Hari ini hari terakhir aku berada di Laos. Sedari dua hari yang lalu aku sudah ada di Luang Prabang, sebuah kota yang dinobatkan sebagai salah satu World Heritage oleh UNESCO. Berada di kota ini seakan membangkitkan kenangan masa kecilku. Sudut kota, orang-orang dan aktivitas di sini membuatku seperti kembali ke masa lalu.
Sejujurnya aku masih tidak percaya akhirnya aku bisa mengunjungi tempat ini. Tetapi segala sesuatu memang tidak ada yang kebetulan. Perjalanan ke negara ini sebenarnya termasuk dalam perjalanan “pencarian” ku. Meskipun setelah tiba di sini, aku tidak mendapatkan “rasa” itu, tidak seperti ketika aku mengunjungi Sri Lanka ataupun Myanmar. Namun demikian, bisa berada di sini sudah menandakan aku memiliki jalinan jodoh dengan tenpat ini, apapun itu bentuknya.
Dalam hidup ini kita mungkin bertemu orang-orang yang hanya lewat begitu saja dalam hidup kita, dengan pertemuan yang relatif singkat, namun meninggalkan kenangan dan “pelajaran” mendalam buat kita. Encounter atau Pertemuan adalah sebuah takdir, begitupula bagaimana kita menjadi anak dari kedua orangtua kita, menjadi kakak atau adik dari saudara sekandung kita, menjadi suami atau istri dari pasangan kita, ataupun menjadi orangtua bagi anak-anak kita. Semua sudah ada jalinan jodohnya masing-masing.
Dalam one day tour kemarin, tour guide yang membawa kami menjelaskan bagaimana suku Hmong memilih pasangan mereka, dengan melemparkan bola sebanyak tiga kali ke calon pasangan. Bila satu kali saja tidak bisa ditangkap, maka artinya kedua orang ini tidak berjodoh. Awalnya tour guide kami tidak menjelaskan makna permainan ini, dia hanya memegang bola yang terbuat dari kain itu dan berkata padaku untuk menangkapnya. Dua kali aku berhasil menangkap, sebelum lemparan ketiga, dia mengatakan bahwa harus menangkap dengan satu tangan, maka gagal lah aku dalam menangkap bola pada lemparan ketiga, karena memang tidak semudah itu untuk menangkap dengan satu tangan.
Selama perjalanan tour, beberapa kali aku merasa tour guide ini cukup perhatian padaku. Ada satu kali dia menyampaikan padaku, saat pertama kali melihatku dia sempat berpikir aku orang Laos karena wajahku mirip dengan orang Laos. Lagi-lagi muka bunglon saya bahkan kali ini bisa dibilang orang Laos. Mungkin muka saya sangat typical Asia Tenggara? Entahlah.
Setelah kembali ke hotel, aku jadi sempat berpikir, kenapa si tour guide memilihku untuk permainan lempar bola tadi? Dan bagaimana perhatian dia kepadaku, mungkin dia merasakan sesuatu, perasaan pernah bertemu? Ya mungkin saja, karena pertemuan sekarang ada karena pertemuan sebelumnya. Perasaan-perasaan seperti ini yang juga sering aku alami saat bertemu dengan orang-orang baru. Perasaan dekat, perasaan hangat, perasaan tidak suka, dan banyak perasaan-perasaan lainnya.

Sebentar lagi aku akan naik ke pesawat yang akan membawaku ke Thailand. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali lagi ke tempat ini atau tidak. Tadi pagi aku berniat untuk melakukan pindapatta, tapi apa daya aku keluar agak siang sehingga melewatkan momen itu. Aku tidak menyesal, karena aku percaya segala pertemuan adalah takdir. Mungkin di lain kesempatan aku bisa melakukannya, atau bahkan sama sekali tidak ada kesempatan itu? Tidak ada yang tahu…
Encounter…
Saat kita bertemu, tolong tersenyum padaku, agar aku bisa mengenalimu…
Luang Prabang, 16 January 2024
-Jen~
09.31 waktu Laos
Leave a comment