Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Chit chat ala gue’ Category

Papi, apa kabar?

Tidak terasa 7 tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari dimana papi harus pergi meninggalkan kehidupan ini, meninggalkan mami, koko, Jen dan King-king. Rasanya masih seperti kemarin, masih terbayang jelas di ingatan Jen saat harus melepas kepergian papi. Selama hampir 5 hari menahan air mata, betapa beratnya untuk Jen, yang paling tidak tahan dengan perpisahan, tapi karena tidak mau memberatkan papi, Jen menahan air mata itu supaya tidak jatuh. Sampai akhirnya, saat aba-aba untuk menekan tombol oven kremasi diucapkan, tumpah juga segala kesedihan itu… isakan tangis tanpa air mata, yang baru sekali seumur hidup Jen alami… ternyata istilah air mata buaya itu tidak salah juga, karena kesedihan yang sesungguhnya itu membuat kita bahkan tidak mampu untuk menitikkan air mata…

Papi, Jen gak mau cerita yang sedih-sedih lagi sama papi, semua kesedihan sudah seharusnya berlalu. Surat yang Jen tulis ini, sebagai pengganti cerita yang ingin Jen sampaikan ke papi, seperti dulu saat kita sering ngobrol di toko, tentang banyak hal. Jen merindukan hari-hari itu, karena buat Jen, papi adalah teman bicara yang menyenangkan. Jen yang termasuk sulit bila harus bicara dengan orang, sama seperti papi tentunya, tapi kalau kita sudah bicara, rasanya menyenangkan sekali, apalagi  saat kita membahas soal marketing. Dan taukah papi, sekarang Jen menekuni pekerjaan itu, pekerjaan marketing.

Papi, sebenarnya banyak yang ingin Jen ceritakan ke papi, soal pekerjaan Jen, Koko, dan King-king tentunya, juga soal mami, tapi rasanya semua itu tidak akan habis ditulis. Yang pasti Jen hanya mau bilang ke papi, kita semua di sini baik-baik saja, tidak ada yang perlu papi khawatirkan. Pada kesempatan ini Jen cuma mau bilang ke papi:

“Terima kasih papi sudah menjadi seorang suami yang baik untuk mami.”

“Terima kasih papi sudah menjadi seorang ayah yang baik untuk Koko, Jen dan King-king.”

“Terima kasih papi sudah membekali kita, anak-anak papi dengan harta yang tidak akan pernah habis, yaitu ilmu pengetahuan.”

“Terima kasih papi sudah mengajarkan Jen kesabaran yang tiada habisnya, belas kasih yang tanpa pamrih, serta mengajari Jen untuk mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna… dan semua pelajaran itu telah papi contohkan dengan melakukannya sendiri…”

Papi, rasanya tidak cukup menuliskan semua kebaikkan papi di sini, dan segala ucapan terima kasih ini tidak akan bisa membalasnya.

Papi, kesempatan kali ini juga mau Jen gunakan untuk meminta maaf  sama papi:

“Maaf karena selama hidup papi mungkin seringkali Jen membuat papi kecewa, entah karena tidak bisa mendapat nilai yang bagus di sekolah, tidak bisa menjadi juara kelas, ataupun karena hal lainnya. Maaf pi, mungkin Jen bukannya tidak mampu, tetapi Jen memang kurang berusaha hingga akhirnya membuat papi kecewa…”

“Maaf karena sebagai anak Jen belum bisa membalas budi atas semua kebaikan yang sudah papi berikan sebagai orang tua. Jen belum bisa membahagiakan papi semasa papi hidup. Taukah papi entah kapan mulainya Jen selalu merasa takut ditinggal papi, selalu di dalam hati Jen merasa papi akan pergi meninggalkan Jen, karena itu di dalam setiap doa Jen selalu meminta ‘waktu’ dan ‘kesempatan’ agar bisa membalas budi papi dan mami serta membahagiakan kalian berdua. Tetapi rupanya permintaan sederhana itupun tidak dikabulkan pi… Jen gak menyalahkan siapapun, tetapi Jen hanya ingin papi tau kalau selalu dalam hati ini Jen berdoa untuk kebahagiaan papi, dimanapun papi berada…”

Papi, Jen gak tau sekarang papi ada di mana… banyak teori tentang kehidupan setelah kematian, apapun itu tetap menjadi misteri bagi yang masih hidup dan belum mengalaminya. Ada yang bilang pilihannya hanya dua, surga dan neraka, orang baik masuk surga, orang jahat masuk neraka. Papi orang baik, Jen percaya kalau pilihannya hanya dua, papi akan ada di surga. Tetapi lain lagi kalau pilihannya bukan hanya dua. Lain lagi ceritanya kalau suatu hari nanti kita diberi kesempatan untuk kembali berjodoh sebagai orang tua dan anak, seperti yang mungkin dulu pun pernah terjadi.

Apapun itu, Jen hanya ingin hidup saat ini, dimanapun papi berada saat ini, semoga papi selalu berbahagia, semoga papi tidak mengkhawatirkan kita semua yang masih hidup. Mami, Koko, Jen, dan King-king semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan pi, cekcok kecil hal biasa dalam hidup, semua pasti bisa kita lalui dengan baik. Hiduplah dengan tenang, hiduplah dengan senang, Jen ingin melihat papi selalu berbahagia sampai kapanpun, di manapun, dalam wujud apapun, Jen hanya ingin melihat papi selalu tersenyum…

Papi sudah dulu ya, Jen harus tetap menjalani kehidupan ini, dan menikmatinya apapun yang terjadi, menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Jen berusaha untuk selalu berbahagia, karena kita tidak pernah tau kapan saatnya hidup kita berakhir, seperti papi yang begitu cepat meninggalkan kita…

Doa Jen selalu, semoga papi selalu sehat, semoga papi terbebas dari penderitaan, semoga papi selalu berbahagia… Sadhu, sadhu, sadhu…

Jakarta, 25 Oktober 2009

~Jen~

Family

PS. Harusnya surat ini Jen tulis kemarin pi, tapi semalem mati lampu di rumah 🙂

Oh ya papi belum lihat foto keluarga kita kan? Banyak yang bilang foto ini bagus, dan di sini semua bilang muka Jen kayak papi… 😀

Read Full Post »

missing_you-1809
Dari dulu gue benci yang namanya ‘perpisahan’, entah karena gue yang terlalu sentimentil ataukah ini karena masalah ‘keterikatan’ gue yang terlalu kuat. Bentar lagi gue bakal menghadapi yang namanya ‘perpisahan’, pisah dengan teman-teman kantor gue yang sekarang, pisah dengan suasana kerja yang sekarang, pisah dengan produk yang gue pegang sekarang, pokoknya pisah dengan apa yang sudah gue jalani hampir 3 tahun ini karena gue akan pindah kerja.

Dari dulu yang namanya ‘perpisahan’ pasti selalu buat gue menangis. Gue orang yang keras, dan beratnya hidup jarang buat gue nangis, hanya satu hal yang dapat dipastikan buat gue nangis yaitu ‘perpisahan’. Sebelum ini dah 3 kali gue pindah kerja, dan last day di kantor selalu gue isi dengan air mata. I hate being weak! Tapi gue gak bisa juga menyetop air mata ini keluar karena sedihnya ‘perpisahan’ yang harus gue rasakan.

Bicara perpisahan gak lepas dari yang namanya kematian, karena kematian adalah sebuah ‘perpisahan’ untuk selama-lamanya. Mendekati hari-hari terakhir di kantor, ditambah lagi sekarang ini bulan Oktober, membuat gue jadi sedih. Bulan Oktober selalu membuat gue sedih, karena di bulan ini, tujuh tahun yang lalu, gue harus mengalami yang namanya ‘perpisahan’ untuk selama-lamanya. Perpisahan gue dari orang yang paling gue sayangin, papi gue. Sebuah perpisahan terberat yang harus gue alami dalam hidup gue, yang sampai sekarang masih belum bisa gue ‘lepaskan’. There’s a missing puzzle in my heart and it has made me feel not complete…

Semua yang namanya teori akan ‘perpisahan’ sudah gue ketahui, kalau ditanya sudah paham atau belom? Mungkin baru setengah, karena memahami seharusnya bisa mempraktekkannya, tapi gue sama sekali belum bisa mempraktekkannya. Gue hanya memahami sebatas teori. Gue tau kalau gak ada yang abadi, gue tau kalau semua ini hanya sementara, gue tau kalau masa lalu tidak seharusnya terus digenggam, gue tau kalau kita tidak seharusnya ‘terikat’, but all seems bull shit when you can’t do it! Memang bicara itu mudah, tetapi melakukannya itu yang sulit. Apa gue gak pernah berusaha melakukannya? I’m trying but still can’t overcome it…

Memang benar, berpisah dengan orang yang dicintai itu ketidakpuasan… and I’m just like the other human, masih diliputi yang namanya nafsu keinginan, karena masih ada ‘aku’, karena ‘aku’ tidak ingin kehilangan ‘milikku’…

Gue benci perpisahan, karena perpisahan selalu membuat gue menangis dan air mata membuat gue terlihat lemah. Gue benci perpisahan, tapi gue harus menghadapinya, dan melawan pun percuma, jadi ya dinikmati saja segala kesedihan yang ada, hingga tiada lagi rasa…

Jakarta, 13 Oktober 2009

~Jen~

Read Full Post »

Libur lebaran kali ini karena gue memang dah gak punya kampung, karena mami dah tinggal di Jakarta soalnya jadi gak merasa punya kampung lagi, ya gue mengisinya dengan tidak ada rencana sama sekali. Tapi seperti biasa apalagi setelah gue kost sekarang ini, kadang kalau di rumah, rasanya pengen masak atau buat-buat sesuatu. Hm.. pasti deh ada temen-temen yang gak percaya kalo gue bisa masak? Ahahaha dah tau lah kalo gak percaya, ya maklum sih buat sebagian orang gue gak keliatan seperti tipe cewek rumahan yang hobby sama pekerjaan rumah ya? Tapi buat yang sudah kenal gue lama akan tau kalo hobby gue cewek banget, mulai dari masak, jahit, sampe berdandan. Tapi ya itu, memang kalo dari penampilan suka gak keliatan ya.. hehehe… 🙂

Yup kembali lagi, karena kebetulan juga gue ketemu resep untuk buat kroket macaroni dari salah satu majalah, alhasil pagi kemaren gue coba bereksperimen. Ternyata gak susah, bahannya juga cukup gampang, tapi setelah jadi tampilan kroketnya kok jelek ya? Hehehe benernya bisa aja sih kalo mo dibuat bagus, tapi karena dah diburu-buru waktu, mau langsung pergi siangnya, n gue juga mungkin lagi males aja bentuk-bentuk sampe rapi gitu, karena toh mikirnya ini buat makan sendiri, tampilan gak masalah lah.. alhasil si kroket gak mulus bentuknya, sedikit peyang penjol di sana sini. Soal rasa gimana? Coba dulu… hm…rasanya enak tuh.. hahaha.. memang resepnya yang oke sih, tapi tetep kan banyak orang bilang pada dasarnya masak itu tergantung tangan. Mungkin setiap orang bisa masak, dengan resep yang sama, tapi soal rasa…tergantung tangan yang masak, dan ya syukurnya tangan gue gak jelek-jelek amat, setiap masakan gue masih layak makan dan bahkan menurut kakak,-adik dan sepupu gue yang pernah jadi korban uji coba masakan gue bilang cukup enak…

IMG_2801

Gara-gara liat bentuk kroket yang peyang penjol gue jadi inget, jaman dulu gue paling sering bikin agar-agar, karena selain gue doyan, buatnya gampang, itu karena gue ngerasa paling ahli bikin agar-agar. Sampe papi gue pernah bilang, bosen juga masa bisanya bikin agar-agar mulu? Hahaha padahal pernah juga buat yang laen seperti kue bolu, tapi ya emang jarang banget…gak sesering agar-agar. Gue jadi inget juga ada waktu ketika gue lagi tergila-gila buat yang namanya pempek. Karena emang gue doyan, gue jadi pengen buat aja, tapi ya maunya buat yang sederhana, gak pakai ikan, pempek sagu lah. Tiap hari gue eksperimen, gak pakai resep, nekat coba-coba sendiri tuh… dari yang kekerasan sampe yang gak karuan juga, tapi semua masih bisa dimakan sih… yang kasihan waktu itu papi gue, jadi korban uji coba pempek buatan gue. Tapi gue aneh juga, napa gak protes ya si papi? Sempet sih bilang, bosen, tapi dia gak ngoceh-ngoceh sampe gimana? Hm.. mungkin karena dia menghargai usaha gue untuk mencoba terus tanpa berhenti, hahaha…

Urusan masak yang lain, gue hampir gak pernah diajarin atau dapet pelajaran khusus. Dari kecil emang hobby gue ikut belanja ke pasar, trus liatin orang masak di dapur, so dari situ gue belajar gimana sih caranya masak? Ternyata hobby gue ini ada gunanya juga, waktu umur 14 tahun, waktu itu baru mau naek SMA gue, karena koko sakit, mami terpaksa bawa koko ke Jakarta, n gue ditinggal di rumah untuk ngurus papi dan dede tanpa pembantu! Ha! Bayangin aja musti ngurusin makannya mereka juga? Emang sih banyak ditinggalin sayur matang yang siap dipanaskan, tapi karena cukup lama ditinggalnya, ya ada juga saat-saat gue harus masak. Untungnya pembantu gue sebelumnya suka mencatat resep-resep masakan di kertas, dan catatan itu ditinggal di lemari dapur. Alhasil dengan modal nekat, gue bereksperimen lagi, masak ini itu dengan melihat coretan bahan resep dan cara membuat yang gue tangkap dari pengamatan gue selama ini. Untuk lebih dari seminggu kalo gak salah, papi dan dede gue ya makan apa yang gue hidangin di meja, entah itu sayur beli, ataupun masakan eksperimen gue. Dan satu hal yang gue inget banget saat itu, waktu mami pulang, gue diomelin karena rumah berantakan, bak dapur gak dicuci, lap ada yang gak diganti? Wew saat itu gue cuma anak umur 14 tahun yang gak pernah tahu apa aja seluruh pekerjaan rumah itu sebelumnya, n tiba-tiba ditinggal sendiri untuk ngurus semua urusan rumah dan makan papi n adek gue?

“Apa sih yang kamu harap dari anak kecil ini? Kalo papi, masih bisa ada makanan yang bisa disiapin untuk papi makan aja udah syukur,” begitu papi bilang sambil menghibur gue. Ah, gue seneng banget, ternyata yang gue lakuin buat papi itu masih dihargai, ternyata biarpun gue gak bisa membuat semua urusan rapi, tapi setidaknya gue udah berusaha melakukannya dan papi menghargai itu. Gue baru menyadari sekarang, sebenarnya papi sudah mengajari gue beberapa hal, yaitu belajar untuk menghargai usaha orang lain, belajar untuk mensyukuri apa yang sudah didapat  sekalipun itu mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita mau, serta belajar untuk menerima ketidaksempurnaan orang lain apa adanya dengan melihat kebaikan yang sudah dilakukan.

Sekarang dengan melihat kroket macaroni buruk rupa bikinan gue ini, gue jadi merasa diingatkan lagi. Gak ada yang sempurna di dunia ini, yang harus kita lakukan adalah menerima kekurangan yang ada dan melihat sisi baiknya. Seperti kroket ini, sekalipun rupanya jelek, ternyata rasanya enak. Gue juga jadi teringat akan satu quote yang gue temuin di salah satu website: Nilai dari sebuah cinta sejati bukanlah menemukan orang yang sempurna untuk dicintai, tetapi bagaimana kita bisa mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna. Bagi gue, papi adalah salah satu orang yang sudah berhasil melakukan hal ini… Dan gue akan berusaha untuk mencontoh papi, belajar mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna. Begitu juga sebaliknya, gue berharap suatu hari nanti, gue bisa menemukan orang yang bisa menerima dan mencintai gue yang tidak sempurna ini secara sempurna…

Jakarta, 23 September 2009

~Jen~

Read Full Post »

CB008417

Belom lama ini gue ketemu orang untuk satu urusan, orang baru  yang gak gue kenal sama sekali sebelumnya. Tapi agak sedikit aneh, sewaktu disebutkan namanya, entah mengapa gue jadi membayangkan, ”Oh orang yang namanya ini begini rupanya kurang lebih…” Sebenernya untuk seorang penghayal seperti gue hal ini sudah sering gue lakuin, tetapi kemarin bisa gue pastikan, hal itu terlintas begitu aja di pikiran gue tanpa gue bermaksud berandai-andai.

Sewaktu ketemu untuk pertama kali, cukup surprised gue dibuatnya, ”Kok mirip seperti bayangan gue ya?” Hm.. oke… langsung deh seperti biasa otak gue langsung menilai orang, entah ini kebiasaan baik atau buruk, tapi mungkin ya gak baik gak buruk lah asal gue bisa gunain pada tempatnya ya… gue langsung mikir  ini orang pendiem deh… liat dari tampangnya sih gitu… but… tiba saatnya gue emang harus bicara sama nih orang and guess what? Astaga! Belum pernah gue ketemu orang se’nyolot’ ini!! Buset beda banget dari gambaran pendiem dan kalem yang gue tangkap pertama tadi!

Dan yang minta ampunnya gak berhenti-henti dia mencela gue! Segala yang ada di gue gak ada yang bener…!! Oh mi got! Tapi yang aneh kenapa gue bisa sabar benerrrr ngadepin nih orang ya? Padahal gue paling bete harus ngadepin orang kek begini, apalagi ini cowok ya, rasanya dah pengen gue tabok deh nih orang! Eitss… itu sih gambaran kalo gue masih seperti dulu ya, gue yang gak sabaran, yang kagak mo kalah punya… yang pasti setidaknya gue udah naek darah deh, dan muka n nada suara gue pasti dah sama nyolot n sinis nya kek dia. But sekali lagi… entah ini keajaiban atau emang gue yang dah berubah, kenapa gue cuma bisa senyum-senyum manis dan dengan sabar ngadepin ini orang?? Something wrong with me??  

Entahlah gue jadi mikir aja, gue bisa gak marah apa karena nih orang gak jelek tampangnya (cakep juga maksudnya, hehehe…) n dia punya gigi yang bagus rata kek iklan pasta gigi ya? Tapi harusnya dia punya senyum yang manis donk, tapi ini ampyun!! Sinisnya gak kuat bener-bener minta ditabok, huh! Hm… tapi setelah gue inget-inget lagi, mungkin gue bisa bersabar dan gak marah karena ada kata-katanya yang membuat gue berpikir kalau ini orang pada dasarnya baik. Kalau ini cowok benernya cuma mo jatohin mental gue aja! Ya di awal sempat saat gue bilang kalau di satu tempat gue gak dapetin hal ini tapi gue dapet hal itu, sementara di tempat lain gue dapetin hal ini tapi gak dapet hal itu, dan entah karena emang dia bijaksana or apa gue gak tau, tapi dia bisa bilang hal ini:

 “Nothing’s perfect in this world. You cannot get all you want. But that’s make people tough and success. Just like a diamond, you know the process to make a diamond? Just like that… And like butterfly also, you know before it come into a butterfly, what is it? All of it makes people stronger.”

CB108154

Ow ow ow wait… dia ngomong ini gak dengan tampang sinis loh… mungkin ini yang membuat gue jadi bisa ‘melihat’ hatinya yang sesungguhnya. ‘This man is not that bad…’ dan ternyata kesan pertama ini sudah meluluhkan hati gue sekalipun dia nyolotnya sampe bawa-bawa hal yang sensitif untuk disinggung?? Walah hahaha… ampyun!

Ok, dan kembali entah mengapa, karena begitu terkesan sekali kah gue sama nih orang yang bikin bete, buat gue pengen nabok, tapi ternyata sekaligus sudah mengajarkan gue beberapa hal, sehingga sekarang gue malah jadi menulis tulisan ini buat mengingat dia?! Astaga…!! Ya ya mungkin ini sekedar untuk mengingatkan gue sendiri akan pelajaran yang gue dapet dari si menyebalkan satu itu, bahwa: tidak ada yang sempurna di dunia ini, kita gak pernah bisa dapat semua yang kita mau, dan segala kesulitan itu sebenarnya membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik. Dan satu pelajaran paling berharga buat gue benernya adalah:  KESABARAN! Ya kesabaran untuk menghadapi hal yang tidak menyenangkan… Fiuh benernya masih takjub gue sama diri gue sendiri yang bisa sabar ngadepin orang itu hehehe…

Dan entah mengapa sekarang gue berharap bisa ketemu dia sekali lagi, buat nabok dia, oppsss…. bukan ya, hehehe… Ketemu dia sekali lagi… to see the ‘real’ him and become his friend…^^

 j0438386

Jakarta, 4 September 2009

~Jen~

Dedicated to “Mr. S”: hope we’ll meet again in different situation and don’t be so nyolot ya!

Read Full Post »

write1 Heh… lagi-lagi kenapa sih orang selalu beranggapan menjadi penulis itu pekerjaan yang seolah sia-sia? Kenapa orang selalu mengukur segala sesuatu dengan uang dan materi? Padahal selain uang ataupun materi, ada hal lain yang buat gue lebih penting, kepuasan hati. Kenapa gue suka menulis? Gue juga gak tau, mungkin awalnya memang karena gue termasuk orang yang gak gampang mengungkapkan pendapat, walaupun gue blak-blakan tapi untuk mengungkapkan terutama isi hati gue, sangatlah tidak mudah buat gue. Makanya karena itu gue menulis, gue nulis karena gue gak bisa mengeluarkan itu melalui mulut gue.

Belakangang gue mulai mencintai kegiatan menulis ini, karena ternyata ada orang-orang yang suka membacanya. Gue baru sadar itu waktu gue SMA, waktu gue nulis cerpen buat majalah sekolah. Seorang guru memuji tulisan gue, dia bilang dia suka tulisan gue? Hal yang gak pernah gue dapetin dari keluarga gue, sekedar pujian atas bakat yang gue miliki? Kebalikannya justru menulis ini dianggap sebagai pekerjaan gak menghasilkan? Dan gue cenderung dilarang untuk menekuninya?

Kalau mau dipikir sih memang keluarga gue, terutama bokap n nyokap gue bukan orang yang merhatiin bakat, yang terpenting adalah kepandaian intelektual, bisa dapat nilai bagus dan rangking di sekolah itu sudah cukup dan lebih dari cukup, itu jadi tuntutan terbesanya. Padahal belakangan gue menyadari, betapa banyak bakat yang gue miliki, bakat seni terutama yang gue sendiri gak tau dari mana asalnya.

Gue gak pernah sadar kalo gue punya suara yang boleh dibilang bagus, sampai gue kuliah dan ada teman yang bilang begitu. Selama sekian lama gue selalu beranggapan semua orang bisa menyanyi seperti gue, punya suara seperti gue, nothing special… Hm.. gue jadi inget, waktu masih kecil, SD mungkin ya.. entah kelas 5 atau 6, gue pernah pergi sendiri mendaftar lomba nyanyi… yang kalo dipikir-pikir sekarang cukup gila juga? Sementara kalo itu terjadi di masa sekarang ini, orang-orang tua akan begitu antusias kalo liat anaknya punya sedikit bakat nyanyi aja, pastinya sudah diikutkan lomba sana sini, tapi gue? Mulai dari ambil formulir pendaftaran, ngedaftar, pergi lomba, sampe nyanyi di atas panggung gue lakuin sendiri, gak ada tuh satupun dari keluarga gue yang dampingin, dipikir-pikir sedih juga… gue suka becanda aja, coba dari dulu kalo bakat gue diasah, mungkin sekarang gue udah jadi artis! Wekekek…

Demikian juga halnya dengan menulis, sekarang gue baru nyadar, kenapa guru bahasa Indonesia gue di SMA begitu sayang ke gue, punya perhatian lebih, sampe-sampe gue disuruh ikut lomba menulis resensi buku segala? Ya ternyata mungkin orang-orang itu lebih bisa melihat bakat yang gue miliki dibandingkan keluarga gue dan diri gue sendiri bahkan!

Gara-gara sering menulis sampai larut malam, gue diomelin nyokap gue kemaren… mami gak setuju loe jadi penulis? Weks! Sapa yang mau jadi penulis mi?? Walaupun cita-cita gue suatu hari adalah bisa keliling dunia sambil menulis, tapi gue masih realistis, gue masih butuh kerjaan yang bisa ngasih gue duit cukup buat hidup. Tapi gue juga akan tetep nulis, menulis untuk diri gue sendiri, menulis untuk orang-orang yang mau membacanya. Kalo gue tidur malem itu sih karena memang inspirasi datengnya baru malem, ya kadang butuh suasana tenang untuk bisa menuangkan apa yang ada di otak gue, walaupun kadang biar ada keributan apa juga gue bisa tetep nulis. Tapi menulis di malam hari, saat suasana udah tenang, buat gue ada keasyikan tersendiri… Ya ngerti seh nyokap cuma takut gue sakit, tapi napa juga harus larang-larang gue nulis dan pake alasan nulis gak menghasilkan duit?

Napa ya, orang suka gak bisa ngerti gue? Apakah gue yang susah dimengerti? Emang gue suka aneh sih, hal-hal yang buat gue seneng, suka gak umum. Kadangkala emang gue ngelakuin itu karena gue gak suka sama dengan orang-orang kebanyakan, tapi lebih dari itu, gue suka ngelakuin sesuatu yang beda supaya gue bisa merasakan dan melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda. Kalau yang umum dilakukan orang gue udah tau, udah sering denger dari temen-temen yang curhat ke gue…
Hm.. kadangkala juga masalah kepuasan, ya tolok ukur kepuasan orang-orang kan beda-beda. Waktu gue mutusin pindah kerja, gue meninggalkan jabatan manager, ninggalin fasilitas mobil kantor yang gue dapet, dan bahkan gue pindah kerja untuk gaji yang lebih kecil. Bodoh ya gue? Buat sebagian besar orang gue bodoh, sebagian lagi gak percaya kalo gue pindah dapat gajinya lebih kecil… Ya ya ya… sebenernya gue hanya mau pindah, itu aja! Dan gue belajar untuk gak terikat dengan yang namanya jabatan, fasilitas dan materi, demi kepuasan hati gue, salahkah gue?

Orang boleh bilang gue bodoh, tapi gue gak pernah menyesali segala langkah yang udah gue ambil, karena gue percaya apapun itu ada pelajaran yang bisa gue petik. Lagipula gue percaya dengan kemampuan gue, n toh akhirnya bener, ternyata akhirnya gue bisa dapatin lebih dari itu. Yah, kenapa orang selalu menilai dari luar aja ya? Makanya gue sangat hati-hati saat mau bilang seseorang itu bodoh saat mengambil satu tindakan ini atau itu. Karena gue yakin pasti orang punya pertimbangannya sendiri. Kita yang melihat dari luar gak akan pernah tau apa yang dirasain orang itu.

Balik lagi, urusan tulis menulis, orang bisa bilang ngapain sih gue nulis kagak ada kerjaannya gini? Ini kepuasan buat gue… walau keliatan kayak orang lagi mabok gini, tapi coba setelah loe baca, ada gak nilai-nilai yang bisa loe ambil dari tulisang gue? Kalo gak ya gak apa juga sih, tandanya kita masih belum satu aliran 😛
Sedikit banyak gue yakin ada yang bakal mengiyakan apa yang gue tulis, sebagian lagi mungkin ngerasain hal yang sama. Gue bilang gini bukan tanpa dasar, tadinya gue nulis buat gue sendiri, tapi belakangan saat gue tau ternyata tulisan gue bisa bermanfaat buat orang-orang, gue jadi mikir untuk nulis hal-hal yang semoga memang membawa manfaat buat orang yang baca.

So mami or siapapun juga, gue cuma mo bilang, gak ada yang bisa menghentikan gue nulis, gue akan terus nulis selama tangan gue mampu menulis, selama di otak gue masih banyak kata-kata yang minta dirangkaikan agar punya makna. Gue akan terus nulis, buat diri gue sendiri terutama, dan syukur-syukur buat orang lain kalo ada yang berkenan membaca.

Read Full Post »

Halfmoon

Halfmoon

Halfmoon

Belakangan ini gue lagi banyak mikir, gak tau napa nih otak maunya jalan terus, sampe gue capek banget. Gue gak konsen ngerjain kerjaan kantor, gak konsen kerjain kerjaan tulis menulis, gak konsen mau ngapa-ngapain, otak jalan terus.. gak tau mikir apa…
Pelan-pelan gue coba ikutin tuh arah pikiran otak gue, hm.. ternyata yang dipikir lumayan berat juga, mulai dari mikirin apa sih artinya hidup ini, mikirin gue mo ngapain, sampe mikirin sebeneranya gue ini apa? Siapa? Wadoh… gue jadi takut kalo kagak kuat bisa-bisa jadi penghuni RSJ lage… 😛

Gue mulai ngerasa kehilangan jati diri.. or emang selama ini gue gak pernah tau jati diri gue benernya ada ato nggak? Yah yah kalo dipikir-pikir gue sampe sekarang selalu ngerasa gue hidup ini bukan atas kemauan gue… maksudnya apa-apa yang gue lakuin kayaknya kok bukan untuk gue ya? Gue sadar dari dulu gue selalu pengen bisa segala-galanya, buat apa sih benernya? Ternyata hanya untuk menyenangkan orang-orang disekitar gue.. terutama buat bokap gue, supaya gue ini dipandang oleh dia, supaya gue ini ‘exist’!
Tapi berhubung sekarang bokap dah gak ada, trus gue jadi kehilangan pedoman, patokan untuk ukuran eksistensi gue? Gue jadi suka merasa ada dan tiada….

Terus terang kadangkala gue bingung, gue ini benernya orang yang gimana ya? Kalo kata sepupu gue yang tercinta, gue ini musang berbulu domba? Weh… enak aje dia… abis katanya gue selalu tampak manis di depan seluruh sodara-sodara, keluarga besar, lah setelah dia tinggal satu kost ama gue dia bilang gue ini ‘ancur’? Heh.. ancur di mana? Orang cantik2 gini kok? wekekekek.. nah ini nih, gini ini ancur nya gue… hm.. ini kan selera humor ya? Masa orang gak boleh punya selera humor seh? Tapi emang sih kalo dipikir-pikir mungkin ada orang2 yang kenal gue ini sebagai si Jenny yang kutubuku, galak, kuper? Masa gue kuper? hihihi… gak tau deh mungkin dulu belom ketemu temen yang cocok aja kali jadi gue gak maen ama banyak2 orang? Wek… padahal dibandingkan ama kakak gue, temen gue justru lebih banyak?

Yah gara-gara statement musang berbulu domba itu gue jadi mikir tuh, benernya gue ini orang yang munafik kah? Weks, padahal gue orang yang gak suka kepura-puraan, gak suka yang munafik, gue orang blak-blakkan… tapi.. gue bisa menempatkan diri gue… kalo ngomong ama yang tua ya sopan lah yauw.. masa loe ngocol abis, gak mungkin toh? Gue hanya merasa gue ini ibarat cermin, kalo lawan gue itu orangnya asik, gue bisa jadi asik, kalo lawan gue jutek, gue bisa lebih jutek, weks! Kalo lawan gue sopan, gue bisa 10 kali lipat lebih sopan… ya gitu deh… makanya tergantung dengan siapa gue berhadapan, gue bisa sangat bawel setengah mati, tapi bisa juga jadi pendiem setengah mampus… nah loh??!

Belakangan ini gue kembali ke hobby gue yang dah gue lakuin sejak SMP, menulis, banyak yang gak tau gue bisa nulis? Weh emang aneh, gak tau bakat dari mana neh? Kenapa juga gue bisa nulis panjang lebar gini? Di keluarga gak ada tuh yang kayaknya bakat nulis, mana bokap gue sangat menentang gue untuk jadi seorang penulis? Mau jadi pujangga? Bah, kerjaan apa pula itu? Yah yah yah pemikiran kolot yang gak bisa disalahin, dikiranya menulis itu hanya kerjaan penyair2 yang gak menghasilkan duit? Hm.. gue menulis juga gak nyari duit seh.. gue nulis karena gue suka, titik! Gue nulis buat mengungkapkan isi hati gue yang kadangkala gak bisa gue ungkapkan lewat kata-kata.. gue nulis buat sharing ke orang-orang supaya syukur-syukur ada tulisan gue yang bisa membuat orang seneng, membawa kebaikkan buat orang-orang…
Dan lagi-lagi… kegiatan gue menulis ini bikin gue jadi merasa orang aneh lagi..!! Apalagi buat temen-temen yang kenal gue dan sempet baca blog gue.. mampus dah, beda 180 derajat?? So benernya gue ini yang mana sih?? Ada yang kenal gue sebagai anak yang alim, ada yang kenal gue cukup ‘ancur’ ada yang kenal gue jutek, judes.. heh.. kalo ditanya gue yang mana, dari kemaren2 gak usah loe pada nanya, gue sendiri dah nanya ke diri gue…

Setelah gue mikir lama, ampe pala gue ini gak bisa dipake buat mikir yang laen, akhirnya gue nemu satu padanan yang tepat… gue ini ibaratnya ‘halfmoon’… bulan separoh… ada sisi gelap dan ada sisi terang… napa bisa gitu? Ya karena jujur gue ini masih manusia, gue masih diliputi keserakahan, kebencian dan kebodohan, gue belum sempurna… Tapi karena gue ini mau belajar, gue bukan bulan sabit, sisi terang dalam diri gue ini dah separoh, walaupun separohnya lagi belom keliatan.. ya ya… cocok banget deh…

Gue sekarang ini sedang berusaha untuk menjadi bulan purnama dengan cahaya yang bulat sempurna…karena itu kadangkala gue bisa kelihatan sangat bertolak belakang, sangat manusiawi menurut gue, gak ada yang aneh… lagipula gue percaya setiap manusia memiliki sisi gelap dan terang dalam diri mereka masing-masing.
So secara jujur gue ngaku… masih banyak kekurangan gue, masih banyak sisi gelap gue, tapi gue juga punya sisi yang sudah bersinar… dan kalo ditanya sekarang ini, yang ada di otak gue adalah selalu bagaimana caranya membuat ‘halfmoon’ menjadi ‘fullmoon’…

Gue tau gak gampang, n butuh waktu yang gak sebentar… tapi gue gak menyerah… dan gue berharap satu hari nanti gue bisa melihat cahaya bulan yang sempurna dari dalam diri gue…

Read Full Post »

“What’s in a name?

That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”

~William Shakespeare~

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tulisan ini, dan karena terlalu sibuk jadi belum sempat. Tapi karena pulang ke Lampung dalam rangka perayaan Ceng Beng minggu lalu, membuat saya tergerak untuk menuliskannya.

Saya lahir dengan nama Jennifer alias Theng Yen Nie untuk nama chinese nya karena kebetulan saya lahir dari keluarga chinese yang masih cukup totok jadi masih punya nama chinese. Sebenarnya nama Jennifer diberikan oleh mami saya, sementara papi memberikan nama chinese.
Saya suka kesal karena di antara 3 bersaudara, hanya nama saya yang terdiri dari 1 kata, sementara kakak dan adik saya namanya terdiri dari 2 kata. Menurut mami, huruf depan nama kami bertiga diambil dari nama toko papi, yaitu toko ABC (nama ABC ini juga berasal dari nama merek batu baterai karena kebetulan toko papi menjual produk itu dengan jumlah cukup banyak). Kebetulan kok pas dengan jumlah anaknya….Karena mami bergaya kebarat-baratan (ini yang buat saya heran kok bisa klop ama papi yang notabene Chinese totok?), dia memberikan nama anaknya semua dengan nama Raja/Ratu dan nama belakangnya merupakan bulan lahir. Karena saya anak kedua, harusnya nama saya berawalan huruf ‘B’ donk? Kok bisa-bisanya sih hanya ‘Jennifer’ saja? Ternyata waktu itu mami sempat memikirkan beberapa nama dengan awalan huruf ‘B’ dan kebetulan nama Ratu yang berawalan ‘B’ adalah ‘Beatrix’. Sayangnya, waktu buat akta lahir, si mami bisa-bisanya lupa menaruh nama Beatrix, jadi yang dicantumkan di akta lahir hanyalah Jennifer. Lucunya pembuat akta sempat balik lagi menanyakan apakah nama saya hanya ‘Jennifer’? dan mami hanya mengangguk iya!

Lain lagi asal usul nama chinese saya, huruf ’Yen’ yang digunakan adalah ’Yen’ yang berarti burung walet, hm… katanya karena huruf ini punya 4 titik jadi seperti air hujan, untuk ‘mendinginkan’ saya yang suka nangis (karena panas? Padahal sekarang saya gak tahan AC!) Sedangkan huruf ‘Nie’ berasal dari kata ‘Nie’ yang berarti perempuan (tapi gabungan antara ‘Nie’ perempuan dan ‘Nie’ yang berarti Bhikkuni?). Waduh kalo ditanya lebih lanjut saya gak tau juga, karena sebenarnya saya buta huruf mandarin, hanya tahu tulis nama saya saja ☺

Waktu masuk taman kanak-kanak, saya masih ingat, tempat makan dan botol air minum saya selalu memakai label Beatrix Jennifer walaupun nama resmi di sekolah tetap Jennifer. Sampai sewaktu kelas 6 SD karena harus buat ijazah, setelah dicek, nama di akta lahir saya ternyata memang hanya Jennifer! Waktu itu kalau mau mengganti akta lahir masih bisa, karena seperi kebanyakan orang jaman dulu, status saya masih ‘anak di luar nikah’ karena orang tua saya tidak punya surat kawin. Tapi waktu saya mengusulkan penambahan nama ini, papi hanya bilang “Buat apa sih? Repot ngurusnya..” alhasil saya tidak jadi ganti nama…

Belakangan ini saya jadi ingin ganti nama lagi, bukan karena nama Jennifer jelek, nama itu cukup bagus, oh ya satu lagi kata mami kenapa dipilih Jennifer, bukan hanya karena berhubungan dengan bulan lahir saya yang jatuh di bulan Januari, tapi karena nama Jennifer kesannya kuat seperti laki-laki, mami gak mau anak cewek yang lemah gitu… Doh.. gimana sih ini si mami, punya anak perempuan kok malah diharap kayak laki-laki? Hm padahal kalo saya cari di kamus arti nama, Jennifer tuh artinya ‘hantu putih’? Hua.. serem amat yak?!
Kenapa saya pengen ganti nama, karena saya merasa repot kalau ditanya family name saya, apa yang harus saya tulis? Dan ini terjadi waktu saya berkesempatan berkunjung ke Philipina beberapa tahun lalu karena urusan kantor. Pihak pengundang bingung waktu mau booking hotel buat saya, dia tanya nama saya apa? Saya bilang ‘Jennifer’, just ‘Jennifer’ kalo di Indo biasa kita bilang Jennifer doang!
Yang bikin repot lagi waktu punya account Facebook, ternyata gak boleh kalo gak isi family name?? Lah gimana  donk nama saya kan hanya Jennifer? Alhasil sudahlah saya taruh saja nama ‘seharusnya’ saya: Beatrix Jennifer (jauh lebih keren kan? Hiks!) daripada saya tulis Jennifer Doang! Dan terus terang ini bikin bingung sebagian teman saya, lah wong taunya namanya cuma Jennifer!

Waktu saya kembali mengajukan penggantian nama baru-baru ini, yang protes bukan papi saya (iyalah papi saya kan dah almarhum hehehehe…) kali ini yang protes koko saya: “Bikin repot!” katanya… Waduh.. gak bapak gak anak sama aja alasannya… capee deee.. tadinya saya masih mau ngotot juga…tapi gak jadi…
Kebetulan waktu itu di DAAI TV sedang diputar film drama ‘Namaku A Tao’ yang ceritanya si A Tao ini gak mau pakai nama A Tao karena A Tao itu nama buah, jelek menurutnya, sementara kebanyakan anak perempuan diberi nama bunga…
Belakangan A Tao sadar juga kalau ternyata nama bagus itu tidaklah penting, tetapi orang dinilai dari perbuatannya, bukan dari namanya.
Yah.. sedikit mencerahkan saya, memang benar sih, kalo dipikir-pikir seperti yang ditulis Shakespeare di cerita Romeo & Juliet, apalah arti sebuah nama, toh dikasih nama apapun, bunga mawar itu tetap harum baunya. Hal ini seperti kebajikan seseorang, mau namanya Paijo, Painem, Tukiman atau siapapun juga, bukan ‘label’ itu yang penting, tapi bagaimana tingkah lakunya dalam menjalani kehidupan ini.

Karena itu saya kembali merenungi, benar juga, kenapa saya harus begitu ‘terikat’ dengan apa yang disebut ‘nama’ toh itu tidak berarti apa-apa kalau kelakuan saya tidak sebanding dengan indahnya nama saya? Lebih dalam lagi saya merenung, mungkin memang saya tidak boleh ganti nama, dari dulu rupanya saya sudah diajarkan untuk ‘melepas’ tidak boleh ‘terikat’ pada nama.

Dan saya pikir apapun nama saya, almarhum papi saya juga taunya ya saya seperti ini bentuknya, sifatnya, kelakuannya…
Kenapa saya bilang begitu? Soalnya saya kaget juga, kemarin pulang mengunjungi makam Kakek dan Nenek saya, tertulis di deretan nama cucu perempuan: Jenny F.! Dan saya mengingat-ingat dulu pernah terima surat di amplop depan tertera tulisan papi saya: Kepada: JennyFer.

Astaga papi, selama ini gak tau nama anaknya apa?! Untung banyak yang bilang wajah saya mirip papi, kalau nggak saya udah curiga, jangan-jangan….??!!

nama

Read Full Post »

Hm… hari ini eh tepatnya kemaren ya… bener-bener yang ada di kepala gue cuma si ‘Amiaw’… bukan karena apa ya… tapi ‘Amiaw’ ini bener-bener kasih pelajaran berharga buat gue… ‘Kisah si Amiaw’ gue posting juga di blog Kolam Teratai. Harapan gue menulis kisah si Amiaw maksudnya biar orang-orang bisa ‘belajar’ juga dari ‘pelajaran’ yang gue dapet dari si ‘Amiaw’… dan gue bakal mendapat tanggapan yang positif dari temen-temen, tapi ternyata gue salah! Porsi ‘Amiaw’ jadi jauh lebih gede mengalahkan porsi gue! Duh!

Kalo begini caranya, yang salah benernya cara gue nulis ato apa ya? Gue jadi ngerasa gagal dalam menulis.. baru kali ini…hiks…biasa gue lumayan pede, kali ini pelajarannya telak juga! Cukup buat gue uring-uringan… sampe gue sempet tanyain pendapatnya ko Robby (ko Robby neh temen yang suka nulis juga, yang baru gue kenal di KT, dan yang ngingetin kalo blog ini umurnya dah setahun loh…) tapi ternyata point-nya ya emang gak mudah kalo kita mau menggambarkan sesuatu dengan perumpamaan. Soalnya kata ko Robby ‘cara mengangkat perumpamaan itu memang beresiko salah persepsi yang besar‘.

Hm… bener sih.. karena dipikir-pikir mereka kan gak ngalamin ya? Mereka hanya baca saat itu aja, mungkin pemahamannya jadi berbeda, belom lagi kalo gaya bahasanya buat mereka lain, tanda titik koma aja bisa membuat makna yang beda dari satu kalimat… yah yah yah bener-bener… AMIAW udah kasih gue pelajaran!!

Jadi gue akan terus nulis ato nggak neh? So pasti… malah gue akan semakin berani menulis, buktinya gue berani mengeluarkan tulisan ini! Hehehehe…

Jadi buat yang sudah membaca ‘Kisah si Amiaw’, mungkin perlu gue perjelas, maksud tulisan itu adalah untuk memberi semangat kepada orang-orang. Kadangkala kita mengalami rintangan, kadangkala kita harus mengambil langkah mundur, tapi asal kita terus berusaha untuk maju, kita pasti bisa mencapai tujuan….

Tapi, eeeehh.. ada tapi nya neh… ternyata semua itu tergantung lagi pada KONTEKS! Kadangkala kita perlu juga menyerah, menyerah bukan berarti kalah, tapi menyerah yang berarti kita ‘menerima’. Duh… padahal hal ini juga pernah gue tulis soal ‘belajar melepas’ dimana gue mengatakan kalau kita terlalu mengejar sesuatu, semakin dikejar ia akan semakin menjauh, tapi sewaktu kita dengan tenang menerima segala kondisi yang ada, semua itu malah akan datang dengan sendirinya….

So teman-teman, semua itu balik lagi ke diri kita masing-masing, semua orang butuh ‘merenung’ untuk bisa belajar… a good point dari Ko Robby, sekali lagi thanks ya ko… obrolan kita bener-bener dah memberi pencerahan buat aku.. dan semoga demikian juga halnya dengan tulisan ini….

Read Full Post »

« Newer Posts