Feeds:
Posts
Comments

“What’s in a name?

That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”

~William Shakespeare~

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tulisan ini, dan karena terlalu sibuk jadi belum sempat. Tapi karena pulang ke Lampung dalam rangka perayaan Ceng Beng minggu lalu, membuat saya tergerak untuk menuliskannya.

Saya lahir dengan nama Jennifer alias Theng Yen Nie untuk nama chinese nya karena kebetulan saya lahir dari keluarga chinese yang masih cukup totok jadi masih punya nama chinese. Sebenarnya nama Jennifer diberikan oleh mami saya, sementara papi memberikan nama chinese.
Saya suka kesal karena di antara 3 bersaudara, hanya nama saya yang terdiri dari 1 kata, sementara kakak dan adik saya namanya terdiri dari 2 kata. Menurut mami, huruf depan nama kami bertiga diambil dari nama toko papi, yaitu toko ABC (nama ABC ini juga berasal dari nama merek batu baterai karena kebetulan toko papi menjual produk itu dengan jumlah cukup banyak). Kebetulan kok pas dengan jumlah anaknya….Karena mami bergaya kebarat-baratan (ini yang buat saya heran kok bisa klop ama papi yang notabene Chinese totok?), dia memberikan nama anaknya semua dengan nama Raja/Ratu dan nama belakangnya merupakan bulan lahir. Karena saya anak kedua, harusnya nama saya berawalan huruf ‘B’ donk? Kok bisa-bisanya sih hanya ‘Jennifer’ saja? Ternyata waktu itu mami sempat memikirkan beberapa nama dengan awalan huruf ‘B’ dan kebetulan nama Ratu yang berawalan ‘B’ adalah ‘Beatrix’. Sayangnya, waktu buat akta lahir, si mami bisa-bisanya lupa menaruh nama Beatrix, jadi yang dicantumkan di akta lahir hanyalah Jennifer. Lucunya pembuat akta sempat balik lagi menanyakan apakah nama saya hanya ‘Jennifer’? dan mami hanya mengangguk iya!

Lain lagi asal usul nama chinese saya, huruf ’Yen’ yang digunakan adalah ’Yen’ yang berarti burung walet, hm… katanya karena huruf ini punya 4 titik jadi seperti air hujan, untuk ‘mendinginkan’ saya yang suka nangis (karena panas? Padahal sekarang saya gak tahan AC!) Sedangkan huruf ‘Nie’ berasal dari kata ‘Nie’ yang berarti perempuan (tapi gabungan antara ‘Nie’ perempuan dan ‘Nie’ yang berarti Bhikkuni?). Waduh kalo ditanya lebih lanjut saya gak tau juga, karena sebenarnya saya buta huruf mandarin, hanya tahu tulis nama saya saja ☺

Waktu masuk taman kanak-kanak, saya masih ingat, tempat makan dan botol air minum saya selalu memakai label Beatrix Jennifer walaupun nama resmi di sekolah tetap Jennifer. Sampai sewaktu kelas 6 SD karena harus buat ijazah, setelah dicek, nama di akta lahir saya ternyata memang hanya Jennifer! Waktu itu kalau mau mengganti akta lahir masih bisa, karena seperi kebanyakan orang jaman dulu, status saya masih ‘anak di luar nikah’ karena orang tua saya tidak punya surat kawin. Tapi waktu saya mengusulkan penambahan nama ini, papi hanya bilang “Buat apa sih? Repot ngurusnya..” alhasil saya tidak jadi ganti nama…

Belakangan ini saya jadi ingin ganti nama lagi, bukan karena nama Jennifer jelek, nama itu cukup bagus, oh ya satu lagi kata mami kenapa dipilih Jennifer, bukan hanya karena berhubungan dengan bulan lahir saya yang jatuh di bulan Januari, tapi karena nama Jennifer kesannya kuat seperti laki-laki, mami gak mau anak cewek yang lemah gitu… Doh.. gimana sih ini si mami, punya anak perempuan kok malah diharap kayak laki-laki? Hm padahal kalo saya cari di kamus arti nama, Jennifer tuh artinya ‘hantu putih’? Hua.. serem amat yak?!
Kenapa saya pengen ganti nama, karena saya merasa repot kalau ditanya family name saya, apa yang harus saya tulis? Dan ini terjadi waktu saya berkesempatan berkunjung ke Philipina beberapa tahun lalu karena urusan kantor. Pihak pengundang bingung waktu mau booking hotel buat saya, dia tanya nama saya apa? Saya bilang ‘Jennifer’, just ‘Jennifer’ kalo di Indo biasa kita bilang Jennifer doang!
Yang bikin repot lagi waktu punya account Facebook, ternyata gak boleh kalo gak isi family name?? Lah gimana  donk nama saya kan hanya Jennifer? Alhasil sudahlah saya taruh saja nama ‘seharusnya’ saya: Beatrix Jennifer (jauh lebih keren kan? Hiks!) daripada saya tulis Jennifer Doang! Dan terus terang ini bikin bingung sebagian teman saya, lah wong taunya namanya cuma Jennifer!

Waktu saya kembali mengajukan penggantian nama baru-baru ini, yang protes bukan papi saya (iyalah papi saya kan dah almarhum hehehehe…) kali ini yang protes koko saya: “Bikin repot!” katanya… Waduh.. gak bapak gak anak sama aja alasannya… capee deee.. tadinya saya masih mau ngotot juga…tapi gak jadi…
Kebetulan waktu itu di DAAI TV sedang diputar film drama ‘Namaku A Tao’ yang ceritanya si A Tao ini gak mau pakai nama A Tao karena A Tao itu nama buah, jelek menurutnya, sementara kebanyakan anak perempuan diberi nama bunga…
Belakangan A Tao sadar juga kalau ternyata nama bagus itu tidaklah penting, tetapi orang dinilai dari perbuatannya, bukan dari namanya.
Yah.. sedikit mencerahkan saya, memang benar sih, kalo dipikir-pikir seperti yang ditulis Shakespeare di cerita Romeo & Juliet, apalah arti sebuah nama, toh dikasih nama apapun, bunga mawar itu tetap harum baunya. Hal ini seperti kebajikan seseorang, mau namanya Paijo, Painem, Tukiman atau siapapun juga, bukan ‘label’ itu yang penting, tapi bagaimana tingkah lakunya dalam menjalani kehidupan ini.

Karena itu saya kembali merenungi, benar juga, kenapa saya harus begitu ‘terikat’ dengan apa yang disebut ‘nama’ toh itu tidak berarti apa-apa kalau kelakuan saya tidak sebanding dengan indahnya nama saya? Lebih dalam lagi saya merenung, mungkin memang saya tidak boleh ganti nama, dari dulu rupanya saya sudah diajarkan untuk ‘melepas’ tidak boleh ‘terikat’ pada nama.

Dan saya pikir apapun nama saya, almarhum papi saya juga taunya ya saya seperti ini bentuknya, sifatnya, kelakuannya…
Kenapa saya bilang begitu? Soalnya saya kaget juga, kemarin pulang mengunjungi makam Kakek dan Nenek saya, tertulis di deretan nama cucu perempuan: Jenny F.! Dan saya mengingat-ingat dulu pernah terima surat di amplop depan tertera tulisan papi saya: Kepada: JennyFer.

Astaga papi, selama ini gak tau nama anaknya apa?! Untung banyak yang bilang wajah saya mirip papi, kalau nggak saya udah curiga, jangan-jangan….??!!

nama

contemplation

Pernahkah kamu mengalami masalah yang datang bertubi-tubi? Yang telah membuatmu tidak sempat untuk menarik nafas barang sebentar saja? Pernahkah kamu merasa hidupmu sangat ruwet, sampai-sampai kamu tidak tau lagi mana ujung pangkal permasalahannya, semua terjadi saling bersilangan bagaikan benang kusut? Pernahkah kamu merasa kamu sudah begitu lelah menghadapi semua masalah itu? Dan berpikir untuk memejamkan matamu barang sedetik lalu saat kamu membuka matamu semua masalah itu sudah lenyap? Atau sebaliknya, lebih parah, kamu berpikir kamu tidak akan pernah membuka matamu lagi untuk kembali mengadapi masalah yang ada? Aku pernah mengalaminya, dan rasanya tidak hanya sekali…karena aku manusia yang sebenarnya sudah tahu bahwa hidup itu dukkha, tapi masih saja belum bisa mengatasinya…

Lalu apa yang kamu lakukan saat itu semua terjadi pada dirimu? Pernahkah kamu berpikir untuk ‘memasrahkan’ hidupmu pada ‘Dia’, sesuatu di luar dirimu yang katanya mengatur kehidupan ini? Jujur kukatakan, aku pernah dan aku malah sempat merasa menjadi seorang Buddhist itu arrogant sekali, karena masing-masing kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri, seolah-olah tidak butuh ‘orang lain’. Apakah pengetahuanku akan ajaran Buddha masih kurang? Ya memang, tapi rasanya untuk hal yang satu itu aku sudah tahu. Lalu mengapa hal itu bisa tetap terjadi padaku? Ada beberapa penyebab mengapa pikiran untuk seolah-olah menyerahkan hidupku pada ‘sesuatu’ di luar diriku itu bisa seringkali muncul, dan terus terang ini sangat menggangguku!

Sebagai manusia, kita tidak bisa hidup sendiri, kita butuh orang lain. Dari pertama kali kita lahir dalam kehidupan kita saat ini, peranan orang lain di luar kita sudah bisa kita rasakan. Kita bisa lahir karena adanya orang tua kita tentunya, dan itu berarti orang lain di luar diri kita. Dalam proses kelahiran kita ada dokter ataupun bidan, lalu kita hidup dalam keluarga bersama kakek nenek, kakak adik, saudara-saudara kita. Kemudian kita butuh makan, sekolah, berorganisasi, dan kegiatan-kegiatan lainnya dimana itu semua tidak terlepas dari peranan orang lain di luar kita. Kondisi saling bergantung ini tanpa kita sadari kadangkala membuat kita sering berpikir kalau kita ini adalah makhluk yang lemah.

Lalu yang lebih mendukung kondisi ini adalah sebagian besar doktrin yang ada di dunia ini mengatakan kalau kehidupan manusia itu ada ‘sosok’ yang mengatur, yang mengatur ini sudah punya rencana seperti ini dan itu atas nasib masing-masing orang. Yang mengatur ini sangatlah adil, maha tahu, maha pencipta dan segudang maha-maha lainnya. Lalu apakah itu semua salah? Tidak salah buat yang meyakininya, dan pertanyaannya menjadi apa aku meyakininya? Dan apa kamu meyakininya?

Dulu, sebagai penganut agama Buddha tapi belum mengenal Dhamma, dan lebih banyak dijejali doktrin ajaran lain sedari kecil, aku selalu berpikir hal itu benar. Dan rasanya banyak juga orang-orang yang sejenis denganku. Tetapi memang tidaklah mudah untuk mengubah sesuatu yang kamu anggap benar, yang sudah kamu yakini lebih dari separuh hidupmu. Akan banyak pertanyaan dan penolakan-penolakan yang tidak disadari, karena kita sedang berusaha menemukan ‘kebenaran’ itu sendiri.

Baru-baru ini aku mengalami masalah yang buatku cukup melelahkan, dan tanpa sengaja aku mendengar lantunan lagu rohani non-buddhis yang sebagian besar isinya berisikan penguatan, bahwa kita tidak sendiri, bahwa ada yang mengatur semuanya, dan dengan menyerahkan masalahmu pada-Nya segalanya bisa teratasi? Ini membuat perasaan itu kembali muncul, dan akhirnya aku melontarkan rasa tidak puasku ini pada seorang Bhikku. “Mengapa aku selalu merasa menjadi seorang Buddhis itu arrogant sekali, karena kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri, seolah-olah tidak butuh ‘orang lain’?”

Dan akhirnya aku mendapatkan jawaban yang cukup memuaskanku, sebuah analogi yang sangat sesuai untuk diriku. Bertanggung jawab atas tindakan sendiri tidak berarti kita tidak butuh orang lain. Seperti seorang ibu yang bertanggung jawab terhadap anak-anak yang dilahirkannya, dalam memenuhi tanggung jawab itu tetap tergantung pada bantuan dan kerjasama orang lain dan ini tidak ada kaitannya dengan arogansi. Tindakan/karma kita itu ibarat anak kita, kita yang melahirkan karma dan untuk itu kita harus memeliharanya dengan penuh kasih sayang.

Dari uraian singkat itu, satu point yang sangat berarti yang bisa kuambil: “Jika aku seorang ibu, tidak mungkin aku ‘memasrahkan’ anak yang kulahirkan pada ‘orang lain’, dengan sepenuh hati aku akan merawatnya sendiri karena ia adalah tanggung jawabku.”


Bagaikan seorang ibu melahirkan anaknya, begitu pula aku melahirkan karmaku.

Bagaikan seorang ibu bertanggung jawab atas anak yang dilahirkannya, begitu pula aku bertanggung jawab atas karma yang kulahirkan.

Bagaikan seorang ibu  mengarahkan anaknya untuk menjadi baik, begitu pula aku akan mengarahkan karmaku ke arah yang baik.


Tulisan ini sekedar sharing dari apa yang aku alami, mungkin tidak semua sependapat karena memang harus masing-masing kita sendiri yang ‘menemukan kebenaran untuk diri kita sendiri’.


If it suitable for you, you can take it, otherwise just leave it.

Hm… hari ini eh tepatnya kemaren ya… bener-bener yang ada di kepala gue cuma si ‘Amiaw’… bukan karena apa ya… tapi ‘Amiaw’ ini bener-bener kasih pelajaran berharga buat gue… ‘Kisah si Amiaw’ gue posting juga di blog Kolam Teratai. Harapan gue menulis kisah si Amiaw maksudnya biar orang-orang bisa ‘belajar’ juga dari ‘pelajaran’ yang gue dapet dari si ‘Amiaw’… dan gue bakal mendapat tanggapan yang positif dari temen-temen, tapi ternyata gue salah! Porsi ‘Amiaw’ jadi jauh lebih gede mengalahkan porsi gue! Duh!

Kalo begini caranya, yang salah benernya cara gue nulis ato apa ya? Gue jadi ngerasa gagal dalam menulis.. baru kali ini…hiks…biasa gue lumayan pede, kali ini pelajarannya telak juga! Cukup buat gue uring-uringan… sampe gue sempet tanyain pendapatnya ko Robby (ko Robby neh temen yang suka nulis juga, yang baru gue kenal di KT, dan yang ngingetin kalo blog ini umurnya dah setahun loh…) tapi ternyata point-nya ya emang gak mudah kalo kita mau menggambarkan sesuatu dengan perumpamaan. Soalnya kata ko Robby ‘cara mengangkat perumpamaan itu memang beresiko salah persepsi yang besar‘.

Hm… bener sih.. karena dipikir-pikir mereka kan gak ngalamin ya? Mereka hanya baca saat itu aja, mungkin pemahamannya jadi berbeda, belom lagi kalo gaya bahasanya buat mereka lain, tanda titik koma aja bisa membuat makna yang beda dari satu kalimat… yah yah yah bener-bener… AMIAW udah kasih gue pelajaran!!

Jadi gue akan terus nulis ato nggak neh? So pasti… malah gue akan semakin berani menulis, buktinya gue berani mengeluarkan tulisan ini! Hehehehe…

Jadi buat yang sudah membaca ‘Kisah si Amiaw’, mungkin perlu gue perjelas, maksud tulisan itu adalah untuk memberi semangat kepada orang-orang. Kadangkala kita mengalami rintangan, kadangkala kita harus mengambil langkah mundur, tapi asal kita terus berusaha untuk maju, kita pasti bisa mencapai tujuan….

Tapi, eeeehh.. ada tapi nya neh… ternyata semua itu tergantung lagi pada KONTEKS! Kadangkala kita perlu juga menyerah, menyerah bukan berarti kalah, tapi menyerah yang berarti kita ‘menerima’. Duh… padahal hal ini juga pernah gue tulis soal ‘belajar melepas’ dimana gue mengatakan kalau kita terlalu mengejar sesuatu, semakin dikejar ia akan semakin menjauh, tapi sewaktu kita dengan tenang menerima segala kondisi yang ada, semua itu malah akan datang dengan sendirinya….

So teman-teman, semua itu balik lagi ke diri kita masing-masing, semua orang butuh ‘merenung’ untuk bisa belajar… a good point dari Ko Robby, sekali lagi thanks ya ko… obrolan kita bener-bener dah memberi pencerahan buat aku.. dan semoga demikian juga halnya dengan tulisan ini….

Berawal dari obrolan dengan seorang teman di Kolam Teratai (mami Luna you’re the inspiration) tiba-tiba aku jadi teringat dengan kenangan masa kecilku. Lebih dari 20 tahun yang lalu aku ingat di kampung tempat tinggalku, sebuah desa kecil di Lampung sana, sempat kukenal seorang pria bernama Amiaw. Siapa sih si Amiaw ini sampai-sampai aku masih bisa mengingatnya hingga sekarang?

Si Amiaw ini kulihat hampir setiap hari, sewaktu aku sedang berada di toko papi di pasar. Yang masih teringat dalam bayanganku, Amiaw waktu itu berumur sekitar 40an tahun, berkulit putih bersih mengenakan pakaian lengkap walaupun hanya pakaian sederhana, tapi tanpa alas kaki. Yah Amiaw ini adalah salah satu korban orang-orang yang tidak bisa menerima adanya ‘anicca’. Konon Amiaw dulunya orang yang cukup kaya dan berada, entah karena apa tiba-tiba dia harus kehilangan semuanya. Karena tidak memahami ‘anicca’, Amiaw tidak bisa menerima perubahan yang terjadi pada hidupnya, kehilangan yang harus dia alami, sehingga berujung pada hilangnya akal sehat dan kesadaran. Sangat disayangkan, dan tak bisa kita pungkiri bahwa banyak orang-orang seperti ini di sekitar kita, yang terlalu melekat pada satu kondisi yang menyenangkan, dan saat perubahan itu datang, orang-orang ini tidak siap menghadapinya.

Walaupun masuk dalam golongan orang yang tidak waras, latar belakang Amiaw masih terlihat dari tingkah lakunya, gaya bangsawan-nya membuat dia tetap tampil bersih dan dia tidak pernah teriak-teriak ataupun membuat kekacauan. Amiaw hanya diam seribu bahasa dan yang dilakukannya setiap hari adalah berjalan dan berjalan. Lalu apa yang membuat si Amiaw ini begitu istimewa sampai bisa memberikan inspirasi buatku? Setiap hari Amiaw melakukan aktivitasnya, yaitu berjalan, Amiaw berjalan dalam diam, seolah dia ingin mencapai suatu tujuan. Tapi eeeh… tunggu dulu… kenapa setelah dia maju 3 – 4 langkah lalu dia mundur lagi 2 – 5 langkah? Hm… inilah istimewa-nya si Amiaw… karena seolah diliputi kebingungan, Amiaw selalu berjalan maju dan mundur!

Coba kalau kita pikir, bagaimana ia bisa sampai di suatu tempat kalau dia jalan maju mundur seperti itu? Itu seolah-olah hanya jalan di tempat saja bukan? Pastilah kita akan berpikir seperti itu, tapi ternyata kita salah! Aku salah! Amiaw tidak hanya terlihat di sekitar pasar di kampung ku, tapi kadangkala aku bisa melihatnya di kampung sebelah, yang jauhnya bisa ditempuh dalam waktu 15 – 20 menit kalau menggunakan mobil!

Hei… ini jadi membuatku berpikir… aku menarik pembelajaran dari gerak-gerik si Amiaw ini…. Dalam hidup kita seringkali mengalami kegagalan, saat kita melangkah maju dan gagal, apa yang kita lakukan? Saat kita melangkah maju dan harus dipaksa mundur, apa yang kita perbuat? Ternyata kita tidak boleh diam dan menyerah! Kadangkala justru langkah mundur itu kita butuhkan. Belajar Dharma ajaran Buddha buat sebagian orang terasa sangat sulit, untuk belajar teori nya saja sulit, apalagi mempraktikkan meditasi! Tapi kita tidak boleh menyerah… pukulan mundur satu dua langkah kadangkala harus kita alami, tapi setelah itu kita harus tetap melangkah maju. Maju terus dan maju dan kita tidak akan diam di tempat, walaupun mungkin lebih lambat dari teman-teman kita yang lain, tapi percayalah dengan ketekunan dan tekad yang kuat, suatu hari kita akan bisa mencapai tujuan itu.
Dan Amiaw sudah membuktikannya!

Seperti pesan terakhir guru kita Buddha: ”APPAMADENA SAMPADETHA”, Berjuanglah terus dengan penuh kesadaran!

Kudedikasikan tulisan ini untuk Amiaw, sosok yang memberi inspirasi, tak terbatas seperti apapun kondisinya, semoga ia bisa terlahir di alam yang lebih baik.

1st Anniversary

cake

Siapa yang sedang merayakan hari jadi yang pertama ya?

Hm… semalam saat chatting dengan seorang teman baru yang seperti teman lama, aku diingatkan ternyata keberadaan blog ini sudah 1 tahun loh! Ya ya.. lewat beberapa hari malah, gak sadar juga…
Biasa menulis dengan gaya yang serius, kayaknya kali ini boleh juga sedikit ganti gaya, kita perlu penyegaran dan perbaikan tentunya, karena aku menyadari pencerahan tidak selamanya harus berasal dari kata-kata serius yang kadangkala malah sering bikin pusink kepala. Obrolan ringan penuh canda kadangkala justru memberi inspirasi lebih…

Biasanya kalau perayaan ulang tahun, kita disuruh ‘make a wish’, mengajukan permohonan… tapi selain ‘make a wish’ rasanya lebih perlu ‘introspeksi’. Karena itu sebelum ‘make a wish’ aku mau coba introspeksi dulu buat blog ini…

Awalnya blog ini hanya untuk menyalurkan hobby menulis, menyalurkan inspirasi dan kata-kata yang tersusun banyak di kepala yang kadangkala saling berjejalan tak sabar ingin dituangkan dalam untaian kalimat yang memiliki makna. Tapi lama kelamaan aku menyadari, isi blog ini adalah hal-hal yang membuat aku ‘belajar’ karena itu aku jadi lebih mengarahkannya supaya orang-orang lain juga bisa ikut ‘belajar’ dan mendapatkan sedikit pencerahan. Tapi setelah rentang 1 tahun ini, aku jadi ingin tahu berapa banyak orang yang sudah merasakan manfaat dari tulisan-tulisanku? Kenapa aku tanya begitu? Karena memang tujuanku menulis selain untuk menyalurkan hobby adalah juga supaya sedikit bakat yang aku punya ini bisa bermanfaat buat orang lain.
Tapi aku juga menyadari dengan kurangnya publisitas, mungkin baru sedikit orang-orang  yang membaca, dan dengan gaya tulisan yang ‘agak-agak’ serius, walau sebagian orang bilang cukup enak dibaca, mungkin ada beberapa yang tidak terlalu suka…

Makanya sesudah introspeksi yang mendalam, aku mulai membuat resolusi ke depan, jadi bukan ‘make a wish’ daripada sekedar membuat permohonan lebih baik memutuskan apa action ke depan. Kalau membaca tulisanku selama ini rasanya terbayang aku ini si melankolis, padahal kenyataannya selain aku melankolis aku ini juga seorang sanguinis. Karena itu resolusi untuk ke depan, aku akan menampilkan sisi sanguinis-ku juga dalam tulisan-tulisanku, supaya blog ini jadi penuh warna dan aku benar-benar jadi seorang penulis sejati, dengan gaya ku sendiri.

Satu tahun usia yang masih cukup muda, entah sampai berapa lama blog ini akan terus hidup, mungkin seumur hidupku, karena aku tidak akan berhenti menulis. Aku akan terus menulis untuk memberikan inspirasi dan pencerahan buat orang-orang yang mungkin membutuhkannya…

Lima orang anak bermain ‘wishing game’, sebuah permainan dimana setiap anak harus menyebutkan permohonannya dan anak yang memiliki permohonan yang lebih baik dan bisa mengalahkan permohonan-permohonan lainnya akan keluar menjadi pemenang.

Anak pertama mengajukan permohonan, ia sangat ingin bisa makan burger Mc Donald’s karena selama ini ibunya tidak pernah memperbolehkan anak ini untuk makan makanan itu.

Anak kedua mengajukan permohonan, ia ingin memiliki restoran Mc Donald’s sehingga dia bisa memperoleh lebih banyak burger mengalahkan permohonan anak pertama.

Anak ketiga mengajukan permohonan, ia ingin memiliki uang $1 juta sehingga dia bisa membeli tidak hanya burger Mc Donald’s tetapi juga seluruh restoran Mc Donald’s dan masih memiliki cukup banyak uang untuk melakukan hal lainnya. Sebuah permohonan yang jauh lebih hebat dibandingkan dua permohonan sebelumnya.

Anak keempat mengajukan permohonan, ia ingin memiliki 3 permohonan, dimana permohonan yang pertama adalah ia bisa memiliki restoran Mc Donald’s, permohonan kedua ia memiliki uang $1 juta dan permohonan ketiga adalah ia mempunyai 3 permohonan lagi! Hm… tentu saja ini menjadi permohonan yang tiada habisnya dan pastinya menjadi pemenang di antara permohonan sebelumnya.
Lalu apakah permohonan anak kelima yang ternyata bisa mengalahkan empat permohonan sebelumnya?

Anak kelima ini meminta sebuah permohonan dimana ia memiliki hati yang puas dan berkecukupan sehingga ia tidak lagi perlu mengajukan permohonan apapun juga….

Cerita di atas adalah cara paling sederhana yang digunakan oleh Ajahn Brahm dalam menggambarkan apa itu ‘NIBBANA‘.

ajahn1

Kudengar sendiri dari Ajahn Brahm pada acara ‘Dhamma Talk’  @ The Golf –  PIK, tanggal 28 Februari 2009 yang lalu.

Melangkah Maju

Dalam hidup ini kita seringkali menerima suatu penolakan dari orang lain. Penolakan dari suatu keinginan ataupun harapan kita. Yang namanya penolakan tentunya menyakitkan, karena kita tidak mendapatkan apa yang kita mau.

Menerima suatu penolakan tidaklah mudah, butuh kebesaran jiwa dan hati yang lapang. Tidak sedikit orang yang menjadi sedih, kecewa, marah dan patah hati karena penolakan. Tetapi ada juga yang pantang menyerah untuk mencoba lagi demi memperjuangkan apa yang mereka mau.

Aku sendiri bukan orang yang bisa dengan mudah menerima penolakan, karena itu biasanya aku tidak memulai sesuatu yang tidak pasti yang mungkin mendatangkan penolakan. Bukan karena aku terlalu sombong, bukan, tapi aku terlalu takut untuk terluka…

Beberapa hari yang lalu, dengan mengumpulkan keberanianku, aku melakukan suatu hal yang sekarang kuyakini sebagai kebodohan. Ini kebodohan yang kedua kalinya yang kulakukan, setelah apa yang kulakukan lebih dari setahun lalu. Kebodohan yang kurang lebih sama, yang membuatku merasa itu bukan aku yang melakukannya…. Entahlah darimana datangnya keberanian itu, keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku. Mungkin karena ketakutan dalam hatiku, bahwa ini bukanlah cinta, hanya rasa penasaran belaka, dan aku butuh kepastiannya, ataukah karena aku sudah lelah menunggumu?

Untuk kedua kalinya, dan harusnya sejak yang pertama, kusadari bahwa kenyataan tidaklah seperti yang aku harapkan. Tetapi seolah aku butuh kepastian, untuk memulai langkahku tanpa bayanganmu, dengan berat hati aku melakukannya…. Bukan hal yang mudah buat diriku untuk melakukannya, apalagi harus menerima kenyataannya. Kadangkala ada sedikit sesal di hati, tapi waktu tak bisa diputar kembali, dan aku harus menghadapi kenyataannya saat ini….

Di sisi lain, aku berusaha untuk tidak menyesalinya, karena untuk melangkah maju, mungkin ini adalah rintangan terberat pertama yang harus kuatasi, bagaimana mengubah perasaan ini menjadi cinta yang universal, tanpa keinginan untuk memiliki ataupun rasa sakit hati….

Karenanya tiada yang ketiga, cukup sudah aku belajar dari dua yang lalu. Aku pasti bisa melangkah maju, tanpa bayanganmu. Yang tersisa darimu hanyalah masa lalu, yang indah hanya sebatas untuk dikenang….

Hari Sabtu kemarin aku menghadiri satu acara seminar dengan salah satu pembicaranya adalah YM.Bhante Uttamo. Seminar ini mengambil tema ‘Sukses Meraih Impian dengan Buddhisme di Tahun 2009’. Bhante menyampaikan bahwa untuk bisa sukses meraih impian, terlebih dahulu kita harus tau apa yang menjadi impian kita. Untuk itu kita perlu mengetahui kecenderungan bakat atau kemampuan apa yang kita miliki. Pada sesi tanya jawab, seorang peserta menanyakan kepada Bhante, bagaimana Pangeran Siddharta yang memiliki kecenderungan bergelimang harta, pangkat dan kedudukan bisa memilih menjadi seorang pertapa dan berhasil menjadi seorang Buddha. Saat itu Bhante menjawab bahwa kecenderungan Pangeran Siddharta tidak hanya pada harta dan kedudukkannya, tetapi ia sudah diramalkan akan menjadi seorang raja yang terkenal atau menjadi seorang pertapa yang hebat. Bahkan di usia yang belia Pengeran Siddharta sudah mencapai tingkat kesucian Sotapana, dan hal ini menunjukkan bakatnya. Jadi memang ada dua kecenderungan yang pada akhirnya salah satu telah dipilih oleh Pangeran Siddharta, yaitu menjadi seorang pertapa yang kemudian menjadi Buddha. Pada akhirnya semua itu balik lagi kepada ‘pilihan’ karena apa yang terjadi dalam hidup kita ini adalah sebuah ‘pilihan’.

Setelah mendengar penjelasan itu, aku mulai berpikir, dalam hidup ini kita memang seringkali dihadapkan tidak hanya dengan satu pilihan, kadangkala lebih dari dua pilihan yang harus kita hadapi. Kita mungkin saja memiliki banyak kemampuan dan juga cita-cita, tapi kita biasanya harus menentukan satu pilihan yang akan benar-benar kita jalani, supaya pilihan yang merupakan impian kita itu bisa terwujud. Jika kita terlalu serakah ingin semua impian itu terwujud, kita biasanya justru tidak bisa mewujudkan bahkan satu saja diantaranya, karena kita sulit untuk berupaya secara maksimal pada semua impian itu sekaligus. Belum lagi apabila dari impian-impian itu ada yang saling bertentangan. Bayangkan bagaimana kehidupan seorang raja yang bergelimang harta dan kekuasaan dibandingkan dengan kehidupan seorang pertapa? Bisa dipastikan kita tidak akan bisa meraih keduanya sekaligus. Karena itulah pangeran Siddharta telah memilih satu dan pergi meninggalkan yang lainnya.

Dibutuhkan keberanian yang besar untuk memilih, saat kita dihadapkan pada pilihan yang bertolak belakang, dimana saat kita memilih yang satu berarti kita meninggalkan yang lainnya. Saat menetapkan pilihan mungkin banyak pertimbangannya, yang kadangkala juga mendatangkan rasa cemas, takut dan rasa bersalah. Tapi saat tekad sudah dibulatkan, dengan dilandasi tujuan yang baik untuk kebahagiaan banyak orang, keberanian itu pastilah datang dengan sendirinya.

Kemarin juga aku melihat bagaimana teman-temanku yang telah memilih jalan hidup mereka sebagai perumahtangga. Aku melihat satu fase kehidupan sudah mereka lalui dan mereka sudah memasuki fase yang lainnya. Aku bisa menyaksikan bagaimana mereka bermetamorfosis menjadi bentuk yang lebih sempurna dengan bertambahnya usia dan kematangan. Dari seorang gadis biasa menjadi seorang istri lalu seorang ibu. Tapi yang mengherankan aku tidak bisa melihat keindahan di dalamnya. Aku dapat merasakan cinta yang mereka miliki, tapi kenapa saat yang bersamaan aku juga merasakan adanya masalah dan penderitaan? Entahlah, justru bukan keinginan untuk menjadi seperti mereka yang timbul di hatiku, tetapi justru dorongan yang mengatakan bahwa menjadi seperti itu adalah halangan untuk bisa mewujudkan keinginanku?

Memasuki tahun ini, dengan berbagai peristiwa yang kualami, juga karena mengetahui kenyataan bahwa aku pernah menjadi seorang bhikkuni di kehidupan yang lalu, sedikit demi sedikit keinginan itu timbul. Sayangnya keberanianku masih belum cukup, aku masih butuh sedikit saja waktu lagi untuk bisa sampai pada keputusan itu. Seperti yang Bhante Uttamo katakan, masih dalam seminar yang sama, menjawab pertanyaan bagaimana caranya agar kita bisa berani, aku masih harus mengumpulkan informasi. Informasi yang cukup sehingga aku bisa memahami dan bisa menyingkirkan rasa takut yang menjadi belenggu. Agar aku menjadi berani untuk memilih jalanku sendiri, seperti yang dilakukan oleh Pangeran Siddharta….