Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My life journey’ Category

EKSISTENSI

j0399119

Sebenarnya apa sih yang disebut dengan eksistensi? Mengapa rasanya begitu banyak orang-orang yang mengejar hal ini? Eksistensi, keberadaan, dianggap ada dan nyata, penting sekali ya buat seseorang? Seorang teman bilang ‘seseorang akan merasa hidup bila diakui keberadaannya’. Terus terang ini membuatku menjadi berpikir, ‘hidup’ seperti apa yang dimaksud? Sebenarnya ini bukan masalah ’hidup’ itu sendiri. Pengakuan, ya sebenarnya orang hanya butuh sebuah pengakuan atas dirinya. Karena seseorang hanya menuruti ‘ego’ nya untuk mempertegas ‘aku’ yang sesungguhnya tidak ada.

Untuk masalah yang satu ini, aku tidak asal bicara, karena selama 29 tahun hidupku di dunia ini, hal itulah yang selalu aku kejar. Menyedihkan, tetapi untungnya aku memilki kesempatan untuk menyadarinya, menyadari kalau aku telah salah. Menyadari kalau selama ini hidupku sungguh menyedihkan karena berusaha membuat sesuatu menjadi nyata, sesuatu yang sesungguhnya hanyalah ilusi belaka. Menuliskan hal ini sebenarnya sama dengan memperlihatkan kebodohan yang pernah aku lakukan. Menuliskan ini seperti melihat kembali luka yang pernah aku alami. Tetapi kalau aku bisa belajar dari kesalahan dan rasa sakit ini, demikian pula harapanku bahwa ini juga bisa menjadi pelajaran buat orang lain.

Sebagai anak perempuan yang lahir di tengah keluarga yang masih menjunjung tinggi garis keturunan, aku ini bukan apa-apa. Ditambah lagi dengan seorang ayah yang kaku dan bukan orang yang mudah mengekspresikan rasa sayangnya, membuat aku bermain dengan persepsiku sendiri. Kupikir aku harus ‘melakukan sesuatu’ supaya aku ‘dilihat’, supaya orang lain tahu kalau aku ‘ada’ dan tentunya supaya aku ‘disayang’. Untuk itulah segala cara kulakukan, aku harus bisa segalanya, aku harus bisa menjadi anak yang baik, yang manis, penurut, pintar, dan segala lainnya yang dianggap hebat dan baik untuk ukuran seorang anak di mata orang tuanya dan di mata siapa saja. Aku berusaha menyenangkan semua orang, supaya aku juga disenangi semua orang. Tanpa kusadari sekuat apapun aku berusaha selalu saja ada yang kurang… dan karena aku bukan orang yang mudah menyerah, semakin gigih pula aku berusaha memperlihatkan ‘keberadaanku’.

Lalu yang menjadi pertanyaan, bahagiakah aku dengan itu semua? Sama sekali tidak ternyata… kekecewaan demi kekecewaan seringkali harus kutelan, karena setelah apa yang kuperbuat, tetap tidak bisa membuat orang lain senang, tidak membuat orang lain jadi ‘melihat’ diriku. Menyedihkan sekali, mencoba melakukan sesuatu, agar ‘dianggap ada’, agar aku tidak merasa ‘sendiri’. Dan yang lebih parah, dengan kepergian ayahku untuk selama-lamanya dari kehidupan ini, berarti ‘pengakuan’ terbesar itu tidak akan pernah aku dapatkan. Lalu apa gunanya lagi yang kulakukan selama ini? Semua jadi terlihat sia-sia dan aku kehilangan pegangan dan tempat berpijak… Karena selama ini aku tidak berusaha berdiri di atas kakiku sendiri, karena aku selalu berusaha mendapatkan pengakuan dan kebahagiaan dari orang lain!

Bertahun-tahun menjalani hidup seperti ini membuatku menjadi begitu angkuh, karena aku terus memupuk ’ego’ dalam diriku, ’ego’ yang membuat ’aku’ menjadi ’ada’. Tapi sebaliknya juga ini membuatku menjadi minder, merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah orang banyak, karena takut ’tidak dianggap’ oleh mereka. Dan yang pasti aku merasa lelah… sangat lelah karena terus berusaha memperlihatkan keberadaanku dengan menyenangkan semua orang. Aku lelah karena kadangkala tidak bisa menjadi diriku sendiri… bahkan sampai sekarang seringkali aku masih tidak bisa mengenali diriku yang sesungguhnya…

Tetapi dalam hidup kita bisa memilih, memilih untuk terus tenggelam dalam mimpi yang hanyalah ilusi, atau berusaha untuk bangun dan menghadapi kenyataan yang sesungguhnya. Dan rasa sakit telah membuatku belajar dan akhirnya memutuskan untuk bangun dari mimpi burukku selama ini. Aku membuka hatiku, mencoba melihat hidup ini dari sudut pandang yang berbeda. Mencoba merubah diriku, menemukan kebahagiaan dari dalam diriku, bukan dari orang lain atau dari apapun juga. Kusadari ini telah membuatku merasa bebas dan berbahagia.

Seringkali dalam hidup ini, dengan segala permasalah yang dimiliki masing-masing orang, kita jadi merasa hidup ini begitu berat, merasa kita seorang diri, kesepian dan tidak berarti. Masing-masing orang punya caranya sendiri untuk ’lari’ dari masalah tanpa berusaha menghadapinya. Seseorang yang tampaknya baik-baik saja belum tentu begitu adanya, sebaliknya yang terlihat bermasalah bisa jadi sebenarnya baik-baik saja. Banyak orang memakai ’topeng’ untuk menutupi ’diri’ yang sebenarnya. Permasalahan terbesar dalam hidup ini sebenarnya apa sih? Apa yang membuat orang jadi merasa kesepian? Butuh pengakuan? Permasalahannya semua bersumber dari ’ego’ dalam diri kita masing-masing. Karena ’ego’ membuat kita ingin dianggap ’ada’.

Berusaha mencari pengakuan diri dari orang lain, saat kita tidak mendapatkannya hanya membuat diri kita kecewa dan ini tidak akan berhasil. Walau bagaimanapun jika ingin berbuat baik untuk orang lain, seharusnya dilakukan dengan tulus, tanpa berharap balasan apapun, terlebih balasan yang berupa sebuah ’pengakuan’ atas diri kita.

Untuk teman-temanku yang seringkali merasa kesepian, dan mencoba ’lari’ dengan caranya masing-masing, memakai ’topeng’ yang bermacam-macam rupa, secara keras kukatakan ’BANGUNLAH’! Jangan terlelap dalam ’ilusi’ yang menyeretmu pada penderitaan! Temukanlah kebahagiaan dalam dirimu, oleh dirimu sendiri! Kalau orang bisa mengatakan object itu netral, mengapa harus merasa ’sendiri’? Mengapa harus merasa ’kesepian’? Bukankah itu timbul karena sebuah ’persepsi’ atas sebuah ’kondisi’? Dan dengan demikian kamu tidak lagi memandang object itu netral! Aku bukan orang yang bisa bermulut manis, maka kukatakan dengan jelas dan keras sekali lagi, kita tidaklah butuh pengakuan atas keberadaan kita! Karena sesungguhnya eksistensi hanyalah sebuah ilusi! Hadapilah kenyataan yang ada, dan suatu saat nanti kamu akan menyadari bahwa tidak ada ’diri’ ini sesungguhnya…

 

Jakarta, 2 September 2009
~Jen~

Read Full Post »

GELAP

j0438756

Gelap, sebagian besar orang aku rasa memiliki sisi gelap dalam hidupnya. Satu sisi pada satu masa yang dirasa sangat menyakitkan, yang ingin disembunyikan dan tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Saat sulit yang membuatmu merasa seorang diri, sepi, dingin dan gelap tentunya! Begitupula dengan aku, pada suatu waktu, suatu masa, aku juga berada dalam kegelapan. Hanya kesendirian, sepi dan putus asa yang bisa kurasakan.

Memang benar seperti yang dikatakan orang, dengan pernah melihat gelap kamu akan lebih bisa merasakan indahnya terang, Karena manusia cenderung  untuk membandingkan, dan lebih bisa menghargai dan mensyukuri sesuatu bila ada pembandingnya. Sangat manusiawi karena dalam proses melihat terang butuh perjuangan, usaha, kerja keras yang kadangkala harus disertai dengan pengorbanan dan air mata. Tapi disitulah keindahan dari sebuah pencapaian. Tidak ada yang salah dengan gelap, asalkan kita yang berada di dalamnya berusaha untuk melaluinya dan menuju ke arah cahaya.

Berada di dalam gelap, buatku bagaikan mimpi buruk yang panjang, dan hanya ada dua pilihan, memejamkan mataku lebih rapat hingga aku bisa terlelap dalam tidur yang panjang dan berharap dapat menghilangkan mimpi buruk itu, atau berusaha untuk bangun dan sadar, serta menghadapi kenyataan dengan berbesar hati…
Semula kupilih yang pertama, memejamkan mataku, membutakan hatiku, tapi ternyata semakin aku terjerat dalam gelap yang dingin dan menyakitkan.
Tetapi karena gelap juga, akhirnya aku dapat melihat setitik cahaya yang menandakan adanya sebuah harapan. Setitik terang yang menyadarkanku dan menuntunku pada ‘jalan’ yang membuatku bangun dari tidur panjang dalam kegelapan.

Gelap, aku tidak lagi mau berada di dalamnya, karena buatku itu sangat menyakitkan. Walau jalan yang kutempuh tidaklah mudah, tapi kutahu jalan ini akan membawaku keluar dari kegelapan untuk selamanya.
Namun, tidak pernah ada penyesalan buatku telah berada dalam gelap, karena gelap mengajarkanku banyak hal, karena gelap telah memicuku untuk bangkit, karena gelap telah membuatku berusaha berjalan menuju terang dan menemukan kebenaran! Dan sekarang telah kurasakan betapa indahnya kebenaran itu…


Semula kupikir hidup ini hanyalah sebuah mimpi,
Karena itulah kupejamkan mataku lebih rapat,
Mencoba membuatku terlelap hingga mimpi itu hilang,
Atau sekedar mencoba mencari mimpi yang lebih indah.

Hanya hitam dan putih yang kulihat,
Tiada indah yang kurasa…
Dingin dan sepi…

Tapi saat kulihat setitik cahaya kecil di dalam gelap,
Kusadari ini bukanlah mimpi,
Kusadari akulah yang tidak pernah mau membuka kedua mataku,
Untuk melihat keindahan yang sesungguhnya dari hidup ini…

Aku mengurung diriku sendiri di dalam gelap,
Dengan berdalih kalau semua hanya mimpi,
Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu…

Perlahan kubuka kedua mataku,
Dan ya, aku melihat warna-warni yang indah…
Ternyata hidup bukanlah hitam putih sebuah mimpi,
Hidup ini sangatlah indah, saat aku dapat melihat kebenaran itu…

Jakarta, 15 Agustus 2009

~Jen~

Read Full Post »

PH02474J
Tersebutlah si monster ‘aku’, yang tinggal di dalam diri manusia.
‘aku’ ini suka sekali maen petak umpet, bersembunyi dan muncul sesuka hati.
‘aku’ bisa menjadi begitu besar, walau kadangkala juga ia mengecil.
Tanpa disadari oleh manusia, si ‘aku’ memegang kendali.

Buat ‘aku’, segala sesuatu haruslah sesuai dengan keinginannya.
Keluarga, sahabat, lingkungan, semua harus mengikuti maunya.
‘aku’ jarang sekali mau mengalah, kalau bisa, ia selalu jadi yang terbaik dalam segala hal.
‘aku’ sangat suka bila dipuji, dan menjadi sedih saat tak ada seorang pun yang perduli.

‘aku’ kadangkala melukai hati yang lain, tetapi tetap ‘aku’ tidak perduli.
Bahkan maaf pun rasanya berat untuk ‘aku’ sampaikan.

‘aku’ selalu merasa sudah sepantasnya mendapatkan apa yang ia dapatkan.
‘aku’ menganggap semua adalah miliknya dan selamanya akan jadi miliknya.
Itu membuat ‘aku’ menjadi selalu tidak pernah merasa puas.
Tanpa disadari kian hari ‘aku’ menjadi bertambah buruk dan menyeramkan.
Sayangnya ‘aku’ tidak pernah menyadari betapa buruknya ’aku’.

Sampai suatu kali ‘aku’ tidak mendapatkan apa yang ‘aku’ mau.
Biasanya itu hanya membuat ‘aku’ marah dan kecewa yang menjadikannya lebih buruk.
Tetapi kali ini sebuah ’kehilangan’ membuat ‘aku’ larut dalam kesedihan.
Sampai air matanya yang jatuh berlinang menggenang menjadi sebuah kolam.

Untuk pertama kalinya ‘aku’ melihat pantulan dirinya di kolam itu.
Betapa terkejutnya ‘aku’! Betapa buruk rupanya ‘aku’!
Sesaat ‘aku’ berpikir, seandainya ‘aku’ mengubah diri menjadi lebih baik, mungkin ‘aku’ tidak akan menjadi seburuk ini.

Lalu ‘aku’ mulai berbuat kebaikan, ‘aku’ belajar untuk bersabar.
‘aku’ banyak mengalah, ‘aku’ mencoba membantu dan menyenangkan siapa saja.
Tapi apa yang terjadi? Oh tidak!! ‘aku’ bertambah buruk lagi!
Rasanya ‘aku’ ingin menjerit! Apa yang salah?!

‘aku’ ingin lari, tapi ‘aku’ terpenjara, tidak bisa kemana-mana!
‘aku’ ingin berteriak tapi percuma tak ada yang akan mendengar!
‘aku’ ingin minta tolong tetapi tak tahu kepada siapa!

Sampai ‘aku’ merasa lelah dan mencoba untuk diam, diam di dalam keheningan.
Bertanya kepada dirinya, mengapa ‘aku’ malah bertambah buruk?
Ternyata apa yang ‘aku’ lakukan hanya didasari keinginan untuk mendapatkan perhatian.
Ternyata ‘aku’ mengharapkan pujian dan pengakuan yang justru memperjelas eksistensinya.

Lama ‘aku’ merenung…
Dalam diam akhirnya ‘aku’ melihat, bahwasanya seharusnya tidak pernah ada ‘aku’.
Selama ini ‘aku’ terbentuk oleh keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan.
Sebuah kesombongan yang mencoba memunculkan eksistensi ‘aku’.
‘aku’ tidak akan pernah menjadi cantik, ‘aku’ akan selalu buruk…
Dengan begitu sampai kapanpun ‘aku’ hanya akan menderita…
Dan untuk itu ‘aku’ harus dilenyapkan!

Sayangnya monster ‘aku’ terlanjur terbentuk…
Dan untuk melenyapkannya bukan hal yang mudah.
Kadangkala dalam kondisi yang tidak menyenangkan si ’aku’akan muncul.
Begitupula saat senang, ’aku’ pun masih ada.

‘aku’ masih harus berjuang dengan mencoba mengamati dirinya.
Menyadari setiap saat akan ‘aku’ yang seharusnya tidak pernah ada.
Sampai suatu hari nanti… kan didapati bahwa tiada lagi ‘aku’…

Jakarta, 21 Juli 2009

~Jen~

Read Full Post »

j0438647
Akhir-akhir ini aku jadi hampir lupa menulis untuk diriku sendiri, karena terlalu sering menulis buat orang lain. Menulis buat orang lain maksudnya aku memang memperuntukkan tulisanku dibaca orang lain, jadi baik isi maupun tata bahasanya harus aku pikirkan supaya orang nyaman membacanya. Terus terang aku lebih suka menulis untuk diriku sendiri, dengan gaya dan bahasaku sendiri dan yang paling penting adalah isi yang aku tujukan terutama untuk diriku sendiri.

Terakhir kali aku menulis bagaimana aku merasa ‘blank’ kehilangan arah dan tujuan hidupku. Aku bahkan sempat tidak bisa menuliskan apa-apa walaupun begitu banyak yang terlintas di dalam otakku dan begitu inginnya aku tuangkan dalam tulisan. Seolah-olah aku merasa tidak ada gunanya aku menulis, karena aku sendiri tidak mengenal diriku, tidak tahu apa tujuan hidupku…

Tetapi aku menyadari bahwa dalam hidup kadangkala kita harus melewati fase itu, fase di mana kita jadi kehilangan pegangan dan arah. Beruntunglah aku tidak terlalu lama berada dalam kondisi itu. Aku sudah menemukan apa yang jadi tujuan hidupku, hei kalau kupikir sebenarnya aku sudah tahu itu, tapi aku sempat melupakannya dan tidak menyadarinya. Aku yang sekarang sudah bisa menerima diriku apa adanya dan aku siap untuk terus berjuang dalam hidup ini.

Awalnya aku terlalu banyak berpikir dan menyesali apa yang ada di hidupku sekarang ini. Menyesali mengapa aku harus menanggung segala beban hidup yang ada. Karena aku percaya akan karma, aku percaya apa yang terjadi di kehidupanku saat ini adalah akibat dari perbuatanku di kehidupan yang lalu tentunya, aku jadi bertanya-tanya apa salahku dulu? Aku mulai hidup dalam rasa penyesalan yang besar… mempertanyakan mengapa ‘aku yang dulu’ berbuat begitu banyak kesalahan sehingga ‘aku yang sekarang’ yang harus menanggungnya. Semua pertanyaan, rasa tidak puas dan penyesalan itu selalu menghantuiku. Aku seperti tidak dapat memaafkan diriku sendiri dan aku jadi lupa dengan apa yang seharusnya kulakukan saat ini.

Sampai suatu hari aku membaca sebuah artikel, bagaimana cara Buddha memaafkan orang, dan aku jadi menyadari kalau ‘aku yang sekarang’ ini berbeda dengan ‘aku yang kemarin’, karena segala yang terkondisi selalu berubah. Kalaupun dulu aku telah melakukan kesalahan, itu adalah ‘aku yang lalu’, dan ‘aku yang sekarang’ sudah menjadi ‘aku yang baru’ dan sudah seharusnya tidak sama dengan ‘aku yang lalu’ asalkan aku tidak mengulangi kesalahan yang sama. Untuk itulah aku belajar dari Sang Buddha yang memaafkan orang yang telah menyakitinya, dengan memaafkan diriku sendiri. Aku menyadari bahwa meskipun aku yang sekarang berbeda, tetapi aku tetap harus menanggung akibat dari perbuatanku yang dulu. Yang terpenting untukku saat ini adalah menyadari bahwa aku memang telah melakukan kesalahan dan aku pasti akan menanggung akibatnya, tetapi aku tidak akan berlarut dalam penyesalan itu, aku hidup saat ini untuk membayar apa yang menjadi hutangku yang lalu.

Saat yang bersamaan juga, aku sedang mempelajari kitab Jataka, dimana berisi kelahiran-kelahiran yang lalu dari Buddha Gotama. Dari situ aku belajar, bahwa kehidupan yang berulang itu bukannya tanpa maksud. Kehidupan yang berulang itu ditujukan untuk memperbaiki kesalahan dan menyempurkan diri kita. Sebelum lahir menjadi seorang manusia dari suku Sakya dengan gelar pangeran, Siddharta Gotama, yang kemudian menjadi Buddha, sudah mengalami kelahiran yang tak terhitung banyaknya. Dan tidak hanya sebagai manusia, tetapi juga sebagai hewan, sebagai dewa dan sebagai makhluk lainnya. Dalam kelahiran yang berulang itu Bodhisattwa bakal Buddha melakukan begitu banyak kebajikan, beliau menyempurnakan Parami-nya sampai pada kelahiran terakhirnya sebagai Pangeran Siddharta.

Dari sini aku belajar, begitu pula halnya diriku saat ini, aku lahir sebagai manusia merupakan suatu berkah yang tak ternilai harganya karena dapat mengenal Dhamma ajaran Buddha. Kelahiranku kali ini tentunya juga memiliki maksud dan tujuan. Aku lahir sebagai manusia dan mengenal Dhamma adalah hasil dari karmaku, pastilah dulu aku telah berbuat suatu kebajikan sehingga bisa lahir dalam kondisi seperti itu. Tetapi aku menyadari bahwa ada banyak kesalahan yang sudah aku perbuat, dan aku harus membayarnya di kehidupan ini dan mungkin di kehidupan-kehidupan selanjutnya. Belajar dari kisah Jataka, aku juga menemukan bahwa seringkali kesalahan yang sama diulang kembali dalam kehidupan yang selanjutnya. Untuk itulah kita hendaknya selalu sadar dan berusaha sebaik mungkin menjalankan Dhamma ajaran Buddha sehingga kesalahan yang sama tidak terulang kembali.

Tujuan hidupku saat ini, seperti halnya Bodhisattwa bakal Buddha, adalah menyempurnakan Parami-ku sehingga bisa menemukan kebahagiaan sejati Nibbana. Aku percaya di setiap makhluk terdapat benih ke-Buddha-an, karena itulah seharusnya dalam kelahiran ini dan mungkin banyak lagi kelahiran berikutnya, aku harus berjuang untuk menyempurnakannya sampai aku berhasil mencapai Nibbana.

Semoga kesadaran akan tujuan hidupku ini, bisa membuatku senantiasa hidup sesuai dengan Dhamma yang menuntunku pada ‘kesempurnaan’…

Read Full Post »

Silent

ist2_2634427-lonely-child

Sometimes we do not need any words to tell anyone what had happened.
Just a simple picture and it tells you a lot…
Even though there are so many words on my mind but my hands cannot write any of it to tell anyone what I feel…

Read Full Post »

directionKenapa ya? Belakangan ini mood ku sangat tidak bagus sekali, bukan dalam pengertian buruk, tapi fluktuasinya benar-benar membuatku lelah. Aku bisa sangat gembira tertawa sampai perutku sakit bersama temen-temanku, tapi setelah itu aku justru merenung dan berpikir lebih keras dari biasanya. Perbedaan yang bagaikan langit dan bumi, seperti terjatuh dari puncak gunung ke dalam jurang yang dalam, rasanya kosong… aku bahkan tidak bisa lagi merasakan apa-apa…

Aku bingung, aku merasa hampa dan kehilangan arah… aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, apa yang harusnya kulakukan dan mana yang tidak. Aku seperti robot tanpa perasaan, bergerak dan melakukan aktivitas tanpa aku tahu untuk siapa, dan mengapa?

Berbagai pertanyaan yang biasa muncul bahkan seperti sudah lelah untuk menampakkan dirinya… aku hidup tapi serasa tak hidup, tak tahu kemana harus kubawa diri ini…
Aku hanya melakukannya tanpa rasa, tanpa jiwa, tanpa makna… Kadangkala aku merasa ingin berhenti, aku ingin diam saja sementara kubiarkan bumi berputar sendiri karena aku sudah lelah mengikuti arahnya… Di lain waktu aku merasa ingin berlari tanpa tahu apa yang kukejar ataupun kuhindari… berlari.. hanya berlari meninggalkan sesuatu yang bahkan kutaktahu apa itu…

Tapi kadangkala kesadaran itu bisa muncul… kesadaran yang membuatku untuk terus bertahan dan berjuang… meski tak kutahu mengapa harus kubertahan dan apa yang harus kuperjuangkan…
Aku lelah, sangat lelah… tapi diam pun tidak membuatku beristirahat… bahkan otak dan perasaan kosongku pun membuatku lelah… kehampaan membuatku tersiksa, tanpa tahu kenapa?

Aku tidak ingin begini berlama-lama, aku ingin segera mengakhirinya tapi semakin keras kuberusaha semakin tidak bisa kumengerti segalanya…
Diam… aku harusnya diam… walau masih belum juga bisa kumenemukannya…tapi setidaknya mengurangi sedikit energi yang harus kukeluarkan…mengurangi sedikit rasa lelahku…

Aku hanya berharap ini akan segera berlalu… semoga aku diberi kekuatan untuk melaluinya, menghadapinya, dan bukan lari darinya…

Semoga segera kutemukan jawaban dan pertanyaannya, yang akan membawa pada aku yang baru…

Aku yang bebas… aku yang tak lagi mempertanyakan arah… Karena aku yang menciptakan arah itu sendiri…

Read Full Post »

« Newer Posts