Feeds:
Posts
Comments

Archive for January 13th, 2024

Do you believe in destiny? Selama ini aku selalu percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini, segala sesuatu terjadi karena ada alasan atau sebabnya.

Sekitar seminggu yang lalu, di pesawat yang membawaku kembali ke Indonesia, aku menyempatkan diri untuk menonton film sebagai pengisi waktu sekitar 6 jam penerbangan dari Taiwan ke Jakarta. Kali ini film yang aku pilih berjudul “Past Lives”.

Tidak ada alasan spesial waktu memilih film ini, tapi mungkin judulnya cukup menarik perhatianku. Aku tidak akan membahas mengenai isi film ini, tapi apa yang menjadi tema di film ini seperti menjadi pengingat bagiku.

Dalam film ini disampaikan mengenai “In-Yeon” yang merupakan bahasa Korea, karena kebetulan film ini bercerita tentang tokoh utama yang merupakan orang Korea. “In-Yeon” atau dalam bahasa Inggris nya “Destiny” atau “Ming Yun” dalam bahasa Mandarin, atau kita menyebutnya “Takdir” dalam bahasa Indonesia, merupakan kata yang mungkin sering kita dengar. Saya pernah membahas mengenai “Takdir” ini sebelumnya, dan buat saya akan lebih pas jika disebut sebagai “karma”. Orang-orang yang ditakdirkan saling bertemu di kehidupan ini, pastilah memiliki jalinan karma satu dengan yang lain. Begitupula dengan tempat kita berada, apakah itu tempat lahir, tempat kita dibesarkan, tempat kita tinggal saat ini, ataupun hanya sekedar tempat-tempat yang kita kunjungi.

Bagaimana takdir ini mempertemukan kita dengan orang di sekitar kita dan dengan tempat kita berada saat ini, pastilah semua ada sebabnya. Sebagai orang yang percaya akan banyak kehidupan dan kehidupan masa lalu, buatku hal ini mungkin tidak terlalu sulit untuk diterima dan dipahami. Banyak hal pula di dalam kehidupanku saat ini yang memperkuat keyakinanku atas hal ini. Mungkin hal ini pula yang membuat aku begitu ingin mengunjungi negara-negara yang bernuansa Buddhis seperti Laos salah satunya.

Sudah lama terpikir dalam benakku untuk bisa berkunjung ke Laos, dan kebetulan Laos pula menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang belum aku kunjungi. Setelah tiga tahun masa pandemi yang tidak memungkinkan untuk bepergian keluar negeri, maka akhirnya sekarang aku memberanikan diri untuk pergi ke negara ini seorang diri. Yah, seorang diri, tanpa ikut tour ataupun ada teman yang menemani.

Sebenarnya aku cukup sering bepergian sendiri, tapi untuk tempat yang belum pernah sama sekali aku kunjungi, biasanya akan ada yang menemaniku. Tapi kali ini aku benar-benar nekad untuk pergi seorang diri. Ini juga menjadi sebuah hadiah ulang tahun untuk diriku sendiri.

Di sini aku tidak akan bercerita bagaimana aku memulai perjalanan ke Laos, tetapi aku akan menuliskan bagaimana aku disadarkan bahwa kehidupan ini tidak terlepas dari yang namanya takdir.

Pertemuan yang pertama, setelah sampai di stasiun di Nong Khai, dari saat membeli tiket kereta hingga sampai di Stasiun Thanaleng di Laos, ada satu cowok bule yang kebetulan sepertinya juga akan melakukan perjalanan yang sama denganku. Saat membeli tiket dia kebetulan ada di depanku, begitu juga saat akan ke toilet sampai saat mengantri di imigrasi. Entah kenapa aku tidak ada minat untuk beramah tamah, senyumpun tidak. Dan hal yang sama juga aku rasakan dengan si bule ini. Kami sama-sama sendiri, tapi sama-sama juga saling cuek, walau berapa kali kedapatan melakukan hal yang sama. Sampai saat tiba di stasiun Thanaleng, dari yang aku baca di blog yang ditulis orang, harusnya akan banyak kendaraan van yang menawarkan transport sampai ke Vang Vieng, tapi sesampainya di sana tidak ada apa-apa. Walau begitu aku juga enggan untuk sekedar bertanya ke si bule, mungkin karena aku lihat dia tipe yang pendiam dan juga cowok, jadi lebih segan. Sampai setelah aku selesai membeli simcard dan mencoba untuk booking kereta ke Vang Vieng, si bule dan juga penumpang lain sudah meninggalkan stasiun.

Di tengah kebingungan aku mencoba ke depan, dan terjadilah pertemuan yang kedua, kali ini sepertinya gadis laos yang merupakan petugas di stasiun. Untungnya dia bisa berbahasa Inggris dan selamatlah aku, ditunjukkan bahwa untuk pesan taxi bisa menggunakan applikasi in driver. Pertemuan singkat, tapi gadis ini sudah menolongku, mungkin dulu aku pernah menolongnya, atau sama juga dulu aku ditolongnya? Entahlah, tapi aku berterima kasih, semoga di kehidupan selanjutnya aku bisa membalas kebaikannya.

Untungnya aku berhasil membeli tiket kereta cepat dari Vientiane menuju Vang Vieng di jam 11 siang hari yang sama. Saat naik ke kereta, kulihat sudah ada sepasang suami istri Korea setengah baya, dan si perempuan menempati kursiku. Saat itu ada petugas, dan setelah kutunjukkan tiketku yang ada di kursi bagian jendela maka berpindahlah si perempuan ke kursi jendela yang ada di sisi satunya. Setelah aku duduk, tak lama si suami bertanya dengan bahasa Inggris terbata-bata: “Change?” Aku sebenarnya mengerti maksudnya, dia meminta aku bertukar tempat dengan istrinya supaya mereka bisa duduk bersebelahan. Tapi saat itu ego menguasaiku, dan aku hanya menjawab, “I sit here.” Si suami tampak sedikit kesal. Lalu tidak sampai lima menit, aku berpikir, tempat duduk yang diajak tukar juga di bagian jendela, aku toh pergi sendiri, tidak perduli siapa yang ada di sebelahku, tapi buat mereka berdua, mungkin akan lebih nyaman menempuh perjalanan kereta selama hampir satu jam dengan duduk bersebelahan. Akhirnya aku menuruti kata hatiku, kukatakan pada si suami, sambil menunjuk tempat duduk istrinya dan tempat dudukku, “Want to change?” Akhirnya bertukar duduklah saya dengan si istri, dan mereka berdua mengucapkan terima kasih padaku. Inilah pertemuan ketiga, dimana aku hampir menjalin jodoh buruk dengan pasangan suami istri ini. Jika aku tidak bertukar tempat, mungkin dalam hati mereka menyimpan rasa tidak suka padaku, meskipun aku tidak salah, tapi siapa yang tahu di kehidupan selanjutnya, mereka membalasnya dengan lebih tidak menyenangkan, dan itu tidak aku harapkan.

Sampai di stasiun Vang Vieng, kembali aku bingung untuk transport ke hotel, terutama karena aku harus membeli tiket ke Luang Prabang dulu, maka saat aku selesai, stasiun sudah tampak sepi. Yang aku lihat hanya semacam tuk tuk, ada beberapa yang ngetem di sana.

Saat sedang melihat-lihat sekitar, mataku berpapasan dengan perempuan berumur dengan backpack besar di punggung, modelan emak-emak tapi entah kenapa aku merasa familiar dengan mukanya. Saat tatapan kami bertemu, secara otomatis aku tersenyum dan begitu pula dengan perempuan itu yang dilanjutkan dengan sapaan dalam bahasa Thailand. Memang dari sedari tiba, hampir semua orang yang bertemu aku selalu menyapa dalam bahasa Thai, mumgkin mukaku yang bunglon ini tampak “Thailand” bagi mereka. Lalu sapaan perempuan itu kubalas, “I’m not Thai, I’m Indonesian” dan si perempuan sedikit kaget lalu dia bicara bahasa Thai yang mungkin kalau diartikan dia pasti bilang dikiranya saya orang Thai. Si perempuan ternyata berdua dengan anak laki-laki sekitar 20an tahun yang sepertinya anaknya, si anak yang menjadi penerjemah bagi si ibu. Mereka terlihat ramah sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya bagaimana mereka akan keluar dari stasiun ini. Si anak membantuku menanyakan harga tuk tuk, lalu dia bertanya di mana hotel tempat aku tinggal. Setelah melihat peta, dia bilang, aku bisa ikut dengan mereka for free, karena si anak ada order taxi online dengan apps lokal sepertinya dengan harga murah 42000 kip. Singkat cerita, aku ikut bersama di mobil mereka, dan si anak bahkan bilang ke supirnya untuk mengantarku setelah menurunkan dia dan ibunya. Dia bilang aku cukup membayar 5000 kip saja ke si supir. Setelah sampai di hotel mereka, aku membayar separuh harga taxi ke si anak, awalnya dia bilang tidak perlu, tapi aku juga tidak mau berhutang, dan menurutku, aku sudah cukup terbantu dengan dia menawarkan untuk ikut bersama mereka. Setelah aku memaksa, akhirnya dia menerima, aku bilang tidak apa untuk share ongkos taxi nya. Maka sampai di sini pertemuan keempatku dengan si ibu dan anak Thai ini.

Setelah kejadian-kejadian ini, tentunya masih banyak lagi pertemuan lainnya, begitu pula di dalam hidup kita, baik itu yang hanya lewat dan tanpa interaksi seperti pertemuan pertama aku dengan si bule, atau bahkan yang sampai berlangsung lama. Setiap pertemuan adalah takdir, ada ‘waktu’, ‘tempat’ dan ‘keadaan yang memungkinkan itu terjadi. Di setiap pertemuan takdir ini, bagaimana kita bersikap, tindakan apa yang kita ambil, itulah yang akan menentukan takdir kita selanjutnya. Hal ini adalah seperti apa yang disampaikan di dalam film “Past Lives”.

View from the top of Tham Chang Cave, Vang Vieng

Perjalanan ini masih berlanjut, jalan kehidupanku, meskipun umur kembali berkurang setahun, tapi sejauh ini masih akan berlanjut. Siapa yang tahu masa depan? Tapi sebenarnya semua sudah ada takdir yang menentukan, tinggal bagaimana kita “menyambut” takdir ini dan menjalaninya. Dalam perjalanan ini aku diingatkan, bahwa seharusnyalah aku menjalin hubungan takdir yang baik. Sekalipun mungkin yang kuhadapi tidak menyenangkan, terimalah, karena itu adalah apa yang seharusnya aku terima. Jangan membalas dengan perbuatan yang bisa mendatangkan jalinan jodoh yang tidak baik. Jangan biarkan “ego” menjadikan jalan mu ke depan menjadi penuh rintangan. Hadapilah rintangan yang sudah terlanjur ada saat ini dengan lapang dada. Segala hutang harus dibayar lunas, maka kamu baru akan bisa kembali pulang…

Vang Vieng, 13 January 2024

~Jen~

11.48 waktu Laos

Read Full Post »