Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My life journey’ Category

Bagaimana rasanya mati, lalu kemudian hidup kembali…

Mati bukan dalam arti nafas yang terhenti, atau fisik yang membeku biru.
Tapi mati saat kau meninggalkan semua masa lalu, pikiran-pikiran dan persepsimu tentang hidup yang sebelumnya.
Lalu dalam sekejap engkau hidup kembali, saat kau melihat sinar terang itu dan rasa bahagia yang membuat bibirmu ingin tersenyum, walau sakit masih terasa di sekujur tubuhmu akibat hantaman bertubi-tubi yang mungkin belum seberapa dari siksa neraka.
Ini hidup yang baru, kau lahir kembali walau masih dalam rupa, nama dan wujud yang sama.
Tapi kau tau hidupmu tak akan lagi sama, tak boleh lagi sama.
Semua dosa masa lalu, apakah sudah terhapuskan?
Mungkin belum, tapi setidaknya kesadaranmu seharusnya membuatmu tak lagi melakukan kesalahan yang sama.
Kau adalah jiwa yang baru, jalani hidupmu dengan lebih bermakna.
Matimu kali ini adalah pelajaran dan peringatan untukmu, agar dapat menemukan jalanmu untuk kembali…
Pergunakan kesempatan yang diberikan ini, untuk sungguh-sungguh berlatih, untuk memulai jalan yang telah kau pilih sendiri, agar kau tak lagi tersesat, agar kau semakin mendekatkan diri pada Tuhan dan tak lagi tinggi hati. Karena kau tak lebih dari setitik debu di angkasa dan jagad raya yang luas ini, seperti yang pernah kutunjukkan padamu dulu sekali…
Jangan lengah! Berlatihlah lebih keras lagi, karena waktumu tak lagi banyak!
Yogyakarta, 10 September 2019
~Jen~
15.52

Read Full Post »

Sebenarnya tulisan ini tentang kematian. Topik “kematian” sudah pernah aku tulis juga sebelumnya di tulisan dengan judul Kematian ini. Tapi alih-alih memberi judul “kematian” yang mungkin buat sebagian besar orang menakutkan, maka aku lebih suka menggunakan istilah “Hidup Baru”.

Kenapa sih kok aku ingin menulis topik ini lagi? Karena sejujurnya buatku sekarang, kematian tak lebih dari suatu proses yang memang akan dialami oleh kita semua, makhluk yang masih berada di samsara. Akhir-akhir ini memang ada beberapa peristiwa yang membuat aku kembali merenung dan berpikir tentang kematian.

Entah sejak kapan aku tidak begitu ingat, kematian bukan lagi hal yang menakutkan buatku, tetapi masih menjadi hal yang menyedihkan, karena seperti yang disampaikan oleh Guru Buddha, berpisah dengan yang dicintai adalah sebuah penderitaan. Dan tentu saja penderitaan itu mendatangkan kesedihan.

Dulu aku selalu merasa sedih bila ada orang yang meninggal, ini pula yang membuatku berpikir untuk tidak menjadi seorang dokter, bukan karena aku takut darah ataupun lainnya, tapi lebih kepada aku tidak tahan melihat kematian, karena kupikir aku pasti akan menangis sedih jika menghadapi kematian.

Tetapi perjalanan hidup memberiku begitu banyak pelajaran, kematian demi kematian dari orang-orang disekelilingku dan terdekatku telah membentuk aku yang sekarang. Aku yang sekarang yang tak lagi bersedih saat melihat kematian. Aku yang sekarang yang memandang kematian hanya sebagai suatu bagian dari kenyataan hidup dan proses dalam perjalanan di samsara ini.

Sempat terbersit dalam benakku apakah aku telah berubah menjadi orang yang tidak berperasaan? Tapi setelah merenungkan lebih dalam, tidaklah demikian adanya. Aku pernah menyikapi kematian dengan kemarahan, kesedihan dan ketidakpuasan untuk waktu yang cukup lama. Kematian papi itu mungkin menjadi satu titik balik dalam hidupku dalam proses “mencari kebenaran”. Dan waktu akhirnya memberikanku banyak pelajaran dan jawaban atas tanya dan ketidakpuasanku. Dalam perjalanan waktu, aku bisa memahami pesan yang kuterima, bahwasannya keterikatan dan keakuanlah yang menyebabkan kesedihan itu.

Saat harus sekali lagi mengalami peristiwa kematian orang yang aku cintai, yaitu kematian mami, aku lebih bisa menerimanya dengan berbesar hati. Tentu saja sebagai manusia yang normal yang masih memiliki perasaan dan ego, aku tetap menangis dan merasa kehilangan. Tapi dibalik rasa kesedihan itu aku juga mengerti bahwa kematian itu sesungguhnya tidak pernah memisahkanku dari orang-orang yang kucintai itu. Mereka hanya sudah terlebih dahulu memulai hidup yang baru, dalam wujud dan dimensi yang berbeda, dan suatu saat nanti mungkin aku akan kembali bertemu dengan mereka lagi.

Aku menulis tulisan ini dari mulai menunggu boarding hingga sekarang berada di atas pesawat yang membawaku kembali ke Jakarta. Sambil memandang ke luar jendela, melihat hamparan awan-awan putih diselingi mentari senja, mengingatkanku akan masa kecilku. Waktu kecil aku sempat bertanya, apakah orang yang meninggal itu akan berada di awan? Karena pelajaran yang kuterima, surga itu adanya di atas, dan sejauh kumemandang langit terlihat hamparan awan seputih kapas. Ada satu kali, sambil memandang awan di langit, aku menangis, teringat kakekku yang sudah meninggal saat itu. Saat ini, saat memandang awan, kupikir seperti itu pulalah kematian. Kadangkala mereka yang pergi menjadi awan, lalu turun sebagai hujan, bergabung menjadi ombak di lautan hingga kembali menjadi awan begitu seterusnya. Mereka tidak pernah pergi, mereka selalu ada, hanya bagaimana kita bisa mengenalinya dalam wujud dan rupa yang berbeda.

Yang lahir pasti mati, karenanya usahlah bersedih. Hidup yang satu dan hidup yang baru hanya sebatas pemikiran kita. Yang terpenting bagaimana kita bersiap untuk memulai hidup baru yang bisa datang kapan saja menghampiri kita…

Di atas langit senja Jakarta,

~Jen~

05.49 pm

Read Full Post »

Akhirnya aku bisa mengunjungi Bhutan, negara yang tingkat kebahagiaan penduduknya tinggi. Jika melihat kondisi alamnya, memang sangat indah dan asri. Dari tour guide lokal aku mengetahui bahwa pemerintah tetap menjaga agar 60% dari area haruslah ditanami pepohonan. Tidak heran udara di sini masih sangat segar dan bersih.

Hari pertama aku punya kesempatan mengunjungi Buddha Point atau Buddha Dordenma, sebuah patung Buddha yang sangat besar yang pembangunannya sudah diramalkan untuk menjaga perdamaian di Bhutan.

Bangunan patung ini sangat besar, di dalamnya masih terdapat ribuan patung-patung Buddha kecil dan juga terdapat patung Buddha Vayrocana dan Buddha-Buddha lainnya. Di dalam ruangan aku sempat bernamaskara dan bermeditasi sejenak. Setelah selesai aku berkeliling di halaman luar ruangan.

Entah apakah ini hanya perasaanku ataukah memang ada ‘pesan’ yang ingin disampaikan padaku, tetapi saat berjalan keliling itu aku jadi menangis, dan seolah ada yang berbicara padaku, kenapa aku berpikir bahwa tidak ada gunanya lagi aku hidup? Tulisanku sebelum ini memang berisi perasaanku tentang hidup yang aku jalani saat ini, bagaimana aku merasa bahwa sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup setelah kepergian kedua orangtuaku. Tapi pesan yang aku terima di Buddha Donderma menyuruhku membuka mataku, merasakan dengan hatiku, bahwa masih banyak yang bisa aku lakukan, di luar sana masih banyak hal indah yang bisa aku rasakan.

Aku menangis saat mendapat pesan itu, walau singkat, tetapi menguatkan dan menenangkan. Hidup ini tidak hanya sekedar hutang piutang. Dalam perjalanan kali ini aku bertemu orang-orang baru, merasakan cinta kasih dari mereka, dan sebaliknya juga bisa berbagi kasih dengan mereka. Jika hanya didasarkan pada hutang piutang, mungkin kita hanya jadi berhitung, tapi hidup seharusnya tidak seperti itu. Cinta yang aku miliki, berkah yang ada dalam diriku, seyogyanya kupergunakan dengan baik, agar bisa menuntunku pada jalan pembebasan sejati.

Thimphu, Bhutan, 5 June 2019

~Jen~

05.21 am waktu Bhutan

Read Full Post »

Tidak terasa satu kuartal telah terlewati di 2019 ini. Waktu benar-benar berjalan dengan cepat. Kesibukan menambah cepatnya perjalanan waktu bagiku. Tanpa terasa pula sebentar lagi setahun sudah sejak kepulanganku dari Taiwan. Banyak yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun, tapi entah mengapa yang paling mengusikku adalah soal kematian, kepergian orang-orang yang ada di sekitarku.

Sebelum aku berangkat ke Taiwan di 2017, saat masih bekerja dan suka travelling, seringkali karena terlalu sering membawa barang berat, tanganku jadi terkilir alias keseleo. Dan seperti kebiasaan pada umumnya, jika terkilir pastilah yang dicari tukang urut atau sinshe yang bisa pijat. Dulu aku selalu pergi ke satu sinshe di petak sembilan daerah kota. Usianya tidak terlalu tua mungkin masih sekitar 60an nyaris 70, dan jika dilihat orangnya tampak masih sehat dan segar. Setelah kembali dari Taiwan tahun lalu, kebetulan tanteku ingin pergi pijat ke sinshe tersebut dan ternyata mendapat kabar kalau beliau sudah meninggal.

Kelahiran dan kematian bukanlah hal yang aneh dalam kehidupan ini, terlebih buatku yang tengah belajar mengenai ketidakkekalan. Tetapi tetap saja hal ini mengusik diriku. Dalam kurun waktu setahun, siapa saja bisa pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Aku jadi teringat selama setahun aku tinggal di Hualian, Taiwan, aku sudah melihat lebih dari 3 kali peristiwa kematian. Memang orang-orang tersebut tidak aku kenal, tapi entah kenapa aku jadi merasa diperlihatkan bahwa betapa tidak kekalnya hidup ini, diingatkan bahwa kapan saja hal ini bisa terjadi pada diriku.

Hal terakhir yang benar-benar mengingatkanku soal ketidakkekalan ini adalah saat aku bermimpi bahwa seseorang memberitahuku bahwa waktu hidupku hanya tinggal 10 tahun lagi. Sebenarnya ini tidak jelek juga bagiku, hidup terlalu lama tanpa makna sama saja seperti mati. Sejujurnya semenjak kepergian mami aku merasa sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup. Aku sudah tidak bisa membayar hutang budiku di kehidupan ini. Lalu aku tidak punya suami atau anak yang harus aku urus, sementara bagiku kakak adikku seharusnya sudah bisa mengurus diri mereka sendiri.

Kadangkala aku berpikir sudah waktunya aku pergi. Tugas sudah selesai di kehidupan ini, biar kubayar hutang di kehidupan yang akan datang. Mungkin orang akan bertanya kenapa aku tidak berkeluarga? Sejujurnya sebagian diri ini mungkin pernah menginginkannya, tapi sebagian lainnya juga menolaknya. Kupikir ini tidak lepas dari karmaku di banyak kehidupan yang lalu. Jadi jika sekarang aku ditanya kehidupan mana yang aku pilih, aku pikir pada dasarnya kita semua datang seorang diri, dan akan pergi seorang diri.

Berkeluarga ataupun tidak, kita ini tetap sendiri, menempuh jalan seorang diri. Keluargamu adalah teman dalam perjalanan, dan sesungguhnya tidak terbatas keluargamu saja, setiap orang yang kau temui dalam hidupmu adalah teman seperjalanan. Beberapa mungkin sudah berhenti terlebih dahulu sehingga tidak lagi berjalan bersamamu, beberapa mungkin mengambil jalan yang berbeda denganmu, yang bisa saja satu kali nanti di satu masa yang berbeda bisa bertemu kembali denganmu di satu jalan yang sama.

Aku tidak pernah takut sendiri, aku tidak pernah merasa sendiri, dan kematian bahkan bukan akhir buatku. Aku ingin memulai yang baru, tapi entah mengapa sepertinya ada yang masih harus kulunasi di kehidupan ini, dalam kurun waktu yang relatif singkat ini.

Siapapun itu kamu atau kalian, jika memang aku harus melunasi hutangku di kehidupan ini, datanglah padaku, muncullah di hadapanku, karena aku tidak mau berdiam terlalu lama di sini, karena tugas baru sudah menungguku dan jalan sudah menantiku untuk melangkah maju…

Atambua, 31 Maret 2019

~Jen~

08.00WITA

Read Full Post »

Yup, today is my birthday, and I’m turning 39. Bukan usia yang muda lagi ya, tapi entah kenapa sih gue selalu ngerasa masih muda aja hahaha… kalau bukan karena mata yang udah mulai harus pakai kacamata ples, dan uban di rambut yang udah mulai lebih cepet tumbuhnya, atau kulit yang udah mulai keluar bercak-bercak putih (nasib orang kulitnya putih) pasti gue akan selalu merasa kalau gue ini baru 17 taon (ich lebay) hahaha…

But that’s true, selama ini gue gak merasa kalau gue ini udah tua, hmmm… terlalu pede mungkin ya? Sebenernya kalau dipikir-pikir bukan terlalu pede sih, tapi lebih kepada gue merasa waktu ini jalannya eh larinya udah kayak orang dikejer anjing gila kali ya, ngebut kagak kira-kira. Perasaan kemaren gue baru aja tiup lilin, masa hari ini kudu tiup lilin lagi? Makanya taon ini gue kagak tiup lilin dah, jiaah alasan hahaha bilang aja kagak ada yang nyiapin kue taon ini wkwkwkw…

Tapi bener, eh bener apa nih, bener kalau waktu itu jalannya eh larinya cepet banget, n bener juga kalau taon ini ultah kagak tiup lilin karena kagak ada yang siapin kue wkwkwk… Yah maklum aja, sekarang gue lagi di negara antah berantah lainnya, di Timor Leste tepatnya, negara baru lagi yang gue injek karena urusan pekerjaan. Hm… dipikir-pikir wish taon lalu jadi kejadian ya. Taon lalu gue ulang tahun di Taiwan, merayakan bareng temen-temen baru, sementara taon sebelumnya gue ultah di Vietnam, dibuatin surprise party sama child fruit (baca: anak buah, wkwkwk). Taon lalu gue sempet bilang, udah dua taon ini ngerayain ultah di negara orang, taon depan gue akan ngerayain di mana lagi? Daaaan.. kejadian donk, taon ini gue ngerayain ultah di negara orang lagi (ya emang negara orang, masa sih negara m*nyet hahaha).

Beda dengan dua taon sebelumnya, taon ini tidak ada perayaan, ucapan selamat pun kayaknya mulai berkurang nih, jiaahhh diitungin hahaha… ya kadang gue pengen tau aja sih siapa-siapa yang masih inget ultah gue, care ama gue, ciee… tapi biar gak ngucapin juga bukan berarti tuh orang gak care sih, emang mungkin kagak tau aje, atau lupa, ya even some of my best friends cannot remember my birthday. Trus cuma gegara dia lupa ultah loe jadi bukan best friend lagi? Hahaha ya gak lah ya, semakin nambah umur gue ceritanya makin wise neh wkwkwk jadi menurut gue tuh, ada orang yang memang gak pay attention to hal-hal begini, jadi ya dimaklumin aja. Even bokap gue aja pernah salah tulis nama gue donk hahaha, it doesn’t mean bokap gue gak care ama gue, tapi emang gue tau aja, nama gue terlalu susah buat bokap gue inget! hahaha…

Nah agak serius dikit neh sekarang, cie serius, eh beneran tadinya gue mo nulis ini maksudnya kontemplasi di hari ultah, tapi entah kenapa ye kok jadinya tulisan chit chat ala gue gini wkwkw tapi asik juga sih, udah lama gak nulis dengan gaya gila gue ini hahaha… back to laptop (ya ampun ketauan banget ye jaman tontonannya hahaha). Oke serius-serius sekarang. Nah jadi gini, kemaren-kemaren ini gue jadi mulai mikir, ich kok gue tiga taon ini ultah di negara beda-beda ya, ini kok jadi seperti loe lahir lagi di tempat-tempat yang beda, ini jadi buat gue mikir mungkin seperti ini juga saat kita terlahir lagi. Kita bisa lahir di tempat dan kondisi yang menyenangkan buat kita, tapi bisa juga lahir di tempat dan kondisi yang kurang menyenangkan. Tapi menyenangkan dan nggak itu kan bagaimana gue sendiri yang ‘mengatur’ dan ‘merasakan’ nya.

Mungkin akan ada orang yang bilang kasihan ya, ulang tahun jauh dari keluarga karena urusan kerja, sendirian lagi. Hm… ya itu sih biar aja orang mo ngomong apa, gue sih happy-happy aja, karena nambah taon ato nggak benernya sih gak beda buat gue. Nambah taon ini benernya cuma pengingat buat gue, pengingat apa? Pengingat kalau umur gue udah berkurang lagi, waktu hidup gue di dunia ini tambah sedikit.

Gue mo cerita dikit nih, ini emang aneh, ini kejadian taon lalu, waktu gue di Hualien, kadang kan gue suka jalan sendiri tuh keluar, olah raga sekalian aja kadang otak gue ini mikir ke sana kemari. Nah ceritanya ada satu kali entah gimana mulanya, gue itu kepikir, sebenernya orang mati tuh lebih baik loe tau kapan waktunya jadi loe bisa prepare, or mendingan dadakan aja langsung aja lu cabut. Kenapa gue mikir gini? Ya gue lagi keinget aja antara bokap n nyokap. Bokap pergi cepet, kata nyokap enak sih gak ngerasain sakit (kek tau aja ye, sapa tau juga saat itu bokap ngerasain sakit hahaha), sementara buat yang ditinggal terutama gue waktu itu, gak terima banget sih. Nah beda waktu nyokap, karena emang waktu itu nyokap sakit, gue tau sih pasti itu sakit banget dan nyokap benernya gak mau tapi ya gimana ya mi, emang itu apa yang sudah seharusnya terjadi, tapi buat gue entah kenapa gue merasa lebih tenang karena saat itu gue merasa gue bisa mempersiapkan segalanya, termasuk say sorry ke nyokap dan mengantar nyokap pergi untuk terakhir kalinya. Nah singat cerita setelah mikirin hal ini, eh entah gimana tuh beberapa hari kemudian gue mimpi donk, dalam mimpi tuh kek ada yang bilang ke gue, jadi waktu hidup gue itu tinggal 10 taon lagi. Nah waktu gue bangun gue cuma mikir gini, hm… 10 taon lagi, jadi gue gak lewat umur 50 taon ya, hm.. bagus jugalah, gue gak pengen idup sampe lama-lama, gue gak pengen mati dalam kondisi muka gue udah keriput, gue pengen mati masih cantik! wkwkwk aiyooo gila juga gue ya…. hahaha… tapi ini beneran loh…

Btw ini hari ultah gue and gue talking-talking about death, ich kalau masih ada nyokap bakal dikemplang gue, pamali masa hari ultah ngomongnya gitu? hahaha ya ya ya gak salah sih, semua orang selalu waktu ultah diselametin semoga Panjang umur, gue tau deh kenapa, karena benernya everybody knows kalau loe ultah itu tandanya umur loe bakal kurang satu ya jadi semoga nanti bisa Panjang umur nyaaa… hahaha…

Okeh, kayaknya udah cukup kegilaan gue hari ini, karena di sini benernya udah lewat hari, maklum 2 jam lebih cepet dari Indo, so gue harus mengakhiri tulisan ini. Dan inti dari semua celotehan gak jelas gue ini adalah, gue cuma mau bilang ke diri gue sendiri:

Happy Birthday Jen, thank you for this 38 years, you hang on and survived. I know it’s not an easy life for you, but you did well so far. Be sincere and accept whatever waiting for you in this journey. I know you can do it! 加油!

Okeh that’s it, dan seperti masih mengikuti tradisi keluarga, hari ini tetap harus makan mie goreng ya, jadi karena darurat dan gak tau apakah bisa keluar makan mie goreng ato nggak, jadi ya terpaksa kita bikin saja. Thanks to Indomie Goreng (ich iklan, hahaha) yang dimasak pakai rice cooker jadi jugalah ya mie ulang taon ala ala wkwkwk….

photo from jennifer (鄧燕妮)

Dili – Timor Leste, 11 January 2019 00:45 am

~Jen~

(10 January 2019 in Jakarta 10:45 pm)

 

 

Read Full Post »

Satu tahun lagi akan berganti, sepertinya tiap akhir tahun hampir setiap orang akan menuliskan pencapaian dan refleksi apa yang terjadi di tahun ini dan harapan serta resolusi mereka untuk tahun yang akan datang. Dan hampir setiap tahun juga aku melakukan hal yang serupa, hanya sekedar sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Sebenarnya tahun baru maupun hari biasa adalah sama saja, yang menjadikannya berbeda karena kita membuat suatu ukuran atas satu periode masa dimana seolah satu rentang waktu telah kita lalui dan kita memberikan penambahan angka di sana. Buatku yang lahir di bulan awal tahun membuat pergantian tahun juga bermakna sebagai usia yang bertambah. Bertambahnya usia bagiku adalah sama dengan berkurangnya umurku untuk hidup di dunia ini.

Aku masih ingat, dulu waktu usiaku masih kepala 2, rasanya waktu berjalan begitu lambat, tapi entah kenapa sekarang ini setelah menginjak kepala 3, waktu berjalan terasa begitu cepat. Aku sendiri kadang masih tidak merasa bahwa aku sudah tua, tapi usia memang tidak bisa bohong, sebagai manusia kita mengalami fase pembentukan, berkembang, kerusakan atau pelapukan, lalu mati. Saat ini di usia yang sudah hampir kepala 4 yang berarti sudah lebih dari setengah usia hidup rata-rata orang Indonesia khususnya, tentunya tubuh ini sudah mulai mengalami fase pelapukan. Rambut yang tadinya bewarna hitam sudah mulai berubah putih, kulit yang tadinya putih mulus sudah mulai timbul bercak-bercak tanda penuaan, dan masih banyak tanda-tanda lainnya yang menandakan bahwa tubuh ini sudah tak lagi sama seperti yang dulu. Memang segala sesuatu yang terkondisi tidaklah kekal, tubuh jasmani ini tentunya juga mengalami perubahan.

Tahun 2018 ini, setelah memutuskan kembali ke Indonesia, aku akhirnya kembali ke dunia kerja. Kembali bekerja berarti kembali ke dunia dimana aku akan menghadapi masalah-masalah dan orang-orang baru dengan beribu satu karakternya. Kadangkala hal ini sangat melelahkanku yang lebih suka sendiri. Buatku, yang melelahkan dari bekerja itu adalah saat harus berinteraksi dengan banyak orang. Tapi aku menyadari, kita hidup di dunia ini tidak sendiri, tidak bisa terlepas dari peranan orang lain. Makanan yang kita makan, pakaian yang kita pakai, semua itu ada jasa orang-orang yang berperan di dalamnya. Hutang piutang tidak bisa dihindari, dan tentulah hutang harus dibayar. Menyadari hal ini, aku hanya berusaha untuk membayar segala apa yang seharusnya aku lunasi.

Banyak hal yang terjadi di 2018 ini, tapi dari semuanya, aku cukup dibuat berpikir keras oleh dua kejadian yang serupa dengan dua orang berbeda, dimana yang satu malah terhitung orang asing bagiku. Tetapi anehnya, kedua orang ini memberikan nasihat yang serupa, nasihat yang seolah mematahkan tekad dan pemikiranku. Sebenarnya aku sangat berterima kasih kepada dua orang ini, karena aku percaya yang mereka sampaikan kepadaku itu adalah dengan maksud dan tujuan yang baik dari lubuk hati mereka. Tapi buatku yang sudah membuat keputusan ini, apa yang mereka sampaikan membuatku jadi berpikir. Ada pepatah bilang, saat kita bertekad untuk melakukan sesuatu, kadangkala ujian itu datang, banyak gangguan dan godaan-godaan yang berusaha menggagalkan tekad kita. Aku jadi berpikir, apakah kedua orang yang bermaksud baik ini juga termasuk godaan untuk menggagalkan apa yang telah aku tekadkan? Karena Siddharta sendiri juga mengalami berbagai gangguan sebelum akhirnya mencapai penerangan sejati.

Sejujurnya aku jadi sedikit bimbang, aku sendiri tidak tahu seberapa besar tekadku ini, apakah aku harus bersikeras, ataukah aku membiarkan segala sesuatu mengalir bagaikan air saja? Aku selalu berdoa agar Tuhan menuntun jalanku pada apa yang seharusnya, tapi mengapa aku menemui hal-hal ini? Apakah ini bagian dari jalan yang harus aku lalui?

Kembali lagi aku teringat akan sebuah nasihat, bahwa aku seharusnya menjalani kehidupan ini dengan tulus. Setelah sekian lama mendapat nasihat ini, aku masih belum dapat memahami ketulusan seperti apa yang seharusnya aku miliki dalam menjalani hidup ini? Kemarin tiba-tiba saja aku terpikir, tulus ini mungkin berarti menerima segala apa yang terjadi padaku tanpa mempertanyakannya, lalu menjalaninya dengan sebagaimana seharusnya, tanpa berkeluh kesah, baik itu hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, karena biar bagaimanapun yang terjadi padaku adalah memang apa yang seharusnya terjadi menurut karmaku sendiri. Jadi mungkin itulah ketulusan yang harus aku jalani.

Dengan kesimpulan sementara ini, aku telah siap membuka hatiku untuk menyambut tahun yang baru dan segala kejutan yang menantiku. Apapun itu, aku akan dengan ikhlas menerimanya, dan dengan tulus menjalaninya. Baik itu hal yang susah ataupun senang, aku akan menerimanya dengan berbesar hati, menjalaninya sebagaimana seharusnya, karena aku percaya Tuhan tidak akan membiarkanku tersesat, sekalipun aku mungkin salah memilih jalan, tapi mungkin disitu ada pelajaran yang bisa kupetik, ada hutang yang masih harus kubayar. Dan aku selalu percaya, akan selalu ada jalan pulang untukku. Sejauh apapun jalan memutar yang mungkin harus kutempuh, sesulit apapun rintangan yang harus aku hadapi, tapi jalan pulang itu selalu ada untukku. Karena aku datang ke dunia ini, untuk menemukan jalan agar dapat kembali kepadaMu Tuhan.

Jakarta, 31 Desember 2018

~Jen~

05.05 pm

Read Full Post »

Hidup ini penuh dengan ketidakpastian. Pepatah bijak mengatakan bahwa yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan, apa yang terjadi esok, apa yang akan terjadi satu jam ke depan, bahkan apa yang akan terjadi sedetik kemudian, tidak ada seorangpun yang tahu.

Ketidakpastian ini seringkali menimbulkan kekhawatiran-kekhawatiran dalam diri kita manusia. Kita seringkali memiliki banyak perencanaan untuk masa yang akan datang, rencana-rencana yang pastinya kita harapkan dapat berjalan sesuai yang kita pikirkan. Namun kenyataan seringkali berkata lain. Apa yang sudah direncanakan sebaik mungkinpun seringkali tidak terjadi sesuai apa yang diharapkan. Inilah ketidakpastian.

Lalu bagaimanakah seharusnya kita menyikapi ketidakpastian ini? Bagaimana kita mengatasi kekhawatiran yang timbul karenanya?

Dua bulan ini, setelah kembali ke Indonesia, tentunya yang saya lakukan adalah berusaha secepatnya mendapatkan pekerjaan. Selama ini boleh dibilang saya terhitung mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Dan karena hal inilah mungkin saya jadi terlalu percaya diri dan berani mengambil keputusan keluar dari pekerjaan saya setahun yang lalu. Ditambah perhitungan waktu yang sudah saya rencanakan dengan baik, saya sangat yakin sekembalinya ke Indonesia saya akan dapat segera bekerja. Namun kembali lagi, karena hidup adalah ketidakpastian, begitupula hidup yang saya jalani. Siapa yang bisa menjamin apa yang sudah saya rencanakan bisa berjalan mulus. Meskipun ada beberapa panggilan kerja, bahkan yang sudah sampai tahap akhir, toh nyatanya sampai hari ini saya masih pengangguran.

Kenyataan ini membuat saya merenungi akan ketidakpastian hidup. Dalam proses menunggu ini saya menyadari kekhawatiran yang mulai saya rasakan. Kekhawatiran ini jelas sangat mengganggu karena di lain sisi saya menyadari tidak seharusnya kita hidup di dalam kekhawatiran. Kita seharusnya “pasrah” dalam menjalani hidup ini. “Pasrah” saya beri tanda kutip, karena “pasrah” di sini bukan berarti kita hanya berdiam diri ataupun menyerah. “Pasrah” atau saya lebih suka pakai istilah Jawa “nrimo” dan “legowo” adalah kondisi dimana batin tidak dipengaruhi kekhawatiran akan apa yang terjadi di kemudian hari. Ini adalah pengertian yang saya buat sendiri untuk diri saya sendiri. Kondisi ini adalah dimana kita sudah berusaha sepenuh hati, merencanakan sebaik mungkin, tapi tetap hasil akhir atau apa yang akan terjadi kita serahkan pada kuasa “Tuhan” sang Maha segala.

Dalam penantian akan ketidakpastian ini saya merasa “Tuhan” tengah mengajari saya untuk hidup di saat ini, hidup dengan “pasrah” di dalam ketidakpastian. Kehidupan ini bukanlah hitungan matematika dimana satu ditambah satu adalah dua seperti yang sudah disepakati oleh manusia. Hidup ini adalah sebuah misteri yang seringkali memberikan kita manusia begitu banyak kejutan. Yang harus saya lakukan adalah bersiap untuk setiap kejutan yang akan saya terima sambil tetap “hidup di saat ini”. Menghargai setiap detik waktu yang saya lewati dengan sebaik mungkin, dengan melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan ini.

“Tuhan” selalu punya cara-Nya sendiri untuk menegur, mengajari, dan mencintai kita manusia. Dan saya sangat bersyukur bahwa hingga detik ini saya masih menerima pelajaran-pelajaran itu yang tentunya sangat berguna bagi saya dalam menempuh “perjalanan” ini…

Bangka, 25 July 2018

~Jen~

17.55 WIB

Read Full Post »

Older Posts »