Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Chit chat ala gue’ Category

Liburan

image

Morning from Gili Trawangan!
Kali ini gue lagi liburan di pulau kecil di sebelah timur Indonesia, yang masuk ke dalam propinsi Nusa Tenggara Barat. Gili Trawangan nama pulaunya, ditempuh dalam waktu paling lama juga 10 menit dengan speed boat dari pelabuhan Bangsal di Lombok. Entah kenapa kali ini tiba-tiba gue kepengen mencoba liburan ke Lombok, tentunya setelah dua kali gue ke daerah ini untuk urusan kerjaan dan gak sekalipun dari kunjungan itu gue sempet jalan-jalan.

Awalnya bermula dari beberapa bulan yang lalu saat tau ada hari kejepit n kemungkinan besar libur, isenglah gue searching tiket murah. Kepikir pengen ke Singapore, tp kok ya kayaknya bakal butuh duit banyak karena kurs yang udah menggila. Cari tiket ke Jogja karena sempet janji sama Om Bing salah satu kenalan di dunia maya, buat ngunjungin Jogja, tapi sama aja tiketnya kok rasanya masih mahal. Pilihan berikut pengen ke Bali, my second home, tapi taon ini gue udah ‘pulang’ ke sana di bulan Maret, n tiketnya juga kagak ada yang murah. Akhirnya tiba2 kepikirlah Lombok, dan ternyata gue bisa dapet tiket yang menurut gue cukup murah untuk masa liburan. Segeralah gue tanya sepupu gue yang emang gila travelling, karena gue tau dia belom pernah ke Lombok.

Singkat cerita di sinilah sekarang kami berdua. Kalau liburan yang gue cari bukan adventure ngunjungin tempat-tempat barunya, tapi liburan buat gue lebih ke mencari tempat baru, suasana baru dan yang pasti tempat yang menenangkan jiwa gue yang gak bisa diem ini. Hahaha, makanya sepupu gue selalu bilang, kalau pergi sama gue gak mungkin irit, karena sudah pasti gue akan memilih hotel yang walaupun bukan hotel bintang lima, tapi setidaknya hotel yang masih cukup nyaman dan layak buat gue tinggal, n bukan hostel ataupun sejenisnya yang biasa dipilih oleh sepupu gue.

image

Ya emang beginilah gue, pada dasarnya emang gue bukan petualang, gue cuma mencari tempat ‘escape’ dari rutinitas gue aja n try to find serenity in that place. So this place is not bad, but for me still Bali is my second home.

Gue udah musti check out, karena setelah dua malam di pulau ini, hari ini gue akan kembali ke Lombok n masih ada 1 malam di sana untuk keliling cari oleh-oleh, hihihi…

So see you on my next ‘liburan’…

Gili Trawangan, 27 December 2014
~Jen~
08.00 am waktu Indonesia tengah.

Read Full Post »

image

Satu lagi karma baik gue bisa menginjakkan kaki di sebuah negara baru yang kebetulan (lagi) merupakan negara Buddhis, Kingdom of Cambodia alias Negara Kamboja. Entah kadang gue suka gak habis pikir, mimpipun mungkin gue dulu gak pernah, bagaimana mungkin gue sekarang bisa melanglang buana seperti ini dan gratis alias karena gue kerja jadi dibayarin oleh kantor.

Gue selalu bilang gak ada yang namanya kebetulan, yah emang gak ada yang namanya kebetulan ya. Di dunia ini segala sesuatu sudah bekerja sebagaimana mestinya sesuai ‘hukum alam’. Kalau gue sekarang bisa ke negara ini pastilah ada ikatan karma antara gue dengan tempat ini. Entah kenapa gue merasa tidak terlalu asing dengan tempat ini. Suasananya seperti membawa gue ke masa-masa kecil gue saat dulu hidup di daerah. Yang paling mengherankan adalah begitu banyak hiasan ular berkepala banyak seperti raja ular yang memayungi Buddha saat bertapa dan diterpa badai. Gue pernah ‘melihat’ ular ini. Waktu itu sekelebat muncul dalam bayangan gue. Sebenarnya sampai sekarang gue masih belum bisa mengerti maksud dari ‘penglihatan’ ini. Sekarang saat gue melihat begitu banyak patung ular tersebut di sini, apakah itu tandanya suatu hari gue akan datang ke negara di mana banyak terdapat patung ular ini? Entahlah sampai sekarang gue masih belum bisa memahaminya.

Hari ini hari terakhir gue di negara ini, banyak hal terjadi selama lebih dari tiga minggu perjalanan gue hidup di negara orang. Mulai dari tanggal 18 Agustus lalu saat gue berangkat ke Vietnam dan lalu disambung ke Kamboja 5 hari yang lalu. Kalau mau ditulis isi otak gue sebenernya udah penuh dengan pemikiran-pemikiran. Tapi seringkali rasa lelah mengalahkan segalanya dan akhirnya semua hanya tetap berada di otak gue.

Kadang gue ngerasa lelah dengan semua ini. Pekerjaan yang menyita sebagian besar waktu gue, pemikiran yang memenuhi otak gue dan yang lebih melelahkan dari semua itu adalah perasaan yang begitu menyesakkan di dada ini. Perasaan apa ini? Entahlah sungguh sulit untuk diungkapkan ataupun dilukiskan. Kadangkala perasaan ini membuat gue menitikkan air mata, karena seringkali sesaknya membuat gue sulit untuk bernafas.

Duh kenapa tulisan ini jadi begini ya? Gue gak tau, gue cuma pengen menumpahkan segala perasaan gue. Perasaan yang mungkin tidak akan pernah tersampaikan, atau mungkin juga sebenarnya rasa ini sudah lama kau rasakan, karena kita sama-sama memiliki rasa yang sama tapi kita pun tahu kalau rasa itu tak seharusnya ada.
Semua jadi terasa makin kompleks. Gue ada membaca satu quote yang gue rasa itu cocok banget sama kondisi gue. Kurang lebih isinya seperti ini: “satu masa dalam hidup loe, berapapun usia loe saat itu, loe akan menemukan seseorang yang bisa menyalakan api dalam jiwa loe, orang yang membuat loe merasa ‘hidup’, namun sayangnya pada kenyataannya orang ini bukanlah orang yang akan bersama dengan loe menghabiskan sisa hidup loe”. Rasanya sedih banget ya bacanya, yah apalagi kalau loe yang mengalaminya dan itu yang terjadi dengan gue saat ini.

Jika bisa mengatasi ini gue yakin satu ujian akan gue lewati. Gue yakin gue bisa ‘melawan’ apa yang sudah digariskan ini. ‘Melawan’ dalam arti mengatasinya dengan akhir yang bahagia buat semuanya.

‘Tuhan’ aku sudah pernah meminta padamu sekali dan ‘Engkau’ sudah mengabulkannya, menurutku. Kalau nyatanya ini belum berakhir, kumohon bantulah aku sekali lagi untuk mengakhirinya dengan bahagia.

Phnom Penh, 11 September 2014
~Jen~
01.00 pm
Di tengah rasa gundah yang melanda…

Read Full Post »

Pernah gak sih loe bayangin kalau loe itu bakal pergi ke negara-negara di mana menurut orang yang mungkin punya kemampuan khusus, loe itu pernah hidup dan tinggal di negara itu? Gue dah dua kali mengalami hal ini. Eits tentu saja karena gue adalah seorang Buddhist n di ajaran yang gue anut percaya adanya kelahiran kembali, maka gue bisa bilang begini. Buat loe pada yang gak percaya ya anggap saja tulisan gue ini sebuah cerita fiksi penghilang rasa bosan 😛

Ok kembali ke pengalaman gue ya, yang pertama gue dibilang pernah lahir sebagai perempuan India penjual kain sari. Hohoho… India…gak kebayang gue pernah jadi orang India. Tapi cerita ini juga lucu, awalnya gue bisa tau ini karena ada satu acara dimana gue ketemu dengan salah satu anak indigo beserta keluarganya. Waktu itu adalah pertama kalinya gue ketemu mereka. Anehnya saat pertama melihat mama si anak, gue seperti merasa kenal, sampai gue berusaha mengingat-ingat siapa ya ini orang? Di mana ya gue ketemu dia? Dan lebih aneh lagi, ternyata perempuan itu merasakan hal yang sama dengan gue! Dia bahkan sampai bertanya ke gue, apakah gue tinggal di sebuah tempat yang mungkin dekat dengan rumahnya? Gue jawab nggak, bahkan gue mungkin baru pertama kali itu ketemu dia. Singkat cerita ternyata kemudian si anak menyampaikan bahwa gue dan mamanya dulu ternyata berteman baik, kami waktu itu sama-sama lahir di India, dan gue saat itu terlahir sebagai seorang perempuan India penjual kain sari! Wah rasanya lucu ya kalau kita tahu seperti itu, dan gue jadi mikir oh ternyata karena itu mungkin ya pertama kali gue kerja dengan orang India dan di perusahaan garmen! Gak jauh-jauh dari kain ya? Hahaha…

Lalu cerita gak berhenti di sini, taon lalu karma baik gue berbuah, gue punya kesempatan untuk pergi ke India! Ke tempat-tempat bersejarah dalam ajaran Buddha. Gue seneng karena bisa ‘pulang’ ke kampung halaman gue hehehe… Dan ada satu cerita saat gue di sana. Selain untuk ziarah, kelompok tour gue sempat mengunjungi salah satu tempat kerajinan kain sari yang katanya dulu adalah pembuat kain untuk para raja. Saat itu gue dan beberapa orang sedang asik mengamati seorang bapak tua dengan badan yang hitam legam dan kurus kering dan hanya berkaus singlet putih, sedang membuat sulaman kain sari. Entah bagaimana tiba-tiba si bapak tua ini berhenti bekerja dan berbalik ke arah gue, melambaikan tangan meminta lengan gue dan memasangkan tali ungu dengan benang emas ke pergelangan tangan gue. Saat itu gue sedikit bingung, setelah selesai memasangkan gue tali sebagai gelang, gue memberi si bapak tua ini sedikit uang sebagai imbalan. Entah kenapa setelah itu perasaan gue gak karuan, ada perasaan haru yang gue rasakan. Antara rasa sedih, bahagia, rindu dan sayang, semua bercampur jadi satu. Sesaat gue jadi teringat perkataan tentang kehidupan gue sebagai perempuan India penjual kain sari. Mungkin saja bapak tua ini adalah cicit buyut keturunan gue? Entahlah… Dari sekian banyak orang yang ada di sana kenapa dia memilih gue yang pertama untuk diberikan gelang itu? Dan sorot matanya yang seakan bicara meski mulutnya tak mengeluarkan sepatah katapun tapi ada rasa yang tersampaikan dari dirinya ke gue. Gue sedikit menitikkan air mata saat itu. Siapapun dia, gue selalu percaya tidak ada kebetulan di dunia ini. Bisa bertemu berarti ‘berjodoh’, ada ikatan di antara kami dan benang ungu berlapis emas yang dia sematkan di pergelangan tangan gue seakan menguatkan itu.

image

Dan sekarang cerita berikutnya. Lagi-lagi karma baik gue berbuah, gue punya kesempatan ‘pulang’ lagi, kali ini ke Myanmar, The Golden Land, negara di mana katanya dulu gue pernah hidup sebagai seorang Bhiksuni. Ya gue adalah seorang biarawati Buddhist, begitu katanya, dan gue percaya itu, karena apa? Karena ikatan gue terhadap ajaran ini sangat kuat, kalau gue tidak pernah menjadi seorang Bhiksuni, mungkin gue saat ini belum tentu bisa memiliki karma baik sehingga bisa mengenal ajaran Buddha, dan gue sangat bersyukur karenanya. Menginjakkan kaki di negara ini rasanya tidak pernah mimpi sebelumnya, tapi gue percaya semua ini sudah diatur oleh ‘yang maha pengatur’.

Tidak ada perasaan apapun saat tiba di negara ini, rasanya biasa saja walau mungkin secara suasana kota sangat tidak asing karena sedikit mirip dengan Indonesia tanah kelahiran gue sekarang. Semua biasa sampai satu kali saat makan siang di sebuah restoran yang menghidangkan makanan khas Myanmar, setelah makan dikeluarkanlah 3 toples kecil, yang 2 berisi seperti kacang dan yang satu makanan pencuci mulut di dalam toples tersebut sedikit mirip kacang chesnut. Dari ketiga toples gue paling tertarik dengan si kacang chesnut, maka gue membuka toples itu. Karena sebenarnya sedikit gak yakin dengan isinya, maka yang pertama gue lakuin adalah mencium bau makanan yang ada di dalam toples itu. Hei ternyata aromanya seperti gula jawa! Gula jawa alias gula aren yang sangat gue suka. Tanpa pikir panjang gue ambil sepotong dan memasukkannya ke dalam mulut. Benar saja ini gula jawa! Hahaha gue girang banget, kenapa? Gue suka banget makanin gula jawa! Dari kecil kebiasaan gue adalah mengambil potongan gula jawa dari dapur dan memakannya begitu saja. Dulu gue dan juga orang di sekitar gue pikir kebiasaan gue makan gula jawa ini karena gue suka permen jadi gue juga suka makan gula jawa. Tapi ternyata sekarang ada alasan lain, rupanya gula aren yang ada di toples itu adalah kebiasaan orang Myanmar yang menyajikannya sebagai makanan penutup mulut atau camilan, dan kebiasaan gue suka makan gula jawa alias gula aren mungkin karena gue pernah lahir sebagai orang Myanmar! Dan gue akhirnya beli tuh gula aren made in Myanmar di supermarket!

image

Hahaha…lucu ya? Ya…kalau mau dihubung-hubungkan sih semua bisa aja, sekarang balik lagi ke pribadi masing-masing. Tapi buat gue semua semakin jelas terlihat. Semua tanya gue satu persatu mulai terjawab. Mungkin semua masih jauh, terlalu jauh bahkan. Tapi gue tau gue terus melangkah maju. Sekalipun banyak hal yang mungkin tampaknya tidak sesuai dengan harapan gue, tapi itu tadi gue selalu percaya kepada ‘yang mengatur’, ‘karma’ gue yang mengatur segalanya, yang membawa gue sejauh ini, bahkan sampai ke negara ini, tempat yang gue tau pastinya sangat berarti buat gue.

Dan tulisan ini akan gue akhiri dengan satu pesan buat seseorang yang saat ini gue tau sangat membutuhkannya. Percayalah kadangkala semua hal tampaknya berjalan tidak seperti yang kita rencanakan, kita harapkan dan kita pintakan dari Tuhan. Tapi ‘Tuhan’ gak pernah tidur, dia akan selalu menuntun kita ke tempat dan situasi yang sesuai untuk kita, bukan ke tempat atau situasi yang kita inginkan. Karena yang kita inginkan kadangkala hanyalah yang baik menurut kita, bukan yang memang sesungguhnya baik untuk kita. Apapun situasi yang kita hadapi, tetaplah menjaga hati agar senantiasa lapang dan bersih. Karena hati loe adalah tempat di mana Tuhan berada…

Yangon – Myanmar, 13 Juni 2014
~Jen~
11.00 pm waktu Myanmar

Read Full Post »

IMG_20140615_084201

Oke kali ini dari Philippine, untuk kedua kalinya gue punya kesempatan ke negara ini. Mungkin memang segala sesuatu itu saling berkaitan, bahkan berkaitan tidak hanya di saat ini bahkan di masa lalu dan kehidupan lalu. Tentunya ini berlaku untuk yang mempercayai bahwa kehidupan ini tidak hanya satu kali.

Bicara soal Philippine, mungkin dulu gue pernah lahir di negara ini? Entahlah, yang pasti pertama kerja ketemu atasan orang Philippine asli dan sekitar 9 tahun lalu gue punya kesempatan dateng ke negara ini. Dan sekarang kembali gue punya kesempatan ke sini. Buat gue negara ini mungkin gak terlalu jauh beda dengan negara gue, Indonesia. Tapi untuk makanan mungkin gue kurang cocok karena terlalu banyak makanan berdaging di sini, sementara gue gak terlalu suka namanya daging. Untuk lalu lintas walaupun macet tapi sepertinya lebih baik daripada Indo karena jumlah motornya gak terlalu banyak. Gak kayak Vietnam yang bikin gue stress karena lalu lintasnya. Tapi untuk makanan gue lebih suka dengan makanan di Vietnam.

Sebenernya gue pengen nulis satu topik semalem tapi karena terlalu capek seharian jalan, ditambah cuaca yang lagi panas banget di sini. Akhirnya gue pules tidur dan gak jadi nulis 😀

Sekarang sambil ngantuk-ngantuk nunggu orang sales lagi bicara soal report ke distributor di sini, otak gue tiba-tiba kagak bisa diem dan jadilah tulisan ini.

Ok kayaknya ini dulu hello from Philippine, dari sebuah kota bernama Mexico di daerah Pampanga, berjarak hampir 2jam perjalanan dari Manila.
Ketemu lagi nanti di Jakarta dan baru gue akan nulis soal topik yang mulai menggelitik hati gue, hihihi… Tambah penasaran kan? 😛
Just wait for my next posting!

Mexico-Pampanga, Philippine, 22 May 2014
~Jen~
04.05 pm (waktu Philippine tentu saja)

Read Full Post »

IMG_20140514_130617

Yak, sambil nunggu waktu boarding dan untuk memenuhi cita-cita menulis sambil keliling dunia, maka tulisan ini gue tulis. Hahaha kesannya maksa ya. Hmmm benernya pengen nulis semalam tapi apa daya capek banget n masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. Dan bener aja barusan gw dapet bbm dari boss kalau senin harus terbang lagi ke Philippine.

Ya sekarang mungkin kerjaan gue adalah terbang sana sini karena gw urus export. Kalau mau lihat ke belakang rasanya mimpi pun mungkin gw gak berani membayangkan gw bakal kerja keliling dunia hahaha…

Tapi memang Tuhan seringkali memiliki rencana lain untuk kita. Dan kadangkala kesulitan dan kesedihan kita hanyalah sebuah pelajaran agar kita dapat lebih siap menghadapi masa depan yang menanti kita.

Gak bisa panjang-panjang karena dah mau boarding. Sekarang gw cuma berusaha menjalankan yang terbaik yang bisa gue jalanin dan selalu bersyukur atas apa yg gw dapatkan dalam hidup ini.

Saigon, 14 Mei 2014
Jen
13.43

Read Full Post »

Hallo… Ketemu lagi dalam sesi chit chat ala gue kali ini dari Ubud Bali, the island of God. Udah sejak taon 2010, tiap taon gue pasti “pulang” ke Bali. Lucu ya seolah Bali itu kampung halaman gue, padahal kampung halaman gue itu Lampung dan sejak nenek gue meninggal, gue udah jarang pulang ke sana. Taon ini tanpa sengaja gue kembali “pulang” ke Bali dan kebetulan waktu yang gue pilih bertepatan dengan event “Ubud Writers and Readers Festival”. Gue suka nulis, gue sempet punya cita-cita untuk keliling dunia sambil menulis dan sekarang gue lagi coba mulai, nulis blog dari Bali hahaha…

Ok balik ke rencana ke Bali, sebenernya gue pengen nyepi di sini, terbebas sejenak dari kepenatan kota metropolitan Jakarta, terbebas dari rutinitas gue sebagai karyawan yang harus pergi pagi pulang malam karena macetnya Jakarta, sejenak melupakan semua masalah yang ada di pekerjaan gue. So gue ke Bali, sendiri, tapi entahlah memang nasib gue atau ini cara “Tuhan” menunjukkan ke gue, bahwa “Dia” tak pernah “membiarkan” gue sendiri, tiba-tiba aja sepupu gue yang dari Lampung pengen jalan ke Bali. Alhasil, kembali kali ini gue gak berhasil “menyendiri” hihihi…

Karena bertepatan dengan event UWRF2013, gue iseng coba ikut salah satu workshop menulis. Kebetulan juga di event itu ada acara special ‘jalan jalan’ yang dibawakan oleh penulis dari Australia kenalan sahabat gue, so gue iseng dan kembali membeli tiketnya. Harga tiketnya lebih mahal dari workshop, 350ribu rupiah, tapi karena gue beli online dari website, harga pakai dollar kena kurs alhasil jadi sekitar 450rb! Ya sudahlah demi event yang mungkin jarang-jarang gue ikutin.

20131014-100659 AM.jpg

Workshop sudah berjalan kemarin, ya cukup menarik walaupun pesertanya mayoritas dari luar dan dengan kemampuan kosa kata Inggris gue yang masih standard, agak sulit buat menulis panjang lebar, mungkin kalau itu bahasa Indonesia akan lain cerita, gue udh nyerocos panjang lebar kayak sekarang, hihihi… Tapi overall it’s interesting… Hehehe sok inggris neh… :p
Dan pagi ini jam 8 seharusnya acara event “Jalan Jalan”, gue udah mikir seh kayaknya event ini bakal jalan bukan diem di tempat, walaupun disebutkan acara di salah satu resto di Ubud. Dan… Entah mengapa, karena sudah capek seharian kemaren, kurang tidur juga, pagi-pagi walau alarm sudah bunyi, rasanya males banget untuk bangun. Gue dan sepupu gue masih enak meringkuk di balik selimut. Dan entah kenapa pula rasanya hati ini agak berat untuk pergi cepat-cepat, gue malah nyantai-nyantai sarapan dulu di hotel, jam 8 lewat baru jalan ke lokasi, dan jalan itu cukup jauh, makan waktu 20menit. Waktu tiba di tempat dengan napas yang udah pas-pasan dan badan penuh keringat, ternyata kata penjaga restonya acara sudah mulai, mereka sudah jalan dari jam setengah 8 pagi!

Ok, gue ketinggalan! Dan 450rb gue melayang begitu aja! Tapi apa yang gue rasa saat itu? Ya sudahlah, namanya udah ketinggalan mau gimana lagi. Di dunia ini ada yang namanya “jodoh” kalau pakai istilah agama gue ya “buah karma”, karena gue males-malesan ya udah gue ketinggalan dan resikonya gue kehilangan 450rb sia-sia. Jadi siapa yang harus disalahkan? Gak perlu susah-susah jawabannya ya sudah pasti GUE! Hihihi… Wah kok gue jadi kayak orang pasrah gini ya? Nggak, ini bukan pasrah, tapi gue cuma mengikuti kata hati.

Dan seperti yang selalu gue yakini, ada yang namanya hukum sebab akibat, jadi tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Karena batal acara, untuk beristirahat meluruskan kaki gue yang udah pegel karena jalan jauh, dan seperti sebuah kebetulan (lagi) gue liat ada starbuck, oke akhirnya gue memutuskan untuk mampir dan istirahat sejenak, menikmati kopi dan berpikir untuk menulis. Gak lama handphone gue bunyi, hmmm orang pabrik, gak lama lagi bunyi lagi, orang pabrik lagi, lalu sekali lagi, orang pabrik lagi, alamak, ternyata pabrik nggak jadi libur, dan kalau pabrik nggak libur, artinya gue juga kagak libur zzzz…
So… Gak ada yang kebetulan kan? Kalau gue ikut event gue gak bakal bisa angkat telpon, padahal telpon nya penting. Kalau gue angkat telpon, gue bakal gak konsen ikut event… Jadi alam sudah mengatur ini semua hihihi… Dari gue telat bangun lalu gue yang males-malesan untuk berangkat, ternyata ada maksudnya… Hehehe…

Kalau melihat cerita gue, gue yakin sebagian besar reaksi kalian akan bilang, “ah itu mah loe nya aja, bego aja orang lagi cuti mau angkat telpon, bego aja dah beli tiket males-malesan dateng.” Ya ya itu reaksi yang wajar, dan gue bilang dengan terus terang juga, kalau gue yang dulu juga mungkin akan berpikir begitu, lebih ekstrim malah seharian gue akan menyesali karena udah batal ikut event. Tapi tidak gue yang sekarang. Gue bukan tidak menyesali gagal ikut event, sayang uang yang sudah gue keluarkan, tapi gue saat ini jauh lebih sayang sama diri gue. Orang bijak selalu mengatakan hiduplah saat ini, jadi segala penyesalan itu sudah gue tinggalkan, dan dengan seperti itu gue merasa hidup ini lebih ringan, tidak ada yang membebani diri gue, hati gue juga jadi belajar untuk menerima dengan lapang. Ini bukan hal yang mudah untuk diterima, gue tau, gue pun bisa seperti saat ini setelah melalui perjalanan yang panjang, dan ini pun gue masih merasa belum benar-benar sempurna. Gue sedang dalam proses, gue tau itu, dan gue gak jalan di tempat.

Kembali ke judul tulisan ini ‘Tidak Ada Kebetulan’, ya tidak ada kebetulan di dunia ini, segala masalah, segala kegembiraan dan kesedihan yang gue alami semua tidak ada yang kebetulan. Bagaimana reaksi gue terhadap itu semua adalah yang utama. Sedikit demi sedikit gue mulai mengerti apa yang disebut dengan “upekkha”, “keseimbangan batin” dan gue bisa memahami makna kalimat “good, bad, who knows?”. Semua adalah pelajaran yang gue terima dari “alam” dalam menempuh perjalanan ini. Dan gue tau itu semua menuntun gue untuk sampai ke tujuan…

Ubud – Bali, 14 Oktober 2013
~Jen~
10.54 WITA

20131014-105525 AM.jpg

Read Full Post »

20130907-083824 PM.jpg

Malam ini kembali duduk sendiri ditemani segelas es kopi favorite di gerai kopi favorite di sebuah kota di luar Jakarta yang bernama Cikarang. Tak terasa sudah lebih dari 6 bulan aku tinggal di kota ini, di kost yang sangat nyaman menurutku dan di lingkungan yang entah kenapa sangat aku suka. Aku memang bukan orang yang cerewet dalam hal tempat tinggal, tapi ada daerah yang benar-benar membuatku tidak nyaman dan enggan untuk tinggal lama-lama di sana. Tetapi tidak demikian dengan kota ini. Secara tidak sengaja sebelum tinggal di kota ini, ada beberapa kali aku mampir di sini, di kompleks perumahan ini, bahkan pernah sekali aku bermalam di hotel yang ada di sini karena pulang terlalu larut dan karena hujan turun dengan deras yang menyebabkan macet dan banjir di Jakarta, sehingga aku memilih untuk tidak balik ke Jakarta.

Mungkin memang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, karena ternyata setelah itu aku harus tinggal di tempat ini. Lucunya langsung dapat tempat kost yang dulu merupakan tempat kost sepupuku. Sekali melihat langsung merasa betah dan akhirnya memutuskan untuk kost di sana. Selama tinggal di kota ini, di kompleks ini, tidak pernah sekalipun aku merasa tidak nyaman, aku sangat suka tinggal di tempat ini, dengan suasananya, sekalipun di sini hanya ada satu mall dengan toko-toko yang terbatas, dan satu tempat sejenis mall dimana banyak tempat makan dan yang terpenting ada gerai kopi favorite ku tempat aku bisa menghabiskan waktu luangku. Tidak hanya itu, menurutku tempat ini cukup lengkap, karena ada juga karaoke keluarga serta timezone, dimana aku bisa melampiaskan rasa penatku karena pekerjaan di kantor.

Dan sekarang aku tinggal menghitung hari untuk angkat kaki dari tempat ini. Ada sedikit rasa berat hati, entahlah karena aku memang lebih suka sendiri, aku hanya merasa tempat ini sangat cocok untukku dengan hobbiku itu. Hobbi yang tak lazim ya, hehehe. Tapi begitulah aku, daripada berkumpul dengan banyak teman, saudara ataupun keluarga, jika boleh memilih aku lebih suka berdiam sendiri. Karena saat sendiri aku menemukan ketenangan, saat sendiri aku merasa begitu nyaman… Tapi ini akan berakhir sebentar lagi…

Bisa kembali ke kantor di Jakarta tentu menyenangkan, karena aku tidak lagi harus dipusingkan dengan banyaknya kerjaan yang harus aku urus di dua pabrik sekaligus, walaupun tetap sepertinya pekerjaanku juga tidak berkurang, hanya saja mungkin kepusingan itu tidak secara langsung tertuju kepadaku. Kalau boleh jujur, sekalipun melelahkan, tetapi dengan menghandle pekerjaan ini banyak hal yang aku dapat, mulai dari belajar menjadi seorang pemimpin, yang pastinya tidak mudah, belajar menghadapi sekian banyak orang dengan berbagai latar belakang dan karakter yang harus menjadi bawahanku langsung, sampai belajar untuk mau mengerjakan hal-hal kecil yang mungkin seharusnya bukan pada level aku yang harus mengerjakannya. Tapi semua itu adalah sebuah pengalaman berharga buatku, bahkan sesungguhnya aku merasa sedikit berat untuk melepaskan itu sekarang. Bukan, bukan karena pangkat atau kedudukan, tapi lebih karena kebersamaan yang sudah terjalin selama ini dengan mereka yang menjadi bawahanku.

Tapi hidup terus berjalan, ada saatnya kita harus melepaskan, meninggalkan hari kemarin yang sudah berlalu, dan mempersiapkan diri kita saat ini untuk menyongsong hari esok. Dan aku pun harus mengucapkan selamat tinggal pada kota ini, kompleks perumahan ini, tempat kostku, mba di kost, barista gerai kopi favorite ku yang sampai sudah hafal pesananku karena tiap kali datang selalu menu itu yang aku pesan. Selamat tinggal semuanya, terima kasih untuk 6 bulan yang menyenangkan di sini, terima kasih sudah begitu bersahabat denganku. Aku akan merindukan tempat ini, sungguh… Bodoh! Menulis seperti ini saja membuat aku menitikkan airmata, siapa yang tau aku ini begitu cengeng, karena aku sangat galak kalau di kantor, hehehe… Kita memang tidak pernah bisa menilai penampilan luar orang. Seringkali malaikat ada di dekatmu, tidak dalam wujud yang kau bayangkan, tanpa sayap, tidak cantik jelita maupun rupawan. Jauh dari kesan anggun dan menawan, mungkin dia tampak begitu tak sempurna, tapi dia ada di dekatmu, selalu bersamamu, menolongmu dan mensupportmu, dengan caranya sendiri, yang mungkin kadang bagimu sangat jauh dari kelakuan malaikat seharusnya. Tapi dialah malaikat sejatimu…

“Goodbye Cikarang, I’m gonna miss you… Thank you for being nice to me for the last six months…”

Cikarang, 7 September 2013
~Jen~
09:25 pm

Read Full Post »

Hi hi… (Baca: hai hai…) Ketemu lagi di sesi chit chat ala gue… Masih dari Starbuck Lippo Cikarang, kali ini bukan dalam rangka terjebak kemacetan, tapi gue bener-bener udah terjebak sampe harus tinggal di daerah ini… Zzzz… Ternyata ya, sebelum ke sini Tuhan udah kasih gue uji coba dulu, neh rasain deh tempat ini, oke gak? Ntar loe bakal tinggal di sini untuk sementara waktu…mungkin gitu kata Tuhan ke gue, dalam bahasa gue tentunya hihihi…

Udah lama gak nulis, sejak gue musti kost di daerah ini, dan nyemplung di pabrik, dan tetep aja nggak ada perubahan jam kerja, tetep aja gue pulangnya malem karena seharian sibuk urus ini itu plus meeting ini itu, masih pula harus kerjain administrasi ini itu, kerjaan ini itu yang nggak jelas, kadang urusan sapa, gue juga yang digeret-geret, heran pada kuat ya geret-geret gue, padahal gue berbobot gini, hihihi… Banyak hal yang mo gue tulis karena banyak hal yang terjadi di sekeliling gue yang membuat gue pengen nulis, tapi balik lage, 24 jam sehari itu kurang buat seorang Jennifer, padahal gue udah tidur cuma 4-5 jam aja sehari, gimana kalo gue tukang tidur ya? Lebih kurang lagi neh waktu.

Kembali ke topik, loh emang dari tadi gue dah buka topik? Perasaan dari tadi gue masih ngoceh ngalor ngidul gak jelas gini, hahaha… Baiklah kembali ke ipad, hahaha… Karena gw nulis di ipad so bukan kembali ke laptop ye… Topik kita malem ini, yang pengen banget gue tulis itu soal “bekerja dengan hati”. Kenapa gue pengen nulis soal ini? Banyak hal belakangan ini yang bikin gue berkali-kali harus bilang kalo orang tuh kalo kerja musti pake hati. Terakhir kejadian gue sama salah satu customer service jasa pengiriman paket yang udah terkenal dari dulu. Gak usah sebut merek lah tapi kalo ditanya yang 3 huruf ato 4 huruf? Gue jawab 4 huruf. Hahaha… Jadi ceritanya kiriman paket gue ke Medan gak sampe-sampe, padahal paket ini sampel, mana dikirimnya ke customer yang cerewetnya amit-amit dah, eh paketnya yang harusnya sampe dalam semalem malah kagak nyampe juga. Gue tracking di web nya statusnya dah sampe Medan tapi belum dikirim ke alamat tujuan. Maka teleponlah gue ke customer service nya, pertama gue salah telpon ke kantor nya, disuruh telpon ke no customer service, oke dah gue telpon, eh mba yang angkat jawabnya ogah-ogahan pas gue tanya status kiriman gue, malah langsung dijawab telpon aja ke medan langsung. Lah gue tanya lagi donk emang gak bisa dicek, eh malah dia jawab lagi kali ini dengan nada setengah ketus suruh gue telpon ke no Medan yang dia kasih. Oke gw masih bisa sabar walau gue sempet nanya, oh gini ya pelayanannya, eh bukannya say sorry malah jawab dengan nada gak enak kalo aturannya emang kayak gitu. Akhirnya gue telpon ke no Medan yang dikasih, baru gue nanya status kiriman dengan sebut nomor resi nya, yang terima telpon langsung suruh gue telpon lagi ke nomor lainnya lagi, di Medan juga. Habislah kesabaran gue dan gue ngomong dengan ketus, oh jadi gini cara pelayanannya? Gue dioper sana sini? Lebih marah lagi waktu gue telpon ke nomor yang terakhir dikasih ke gue malah dijawab kalau alamatnya gak jelas?? Padahal orang pabrik gue udah tulis alamat dengan jelas.

Dan dengan rasa kesal gue menulis email ke customer service untuk komplain atas pelayanannya yang menurut gue mengecewakan dan yang namanya customer service nya bener-bener gak layak untuk disebut customer service! Gue tau yang namanya cs alias customer service emang bukan pekerjaan mudah, mau lo lagi kesel, bete, marah ataupun sedih, lo kudu musti harus memperlihatkan muka senyum atau kalau loe cs online ya setidaknya suara loe harus terdengar ramah dan manis, bukannya jutek dan sebangsanya, karena itu adalah bagian dari job desc dan tanggung jawab kerja yang harus loe lakonin karena sudah memilih pekerjaan itu!

Sama juga dengan profesi lainnya, mau loe seorang marketing, sales, QC, produksi, ataupun cuma seorang admin, loe seharusnya bekerja dengan “hati” loe! Oke mungkin loe kecewa dengan perusahaan, dengan atasan dan lain sebagainya, tapi tetep aja loe punya tanggung jawab atas pekerjaan loe! Dari dulu kalau gue kerja pasti gue akan kerja sepenuh hati, karena buat gue kerja itu ibadah. Kerja bukan hanya pekerjaan, tapi seluruh “kerja” dalam pengertian “perilaku” gue itu adalah ibadah dan tanggung jawabnya sama diri gue sendiri dan sama Tuhan gue. Lalu mungkin loe tanya kenapa kalau gitu gue sering pindah-pindah kerja? Sebenernya gue punya alasan untuk masing-masing, tapi apapun itu buat orang lain itu akan jadi sebuah “alasan”. Maka gue hanya bisa bilang, gue hanya mengikuti kata hati gue aja. Karena uang tidak bisa “membeli” gue, pekerjaan gue dan loyalitas gue. Gue gak munafik, gue butuh uang untuk hidup, tapi gue gak mau diperbudak oleh uang, jadi yang membuat gue bertahan di satu pekerjaan adalah “hati” gue.

Kadangkala loe harus melakukan hal yang belum tentu sesuai dengan keinginan loe, harapan loe atas pekerjaan ideal, pekerjaan impian loe. Hmm kalo bicara pekerjaan impian, mungkin gue orang yang banyak punya mimpi. Gue sempet pengen punya sekolah khusus anak bermasalah alias anak-anak bandel, pengen juga punya toko kue atau bridal sendiri karena gue suka yang manis-manis dan cantik. Sempet punya cita-cita jadi penulis sambil keliling dunia. Lalu gue akhirnya kerja jadi marketing dan gue sangat menyukai pekerjaan itu, tapi sekarang malah jadi harus ngurus pabrik, ngurus hal-hal yang mungkin kalau boleh milih dan boleh jujur gue akan bilang kalau gue gak suka, sekalipun gue mampu melakukannya, karena dalam kamus seorang Jennifer gak ada yang gak bisa dilakukan! Tapi balik lagi, kerja itu buat gue ibadah, dan loe gak selalu dapetin apa yang loe mau, dan yang terpenting, “hati” gue masih menyuruh gue untuk melakukan ini. Apapun itu, tidak ada hal yang kebetulan, segala sesuatu terjadi ada sebab dan juga ada akibatnya. Dan yang pasti gue percaya bahwa ada hal yang harus gue pelajari dari ini semua, karenanya gue tetap bekerja dengan sepenuh hati gue, suka tidak suka dengan yang gue hadapi, gue tetap menjalankan “ibadah” gue dengan semampu dan sebaik mungkin. Dan gue percaya tidak ada yang sia-sia jika loe mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, entah kapan dan dalam bentuk apa, suatu hari loe akan memetik hasilnya,

Aiiihhh kenapa sekarang jadi serius gini ya? Hahaha ini gue jadi nulis panjang lebar, udah pindah sekarang dah di kost karena gue udah nyaris di usir tadi karena udah tutup Starbuck nya, bahkan mobil gue jadi mobil ketiga terakhir yang ada di parkiran Citywalk, hihihi…. Sayang tuh Starbuck kagak 24 jam, kalau 24 jam mungkin gue bisa nongkrong sampe pagi! Hahaha… yang 24 jam cuma McD yang ada di sebelahnya dan rasanya gak seru kalau nongkrong di McD dan cuma ditemani segelas coke?! Hohoho… Ok saatnya mengakhiri tulisan ini, semoga tulisan gak jelas ini bisa bikin yang baca “mikir” sedikit, asal jangan “mikir” karena bingung sama ocehan gue aja, hahaha…

Ok gue tutup dengan satu pesen dari paman gue almarhum Steve Job di bawah ini. Kata-katanya bener banget, dan apakah gue masih “mencari” atau gue sudah “menemukan”? Hmmm…. Nggak tau, gue cuma mengikuti kata hati gue aja 😀 so mysterious? Yes, I am! Hihihi…. Ciaoooo…..

20130422-114847 PM.jpg

Cikarang, 22 April 2013
~Jen~
11.59 pm

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »