Sudah lama tidak menulis, sebenarnya akhir-akhir ini jangankan menulis, bahkan untuk melakukan hal-hal yang menjadi hobby ku dulu saja sudah hampir tidak ada waktu. Segala kesibukan ini, kadangkala aku bertanya sebenarnya “untuk apa?’ , ‘mengapa?’, ‘sampai kapan?’ dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain yang kerap timbul disaat aku sedang sendiri, di saat aku sedang lelah dengan semua yang ada…
Kali ini kembali aku mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di negara baru lagi, Korea Selatan, yang memang belum pernah kukunjungi, dan ini karena urusan pekerjaan. Buat sebagian besar orang yang sering melihat aku pergi ke luar negeri dan dibayar oleh perusahaan, tampaknya membuat iri kan? Kadangkala memang yang terlihat di luar selalu indah dan menyenangkan. Tapi apakah selalu begitu adanya? Buat aku yang sebenarnya tidak terlalu suka traveling, tidak terlalu suka bertemu orang asing, ada tekanan tersendiri saat harus menjalani semua ini. Ya, di satu sisi aku akui ini sebuah kesempatan yang tentu saja baik, tentu aku bersyukur karenanya, aku bukan tidak tahu bersyukur. Tapi aku hanya ingin orang tahu bahwa masing-masing orang memiliki preference masing-masing. Apa yang mungkin kalian lihat sebagai sesuatu yang menyenangkan, belum tentu begitu adanya buat orang lain.
Again, aku tegaskan aku bukan tidak bersyukur, aku sangat beryukur bahkan. Banyak hal dalam hidup ini yang harus kita terima dan syukuri dibanding kita keluhkan. Bahkan di setiap ketidaknyamanan yang aku rasakan aku selalu belajar untuk melihat dari sisi positifnya, bersyukur atas semuanya. Karena aku percaya segala sesuatu pasti ada sebabnya, dan langit sudah mengatur segalanya agar aku bisa belajar, belajar untuk menjadi lebih baik, belajar untuk menurunkan ego-ku, belajar untuk lebih bersabar dan aku bisa melayakkan diri dan mendekatkan hati pada Yang Maha Kuasa.
Pagi ini aku seakan kembali diingatkan bahwa menerima dengan lapang dada, dan belajar menikmati segala ketidaknyamanan yang merupakan proses ini adalah apa yang seharusnya aku lakukan. Pagi menjelang siang ini aku berencana untuk brunch sekaligus menikmati suasana kota Seoul ini. Entah karena memang otak yang tidak sinkron atau karena memang hampir tidak pernah makan, saat membaca menu bacon omelette burger, yang terbayang di otakku adalah spam omelette, sehingga buatku masih okelah. Buat yang tidak tahu, aku hampir tidak pernah makan bacon, karena aku sedikit ‘geli’ melihat lapisan lemaknya. Ya, biarpun aku gemuk, aku tidak suka makan daging-dagingan, terlebih daging dengan lemak. Saat makanan disajikan, terlihatlah lapisan daging dan lemak diapit oleh omelette dan roti. Oh no, aku baru sadar, iya ini bacon bukan spam seperti apa yang ada dalam bayanganku. Biasanya aku pasti akan memberikan bacon ke orang lain atau kubuang tidak kumakan. Tapi hari ini tiba-tiba aku seperti diingatkan, bacon ini seperti halnya hal-hal tidak menyenangkan yang kuhadapi. Dia sudah tersaji di depanku, ya aku punya pilihan untuk menyingkirkannya, tapi bukankah itu seperti ‘lari’, menghindar dari apa yang aku tidak suka. Jadi hari ini, alih-alih menghindar, aku memaksakan diri untuk memakannya. Walau aku makan dengan cepat, tanpa mencoba merasakan bagaimana rasanya, ditambah untungnya aku membawa sambal sachet, akhirnya berhasil juga aku makan bacon itu.

Bacon ini buatku adalah sesuatu yang tidak kusuka, tapi jelas banyak orang yang suka. Mungkin buat kalian yang suka, kalian akan bilang aku bodoh. Tapi sama halnya buat kalian yang tidak suka sayur, tidak suka durian, pasti kalian juga tidak akan mau memakannya, atau kalaupun dipaksa akan merasa ‘tersiksa’ saat makan. Seperti itulah masing-masing orang dihadapi pada hal-hal yang disuka dan tidak disuka, yang tentunya berbeda-beda untuk satu sama lainnya.
Hari ini, karena peristiwa bacon ini, aku seperti diingatkan beberapa hal. Pertama, akulah yang memilih jalan ini, seperti aku yang memilih bacon tadi. Untuk jalan yang sudah kupilih, nyatanya ini tidak selalu menyenangkan, aku harus menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan. Kedua, untuk jalan yang sudah kupilih, aku harus menjalaninya walau itu tidak menyenangkan. Ya, aku harus belajar menikmati makan bacon ini walau terasa tidak menyenangkan untukku. Aku bisa memilih untuk tidak makan, tapj berarti aku menghindar, dan sampai kapanpun, hal sama akan terus aku hadapi, sampai aku bisa mengatasinya, dan bukan menghindarinya. Ketiga, segala ketidaknyamanan ini adalah proses untuk belajar menghilangkan ego ku, belajar menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan ‘mauku’. Bukan hal yang mudah, tapi bukan pula hal yang tidak mungkin, tinggal sebagaimana aku berusaha untuk bisa melakukannya.
Pada akhirnya, sekali lagi aku merasa sangat bersyukur, untuk semua pelajaran-pelajaran, bimbingan, dan segala hal yang aku dapatkan sejauh ini. Sungguh seringkali aku merasa tidak pantas untuk mendapat semua ini. Tapi aku akan belajar dan berusaha agar aku menjadi pantas untuk berada di jalan ini, menjadi pantas untuk dekat dengan-Mu. Semoga aku bisa terus belajar dan mendekatkan diri, dan pada akhirnya dapat menjalani ini semua untuk bisa kembali kepada-Mu.
Cheongdam-Seoul, 7 July 2024
-Jen-
01.08 pm waktu Seoul






