Feeds:
Posts
Comments

Pertemuan

Jakarta, 1 Mei 2008

Hari ini tanpa disengaja aku melihatmu lagi… ya kamu…

Aku tidak salah lihat itu pasti kamu…

Kamu yang masih seperti dalam bayanganku… yang masih tetap saja membuat jantungku berdebar….

Kuakui ada harap terselip dalam hatiku, sama seperti dulu saat ingin bertemu denganmu… dan benar aku melihatmu lagi, kali ini di tempat yang tak terduga…

Aku tak tau apa ini ilusi… Tidak!

Aku yakin ini bukan ilusi, ya itu kamu!

Aku tau itu kamu hanya dengan sekali melihatnya, ya itu kamu! Kamu yang selalu kurindukan yang sampai detik ini masih ada dalam hatiku….

Di dunia yang luas ini aku masih bisa bertemu denganmu di tempat yang sama…

Tapi belum cukup keberanianku untuk menyapamu, melihatmu sekali lagi dengan jelas…

Kau duduk di sana dengan senyummu yang masih sama seperti dulu…

ditemani lawan bicara dan segelas kopi….

Seharusnya aku memilih tempat yang sama denganmu tapi langkah teman-temanku membawaku menjauh darimu….

Ya Tuhan, sekali lagi aku ingin bertemu denganmu, berpapasan denganmu dan menyapamu….

Di tempat yang kecil ini, bila dibandingkan dengan luasnya dunia, kenapa begitu sulit untuk dapat bertemu denganmu sekali lagi?

Bertemu untuk meyakinkan perasaanku padamu…? Agar aku dapat meneruskan langkah hidupku?

Kesadaran

Berapa hari ini moodku sedang tidak baik. Dari masalah perlakuan tidak adil yang aku terima di kantor, atasan yang tidak bisa diajak bicara, teman yang berprasangka buruk hingga masalah keluarga yang membuat kepalaku terasa mau pecah.

Aku kecewa karena seorang teman telah menilaiku dengan rendah. Aku sama sekali tidak menyangka dia yang kuanggap orang baik bisa berprasangka buruk kepadaku. Aku tidak habis pikir, tapi rasanya susah sekali untuk mengingat kesalahan apa yang pernah kuperbuat sampai-sampai aku dituduh hanya mau berteman dengan orang yang membawa keuntungan. Oh my…. apakah aku seburuk dan serendah itu?

Aku sadar kadangkala orang hanya melihat sesuatu dari luarnya… dan aku sadar dari luar aku bagaikan benteng pertahanan yang kokoh dan tidak gentar menghadapi serangan….
Tapi aku yang paling tau isi hatiku….
Aku tak pernah mau orang tau isi hatiku, aku tak pernah ingin orang merasa kasihan kepadaku… aku ingin orang hanya mengenal aku yang ceria, kuat dan selalu tegar….
Aku kecewa… ya sangat kecewa….
Aku sedih… ya sangat sedih….
Tapi aku berusaha menerimanya dengan berbesar hati….

Aku paling tidak suka ketidakadilan apalagi aku yang jadi korbannya, tapi mau tak mau aku harus mengalaminya dan atasanku yang hanya bisa diam tak berkata-kata….
Aku kecewa… ya sangat kecewa….
Aku sedih… ya sangat sedih….
Tapi sekali lagi aku berusaha menerimanya dengan berbesar hati….

Aku punya impian, bisa berkumpul dalam satu keluarga yang lengkap dan bahagia dalam rumah yang kami miliki sendiri….
Tapi aku tau itu tak mungkin bisa terwujud…. karena ‘waktu’ yang kuminta tak pernah diberikan kepadaku…. dan aku harus menerima kenyataan bahwa waktu Papi untuk berkumpul bersama kami di dunia ini sudah habis….
Masih ada harapan dalam hatiku walaupun tanpa Papi, kami sekeluarga bisa berkumpul dan merasakan kebahagiaan, tapi ternyata hidup tak semudah apa yang diharapkan…. aku harus ‘kehilangan’ adikku….
Harusnya aku bahagia karena dia sudah memilih jalannya sendiri, jalan yang menurutnya terbaik untuk dirinya, dan mudah-mudahan memang begitu adanya…. tapi entah mengapa aku merasa gagal…. gagal mewujudkan impianku dan bahkan aku merasa gagal mewujudkan harapan Papi….
Aku kecewa… ya sangat kecewa….
Aku sedih… ya sangat sedih….
Tapi masih bisakah aku menerimanya dengan berbesar hati?

Semua permasalahan ini membuatku diam,
aku sudah lelah untuk membantah,
aku lelah untuk membela diri,
aku lelah untuk membujuk….

Sampai teguran itu menyadarkanku….
“Jen, memang benar apa yang sang Buddha katakan… hidup ini adalah penderitaan karena itu terimalah….”

Aku tau…aku tau dan sadar itu… tapi kemana aku selama ini?
Kalau boleh meminjam istilah… aku bersyukur Tuhan mengirim Malaikat untuk menyadarkanku….

Terima kasih…. terima kasih atas kesadaran yang datang padaku, yang menyadarkanku untuk menerima buah karmaku….
Kesadaran yang mengingatkanku untuk tetap berjuang….
Berjuang untuk ‘melepaskan’….
Semoga aku tidak lagi menyia-nyiakan waktuku….