah karena rusak, hilang, ataupun diambil secara paksa dari kita, biasanya itu membuat kita menjadi bersedih, marah dan beribu perasaan tidak menyenangkan lainnya. Begitu pula dengan keterikatan akan orang-orang yang kita sayangi dan cintai. Suatu bentuk keterikatan yang menurut saya sangat halus, sehingga seringkali tidak kita sadari, karena sebagian bersembunyi dibalik tameng rasa sayang dan kesetiaan.

Coba anda tanya diri anda, apakah rasa cinta dan kesetiaan yang membuat anda begitu menyayangi keluarga anda, ayah ibu, kakak adik, suami istri dan anak-anak anda? Atau adakah si ‘monster ego’ dalam diri anda yang perlahan-lahan membangun tameng ‘keterikatan’ anda pada mereka semua?

Perpisahan dengan orang yang kita cintai, putus dengan pacar, ataupun kematian orang yang kita cintai membuat kita sedih. Kita sedih karena tidak lagi bisa bersama-sama dengan orang-orang itu. Kita sedih karena kita terlalu terikat. Seringkali keterikatan itu membuat kita menutup rapat hati kita dan kita hanya hidup dalam kenangan akan mereka, tanpa berusaha untuk melihat ke depan, ke kehidupan yang masih harus kita jalani. Begitu hebatnya ‘keterikatan’ ini sampai-sampai seringkali merusak masa depan kita.

Sebait lirik lagu tadi telah menyadarkan saya dan mengajarkan saya bagaimana caranya untuk belajar tidak terikat. Sebuah filosofi sederhana dari seorang anak yang bermain layang-layang…

Kalau anda pernah bermain layang-layang saat anda kecil, apa yang paling membuat anda senang? Saat melihat layang-layang itu bisa terbang tinggi, semakin tinggi, tinggi…hingga mencapai awan bukan? Begitu juga seharusnya kita belajar untuk melepas, belajar untuk tidak terikat pada yang kita cintai, apapun itu. Semakin anda bisa melepaskan diri dari keterikatan, semakin kebahagiaan itu bisa anda rasakan. Sekalipun terbang begitu tinggi, masih ada benang yang menghubungkan anda dengan layang-layang itu, anda masih bisa mengendalikannya, terhubung dengannya. Sama halnya dalam hidup ini, tidak terikat dengan apa yang anda cintai bukan berarti anda cuek dan serta merta tidak terkait sama sekali. Ada ikatan yang tetap menghubungkan anda, tetapi anda tidak menjadi terikat olehnya, anda yang mengendalikannya.

Sampai suatu saat, angin tidak bersahabat dengan anda, menerbangkan layang-layang anda ke arah pohon sehingga tersangkut lalu putus benangnya, dan anda kehilangan layang-layang itu. Mungkin ada layang-layang lain yang tiba-tiba menyabotnya dan benang layang-layang anda tidak cukup kuat sehingga putus. Atau tanpa ada sebab yang jelas, benang itu putus begitu saja.

Sewaktu anda kecil, apa yang anda rasakan saat benang layangan anda putus dan anda kehilangan layang-layang anda? Saya masih ingat, sedikit rasa sedih karena saya harus kehilangan layang-layang itu, tapi kesedihan itu hanya sebentar dan sama sekali tidak mengganggu aktivitas saya lainnya, tidak menggangu kehidupan saya. Bahkan pernah saat saya sedang bermain begitu asyiknya bersama kakak dan adik saya, layang-layang yang putus itu tidak membuat saya sedih justru sebaliknya malah membuat kami tertawa-tawa?

Demikianlah dalam hidup, karena kita semua memahami bahwa segala sesuatu selalu berubah, akan sampai saatnya kita harus berpisah dari apa yang kita cintai, seperti layang-layang yang putus benangnya. Berakhir sudah ikatan kita dengan yang kita cintai, apapun itu termasuk kehidupan kita sendiri. Dan seperti anak kecil yang kehilangan layang-layangnya, kehilangan itu tidak akan sampai menghancurkan kita.

Belajarlah untuk tidak terikat dengan menganggap apa yang ada pada hidup kita ini bagaikan layang-layang. Semakin jauh kita melepasnya semakin bahagia kita rasa. Sampai saatnya benang yang menghubungkan kita dengan itu semua putus, dan kita terpisah darinya. Saat itu kita masih tetap bisa tersenyum dan tidak kehilangan kebahagiaan sejati kita.

“I let go of you like, a child letting go of his kite…”

Jakarta, 29 Juni 2009
~Jennifer~

Read Full Post »

Ada sebuah pepatah mengatakan “Banyak jalan menuju Roma“, ya banyak jalan buat kita untuk bisa mencapai sesuatu, belajar sesuatu dan bahkan hanya sekedar untuk mengetahui sesuatu.
Kadangkala kita seringkali membatasi diri kita, bahwa untuk mencapai suatu tujuan hanya bisa ditempuh dengan cara tertentu saja, cara yang umumnya digunakan oleh sebagian besar orang, ataupun yang diajarkan oleh guru-guru ternama.

j0437195

Kira-kira sebulan yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah seminar mengenai bagaimana meningkatkan kecerdasan dan kreativitas anak. Sebuah seminar yang sangat menarik menurut saya, karena selain dibawakan oleh Kak Seto, yang kita tahu memang seorang pakar dalam dunia psikologi anak, tetapi juga karena apa yang disampaikan menurut saya sangat membuka wawasan.
Orangtua seringkali memaksakan anak untuk bisa belajar dan mencapai apa yang ditargetkan oleh mereka, dengan cara-cara yang konservatif. Konservatif maksudnya anak dipaksa belajar sesuai aturan yang diterapkan tanpa melihat bakat dan potensi si anak, serta bidang yang digemarinya. Cara pengajaran seperti ini justru membuat si anak seringkali jadi pemberontak dan akhirnya bisa mematikan potensi dan kreativitasnya.

Di dalam seminar tersebut, kak Seto menyampaikan, cara yang terbaik membuat anak belajar adalah melihat apa yang menjadi minatnya, dengan demikian kecerdasan dan kreativitasnya dapat berkembang secara maksimal. Bila anak suka menggambar, ajaklah ia belajar melalui gambar. Bila anak suka bercerita, ajarkan anak melalui cerita, Begitu pula jika anak suka menyanyi, cobalah ajak anak untuk menghafal pelajaran dengan menyanyikannya. Demikian pula dengan anak yang gemar menari, ajaklah ia belajar melalui tarian. Yang menarik bahkan, bila anak suka bermain sulap, pelajaran fisika pun bisa diajarkan melalui permainan sulap. Semua yang saya sebutkan tadi benar-benar dicontohkan oleh kak Seto dengan sangat menarik.

Saya jadi teringat akan murid les saya 9 tahun yang lalu. Anak ini tidak suka pelajaran ilmu pasti, entah itu matematika ataupun fisika. ”Bikin pusing dan itu tidak perlu buat saya, karena cita-cita saya hanya ingin jadi koki dan punya sebuah toko kue,” begitu katanya. Waktu itu saya katakan padanya, meskipun hanya mau jadi koki pembuat kue, matematika itu penting. Bagaimana kamu bisa menimbang adonan dengan tepat untuk menghasilkan kue yang enak kalau kamu tidak kenal matematika? Kalau membuat kue ada perbandingan antara jumlah bahan satu dan lainnya, itu semua adalah matematika. Sejak saya mengetahui minat anak ini, saya selalu berusaha membuat soal dengan menggunakan contoh-contoh seputar kesukaan dan cita-citanya. Yah sedikit banyak ini cukup membantu saya membuat si anak mau belajar dan merasa matematika itu ternyata menyenangkan dan memang diperlukan.

Saya juga jadi teringat akan apa yang disebut “skillful means” (Upaya-kaushalya), yang secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk mengetahui cara atau metode agar seseorang dapat mengenal Dhamma, kemampuan yang dimiliki oleh Buddha Gotama sehingga bisa membuat begitu banyak Bhikku dan umat awam mencapai tingkat kesucian tertentu. Buddha mengetahui tingkat kematangan kebijaksanaan masing-masing orang, ada yang cukup hanya melalui mendengar Dhamma-Nya langsung bisa mencapai tingkat kesucian tertentu, tetapi ada juga yg harus melalui cara-cara lain, seperti terhadap Bhikku Culapanthaka. Karena kesalahannya di kehidupan lalu, Bhikku Culapanthaka terlahir sebagai orang yang bodoh sehingga bahkan tidak mampu mengingat satu syair pun. Tetapi Buddha hanya memberikan sebuah kain lap dan menyuruhnya untuk menggosok kain lap tersebut sambil mengucap satu kata: ’rojaharanam’ yang artinya ’kotor’, sehingga akhirnya saat Bhikku Culapanthaka melihat kain yang menjadi kotor, ia menyadari bahwa segala yang terkondisi tidaklah kekal dan pada akhirnya Bhikku Culapanthaka bisa mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dari sini saya menyadari, ternyata tidaklah mudah untuk membuat orang bisa memahami Dhamma ajaran Buddha, dibutuhkan ”skillful means” seperti yang dimiliki oleh Buddha. Tetapi siapa yang memilikinya di saat sekarang ini? Mungkin hanya segelintir orang atau bahkan tidak ada sama sekali? Lalu bagaimana kita bisa membuat orang mengenal Dhamma sesuai dengan tingkat kebijaksanaannya? Saya pikir ya itu tadi, seperti orang tua yang mengajarkan anak melalui minatnya, begitupula yang bisa kita lakukan, menyediakan berbagai jalan agar orang bisa mengenal Dhamma.
Ada yang suka belajar melalui membaca, oke kita sediakan buku-buku Dhamma, ada yang suka belajar melalui ceramah, kita adakan seminar-seminar, tapi jangan lupa mungkin ada juga yang menyukai seni, baik itu puisi, tari-tarian ataupun lagu. Sebisa mungkin kita memfasilitasi itu semua, dengan satu tujuan mulia tentunya, membuat orang bisa mengenal Dhamma ajaran Buddha yang sesungguhnya indah pada awal, tengah dan akhirnya.

Seperti kata pepatah ”Banyak jalan menuju Roma” demikian pula ”Banyak jalan yang membuat orang bisa mengenal Dhamma dan mencapai pencerahan”.

Jakarta, 8 Juni 2009
~Jen~