Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2025

Istanbul, 27 Maret 2025 sekitar jam 7 pagi waktu setempat.

Pesawatku dari Jakarta baru tak lama mendarat di bandara Istanbul untuk transit kurang lebih 6 jam lamanya. Aku baru saja selesai zoom meeting untuk merekam ucapan ulang tahun untuk boss ku. Aku sedang bersiap-siap untuk ke toilet buat sikat gigi dan cuci muka, karena flight dari Jakarta sebelumnya adalah tengah malam. Pria itu datang untuk mencharge handphone nya di tempat aku duduk. Ya di situ memang ada beberapa kursi dan beberapa stop kontak. Pria paruh baya dengan tampilan seperti India atau ya sekitarnya ini tampak agak kebingungan. Beberapa kali dia memindahkan kabel nya dari satu colokan ke colokan lain tetapi tampaknya tidak ada listrik yang mengalir ke hp nya. Dia lalu melihatku dan bertanya apakah aku punya kabel charger. Seperti biasa aku yang introvert ini selalu enggan berkomunikasi dengan orang asing, sehingga kujawab saja untuk mencoba di lubang yang lain. Namun setelah berpindah 2-3 kali tidak berhasil dan dia bilang sepertinya yang bermasalah adalah kabel chargernya dan dia bertanya apakah aku punya kabel charger.

Entah karena kasihan atau apa, akhirmya aku mengeluarkan kabel charger ku dan kuberikan padanya. Dan memang dengan kabel ku hp nya bisa dicharge. Dia bilang bolehkah pinjam sebentar? Laku kubilang pakai saja, aku hanya akan ke toilet 10-15 menit jd selama itu dia bisa pakai. Tapi alih-alih ke toilet, aku malah duduk lagi. Kuakui ada sedikit rasa khawatir meninggalkan begitu saja kabel charger ku ke orang asing. Akhirnya singkat cerita pria ini mengajak ngobrol. Dia orang Pakistan yang bekerja di Dubai, seharusnya dia meneruskan penerbangan ke Armenia atau mana, aku agak kurang jelas, namun dia tertahan dan tidak diijinkan terbang dengan connecting flight nya. Dia bahkan harus membeli tiket pesawat baru untuk ke negara lain, Azerbaijan. Rencananya selain traveling dia juga sekaligus survey untuk membuka bisnis. Pria ini tipe yang extrovert, dia harus berkomunikasi dengan orang lain untuk recharge energy nya, itu dia sampaikan kepadaku sambil mengucapkan terima kasih. Akhirnya setelah lebih dari setengah jam, setelah dia ke toilet dan aku juga bergantian ke toilet, kupikir harusnya hp nya sudah terisi setidaknya 50% maka aku bilang padanya aku harus melanjutkan perjalananku. Akhirnya kami berpisah, bahkan tanpa saling bertanya nama masing-masing. Kupikir di kehidupan lalu mungkin dia pernah membantuku, maka saat ini adalah kesempatanku membalas dan membantunya. Jikalaupun kami belum pernah bertemu sebelumnya, mungkin dia pernah melakukan kebaikan dan saat ini dia menerima balasan atas kebaikannya melalui aku.

Luzern, 28 Maret 2025, pagi jam 8an

Kemarin secara tidak sengaja saat mengecek IG, aku melihat story Mba Ririen yang sepertinya sedang di Itali. Iseng aku DM menanyakan sampai kapan di Itali, karena kebetulan aku akan ada jadwal ke Milan. Mba Ririen membalas kalau dia, Mas Wibi dan satu temannya sedang menuju Swiss. Wah kebetulan sekali, aku sudah tidak ketemu mba Ririen mungkin sekitar 5 tahun an. Walau sama-sama di Indonesia, sejak pindah ke Palembang, sepertinya aku hanya sempat ketemu 2 kali, sekali waktu aku tugas kantor ke Palembang sekitar tahun 2010, dan terakhir di Jakarta sebelum pandemi di 2019. Mba Ririen adalah teman sekantorku dulu sewaktu di Sinarmas tahun 2007-2010, dan dulu kami cukup dekat. 

Trip kali ini karena kesibukan sebelum berangkat, aku belum membuat itinerary detail, aku hanya baru menentukan aku akan tinggal di kota apa dan kapan, jadi karena kebetulan mba Ririen di Swiss maka kuputuskam untuk bertemu dengannya, dan di sinilah di Luzern aku bertemu dengan mba Ririen. Sehari ini aku ikut jadwal mba Ririen yang menyewa mobil, kami pergi ke Itsewald, ke danau di mana syuting film drama Korea: Crush Landing on You. Tapi memang ya tidak ada yang kebetulan, karena pergi dengan mba Ririen aku jadi mengunjungi tempat ini, yang awalnya aku tidak tahu apakah akan aku kunjungi atau tidak. Begitulah hari ini kuhabiskan dengan mba Ririen, Mas Wibi dan Tarida teman mba Ririen. Karena jadwal kami yang berbeda, jadi kami akan berpisah setelah hari ini.

Aku dan Mba Ririen di stasiun sebelum kami berpisah

Milan, 30 Maret 2025 jam 12 siang.

Belakangan ini, aku tidak terlalu suka untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah ataupun yang berbau kuno atau antik. Ada perasaan tidak nyaman saat mengunjungi tempat-tempat itu, maka untuk 2 hari ku di Milan, saat browsing ‘what to do in Milan’ akhirnya aku mendaftar cooking class untuk membuat Pasta dan Tiramisu. Chef nya seorang Italia yang sebenarnya lahir dan besar di Brazil. Nenek Kakeknya berasal dari Itali dan migrasi ke Brazil. Raffael, nama chef tersebut memutuskan untuk ke Itali dan memulai karir menjadi Chef setelah sebelumnya sempat bekerja secara profesional di General Motor. Peserta lain, pasangan suami istri dari Amerika yang mana si istri bernama sama denganku, Jennifer. Nenek nya juga berasal dari Itali. Kelas berlangsung hangat karena dilakukan di rumah dan sambil mengobrol santai. Obrolan dari mulai masakan, politik hingga kekhawatiran orangtua terhadap anaknya. Sungguh buatku ini seperti pelajaran hidup yang tak terlupakan.

Duomo – Milan, 31 Maret 2025 sekitar jam 8 pagi lewat waktu setempat.

Karena keretaku kembali ke Swiss adalah jam 3 sore, maka untuk mengisi waktu pagi hari aku mengunjungi Katedral Milan setelah sebelumnya membeli tiket masuk online. Tiket yang kubeli termasuk akses ke terrace dengan Lift, karena kupikir waktuku terbatas jadi aku perlu akses cepat sampai atas, dan tetap turun dengan tangga nantinya.

Jam setengah 9 pagi belum ada orang di depan pintu masuk lift. Tidak lama kulihat sepasang suami istri bule mungkin sekitar 60an tahun lebih usianya. Tampaknya mereka juga akan masuk melalui akses lift. Aku lupa bagaimana awalnya, sepertinya karena menanyakan pintu masuk, tapi akhirnya kami mengobrol. Mereka ternyata berasal dari Canada dan sedang liburan ke Itali. Saat waktu hampir jam 9 pagi, tiba-tiba petugas datang dan bilang arah antrian dari ujung belakang. Saat itu di sana juga sudah berkumpul beberapa orang. Maka setelah aku pindah, si suami istri ini dan satu perempuan bule juga bilang ke orang-orang di sana kalau kita sudah mengantri duluan. Aku yang orang Asia, apalagi tipe yang ga suka cari ribut, hanya diam saja sambil senyum. Tetapi si suami istri ini bilang, jangan takut, kami akan bantu kamu untuk masuk duluan. Singkat cetita aku masuk nomor 3, karena ada pasangan yang tampak ngotot di depan. Si suami istri Canada di belakang, disusul si perempuan bule yang cukup berani tadi bersama putrinya. Akhirnya saya dan si suami istri jadi berbarengan dan sempat saling bantu foto. Kami berpisah saat si suami istri ini masuk ke area doa di dalam gereja. Sebenarnya aku ingin menyampaikan salam perpisahan, tapi ya kami akhirnya berpisah begitu saja. Aku sempat berpikir untuk menunggu mereka selesai berdoa, karena sepertinya merasa tidak enak saja kalau tidak mengucapkan salam apapun, tapi setelah menunggu sekian lama mereka tampaknya belum selesai dan aku sudah harus kembali, jadi ya sudah kami berpisah tanpa sepatah dua patah kata.

Stasiun Intetlaken Ost, 1 April 2025 sekitar jam 8 pagi.

Hari ini aku berencana ke Jungfraujoch dan dari Interlaken west tempat penginapanku, pagi-pagi aku sudah naik kereta ke Interlakem Ost untuk lanjut ke Grindelwald. Saat akan berganti kereta di stasiu Interlaken Ost, tiba-tiba ada yang memanggilku, kulihat seorang anak laki-laki China mungkin usianya sekitar 20an, dia bertanya apa aku bicara bahas Inggris atau Mandarin? Kujawab dua-duanya aku bisa. Lalu dia menanyakan kereta arah Grindelwald, rupanya dia juga akan pergi ke Jungfrau dengan rute yang sama dengan aku. Akhirnya di kereta kami duduk bersama dan mengobrol sampai memutuskan oke kita jalan sama-sama karena kebetulan saya sendiri dan dia juga sendiri. Anak ini sedang program pertukaran pelajar di Jerman, dia asal Chengdu, China. Dia hanya ke Swiss selama 2 hari untuk jalan-jalan. Jadi selama di Jungfrau kami saling bantu foto bergantian. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar terang walau udara sangat dingin. Di top op Europe, sambil menunggu foto dengan bendera udara sangat dingin bahkan aku dengan sarung tangan saja masih kedinginan, tapi Nan Xie, si anak China ini sepertinya tanpa persiapan sehingga dia tidak bawa sarung tangan. Aku lihat dia sepertinya kedinginan dan aku kebetulan membawa syal, jadi kutawarkan dia untuk menghangatkan tangannya dengan syal ku. Setelah selesai foto-foto kami kembali ke dalam, dan aku tanya apakah dia bawa air minum. Kali ini aku cukup persiapan, pagi-pagi aku sudah mengisi tumbler ku dengan air panas. Kebetulan Nan bawa botol, jadi kubagi sedikit air panas sehingga dia bisa menghangatkan tangannya.

Perjalanan kembali kami menggunakan rute berbeda, kali ini dengan kereta. Saat naik kereta dari stasiun Kleine Scheidegg di kursi sebelah ada anak laki-laki China dengan mama nya. Usia anak ini juga mungkin sekitar 20 tahunan. Karena sebelumnya sudah baca-baca beberapa artikel aku jadi sudah memilih kursi di sisi yang tepat, sisi dimana bisa terlihat pemandangan gunung-gunung. Karena ingin foto pemandangan, maka si anak China yang berdua dengan ibunya ini berdiri ke sisi tempat aku dan Nan duduk. Dasar Nan memang anaknya cukup berani dan ramah, dia mengajak si anak ini.bicara dan bahkan membiarkan anak ini duduk di kursinya untuk mengambil foto-foto. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Nan, ternyata dia dari Hongkong dan baru lulus kuliah dan bekerja.

Akhirnya kami tiba di stasiun Lauterbrunnen, di situ harusnya kami melanjutkan dengan kereta ke Interlaken Ost, tapi kaerena masih agak pagi, masih sekitar jam 3an, Nan menanyaiku apakah mau ikut mereka ke air terjun, aku pikir toh aku tidak ada jadwal, jadi aku ikut bersama mereka. Setelah dari melihat air terjun (dari jauh), kami lanjut naik bus dan cable car ke desa Murren, desa di kaki gunung Alpen.

Sewaktu naik cable car hanya kami ber 4 dan 1 perepuan bule. Mama si anak Hongkong (sampai terakhir lupa tanya namanya), menawari aku snack, walau awalnya kutolak tapi karena dia memaksa akhirnya kuambil juga walau tidak langsung kumakan.

Dari Murren kami kembali ke stasiun Lauterbrunnen dan naik kereta ke arah Interlaken. Sebelum sampai Interlaken Ost si anak Hongkong turun terlebih dahulu di 2 stasiun sebelum Interlaken Ost karena katanya dari sana ada bus yang akan lewat tepat depan hotelnya. Mereka, ibu dan anak ini juga tinggal di Interlaken west sepertiku hanya saja penginapanku sangat dekat dengan stasiun Interlaken west sehingga aku akan turun di sana. Akhirnya sampailah aku dan Nan di stasiun Interlaken Ost, di sana kami berpisah, Nan akan kembali ke Jerman lusa dan dia akan tinggal di Laussane kalau tidak salah. 

Laussane, 4 April 2025 sekitar jam setengah 12 siang di Port de Ouchy

Hari ini aku menempuh rute Laussane, Vevey dan Montreux, tapi sebelumnya pagi-pagi aku sempat mengunjungi La Passerelle de l’Utopie yang kemarin di forward oleh ci Wai wai. Tadinya jadwal ke Laussane adalah kemarin, tapi karena aku kesiangan, akhirnya kuganti rute ke Geneva dulu kemarin dan baru ke Laussane hari ini.

Begitu sampai di pinggir danau ini aku langsung foto-foto mengabadikan keindahan alam Swiss. Aku perhatikan ada satu cowok bule sudah berumur, mungkin sekitar 60an lebih, seperti mengikuti ke mana arah aku pergi. Saat jam hampir menunjukkan pukul 12 siang, aku mencari kursi kosong, duduk dan mengeluarkan bekalku. Kebetulan semalam aku buat Indomie goreng dan menyisakan sebagian yang lalu kugoreng dengan telur tadi pagi. Aku duduk makan di situ, kulihat si cowok bule ada melewatiku, kupikir dia mungkin sedang mencari spot-spot foto karena dia sedang memegang kamera. Selesai makan aku melanjutkan jalan, dari google kulihat ada beberapa spot dan juga ada museum Olympic. Sepanjang jalan seperti biasa aku memfoto spot-spot yang menarik perhatianku yang menurutku indah kalau diabadikan dengan kamera, meskipun hanya kamera handphone tentunya.

Saat sedang berjalan dan memfoto, tiba-tiba si cowok bule tadi mengajak bicara, dia bilang sepertinya aku banyak melihat spot-spot foto bagus, dia sampai seperti mengikuti aku, memfoto spot-spot yang aku foto. Tidak seperti aku biasanya, entah kenapa perjalanan kali ini aku lebih memberanikan diri untuk berbicara dengan orang asing, termasuk si bule ini sehingga terjadilah percakapan di antara kami. Dia orang Swiss asal Zurich dan sedang berlibur ke Laussane. Dia lalu bertanya apakah aku akan ke museum, dan kujawab ya. Akhirnya kami berjalan bersama ke museum. Sepanjang perjalanan kami ngobrol macam-macam. Dia sempat bertanya apakah aku professor, kujawab bukan, aku seorang marketing yang mengurus export. Dan ternyata dia bekerja di perbankan. Kami mengobrol sampai tiba di museum dan kami sama-sama memutuskan tidak masuk, tapi hanya berjalan di taman sekeliling museum. Lalu kami beristirahat, duduk di sebuah kursi di taman. Di situ kami mengobrol banyak hal, agak aneh untuk aku bisa ngobtol panjang lebat ke orang asing, dan lebih aneh lagi aku merasa cara dia menatapku membuat aku agak merasa risih. Tatapannya seperti penuh dengan kekaguman seperti itu. Belakangan saat aku memikirkan hal ini, aku jadi teringat waktu aku kuliah dulu, ada seorang sahabat cowok yang memandangku persis seperti si bule ini, dan semua temanku bilang kalau sahabatku itu naksir aku. Dan bukan geer tapi aku bisa merasakan hal yang sama saat ini, saat si bule ini memandangku. Di tengah-tengah obrolan kami dia lalu memperkenalkan diri, namanya Martin, dan seketika aku merasa sangat aneh. Kenapa? Sedari kecil entah kenapa, bila aku sedang main rumah-rumahan atau sedang mengarang cerita, pasti nama cowok nya adalah Martin. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku suka aja, dan seperti mengidamkan punya pacar yang namanya Martin. Jadi begitu mendengar namanya, aku merasa aneh dan merasa ada hal luar biasa. Saat ngobrol dia ada bilang ini luar biasa, belum pernah dia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Sejujurnya mendengar pernyataan ini aku merasa sedikit heran, kupikir dia kan orang Swiss, harusnya merasakan dan melihat pemandangan indah ini bukan hal yang baru, tidak seperti aku yang tidak akan menemui ini di negaraku. Belakangan aku sempat berpikir, apakah perasaan yang dia maksud adalah terhadap suasana dimana kami mengobrol bersama?

Kami ngobrol cukup lama sampai waktu menunjukkan pukul 1 siang lebih dan kami memutuskan untuk kembali. Saat itu dia pikir kami sudah akan berpisah sehingga kami bersalaman dan saling berpelukan, oh ya untuk hal ini aku juga jadi mulai membiasakan, sejauh itu pelukan tanda persahabatan, it’s ok. Tapi Martin memang tinggi sekali, dia sampai harus membungkuk, dan waktu ngobrol dengannya sambil jalan, aku harus sedikit-sedikit mendongakkan kepalaku.

Kami naik MRT, aku akan kembali ke stasiun kereta karena akan meneruskan ke Vevey, sementara Martin akan turun satu stasiun setelah aku. Di dalam MRT sebenarnya aku sudah ingin sekali mengajak dia foto bersama sebagai kenang-kenangan, tapi otakku berpikir panjang, dari awal kulihat ada cincin di jari manisnya, jadi hampir dipastikan dia sudah berkeluarga, terlepas bagaimana situasinya, aku tidak ingin memperpanjang hal ini. Kalau aku mengajak foto, mungkin dia akan minta dikirim fotonya dan kami harus bertukar kontak? No no, aku tidak pernah berpikir akan hal itu. Jadi kuurungkan niatku untuk mengajak foto, biarkan bayangannya hanya ada dalam memoriku yang mungkin akan segera hilang

Saat berpisah kami kembali bersalaman, dan di situ terakhir kali aku melihat tatapan itu, tatapan yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Kami berpisah tanpa banyak kata.

Akhirnya tulisan yang panjang ini selesai juga. Semula aku berencana menuliskannya seperti biasa aku melakukan kontemplasi, tapi kupikir aku tidak ingin melewatkan setiap pengalaman yang tidak terlupakan ini, sehingga kuputuskan menuliskannya apa adanya. Tulisan ini kutilis dari masih ada di Aitport Zurich sampai di atas pesawat ke Istanbul dan sekarang di atas kapal cruise di Istanbul. Aku akan menuliskan semua apa yang aku rasakan di tulisan berikutnya.

Istanbul, 6 April 2025

pk 21.34 waktu Istanbul

~Jen~

Read Full Post »