Feeds:
Posts
Comments

directionKenapa ya? Belakangan ini mood ku sangat tidak bagus sekali, bukan dalam pengertian buruk, tapi fluktuasinya benar-benar membuatku lelah. Aku bisa sangat gembira tertawa sampai perutku sakit bersama temen-temanku, tapi setelah itu aku justru merenung dan berpikir lebih keras dari biasanya. Perbedaan yang bagaikan langit dan bumi, seperti terjatuh dari puncak gunung ke dalam jurang yang dalam, rasanya kosong… aku bahkan tidak bisa lagi merasakan apa-apa…

Aku bingung, aku merasa hampa dan kehilangan arah… aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, apa yang harusnya kulakukan dan mana yang tidak. Aku seperti robot tanpa perasaan, bergerak dan melakukan aktivitas tanpa aku tahu untuk siapa, dan mengapa?

Berbagai pertanyaan yang biasa muncul bahkan seperti sudah lelah untuk menampakkan dirinya… aku hidup tapi serasa tak hidup, tak tahu kemana harus kubawa diri ini…
Aku hanya melakukannya tanpa rasa, tanpa jiwa, tanpa makna… Kadangkala aku merasa ingin berhenti, aku ingin diam saja sementara kubiarkan bumi berputar sendiri karena aku sudah lelah mengikuti arahnya… Di lain waktu aku merasa ingin berlari tanpa tahu apa yang kukejar ataupun kuhindari… berlari.. hanya berlari meninggalkan sesuatu yang bahkan kutaktahu apa itu…

Tapi kadangkala kesadaran itu bisa muncul… kesadaran yang membuatku untuk terus bertahan dan berjuang… meski tak kutahu mengapa harus kubertahan dan apa yang harus kuperjuangkan…
Aku lelah, sangat lelah… tapi diam pun tidak membuatku beristirahat… bahkan otak dan perasaan kosongku pun membuatku lelah… kehampaan membuatku tersiksa, tanpa tahu kenapa?

Aku tidak ingin begini berlama-lama, aku ingin segera mengakhirinya tapi semakin keras kuberusaha semakin tidak bisa kumengerti segalanya…
Diam… aku harusnya diam… walau masih belum juga bisa kumenemukannya…tapi setidaknya mengurangi sedikit energi yang harus kukeluarkan…mengurangi sedikit rasa lelahku…

Aku hanya berharap ini akan segera berlalu… semoga aku diberi kekuatan untuk melaluinya, menghadapinya, dan bukan lari darinya…

Semoga segera kutemukan jawaban dan pertanyaannya, yang akan membawa pada aku yang baru…

Aku yang bebas… aku yang tak lagi mempertanyakan arah… Karena aku yang menciptakan arah itu sendiri…

visa
Lebih kurang satu minggu lagi, seluruh umat Buddha di dunia akan memperingati hari Tri Suci Waisak, dimana tahun ini kita di Indonesia memperingatinya pada tanggal 9 Mei 2009. Banyak dari kita sebagai umat Buddha hanya sekedar memperingati hari Waisak saja, tanpa mencoba memahami makna sebenarnya dari peringatan hari Tri Suci Waisak, demikian juga halnya dengan saya. Seumur hidup saya tidak pernah mencoba untuk memahami apa makna hari Waisak yang sesungguhnya. Bagi saya Waisak sekedar merupakan hari raya umat Buddha, dan karena saya termasuk umat Buddha, jadi saya juga memperingatinya.

Tetapi tahun ini ada yang berbeda, buat saya tahun ini penuh dengan perenungan, entahlah apakah karena usia saya yang sudah hampir memasuki kepala tiga sehingga membawa saya kepada kematangan, atau juga karena belakangan saya mulai mendalami Dhamma dengan lebih serius. Ini membuat saya jadi memikirkan makna Waisak yang sesungguhnya bagi kita umat Buddha, dan buat saya pribadi khususnya.

Kita semua tahu, Waisak memperingati tiga peristiwa penting: Kelahiran Pangeran Siddharta, Pencapaian Pencerahan Sempurna (Menjadi Buddha), serta Buddha Parinibbana (Kematian). Cukup lama saya mencoba merenungi ketiga hal ini dalam kaitannya dengan peringatan hari Waisak. Dan apa yang tertuang di sini adalah hasil perenungan saya yang mendalam mengenai makna Waisak untuk kita saat ini.

Kelahiran
Peristiwa pertama yang kita peringati adalah kelahiran Pangeran Siddharta, seorang calon Buddha. Merupakan suatu peristiwa yang luar biasa bahwa telah lahir seorang calon Buddha di dunia ini, dan tentunya hal ini patut kita kenang. Tetapi lebih dari sekedar mengenang kelahiran dari Pangeran Siddharta, saya justru menemukan bahwa makna yang sesungguhnya adalah lebih kepada proses kelahiran itu sendiri. Kita semua ada dan hidup di bumi ini karena kita dilahirkan, dan kita tahu bahwa selama masih ada kelahiran, berarti kita masih terjebak dalam samsara. Seharusnya kita berusaha untuk tidak terlahir kembali, seperti yang telah ditunjukkan oleh Buddha sendiri. Tetapi disamping itu, kita juga patut mensyukuri kelahiran kita sebagai manusia, yang sulit terjadi. Dengan kelahiran sebagai manusia berarti kita berkesempatan untuk mencapai pembebasan sejati, dan untuk itu kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada ini.

Pencapaian Pencerahan Sempurna
Peristiwa kedua yang kita peringati adalah bagaimana Pangeran Siddharta menjadi Buddha. Pangeran Siddharta merasakan ketidakpuasan dalam hidup ini, mengapa orang bisa menderita sakit, mengapa orang bisa menjadi tua, mengapa orang akan berakhir dengan kematian, sampai beliau menyadari bahwa semua manusia memang akan mengalami yang namanya kelahiran, menjadi tua, menderita sakit dan akhirnya akan mati. Saat melihat seorang petapa, beliau jadi bertekad untuk menemukan jalan pembebasan dari penderitaan itu. Bukanlah sesuatu yang mudah untuk bisa memperoleh hal tersebut, bahkan cara yang ekstrim sekalipun pernah dijalani oleh Pangeran Siddharta. Apa yang telah dilalui oleh Pangeran Siddharta dalam mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha adalah sebuah proses. Mulai dari berguru pada satu guru ke guru yang lain, dan mengalami banyak rintangan, sampai akhirnya semua berhasil dilalui dan menjadi Buddha (yang ‘Sadar’). Ini adalah suatu peristiwa yang sangat penting bagi kita manusia, karena dengan ‘kesadaran’ yang diperoleh-Nya, kita semua dapat mengetahui jalan untuk membebaskan diri dari samsara.
Bagi saya, makna dari pencapaian pencerahan sempurna ini adalah pada ‘tindakan’ yang telah diambil oleh Pangeran Siddharta, dan pada proses dalam usaha pencapaian itu sendiri. Pangeran Siddharta dilimpahi dengan segala kemewahan sebagai seorang putra raja, namun beliau dengan tekad yang kuat untuk membebaskan manusia dari penderitaan duniawi dan menemukan kebahagiaan sejati, telah mengambil ‘langkah besar’ dengan meninggalkan semua yang beliau miliki.
Begitu pula dalam kehidupan kita saat ini, sebenarnya kita cukup beruntung karena Buddha sudah menunjukkan jalan, tidak harus kita cari sendiri. Masalahnya, apakah kita akan ‘bertindak’ dan mengambil ‘langkah’ untuk berjalan di jalan yang sudah ditunjukkan-Nya? Kebanyakan kita sudah mengetahui jalan yang ditunjukkan oleh Buddha, tetapi sudahkah kita menjalaninya? Dan seperti halnya Buddha, butuh proses yang panjang, halangan dan rintangan dalam mencapainya, begitu juga yang akan kita alami. Meskipun sulit, Pangeran Siddharta tetap tidak menyerah sehingga dapat berhasil, lalu bagaimana dengan kita? Mampukah kita bertahan dan berjuang terus untuk mencapainya, dengan segala kesulitan yang ada?

Parinibbana (Kematian)
Peristiwa terakhir yang kita peringati di hari Waisak adalah peristiwa wafat (parinibbana) Buddha. Mengapa Buddha harus wafat? Karena memang seharusnya seperti itu, karena setiap manusia akan mengalami kematian. Jika Buddha tidak wafat, justru akan mematahkan apa yang sudah diajarkan oleh-Nya sendiri, bahwa segala yang terkondisi adalah tidak kekal (anicca).
Bagi saya, peristiwa ini memiliki makna yang tak kalah pentingnya dibandingkan kedua peristiwa lainnya. Kematian adalah hal yang pasti, itu yang harus kita sadari. Selama ada kelahiran, kematian sudah menanti. Moment Parinibbana Buddha harusnya menyadarkan kita bahwa hidup ini anicca, bahkan seorang Buddha sekalipun tidak dapat lari dari kenyataan ini. Dengan demikian, memaknai peristiwa ini, hendaknya kita menyadari bahwa kematian bisa kapan saja menghampiri kita, dan itu adalah pasti. Sekarang bagaimana kita bisa siap menghadapinya dengan bekal ‘jalan’ yang sudah ditunjukkan oleh Buddha?

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan dari perenungan saya, setiap tahun kita memang memperingati Waisak sebagai tiga peristiwa penting yang sudah dilalui oleh guru junjungan kita, Buddha. Tetapi lebih dari pada itu, makna Waisak yang sesungguhnya buat saya adalah menyadari bahwa saya dan juga banyak makhluk lainnya masih belum terbebas dari siklus kelahiran dan kematian, sementara jalan pembebasan sudah ditemukan. Saya cukup beruntung untuk terlahir sebagai manusia dan dapat mengenal Dhamma ajaran Buddha, tetapi sudahkah saya mengambil ‘tindakan’ dan melangkah di jalan yang akan membebaskan saya dari siklus itu?
Dengan makna yang seperti ini, bagi saya setiap detik adalah peringatan Waisak, karena setiap detik pula saya seharusnya menyadari atas kelahiran, kematian dan jalan pembebasan yang harus saya tempuh.

Selamat Hari Waisak 2553,
Semoga Tri Suci Waisak mengingatkan kita semua untuk senantiasa meneladani Buddha melalui tiga peristiwa, sehingga bisa mencapai kebahagiaan sejati….

Jakarta, 1 Mei 2009; 5:05 AM
Jennifer Vidyadharmi

KECEWA

kecewa

Kemarin, seperti biasa dalam perjalanan ke kantor aku selalu mendengarkan musik untuk menghilangkan kejenuhan. Kebetulan lagu yang terputar dari handphone adalah lagunya BCL – Kecewa. Entah kenapa, tiba-tiba saja otakku jadi terus memikirkan kata ‘kecewa’ ini, lebih dari kecewa karena pacar yang tidak datang, seperti yang dilukiskan pada lirik lagu itu. Seharian kemarin, semalam, sampai sekarang akhirnya aku menuangkan apa yang aku pikirkan.

Aku berpikir, selama 29 tahun lebih aku hidup di dunia ini, sudah berapa banyak kekecewaan yang aku alami? Berapa banyak yang sudah terlupakan begitu saja? Berapa banyak yang masih menyisakan bekas di hati? Berapa banyak yang meninggalkan penyesalan? Dan berapa banyak yang sampai sekarang masih terasa sakit? Kita semua pastinya pernah kecewa, atau mungkin ada di antara pembaca ada yang tidak pernah sama sekali merasa kecewa? Rasanya tidak yakin ada, kalau ada, mungkin bisa berbagi resepnya di sini.

Waktu kecil aku seringkali kecewa karena tidak dibelikan mainan oleh orang tuaku, kecewa karena tidak berhasil mendapat nilai sepuluh waktu ulangan, kecewa karena tidak diajak pergi jalan-jalan, serta beribu kekecewaan anak-anak lainnya. Tapi kusadari, hampir tidak ada kekecewaan itu yang masih membekas di hatiku, sebagian besar malah sudah kulupakan, entah mengapa, karena waktu yang sudah menghapusnya kah? Atau karena kekecewaan itu lahir dari pikiran seorang anak-anak yang ketika beranjak dewasa menjadi bukan hal yang penting lagi? Entahlah, aku tidak tahu…

Ketika remaja dan beranjak dewasa, lebih banyak lagi kekecewaan yang terasa agak menyakitkan, yang aku rasakan. Kecewa dengan nilai Ebtanas yang entah kenapa bisa tiba-tiba jelek, kecewa karena terpaksa harus melanjutkan SMA di kampung, tidak jadi di Jakarta, kecewa waktu aku tahu cowok yang aku suka ternyata suka-nya ke cewek lain dan beribu kecewa lainnya yang masih bisa kuingat walaupun sudah tak lagi kusesali…
Satu kekecewaan terbesar dalam hidupku yang sangat sulit untuk dilupakan, dan entahlah apakah akan menyisakan bekas atau tidak, adalah kekecewaan atas kepergian ayahku lebih dari 6 tahun yang lalu.

Aku mulai merenungi kenapa manusia bisa merasa kecewa. Dari apa yang aku alami, dari seluruh kekecewaanku, ternyata penyebabnya adalah keinginan yang tidak terpenuhi dan harapan yang tidak terbalas. Ternyata memang ‘kecewa’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai tidak puas, tidak puas karena tidak terkabulnya harapan ataupun keinginan seseorang. Dan kita tahu ketidakpuasan itulah dukkha. Sebagian besar keinginan itu didasari atas keterikatan dan keserakahan.
Kita selalu bermain dengan hitung-hitungan dan pamrih: kalau aku melakukan ini, aku harus mendapat itu, kalau aku melakukan itu padanya, harusnya ia membalasku seperti ini. Kita selalu dipenuhi harapan-harapan yang kita ciptakan dalam pikiran kita sendiri. Dan saat harapan-harapan itu tidak terwujud, kecewa lah yang timbul.

Selama kita masih terbelenggu oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan, selama itu pula kita masih akan terus merasa kecewa. Tetapi bisakah kita melaluinya? Kalau melihat bagaimana aku bisa melupakan kekecewaan-kekecewaan masa kecilku, berarti kita bisa juga melaluinya, tapi bagaimana bisa? Ternyata itu terjadi seiring dengan adanya perubahan, ya perubahanku dari anak kecil yang menjadi dewasa. Aku tidak lagi membutuhkan mainan, aku tidak lagi butuh nilai sepuluh untuk ulangan, tidak lagi kecewa karena tidak diajak jalan-jalan oleh orang tuaku karena sekarang aku bisa pergi sendiri, ya karena masa-masa itu sudah berlalu, sekarang kondisi sudah berubah.
Tapi mengapa ada beberapa kekecewaan yang masih menyisakan rasa sakit di hatiku? Hei itu karena aku menyimpannya begitu lama, aku tidak meninggalkannya saat itu seharusnya sudah berlalu.

Lalu bisakah kita tidak merasa kecewa? Bisa saja, tapi sudah pasti tidak mudah, dan aku sendiri masih belum berhasil untuk tidak merasa kecewa sama sekali. Kita tahu kecewa itu karena adanya harapan yang tidak terkabul, karenanya jangan pernah berharap! Bukan berarti di sini aku mengajarkan untuk berputus asa, bukan dalam pengertian itu. Tapi jangan pernah berharap untuk balasan, lakukanlah segala sesuatu dengan tulus. Aku menyadari ini, kenapa aku begitu kecewa atas kepergian ayahku, karena aku dengan ego-ku berharap akan punya waktu yang lebih lama untuk hidup bersamanya.

Janganlah bermain dengan kalkulator untuk menghitung untung-rugi serta balasan dari apa yang kita lakuan, karena itu semua hanya akan berakhir dengan kekecewaan bila tidak berjalan sesuai dengan hitungan kita. Dan ingatlah, semuanya akan berlalu, apapun itu, tiada yang pasti dan kekal.

Berlatihlah untuk melakukan segala sesuatu dengan tulus, berlatihlah berpuas diri dengan apa yang kita dapatkan, dan berlatihlan untuk menyadari bahwa semuanya akan berlalu.
Semoga dengan demikian kita tidak akan lagi merasa kecewa…

Jakarta, 29 April 2009; 05.00 AM

write1 Heh… lagi-lagi kenapa sih orang selalu beranggapan menjadi penulis itu pekerjaan yang seolah sia-sia? Kenapa orang selalu mengukur segala sesuatu dengan uang dan materi? Padahal selain uang ataupun materi, ada hal lain yang buat gue lebih penting, kepuasan hati. Kenapa gue suka menulis? Gue juga gak tau, mungkin awalnya memang karena gue termasuk orang yang gak gampang mengungkapkan pendapat, walaupun gue blak-blakan tapi untuk mengungkapkan terutama isi hati gue, sangatlah tidak mudah buat gue. Makanya karena itu gue menulis, gue nulis karena gue gak bisa mengeluarkan itu melalui mulut gue.

Belakangang gue mulai mencintai kegiatan menulis ini, karena ternyata ada orang-orang yang suka membacanya. Gue baru sadar itu waktu gue SMA, waktu gue nulis cerpen buat majalah sekolah. Seorang guru memuji tulisan gue, dia bilang dia suka tulisan gue? Hal yang gak pernah gue dapetin dari keluarga gue, sekedar pujian atas bakat yang gue miliki? Kebalikannya justru menulis ini dianggap sebagai pekerjaan gak menghasilkan? Dan gue cenderung dilarang untuk menekuninya?

Kalau mau dipikir sih memang keluarga gue, terutama bokap n nyokap gue bukan orang yang merhatiin bakat, yang terpenting adalah kepandaian intelektual, bisa dapat nilai bagus dan rangking di sekolah itu sudah cukup dan lebih dari cukup, itu jadi tuntutan terbesanya. Padahal belakangan gue menyadari, betapa banyak bakat yang gue miliki, bakat seni terutama yang gue sendiri gak tau dari mana asalnya.

Gue gak pernah sadar kalo gue punya suara yang boleh dibilang bagus, sampai gue kuliah dan ada teman yang bilang begitu. Selama sekian lama gue selalu beranggapan semua orang bisa menyanyi seperti gue, punya suara seperti gue, nothing special… Hm.. gue jadi inget, waktu masih kecil, SD mungkin ya.. entah kelas 5 atau 6, gue pernah pergi sendiri mendaftar lomba nyanyi… yang kalo dipikir-pikir sekarang cukup gila juga? Sementara kalo itu terjadi di masa sekarang ini, orang-orang tua akan begitu antusias kalo liat anaknya punya sedikit bakat nyanyi aja, pastinya sudah diikutkan lomba sana sini, tapi gue? Mulai dari ambil formulir pendaftaran, ngedaftar, pergi lomba, sampe nyanyi di atas panggung gue lakuin sendiri, gak ada tuh satupun dari keluarga gue yang dampingin, dipikir-pikir sedih juga… gue suka becanda aja, coba dari dulu kalo bakat gue diasah, mungkin sekarang gue udah jadi artis! Wekekek…

Demikian juga halnya dengan menulis, sekarang gue baru nyadar, kenapa guru bahasa Indonesia gue di SMA begitu sayang ke gue, punya perhatian lebih, sampe-sampe gue disuruh ikut lomba menulis resensi buku segala? Ya ternyata mungkin orang-orang itu lebih bisa melihat bakat yang gue miliki dibandingkan keluarga gue dan diri gue sendiri bahkan!

Gara-gara sering menulis sampai larut malam, gue diomelin nyokap gue kemaren… mami gak setuju loe jadi penulis? Weks! Sapa yang mau jadi penulis mi?? Walaupun cita-cita gue suatu hari adalah bisa keliling dunia sambil menulis, tapi gue masih realistis, gue masih butuh kerjaan yang bisa ngasih gue duit cukup buat hidup. Tapi gue juga akan tetep nulis, menulis untuk diri gue sendiri, menulis untuk orang-orang yang mau membacanya. Kalo gue tidur malem itu sih karena memang inspirasi datengnya baru malem, ya kadang butuh suasana tenang untuk bisa menuangkan apa yang ada di otak gue, walaupun kadang biar ada keributan apa juga gue bisa tetep nulis. Tapi menulis di malam hari, saat suasana udah tenang, buat gue ada keasyikan tersendiri… Ya ngerti seh nyokap cuma takut gue sakit, tapi napa juga harus larang-larang gue nulis dan pake alasan nulis gak menghasilkan duit?

Napa ya, orang suka gak bisa ngerti gue? Apakah gue yang susah dimengerti? Emang gue suka aneh sih, hal-hal yang buat gue seneng, suka gak umum. Kadangkala emang gue ngelakuin itu karena gue gak suka sama dengan orang-orang kebanyakan, tapi lebih dari itu, gue suka ngelakuin sesuatu yang beda supaya gue bisa merasakan dan melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda. Kalau yang umum dilakukan orang gue udah tau, udah sering denger dari temen-temen yang curhat ke gue…
Hm.. kadangkala juga masalah kepuasan, ya tolok ukur kepuasan orang-orang kan beda-beda. Waktu gue mutusin pindah kerja, gue meninggalkan jabatan manager, ninggalin fasilitas mobil kantor yang gue dapet, dan bahkan gue pindah kerja untuk gaji yang lebih kecil. Bodoh ya gue? Buat sebagian besar orang gue bodoh, sebagian lagi gak percaya kalo gue pindah dapat gajinya lebih kecil… Ya ya ya… sebenernya gue hanya mau pindah, itu aja! Dan gue belajar untuk gak terikat dengan yang namanya jabatan, fasilitas dan materi, demi kepuasan hati gue, salahkah gue?

Orang boleh bilang gue bodoh, tapi gue gak pernah menyesali segala langkah yang udah gue ambil, karena gue percaya apapun itu ada pelajaran yang bisa gue petik. Lagipula gue percaya dengan kemampuan gue, n toh akhirnya bener, ternyata akhirnya gue bisa dapatin lebih dari itu. Yah, kenapa orang selalu menilai dari luar aja ya? Makanya gue sangat hati-hati saat mau bilang seseorang itu bodoh saat mengambil satu tindakan ini atau itu. Karena gue yakin pasti orang punya pertimbangannya sendiri. Kita yang melihat dari luar gak akan pernah tau apa yang dirasain orang itu.

Balik lagi, urusan tulis menulis, orang bisa bilang ngapain sih gue nulis kagak ada kerjaannya gini? Ini kepuasan buat gue… walau keliatan kayak orang lagi mabok gini, tapi coba setelah loe baca, ada gak nilai-nilai yang bisa loe ambil dari tulisang gue? Kalo gak ya gak apa juga sih, tandanya kita masih belum satu aliran 😛
Sedikit banyak gue yakin ada yang bakal mengiyakan apa yang gue tulis, sebagian lagi mungkin ngerasain hal yang sama. Gue bilang gini bukan tanpa dasar, tadinya gue nulis buat gue sendiri, tapi belakangan saat gue tau ternyata tulisan gue bisa bermanfaat buat orang-orang, gue jadi mikir untuk nulis hal-hal yang semoga memang membawa manfaat buat orang yang baca.

So mami or siapapun juga, gue cuma mo bilang, gak ada yang bisa menghentikan gue nulis, gue akan terus nulis selama tangan gue mampu menulis, selama di otak gue masih banyak kata-kata yang minta dirangkaikan agar punya makna. Gue akan terus nulis, buat diri gue sendiri terutama, dan syukur-syukur buat orang lain kalo ada yang berkenan membaca.

Halfmoon

Halfmoon

Halfmoon

Belakangan ini gue lagi banyak mikir, gak tau napa nih otak maunya jalan terus, sampe gue capek banget. Gue gak konsen ngerjain kerjaan kantor, gak konsen kerjain kerjaan tulis menulis, gak konsen mau ngapa-ngapain, otak jalan terus.. gak tau mikir apa…
Pelan-pelan gue coba ikutin tuh arah pikiran otak gue, hm.. ternyata yang dipikir lumayan berat juga, mulai dari mikirin apa sih artinya hidup ini, mikirin gue mo ngapain, sampe mikirin sebeneranya gue ini apa? Siapa? Wadoh… gue jadi takut kalo kagak kuat bisa-bisa jadi penghuni RSJ lage… 😛

Gue mulai ngerasa kehilangan jati diri.. or emang selama ini gue gak pernah tau jati diri gue benernya ada ato nggak? Yah yah kalo dipikir-pikir gue sampe sekarang selalu ngerasa gue hidup ini bukan atas kemauan gue… maksudnya apa-apa yang gue lakuin kayaknya kok bukan untuk gue ya? Gue sadar dari dulu gue selalu pengen bisa segala-galanya, buat apa sih benernya? Ternyata hanya untuk menyenangkan orang-orang disekitar gue.. terutama buat bokap gue, supaya gue ini dipandang oleh dia, supaya gue ini ‘exist’!
Tapi berhubung sekarang bokap dah gak ada, trus gue jadi kehilangan pedoman, patokan untuk ukuran eksistensi gue? Gue jadi suka merasa ada dan tiada….

Terus terang kadangkala gue bingung, gue ini benernya orang yang gimana ya? Kalo kata sepupu gue yang tercinta, gue ini musang berbulu domba? Weh… enak aje dia… abis katanya gue selalu tampak manis di depan seluruh sodara-sodara, keluarga besar, lah setelah dia tinggal satu kost ama gue dia bilang gue ini ‘ancur’? Heh.. ancur di mana? Orang cantik2 gini kok? wekekekek.. nah ini nih, gini ini ancur nya gue… hm.. ini kan selera humor ya? Masa orang gak boleh punya selera humor seh? Tapi emang sih kalo dipikir-pikir mungkin ada orang2 yang kenal gue ini sebagai si Jenny yang kutubuku, galak, kuper? Masa gue kuper? hihihi… gak tau deh mungkin dulu belom ketemu temen yang cocok aja kali jadi gue gak maen ama banyak2 orang? Wek… padahal dibandingkan ama kakak gue, temen gue justru lebih banyak?

Yah gara-gara statement musang berbulu domba itu gue jadi mikir tuh, benernya gue ini orang yang munafik kah? Weks, padahal gue orang yang gak suka kepura-puraan, gak suka yang munafik, gue orang blak-blakkan… tapi.. gue bisa menempatkan diri gue… kalo ngomong ama yang tua ya sopan lah yauw.. masa loe ngocol abis, gak mungkin toh? Gue hanya merasa gue ini ibarat cermin, kalo lawan gue itu orangnya asik, gue bisa jadi asik, kalo lawan gue jutek, gue bisa lebih jutek, weks! Kalo lawan gue sopan, gue bisa 10 kali lipat lebih sopan… ya gitu deh… makanya tergantung dengan siapa gue berhadapan, gue bisa sangat bawel setengah mati, tapi bisa juga jadi pendiem setengah mampus… nah loh??!

Belakangan ini gue kembali ke hobby gue yang dah gue lakuin sejak SMP, menulis, banyak yang gak tau gue bisa nulis? Weh emang aneh, gak tau bakat dari mana neh? Kenapa juga gue bisa nulis panjang lebar gini? Di keluarga gak ada tuh yang kayaknya bakat nulis, mana bokap gue sangat menentang gue untuk jadi seorang penulis? Mau jadi pujangga? Bah, kerjaan apa pula itu? Yah yah yah pemikiran kolot yang gak bisa disalahin, dikiranya menulis itu hanya kerjaan penyair2 yang gak menghasilkan duit? Hm.. gue menulis juga gak nyari duit seh.. gue nulis karena gue suka, titik! Gue nulis buat mengungkapkan isi hati gue yang kadangkala gak bisa gue ungkapkan lewat kata-kata.. gue nulis buat sharing ke orang-orang supaya syukur-syukur ada tulisan gue yang bisa membuat orang seneng, membawa kebaikkan buat orang-orang…
Dan lagi-lagi… kegiatan gue menulis ini bikin gue jadi merasa orang aneh lagi..!! Apalagi buat temen-temen yang kenal gue dan sempet baca blog gue.. mampus dah, beda 180 derajat?? So benernya gue ini yang mana sih?? Ada yang kenal gue sebagai anak yang alim, ada yang kenal gue cukup ‘ancur’ ada yang kenal gue jutek, judes.. heh.. kalo ditanya gue yang mana, dari kemaren2 gak usah loe pada nanya, gue sendiri dah nanya ke diri gue…

Setelah gue mikir lama, ampe pala gue ini gak bisa dipake buat mikir yang laen, akhirnya gue nemu satu padanan yang tepat… gue ini ibaratnya ‘halfmoon’… bulan separoh… ada sisi gelap dan ada sisi terang… napa bisa gitu? Ya karena jujur gue ini masih manusia, gue masih diliputi keserakahan, kebencian dan kebodohan, gue belum sempurna… Tapi karena gue ini mau belajar, gue bukan bulan sabit, sisi terang dalam diri gue ini dah separoh, walaupun separohnya lagi belom keliatan.. ya ya… cocok banget deh…

Gue sekarang ini sedang berusaha untuk menjadi bulan purnama dengan cahaya yang bulat sempurna…karena itu kadangkala gue bisa kelihatan sangat bertolak belakang, sangat manusiawi menurut gue, gak ada yang aneh… lagipula gue percaya setiap manusia memiliki sisi gelap dan terang dalam diri mereka masing-masing.
So secara jujur gue ngaku… masih banyak kekurangan gue, masih banyak sisi gelap gue, tapi gue juga punya sisi yang sudah bersinar… dan kalo ditanya sekarang ini, yang ada di otak gue adalah selalu bagaimana caranya membuat ‘halfmoon’ menjadi ‘fullmoon’…

Gue tau gak gampang, n butuh waktu yang gak sebentar… tapi gue gak menyerah… dan gue berharap satu hari nanti gue bisa melihat cahaya bulan yang sempurna dari dalam diri gue…

hourglass-copy1
Bila esok tak pernah ada untukku, apa yang harus kulakukan? Dan aku memang tengah menghadapinya!
Hm… aku jadi tidak bisa menikmati hangatnya sinar matahari esok pagi, tidak bisa juga merasakan dinginnya malam di bawah cahaya bulan yang romantis…

Kenapa sih aku hanya punya sisa waktu 24 jam saja? Itupun sudah kupakai 8 jam untuk tidur semalam… Sekarang jam 8 pagi, aku mau menikmati sinar matahari barang sebentar untuk terakhir kalinya…

8.15
Aduh waktuku kan tidak banyak, apa yang harus kuperbuat sekarang? Sebenarnya aku kesal, kenapa sih aku harus mati besok? Padahal masih banyak yang ingin kulakukan, aku belum menikmati jalan-jalan ke luar negeri, belum memiliki karir yang bagus, belum membeli mobil yang aku mau, heeeh.. kenapa hidup ini terasa tidak adil?
09.00
Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?? Ah ya, aku ingin menikmati barang-barang yang kupunya untuk terakhir kali… hm.. yang pertama apa ya? Ah, koleksi baju, sepatu dan aksesories, kalung, gelang, dan anting2 kesayanganku… Duh padahal ada anting2 baru yang sama sekali belum kupakai… Hm sebaiknya semua kucoba satu persatu untuk terakhir kalinya…
10.00
Aih… ternyata untuk mencoba seluruh baju-baju dan aksesorisku tidak cukup waktu 1 jam! Tapi aku harus melakukan yang lain… ah apa ya? Apa ya? Aku jadi bingung sendiri… hm… Ah ya, aku mau bersenang-senang di mall! Aku ingin jalan2, aku mau cari baju, tas, sepatu, dan aksesoris yang terbaik, aku ingin tampak cantik nanti saat aku mati. Hey sekalian 1 gelas kopi Starbuck untuk yang terakhir kalinya…
12.00
Aku lapar… aku ingin makan semua makanan kesukaanku… Tapi rasanya perutku tidak akan cukup, jadi apa yang harus kumakan ya? Nasi Goreng? Mie? Steak? Pempek? Duh…bingung….
15.00
Aduh… apalagi yang harus kulakukan? Buku! Aku baru ingat belum selesai baca buku novel yang baru kubeli, bisa mati penasaran kalo aku tidak tahu endingnya….
17.00
Oh hampir aku lupa, DVD Drama Korea yang baru kubeli… Hm… lihat si ganteng Bae Yong Jun untuk terakhir kali…Uh… kenapa waktuku tidak banyak lagi?
19.00
Astaga… Sudah jam 7? Makan… Hm… makanan terakhir… mie instant? Wah kok gak seru? Tapi kapan lagi aku bisa makan mie instant? Ya sudahlah mi instant jadi makanan terakhirku…
20.00
Aku lelah, aku ingin tidur, tapi nantilah, 4 jam lagi aku juga akan tidur dan tak bangun lagi… Hm…. Aku telepon saja seluruh keluargaku satu persatu…
21.00
Film…film drama di televisi… Uh… Aku gak akan pernah tau akhir ceritanya… Hiks….
22.00
Aku harus say goodbye ke teman-temanku… Hmm kalo kutelepon satu persatu waktuku tidak akan cukup, kutulis saja pesan di facebook, friendster, YM dan melalui email-emailku…
23.00
Astaga aku lupa…!! Surat wasiat…. Hm.. aku harus buat surat wasiat dulu, mau kuberikan pada siapa satu lemari penuh buku-buku yang aku punya ya? Belum lagi boneka-boneka kesayanganku? Si Bonbon, Bonny, Tangtang, Cuncun, dan teman2nya… Siapa yang bisa merawat mereka sebaik aku merawat mereka? Dan aku tidak mau mereka terpisah-pisah…
23.30
Setengah jam lagi… arrgghhh… aku masih ingin hidup! Aku tidak rela harus meninggalkan ini semua, aku masih ingin bersenang-senang? Hey… apa aku kurang bersenang-senang seharian ini? Hm… entahlah.. tapi aku tidak merasa senang… belum, belum cukup… aku masih butuh waktu lebih lama… aku masih belum bahagia, aku masih harus melakukan banyak hal, mencoba banyak hal..!!
23.45
Di mana aku harus mati, bagaimana posisi yang baik ya? Aku tidak mau kelihatan jelek, aku mau segalanya sempurna… Aku mau orang ingat akan aku terus… Eh? Ingat akan aku? Ingat sebagai apa? Orang bodoh yang mati dengan cantik? Ingat aku sebagai apa? Apa yang akan mereka ingat akan aku?? Apa berita kematianku akan dibicarakan orang nantinya? Berapa lama orang akan membicarakan aku? Apa mereka akan terus mengingatku?
23.59
Tidak…!! Tidak..!! Aku masih ingin hidup!! Aku tidak mau mati seperti ini, aku belum merasa BAHAGIA!! Aku masih harus melakukan banyak hal!! TIDAK!!!

00.00
………….

00.01
Eh? Aku masih hidup? Tanggal.. ini tanggal berapa?? Masih tanggal kemarin? Jadi 24 jam yang kulewati seharian ini? Apa aku masih diberi kesempatan sekali lagi?

Ah ya, aku tahu ini pasti kesempatan untukku, aku tidak boleh menyia-nyiakannya lagi! Kalau kupikir-pikir, yang kulakukan seharian kemarin hanya untuk kepuasan yang sebenarnya tidak pernah cukup… tidak pernah ada kebahagiaan di dalamnya. Aku tidak merasakan kebahagiaan, karena semuanya hanya membawa ketidakpuasan yang membuatku merasa cemas, takut, marah dan menyesal.

Di sisa hidupku, aku ingin merasa berkecukupan, merasa puas diri, sehingga aku bisa merasakan kebahagiaan itu… Aku tahu aku harus berbuat apa, walaupun ini harusnya kulakukan selama aku masih hidup, bukan hanya di saat-saat terakhirku saja, tapi sudahlah, masih bagus aku diberi kesempatan untuk bisa menyadarinya….

Aku akan mengatakan pada orang tuaku betapa aku berterima kasih atas kasih sayang yang sudah mereka berikan untukku, dan permohonan maaf atas segala kesalahan yang mungkin sudah pernah kulakukan. Tidak hanya kepada orang tuaku, ini juga akan kulakukan ke saudara-saudaraku, teman-temanku, semua orang yang kukenal, bahkan musuhku. Aku akan bilang betapa aku menyayangi mereka semua… terdengar klise dan mudah, tapi pernahkah kulakukan selama ini?

Di saat terakhirku aku ingin menghibur teman-temanku yang sakit, dan mengatakan pada mereka, betapa berharganya hidup ini, hidup sebagai manusia… Mereka harus lebih menghargai kesehatan mereka, mereka masih punya waktu setidaknya lebih banyak dari aku, seharusnya mereka bisa mengambil langkah agar bisa merasakan kebahagiaan seperti yang ingin kudapatkan saat ini…

Ke panti jompo, ya aku ingin ke sana, tempat para orang tua yang seringkali merasa hidupnya tersingkir… aku ingin mengatakan pada mereka bahwa aku menyayangi mereka, dan betapa mereka masih beruntung karena memiliki waktu hidup yang cukup lama, tidak seperti aku… tapi sebenarnya selain itu aku juga bersyukur, dengan waktu hidup yang singkat ini aku tidak harus mengalami menjadi seperti mereka…

Lalu, panti asuhan, ya ya… tempat anak-anak yang kurang beruntung, membagi sedikit kasih sayangku yang tersisa untuk mereka… dan dengan melihat mereka membuatku bersyukur selama ini aku hidup dengan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuaku…

Semua yang kulakukan ini adalah latihan dan persiapan agar hatiku bisa merasa berkecukupan, sehingga saat aku menutup mata, tiada lagi penyesalan yang tertinggal, tiada lagi hal-hal yang memberatkanku, aku bisa berlapang dada menerima karmaku. Dan yang terpenting aku bisa dengan tenang mengarahkan pikiranku menyadari setiap hembusan nafas terakhirku….

Tak perduli lagi aku akan seluruh harta bendaku, tiada perduli aku atas nama baik dan kehormatan, tiada penyesalanku meninggalkan orang-orang yang kukasihi, tiada lagi yang mau aku lakukan, karena semua sudah terasa cukup… cukup buatku melangkah menuju hidupku yang baru….

Sebuah perenungan buat kita yang seringkali terlena dan menganggap waktu hidup kita masih lama…
Buat orang-orang yang selalu mencari kebahagiaan untuk hidupnya yang singkat, yang mungkin belum menyadari arti ‘kebahagiaan’ yang sesungguhnya…


Ditulis dengan penuh cinta dan dipersembahkan untuk semua makhluk yang masih berada dalam siklus hidup dan mati tanpa terkecuali…

Jakarta, 16 April 2009, 12:41 AM

CB025411

Setelah lebih dari 3 tahun (mungkin malah lebih lagi?) tidak menginjakkan kaki di Wihara untuk melakukan puja bakti, akhirnya kemarin dengan niat dan tekad saya melakukannya.
Banyak sekali alasan mengapa saya tidak ke Wihara selama ini, mulai dari rasa malas, rasa bosan, hingga pembenaran diri yang menganggap kebaktian atau puja bakti hanyalah suatu ritual yang tidak harus dilakukan di Wihara bahkan sah-sah saja bila tidak dilakukan sama sekali! Karena berpikir demikian sampai-sampai, tahun lalu saat hari Waisak pun saya tidak ke Wihara.

Alasan saya yang mungkin jadi alasan kebanyakan orang untuk tidak pergi ke Wihara, pertama karena malas. Apapun dalihnya, entah karena jauh, tidak ada waktu, tidak ada kendaraan, sibuk, tetap saja ujungnya itu kemalasan. Kita punya waktu 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu, waktu yang kita habiskan di Wihara paling-paling hanya 4 -5 jam saja dan itu pun seminggu hanya sekali. Kalau kita memang niat, sejauh apapun bisa kita tempuh dengan kendaraan apapun juga. Kemarin saya mencoba membuang rasa malas ini, biasa hari Minggu saya bangun lebih siang, kemarin saya bangun pagi-pagi. Walaupun tidak ada kendaraan, dan saya masih belum tahu letak Wiharanya, tapi saya tetap memutuskan untuk pergi dengan naik ojek. Toh akhirnya saya sampai juga dan bisa ikut puja bakti dan mendengarkan ceramah Dhamma.

Alasan yang kedua, saya menganggap puja bakti hanya sekedar ritual saja. Sebenarnya dulu sekali saya tidak berpikir demikian, tetapi karena dalam perjalanan saya belajar Dhamma dan menangkapnya setengah-setengah, saya merasa toh puja bakti dalam Buddhis itu bukannya berdoa yang berarti sama dengan memohon/meminta. Selain itu saya melihat banyak orang rajin ke Wihara melakukan puja bakti tapi tetap saja melakukan keburukan, jadi buat apa puja bakti? Bagi saya seperti itu memperlihatkan kemunafikan, dan saya tidak suka! Makanya saya memilih tidak ke Wihara. Ditambah lagi Wihara tempat saya biasa pergi waktu kuliah dulu, semakin lama semakin dijejali dengan umat, hm.. harusnya bagus sih, tapi kok saya malah merasa tidak nyaman lagi ya? Karena saya hanya merasa kebanyakan mereka ke Wihara lebih kepada embel-embel yang lain, cari pacar lah, berorganisasi lah, mencari eksistensi diri, saya jadi merasa terganggu saja, saya berharap pergi ke Wihara untuk bisa dengan tenang mendengarkan Dhamma.

Alasan ketiga, saya tidak cocok dengan tradisi Wihara itu. Kenapa sih sudah tau penuh, jauh, masih juga maunya pergi ke situ, Wihara itu? Memangnya tidak ada yang lebih dekat? Sebenarnya ada sih, Wihara yang mungkin lebih dekat, tetapi, balik lagi alasan bahwa cara puja baktinya berbeda, suasananya beda, tradisinya beda! Lagi-lagi saya membuat alasan dan pembenaran untuk tidak pergi ke Wihara.

Alasan yang keempat, saya tidak suka penceramahnya kadang-kadang suka menjelek-jelekkan yang lain, entah agama yang lain, penceramah yang lain, bahkan tradisi yang lain yang notabene sebenarnya masih dalam satu ajaran Buddha juga! Heh.. capek saya kalo dengar penceramah yang kayak begini, walaupun mungkin hanya sebagian kecil saja, tapi lagi-lagi ini jadi alasan saya untuk tidak ke Wihara…

Cukup lama saya hidup dengan pembenaran-pembenaran diri, yang setelah saya renungi, semuanya itu karena adanya lobha, dosa dan moha yang masih meliputi saya. Lalu mulai satu persatu saya coba merenungi alasan-alasan itu dan sampai pada kesadaran yang membawa saya kembali ke Wihara.

Wihara, secara umum kita katakan tempat ibadah umat Buddha. Buat saya pergi ke Wihara adalah saat saya untuk sejenak lepas dari rutinitas harian saya. Saya datang ke hadapan Guru Agung Buddha untuk menyatakan (lagi) perlindungan saya pada Triratna, mendengarkan Dhamma, ajaran-Nya dan berkumpul di dalam kelompok Sangha dan menghormat pada Arya Sangha. Untuk yang pertama mungkin sebenarnya bisa saya lakukan di rumah, yang kedua mungkin bisa saya dapatkan dari membaca buku atau sumber lainnya, tapi yang ketiga? Wihara memang seharusnya menjadi tempat berkumpulnya teman seperjalanan yang sama-sama sedang belajar Dhamma. Dan saya menyadari rentetan kegiatan itu semua bukanlah sekedar ritual biasa.

Sewaktu saya melakukan puja bakti dan melafalkan paritta, seharusnya saya merenungi artinya bukan sekedar mengucapkannya di mulut saja. Saat mendengarkan penceramah membawakan ceramah Dhamma, terlepas dari apa yang disampaikannya, masalah benar atau salah adalah sepenuhnya harus lahir dari pemahaman saya sendiri (Ehipassiko). Dan menyikapi sikap orang-orang maupun penceramah yang kadangkala tidak sesuai dari apa yang diucapkan dan diperbuat, saya pikir pada dasarnya kita semua ini masih manusia, yang belum terbebas dari lobha, dosa dan moha tadi. Karena itulah, kadangkala kesalahan ataupun keburukan itu justru menjadi guru yang paling baik untuk saya belajar. Agar saya sendiri senantiasa diingatkan untuk tidak hanya bisa berbicara tapi juga bisa berlaku sesuai apa yang saya bicarakan.

Lalu masihkah saya harus pergi ke Wihara yang sesuai dengan tradisi yang cocok dengan saya? Masalah cocok tidak cocok, kalau kita masih merasa seperti itu pada Dhamma yang sesungguhnya adalah satu, berarti kita masih bermain dengan ’ego’ kita dan ’terikat’ pada rasa suka. Saya belajar untuk ’melepas’, apapun itu yang disebut tradisi, yang paling utama adalah saya tahu yang saya dapat di satu Wihara itu adalah Dhamma yang memang diajarkan oleh guru Buddha.

Yang terakhir, alasan saya kembali ke Wihara adalah untuk mengenalkan Ibu saya pada Dhamma, yang merupakan tanda bakti saya sebagai seorang anak. Hal yang tidak sempat saya lakukan ke almarhum Ayah saya, yang kalaupun ingin disesali sudah tidak berguna lagi, karena masa lalu sudah berlalu. Karena itulah saya tidak mau membuang kesempatan yang sekarang ada di depan saya.

Dari kesadaran yang timbul sebagai hasil perenungan diri saya, satu tekad sudah saya ucapkan…

WIHARA, I’m Back!

Berubah

change1

Apa yang terlintas dalam benakmu saat pertama kali mendengar kata “berubah“?
Sebagai seorang Buddhis kita kenal apa yang disebut ” Anicca” atau “tidak kekal” Karena segala sesuatu yang terkondisi tidak kekal, maka yang namanya perubahan tidak dapat kita hindari. Dari sehat menjadi sakit, dari muda menjadi tua, dari hidup menjadi mati, semua perubahan-perubahan ini secara nyata dapat kita lihat dalam hidup ini. Tetapi pernahkah kita sadari bahwa dari detik ke detik pun ada yang berubah? Kadangkala kita hanya sibuk memikirkan sesuatu yang jauh dari apa yang kita lakukan setiap hari, ya tidak salah memang, tapi apa tidak sebaiknya kita juga belajar dan mengamati apa yang kita alami sehari-hari? Karena kita masih menjalani kehidupan kita sebagai manusia biasa?

Kembali ke masalah perubahan, setiap orang bisa berubah, berubah dalam konteks kali ini mengacu pada perbuatan atau tingkah laku seseorang. Orang bisa berubah ke arah yang lebih baik, dan tentunya ini yang kita harapkan, tetapi bisa pula menjadi lebih buruk. Kita boleh saja kecewa atas perubahan yang terjada pada diri seseorang, tapi cobalah kita renungkan, bukankah rasa kecewa ini timbul karena adanya “ego” kita? Karena kita berharap orang itu tetap seperti yang kita mau? Padahal kalau mau jujur, kita harus bisa melihat bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang adalah sepenuhnya hak dia? Dan yang paling penting adalah perubahan ini, entah ke arah baik atau buruk, adalah pilihan yang sudah diambil oleh orang tersebut? Jadi kita sama sekali tidak berhak untuk merasa kecewa, karena segala resiko pun akan ditanggung yang bersangkutan.

Beberapa bulan lalu, saya dan teman kantor sedang membahas satu orang kantor yang kita anggap sudah berubah. Sebut saja namanya Pak X, ia orang yang cukup alim, gak macam-macam, taat menjalankan agamanya. Bahkan sempat dalam satu kesempatan Pak X ini mengutarakan keinginannya untuk kelak menjadi pemuka agamanya bila sudah pensiun nanti. Hm.. apa  yang ada dalam bayangan anda tentang Pak X ini? Orang baik kan? Tapi tak lama berselang aku dan temanku melihat kenyataan yang berbeda. Kupikir bukan karena Pak X menyembunyikannya dariku atau dari temanku, tapi memang dia sudah berubah! Ini bisa kurasakan, karena sikap canggungnya kepadaku belakangan ini. Yah aku masih melihat dilema dalam dirinya. Memang semenjak dipindah ke departemen lain, dimana karakter orang-orang di sana berbeda jauh dari departemenku, tempat Pak X berada sebelumnya, sikap Pak X sedikit berubah, entah karena adaptasi, atau apapun itu, yang jelas dia sudah memilih untuk menjadi seperti itu! Awalnya aku sempat kecewa, bukan kecewa karena perubahannya, tapi kecewa karena  ia berubah tidak menjadi lebih baik! Tapi setelah mencoba memahami berbagai alasan yang mungkin, akhirnya aku menyadari, dan kesadaran ini ternyata tidak ada kaitannya dengan seribu satu alasan tadi, tapi lebih pada perenungan bahwa benar kita tidak bisa lari dari yang namanya perubahan. Masing-masing orang bisa berubah sesuai apa yang sudah dipilih untuk hidupnya. Dan yang terpenting masing-masing orang juga menanggung sendiri akibat dari pilihan yang sudah ditentukannya.

Belum lama ini seorang sahabat mengeluhkan hal yang serupa, ia kecewa atas perubahan yang terjadi pada orang terdekatnya, lebih jauh lagi ia bahkan diminta untuk ikut berubah, dan ia tidak suka itu! Inilah kadangkala batas ’ego’ dan ’sayang’ itu begitu tipis. Dengan dalih rasa sayang dan alasan untuk kebaikan dirinya, seseorang diminta berubah, padahal kebaikan, kebenaran dan kebahagiaan itu berbeda-beda untuk setiap orang! Kita seringkali sok tahu dan dengan seenaknya memaksakan hal yang kita anggap baik, benar dan membahagiakan kepada orang lain. Di pihak lain, orang yang di minta berubah juga menyimpan ’ego’ nya sendiri, tidak suka diatur, tidak suka diubah, merasa itu bukan dirinya, lebih suka jadi dirinya sendiri apa adanya! Padahal kalau ia mau melihat ke dalam barang sebentar saja, mungkin saja sebenarnya ada sebagian kecil atau bahkan seluruhnya dari apa yang diminta ke dia itu sebenarnya bisa diterima!

Tidak usah bicara jauh ke orang lain, dari pengalaman saya pribadi, kadangkala saya suka merasa ada dualitas dalam diri saya. Dua sisi yang saling bertentangan, satu sisi saya yang lebih condong ke arah negatif dan sisi lain yang terus berusaha untuk menjadi baik. Pagi ini saya sampai pada kesimpulan, karena itulah dikatakan pada dasarnya setiap orang memiliki benih ke-Buddha-an, hanya saja memang kita masih tidak terlepas dari Lobha, Dosa dan Moha. Dan ini adalah pilihan masing-masing orang, untuk terus menumbuhkan benih ke-Buddha-an itu atau justru sebaliknya. Hal semacam ini tidak bisa kita paksakan ke orang lain dengan dalih apapun juga, karena kita tahu bahkan Buddha sendiri mengajarkan prinsip Ehipassiko. Ini bukan suatu alasan untuk pembenaran, tapi coba kita renungkan, sesuatu yang dipaksakan tidak akan dilaksanakan dengan sepenuh hati, lalu apa bisa kita mencapai tujuan kita? Rasanya akan sulit bukan?

Jadi buat saya, sebagai seorang sahabat seperjalanan, kita hanya bisa membantu mengarahkan, menunjukkan jalan, membukakan pikiran, tapi bukan memaksakan! Orang harus sadar dengan sendirinya untuk memutuskan perubahan bagi dirinya dalam usahanya menemukan kebenaran yang sejati.