Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Chit chat ala gue’ Category

Istanbul, 27 Maret 2025 sekitar jam 7 pagi waktu setempat.

Pesawatku dari Jakarta baru tak lama mendarat di bandara Istanbul untuk transit kurang lebih 6 jam lamanya. Aku baru saja selesai zoom meeting untuk merekam ucapan ulang tahun untuk boss ku. Aku sedang bersiap-siap untuk ke toilet buat sikat gigi dan cuci muka, karena flight dari Jakarta sebelumnya adalah tengah malam. Pria itu datang untuk mencharge handphone nya di tempat aku duduk. Ya di situ memang ada beberapa kursi dan beberapa stop kontak. Pria paruh baya dengan tampilan seperti India atau ya sekitarnya ini tampak agak kebingungan. Beberapa kali dia memindahkan kabel nya dari satu colokan ke colokan lain tetapi tampaknya tidak ada listrik yang mengalir ke hp nya. Dia lalu melihatku dan bertanya apakah aku punya kabel charger. Seperti biasa aku yang introvert ini selalu enggan berkomunikasi dengan orang asing, sehingga kujawab saja untuk mencoba di lubang yang lain. Namun setelah berpindah 2-3 kali tidak berhasil dan dia bilang sepertinya yang bermasalah adalah kabel chargernya dan dia bertanya apakah aku punya kabel charger.

Entah karena kasihan atau apa, akhirmya aku mengeluarkan kabel charger ku dan kuberikan padanya. Dan memang dengan kabel ku hp nya bisa dicharge. Dia bilang bolehkah pinjam sebentar? Laku kubilang pakai saja, aku hanya akan ke toilet 10-15 menit jd selama itu dia bisa pakai. Tapi alih-alih ke toilet, aku malah duduk lagi. Kuakui ada sedikit rasa khawatir meninggalkan begitu saja kabel charger ku ke orang asing. Akhirnya singkat cerita pria ini mengajak ngobrol. Dia orang Pakistan yang bekerja di Dubai, seharusnya dia meneruskan penerbangan ke Armenia atau mana, aku agak kurang jelas, namun dia tertahan dan tidak diijinkan terbang dengan connecting flight nya. Dia bahkan harus membeli tiket pesawat baru untuk ke negara lain, Azerbaijan. Rencananya selain traveling dia juga sekaligus survey untuk membuka bisnis. Pria ini tipe yang extrovert, dia harus berkomunikasi dengan orang lain untuk recharge energy nya, itu dia sampaikan kepadaku sambil mengucapkan terima kasih. Akhirnya setelah lebih dari setengah jam, setelah dia ke toilet dan aku juga bergantian ke toilet, kupikir harusnya hp nya sudah terisi setidaknya 50% maka aku bilang padanya aku harus melanjutkan perjalananku. Akhirnya kami berpisah, bahkan tanpa saling bertanya nama masing-masing. Kupikir di kehidupan lalu mungkin dia pernah membantuku, maka saat ini adalah kesempatanku membalas dan membantunya. Jikalaupun kami belum pernah bertemu sebelumnya, mungkin dia pernah melakukan kebaikan dan saat ini dia menerima balasan atas kebaikannya melalui aku.

Luzern, 28 Maret 2025, pagi jam 8an

Kemarin secara tidak sengaja saat mengecek IG, aku melihat story Mba Ririen yang sepertinya sedang di Itali. Iseng aku DM menanyakan sampai kapan di Itali, karena kebetulan aku akan ada jadwal ke Milan. Mba Ririen membalas kalau dia, Mas Wibi dan satu temannya sedang menuju Swiss. Wah kebetulan sekali, aku sudah tidak ketemu mba Ririen mungkin sekitar 5 tahun an. Walau sama-sama di Indonesia, sejak pindah ke Palembang, sepertinya aku hanya sempat ketemu 2 kali, sekali waktu aku tugas kantor ke Palembang sekitar tahun 2010, dan terakhir di Jakarta sebelum pandemi di 2019. Mba Ririen adalah teman sekantorku dulu sewaktu di Sinarmas tahun 2007-2010, dan dulu kami cukup dekat. 

Trip kali ini karena kesibukan sebelum berangkat, aku belum membuat itinerary detail, aku hanya baru menentukan aku akan tinggal di kota apa dan kapan, jadi karena kebetulan mba Ririen di Swiss maka kuputuskam untuk bertemu dengannya, dan di sinilah di Luzern aku bertemu dengan mba Ririen. Sehari ini aku ikut jadwal mba Ririen yang menyewa mobil, kami pergi ke Itsewald, ke danau di mana syuting film drama Korea: Crush Landing on You. Tapi memang ya tidak ada yang kebetulan, karena pergi dengan mba Ririen aku jadi mengunjungi tempat ini, yang awalnya aku tidak tahu apakah akan aku kunjungi atau tidak. Begitulah hari ini kuhabiskan dengan mba Ririen, Mas Wibi dan Tarida teman mba Ririen. Karena jadwal kami yang berbeda, jadi kami akan berpisah setelah hari ini.

Aku dan Mba Ririen di stasiun sebelum kami berpisah

Milan, 30 Maret 2025 jam 12 siang.

Belakangan ini, aku tidak terlalu suka untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah ataupun yang berbau kuno atau antik. Ada perasaan tidak nyaman saat mengunjungi tempat-tempat itu, maka untuk 2 hari ku di Milan, saat browsing ‘what to do in Milan’ akhirnya aku mendaftar cooking class untuk membuat Pasta dan Tiramisu. Chef nya seorang Italia yang sebenarnya lahir dan besar di Brazil. Nenek Kakeknya berasal dari Itali dan migrasi ke Brazil. Raffael, nama chef tersebut memutuskan untuk ke Itali dan memulai karir menjadi Chef setelah sebelumnya sempat bekerja secara profesional di General Motor. Peserta lain, pasangan suami istri dari Amerika yang mana si istri bernama sama denganku, Jennifer. Nenek nya juga berasal dari Itali. Kelas berlangsung hangat karena dilakukan di rumah dan sambil mengobrol santai. Obrolan dari mulai masakan, politik hingga kekhawatiran orangtua terhadap anaknya. Sungguh buatku ini seperti pelajaran hidup yang tak terlupakan.

Duomo – Milan, 31 Maret 2025 sekitar jam 8 pagi lewat waktu setempat.

Karena keretaku kembali ke Swiss adalah jam 3 sore, maka untuk mengisi waktu pagi hari aku mengunjungi Katedral Milan setelah sebelumnya membeli tiket masuk online. Tiket yang kubeli termasuk akses ke terrace dengan Lift, karena kupikir waktuku terbatas jadi aku perlu akses cepat sampai atas, dan tetap turun dengan tangga nantinya.

Jam setengah 9 pagi belum ada orang di depan pintu masuk lift. Tidak lama kulihat sepasang suami istri bule mungkin sekitar 60an tahun lebih usianya. Tampaknya mereka juga akan masuk melalui akses lift. Aku lupa bagaimana awalnya, sepertinya karena menanyakan pintu masuk, tapi akhirnya kami mengobrol. Mereka ternyata berasal dari Canada dan sedang liburan ke Itali. Saat waktu hampir jam 9 pagi, tiba-tiba petugas datang dan bilang arah antrian dari ujung belakang. Saat itu di sana juga sudah berkumpul beberapa orang. Maka setelah aku pindah, si suami istri ini dan satu perempuan bule juga bilang ke orang-orang di sana kalau kita sudah mengantri duluan. Aku yang orang Asia, apalagi tipe yang ga suka cari ribut, hanya diam saja sambil senyum. Tetapi si suami istri ini bilang, jangan takut, kami akan bantu kamu untuk masuk duluan. Singkat cetita aku masuk nomor 3, karena ada pasangan yang tampak ngotot di depan. Si suami istri Canada di belakang, disusul si perempuan bule yang cukup berani tadi bersama putrinya. Akhirnya saya dan si suami istri jadi berbarengan dan sempat saling bantu foto. Kami berpisah saat si suami istri ini masuk ke area doa di dalam gereja. Sebenarnya aku ingin menyampaikan salam perpisahan, tapi ya kami akhirnya berpisah begitu saja. Aku sempat berpikir untuk menunggu mereka selesai berdoa, karena sepertinya merasa tidak enak saja kalau tidak mengucapkan salam apapun, tapi setelah menunggu sekian lama mereka tampaknya belum selesai dan aku sudah harus kembali, jadi ya sudah kami berpisah tanpa sepatah dua patah kata.

Stasiun Intetlaken Ost, 1 April 2025 sekitar jam 8 pagi.

Hari ini aku berencana ke Jungfraujoch dan dari Interlaken west tempat penginapanku, pagi-pagi aku sudah naik kereta ke Interlakem Ost untuk lanjut ke Grindelwald. Saat akan berganti kereta di stasiu Interlaken Ost, tiba-tiba ada yang memanggilku, kulihat seorang anak laki-laki China mungkin usianya sekitar 20an, dia bertanya apa aku bicara bahas Inggris atau Mandarin? Kujawab dua-duanya aku bisa. Lalu dia menanyakan kereta arah Grindelwald, rupanya dia juga akan pergi ke Jungfrau dengan rute yang sama dengan aku. Akhirnya di kereta kami duduk bersama dan mengobrol sampai memutuskan oke kita jalan sama-sama karena kebetulan saya sendiri dan dia juga sendiri. Anak ini sedang program pertukaran pelajar di Jerman, dia asal Chengdu, China. Dia hanya ke Swiss selama 2 hari untuk jalan-jalan. Jadi selama di Jungfrau kami saling bantu foto bergantian. Cuaca hari itu sangat cerah, matahari bersinar terang walau udara sangat dingin. Di top op Europe, sambil menunggu foto dengan bendera udara sangat dingin bahkan aku dengan sarung tangan saja masih kedinginan, tapi Nan Xie, si anak China ini sepertinya tanpa persiapan sehingga dia tidak bawa sarung tangan. Aku lihat dia sepertinya kedinginan dan aku kebetulan membawa syal, jadi kutawarkan dia untuk menghangatkan tangannya dengan syal ku. Setelah selesai foto-foto kami kembali ke dalam, dan aku tanya apakah dia bawa air minum. Kali ini aku cukup persiapan, pagi-pagi aku sudah mengisi tumbler ku dengan air panas. Kebetulan Nan bawa botol, jadi kubagi sedikit air panas sehingga dia bisa menghangatkan tangannya.

Perjalanan kembali kami menggunakan rute berbeda, kali ini dengan kereta. Saat naik kereta dari stasiun Kleine Scheidegg di kursi sebelah ada anak laki-laki China dengan mama nya. Usia anak ini juga mungkin sekitar 20 tahunan. Karena sebelumnya sudah baca-baca beberapa artikel aku jadi sudah memilih kursi di sisi yang tepat, sisi dimana bisa terlihat pemandangan gunung-gunung. Karena ingin foto pemandangan, maka si anak China yang berdua dengan ibunya ini berdiri ke sisi tempat aku dan Nan duduk. Dasar Nan memang anaknya cukup berani dan ramah, dia mengajak si anak ini.bicara dan bahkan membiarkan anak ini duduk di kursinya untuk mengambil foto-foto. Setelah ngobrol-ngobrol dengan Nan, ternyata dia dari Hongkong dan baru lulus kuliah dan bekerja.

Akhirnya kami tiba di stasiun Lauterbrunnen, di situ harusnya kami melanjutkan dengan kereta ke Interlaken Ost, tapi kaerena masih agak pagi, masih sekitar jam 3an, Nan menanyaiku apakah mau ikut mereka ke air terjun, aku pikir toh aku tidak ada jadwal, jadi aku ikut bersama mereka. Setelah dari melihat air terjun (dari jauh), kami lanjut naik bus dan cable car ke desa Murren, desa di kaki gunung Alpen.

Sewaktu naik cable car hanya kami ber 4 dan 1 perepuan bule. Mama si anak Hongkong (sampai terakhir lupa tanya namanya), menawari aku snack, walau awalnya kutolak tapi karena dia memaksa akhirnya kuambil juga walau tidak langsung kumakan.

Dari Murren kami kembali ke stasiun Lauterbrunnen dan naik kereta ke arah Interlaken. Sebelum sampai Interlaken Ost si anak Hongkong turun terlebih dahulu di 2 stasiun sebelum Interlaken Ost karena katanya dari sana ada bus yang akan lewat tepat depan hotelnya. Mereka, ibu dan anak ini juga tinggal di Interlaken west sepertiku hanya saja penginapanku sangat dekat dengan stasiun Interlaken west sehingga aku akan turun di sana. Akhirnya sampailah aku dan Nan di stasiun Interlaken Ost, di sana kami berpisah, Nan akan kembali ke Jerman lusa dan dia akan tinggal di Laussane kalau tidak salah. 

Laussane, 4 April 2025 sekitar jam setengah 12 siang di Port de Ouchy

Hari ini aku menempuh rute Laussane, Vevey dan Montreux, tapi sebelumnya pagi-pagi aku sempat mengunjungi La Passerelle de l’Utopie yang kemarin di forward oleh ci Wai wai. Tadinya jadwal ke Laussane adalah kemarin, tapi karena aku kesiangan, akhirnya kuganti rute ke Geneva dulu kemarin dan baru ke Laussane hari ini.

Begitu sampai di pinggir danau ini aku langsung foto-foto mengabadikan keindahan alam Swiss. Aku perhatikan ada satu cowok bule sudah berumur, mungkin sekitar 60an lebih, seperti mengikuti ke mana arah aku pergi. Saat jam hampir menunjukkan pukul 12 siang, aku mencari kursi kosong, duduk dan mengeluarkan bekalku. Kebetulan semalam aku buat Indomie goreng dan menyisakan sebagian yang lalu kugoreng dengan telur tadi pagi. Aku duduk makan di situ, kulihat si cowok bule ada melewatiku, kupikir dia mungkin sedang mencari spot-spot foto karena dia sedang memegang kamera. Selesai makan aku melanjutkan jalan, dari google kulihat ada beberapa spot dan juga ada museum Olympic. Sepanjang jalan seperti biasa aku memfoto spot-spot yang menarik perhatianku yang menurutku indah kalau diabadikan dengan kamera, meskipun hanya kamera handphone tentunya.

Saat sedang berjalan dan memfoto, tiba-tiba si cowok bule tadi mengajak bicara, dia bilang sepertinya aku banyak melihat spot-spot foto bagus, dia sampai seperti mengikuti aku, memfoto spot-spot yang aku foto. Tidak seperti aku biasanya, entah kenapa perjalanan kali ini aku lebih memberanikan diri untuk berbicara dengan orang asing, termasuk si bule ini sehingga terjadilah percakapan di antara kami. Dia orang Swiss asal Zurich dan sedang berlibur ke Laussane. Dia lalu bertanya apakah aku akan ke museum, dan kujawab ya. Akhirnya kami berjalan bersama ke museum. Sepanjang perjalanan kami ngobrol macam-macam. Dia sempat bertanya apakah aku professor, kujawab bukan, aku seorang marketing yang mengurus export. Dan ternyata dia bekerja di perbankan. Kami mengobrol sampai tiba di museum dan kami sama-sama memutuskan tidak masuk, tapi hanya berjalan di taman sekeliling museum. Lalu kami beristirahat, duduk di sebuah kursi di taman. Di situ kami mengobrol banyak hal, agak aneh untuk aku bisa ngobtol panjang lebat ke orang asing, dan lebih aneh lagi aku merasa cara dia menatapku membuat aku agak merasa risih. Tatapannya seperti penuh dengan kekaguman seperti itu. Belakangan saat aku memikirkan hal ini, aku jadi teringat waktu aku kuliah dulu, ada seorang sahabat cowok yang memandangku persis seperti si bule ini, dan semua temanku bilang kalau sahabatku itu naksir aku. Dan bukan geer tapi aku bisa merasakan hal yang sama saat ini, saat si bule ini memandangku. Di tengah-tengah obrolan kami dia lalu memperkenalkan diri, namanya Martin, dan seketika aku merasa sangat aneh. Kenapa? Sedari kecil entah kenapa, bila aku sedang main rumah-rumahan atau sedang mengarang cerita, pasti nama cowok nya adalah Martin. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku suka aja, dan seperti mengidamkan punya pacar yang namanya Martin. Jadi begitu mendengar namanya, aku merasa aneh dan merasa ada hal luar biasa. Saat ngobrol dia ada bilang ini luar biasa, belum pernah dia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Sejujurnya mendengar pernyataan ini aku merasa sedikit heran, kupikir dia kan orang Swiss, harusnya merasakan dan melihat pemandangan indah ini bukan hal yang baru, tidak seperti aku yang tidak akan menemui ini di negaraku. Belakangan aku sempat berpikir, apakah perasaan yang dia maksud adalah terhadap suasana dimana kami mengobrol bersama?

Kami ngobrol cukup lama sampai waktu menunjukkan pukul 1 siang lebih dan kami memutuskan untuk kembali. Saat itu dia pikir kami sudah akan berpisah sehingga kami bersalaman dan saling berpelukan, oh ya untuk hal ini aku juga jadi mulai membiasakan, sejauh itu pelukan tanda persahabatan, it’s ok. Tapi Martin memang tinggi sekali, dia sampai harus membungkuk, dan waktu ngobrol dengannya sambil jalan, aku harus sedikit-sedikit mendongakkan kepalaku.

Kami naik MRT, aku akan kembali ke stasiun kereta karena akan meneruskan ke Vevey, sementara Martin akan turun satu stasiun setelah aku. Di dalam MRT sebenarnya aku sudah ingin sekali mengajak dia foto bersama sebagai kenang-kenangan, tapi otakku berpikir panjang, dari awal kulihat ada cincin di jari manisnya, jadi hampir dipastikan dia sudah berkeluarga, terlepas bagaimana situasinya, aku tidak ingin memperpanjang hal ini. Kalau aku mengajak foto, mungkin dia akan minta dikirim fotonya dan kami harus bertukar kontak? No no, aku tidak pernah berpikir akan hal itu. Jadi kuurungkan niatku untuk mengajak foto, biarkan bayangannya hanya ada dalam memoriku yang mungkin akan segera hilang

Saat berpisah kami kembali bersalaman, dan di situ terakhir kali aku melihat tatapan itu, tatapan yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Kami berpisah tanpa banyak kata.

Akhirnya tulisan yang panjang ini selesai juga. Semula aku berencana menuliskannya seperti biasa aku melakukan kontemplasi, tapi kupikir aku tidak ingin melewatkan setiap pengalaman yang tidak terlupakan ini, sehingga kuputuskan menuliskannya apa adanya. Tulisan ini kutilis dari masih ada di Aitport Zurich sampai di atas pesawat ke Istanbul dan sekarang di atas kapal cruise di Istanbul. Aku akan menuliskan semua apa yang aku rasakan di tulisan berikutnya.

Istanbul, 6 April 2025

pk 21.34 waktu Istanbul

~Jen~

Read Full Post »

Yup, today is my birthday, and I’m turning 39. Bukan usia yang muda lagi ya, tapi entah kenapa sih gue selalu ngerasa masih muda aja hahaha… kalau bukan karena mata yang udah mulai harus pakai kacamata ples, dan uban di rambut yang udah mulai lebih cepet tumbuhnya, atau kulit yang udah mulai keluar bercak-bercak putih (nasib orang kulitnya putih) pasti gue akan selalu merasa kalau gue ini baru 17 taon (ich lebay) hahaha…

But that’s true, selama ini gue gak merasa kalau gue ini udah tua, hmmm… terlalu pede mungkin ya? Sebenernya kalau dipikir-pikir bukan terlalu pede sih, tapi lebih kepada gue merasa waktu ini jalannya eh larinya udah kayak orang dikejer anjing gila kali ya, ngebut kagak kira-kira. Perasaan kemaren gue baru aja tiup lilin, masa hari ini kudu tiup lilin lagi? Makanya taon ini gue kagak tiup lilin dah, jiaah alasan hahaha bilang aja kagak ada yang nyiapin kue taon ini wkwkwkw…

Tapi bener, eh bener apa nih, bener kalau waktu itu jalannya eh larinya cepet banget, n bener juga kalau taon ini ultah kagak tiup lilin karena kagak ada yang siapin kue wkwkwk… Yah maklum aja, sekarang gue lagi di negara antah berantah lainnya, di Timor Leste tepatnya, negara baru lagi yang gue injek karena urusan pekerjaan. Hm… dipikir-pikir wish taon lalu jadi kejadian ya. Taon lalu gue ulang tahun di Taiwan, merayakan bareng temen-temen baru, sementara taon sebelumnya gue ultah di Vietnam, dibuatin surprise party sama child fruit (baca: anak buah, wkwkwk). Taon lalu gue sempet bilang, udah dua taon ini ngerayain ultah di negara orang, taon depan gue akan ngerayain di mana lagi? Daaaan.. kejadian donk, taon ini gue ngerayain ultah di negara orang lagi (ya emang negara orang, masa sih negara m*nyet hahaha).

Beda dengan dua taon sebelumnya, taon ini tidak ada perayaan, ucapan selamat pun kayaknya mulai berkurang nih, jiaahhh diitungin hahaha… ya kadang gue pengen tau aja sih siapa-siapa yang masih inget ultah gue, care ama gue, ciee… tapi biar gak ngucapin juga bukan berarti tuh orang gak care sih, emang mungkin kagak tau aje, atau lupa, ya even some of my best friends cannot remember my birthday. Trus cuma gegara dia lupa ultah loe jadi bukan best friend lagi? Hahaha ya gak lah ya, semakin nambah umur gue ceritanya makin wise neh wkwkwk jadi menurut gue tuh, ada orang yang memang gak pay attention to hal-hal begini, jadi ya dimaklumin aja. Even bokap gue aja pernah salah tulis nama gue donk hahaha, it doesn’t mean bokap gue gak care ama gue, tapi emang gue tau aja, nama gue terlalu susah buat bokap gue inget! hahaha…

Nah agak serius dikit neh sekarang, cie serius, eh beneran tadinya gue mo nulis ini maksudnya kontemplasi di hari ultah, tapi entah kenapa ye kok jadinya tulisan chit chat ala gue gini wkwkw tapi asik juga sih, udah lama gak nulis dengan gaya gila gue ini hahaha… back to laptop (ya ampun ketauan banget ye jaman tontonannya hahaha). Oke serius-serius sekarang. Nah jadi gini, kemaren-kemaren ini gue jadi mulai mikir, ich kok gue tiga taon ini ultah di negara beda-beda ya, ini kok jadi seperti loe lahir lagi di tempat-tempat yang beda, ini jadi buat gue mikir mungkin seperti ini juga saat kita terlahir lagi. Kita bisa lahir di tempat dan kondisi yang menyenangkan buat kita, tapi bisa juga lahir di tempat dan kondisi yang kurang menyenangkan. Tapi menyenangkan dan nggak itu kan bagaimana gue sendiri yang ‘mengatur’ dan ‘merasakan’ nya.

Mungkin akan ada orang yang bilang kasihan ya, ulang tahun jauh dari keluarga karena urusan kerja, sendirian lagi. Hm… ya itu sih biar aja orang mo ngomong apa, gue sih happy-happy aja, karena nambah taon ato nggak benernya sih gak beda buat gue. Nambah taon ini benernya cuma pengingat buat gue, pengingat apa? Pengingat kalau umur gue udah berkurang lagi, waktu hidup gue di dunia ini tambah sedikit.

Gue mo cerita dikit nih, ini emang aneh, ini kejadian taon lalu, waktu gue di Hualien, kadang kan gue suka jalan sendiri tuh keluar, olah raga sekalian aja kadang otak gue ini mikir ke sana kemari. Nah ceritanya ada satu kali entah gimana mulanya, gue itu kepikir, sebenernya orang mati tuh lebih baik loe tau kapan waktunya jadi loe bisa prepare, or mendingan dadakan aja langsung aja lu cabut. Kenapa gue mikir gini? Ya gue lagi keinget aja antara bokap n nyokap. Bokap pergi cepet, kata nyokap enak sih gak ngerasain sakit (kek tau aja ye, sapa tau juga saat itu bokap ngerasain sakit hahaha), sementara buat yang ditinggal terutama gue waktu itu, gak terima banget sih. Nah beda waktu nyokap, karena emang waktu itu nyokap sakit, gue tau sih pasti itu sakit banget dan nyokap benernya gak mau tapi ya gimana ya mi, emang itu apa yang sudah seharusnya terjadi, tapi buat gue entah kenapa gue merasa lebih tenang karena saat itu gue merasa gue bisa mempersiapkan segalanya, termasuk say sorry ke nyokap dan mengantar nyokap pergi untuk terakhir kalinya. Nah singat cerita setelah mikirin hal ini, eh entah gimana tuh beberapa hari kemudian gue mimpi donk, dalam mimpi tuh kek ada yang bilang ke gue, jadi waktu hidup gue itu tinggal 10 taon lagi. Nah waktu gue bangun gue cuma mikir gini, hm… 10 taon lagi, jadi gue gak lewat umur 50 taon ya, hm.. bagus jugalah, gue gak pengen idup sampe lama-lama, gue gak pengen mati dalam kondisi muka gue udah keriput, gue pengen mati masih cantik! wkwkwk aiyooo gila juga gue ya…. hahaha… tapi ini beneran loh…

Btw ini hari ultah gue and gue talking-talking about death, ich kalau masih ada nyokap bakal dikemplang gue, pamali masa hari ultah ngomongnya gitu? hahaha ya ya ya gak salah sih, semua orang selalu waktu ultah diselametin semoga Panjang umur, gue tau deh kenapa, karena benernya everybody knows kalau loe ultah itu tandanya umur loe bakal kurang satu ya jadi semoga nanti bisa Panjang umur nyaaa… hahaha…

Okeh, kayaknya udah cukup kegilaan gue hari ini, karena di sini benernya udah lewat hari, maklum 2 jam lebih cepet dari Indo, so gue harus mengakhiri tulisan ini. Dan inti dari semua celotehan gak jelas gue ini adalah, gue cuma mau bilang ke diri gue sendiri:

Happy Birthday Jen, thank you for this 38 years, you hang on and survived. I know it’s not an easy life for you, but you did well so far. Be sincere and accept whatever waiting for you in this journey. I know you can do it! 加油!

Okeh that’s it, dan seperti masih mengikuti tradisi keluarga, hari ini tetap harus makan mie goreng ya, jadi karena darurat dan gak tau apakah bisa keluar makan mie goreng ato nggak, jadi ya terpaksa kita bikin saja. Thanks to Indomie Goreng (ich iklan, hahaha) yang dimasak pakai rice cooker jadi jugalah ya mie ulang taon ala ala wkwkwk….

photo from jennifer (鄧燕妮)

Dili – Timor Leste, 11 January 2019 00:45 am

~Jen~

(10 January 2019 in Jakarta 10:45 pm)

 

 

Read Full Post »

Hari terakhir di Philippines, setelah lebih seminggu di negara ini, berpindah dari satu kota ke kota lain, bahkan satu pulau ke pulau lain. Menempuh perjalanan dengan berbagai moda transportasi, mulai dari pesawat, kapal ferry sampai jalan darat selama 6 jam. Dan sekarang mengisi waktu dengan menulis sambil menunggu penerbangan berikutnya ke negara lainnya. Belum, gue masih belum akan kembali ke Indo sampai 10 hari ke depan. Masih ada dua negara lagi yang harus dikunjungi dari perjalanan bisnis kali ini. Capek? Pastinya. Bosen? Kadang-kadang. Kangen rumah dan Indo? Jangan ditanya, terlebih makananya. Hahaha…

Kali ini gue mau cerita tentang kejadian hari ini. Pagi tadi karena sudah hari terakhir, kita menyempatkan mengunjungi Philippines Taoist Temple di Cebu, kota terakhir yang dikunjungi, yang kebetulan tidak jauh letaknya dari hotel tempat menginap. Bangunan kuil di atas bukit yang tinggi, sangat indah dengan tanaman yang asri.

image

Di kuil ini, mungkin seperti kuil Tao ataupun Konghucu lainnya, kita bisa bertanya pada dewa-dewa di sana dengan ciamsi. Tadinya gak ada niatan gue buat tanya-tanya, karena gue lagi merasa gak punya masalah, tapi karena salah satu dari rombongan kita ada yang mau bertanya, akhirnya gue jadi ikutan pengen nanya sesuatu. Yang mau gue tanya bukan hal yang simpel, dan buat gue sebenernya ini penting, walaupun ini bukan sebuah ‘masalah’.

Sama halnya seperti yang gue inget waktu gue masih kecil, di wihara di kota kelahiran gue, untuk bertanya dengan ciamsi ada aturannya. Setelah berdoa, maka harus bertanya dulu pada dewa di sana ‘apakah boleh mengajukan pertanyaan’, karena belum tentu kita diijinkan untuk bertanya. Terakhir kali saat wihara di kota kelahiran gue masih ada bertanya pakai ciamsi (sekarang bertanya pakai ciamsi sudah dihilangkan dari wihara ini), yang gue inget selalu saja gue gak diijinkan bertanya. Dua buah kayu yg bila dikatupkan berbentuk seperti biji kacang itu (gue gak tau namanya) selalu tertelungkup yang menandakan ‘tidak’. Dan itu juga yang terjadi hari ini, dua kayu itu tertelungkup tanda gue tidak diijinkan bertanya. Yah gue juga gak maksa sih, lagian pertanyaan ini, sebenernya sudah beberapa kali gue tanyain ke berbagai sarana bertanya termasuk tarot reader, dan hasilnya? Selalu tidak ada jawaban, atau lebih tepatnya sepertinya gue tidak diijinkan untuk tau jawabannya.

Dan seperti biasa, tidak ada yang namanya kebetulan, pesan yang gue dapat hari ini melalu salah satu applikasi di facebook, seperti sebuah nasihat yang mungkin ingin disampaikan kepada gue oleh Tuhan, para Dewa dan juga alam semesta ini.

image

Tidak perlu lagi gue tulis ulang, pesannya sudah jelas tertulis di gambar di atas. Yah, mungkin gue emang harus ‘berhenti’ bertanya untuk satu hal itu. Gue jadi teringat pesan yang pernah gue terima sebelumnya, cukup jalanilah kehidupan ini dengan tulus, dan gue percaya suatu hari nanti, tidak ada lagi pertanyaan itu. Apapun itu jawabnya, yang harus gue yakini, itulah ‘jalan’ yang harus gue tempuh, baik di kehidupan ini maupun kehidupan-kehidupan gue yang akan datang. Semoga demikianlah adanya, Sadhu!

Manila, 26 February 2016
~Jen~
9.50pm waktu Manila

Read Full Post »

image

Dah beberapa kali rencana gue ngajak nyokap ke China selalu gagal karena berbagai sebab. Janji ngajak nyokap ke China itu seperti hutang yang belum lunas dibayar. Tahun kemarin usia nyokap gue udah menginjak kepala 7, buka umur yang muda lagi dan gue bersyukur Tuhan masih memberikan nyokap gue umur dan kesehatan. Menyadari hal ini, gue jadi bertekad kembali, tahun 2016 ini gue harus ngajak nyokap ke China.

Entah apakah ini suatu kebetulan, tapi kan tidak ada yang namanya kebetulan ya, baru aja memasuki awal tahun, tiba-tiba gue ditugasin oleh kantor untuk pergi ke China. Dan gak tanggung-tanggung gue langsung pergi mengunjungi 4 kota sekaligus: Shenzhen, Dongguan, Guangzhou dan Foshan.

Memikirkan hal ini entah kenapa gue jadi merasa betapa Tuhan sungguh baik, belakangan ini hampir apa yang gue ingin dan tekadkan sepertinya menjadi kenyataan. Yah kembali lagi tidak ada yang namanya kebetulan, semoga tekad gue untuk ke China dengan nyokap bener-bener bisa terwujud tahun ini. Lalu terbayarlah hutang gue dan setelah itu entah mengapa gue merasa sesuatu yang besar bakal terjadi dengan hidup gue.

Doa gue semoga alam semesta mewujudkan apa yang seharusnya terjadi.

Guangzhou, 17 January 2016
~Jen~
01.05 am waktu China

Read Full Post »

image

Lagi-lagi sekarang masih menunggu waktu boarding di bandara Phnom Penh. Sambil menunggu pesanan makanan yang belum tiba, rasanya pengen nulis sesuatu.

Belakangan ini kembali kadangkala otak gue berpikir terlalu keras, atau malah kadangkala seperti tidak mikir sama sekali, tapi berasa ada yang hilang, atau ada sesuatu yang belum terpecahkan.

Kesibukan kerjaan gue sekarang yang mengharuskan gue pergi ke negara satu dan lainnya, seringkali menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan dalam diri gue. Bertemu dengan banyak orang dari latar belakang, budaya, dan pemikiran yang berbeda, kadangkala menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru dalam diri gue.

Tujuan hidup gue sebenarnya bisa gue katakan sudah gue ketahui. Tapi jalan yang harus gue tempuh, sejujurnya kadangkala masih terasa samar-samar. Pekerjaan gue yang kerap kali berganti, bagi sebagian besar orang seringkali menimbulkan persepsi ‘kutu loncat’, bahkan beberapa seringkali bertanya “apa yang loe cari?” Sejujurnya gue sendiri gak tau apa yang gue cari. Bukan pangkat, ketenaran ataupun uang, jelas, karena beberapa kali gue punya kesempatan untuk mendapatkan itu tetapi gue tolak. Lantas apa yang gue cari?

Kadangkala gue merasa sedang berada dalam labirin, gue hanya mengikuti saja alurnya, tapi saat dihadapkan pada persimpangan, gue pun hanya membiarkan kemana kaki membawa gue melangkah. Gue tau seharusnya jawaban atas semua ini akan bisa gue dapatkan kalau gue mau mengenal diri gue sendiri lebih dalam dan bertanya ke diri gue sebenarnya apa yang gue mau. Tapi nyatanya itu tidak pernah gue lakuin, sepertinya ada rasa ‘takut’ yang besar jika jawaban itu tidak seperti yang gue harapkan.

Yah gue masih menaruh ‘harapan’ dan ‘keinginan’ yang seharusnya gue hilangkan. Entahlah kadang gue merasa lelah, berharap saat bangun dari tidur semua ini bisa segera berlalu.

Tahun bentar lagi akan berganti, usia hidup gue pastinya akan berkurang. Tapi pertanyaan itu belum juga terjawab…

Phnom Penh, 11 November 2015
~Jen~
2.44pm

Read Full Post »

Demi menghilangkan rasa bosan dalam 1.5 jam perjalanan dari Ho Chi Minh ke Singapore, akhirnya gue memilih menulis di blog ini. Walaupun mungkin nanti baru akan dipublish saat tiba di Singapore, setidaknya ada kegiatan yang bisa gue lakuin selama 1.5jam perjalanan ini. Dan Singapore bukan tujuan akhir perjalanan gue, kali ini gue akan balik ke Jakarta, Indonesia, negara tempat di mana gue berkesempatan lahir dan tinggal di kehidupan ini.

Entah kenapa perjalanan kali ini dari awal berangkat rasanya gue udah gak terlalu happy. Mungkin bisa jadi bosan juga, kalau dalam setahun loe harus pergi ke satu negara tapi bukan untuk wisata. Gue bukan tipe yang suka travelling. Kemarin gue baru aja mengingat-ingat ke negara mana saja gue udah pernah pergi dalam rangka liburan. Ternyata hanya 2 kali gue pergi ke luar negeri dalam rangka liburan, sisanya karena urusan kerja dan satu lagi adalah perjalanan rohani yang buat gue adalah ‘perjalanan pulang’.

Mungkin gue emang bukan tipe yang suka jalan dan menikmati object wisata di negara lain, ataupun pergi shopping seperti yang banyak dilakukan oleh orang Indonesia yang cukup berada. Buat gue pergi ke satu tempat yang jauh dari tempat tinggal gue adalah karena gue butuh waktu untuk sendiri. Gue perlu ada di satu tempat di mana gak ada yang gue kenal, dan gak ada yang perduli dengan gue. Dan yang gue lakuin biasanya hanya bersantai, berdiam diri di hotel, atau jalan ke sekitar hotel gue tinggal. Hmm buat orang lain mungkin gue ini aneh, tapi inilah gue.

Kali ini gue cuma pengen nulis lagi-lagi tentang gak ada yang namanya kebetulan. Dalam perjalanan kali ini, buat gue ada beberapa kebetulan-kebetulan yang memudahkan gue. Sebenarnya ini bukan pertama kali buat gue dan bukan hal yang aneh juga buat gue. Gue selalu percaya saat loe berusaha menjaga hati loe untuk tetap bersih, segala kebaikan akan selalu menyertai langkah loe. Gue tau kadangkala yang tak terlihat pun membantu gue, dan gue sangat berterima kasih dan bersyukur karenanya.

Entah kenapa gue hanya merasa akan ada satu hal besar yang akan terjadi dalam hidup gue. Dalam perjalanan ini gue seperti diingatkan kembali, bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kehidupan gue sepertinya sudah diatur sedemikian rupa oleh alam semesta untuk memasuki dan menapaki jalan ini. Hanya tinggal menunggu waktu dan karma baik yang matang.

Dan kemarin gue mendapati satu quote oleh ibu peri dari cerita Cinderella: “Even miracles take a little time”. Kalimat ini sangat menguatkan gue, membuat gue untuk bisa lebih bersabar untuk keajaiban itu.

Cahaya hanya akan kembali ke dalam cahaya, meninggalkan kegelapan yang selalu ada. Sejatinya cahaya tidak pernah dapat menghalau gelap, karena bukan gelap yang menjadikannya terang.

image

Singapore, September 22, 2015
~Jen~
10.52 am
“Dalam perjalananku menuju cahaya…”

Read Full Post »

image

Di atas pesawat, lagi-lagi detik terakhir baru sempat nulis, hahaha… Sebenernya ini maksa sih, karena cita-cita menulis dari berbagai negara 😛

Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki ke Thailand, again negara Buddhist lainnya. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini, rasa penat, lelah, kecewa, tapi sejauh ini gue masih bisa mengontrol semuanya.

Sebenernya dari kemaren pengen nulis soal film “inside out”, karena sibuk selalu belum sempat. Dan sebentar lagi gue juga musti terbang ke Vietnam, pekerjaan masih belum berakhir, dan seperti juga hidup ini, perjuangan masih berlanjut.

Gue gak tau mau nulis apa tentang negara ini, tapi dari awal gue menginjakkan kaki di sini, gue hanya merasa damai dan tenang. Gue sempet berpikir mungkin ini negara lainnya di mana kalau gue boleh memilih rasanya gue pengen tinggal di sini, seperti yang gue rasain waktu ke Sri Lanka.

Bentar lagi pesawat ini dah mau terbang, jadi gue harus mengakhiri tulisan ini. Lima hari yang cukup melelahkan di sini, tapi gue cukup senang. Gue rasa gue akan kembali lagi ke sini. See ya soon Thailand!

Bangkok, 11 September 2015
~Jen~
02.11 pm

Read Full Post »

Kalau baca judul tulisan ini, pasti tau donk, kali ini gue lagi di Myanmar. Yak hampir setahun yang lalu gue menginjakkan kaki di negara ini, dan sekarang kembali lagi gue datang ke sini. Masih dengan urusan yang sama, pekerjaan, yang membuat gue mungkin akan sering mengunjungi beberapa negara di Asia Tenggara. Ini hari terakhir gue di sini dalam kunjungan gue yang kedua di negara ini. Seperti biasa, hari terakhir gue sambil menunggu detik-detik pulang, gue menyempatkan diri menulis.

Tidak banyak yang terlalu berubah dari negara ini setahun yang lalu, walaupun ada juga yang berubah sangat drastis, salah satunya adalah handphone. Tahun lalu waktu ke sini gue masih gak beli nomor lokal, karena harganya masih di atas 500 ribu rupiah, tapi tahun ini harga simcard udah murah, hanya sekitar 15ribu rupiah untuk nomor baru, dan voucher isi ulang kurang lebih 5,000 kyatt atau plus minus 60rb rupiah, gue udah bisa akses internet. Hampir setiap orang sudah pegang handphone, dan di jalan banyak ditemui brandingan lebih dari satu provider telepon sellular. Ditambah lagi yang paling gue notice adalah sekarang banyak Billboard mengiklankan produk-produk Handphone lebih dari satu merek, mulai dari merek terkenal dengan tipe terbarunya hingga handphone cina. Waktu satu tahun sudah cukup membawa kemajuan dalam hal telekomunikasi.

Membandingkan negara yang baru membuka diri 3 tahun terakhir ini dengan negara-negara lain yang juga sering gue kunjungi, gue cuma merasa di sini waktu berjalan sedikit lambat, dan suasana di sini cenderung lebih tenang dan kalem. Berbeda dengan Kamboja, gue hanya merasa di sana suasana lebih ‘hidup’. Mungkin karena nuansa Buddhist di Myanmar sini masih kental, ditambah negara ini sebelumnya juga masih tertutup, menjadikan suasananya jadi tenang seperti ini. Setiap pagi gue masih melihat barisan Bhikku maupun Bhikkuni berpindapata, dan entah kenapa saat melihat barisan Bhikkuni kecil yang berjalan sambil melantunkan syair-syair, ada rasa haru di hati gue.

Morning Pindapata - Yangon, 10 April 2015

Morning Pindapata – Yangon, 10 April 2015

Sebelum berangkat ke sini, otak gue masih dipenuhi satu pertanyaan besar, tapi entah kenapa mungkin suasanan tenang di sini membuat gue bisa berpikir jernih, dan sepertinya gue udah punya jawaban atas pertanyaan itu.

Gue udah harus jalan ke airport, padahal masih banyak yang pengen gue tulis, mungkin nanti setelah balik ke Jakarta gue akan menulis satu per satu apa yang ada di pikiran gue saat gue berkunjung ke Golden Land, tanah di mana gue pernah hidup dan membina diri, jauh di masa yang lalu…

Yangon, 13 April 2015
~Jen~
12.16 PM waktu Myanmar

Read Full Post »

Older Posts »