Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Contemplation’ Category

Sejak semula kupikir hatiku bagai kristal kaca
Begitu bening dimana dapat kau lihat wajahmu di sana
Yang mampu memantulkan cahaya hingga berkilau tujuh warna

Sejak semula kupikir hatiku bagai kristal kaca
Yang begitu rapuh dan mudah terluka
Dengan sedikit benturan akan tergores bahkan hancur tak bersisa

Kerasnya hantaman batu akan menghancurkanku!
Tajamnya mata pisau akan menggoresku!
Panasnya bara api akan membakarku!

Ternyata aku salah…
Hatiku bukanlah kristal kaca,
Hatiku adalah telaga…

Hantaman batu hanya membuat riak kecil di sana,
dan itu pun tak lama…
Tajamnya pisau takkan pernah membuat luka,
Apalagi api tak ada tempat baginya tuk membara…

Karena hatiku adalah telaga…
Yang luas bak samudra,
Bening bak kristal kaca…

Hatiku adalah telaga…
Yang menanti sang riak untuk tiada…

Jakarta, 16 August 2011

 ~Jen ~

感恩上人, 你打开我的眼睛…

Read Full Post »

Akhir-akhir ini entah kenapa aku jadi punya kegiatan baru, kegiatan yang semula sama sekali tidak aku sukai. Menonton film di bioskop, ya, dulu aku tidak suka nonton film di bioskop, karena buatku agak sedikit membosankan, harus duduk manis di ruangan yang gelap selama 2 jam bersama orang-orang yang tidak aku kenal. Herannya justru sekarang di saat film-film import sulit masuk ke Indonesia, aku malah jadi hobby menonton. Sebenarnya ini pun bukan merupakan hobby, kegiatan ini hanyalah sekedar untuk menghabiskan waktu ku, menghilangkan kepenatan di tempat kerja. Dan yang terutama, aku selalu mencari hal-hal baru dan pembelajaran dari setiap film yang aku tonton.

Sesungguhnya dari segala hal kita bisa belajar, bahkan dari hal kecil di sekeliling kita, yang kita lakukan sehari-hari pun, kita bisa belajar, asalkan kita mau sedikit lebih peka dan melihat dari segala sisi. Mungkin karena ‘hobby’ belajar ini pula yang membuat otak ku jadi terbiasa berpikir dan aku jadi seorang pemikir. Entahlah, kadangkala melelahkan memang, tapi dibandingkan rasa lelah, kupikir ‘pelajaran’ yang kudapat jauh lebih berharga.

Lucunya lagi seringkali pelajaran yang kudapat itu seperti menjawab pertanyaan yang sedang berkutat di otakku, ataupun sekedar mengingatkanku bagaimana seharusnya mengambil sikap dalam menghadapi permasalahan yang tengah terjadi. Seperti yang selalu kuyakini, ‘Tuhan’ selalu punya cara-Nya sendiri untuk ‘menegurku’ atau sekedar ‘mengingatkanku’…

Dari empat film yang kutonton dalam waktu satu setengah bulan terakhir ini, aku belajar banyak hal, bahkan ada yang seolah memberi ‘tamparan’ cukup keras, yang membuatku tersadar akan kesalahanku selama ini. Dan sekarang, aku mencoba menuliskannya kembali satu per satu, menuliskan kembali apa yang aku dapat, sebagai pengingat untuk diriku, kelak jika aku lupa atas pelajaran ini.

Berperan Hingga Akhir Cerita

Dalam hidup ini, siapa yang tidak memiliki masalah? Sesungguhnya hidup itu sendiri adalah sebuah ‘masalah’, dan bisa juga menjadi ‘bukan masalah’. Masalah ada karena kita menganggapnya demikian. Saat menghadapi sebuah kejadian yang kita anggap suatu ‘masalah’, kita seringkali tidak dapat mengontrol diri kita. Kemarahan, kebencian, dendam, putus asa, segala reaksi bisa saja terjadi karena kita tidak dapat berpikir dengan jernih. Salah satu adegan di film ‘My Sassy Girl’ yang aku tonton, memperlihatkan bagaimana seorang pria yang kecewa karena dikhianati kekasihnya berniat untuk membunuh sang kekasih beserta pacar barunya. Saat diingatkan kalau tindakannya itu malah justru akan merugikan dirinya, dia berbalik ingin bunuh diri. Tetapi lagi-lagi dia diingatkan, bunuh diri pun bukan penyelesaian masalah. Dengan kematiannya apakah akan membawa dampak bagi si kekasih? Kematiannya mungkin tidak akan berarti apa-apa, dan hanya sia-sia belaka. Saat itu si pemeran utama wanita mengatakan ke pria ini, bahwa memang menyakitkan dikhianati dan mengalami hal yang demikian, tetapi hidupnya tetap terus berjalan, dengan atau tanpa kekasihnya. Dia harus memainkan perannya sendiri dalam kehidupan ini hingga usai.

Rasa putus asa seringkali membuat orang berpikir pendek dan ingin mengakhiri hidupnya, padahal kehidupan ini sungguh berharga. Segala kesusahan, segala kesedihan, kesenangan dan kegembiraan, tidak ada yang abadi, semua hanyalah ilusi dan akan berlalu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian, seberapa senangnya kita, seberapa sedihnya kita saat ini, semua akan segera berlalu, karena kita hidup di ’saat ini’ yang terus berjalan, ’saat ini’ yang tidak pernah sama dari detik ke detik. Jadi janganlah berhenti sebelum ’peran’ mu usai, karena kamu tidak akan tahu akhir dari cerita hidupmu.

Takdirmu Ada di Tanganmu

Masih dari film yang sama, ‘My Sassy Girl’, adegan menjelang akhir cerita benar-benar seperti sebuah tamparan buatku. Diceritakan si pemeran utama wanita dan pemeran utama pria sama-sama menuliskan surat dan menyimpannya di bawah sebuah pohon di taman. Mereka lalu berjanji untuk bertemu kembali di tempat itu setahun kemudian untuk saling membaca isi surat mereka masing-masing. Saat yang ditentukan, hanya si pria yang datang, dan di surat wanita itu menulis bahwa sebenarnya dia memiliki seorang kekasih yang sudah meninggal, dan rasa kehilangannya belumlah pulih. Jika pada hari yang ditentukan dia datang ke tempat itu, maka itu berarti dia sudah pulih, dan jika dia tidak datang, itu berarti dia belum pulih dan untuk itu dia tidak mungkin bersama dengan si pria. Dengan ketidakhadiran si wanita, jelas berarti dia masih belum sembuh dari rasa kehilangannya dan mereka tidak dapat bersama. Namun ternyata keesokan harinya si wanita datang ke tempat itu, dia telah pulih dari rasa kehilangannya, sehari setelah tanggal yang ditentukan. Di sana si wanita bertemu dengan seorang kakek yang menasihatinya untuk menelepon si pria, tetapi apa yang dikatakan si wanita? Kenyataan bahwa dia pulih sehari setelah tanggal yang dijanjikan itu menandakan kalau ’takdir’ mereka memang tidak untuk bersama. Dan si kakek mengatakan kalau takdir itu seharusnya dia sendiri yang menentukan, bukannya lantas dia pasrah terhadap takdir.

Menyaksikan adegan ini membuatku teringat dengan diriku sendiri. Selama ini aku selalu melakukan hal yang serupa. Saat pindah kerja misalnya, kadangkala aku seperti ’bermain judi’, jika diterima aku pindah, jika tidak ya sudah, walaupun seringkali apa yang ditawarkan di tempat kerja baru tidak sebaik di tempat kerja sebelumnya. Padahal bisa saja aku menolak jika memang  penawarannya tidak sesuai, tetapi aku menerimanya atas nama ’takdir’!. Entah kalau mau dihitung sudah berapa banyak hal serupa terjadi, termasuk saat aku menyukai seseorang, aku pun melakukan hal yang sama. Jika dia membalas sapaanku, berarti dia jodohku, dan seterusnya. Dan disadari atau tidak, tindakanku ini secara tidak langsung adalah ’menyerah’ pada keadaan. Aku sama sekali tidak berusaha untuk ’mengejar’ apa yang aku inginkan. Kadangkala sempat terbersit kalau harusnya aku bisa lebih dari aku yang sekarang, tetapi karena ’pasrah pada takdir’ tadi, aku hanya jadi aku yang sekarang. Menyesalkah aku? Ya aku menyesal, menyesal karena baru menyadarinya sekarang . Tetapi bukan penyesalan yang terpenting, yang terpenting adalah bagaimana aku bisa menyadari kalau takdir itu kita sendiri yang menentukan. Sekalipun kadangkala memang ada hal di luar kuasa kita yang menentukan, tetapi itu pun sesunggunya ’diri kita’ juga yang menentukan. Kita sendirilah penulis naskah untuk cerita yang akan kita jalani dalam kehidupan ini. Jadi tentukanlah jalan cerita yang terbaik untuk diri kita masing-masing, dan perankanlah itu sebaik-baiknya. Cerita sedih ataukah bahagia, sesungguhnya tidaklah penting, bagi seorang aktor yang utama adalah memerankan cerita hingga usai dengan sebaik-baiknya…

Jakarta, 1 July 2011

~Jen~

Read Full Post »

 

Bukan karena kertas tak mau ditulis…

Bukan juga karena pensil tak mau dan tak bisa menulis…

Tapi karena memang belum ‘pantas’ untuk menulis dan ditulis…

 

Jakarta, 31 December 2010, 11: 59 pm

Read Full Post »

Ini tentang kemerdekaan, bukan tentang kemerdekaan Indonesia yang ingin saya tulis. Hari ini 17 Agustus adalah peringatan ke-65 kemerdekaan Indonesia, negeri tempat saya dilahirkan, tetapi bukan itu yang ingin saya tulis. Memang ini berawal dari moment kemerdekaan Indonesia, yang membuat saya menjadi ‘tersadarkan’ saat membaca status dan tulisan beberapa teman saya mengenai kemerdekaan ini.

Saya menemukan banyak di antara teman saya mengeluhkan makna ‘kemerdekaan’ yang menurut mereka masih dirasa belum lah merdeka, karena masih banyak bentuk lain ‘penjajahan’ di sana sini. Tetapi bukan itu pula yang ingin saya tulis di sini, melainkan apa yang akhirnya saya sadari hari ini, bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa ini.

Hari ini saya menyadari kalau kita semua yang masih hidup di muka bumi ini sesungguhnya belumlah merdeka, kita belumlah ‘bebas’. Kita semua masih merasakan ketidakpuasan, yah, ketidakpuasan karena adanya keserakahan, kebencian dan kebodohan yang masih meliputi kita. Kita masih berputar di dalam samsara, terlahir lagi dan lagi, berulangkali, terus dan terus masih harus menempuh perjalanan yang seolah tiada akhir ini… lalu bisakah kita dikatakan sudah merdeka dengan kondisi seperti ini? Di manakah letak kemerdekaan itu?

Masing-masing kita harus memperjuangkan kemerdekaan diri kita, sendiri. Karena yang seharusnya merdeka adalah diri kita masing-masing. Perjuangan ini tidaklah mudah, bukan pula bisa diraih dalam waktu yang singkat. Tetapi tiada yang tidak mungkin, asalkan ada tekad dan usaha yang tak kenal lelah, saat ini, nanti dan seterusnya, sampai kapanpun…

Jalan ini terlalu panjang,

tidak hanya berliku, tetapi seringkali pula berbatu…

Tubuh ini kadangkala terasa letih,

kejenuhan kerap kali menyapa,

tetapi masih langkah ini belum jua mencapai tujuannya,

sebuah kemerdekaan sejati…

Kemerdekaan, kebebasan, kapankah akan bisa kuraih?

Tak putus asa-ku,

tak kendor semangatku,

tak goyah tekadku,

suatu hari nanti, pasti aku kan menyapamu…

Jakarta, 17 Agustus 2010

~Jen~

dalam kesadaran atas ‘kemerdekaan’ yang belum diraih…

Read Full Post »

Netral

Sudah lama sekali aku tidak menulis untuk diriku sendiri. Banyak cerita, banyak kisah, banyak pelajaran yang aku dapatkan dalam bulan-bulan terakhir ini, tapi ‘waktu’ untuk menulis buat diri sendiri ini yang mungkin kurang. Karena segala sesuatu berdasarkan prioritas, ada hal yang lebih penting yang membutuhkan waktu dan perhatian lebih banyak ketimbang menulis buat diri sendiri. Saat ini, saat kantuk tidak juga datang, entah karena terlalu lelah ataukah karena jam tidur yang sudah lewat, ini menjadi kesempatan yang bagus untuk dilewatkan begitu saja, ini adalah waktu untuk menulis bagi diriku sendiri.

Tak banyak yang akan aku tulis, hanya satu hal yang terlalu sayang untuk aku lewatkan. Sebuah pengalaman yang sangat berharga di dalam hidupku. Kurang lebih tiga minggu yang lalu, aku baru mengalami sendiri apa yang seringkali disebutkan orang, bahwa kondisi itu ‘netral’ adanya, untuk itu kitapun harus bisa menyikapinya secara ‘netral’ tanpa melibatkan persepsi apapun.

Jumat sore sehabis hujan, sudah pasti membuat kemacetan di Jakarta. Berencana pulang ke rumah, dengan tas berisi laptop yang cukup berat, membuat aku memutuskan mencari bus dimana aku bisa mendapatkan tempat duduk, mengingat perjalanan yang cukup jauh dari kantor sampai ke Grogol sebelum dilanjutkan lagi ke rumah. Mulanya aku merasa cukup beruntung mendapatkan bus yang tidak penuh sehingga bisa mendapat duduk, namun sayangnya baru berjalan tak berapa jauh, seluruh penumpang bus malah dipindahkan ke bus sebelah yang lebih padat penumpang, jelas aku tidak akan mendapatkan tempat duduk. Mengingat perjalanan cukup jauh, dan tas yang cukup berat, kuputuskan untuk menunggu bus lainnya lagi.

Sayangnya jalanan justru bertambah macet, dan tidak ada satupun bus kosong berikutnya yang melintas di depanku. Menunggu hampir 10 menit, kuputuskan berjalan kaki menuju perempatan yang jaraknya lumayan jauh, di tengah gerimis yang masih mengguyur kota Jakarta sore itu. Perlahan, aku melangkahkan kaki, menyusuri trotoar, dengan ditemani hujan gerimis kecil. Bukannya aku tidak membawa payung saat itu, tetapi kadangkala aku ingin menikmati tetesan air hujan yang turun membasahi tubuhku, melarutkan segala permasalahan dan kegundahan hatiku. Namun saat itu bukan hal tersebut yang membuat aku tidak membuka payung, tetapi karena berjalan di trotoar dengan membawa tas yang cukup besar dan berat, sangatlah sulit bila harus ditambah dengan memegang payung.

Menyusuri trotoar yang tidak rata dan cukup licin sehabis hujan, membutuhkan konsentrasi dan kesadaran penuh agar tidak terpeleset. Saat itulah, pada moment itu aku menyadari bahwa aku berada pada kondisi ‘sadar’ dan ‘apa adanya’. Sama sekali aku tidak merasakan kesal dengan apa yang menimpaku, dan menyadari aku berada pada kondisi ‘sadar’ pun tidak membuat aku bergembira. Yah saat itu aku hanya merasa ‘netral’ dalam menyikapi kondisi yang tengah aku alami. Bukannya tanpa rasa, sungguh sangat sukar dilukiskan, tapi moment itu begitu menenangkan. Saat aku melangkahkan kakiku dengan kesadaran penuh, dengan gerimis yang membasahi tubuhku, di tengah deru kendaraan yang begitu berisiknya di sebelah kananku, aku tetap berjalan dengan tenang.

Malam itu aku mencoba melihat kembali apa yang sudah aku alami pada sore itu. Ada perasaan tidak percaya dan sedikit takjub, bahwa aku bisa bersikap demikian. Sesungguhnya aku bukan orang yang sabar, dan biasa aku bereaksi dengan cepat atas kondisi yang menurutku tidak mengenakkan. Untuk itulah malam itu aku merasa sangat bersyukur atas aku hari ini, yang sudah mengalami perubahan yang begitu besar menurutku sendiri. Aku yang dulu tidak akan mungkin mengalami moment yang begitu berharga tersebut. Aku yang dulu sudah pasti ‘bereaksi’ atas kondisi tidak menyenangkan tersebut yang pada akhirnya malah sering merugikan diriku sendiri.

Sekeras apapun orang bisa berubah, karena yang terkondisi di dunia ini tidaklah kekal adanya. Setiap orang bisa berubah, asalkan ia sendiri mau berubah. Sesungguhnya bisa menyikapi segala sesuatu dengan ‘netral’ bukanlah perkara mudah, kadangkala hal kecil justru menyebabkan terjadinya gejolak dalam batin kita dan tak sedikit yang berakhir dengan perselisihan. Sebuah moment yang sangat berarti, semoga bisa terulang dan terus kupertahankan, agar aku senantiasa ‘sadar’ di dalam jalan yang sudah kupilih dan tengah aku jalani… sadhu sadhu sadhu.


Jakarta, 26 July 2010

~Jen~

Read Full Post »

M-A-R-R-I-A-G-E atau P-E-R-N-I-K-A-H-A-N, satu kata yang rasanya bisa jadi hal  yang paling sensitif buat sebagian orang terutama para perempuan ataupun pria single seusia saya yang sudah berkepala tiga. Sejujurnya buat saya pribadi, kata ini gak berarti apa-apa, karena memang saya tidak pernah memikirkan hal ini dan tidak terlalu perduli dengan usia saya yang sudah kepala tiga. Buat saya hidup ini biarkanlah mengalir, menikah, tidak menikah, itu adalah pilihan masing-masing orang, dan yang namanya ‘jodoh’, pasangan hidup, tentulah erat hubungannya dengan ‘karma’ masing-masing orang, walau inipun masih bisa diusahakan, bukan merupakan harga mati, karena segala sesuatu buat saya tergantung dari diri kita sendiri, yang di luar kita: lingkungan, orang lain, hanya merupakan faktor pendukung terlaksananya saja.

Bicara soal pernikahan, buat perempuan yang sudah berkepala tiga seringkali dipenuhi kekhawatiran, mengapa sampai sekarang belum mendapat jodoh, ditambah jumlah populasi wanita yang lebih banyak daripada pria, pastinya mereka bertambah was-was, walaupun sejujurnya banyak juga pria di atas usia tiga puluh yang masih belum menikah, tapi mungkin kecemasan mereka tidak sebesar kecemasan para perempuan. Saya memahami hal ini, sangat memahami, tetapi kalau ditanya apakah saya termasuk salah satu dari perempuan-perempuan yang khawatir itu? Jawabnya dengan pasti, TIDAK, kenapa ‘tidak’? Banyak alasan, kenapa saya menjawab tidak, tapi ini adalah sebuah jawaban yang jujur. Saya tidak pernah khawatir di usia saya yang sudah kepala tiga ini saya belum menikah, bahkan berpacaran pun belum pernah. Rasanya aneh? Mungkin saja, karena sempat pula hal ini diutarakan oleh salah satu supplier kantor saya. “Aneh, mba belum pernah pacaran? Padahal kalau dilihat rasanya gak ada yang kurang, penampilan mba menarik dan cukup manis, enak pula diajak bicara dan cukup menyenangkan,” begitu kata perempuan tengah baya itu menilai saya yang baru satu kali itu bertemu dengannya dan berbicara selama kurang lebih 3 jam saja. Yah mungkin yang dibilang olehnya tidak sepenuhnya salah, walau juga tidak sepenuhnya benar, karena ‘penilaian’ itu sangat relatif. Tapi kembali lagi, untuk pacaran ataupun tidak pacaran itu adalah pilihan saya…

Saya jadi teringat, salah seorang teman pria saya sewaktu kuliah pernah bilang ke saya, para pria takut sama saya karena saya bisa melakukan segalanya sendiri. Mungkin yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah, saya memang terbiasa mandiri, saya tampak tidak butuh bantuan orang lain, termasuk untuk pekerjaan yang biasa dilakukan pria, selagi bisa saya usahakan sendiri pasti saya kerjakan sendiri. Mungkin karena hal ini, karena pria memiliki gengsi yang tinggi, jadi mereka cenderung lebih menyukai perempuan yang tampak ‘lemah’ dan butuh bantuan mereka, agar mereka terlihat sebagai ‘super hero’? Mungkin… kembali lagi, ini sebuah penilaian, dan sangat relatif…

Yang jadi masalah sebenarnya saya memang sempat terpikir kalau hidup seorang diri, tidak menikah, akan lebih bebas. Lingkungan tempat saya tinggal, banyak memperlihatkan kejadian pahit dari kehidupan berumah tangga, jadi kalau mau dikatakan mungkin memang ada sedikit ‘trauma’ di diri saya akan kehidupan perkawinan. Tetapi selain itu, saya sendiri pada dasarnya lebih suka menyendiri daripada harus bergaul dan berhubungan dengan banyak orang. Pertanyaannya pernahkah saya jatuh cinta? Saya masih perempuan normal, dan pernah melewati masa remaja dan tentunya juga pernah merasakan jatuh cinta walau mungkin bukan benar-benar ‘cinta’ karena sampai sekarang sejujurnya dari hati kecil saya yang paling dalam saya merasa belum menemukan apa yang disebut ‘cinta’ itu. Dan tak banyak kali saya jatuh cinta, karena saya memang bukan orang yang mudah jatuh cinta.

Kembali ke masalah M-A-R-R-I-A-G-E, mengapa saya menulis ini, karena belakangan ini agak risih saya mendengar pertanyaan ‘Kapan married?’ yang kerap ditanyakan oleh teman-teman dan orang-orang di sekeliling saya, padahal mami saya sendiri tidak pernah menanyakan hal ini. Tapi selain karena pertanyaan itu, ada satu kejadian yang membuat saya menulis tentang hal ini. Sebuah peristiwa, sebuah cerita yang disampaikan seorang yang mungkin tak perlu saya sebutkan namanya, yang tampak sebagai hal biasa saja, cerita yang sekedar untuk mencairkan suasana saat dalam perjalanan, tetapi buat saya ini bukan sekedar cerita biasa. ‘Tuhan’ selalu punya cara tersendiri untuk ‘memberitahu’ saya, ‘menasihati’ saya, melalui berbagai cara yang mendatangkan ‘pencerahan’ ataupun ‘teguran’ untuk saya.

Cerita ini tentang seorang perempuan, yang bekerja di luar negeri, karena masih muda dan menyukai bepergian, ia tidak pernah berpikir untuk menikah, berpacaran pun tidak. Dia sangat menikmati hidupnya yang bebas dan cukup bahagia menurutnya, bisa bepergian ke tempat-tempat yang indah setiap akhir minggunya, tanpa harus memikirkan banyak hal di rumah. Sampai ia kembali ke negaranya sendiri, melihat teman-temannya masih sama seperti dulu, sementara ia yang sudah melihat dunia luar, berharap teman-temannya dapat lebih maju sesuai ekspektasinya. Tak puas dengan apa yang ada, ia melanjutkan kuliah sambil bekerja, mengambil gelar master bahkan dari kelas yang paling sulit. Sehari-hari diisi dengan kesibukkan bekerja dan belajar, sampai saat kelulusan tiba semua rekan satu kuliahnya merayakan kelulusan dengan keluarga masing-masing dan tinggallah ia seorang diri. Semula ia mencoba merayakannya dengan mengajak teman satu apartment-nya makan, namun apa mau dikata si teman sudah janji menjenguk saudaranya yang sakit, tanpa tahu maksud di balik ajakan tersebut. Maka benar-benar tinggallah ia seorang diri, merayakan kelulusannya di apartemennya seorang diri. Saat itulah ia baru menyadari, apa yang sebenarnya ia cari selama ini? Apa gunanya yang ia lakukan selama ini? Dan ia menangis…. saat itu mungkin ia baru menyadari betapa ia sebenarnya kesepian. Dan di dalam isak tangisnya ia berdoa, seandainya memang ia harus menikah, sekiranya ‘Tuhan’ bisa membawa seorang pria ke hadapannya. Tapi ia sendiri menyadari bahwa ia tidak bisa hanya ‘menunggu’, ia tahu ia seharusnya banyak berteman dan mungkin pergi kencan.

Singkat cerita, suatu kali teman satu apartment-nya membawa teman-teman kantornya ke apartment mereka, dengan maksud mengenalkan ia dengan salah seorang dari mereka. Pria ini sudah berpacaran untuk waktu yang lama, dan beberapa kali sudah merencanakan untuk menikah, walau sayang akhirnya harus berakhir dengan perpisahan. Setelah pertemuan pertama itu, beberapa kali mereka pergi untuk sekedar menonton atau jalan bersama teman-teman lainnya. Belum lewat setengah tahun dari pertemuan mereka, perempuan ini harus kembali meninggalkan negaranya karena mendapatkan penempatan di luar negeri. Ia menyampaikan hal ini kepada si pria, dan pria itu bersikeras untuk mengantarkannya ke bandara. Saat hari keberangkatan tiba, itulah untuk pertama kalinya mereka hanya berdua saja, mengobrol banyak tentang keluarga dan hal-hal lainnya, tanpa saling berhadapan tentunya, sebab si pria sambil mengendarai mobil. Hubungan mereka yang terpisah jarak berlanjut melalui email dan sms, sampai ketika ia pulang ke negaranya untuk liburan, si pria berkata padanya bahwa dirinya ingin agar si perempuan menjadi ibu dari anak-anaknya. Saat itu si perempuan sudah berumur tiga puluh empat tahun dan ia hanya merasa bahwa doa nya sudah terjawab, seorang pria telah hadir di hadapannya, dan ia akan menjalani sebuah kehidupan pernikahan. Seperti yang sudah bisa ditebak, cerita berakhir dengan happy ending.

Mendengar cerita ini, saya jadi teringat, dulu saat kuliah, seorang sahabat pernah menasihati saya agar saya mencari pacar dan membuka diri. ”Sekarang mungkin kamu masih bisa tertawa-tawa karena masih banyak teman di sekeliling kamu, tapi nanti sepuluh tahun ke depan, kamu baru akan merasakan, semua teman-temanmu sudah berkeluarga dan kamu tertinggal sendiri,” begitu nasihatnya kepada saya. Waktu itu saya hanya tertawa, tidak salah walau tidak sepenuhnya benar, karena kembali lagi hal ini relatif tergantung siapa yang mengalaminya.

Tetapi saat ini, setelah cerita perempuan itu, saya menyadari ada sebuah hikmah yang harus saya petik, ‘Dia’ berbicara kepada saya melalui cara-Nya. Jadi sekarang bila ditanya sebenarnya apa pilihan saya, menikah ataukah tidak? Jawabnya….?

~ o ~

Saya selalu membayangkan akan ada tiga orang anak dalam kehidupan saya, seorang perempuan dan dua orang anak laki-laki kembar…

Semoga memang demikian adanya…

~ o ~

With or without you, my life still goes on…

With or without you, I have to go through this journey…

With or without you, I’ll chase my dream…

But…with you, my life will be complete…

In my faith I believe that one day I’ll find you…

In my faith I believe that one day you’ll find me…

And together we’ll share the joy and sorrow…

I’ll share my dream with you and so do you…

Together we go through this journey, as we did before,

a very long time ago…

It’s only about time, as you and I will fight for it…

It’s only about time…

Jakarta, 5 Juni 2010 ~ 12:08 am

~Jen~

Read Full Post »

Kesempatan Kedua


Satu tarikan nafas…kuhembuskan perlahan-lahan…berulang kali, lagi dan lagi… Merasakan setiap kesegaran udara yang masuk dan kelegaan saat menghembuskannya ke luar…

Seringkali aku bertanya di dalam hati, entah kepada siapa pertanyaan ini seharusnya kuajukan…entah siapa yang bisa memberikan jawaban atas tanya yang kerap mengusik diri ini… sebuah pertanyaan yang seringkali membuatku bersedih tetapi sekaligus merasa gembira dan bersyukur… sebuah tanya… mengapa aku masih bernafas hingga detik ini?

Semua orang bisa melakukan kesalahan, entah sebesar apapun atau sekecil apapun. Sayangnya akibat dari kesalahan itu berbeda-beda, seringkali kesalahan kecil mendatangkan malapetaka yang besar dan penyesalan yang tidak bisa tergantikan. Sebaliknya sebuah kesalahan besar bisa saja seolah tidak mendatangkan akibat apa-apa, seolah masih bisa dimaafkan… Kenyataan ini seringkali menimbulkan rasa tidak puas, seringkali menimbulkan tanya atas nama sebuah keadilan.
Kesempatan kedua, yah… sebuah kesempatan kedua yang diberikan setelah sebuah kesalahan dilakukan, kesempatan kedua yang sangat jarang sekali bisa kita dapatkan di dalam hidup ini…

Melihat kembali ke masa lalu, melihat diriku yang dulu rasanya tidak percaya kalau aku bisa menjadi seperti sekarang, terlebih setelah kebodohan yang aku lakukan dulu sekali… Tetapi banyak orang mengatakan kalau hidup adalah serangkaian proses, sebuah proses yang bisa menjadikan seseorang menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi lebih buruk, tergantung dari pilihan masing-masing orang itu sendiri, karena hidup ini juga sebuah pilihan. Aku menyadari, tanpa tumpukan karma baik di kehidupan lampauku, tidak mungkin aku mendapatkan kesempatan kedua… tidak mungkin aku bisa jadi seperti sekarang ini, begitu banyak ‘penolong’ dalam hidupku, begitu banyak hal-hal yang membuatku menjadi seorang manusia seperti saat ini.

Seorang teman mengatakan tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua terjadi karena ada sebabnya. Bukan kebetulan juga bila aku mendapatkan kesempatan kedua, dan aku percaya kesempatan ini diberikan kepadaku agar aku bisa memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan. Bisa menyadari segala kesalahanku, bisa memperbaiki diri, bisa menyembuhkan segala luka yang pernah tergores di hatiku, dan yang terpenting bisa mengerti tujuan hidupku saat ini dan nanti, semua itu bukan suatu kebetulan, semua itu bukan diperoleh dalam semalam, dan aku bersyukur karenanya. Aku bersyukur atas pilihan yang sudah aku buat selama ini yang membawaku kepada diriku sekarang.

Kadangkala sempat terlintas di benakku, seandainya tidak pernah ada kesempatan kedua, takkan pernah ada aku hari ini, masih mungkinkah aku mengenal Dhamma ajaran Sang Buddha? Masih adakah kesempatan buatku untuk mencapai apa yang menjadi tujuan hidupku? Aaahhh… segala kesalahan harusnya hanya sebagai pembelajaran, bukan sebagai sesuatu yang harus disesali berlarut-larut. Aku menyesal telah melakukan kebodohan itu, ya aku menyesal, tetapi saat ini aku sudah memaafkan diriku sendiri, dan belajar dari kesalahan itu. Masa lalu hanyalah sebuah kenangan, baik ataupun buruk. Kita tidak seharusnya hidup dalam kenangan, semua kenangan itu hanyalah pembelajaran untuk kita saat ini.

Sekarang aku hanya ingin berbahagia, merasakan keindahan hidup, menikmati hidup saat ini, di setiap detiknya, di setiap nafas yang masih aku hembuskan… Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua… karena kesempatan kedua ini begitu tak ternilai harganya, untuk itu aku bertekad tidak akan menyia-nyiakannya! Kesempatan kedua ini, yang sudah diberikan kepadaku, semoga bisa kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya…


Di tengah rasa syukur atas nafas yang masih bisa kurasakan hingga detik ini, dan pelajaran berharga atas kesalahan masa laluku, semoga tekadku bisa terwujudkan di kehidupan ini dan banyak kehidupanku selanjutnya…


“May I be a lamp for those who seek light, a bed for those who seek rest, and may I be a servant for all beings who desire a servant.” ~Shantideva~


Jakarta, 28 February 2010
~Jen~

Read Full Post »


Aku punya sebuah kegemaran, yang mungkin sedikit agak tidak lazim. Aku juga tidak tahu kapan awalnya aku mulai menyukai hal ini, mungkin sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, saat aku menjadi mahasiswi dan menetap di Jakarta. Seringkali pulang malam karena terlibat berbagai kegiatan atau sekedar hang out dengan teman, menimbulkan satu kegemaran baru buatku. Di dalam mobil yang melintasi jalan-jalan layang ibu kota di malam hari, ada yang menarik perhatianku. Aku selalu memandang keluar jendela dan melihat ke arah lampu-lampu jalan ataupun lampu-lampu gedung bertingkat. Ada perasaan yang tidak bisa kulukiskan dalam hatiku. Rasa senang, rasa damai, sendiri tapi tak sepi, dan aku betul-betul menikmati pemandangan malam dengan lampu-lampu kecil berwarna-warni itu.

Biasanya aku diam, tak banyak bicara, hanya memandangnya, menikmatinya, melebur di dalamnya, seolah aku berada di dunia tiada berbatas, yang gelap dan dingin, namun ada kehangatan kecil di sana, ada sinar-sinar yang memberikan perasaan damai, yang menghilangkan rasa takut ataupun kesendirianku saat berada di ruang tak berbatas itu.

Aku jadi sangat menikmati ritual ini, tiap kali pulang malam dan melewati jalan-jalan layang ibu kota, selalu kupalingkan wajahku ke luar jendela mobil, melebur di dalam kegelapan dan dinginnya malam, dan merasakan kehangatan dari sinar-sinar kecil itu. Lucunya karena begitu menyukai hal ini sempat aku berseloroh dengan temanku, aku ingin cari pacar hanya karena aku ingin diantar keliling kota malam hari, untuk menikmati hobbyku ini ☺.

Sudah lama sekali, aku jarang bisa menikmati hobbyku ini, karena tentunya aku sudah jarang pulang malam, atau kalaupun pulang malam situasinya tidak memungkinkan aku untuk menikmati hobbyku itu. Dan satu hal lagi, sayangnya sampai detik ini aku belum menemukan orang yang tepat yang mau mengantarku keliling kota di malam hari ☺.

Namun beberapa waktu yang lalu, aku harus pulang malam naik ojek dan ternyata melewati jalan layang. Kembali setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menikmati suasana malam dengan lampu-lampu kecil yang begitu indah. Dulu aku sangat takut naik motor dan cenderung memejamkan mataku kalau motor melaju dengan kencang. Lama-lama setelah terbiasa, aku lebih suka membuka mataku untuk menikmati jalanan yang kulewati. Begitu juga malam itu, saat melewati jalan layang, aku membuka mataku lebar-lebar dan kembali merasakan diriku melebur ke dalam langit malam yang gelap. Kali ini tiada lagi kaca jendela mobil yang menjadi penghalang, aku benar-benar merasa menyatu dengan gelap dan luasnya langit malam, di atas motor yang melaju kencang.

Kutolehkan kepalaku ke kanan, melihat titik-titik kecil lampu gedung dan lampu jalan yang banyak dan bersinar di tengah kegelapan malam. Ah… betapa indahnya, perasaan senang ini tak terlukiskan. Sedetik kemudian aku menyadari, mengapa aku begitu menyukai hal ini, mengapa selalu ada perasaan damai terselip di dalam hati walau gelap dan dingin menyelimuti.

Langit malam ini, layaknya samsara, begitu gelap, dingin dan menyakitkan, berulang kali, lagi dan lagi, kita manusia masih terjebak di dalamnya. Begitu pula batin ini, selama masih berada dalam samsara, kegelapan masih menyelimuti di sana. Tetapi, hei… begitu banyak sinar-sinar kecil yang membawa kehangatan, tanpa lelah berusaha memberikan terang di tengah kegelapan, karena itulah ia tampak begitu indah. Sinar-sinar itu adalah benih ke-Buddha-an di dalam hati kita masing-masing, setitik sinar harapan di tengah gelapnya dunia. Yah… itulah yang kurasakan, itulah yang membuatku tetap hidup hingga detik ini, sebuah sinar, setitik kecil harapan, bahwa suatu saat nanti ia akan dapat bersinar begitu terangnya hingga menghalau kegelapan untuk selamanya.

Sinar kecil ini, membuatku tidak merasa sepi ataupun sendiri, walau berada dalam dingin dan gelapnya samsara. Tentu saja, karena ‘Buddha’ selalu ada di sana, di dalam hatiku, sejak dulu, sekarang, nanti dan selamanya. ‘Buddha’ di dalam hatiku, adalah setitik harapan yang membuatku tidak berputus asa, yang membuatku selalu merasakan kedamaian, dan yang pasti membuatku yakin serta percaya, bahwa suatu hari nanti, gelap ini akan berlalu…

Jakarta, 9 February 2010
~Jen~

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »