Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘It’s Life’ Category

Suatu siang, 21 tahun yang lalu….

Aku senang sekali hari ini karena mendapatkan hadiah kenaikan kelas berupa meja belajar baru merek Ligna berwarna coklat khas kayu. Sebelumnya aku harus berbagi dengan koko, sebuah meja belajar merek Olympic yang dibeli oleh mami. Tapi mulai hari ini aku punya meja belajar sendiri karena aku berhasil ranking 1 saat naik ke kelas 3 SD. Yang membuatku senang bukan hanya karena mendapat meja belajar yang baru, tapi lebih dari itu karena meja ini special dibeli papi dari kota untukku. Jarang sekali papi memberikan kami hadiah. Walaupun tidak ada gambar boneka lucu seperti yang ada di meja yang lama, tapi aku lebih menyukai mejaku sendiri. Belakangan adikku pun mendapatkan meja belajarnya sendiri. Sama seperti koko, meja belajarnya bermerek Olympic dan dibelikan oleh mami. Sejak itu meja belajarku menjadi lebih istimewa karena satu-satunya yang bermerek Ligna, dibeli di kota dan dibeli oleh papi.

Sampai sekarang meja ini jadi terasa lebih istimewa karena merupakan satu-satunya barang kenangan yang tersisa dari papi untukku…
Walaupun kaki mejanya sudah mulai rusak karena umurnya yang sudah lebih dari 20 tahun dan telah berpindah rumah 3 kali, aku tetap ngotot mempertahankannya sampai di Jakarta sekarang ini.
Karena tak ada yang tersisa dari papi, rumah tempatku dibesarkan yang penuh kenangan akan papi, sofa tua tempat papi duduk sehari-hari membaca koran yang juga menjadi tempatnya menghembuskan nafas terakhir… tidak ada satupun yang tersisa….
Hanya meja tulis Ligna tua ini yang menyisakan sedikit kenangan akan papi….

Suatu siang, 20 tahun yang lalu…

Aku mendapat nilai 8 untuk ulanganku, senang sekali rasanya karena sebagian besar teman sekelasku hanya mendapat nilai 6. Dengan bangga kutunjukkan nilaiku disertai harapan sedikit pujian dari papi. Tapi ternyata aku salah, papi hanya berkata, “Kok cuma 8?” “Ini udah bagus pi, karena anak laen banyak yang dapat nilai 6,” jawabku bangga. “Ada yang dapat 10 gak?” tanya papi lagi. “Ada sih 1 orang,” jawabku. “Kalau gitu kenapa nilaimu gak bisa 10?” Aku hanya bisa diam dan sedikit membenarkan pernyataan papi itu. Tadinya aku berpikir kalau papi adalah tipe yang tidak pernah puas, tapi belakangan aku menyadari dan aku belajar bahwa papi hanya ingin menunjukkan bahwa aku tidak pernah boleh merasa cepat puas dengan apa yang sudah kuraih kalau itu ternyata belum kuusahakan secara maksimal.

Suatu senja, hampir 20 tahun yang lalu….

Seorang anak laki-laki lusuh dan kotor tidur di teras depan rumahku. Papi yang kebetulan melihat, timbul rasa belas kasih dan menyuruh kami mengambilkan makanan, sepiring nasi dan lauknya. Tapi tidak sempat kami bertindak, mami keluar, dan dengan dalih mungkin saja anak itu gelandangan yang gila, mami mengusirnya pergi dari rumah kami.  Saat itu papi hanya bisa diam….

Waktu itu aku yang masih kecil belum bisa memahami apa-apa, tapi setelah dewasa, aku baru melihat dan merasakan kebaikan hati papi. Kadangkala aku suka bertanya, dari mana asalnya rasa belas kasih yang aku miliki? Sekarang aku tau dari mana dan aku bersyukur karena mewarisinya dari papi.

Hari-hari penuh keributan….

Aku tidak pernah mengerti kenapa dua orang yang hidup berumah tangga karena saling mencintai harus seringkali mewarnai hari-harinya dengan keributan. Pertengkaran-pertengkaran papi dan mami seringkali jadi tontonan kami sehari-hari, walaupun hanya pertengkarang kecil. Tapi kebanyakan pertengkaran itu disebabkan oleh mami yang kurasa sangat tidak sabar, dan aku mengangkat topi untuk kesabaran papi yang tiada habisnya…. Buatku, papi adalah orang paling sabar di dunia.

Suatu siang, lebih dari 14 tahun yang lalu….

Seperti biasa aku selalu membatu papi di toko, diantara kami bertiga, anak papi dan mami, hanya aku yang sepertinya suka berjualan di toko. Waktu pembeli sedang sepi, aku dan papi seringkali berbincang-bincang. Apa saja yang kami perbincangkan? Sebagian besar kami membahas barang-barang yang kami jual, bagaimana konsumen mau beli barang itu, bagaimana kita set harga untuk barang itu dengan adanya program-program promosi dari distributor. Saat itu aku tidak menyadari, bahwa apa yang sering aku perbincangkan dengan papi kelak berguna bagi pekerjaanku sekarang. Bahkan baru kusadari, mengapa aku begitu mencintai dunia marketing, ternyata sejak kecil aku sudah terjun langsung di dalamnya. Dan papi, adalah guru marketing-ku yang pertama….

Entah kapan, lebih dari 14 tahun yang lalu….

‘Dagang tidak usah ambil untung terlalu besar, kalau kita dapat diskon dari agen, kita bisa potong lagi untuk konsumen,’ kata papi mengajariku. Waktu itu aku tak tau atas dasar apa papi mengambil tindakan seperti itu, tindakan yang justru oleh adiknya dan oleh mami dianggap ‘bodoh’ karena melepaskan kesempatan mendapat untung besar.

Belakangan setelah aku belajar, memang dalam bisnis tindakan papi tidak sepenuhnya salah. Tapi lebih dari itu, pada dasarnya papi tidak suka ambil untung yang besar karena papi memiliki hati yang baik, terlalu baik, dan memiliki perasaan tidak tega terhadap orang lain. Sifat ini juga yang papi wariskan untukku, aku menyadarinya akhir-akhir ini, dan aku tidak pernah menyesal karena mewarisi sifat papi ini….

Entah kapan, aku tak pernah tau tepatnya….

Papi bilang untuk apa sayang ke anak perempuan, karena jika sudah besar toh diambil orang…. Karena itulah papi tidak pernah memanjakanku, satu-satunya anak perempuan yang dimilikinya. Sebaliknya banyak sekali tanggung jawab yang dibebankan kepadaku. Papi bahkan tidak pernah memelukku. Lalu apa aku sedih karenanya? Aku tidak pernah sedih, tidak juga marah. Aku justru berusaha keras, membuat papi melihat keberadaanku, melihat bahwa aku ini punya arti, karenanya aku selalu berusaha jadi anak yang baik untuk papi, anak yang bisa segalanya, yang bisa membuat papi bangga….

Sampai sekarang aku jadi terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri, terlalu mandiri, karena aku selalu ingin menunjukkan kepada papi walaupun aku perempuan aku juga bisa berguna. Belakangan aku merenungi perkataan dan tindakan papi, setelah mencoba memahami sifat-sifat papi, aku sampai pada kesimpulan, bukan papi tidak menyayangiku anak perempuannya, tapi papi hanya tidak ingin terlalu sakit dan bersedih jika suatu saat aku anak perempuannya harus pergi meninggalkannya untuk hidup berumah tangga. Aku tidak tau apakah penafsiran ini benar atau salah, dan ini juga bukan pembenaran ataupun penghiburan untuk diriku, tapi lebih dari itu, aku bersyukur, karena semua sikap papi itu telah menempaku untuk menjadikan aku kuat. Tidak pernah terbayangkan kalau saja papi memanjakanku dari dulu, mungkin saat papi pergi meninggalkan kami, aku sudah hancur dan tidak akan bisa jadi seperti sekarang ini….

Hari-hari libur kuliah, 11 – 8 tahun yang lalu ….

Sejak aku kuliah di Jakarta, tiap kali pulang liburan, banyak hal yang aku perbincangkan dengan papi. Entah kenapa aku menjadi semakin merasa dekat pada papi. Banyak hal-hal yang kami bicarakan bersama, entah itu soal kuliah, soal toko, ataupun permasalahan-permasalahan kecil lainnya. Papi adalah lawan bicara yang menyenangkan….

Di lain kesempatan papi pernah berkata kepadaku, ‘Papi tidak bisa mewariskan harta, yang bisa papi kasih ke kalian adalah warisan yang berupa ilmu.’ Karena itulah papi berjuang agar kami semua anaknya bisa sekolah hingga bangku kuliah.

Taukah papi, warisan dari papi ini lebih berharga dari emas dan permata? Warisan ‘ilmu’ yang papi berikan ke kami ini tidak pernah habis dan selalu berguna. Papi, terima kasih untuk memberikan kami, anak-anak papi, warisan yang tak ternilai harganya….

Entah kapan, aku tak mengingat waktunya….

Papi bukan orang yang taat beragama, bukan pula seorang atheis. Papi hanya orang yang memiliki prinsip hidup untuk tidak berbuat jahat kepada orang lain. Satu kata-kata yang kuingat dari papi, “Untuk apa jadi orang yang rajin berdoa, siang malam, tapi selalu marah-marah ke orang lain. Percuma saja mengucap doa, kalau kelakuannya tetap tidak baik.” Dulunya aku pikir papi salah, tapi sekarang aku membenarkan apa yang diucapkannya. Tapi tentunya aku menambahkan keyakinan di dalamnya, serta dharma sebagai dasarnya. Satu peristiwa yang juga kuingat jelas, papi bersedih karena adikku yang merupakan anak kesayangannya, harus seringkali mengalami nasib yang lebih jelek dibandingkan aku dan koko. Adikku lebih banyak harus berusaha sendiri. Saat itu aku hanya bisa berkata kalau itu adalah karmanya, dan papi marah karena ucapanku. Sayang… hal yang sangat aku sesalkan….aku tidak pernah sempat mengajarkan dharma kepada papi, meski aku tau, walaupun tidak mengenal dharma, hidup yang papi jalankan sebagian besar sudah sesuai dengan dharma….

Sekitar 8 tahun yang lalu….

Popo harus pergi meninggalkan kami…. Papi sangat menyayangi popo yang merupakan mamanya. Aku ingat mami pernah cerita, dulu saat mami sedang kesal karena hidup di keluarga besar, mami ingin pindah dan mencari rumah sendiri, saat itu papi menyetujuinya. Tapi belakangan papi meminta pengertian mami, bahwa papi tidak akan pernah tega meninggalkan popo, mamanya. Papi adalah anak yang sangat berbakti pada orang tua….

19 Oktober, 6 tahun yang lalu…

Hari ini hari wisuda koko dan aku, walaupun aku harus menunggu setengah tahun agar bisa wisuda bersama dengan koko, aku tidak merasa sedih. Aku senang karena hari ini satu keluarga berkumpul bersama, dan kami bisa memiliki foto keluarga. Papi terlihat sangat lelah, saat berjalan-jalan di mall malam itu, untuk pertama kalinya aku menggandeng lengan papi. Baru kusadari lengan papi begitu kokoh, papi memang memilki badan yang bagus. Aku merasa akan sangat aman sekali bila berada dalam pelukan papi. Tapi aku tau saat itu papi sangat lelah, aku bisa merasakan tubuhnya agak sedikit dingin. Malam itu kami makan bersama, sebenarnya aku ingin sekali malam itu jadi perayaan untuk ulang tahun perkawinan perak papi dan mami 4 hari kemudian, yaitu tanggal 23 Oktober. Tapi cukuplah malam itu dua keluarga, keluarga kami dan keluarga ku acen, makan bersama, semua merasa senang. Malam itu karena terjadi kesalahpahaman kecil, aku jadi tertinggal di mall sendiri dan harus balik ke penginapan yang untungnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan penyeberangan yang cukup panjang. Aku melihat wajah papi yang khawatir saat tau aku jadi harus pulang malam-malam sendirian. Tapi aku hanya tersenyum dan berkata, ‘Tidak usah kuatir, Jen sudah biasa…’

20 Oktober, 6 tahun yang lalu…

Papi dan mami harus kembali ke Lampung, sebelum masuk mobil, papi merangkulku dan adikku. Ia memegang pundakku seperti takut kehilangan dan seperti mengkhawatirkan sesuatu, papi juga terlihat seperti ingin menangis. Saat itu aku hanya bisa berkata, “Papi tidak usah khawatir, Jen kan sudah kerja, lagipula koko juga sudah diterima kerja. Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. King-king sebentar lagi juga akan lulus. Papi tenang saja, tidak usah banyak mikir…”  Aku tidak pernah mengira, itu adalah kata-kata terakhirku untuk papi, karena 4 hari kemudian, hari ini tanggal 24 Oktober, 6 tahun yang lalu, diusianya yang baru 61 tahun, papi pergi meninggalkan kami semua untuk selama – lamanya… hanya beberapa detik setelah sesak nafas yang menyerangnya, papi menghembuskan nafas terakhir di atas sofa tua tempatnya biasa duduk menonton televisi ataupun membaca koran sambil merokok….

“Memang benar, orang baik biasanya mati muda….”

Semua kenangan ini kuabadikan untuk papi tercinta, agar aku selalu ingat akan papi, sosok tegar, sabar dan baik, yang akan selalu hidup dalam hatiku….

Read Full Post »

Jodoh

Kalau mendengar kata ‘jodoh’ apa yang ada dalam pikiranmu? Sebagian besar orang akan bicara mengenai pasangan hidup, ya tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Beberapa hal membuatku berpikir mengenai makna ‘jodoh’ lebih dalam.

Kita mungkin pernah dengar dalam konteks mencari pekerjaan, seseorang tidak diterima di suatu perusahaan untuk pekerjaan tertentu, dan ada yang mengatakan ‘belum jodoh’. Lain lagi saat aku sedang mencari rumah, semula sudah ada 1 rumah yang aku, kakak dan adikku suka, tapi akhirnya rumah tersebut sudah keburu dibeli orang lain. Akhirnya kami hanya bisa berkata ‘ya mungkin belum jodoh, karena cari rumah juga jodoh-jodohan’.  Yang paling meninggalkan kesan adalah saat aku menonton drama “Seputih Cahaya Rembulan” dalam salah satu episode-nya A Cua terpaksa harus berjanji kepada ibu mertua-nya untuk tidak menjadi Bhiksuni, dan ia akhirnya dengan berbesar hati menerima itu dengan mengatakan kurang lebih seperti ini: “Mungkin dalam kehidupan ini aku belum berjodoh untuk menjadi seorang Bhiksuni.”

Dari contoh-contoh itu jelas makna ‘jodoh’ sangat luas sekali, tidak terbatas pada masalah hubungan antar manusia tapi juga dengan kejadian ataupun hal-hal di luar itu. Sebenarnya buatku makna dari kata ‘jodoh’ lebih pada ikatan karma. Pada kehidupan ini aku berjodoh dengan kedua orang tuaku, kakak-adikku dan saudara-saudaraku sehingga kami bisa menjadi keluarga. Dalam kehidupan ini aku berjodoh bertemu dengan sahabat-sahabatku. Semua itu erat kaitannya dengan karma masa laluku tentunya. Tapi ‘jodoh’ ini sendiri kusadari punya batas waktu. Tadi pagi aku berusaha mengingat-ingat berapa banyak teman lamaku yang sudah sama sekali tidak pernah berhubungan denganku, baik yang sudah pernah bertemu atau bahkan belum pernah sama sekali. Lucu ya, belum pernah bertemu sama sekali tapi bisa disebut berjodoh? Ya aku merasa berjodoh, karena sebagian dari mereka bisa membawa perubahan untuk diriku.

Aku jadi teringat seorang teman lama yang kutemui di dunia maya. Kami bisa begitu akrab walaupun tidak pernah bertatap muka secara langsung terlebih jarak yang jauh, dia di Australia sementara aku di Jakarta. Waktu itu masa-masa sulit dalam hidupku, kehilangan, sakit hati, semua masalah yang kualami bisa kubagi dengannya. Aku baru menyadari mungkin kalau dulu aku tidak punya sahabat sepertinya yang bisa memberiku semangat untuk terus berjuang, menghiburku saat kesusahan, aku belum tentu bisa jadi seperti sekarang ini. Itulah gunanya seorang sahabat, sahabat yang bisa dengan tiba-tiba hadir dalam hidupku karena ‘jodoh’. Sayangnya kami sampai sekarang tidak pernah bertemu, anehnya aku malah sudah pernah bertemu dengan istrinya. Mungkin belum ‘jodoh’ aku bertemu dengannya. Sejak tahun 2004 malah kami tidak pernah lagi berhubungan… sayang sebenarnya, seorang sahabat yang baik yang sempat memberikan warna dalam hidupku yang meninggalkan jejak dalam hatiku…. Sempat terpikir untuk menghubunginya kembali tapi entah kenapa sampai detik ini belum kulakukan, apalagi waktu berlalu sudah begitu lama, kadangkala aku berpikir apakah ia masih mengingat diriku? Bisa jadi tidak, padahal waktu itu walaupun terpisah jarak jauh, aku merasa sangat dekat…. ya mungkin ‘jodoh’ kita sebagai sahabat memang hanya sebatas itu….

Ada lagi seorang teman, kami bertemu waktu kuliah, beberapa kesamaan membuatku merasa cocok dengannya. Beberapa teman sempat menuduhkan aku jatuh cinta padanya. Tapi entah kenapa aku bisa mengatakan ‘tidak’. Bagiku dia lebih dari sekedar sahabat, kakak dan orang yang aku kagumi. Aku tau begitupun dengan dirinya, baginya aku juga hanya seorang sahabat. Dengan segala kekurangan dirinya yang aku tau, aku bisa menerima dia apa adanya sebagai sahabat yang menjadikan kami begitu dekat sebatas kesamaan hobby. Berbeda dengan sahabatku sebelumnya dimana aku bisa menumpahkan segala isi hatiku, masalahku, untuk sahabatku yang ini aku tidak ingin membagi itu semua dengannya. Cukup kami berbagi hobby dan kesukaan yang sama. Dan aku menangis untuk sahabatku yang satu ini, saat aku menyadari kami telah menjadi begitu jauh karena kesibukan masing-masing. Padahal untuk sahabat yang pertama dimana aku berbagi lebih banyak hal, saat kami tidak lagi berhubungan aku tidak terlalu merasa kehilangan…. Entahlah apakah ini ada kaitannya dengan ‘jodoh’? Mungkin karena rasa sayangku pada sahabatku yang kedua lebih besar daripada pada sahabatku yang pertama? Aku tidak tau….

Masih banyak lagi sahabat-sahabatku yang telah datang dengan sendirinya karena ‘jodoh’ dan sekarang sudah tak pernah lagi berhubungan denganku yang mungkin juga karena ‘jodoh’ yang sudah berakhir? Tapi yang pasti semua sedikit banyak telah meninggalkan bekas di hatiku….

‘Jodoh’ yang paling kurasakan adalah saat harus kehilangan orang yang aku sayangi. Sampai sekarang masih sering aku menyesali kenapa ‘waktu’ datang begitu cepat, ‘waktu’ bagiku untuk mengakhiri ‘jodoh’ ku dengan papi di kehidupan ini…. Kadangkala aku masih berharap papi bisa ada di tengah-tengah kami saat ini. Tapi kembali lagi, ‘jodoh’ atau ‘ikatan karma’ antara papi dan kami sudah harus berakhir, mau tidak mau aku harus menerimanya dengan berbesar hati…. Semoga di kehidupan yang akan datang kita masih bisa berjodoh sehingga aku bisa membalas budi kepada papi yang mungkin tidak sempat kulakukan di kehidupan sekarang.

Jadi apalah artinya ‘jodoh’? Ada pertemuan dalam satu kesempatan, dan ada perpisahan saat ikatan berakhir….

“Dedicated to my old friend Danny Wirawan (wherever you are), although we’d never met each other but you mean so much to me…. Thanks for being such friend during my difficult times…. “

Read Full Post »

Hari ini lagi-lagi aku dihadapkan pada pilihan antara Idealisme dan Materi, antara Idealisme dan Ketenangan batin….

Rasanya sulit untuk memilih, kalau kita dihadapkan pada satu hal dan harus mengorbankan hal lainnya…. Tapi aku belajar kadangkala kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan…pada saat itu apa yang kita pilih adalah jalan yang harus kita tempuh. Tak perduli apapun itu yang dipilih, asalkan kita menjalankannya dengan kesungguhan, pasti ada sesuatu yang kita dapatkan.

Kadangkala aku suka bertanya pada diriku sendiri, apa sesungguhnya yang aku cari? Kalau dulu ditanya seperti ini aku akan mengatakan aku ingin melakukan pekerjaan yang aku sukai. Aku ingin berkecimpung dalam dunia marketing consumer goods, inilah idealismeku….

Tapi setelah apa yang aku alami selama ini, setelah langkah mundurku pun ternyata tidak membawaku pada idealisme itu, apakah aku masih harus mengorbankan waktu dan ketenangan yang sudah kudapatkan saat ini?

Merenungi semua apa yang sudah aku alami, memahami semua kesusahan dalam hidup ini, rasanya aku sudah punya jawaban yang pasti untuk pertanyaan itu. Apa yang aku cari dalam hidup ini adalah ‘balance’, kata yang tampaknya sederhana tapi tidak mudah untuk didapatkan.

Mantan bosku pernah membantah dengan mengatakan ‘balance can be everywhere’, ya mungkin apa yang dikatakannya tidak salah. Tapi ‘balance’ untukku mungkin beda untuk dia, ‘Balance’ untukku adalah aku bisa bekerja, punya penghasilan yang cukup, punya waktu untuk keluarga, punya waktu untuk kehidupan spiritualku dan punya cukup waktu dan kesempatan untuk menolong orang lain….

Sederhana, tapi tidak mudah untuk didapatkan….Kadangkala saat idealisme itu muncul, rasanya ingin sekali beralih, tapi godaan materi seolah mengingatkan…. tapi dibalik itu semua ‘balance’ yang selalu ingin ku jaga….

Kalau bicara ‘balance’, pengorbanan yang harus kita lakukan memang berat, seperti ketika Pangeran Siddharta mencari pencerahan hingga menemukan ‘Jalan Tengah’ sebagai ‘obat’ untuk melenyapkan penderitaan….

Terlepas dari penderitaan, selalu ada hikmah yang bisa kita pelajari…. rasanya sulit sekali untuk memilih apalagi menjalankan sesuatu yang tidak kita inginkan, tapi walau bagaimanapun di setiap detik, setiap nafas dan setiap tindakan kita selalu ada sisi lain yang bisa kita pelajari dan mungkin kelak berguna untuk kita….

Teratai

Teratai

Read Full Post »

« Newer Posts