Feeds:
Posts
Comments

Finally, China!

image

Dah beberapa kali rencana gue ngajak nyokap ke China selalu gagal karena berbagai sebab. Janji ngajak nyokap ke China itu seperti hutang yang belum lunas dibayar. Tahun kemarin usia nyokap gue udah menginjak kepala 7, buka umur yang muda lagi dan gue bersyukur Tuhan masih memberikan nyokap gue umur dan kesehatan. Menyadari hal ini, gue jadi bertekad kembali, tahun 2016 ini gue harus ngajak nyokap ke China.

Entah apakah ini suatu kebetulan, tapi kan tidak ada yang namanya kebetulan ya, baru aja memasuki awal tahun, tiba-tiba gue ditugasin oleh kantor untuk pergi ke China. Dan gak tanggung-tanggung gue langsung pergi mengunjungi 4 kota sekaligus: Shenzhen, Dongguan, Guangzhou dan Foshan.

Memikirkan hal ini entah kenapa gue jadi merasa betapa Tuhan sungguh baik, belakangan ini hampir apa yang gue ingin dan tekadkan sepertinya menjadi kenyataan. Yah kembali lagi tidak ada yang namanya kebetulan, semoga tekad gue untuk ke China dengan nyokap bener-bener bisa terwujud tahun ini. Lalu terbayarlah hutang gue dan setelah itu entah mengapa gue merasa sesuatu yang besar bakal terjadi dengan hidup gue.

Doa gue semoga alam semesta mewujudkan apa yang seharusnya terjadi.

Guangzhou, 17 January 2016
~Jen~
01.05 am waktu China

A Little Prayer

image

Gak pengen banyak omong, kali ini cuma punya satu keinginan, itupun kalau boleh memiliki keinginan. Dan berharap alam semesta mengabulkan keinginan sederhana ini…

Seperti yang tercantum di quote di atas, semoga kaki ini membawaku melangkah ke mana hati ini sebenarnya ingin melangkah, dan yang memang seharusnya demikian adanya…

Semoga semoga semoga…

Ha Noi, 28 November 2015
~Jen~
10.35 waktu Ha Noi

image

Lagi-lagi sekarang masih menunggu waktu boarding di bandara Phnom Penh. Sambil menunggu pesanan makanan yang belum tiba, rasanya pengen nulis sesuatu.

Belakangan ini kembali kadangkala otak gue berpikir terlalu keras, atau malah kadangkala seperti tidak mikir sama sekali, tapi berasa ada yang hilang, atau ada sesuatu yang belum terpecahkan.

Kesibukan kerjaan gue sekarang yang mengharuskan gue pergi ke negara satu dan lainnya, seringkali menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan dalam diri gue. Bertemu dengan banyak orang dari latar belakang, budaya, dan pemikiran yang berbeda, kadangkala menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru dalam diri gue.

Tujuan hidup gue sebenarnya bisa gue katakan sudah gue ketahui. Tapi jalan yang harus gue tempuh, sejujurnya kadangkala masih terasa samar-samar. Pekerjaan gue yang kerap kali berganti, bagi sebagian besar orang seringkali menimbulkan persepsi ‘kutu loncat’, bahkan beberapa seringkali bertanya “apa yang loe cari?” Sejujurnya gue sendiri gak tau apa yang gue cari. Bukan pangkat, ketenaran ataupun uang, jelas, karena beberapa kali gue punya kesempatan untuk mendapatkan itu tetapi gue tolak. Lantas apa yang gue cari?

Kadangkala gue merasa sedang berada dalam labirin, gue hanya mengikuti saja alurnya, tapi saat dihadapkan pada persimpangan, gue pun hanya membiarkan kemana kaki membawa gue melangkah. Gue tau seharusnya jawaban atas semua ini akan bisa gue dapatkan kalau gue mau mengenal diri gue sendiri lebih dalam dan bertanya ke diri gue sebenarnya apa yang gue mau. Tapi nyatanya itu tidak pernah gue lakuin, sepertinya ada rasa ‘takut’ yang besar jika jawaban itu tidak seperti yang gue harapkan.

Yah gue masih menaruh ‘harapan’ dan ‘keinginan’ yang seharusnya gue hilangkan. Entahlah kadang gue merasa lelah, berharap saat bangun dari tidur semua ini bisa segera berlalu.

Tahun bentar lagi akan berganti, usia hidup gue pastinya akan berkurang. Tapi pertanyaan itu belum juga terjawab…

Phnom Penh, 11 November 2015
~Jen~
2.44pm

Demi menghilangkan rasa bosan dalam 1.5 jam perjalanan dari Ho Chi Minh ke Singapore, akhirnya gue memilih menulis di blog ini. Walaupun mungkin nanti baru akan dipublish saat tiba di Singapore, setidaknya ada kegiatan yang bisa gue lakuin selama 1.5jam perjalanan ini. Dan Singapore bukan tujuan akhir perjalanan gue, kali ini gue akan balik ke Jakarta, Indonesia, negara tempat di mana gue berkesempatan lahir dan tinggal di kehidupan ini.

Entah kenapa perjalanan kali ini dari awal berangkat rasanya gue udah gak terlalu happy. Mungkin bisa jadi bosan juga, kalau dalam setahun loe harus pergi ke satu negara tapi bukan untuk wisata. Gue bukan tipe yang suka travelling. Kemarin gue baru aja mengingat-ingat ke negara mana saja gue udah pernah pergi dalam rangka liburan. Ternyata hanya 2 kali gue pergi ke luar negeri dalam rangka liburan, sisanya karena urusan kerja dan satu lagi adalah perjalanan rohani yang buat gue adalah ‘perjalanan pulang’.

Mungkin gue emang bukan tipe yang suka jalan dan menikmati object wisata di negara lain, ataupun pergi shopping seperti yang banyak dilakukan oleh orang Indonesia yang cukup berada. Buat gue pergi ke satu tempat yang jauh dari tempat tinggal gue adalah karena gue butuh waktu untuk sendiri. Gue perlu ada di satu tempat di mana gak ada yang gue kenal, dan gak ada yang perduli dengan gue. Dan yang gue lakuin biasanya hanya bersantai, berdiam diri di hotel, atau jalan ke sekitar hotel gue tinggal. Hmm buat orang lain mungkin gue ini aneh, tapi inilah gue.

Kali ini gue cuma pengen nulis lagi-lagi tentang gak ada yang namanya kebetulan. Dalam perjalanan kali ini, buat gue ada beberapa kebetulan-kebetulan yang memudahkan gue. Sebenarnya ini bukan pertama kali buat gue dan bukan hal yang aneh juga buat gue. Gue selalu percaya saat loe berusaha menjaga hati loe untuk tetap bersih, segala kebaikan akan selalu menyertai langkah loe. Gue tau kadangkala yang tak terlihat pun membantu gue, dan gue sangat berterima kasih dan bersyukur karenanya.

Entah kenapa gue hanya merasa akan ada satu hal besar yang akan terjadi dalam hidup gue. Dalam perjalanan ini gue seperti diingatkan kembali, bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kehidupan gue sepertinya sudah diatur sedemikian rupa oleh alam semesta untuk memasuki dan menapaki jalan ini. Hanya tinggal menunggu waktu dan karma baik yang matang.

Dan kemarin gue mendapati satu quote oleh ibu peri dari cerita Cinderella: “Even miracles take a little time”. Kalimat ini sangat menguatkan gue, membuat gue untuk bisa lebih bersabar untuk keajaiban itu.

Cahaya hanya akan kembali ke dalam cahaya, meninggalkan kegelapan yang selalu ada. Sejatinya cahaya tidak pernah dapat menghalau gelap, karena bukan gelap yang menjadikannya terang.

image

Singapore, September 22, 2015
~Jen~
10.52 am
“Dalam perjalananku menuju cahaya…”

See Ya Thailand!

image

Di atas pesawat, lagi-lagi detik terakhir baru sempat nulis, hahaha… Sebenernya ini maksa sih, karena cita-cita menulis dari berbagai negara πŸ˜›

Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki ke Thailand, again negara Buddhist lainnya. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini, rasa penat, lelah, kecewa, tapi sejauh ini gue masih bisa mengontrol semuanya.

Sebenernya dari kemaren pengen nulis soal film “inside out”, karena sibuk selalu belum sempat. Dan sebentar lagi gue juga musti terbang ke Vietnam, pekerjaan masih belum berakhir, dan seperti juga hidup ini, perjuangan masih berlanjut.

Gue gak tau mau nulis apa tentang negara ini, tapi dari awal gue menginjakkan kaki di sini, gue hanya merasa damai dan tenang. Gue sempet berpikir mungkin ini negara lainnya di mana kalau gue boleh memilih rasanya gue pengen tinggal di sini, seperti yang gue rasain waktu ke Sri Lanka.

Bentar lagi pesawat ini dah mau terbang, jadi gue harus mengakhiri tulisan ini. Lima hari yang cukup melelahkan di sini, tapi gue cukup senang. Gue rasa gue akan kembali lagi ke sini. See ya soon Thailand!

Bangkok, 11 September 2015
~Jen~
02.11 pm

Kalau baca judul tulisan ini, pasti tau donk, kali ini gue lagi di Myanmar. Yak hampir setahun yang lalu gue menginjakkan kaki di negara ini, dan sekarang kembali lagi gue datang ke sini. Masih dengan urusan yang sama, pekerjaan, yang membuat gue mungkin akan sering mengunjungi beberapa negara di Asia Tenggara. Ini hari terakhir gue di sini dalam kunjungan gue yang kedua di negara ini. Seperti biasa, hari terakhir gue sambil menunggu detik-detik pulang, gue menyempatkan diri menulis.

Tidak banyak yang terlalu berubah dari negara ini setahun yang lalu, walaupun ada juga yang berubah sangat drastis, salah satunya adalah handphone. Tahun lalu waktu ke sini gue masih gak beli nomor lokal, karena harganya masih di atas 500 ribu rupiah, tapi tahun ini harga simcard udah murah, hanya sekitar 15ribu rupiah untuk nomor baru, dan voucher isi ulang kurang lebih 5,000 kyatt atau plus minus 60rb rupiah, gue udah bisa akses internet. Hampir setiap orang sudah pegang handphone, dan di jalan banyak ditemui brandingan lebih dari satu provider telepon sellular. Ditambah lagi yang paling gue notice adalah sekarang banyak Billboard mengiklankan produk-produk Handphone lebih dari satu merek, mulai dari merek terkenal dengan tipe terbarunya hingga handphone cina. Waktu satu tahun sudah cukup membawa kemajuan dalam hal telekomunikasi.

Membandingkan negara yang baru membuka diri 3 tahun terakhir ini dengan negara-negara lain yang juga sering gue kunjungi, gue cuma merasa di sini waktu berjalan sedikit lambat, dan suasana di sini cenderung lebih tenang dan kalem. Berbeda dengan Kamboja, gue hanya merasa di sana suasana lebih ‘hidup’. Mungkin karena nuansa Buddhist di Myanmar sini masih kental, ditambah negara ini sebelumnya juga masih tertutup, menjadikan suasananya jadi tenang seperti ini. Setiap pagi gue masih melihat barisan Bhikku maupun Bhikkuni berpindapata, dan entah kenapa saat melihat barisan Bhikkuni kecil yang berjalan sambil melantunkan syair-syair, ada rasa haru di hati gue.

Morning Pindapata - Yangon, 10 April 2015

Morning Pindapata – Yangon, 10 April 2015

Sebelum berangkat ke sini, otak gue masih dipenuhi satu pertanyaan besar, tapi entah kenapa mungkin suasanan tenang di sini membuat gue bisa berpikir jernih, dan sepertinya gue udah punya jawaban atas pertanyaan itu.

Gue udah harus jalan ke airport, padahal masih banyak yang pengen gue tulis, mungkin nanti setelah balik ke Jakarta gue akan menulis satu per satu apa yang ada di pikiran gue saat gue berkunjung ke Golden Land, tanah di mana gue pernah hidup dan membina diri, jauh di masa yang lalu…

Yangon, 13 April 2015
~Jen~
12.16 PM waktu Myanmar

“Apakah harus ada alasan untuk tersenyum?”

Tiba-tiba aja kalimat itu jadi mengusik pikiran gue. Kalimat sederhana yang gue denger dari pertunjukkan ‘Smile of Angkor’ di Siem Riep, Kamboja. Ya di sinilah gue sekarang, di Siem Riep untuk pertama kalinya. Melengkapi perjalanan gue ke negara-negara dunia ketiga (ini menurut kakak gue). Hari ini hari terakhir gue di Siem Riep sebelum sore ini terbang ke Ho Chi Minh, Vietnam untuk melanjutkan tugas kantor gue. Mengambil kesempatan di sela weekend di negara orang, setelah minggu lalu meeting di Phnom Penh, gue nekad pergi ke Siem Riep seorang diri. Kalau dipikir-pikir sebenernya gue bukan orang yang cukup berani untuk pergi sendiri, dengan tujuan wisata. Kalau urusan kerja mau gak mau gue udah harus terbiasa pergi sendiri, tapi urusan travelling, sebenernya gue bukang seorang traveler kayak sepupu gue yang emang biasa pergi sendiri. Gue biasa pergi sendiri kalau tempatnya itu yang sudah biasa gue pergi, seperti ke Bali, dan mungkin belakangan ini Vietnam, karena urusan kerja. Tapi mengunjungi tempat baru sendirian, hm.. baru gue lakuin satu kali waktu gue ke Singapore. Tapi entah mengapa setiap pergi sendiri gue selalu merasa ‘terbantu’ dan selalu aja dimudahkan.

Dan sekarang di sini gue, di Siem Riep, udah hari ke 3 dan udah mengunjungi Angkor Wat yang emang gue pengen. Tapi kalau boleh jujur, setelah gue mengunjungi Angkor Wat, gue merasa Borobudur jauh lebih hebat, dan gue jadi pengen mengunjungi lagi, setelah sekian puluh tahun dari kunjungan terakhir gue. Seperti selalu gue bilang gak ada yang namanya kebetulan, sebenernya gue mau naik bus malam dari Phnom Penh ke Siem Riep sehingga gue akan sampai di Siem Riep hari Sabtu pagi sekitar jam 6. Tapi gak tau kenapa kemarin masih ada sedikit keraguan sampe akhirnya gue beneran kehabisan tiket bus. Dan terpaksalah di detik-detik terakhir hari Jumat gue beli tiket pesawat plus booking hotel 1 malam lagi. Tapi gara-gara itu gue jadi bisa mengunjungi Angkor Wat dari pagi-pagi dan menunggu terbitnya sang matahari.

Sun Rise-Angkor Wat, 21 Maret 2015

Sun Rise – Angkor Wat, 21 Maret 2015

Menunggu cukup lama bersama ratusan turis lainnya, akhirnya matahari yang ditunggu muncul juga, seketika itu gue pengen nangis, ada rasa syukur karena dalam hidup gue masih diberi kesempatan untuk melihat dan merasakan keindahan dunia ini. Mungkin gue juga jadi sentimentil karena sebelumnya pagi itu gue mendengar berita yang menyedihkan, salah satu rekan kantor lama gue meninggal dunia. Umurnya belum tua, dengan 2 orang anak yang relative masih kecil, Ko Kardiman yang selalu penuh lelucon sudah meninggalkan dunia ini. Selamat jalan ko Kardiman, semoga karma baikmu menuntunmu pada kehidupan yang lebih bahagia dan kembali berkesempatan mengenal Dhamma.

Kehidupan ini memang tidak ada yang bisa mengerti, segala kondisi berganti dan berubah hanya dalam helaan nafas. Selama tiga puluh lima tahun hidup gue, gue udah melihat banyak hal, sebuah perputaran, seperti yang selalu gue pahami dari ajaran Buddha, bahwa hidup ini bagaikan roda yang berputar. Tidak hanya dalam hal materi bahkan dalam kehidupan masing-masing orang. Gue udah melihat bagaimana si kaya menjadi miskin dan kembali menjadi kaya lagi, begitu juga sebaliknya, si miskin menjadi kaya lalu kembali menjadi miskin. Orang yang tadinya sehat lalu menjadi sakit-sakitan, yang tadinya sakit ada juga yang lalu menjadi sehat. Kehidupan ini sungguh tidaklah kekal, lalu kembali pertanyaan lama itu timbul, mengapa gue masih di sini? Berada di dalam ketidakkekalan yang hanya mendatangkan penderitaan?

Selama masih di dalam lingkaran kehidupan ini, merasakan ketidakkekalan, bagaimana mungkin bisa tersenyum tanpa alasan? Di saat sakit, di saat tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, sudah pasti yang ada kesedihan dan penderitaan. Hanya ‘Dia yang Sadar’ akan bisa tersenyum tanpa alasan. Mungkin ini jawaban mengapa sedari kecil setiap kali melihat rupang Buddha, gue selalu bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan, karena bagi gue, yang selalu gue lihat adalah wajah yang tersenyum, dan senyum yang meneduhkan ini tidak gue temukan di wajah-wajah lainnya. Dan karena alasan sederhana ini juga gue tetep mengikuti sang jalan yang sudah diajarkan oleh guru Buddha.

Semakin memahami ini, membuat gue semakin bersedih, sedih karena melihat diri gue yang masih belum bisa ‘tersenyum’, karena masih terlalu banyak kemelekatan dan ketidaktahuan yang mengotori batin gue. Saat ini gue cuma bisa berdoa, berharap segala kumpulan karma baik gue akan mendukung tindakan gue dan membawa gue pada jalan yang membebaskan. Sebuah jalan yang akan membuat gue bisa tersenyum tanpa alasan, senyum yang meneduhkan dan membawa kedamaian.

Siem Riep, March 22nd, 2015
~Jen~
2.25 pm

Liburan

image

Morning from Gili Trawangan!
Kali ini gue lagi liburan di pulau kecil di sebelah timur Indonesia, yang masuk ke dalam propinsi Nusa Tenggara Barat. Gili Trawangan nama pulaunya, ditempuh dalam waktu paling lama juga 10 menit dengan speed boat dari pelabuhan Bangsal di Lombok. Entah kenapa kali ini tiba-tiba gue kepengen mencoba liburan ke Lombok, tentunya setelah dua kali gue ke daerah ini untuk urusan kerjaan dan gak sekalipun dari kunjungan itu gue sempet jalan-jalan.

Awalnya bermula dari beberapa bulan yang lalu saat tau ada hari kejepit n kemungkinan besar libur, isenglah gue searching tiket murah. Kepikir pengen ke Singapore, tp kok ya kayaknya bakal butuh duit banyak karena kurs yang udah menggila. Cari tiket ke Jogja karena sempet janji sama Om Bing salah satu kenalan di dunia maya, buat ngunjungin Jogja, tapi sama aja tiketnya kok rasanya masih mahal. Pilihan berikut pengen ke Bali, my second home, tapi taon ini gue udah ‘pulang’ ke sana di bulan Maret, n tiketnya juga kagak ada yang murah. Akhirnya tiba2 kepikirlah Lombok, dan ternyata gue bisa dapet tiket yang menurut gue cukup murah untuk masa liburan. Segeralah gue tanya sepupu gue yang emang gila travelling, karena gue tau dia belom pernah ke Lombok.

Singkat cerita di sinilah sekarang kami berdua. Kalau liburan yang gue cari bukan adventure ngunjungin tempat-tempat barunya, tapi liburan buat gue lebih ke mencari tempat baru, suasana baru dan yang pasti tempat yang menenangkan jiwa gue yang gak bisa diem ini. Hahaha, makanya sepupu gue selalu bilang, kalau pergi sama gue gak mungkin irit, karena sudah pasti gue akan memilih hotel yang walaupun bukan hotel bintang lima, tapi setidaknya hotel yang masih cukup nyaman dan layak buat gue tinggal, n bukan hostel ataupun sejenisnya yang biasa dipilih oleh sepupu gue.

image

Ya emang beginilah gue, pada dasarnya emang gue bukan petualang, gue cuma mencari tempat ‘escape’ dari rutinitas gue aja n try to find serenity in that place. So this place is not bad, but for me still Bali is my second home.

Gue udah musti check out, karena setelah dua malam di pulau ini, hari ini gue akan kembali ke Lombok n masih ada 1 malam di sana untuk keliling cari oleh-oleh, hihihi…

So see you on my next ‘liburan’…

Gili Trawangan, 27 December 2014
~Jen~
08.00 am waktu Indonesia tengah.