Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My life journey’ Category

Happiness, Happiness…

Where do you reside?

Happiness, Happiness…

Where do you reside?

I’d like to live close by your side. I’ve looked for you far and wide.

Why is it you seem to hide? Why is it you seem to hide?

No need to fly in the sky so high,

No need to seek it with the tears you cry,

You can find me right inside,

Your heart is where I abide.

Itu sepenggal lirik lagu dari CD Audiophile yang baru aja gue beli dua hari yang lalu. Bukan hanya melody-nya saja yang buat gue suka, tapi jauh dari itu gue sangat-sangat menyukai liriknya, karena pas banget dengan kondisi gue saat ini.

Akhir-akhir ini kembali, terlalu banyak pertanyaan yang muncul di otak gue. Kadangkala capek banget idup gue harus ‘mikir’ terus. Entah ini berkah atau musibah, karena untuk hal kecil aja yang gue lihat ataupun alami selalu akan masuk ke otak gue dan jadi sebuah bahan untuk dipikirin. Huft! Pengen banget gue bilang ke otak gue, “Hei stop! Gak usah mikirin hal ini!” Tapi trus gue bingung juga, kenapa? Kenapa? Karena kadangkala hasil pemikiran ini ada gunanya juga buat gue, jadi gue gak bisa ngomong gitu juga. Dan kembali otak ini bertindak semaunya. Haizz!

Sudah hampir sebulanan ini gue ngerasa ada yang salah dalam hidup gue. Entahlah gue gak ngerti salahnya di mana. Gue merasa ada yang ‘kurang’ ataupun ‘gak beres’, dan lebih parah gue mulai mempertanyakan apakah itu ‘bahagia’? Kenapa jadi tiba-tiba gini sih? Kalau ditanya gue juga gak tau jawabnya, gue gak tau ini otak emang suka semaunya sendiri, dan sejauh ini gue cuma mengikuti ke mana dan gimana maunya dia aja. Heh… kalau hanya sekedar lihat tampilan ‘luar’ saja, emang gak ada yang kurang sih, lebih malahan iya, berat badan maksudnya 😛 Tapi ada gak sih yang ngerti maksud gue? Gue cuma ngerasa ‘ADA YANG KURANG!’ tapi kalau ditanya gue juga gak tau jawabnya.

Dan kembali gue udah tau deh yang akan kalian semua bilang, “Loe butuh ‘teman’ untuk berbagi…,” pernyataan klasik yang terdengar sangat membosankan di telinga gue. Tau gak sih, sepanjang sejarah hidup gue, gue ini orang paling ‘pelit’ untuk berbagi ‘cerita dan masalah’ gue. Gue gak bisa dengan sembarangan bicara dengan orang lain soal apa yang gue pikirin, perasaan gue, karena gue merasa gak akan ada orang yang bisa ngertiin gue yang sangat complicated ini. So stop saying like that! I know for sure, that’s not the problem or even the answer! Gue pengen sendiri, gue gak pengen diganggu, gue lelah ‘berhubungan’ dengan dunia…

Dari dulu gue cuma suka berhubungan dengan kertas dan pena, yang mungkin sekarang dah digantikan fungsinya dengan keyboard dan layar monitor. Sahabat sejati gue selamanya, yang bisa menerima gue apa adanya, tempat di mana gue selalu bisa jujur apa adanya, melepaskan topeng-topeng yang seringkali harus gue kenakan dalam menjalani kehidupan ini, yang notabene itu sudah menjadi sebuah ‘tuntutan’. Udah lama banget gue gak menyapa sahabat gue ini, karena lagi-lagi ini otak gak bisa diajak kompromi, terlalu banyak yang dipikirin sampai-sampai tangan gue gak bisa mengerti ke mana ‘mau’ nya dia.

Kembali ke masalah ‘Happiness’ tadi, kalau mau ditulis terlalu banyak ‘teori’ tentang ‘kebahagiaan’ dan kalau gue tulis semua rasanya sampai malam juga gak selesai, karena masing-masing orang bisa berteori soal ini. Tapi gue ngerasa bukan itu semua! Orang bisa bilang bahagia dengan memberi, tapi pertanyaan gue kalau memberi buat loe udah bukan suatu hal yang luar biasa, kalau ‘memberi’ sudah bukan lagi ‘memberi’ apakah loe akan merasa ‘memberi’ itu sebuah kebahagiaan? Gue merasa sudah melalui tahapan ini, tapi ‘tujuan’ itu belum juga gue dapatkan. Bukan gue salah jalan, tapi ‘perjalanan’ memang sepertinya masih jauh dan tidak seperti yang gue pikirkan. Seperti melihat batas cakrawala, gue sudah berada di tempat yang sepertinya sudah di‘batas’ tapi itu bukan, dan gue belum lah ‘sampai’.

Pusing gak loe baca tulisan gue? Udah kalau pusing tinggal aja, gak usah diterusin, jujurnya gue juga gak tau apa yang lagi gue tulis, gue cuma mau keluarin ini semua karena udah terlalu penuh otak gue, memory nya udah gak kuat menampung semua, so musti ada yang di-‘buang-buangin’.Dengan nulis gini bukan berarti gue gak bisa mengontrol diri gue, no no, seperti gue bilang, inilah saat-saat di mana gue paling jujur. Terserah orang menilai gue apa, but this is me, and I don’t care what you think about me!

Happiness, Happiness…

Where do you reside?

Why is it you seem to hide?

If my heart is where you abide,

Why still I can’t live close by your side…?


Jakarta, 5 May 2011

~ Jen ~

Di tengah hujan deras yang mengguyur Jakarta bagian timur, dan tangan yang mulai kaku kedinginan karena jaket yang ketinggalan!

Read Full Post »

 

Bukan karena kertas tak mau ditulis…

Bukan juga karena pensil tak mau dan tak bisa menulis…

Tapi karena memang belum ‘pantas’ untuk menulis dan ditulis…

 

Jakarta, 31 December 2010, 11: 59 pm

Read Full Post »

Ini tentang kemerdekaan, bukan tentang kemerdekaan Indonesia yang ingin saya tulis. Hari ini 17 Agustus adalah peringatan ke-65 kemerdekaan Indonesia, negeri tempat saya dilahirkan, tetapi bukan itu yang ingin saya tulis. Memang ini berawal dari moment kemerdekaan Indonesia, yang membuat saya menjadi ‘tersadarkan’ saat membaca status dan tulisan beberapa teman saya mengenai kemerdekaan ini.

Saya menemukan banyak di antara teman saya mengeluhkan makna ‘kemerdekaan’ yang menurut mereka masih dirasa belum lah merdeka, karena masih banyak bentuk lain ‘penjajahan’ di sana sini. Tetapi bukan itu pula yang ingin saya tulis di sini, melainkan apa yang akhirnya saya sadari hari ini, bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa ini.

Hari ini saya menyadari kalau kita semua yang masih hidup di muka bumi ini sesungguhnya belumlah merdeka, kita belumlah ‘bebas’. Kita semua masih merasakan ketidakpuasan, yah, ketidakpuasan karena adanya keserakahan, kebencian dan kebodohan yang masih meliputi kita. Kita masih berputar di dalam samsara, terlahir lagi dan lagi, berulangkali, terus dan terus masih harus menempuh perjalanan yang seolah tiada akhir ini… lalu bisakah kita dikatakan sudah merdeka dengan kondisi seperti ini? Di manakah letak kemerdekaan itu?

Masing-masing kita harus memperjuangkan kemerdekaan diri kita, sendiri. Karena yang seharusnya merdeka adalah diri kita masing-masing. Perjuangan ini tidaklah mudah, bukan pula bisa diraih dalam waktu yang singkat. Tetapi tiada yang tidak mungkin, asalkan ada tekad dan usaha yang tak kenal lelah, saat ini, nanti dan seterusnya, sampai kapanpun…

Jalan ini terlalu panjang,

tidak hanya berliku, tetapi seringkali pula berbatu…

Tubuh ini kadangkala terasa letih,

kejenuhan kerap kali menyapa,

tetapi masih langkah ini belum jua mencapai tujuannya,

sebuah kemerdekaan sejati…

Kemerdekaan, kebebasan, kapankah akan bisa kuraih?

Tak putus asa-ku,

tak kendor semangatku,

tak goyah tekadku,

suatu hari nanti, pasti aku kan menyapamu…

Jakarta, 17 Agustus 2010

~Jen~

dalam kesadaran atas ‘kemerdekaan’ yang belum diraih…

Read Full Post »

Netral

Sudah lama sekali aku tidak menulis untuk diriku sendiri. Banyak cerita, banyak kisah, banyak pelajaran yang aku dapatkan dalam bulan-bulan terakhir ini, tapi ‘waktu’ untuk menulis buat diri sendiri ini yang mungkin kurang. Karena segala sesuatu berdasarkan prioritas, ada hal yang lebih penting yang membutuhkan waktu dan perhatian lebih banyak ketimbang menulis buat diri sendiri. Saat ini, saat kantuk tidak juga datang, entah karena terlalu lelah ataukah karena jam tidur yang sudah lewat, ini menjadi kesempatan yang bagus untuk dilewatkan begitu saja, ini adalah waktu untuk menulis bagi diriku sendiri.

Tak banyak yang akan aku tulis, hanya satu hal yang terlalu sayang untuk aku lewatkan. Sebuah pengalaman yang sangat berharga di dalam hidupku. Kurang lebih tiga minggu yang lalu, aku baru mengalami sendiri apa yang seringkali disebutkan orang, bahwa kondisi itu ‘netral’ adanya, untuk itu kitapun harus bisa menyikapinya secara ‘netral’ tanpa melibatkan persepsi apapun.

Jumat sore sehabis hujan, sudah pasti membuat kemacetan di Jakarta. Berencana pulang ke rumah, dengan tas berisi laptop yang cukup berat, membuat aku memutuskan mencari bus dimana aku bisa mendapatkan tempat duduk, mengingat perjalanan yang cukup jauh dari kantor sampai ke Grogol sebelum dilanjutkan lagi ke rumah. Mulanya aku merasa cukup beruntung mendapatkan bus yang tidak penuh sehingga bisa mendapat duduk, namun sayangnya baru berjalan tak berapa jauh, seluruh penumpang bus malah dipindahkan ke bus sebelah yang lebih padat penumpang, jelas aku tidak akan mendapatkan tempat duduk. Mengingat perjalanan cukup jauh, dan tas yang cukup berat, kuputuskan untuk menunggu bus lainnya lagi.

Sayangnya jalanan justru bertambah macet, dan tidak ada satupun bus kosong berikutnya yang melintas di depanku. Menunggu hampir 10 menit, kuputuskan berjalan kaki menuju perempatan yang jaraknya lumayan jauh, di tengah gerimis yang masih mengguyur kota Jakarta sore itu. Perlahan, aku melangkahkan kaki, menyusuri trotoar, dengan ditemani hujan gerimis kecil. Bukannya aku tidak membawa payung saat itu, tetapi kadangkala aku ingin menikmati tetesan air hujan yang turun membasahi tubuhku, melarutkan segala permasalahan dan kegundahan hatiku. Namun saat itu bukan hal tersebut yang membuat aku tidak membuka payung, tetapi karena berjalan di trotoar dengan membawa tas yang cukup besar dan berat, sangatlah sulit bila harus ditambah dengan memegang payung.

Menyusuri trotoar yang tidak rata dan cukup licin sehabis hujan, membutuhkan konsentrasi dan kesadaran penuh agar tidak terpeleset. Saat itulah, pada moment itu aku menyadari bahwa aku berada pada kondisi ‘sadar’ dan ‘apa adanya’. Sama sekali aku tidak merasakan kesal dengan apa yang menimpaku, dan menyadari aku berada pada kondisi ‘sadar’ pun tidak membuat aku bergembira. Yah saat itu aku hanya merasa ‘netral’ dalam menyikapi kondisi yang tengah aku alami. Bukannya tanpa rasa, sungguh sangat sukar dilukiskan, tapi moment itu begitu menenangkan. Saat aku melangkahkan kakiku dengan kesadaran penuh, dengan gerimis yang membasahi tubuhku, di tengah deru kendaraan yang begitu berisiknya di sebelah kananku, aku tetap berjalan dengan tenang.

Malam itu aku mencoba melihat kembali apa yang sudah aku alami pada sore itu. Ada perasaan tidak percaya dan sedikit takjub, bahwa aku bisa bersikap demikian. Sesungguhnya aku bukan orang yang sabar, dan biasa aku bereaksi dengan cepat atas kondisi yang menurutku tidak mengenakkan. Untuk itulah malam itu aku merasa sangat bersyukur atas aku hari ini, yang sudah mengalami perubahan yang begitu besar menurutku sendiri. Aku yang dulu tidak akan mungkin mengalami moment yang begitu berharga tersebut. Aku yang dulu sudah pasti ‘bereaksi’ atas kondisi tidak menyenangkan tersebut yang pada akhirnya malah sering merugikan diriku sendiri.

Sekeras apapun orang bisa berubah, karena yang terkondisi di dunia ini tidaklah kekal adanya. Setiap orang bisa berubah, asalkan ia sendiri mau berubah. Sesungguhnya bisa menyikapi segala sesuatu dengan ‘netral’ bukanlah perkara mudah, kadangkala hal kecil justru menyebabkan terjadinya gejolak dalam batin kita dan tak sedikit yang berakhir dengan perselisihan. Sebuah moment yang sangat berarti, semoga bisa terulang dan terus kupertahankan, agar aku senantiasa ‘sadar’ di dalam jalan yang sudah kupilih dan tengah aku jalani… sadhu sadhu sadhu.


Jakarta, 26 July 2010

~Jen~

Read Full Post »

There’s one ship, a strong elegant ship,
It sails across the continent,
It sails in the silence…

Alone, it’s passing through the storm,
Alone, it’s struggling through the darkness,
Alone, it has no fear at all…

Sail…sail…and sail…
It never feels tired,
Coz it knew what it has to do,
Coz it knew that it’s chasing the dream…

Sail…sail…and sail…
It’s been a long time,
and still it sails and sails cross the ocean…

Sail…sail…and sail…
Where does it sail?
No one knew its destination,
And it never knew when the journey is ended…
It just let itself flows…
Follow the wind blows…

Only one thing it believes deep in its heart,
The wind will bring it to one place,
A place where it will be stay forever,
A place it called home.


One day the ship will find its harbour…

Jakarta, 8 June 2010 05:00 pm
~Jen~

Read Full Post »

M-A-R-R-I-A-G-E atau P-E-R-N-I-K-A-H-A-N, satu kata yang rasanya bisa jadi hal  yang paling sensitif buat sebagian orang terutama para perempuan ataupun pria single seusia saya yang sudah berkepala tiga. Sejujurnya buat saya pribadi, kata ini gak berarti apa-apa, karena memang saya tidak pernah memikirkan hal ini dan tidak terlalu perduli dengan usia saya yang sudah kepala tiga. Buat saya hidup ini biarkanlah mengalir, menikah, tidak menikah, itu adalah pilihan masing-masing orang, dan yang namanya ‘jodoh’, pasangan hidup, tentulah erat hubungannya dengan ‘karma’ masing-masing orang, walau inipun masih bisa diusahakan, bukan merupakan harga mati, karena segala sesuatu buat saya tergantung dari diri kita sendiri, yang di luar kita: lingkungan, orang lain, hanya merupakan faktor pendukung terlaksananya saja.

Bicara soal pernikahan, buat perempuan yang sudah berkepala tiga seringkali dipenuhi kekhawatiran, mengapa sampai sekarang belum mendapat jodoh, ditambah jumlah populasi wanita yang lebih banyak daripada pria, pastinya mereka bertambah was-was, walaupun sejujurnya banyak juga pria di atas usia tiga puluh yang masih belum menikah, tapi mungkin kecemasan mereka tidak sebesar kecemasan para perempuan. Saya memahami hal ini, sangat memahami, tetapi kalau ditanya apakah saya termasuk salah satu dari perempuan-perempuan yang khawatir itu? Jawabnya dengan pasti, TIDAK, kenapa ‘tidak’? Banyak alasan, kenapa saya menjawab tidak, tapi ini adalah sebuah jawaban yang jujur. Saya tidak pernah khawatir di usia saya yang sudah kepala tiga ini saya belum menikah, bahkan berpacaran pun belum pernah. Rasanya aneh? Mungkin saja, karena sempat pula hal ini diutarakan oleh salah satu supplier kantor saya. “Aneh, mba belum pernah pacaran? Padahal kalau dilihat rasanya gak ada yang kurang, penampilan mba menarik dan cukup manis, enak pula diajak bicara dan cukup menyenangkan,” begitu kata perempuan tengah baya itu menilai saya yang baru satu kali itu bertemu dengannya dan berbicara selama kurang lebih 3 jam saja. Yah mungkin yang dibilang olehnya tidak sepenuhnya salah, walau juga tidak sepenuhnya benar, karena ‘penilaian’ itu sangat relatif. Tapi kembali lagi, untuk pacaran ataupun tidak pacaran itu adalah pilihan saya…

Saya jadi teringat, salah seorang teman pria saya sewaktu kuliah pernah bilang ke saya, para pria takut sama saya karena saya bisa melakukan segalanya sendiri. Mungkin yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah, saya memang terbiasa mandiri, saya tampak tidak butuh bantuan orang lain, termasuk untuk pekerjaan yang biasa dilakukan pria, selagi bisa saya usahakan sendiri pasti saya kerjakan sendiri. Mungkin karena hal ini, karena pria memiliki gengsi yang tinggi, jadi mereka cenderung lebih menyukai perempuan yang tampak ‘lemah’ dan butuh bantuan mereka, agar mereka terlihat sebagai ‘super hero’? Mungkin… kembali lagi, ini sebuah penilaian, dan sangat relatif…

Yang jadi masalah sebenarnya saya memang sempat terpikir kalau hidup seorang diri, tidak menikah, akan lebih bebas. Lingkungan tempat saya tinggal, banyak memperlihatkan kejadian pahit dari kehidupan berumah tangga, jadi kalau mau dikatakan mungkin memang ada sedikit ‘trauma’ di diri saya akan kehidupan perkawinan. Tetapi selain itu, saya sendiri pada dasarnya lebih suka menyendiri daripada harus bergaul dan berhubungan dengan banyak orang. Pertanyaannya pernahkah saya jatuh cinta? Saya masih perempuan normal, dan pernah melewati masa remaja dan tentunya juga pernah merasakan jatuh cinta walau mungkin bukan benar-benar ‘cinta’ karena sampai sekarang sejujurnya dari hati kecil saya yang paling dalam saya merasa belum menemukan apa yang disebut ‘cinta’ itu. Dan tak banyak kali saya jatuh cinta, karena saya memang bukan orang yang mudah jatuh cinta.

Kembali ke masalah M-A-R-R-I-A-G-E, mengapa saya menulis ini, karena belakangan ini agak risih saya mendengar pertanyaan ‘Kapan married?’ yang kerap ditanyakan oleh teman-teman dan orang-orang di sekeliling saya, padahal mami saya sendiri tidak pernah menanyakan hal ini. Tapi selain karena pertanyaan itu, ada satu kejadian yang membuat saya menulis tentang hal ini. Sebuah peristiwa, sebuah cerita yang disampaikan seorang yang mungkin tak perlu saya sebutkan namanya, yang tampak sebagai hal biasa saja, cerita yang sekedar untuk mencairkan suasana saat dalam perjalanan, tetapi buat saya ini bukan sekedar cerita biasa. ‘Tuhan’ selalu punya cara tersendiri untuk ‘memberitahu’ saya, ‘menasihati’ saya, melalui berbagai cara yang mendatangkan ‘pencerahan’ ataupun ‘teguran’ untuk saya.

Cerita ini tentang seorang perempuan, yang bekerja di luar negeri, karena masih muda dan menyukai bepergian, ia tidak pernah berpikir untuk menikah, berpacaran pun tidak. Dia sangat menikmati hidupnya yang bebas dan cukup bahagia menurutnya, bisa bepergian ke tempat-tempat yang indah setiap akhir minggunya, tanpa harus memikirkan banyak hal di rumah. Sampai ia kembali ke negaranya sendiri, melihat teman-temannya masih sama seperti dulu, sementara ia yang sudah melihat dunia luar, berharap teman-temannya dapat lebih maju sesuai ekspektasinya. Tak puas dengan apa yang ada, ia melanjutkan kuliah sambil bekerja, mengambil gelar master bahkan dari kelas yang paling sulit. Sehari-hari diisi dengan kesibukkan bekerja dan belajar, sampai saat kelulusan tiba semua rekan satu kuliahnya merayakan kelulusan dengan keluarga masing-masing dan tinggallah ia seorang diri. Semula ia mencoba merayakannya dengan mengajak teman satu apartment-nya makan, namun apa mau dikata si teman sudah janji menjenguk saudaranya yang sakit, tanpa tahu maksud di balik ajakan tersebut. Maka benar-benar tinggallah ia seorang diri, merayakan kelulusannya di apartemennya seorang diri. Saat itulah ia baru menyadari, apa yang sebenarnya ia cari selama ini? Apa gunanya yang ia lakukan selama ini? Dan ia menangis…. saat itu mungkin ia baru menyadari betapa ia sebenarnya kesepian. Dan di dalam isak tangisnya ia berdoa, seandainya memang ia harus menikah, sekiranya ‘Tuhan’ bisa membawa seorang pria ke hadapannya. Tapi ia sendiri menyadari bahwa ia tidak bisa hanya ‘menunggu’, ia tahu ia seharusnya banyak berteman dan mungkin pergi kencan.

Singkat cerita, suatu kali teman satu apartment-nya membawa teman-teman kantornya ke apartment mereka, dengan maksud mengenalkan ia dengan salah seorang dari mereka. Pria ini sudah berpacaran untuk waktu yang lama, dan beberapa kali sudah merencanakan untuk menikah, walau sayang akhirnya harus berakhir dengan perpisahan. Setelah pertemuan pertama itu, beberapa kali mereka pergi untuk sekedar menonton atau jalan bersama teman-teman lainnya. Belum lewat setengah tahun dari pertemuan mereka, perempuan ini harus kembali meninggalkan negaranya karena mendapatkan penempatan di luar negeri. Ia menyampaikan hal ini kepada si pria, dan pria itu bersikeras untuk mengantarkannya ke bandara. Saat hari keberangkatan tiba, itulah untuk pertama kalinya mereka hanya berdua saja, mengobrol banyak tentang keluarga dan hal-hal lainnya, tanpa saling berhadapan tentunya, sebab si pria sambil mengendarai mobil. Hubungan mereka yang terpisah jarak berlanjut melalui email dan sms, sampai ketika ia pulang ke negaranya untuk liburan, si pria berkata padanya bahwa dirinya ingin agar si perempuan menjadi ibu dari anak-anaknya. Saat itu si perempuan sudah berumur tiga puluh empat tahun dan ia hanya merasa bahwa doa nya sudah terjawab, seorang pria telah hadir di hadapannya, dan ia akan menjalani sebuah kehidupan pernikahan. Seperti yang sudah bisa ditebak, cerita berakhir dengan happy ending.

Mendengar cerita ini, saya jadi teringat, dulu saat kuliah, seorang sahabat pernah menasihati saya agar saya mencari pacar dan membuka diri. ”Sekarang mungkin kamu masih bisa tertawa-tawa karena masih banyak teman di sekeliling kamu, tapi nanti sepuluh tahun ke depan, kamu baru akan merasakan, semua teman-temanmu sudah berkeluarga dan kamu tertinggal sendiri,” begitu nasihatnya kepada saya. Waktu itu saya hanya tertawa, tidak salah walau tidak sepenuhnya benar, karena kembali lagi hal ini relatif tergantung siapa yang mengalaminya.

Tetapi saat ini, setelah cerita perempuan itu, saya menyadari ada sebuah hikmah yang harus saya petik, ‘Dia’ berbicara kepada saya melalui cara-Nya. Jadi sekarang bila ditanya sebenarnya apa pilihan saya, menikah ataukah tidak? Jawabnya….?

~ o ~

Saya selalu membayangkan akan ada tiga orang anak dalam kehidupan saya, seorang perempuan dan dua orang anak laki-laki kembar…

Semoga memang demikian adanya…

~ o ~

With or without you, my life still goes on…

With or without you, I have to go through this journey…

With or without you, I’ll chase my dream…

But…with you, my life will be complete…

In my faith I believe that one day I’ll find you…

In my faith I believe that one day you’ll find me…

And together we’ll share the joy and sorrow…

I’ll share my dream with you and so do you…

Together we go through this journey, as we did before,

a very long time ago…

It’s only about time, as you and I will fight for it…

It’s only about time…

Jakarta, 5 Juni 2010 ~ 12:08 am

~Jen~

Read Full Post »

Udah lama banget gue gak nulis… banyak banget yang pengen gue tulis tapi entah kenapa rasanya selalu ada yang melarang gue melakukannya karena ‘belum saatnya’… Tapi hari ini pengen banget gue nulis, karena kembali lagi gue susah ngomong, hehehe… so funny, some of my friends may say that I’m ’bawel’ enough, but to tell you the truth, this is the true J-e-n-n-i-f-e-r, a 30 years old woman who is chasing her dream…

Kali ini gue pengen nulis, soal diri gue, gak banyak yang tau gue sedalam-dalamnya, mungkin termasuk nyokap gue tercinta, apalagi almarhum bokap yang bahkan nama bener gue aja doi lupa…hihihi sorry ya pi, dibawa-bawa, abis tadi pagi mimpi papi sih. Benernya gue nulis kali ini karena gue lagi ngerasa sedih, gue sedih karena apa? Kadang gue juga gak tau sebabnya, terlalu banyak yang gue pikirin sampe capek betul rasanya gue, tapi ya itulah gue… aduh untung aja lagi kagak ada bos di kantor, n gue duduk di pojokan, dari tadi gue udah nangis dan lucu nya gue gak tau gue nangis kenapa, ya pengen nangis aja rasanya, atau mungkin karena denger lagu mandarin dengan irama dan arti yang sedih ya? Hm… emang dasarnya gue cengeng sih…

Jennifer itu rada sombong, gitu kata nyokap tentang gue hanya karena gue jarang banget bisa negur orang duluan. Yah…mungkin ya mi, tapi mami tau gak kalau gue tersiksa banget saat berhadapan dengan orang baru, di otak dan hati gue ini dah banyak kata-kata pengen gue keluarin buat sekedar say hi ataupun yang lainnya, tapi sayangnya semua cuma sampe di kerongkongan dan kagak berhasil buat pita suara gue bergetar dan mulut gue terbuka sehingga keluar kata sapaan dari bibir gue… dan gue gak suka ini, jujur gue gak suka, karena rasanya tersiksa banget… tapi entah kenapa selalu jadinya begitu… Dan karena itu pula gue jadi suka nulis, karena tangan gue jauh lebih cekatan daripada mulut gue…

Tapi gue menyadari kelemahan gue satu ini bisa menghambat gue, mungkin gue jadi melewatkan banyak kesempatan, bahkan hanya untuk sekedar mendapat seorang teman baru. Karena itu pula gak banyak orang-orang yang gue anggap teman, sekalipun mungkin kalo loe liat di facebook ‘friend’ gue sampe 500an, tapi sejujurnya gak semua ‘teman’ buat gue… sebagian mungkin hanya sekedar kenal, sebagian karena sesama satu sekolah, satu kampung, satu kantor, dan banyak alasan lainnya. Kadangkala gue merasa gue ini orang yang complicated, berpikir terlalu ribet dan gak mudah dimengerti. Karena ini gue jadi mikir gue orang yang ‘aneh’ dan ‘beda’ dari temen-temen gue yang lain. Walau akhirnya gue menyadari ini semua kadangkala ‘persepsi’ gue sendiri, tapi kebiasaan yang sudah berlangsung dari gue kecil ini sudah membentuk karakter gue…

Benernya gue gak tau mo ngomong apa lagi, gue lagi gak konsen banget, bahkan untuk menulis ini pun rasanya bahasa gue udah berantakan banget, tapi gue cuma pengen nulis… ada yang bikin gue lagi sedih, mungkin karena dalam waktu dekat ini ada orang-orang yang mungkin bisa gue bilang teman yang akan pergi jauh dan belum tentu bisa gue temuin lagi. Pertemuan ataupun perpisahan, gue yakini merupakan ‘jodoh’, seperti yang pernah gue tulis, mungkin gue akan tampak berlebihan, karena toh orang-orang itu pun sebenarnya tidak terlalu dekat dengan gue. Tapi buat gue kehadiran mereka punya arti tersendiri. Mungkin karena gue gak gampang berteman tadi, jadi kehilangan yang ada di depan mata membuat gue cukup bersedih.

Rasanya ini efek gak tidur semalaman, kebiasaan gue yang entah kenapa hanya bisa tidur 2 – 3 jam aja, tidur jam 10 semalam bikin gue terbangun jam 12 tengah malam dan gak bisa tidur lagi sampai jam 5 pagi. Gue gak ngerasa ngantuk sama sekali, mungkin karena terlalu lelah, atau otak gue banyak pikiran yang gak gue sadarin, seringkali gue begini. Mencoba tidur jam 5 pagi, malah bikin gue mimpi aneh-aneh, mulai mimpi bokap, tapi sejujurnya gue seneng, dah lama banget gak mimpi ketemu bokap, apalagi di mimpi bokap senyum, setidaknya gue tau dia baek-baek aja, sampe ngigau teriak-teriak manggil nyokap, dan paling parah mimpi dikejar-kejar, sampe capek gue… Kurang tidur, capek badan dan pikiran bikin gue ngoceh gak jelas gini, tapi sekali lagi gue cuma pengen ngoceh aja, biar lega ati gue, karena kalau gue diemin ini semua kata-kata akan muter-muter lagi di otak gue bikin tambah penuh isi otak gue.

Ampir jam 3, ini gue tulis dari pagi, sempet berhenti makan siang, nyambung nulis lagi… gila gak efektif banget kerja gue hari ini… dengan otak lagi begini emang gak bisa dipake mikir, lebih baik emang gue keluarin semua dulu isinya sampe cukup space nya buat isi hal-hal yang penting dan berguna karena emang memory gue terbatas… tarik napas dalam-dalam, 1…2…3… hembuskan, biar hilang semua hal-hal yang gak penting ini… masih banyak yang harus gue kerjain, hal penting di depan mata, impian gue yang masih harus gue perjuangkan… gue gak boleh menyerah dan bermalas-malasan… semoga segala penat ini segera berlalu…

Jakarta, 1 Juni 2010

~Jen~

Read Full Post »

Kesempatan Kedua


Satu tarikan nafas…kuhembuskan perlahan-lahan…berulang kali, lagi dan lagi… Merasakan setiap kesegaran udara yang masuk dan kelegaan saat menghembuskannya ke luar…

Seringkali aku bertanya di dalam hati, entah kepada siapa pertanyaan ini seharusnya kuajukan…entah siapa yang bisa memberikan jawaban atas tanya yang kerap mengusik diri ini… sebuah pertanyaan yang seringkali membuatku bersedih tetapi sekaligus merasa gembira dan bersyukur… sebuah tanya… mengapa aku masih bernafas hingga detik ini?

Semua orang bisa melakukan kesalahan, entah sebesar apapun atau sekecil apapun. Sayangnya akibat dari kesalahan itu berbeda-beda, seringkali kesalahan kecil mendatangkan malapetaka yang besar dan penyesalan yang tidak bisa tergantikan. Sebaliknya sebuah kesalahan besar bisa saja seolah tidak mendatangkan akibat apa-apa, seolah masih bisa dimaafkan… Kenyataan ini seringkali menimbulkan rasa tidak puas, seringkali menimbulkan tanya atas nama sebuah keadilan.
Kesempatan kedua, yah… sebuah kesempatan kedua yang diberikan setelah sebuah kesalahan dilakukan, kesempatan kedua yang sangat jarang sekali bisa kita dapatkan di dalam hidup ini…

Melihat kembali ke masa lalu, melihat diriku yang dulu rasanya tidak percaya kalau aku bisa menjadi seperti sekarang, terlebih setelah kebodohan yang aku lakukan dulu sekali… Tetapi banyak orang mengatakan kalau hidup adalah serangkaian proses, sebuah proses yang bisa menjadikan seseorang menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi lebih buruk, tergantung dari pilihan masing-masing orang itu sendiri, karena hidup ini juga sebuah pilihan. Aku menyadari, tanpa tumpukan karma baik di kehidupan lampauku, tidak mungkin aku mendapatkan kesempatan kedua… tidak mungkin aku bisa jadi seperti sekarang ini, begitu banyak ‘penolong’ dalam hidupku, begitu banyak hal-hal yang membuatku menjadi seorang manusia seperti saat ini.

Seorang teman mengatakan tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua terjadi karena ada sebabnya. Bukan kebetulan juga bila aku mendapatkan kesempatan kedua, dan aku percaya kesempatan ini diberikan kepadaku agar aku bisa memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan. Bisa menyadari segala kesalahanku, bisa memperbaiki diri, bisa menyembuhkan segala luka yang pernah tergores di hatiku, dan yang terpenting bisa mengerti tujuan hidupku saat ini dan nanti, semua itu bukan suatu kebetulan, semua itu bukan diperoleh dalam semalam, dan aku bersyukur karenanya. Aku bersyukur atas pilihan yang sudah aku buat selama ini yang membawaku kepada diriku sekarang.

Kadangkala sempat terlintas di benakku, seandainya tidak pernah ada kesempatan kedua, takkan pernah ada aku hari ini, masih mungkinkah aku mengenal Dhamma ajaran Sang Buddha? Masih adakah kesempatan buatku untuk mencapai apa yang menjadi tujuan hidupku? Aaahhh… segala kesalahan harusnya hanya sebagai pembelajaran, bukan sebagai sesuatu yang harus disesali berlarut-larut. Aku menyesal telah melakukan kebodohan itu, ya aku menyesal, tetapi saat ini aku sudah memaafkan diriku sendiri, dan belajar dari kesalahan itu. Masa lalu hanyalah sebuah kenangan, baik ataupun buruk. Kita tidak seharusnya hidup dalam kenangan, semua kenangan itu hanyalah pembelajaran untuk kita saat ini.

Sekarang aku hanya ingin berbahagia, merasakan keindahan hidup, menikmati hidup saat ini, di setiap detiknya, di setiap nafas yang masih aku hembuskan… Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua… karena kesempatan kedua ini begitu tak ternilai harganya, untuk itu aku bertekad tidak akan menyia-nyiakannya! Kesempatan kedua ini, yang sudah diberikan kepadaku, semoga bisa kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya…


Di tengah rasa syukur atas nafas yang masih bisa kurasakan hingga detik ini, dan pelajaran berharga atas kesalahan masa laluku, semoga tekadku bisa terwujudkan di kehidupan ini dan banyak kehidupanku selanjutnya…


“May I be a lamp for those who seek light, a bed for those who seek rest, and may I be a servant for all beings who desire a servant.” ~Shantideva~


Jakarta, 28 February 2010
~Jen~

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »