Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My life journey’ Category


Aku punya sebuah kegemaran, yang mungkin sedikit agak tidak lazim. Aku juga tidak tahu kapan awalnya aku mulai menyukai hal ini, mungkin sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, saat aku menjadi mahasiswi dan menetap di Jakarta. Seringkali pulang malam karena terlibat berbagai kegiatan atau sekedar hang out dengan teman, menimbulkan satu kegemaran baru buatku. Di dalam mobil yang melintasi jalan-jalan layang ibu kota di malam hari, ada yang menarik perhatianku. Aku selalu memandang keluar jendela dan melihat ke arah lampu-lampu jalan ataupun lampu-lampu gedung bertingkat. Ada perasaan yang tidak bisa kulukiskan dalam hatiku. Rasa senang, rasa damai, sendiri tapi tak sepi, dan aku betul-betul menikmati pemandangan malam dengan lampu-lampu kecil berwarna-warni itu.

Biasanya aku diam, tak banyak bicara, hanya memandangnya, menikmatinya, melebur di dalamnya, seolah aku berada di dunia tiada berbatas, yang gelap dan dingin, namun ada kehangatan kecil di sana, ada sinar-sinar yang memberikan perasaan damai, yang menghilangkan rasa takut ataupun kesendirianku saat berada di ruang tak berbatas itu.

Aku jadi sangat menikmati ritual ini, tiap kali pulang malam dan melewati jalan-jalan layang ibu kota, selalu kupalingkan wajahku ke luar jendela mobil, melebur di dalam kegelapan dan dinginnya malam, dan merasakan kehangatan dari sinar-sinar kecil itu. Lucunya karena begitu menyukai hal ini sempat aku berseloroh dengan temanku, aku ingin cari pacar hanya karena aku ingin diantar keliling kota malam hari, untuk menikmati hobbyku ini ☺.

Sudah lama sekali, aku jarang bisa menikmati hobbyku ini, karena tentunya aku sudah jarang pulang malam, atau kalaupun pulang malam situasinya tidak memungkinkan aku untuk menikmati hobbyku itu. Dan satu hal lagi, sayangnya sampai detik ini aku belum menemukan orang yang tepat yang mau mengantarku keliling kota di malam hari ☺.

Namun beberapa waktu yang lalu, aku harus pulang malam naik ojek dan ternyata melewati jalan layang. Kembali setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menikmati suasana malam dengan lampu-lampu kecil yang begitu indah. Dulu aku sangat takut naik motor dan cenderung memejamkan mataku kalau motor melaju dengan kencang. Lama-lama setelah terbiasa, aku lebih suka membuka mataku untuk menikmati jalanan yang kulewati. Begitu juga malam itu, saat melewati jalan layang, aku membuka mataku lebar-lebar dan kembali merasakan diriku melebur ke dalam langit malam yang gelap. Kali ini tiada lagi kaca jendela mobil yang menjadi penghalang, aku benar-benar merasa menyatu dengan gelap dan luasnya langit malam, di atas motor yang melaju kencang.

Kutolehkan kepalaku ke kanan, melihat titik-titik kecil lampu gedung dan lampu jalan yang banyak dan bersinar di tengah kegelapan malam. Ah… betapa indahnya, perasaan senang ini tak terlukiskan. Sedetik kemudian aku menyadari, mengapa aku begitu menyukai hal ini, mengapa selalu ada perasaan damai terselip di dalam hati walau gelap dan dingin menyelimuti.

Langit malam ini, layaknya samsara, begitu gelap, dingin dan menyakitkan, berulang kali, lagi dan lagi, kita manusia masih terjebak di dalamnya. Begitu pula batin ini, selama masih berada dalam samsara, kegelapan masih menyelimuti di sana. Tetapi, hei… begitu banyak sinar-sinar kecil yang membawa kehangatan, tanpa lelah berusaha memberikan terang di tengah kegelapan, karena itulah ia tampak begitu indah. Sinar-sinar itu adalah benih ke-Buddha-an di dalam hati kita masing-masing, setitik sinar harapan di tengah gelapnya dunia. Yah… itulah yang kurasakan, itulah yang membuatku tetap hidup hingga detik ini, sebuah sinar, setitik kecil harapan, bahwa suatu saat nanti ia akan dapat bersinar begitu terangnya hingga menghalau kegelapan untuk selamanya.

Sinar kecil ini, membuatku tidak merasa sepi ataupun sendiri, walau berada dalam dingin dan gelapnya samsara. Tentu saja, karena ‘Buddha’ selalu ada di sana, di dalam hatiku, sejak dulu, sekarang, nanti dan selamanya. ‘Buddha’ di dalam hatiku, adalah setitik harapan yang membuatku tidak berputus asa, yang membuatku selalu merasakan kedamaian, dan yang pasti membuatku yakin serta percaya, bahwa suatu hari nanti, gelap ini akan berlalu…

Jakarta, 9 February 2010
~Jen~

Read Full Post »

LAKON

Tak kuingat lagi kapan mulanya… peran-peran itu aku mainkan…
Tak kuingat lagi apa awalnya… hingga aku terjebak dalam beribu lakon ini…

Yang kutahu aku sangat lelah…
Yang kutahu aku sudah muak!

Puji-pujian itu selalu memabukkan,
Bagai anggur merah yang membuatmu ketagihan!
Sorak sorai dan tepukan itu laksana candu yang menjeratmu,
Semakin dalam meresap dan mengakar…

Wajah-wajah penuh suka cita itu tampak bagai seringai serigala,
Yang siap menerkammu kapan saja kau lengah!

Dan cerca maki itu…saat gerak lakumu tak seperti yang mereka mau…
Rasanya begitu menyakitkan…
Bagai pisau sembilu mengiris hatimu,
Perlahan…semakin dalam…menorehkan kepedihan…

Ucapku…ini bukan suaraku!
Nyanyianku… ini bukan laguku!
Tarianku… ini bukan gerakku!
Peranku…ini bukan lakonku!

Aku muak! Aku ingin teriak!
CUKUP! CUKUP! CUKUP!

Cukup sampai di sini…lakon ini kumainkan…
Cukup sampai di sini…semua kepalsuan ini!

Dan heningpun berbicara…
…………………

Panggung ini tetap ada…
Aku masih berdiri di sana…
Di atas panggung bernama kehidupan…

Tapi yang kuucap adalah suara hatiku…
Yang kunyanyikan adalah lagu yang mengalun dalam symphony hidupku…
Gemulai lekuk tubuhku bergerak menarikan tarian jiwaku…
Dan kumainkan lakonku sendiri apa adanya…

Tak perduli ada atau tiada penonton di sana…
Tanpa sorak sorai dan gegap gempita…
Kumainkan lakonku sendiri…
Hingga tirai tertutup, mengakhiri kisahku dalam samsara ini…

Jakarta, 19 January 2010

~Jen~

di dalam diam kubicara…

Read Full Post »

Refleksi 2009


Kurang dari satu jam lagi tahun 2009 akan berakhir, berganti ke tahun yang baru, tahun 2010. Meskipun setiap detik adalah baru, tetapi pergantian tahun selalu membawa kesan tersendiri. Hampir 365 hari kulewati di tahun 2009 ini, banyak hal yang terjadi pada diriku, banyak hal yang membawa perubahan besar dalam hidupku…

Di tahun ini, tanpa sengaja aku dipertemukan dengan sahabat-sahabat baru yang memberikan warna tersendiri buat hidupku. Aku belajar banyak dari sahabat-sahabatku ini, ya banyak hal, tentang artinya kegembiraan, tentang artinya kebersamaan, tentang artinya cinta, persahabatan dan tentang artinya hidup… Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada sahabat-sahabatku ini…

Di tahun ini aku belajar untuk membuka hatiku agar dapat merasakan betapa indahnya dunia dan hidup ini, bila kita bisa menjalaninya dengan penuh kesadaran… hidup yang semula selalu kuanggap sebagai sesuatu yang menyedihkan dan penuh kesengsaraan… Aku menyadari bahwasanya kebahagiaan sesungguhnya hanya tergantung dari cara pandang saja. Saat aku belajar melihat segala sesuatu dari sudut yang berbeda, aku jadi bisa merasakan betapa beruntungnya aku. Aku lebih bisa memahami dan menghargai orang lain.

Tahun ini banyak kehilangan yang aku rasakan, mulai dari hal-hal kecil hingga kehilangan besar yang semuanya telah mengajarkanku untuk ‘belajar melepas’ , tidak terikat dengan segala sesuatu yang ada, karena pada dasarnya segala yang terkondisi tidak kekal adanya. Tahun ini karena harddisk laptopku rusak, tidak ada satupun data yang selamat, padahal banyak file yang aku tidak memiliki copy nya lagi, file-file yang tentunya penting untukku, tetapi ya sudahlah… Kehilangan terbesar yang terjadi padaku di tahun ini adalah kepergian popo dari kehidupan ini. Aku sempat menyaksikan popo yang terbaring lemah di saat-saat terakhirnya, yang membuatku jadi menyadari memang tiada yang abadi, setiap kita pasti akan bertambah tua, menderita sakit dan akhirnya mati, itu adalah pasti. Kita yang masih hidup di dalam lingkaran samsara ini tidak akan luput dari kematian.

Belajar berbesar hati, itu juga pelajaran yang kudapat di tahun 2009 ini. Menyukai satu orang untuk waktu lebih dari sepuluh tahun lamanya, kadangkala membuatku bertanya sendiri, apakah ini cinta? Apakah ini hanya sekedar rasa penasaran belaka? Ataukah ini sesungguhnya hanya keterikatan yang berbalut kesetiaan? Pada akhirnya aku menyadari, dan aku bisa menerima dengan berbesar hati, dia bukanlah untuk diri ini. Pada akhirnya aku bisa melangkah maju melepaskan diri dari belenggu keterikatan masa laluku….

Akhir tahun ini, perubahan besar terjadi pada hidupku. Mendapat pekerjaan baru yang semula tidak pernah kuduga, pekerjaan yang seharusnya menjadi impianku, tetapi ternyata semua tidak semudah yang aku bayangkan. Aku sendiri tak tahu mengapa aku menerima pekerjaan ini, karena semula aku sudah memiliki rencana yang lain untuk hidupku. Tetapi kembali lagi hidup ini pilihan, aku sudah menetapkan pilihan mengikuti kata hatiku, dan untuk itu aku harus percaya, ada hal yang harus kupelajari dari setiap kesusahan yang aku alami, dari setiap air mata yang aku teteskan dan dari setiap sakit hati yang aku rasakan. Semua itu pun mungkin sesungguhnya hanya persepsiku saja? Sesungguhnya tidak ada yang namanya kesusahan itu, tidak perlu air mata dan tidak seharusnya hatiku merasakan sakit? Aku tidak tahu, aku hanya percaya, semua yang terjadi pasti ada sebabnya, dan semua yang terjadi dalam hidup ini adalah sebuah proses pembelajaran yang bisa menjadikan kita lebih baik.

Saat ini, di tengah sedikit rasa bimbang yang masih kurasa, rasa sepi yang kadangkala menyapa dan rasa hampa yang kerap menyiksa, tahun akan segera berganti tanpa memberiku sedikit waktu untuk bisa menemukan jawabannya…

Tahun akan segera berganti, jalan panjang baru akan kutapaki, semoga aku selalu memiliki semangat, kesabaran dan kesadaran di dalam menjalaninya. Karena kutahu yang pasti, semua ini semata untuk satu tujuan, tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya…

Selamat Tahun Baru 2010, kembali tak putus kumohonkan harapan yang selalu sama lagi dan lagi: “Semoga semua makhluk berbahagia…”

Jakarta, 31 Desember 2009
~Jen~

Read Full Post »

Kristal


Aku suka kristal, karena buatku kristal itu cantik dan indah.
Kristal itu bening dan sedikit menyilaukan.
Dari segala jenis barang berharga, kristal memiliki magnet tersendiri buatku.
Kristal itu menyimpan kekuatan di dalam setiap sudutnya yang bening
Tetapi sekali kau menjatuhkannya dia bisa hancur berkeping-keping…
Kristal itu tampak kokoh walau nyatanya dia begitu mudah terluka…

Memandang kristal ada perasaan tersendiri terselip di hatiku…
Bagai dapat merasakan kesepian sekaligus keheningan dalam diamnya yang dingin…
Tak banyak orang menyukai kristal, yang sepertinya sangat sulit dipahami…
Apa indahnya sebongkah kaca yang tak bermakna?
Tak banyak yang menganggapnya berharga karena merasa tak ada fungsinya…

Tetapi tetap aku menyukai kristal, karena kilau kecilnya telah menyentuh hatiku…
Sekalipun cahaya itu bukan berasal dari dalam dirinya, tetapi sekecil apapun cahaya yang diterimanya akan dibaginya untuk yang lain…
Lewat kilaunya yang indah, ke segala penjuru…

Aku sangat sangat menyukai kristal…
Mengapa?
Karena bagiku kristal begitu mirip dengan aku…

Jakarta, 29 Desember 2009
~Jen~

Read Full Post »

The Journey


Bulan November sudah hampir berlalu, tapi belum ada satupun tulisan yang aku hasilkan di bulan ini selain dua buah puisi. Bukan, bukan karena aku kehilangan inspirasi untuk menulis, banyak sekali yang ingin kutulis, tetapi rasa lelah dan penat membuatku enggan untuk memulainya. Kesibukan di tempat kerja baru sangat menyitaku, karena masih dalam masa penyesuaian tentunya dan ini bukan hal yang mudah. Beradaptasi buatku bukan hal yang sulit, tetapi kali ini agak berbeda, karena aku harus berhadapan dengan sesuatu yang sebenarnya merupakan kelemahanku. Tetapi aku tidak mau lari, aku menyadari ini harus kuhadapi, sekarang atau nanti, kalau aku tidak berusaha mengatasinya, ini akan jadi sebuah masalah. Dengan mengatasinya aku percaya akan ada kebaikkan yang bisa kudapat. Lagipula belajar mengatasi kelemahanku ini juga sekaligus melatih kesabaranku.

Bicara mengenai lari dari masalah, ini sekali lagi mengingatkanku akan kehidupan yang aku jalani. Aku menyadari, sungguh menyadari bahwa hidup ini adalah rangkaian ketidakpuasan buat aku yang masih berada dalam lingkaran samsara. Menyaksikan popo yang terbaring di ranjang rumah sakit, dengan tubuh yang tinggal tulang dibalut kulit, dan nafas yang terasa berat, aku dihadapkan pada kenyataan bahwa segala yang terkondisi tidak kekal adanya. Aku jadi sedikit mengerti bagaimana perasaan pangeran Siddharta saat melihat orang tua dan orang sakit. Suatu hari nanti tubuh ini pun akan seperti itu, tubuh yang saat ini mungkin susah payah kita rawat dengan biaya yang tidak sedikit, suatu hari semua itu tidak lagi ada artinya… yang tersisa hanyalah keriput di sana sini, rambut yang memutih, gigi yang sudah tak lengkap lagi, dan tenaga yang bahkan untuk membuka matapun sudah tidak sanggup…

Melihat kenyataan ini, lagi dan lagi, di dalam diri ini ada ketidakpuasan, mengapa diri ini masih harus mengalaminya? Mengalami lagi kelahiran yang berulang? ‘Jalan’ sudah ditunjukkan oleh guru Buddha “yang sadar”, tetapi sudahkah diri ini menapaki ‘jalan’ itu? Mengapa begitu sulit untuk memutuskan? Kadangkala keinginan itu timbul di dalam hati kecil ini, keinginan untuk menapaki ‘jalan’ sepenuhnya. Tetapi rangkaian proses di dalam hidupku telah memberiku banyak pelajaran. Hidup dalam tekanan, rasa ego, keinginan untuk memuaskan setiap orang, dan banyak lagi hal lainnya, akhirnya membuatku menyadari apa yang seharusnya kulakukan dalam hidup ini, apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya. Walaupun kadangkala masih sedikit kurasa sedih di dalam hati, merasa ada yang patut disayangkan karena tak dapat diwujudkan… tetapi aku tidak mau menjadikan ‘jalan’ ini sebagai pelarianku atas masalah-masalah dalam hidupku saat ini. Aku ingin menempuh ‘jalan’ ini dengan keikhlasan, ketulusan dan keyakinan yang kuat bahwa suatu hari nanti, entah setelah berapa banyak kehidupan lagi, di dalam ‘jalan’ ini akan kucapai tujuanku. Dan saat itu adalah akhir dari perjalanan panjang tak berujung ini…

Aku percaya dalam kelahiran ini ada yang harus kulunasi dan kutuntaskan, ada kebajikan yang harus kulakukan dalam proses menuju kesempurnaan. Dan aku menyadari bahwa kesempurnaan bukanlah suatu yang dengan mudah diperoleh dalam semalam, aku yang masih penuh noda, butuh waktu untuk perlahan-lahan mengikis semua noda ini. Perlu proses untuk bisa melihat kebenaran secara utuh dan nyata, bukan hanya sebagai potongan-potongan yang seringkali tampak berbeda. Untuk itulah aku sudah memutuskan pilihanku, untuk menerima apa yang menjadi karmaku dengan tangan terbuka dan hati yang lapang, serta menjalaninya dengan sepenuh hati, apapun itu, di dalam keyakinanku, semoga karenanya aku bisa menjadi lebih baik lagi agar dapat terus melanjutkan perjalananku menyeberangi samudera samsara menuju ke pantai bahagia, Nibbana

Jakarta, 29 November 2009
~Jen~

Read Full Post »

Papi, apa kabar?

Tidak terasa 7 tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari dimana papi harus pergi meninggalkan kehidupan ini, meninggalkan mami, koko, Jen dan King-king. Rasanya masih seperti kemarin, masih terbayang jelas di ingatan Jen saat harus melepas kepergian papi. Selama hampir 5 hari menahan air mata, betapa beratnya untuk Jen, yang paling tidak tahan dengan perpisahan, tapi karena tidak mau memberatkan papi, Jen menahan air mata itu supaya tidak jatuh. Sampai akhirnya, saat aba-aba untuk menekan tombol oven kremasi diucapkan, tumpah juga segala kesedihan itu… isakan tangis tanpa air mata, yang baru sekali seumur hidup Jen alami… ternyata istilah air mata buaya itu tidak salah juga, karena kesedihan yang sesungguhnya itu membuat kita bahkan tidak mampu untuk menitikkan air mata…

Papi, Jen gak mau cerita yang sedih-sedih lagi sama papi, semua kesedihan sudah seharusnya berlalu. Surat yang Jen tulis ini, sebagai pengganti cerita yang ingin Jen sampaikan ke papi, seperti dulu saat kita sering ngobrol di toko, tentang banyak hal. Jen merindukan hari-hari itu, karena buat Jen, papi adalah teman bicara yang menyenangkan. Jen yang termasuk sulit bila harus bicara dengan orang, sama seperti papi tentunya, tapi kalau kita sudah bicara, rasanya menyenangkan sekali, apalagi  saat kita membahas soal marketing. Dan taukah papi, sekarang Jen menekuni pekerjaan itu, pekerjaan marketing.

Papi, sebenarnya banyak yang ingin Jen ceritakan ke papi, soal pekerjaan Jen, Koko, dan King-king tentunya, juga soal mami, tapi rasanya semua itu tidak akan habis ditulis. Yang pasti Jen hanya mau bilang ke papi, kita semua di sini baik-baik saja, tidak ada yang perlu papi khawatirkan. Pada kesempatan ini Jen cuma mau bilang ke papi:

“Terima kasih papi sudah menjadi seorang suami yang baik untuk mami.”

“Terima kasih papi sudah menjadi seorang ayah yang baik untuk Koko, Jen dan King-king.”

“Terima kasih papi sudah membekali kita, anak-anak papi dengan harta yang tidak akan pernah habis, yaitu ilmu pengetahuan.”

“Terima kasih papi sudah mengajarkan Jen kesabaran yang tiada habisnya, belas kasih yang tanpa pamrih, serta mengajari Jen untuk mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna… dan semua pelajaran itu telah papi contohkan dengan melakukannya sendiri…”

Papi, rasanya tidak cukup menuliskan semua kebaikkan papi di sini, dan segala ucapan terima kasih ini tidak akan bisa membalasnya.

Papi, kesempatan kali ini juga mau Jen gunakan untuk meminta maaf  sama papi:

“Maaf karena selama hidup papi mungkin seringkali Jen membuat papi kecewa, entah karena tidak bisa mendapat nilai yang bagus di sekolah, tidak bisa menjadi juara kelas, ataupun karena hal lainnya. Maaf pi, mungkin Jen bukannya tidak mampu, tetapi Jen memang kurang berusaha hingga akhirnya membuat papi kecewa…”

“Maaf karena sebagai anak Jen belum bisa membalas budi atas semua kebaikan yang sudah papi berikan sebagai orang tua. Jen belum bisa membahagiakan papi semasa papi hidup. Taukah papi entah kapan mulainya Jen selalu merasa takut ditinggal papi, selalu di dalam hati Jen merasa papi akan pergi meninggalkan Jen, karena itu di dalam setiap doa Jen selalu meminta ‘waktu’ dan ‘kesempatan’ agar bisa membalas budi papi dan mami serta membahagiakan kalian berdua. Tetapi rupanya permintaan sederhana itupun tidak dikabulkan pi… Jen gak menyalahkan siapapun, tetapi Jen hanya ingin papi tau kalau selalu dalam hati ini Jen berdoa untuk kebahagiaan papi, dimanapun papi berada…”

Papi, Jen gak tau sekarang papi ada di mana… banyak teori tentang kehidupan setelah kematian, apapun itu tetap menjadi misteri bagi yang masih hidup dan belum mengalaminya. Ada yang bilang pilihannya hanya dua, surga dan neraka, orang baik masuk surga, orang jahat masuk neraka. Papi orang baik, Jen percaya kalau pilihannya hanya dua, papi akan ada di surga. Tetapi lain lagi kalau pilihannya bukan hanya dua. Lain lagi ceritanya kalau suatu hari nanti kita diberi kesempatan untuk kembali berjodoh sebagai orang tua dan anak, seperti yang mungkin dulu pun pernah terjadi.

Apapun itu, Jen hanya ingin hidup saat ini, dimanapun papi berada saat ini, semoga papi selalu berbahagia, semoga papi tidak mengkhawatirkan kita semua yang masih hidup. Mami, Koko, Jen, dan King-king semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan pi, cekcok kecil hal biasa dalam hidup, semua pasti bisa kita lalui dengan baik. Hiduplah dengan tenang, hiduplah dengan senang, Jen ingin melihat papi selalu berbahagia sampai kapanpun, di manapun, dalam wujud apapun, Jen hanya ingin melihat papi selalu tersenyum…

Papi sudah dulu ya, Jen harus tetap menjalani kehidupan ini, dan menikmatinya apapun yang terjadi, menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Jen berusaha untuk selalu berbahagia, karena kita tidak pernah tau kapan saatnya hidup kita berakhir, seperti papi yang begitu cepat meninggalkan kita…

Doa Jen selalu, semoga papi selalu sehat, semoga papi terbebas dari penderitaan, semoga papi selalu berbahagia… Sadhu, sadhu, sadhu…

Jakarta, 25 Oktober 2009

~Jen~

Family

PS. Harusnya surat ini Jen tulis kemarin pi, tapi semalem mati lampu di rumah 🙂

Oh ya papi belum lihat foto keluarga kita kan? Banyak yang bilang foto ini bagus, dan di sini semua bilang muka Jen kayak papi… 😀

Read Full Post »

j0433335

“Life is so unpredictable”. Entah sejak kapan kata-kata ini jadi salah satu ‘quote’ favoriteku. Mungkin sejak aku menyadari bahwa hidup yang aku jalani seringkali memberi kejutan-kejutan. Hidup itu memang sulit ditebak, yang akan terjadi nanti, tidak ada seorangpun yang tahu. Kalau memang mau dipikir, siapa sih yang bisa meramalkan masa depan kita secara tepat? Hidup itu pilihan, masa depan tergantung pilihan yang kita ambil. Tetapi kembali lagi hidup itu susah diprediksi, ada hal-hal di luar apa yang kita rencanakan yang tiba-tiba bisa muncul di hadapan kita memberikan sebuah kejutan.

Aku percaya, setiap orang punya impian, mungkin lebih dari satu impian malah. Masing-masing orang tentunya punya caranya sendiri dalam mewujudkan impian-impian mereka. Ada yang dengan sangat rapi telah menyusun langkah untuk mencapai impiannya dan mengusahakannya dengan keras. Ada yang setengah-setengah berusaha karena masih ragu-ragu dengan impiannya sendiri, serta ada pula yang membiarkan impiannya mengalir seiring perjalanan hidupnya.

Aku sendiri punya impian dan pernah menjadi sangat ngotot dalam mengejar impianku, tapi hidup kadangkala tidak seperti yang kita bayangkan, sebaik apapun perencanaan kita, seringkali kenyataan yang kita terima berbeda dari apa yang kita inginkan. Pada akhirnya kita menjadi lelah, sebagian orang mungkin kecewa bila sudah berada dalam kondisi ini, lalu menjadi mempersalahkan hidup, mempersalahkan ‘Tuhan’ karena tidak memberikan apa yang sudah diusahakan dengan sungguh-sungguh. Kalau aku, entah karena keteguhan hati yang masih kurang, ataukah karena aku merasa harus realistis dalam menjalani hidup ini, yang pada akhirnya membuatku membiarkan impianku mengalir seiring perjalanan hidupku. Aku belajar bahwa tidak semua impian kita bisa terwujudkan, tapi bukan berarti kita jadi membuang impian kita.

Bekerja di perusahaan consumer goods, apalagi perusahaan multinational adalah  salah satu impianku sejak aku menginjak dunia kerja. Aku tidak tahu mengapa, tetapi mungkin ini salah satunya dikarenakan sejak kecil aku sudah berkecimpung dalam dunia marketing secara tidak langsung. Sejak kecil aku selalu membantu papi di toko kelontong yang kami miliki. Karena aku suka belajar, aku seringkali mengamati hal-hal kecil dari proses jual beli di tokoku. Dan seringkali pula aku bertanya pada papi, atau sebaliknya tanpa ditanya papi juga sering berbagi ilmu dagangnya padaku. Mungkin ini yang membuat ketertarikanku pada dunia marketing? Entahlah…. Tetapi sayangnya dalam perjalanan karirku, aku tidak pernah bisa mewujudkan cita-citaku ini sekalipun aku pernah melakukan satu langkah mundur. Yah, aku harus realistis, tidak bisa semauku sendiri mengikuti idealismeku. Pada akhirnya, meskipun dalam hati kecilku masih berharap untuk impianku yang satu ini, tetapi aku bersikap pasrah, membiarkan impian ini mengalir seiring perjalanan hidupku.

Entah sejak kapan tepatnya, aku tidak ingat, mungkin sejak aku duduk di bangku SMP, aku pernah berkhayal kalau suatu hari nanti aku punya sebuah sekolah khusus untuk anak-anak bandel. Hehehe.. lucu ya, entah mengapa aku bisa berpikiran seperti itu, mungkin karena aku selalu berpikir bahwasannya anak-anak bandel itu hanya butuh yang namanya perhatian, mereka hanya kurang kasih sayang, dan aku berharap aku bisa membagi kasih sayang untuk mereka sehingga mereka bisa tumbuh menjadi anak yang baik. Impian ini mungkin hanya sempat terlintas begitu saja dalam hidupku dan tidak pernah ada usaha yang khusus kulakukan untuk mewujudkannya. Belakangan karena banyak berkecimpung dalam dunia anak-anak untuk urusan pekerjaanku, aku jadi kembali teringat akan impianku ini. Kupikir sekarang ini saat yang tepat untuk memulai satu langkah yang mendukung impianku, yaitu dengan mengambil kuliah lagi yang berhubungan dengan bidang psikologi dan pendidikan. Bisa menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya juga merupakan harapanku, karena aku suka belajar, dan sudah lama sekali aku memang menginginkan hal ini, yang kembali lagi karena masalah realistis tadi, aku dengan terpaksa menyimpannya.

Dan sekarang, semua tampaknya baik-baik dan mendukung impianku untuk menempuh pendidikan lagi demi mewujudkan impianku yang lainnya. Aku hanya tinggal menunggu waktu pendaftaran saja, dan itu seharusnya tidak lama lagi. Tetapi kembali lagi ternyata life is so unpredictable, entah karena sikap pasrahku, ataukah memang ini jawaban atas ‘doa’ ku, dengan tiba-tiba aku medapatkan tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan consumer goods yang sekaligus perusahaan multinational, dan dalam hitungan waktu yang singkat untuk prosesnya, akhirnya aku diterima. Wow ini seperti mimpi bagiku! Aku merasa seperti sedang dalam perjalanan, dan menurut peta seharusnya aku berjalan lurus ke depan, tetapi tiba-tiba aku menemukan tanda berbelok yang ternyata itu menunjukkan tempat yang aku tuju? Kembali lagi, hidup ini adalah pilihan, akankah aku berbelok mengikuti tanda yang kutemui di jalan ataukah aku tetap berjalan lurus berpedoman pada peta? Keduanya tidak ada yang salah, tinggal bagaimana aku memutuskan, dan aku sudah memutuskannya.

Tidak semua impian dapat kita raih, kadangkala kita harus mengorbankan yang satu untuk yang lainnya, seperti itulah hidup, tetapi apapun pilihan yang sudah kita ambil, dengan segala resikonya, jalanilah dengan sepenuh hati. Kadangkala pula, segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, sekalipun sudah kita rencanakan….

Life is so unpredictable… karena hidup memberimu banyak kejutan, baik yang membuatmu menangis ataupun tertawa. Jalani saja hidup ini dengan sewajarnya, saat ia memberimu kejutan yang menyedihkan menangislah, tetapi cukup saat itu saja, karena setelahnya mungkin akan ada kejutan yang akan membuatmu tersenyum. Terimalah kejutan-kejutan itu dengan hati yang lapang, karena selalu ada pelajaran dan hal baik yang akan kamu dapatkan sesudahnya.

Jakarta, 25 September 2009

~Jen~

Read Full Post »

CB008417

Belom lama ini gue ketemu orang untuk satu urusan, orang baru  yang gak gue kenal sama sekali sebelumnya. Tapi agak sedikit aneh, sewaktu disebutkan namanya, entah mengapa gue jadi membayangkan, ”Oh orang yang namanya ini begini rupanya kurang lebih…” Sebenernya untuk seorang penghayal seperti gue hal ini sudah sering gue lakuin, tetapi kemarin bisa gue pastikan, hal itu terlintas begitu aja di pikiran gue tanpa gue bermaksud berandai-andai.

Sewaktu ketemu untuk pertama kali, cukup surprised gue dibuatnya, ”Kok mirip seperti bayangan gue ya?” Hm.. oke… langsung deh seperti biasa otak gue langsung menilai orang, entah ini kebiasaan baik atau buruk, tapi mungkin ya gak baik gak buruk lah asal gue bisa gunain pada tempatnya ya… gue langsung mikir  ini orang pendiem deh… liat dari tampangnya sih gitu… but… tiba saatnya gue emang harus bicara sama nih orang and guess what? Astaga! Belum pernah gue ketemu orang se’nyolot’ ini!! Buset beda banget dari gambaran pendiem dan kalem yang gue tangkap pertama tadi!

Dan yang minta ampunnya gak berhenti-henti dia mencela gue! Segala yang ada di gue gak ada yang bener…!! Oh mi got! Tapi yang aneh kenapa gue bisa sabar benerrrr ngadepin nih orang ya? Padahal gue paling bete harus ngadepin orang kek begini, apalagi ini cowok ya, rasanya dah pengen gue tabok deh nih orang! Eitss… itu sih gambaran kalo gue masih seperti dulu ya, gue yang gak sabaran, yang kagak mo kalah punya… yang pasti setidaknya gue udah naek darah deh, dan muka n nada suara gue pasti dah sama nyolot n sinis nya kek dia. But sekali lagi… entah ini keajaiban atau emang gue yang dah berubah, kenapa gue cuma bisa senyum-senyum manis dan dengan sabar ngadepin ini orang?? Something wrong with me??  

Entahlah gue jadi mikir aja, gue bisa gak marah apa karena nih orang gak jelek tampangnya (cakep juga maksudnya, hehehe…) n dia punya gigi yang bagus rata kek iklan pasta gigi ya? Tapi harusnya dia punya senyum yang manis donk, tapi ini ampyun!! Sinisnya gak kuat bener-bener minta ditabok, huh! Hm… tapi setelah gue inget-inget lagi, mungkin gue bisa bersabar dan gak marah karena ada kata-katanya yang membuat gue berpikir kalau ini orang pada dasarnya baik. Kalau ini cowok benernya cuma mo jatohin mental gue aja! Ya di awal sempat saat gue bilang kalau di satu tempat gue gak dapetin hal ini tapi gue dapet hal itu, sementara di tempat lain gue dapetin hal ini tapi gak dapet hal itu, dan entah karena emang dia bijaksana or apa gue gak tau, tapi dia bisa bilang hal ini:

 “Nothing’s perfect in this world. You cannot get all you want. But that’s make people tough and success. Just like a diamond, you know the process to make a diamond? Just like that… And like butterfly also, you know before it come into a butterfly, what is it? All of it makes people stronger.”

CB108154

Ow ow ow wait… dia ngomong ini gak dengan tampang sinis loh… mungkin ini yang membuat gue jadi bisa ‘melihat’ hatinya yang sesungguhnya. ‘This man is not that bad…’ dan ternyata kesan pertama ini sudah meluluhkan hati gue sekalipun dia nyolotnya sampe bawa-bawa hal yang sensitif untuk disinggung?? Walah hahaha… ampyun!

Ok, dan kembali entah mengapa, karena begitu terkesan sekali kah gue sama nih orang yang bikin bete, buat gue pengen nabok, tapi ternyata sekaligus sudah mengajarkan gue beberapa hal, sehingga sekarang gue malah jadi menulis tulisan ini buat mengingat dia?! Astaga…!! Ya ya mungkin ini sekedar untuk mengingatkan gue sendiri akan pelajaran yang gue dapet dari si menyebalkan satu itu, bahwa: tidak ada yang sempurna di dunia ini, kita gak pernah bisa dapat semua yang kita mau, dan segala kesulitan itu sebenarnya membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik. Dan satu pelajaran paling berharga buat gue benernya adalah:  KESABARAN! Ya kesabaran untuk menghadapi hal yang tidak menyenangkan… Fiuh benernya masih takjub gue sama diri gue sendiri yang bisa sabar ngadepin orang itu hehehe…

Dan entah mengapa sekarang gue berharap bisa ketemu dia sekali lagi, buat nabok dia, oppsss…. bukan ya, hehehe… Ketemu dia sekali lagi… to see the ‘real’ him and become his friend…^^

 j0438386

Jakarta, 4 September 2009

~Jen~

Dedicated to “Mr. S”: hope we’ll meet again in different situation and don’t be so nyolot ya!

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »