Feeds:
Posts
Comments

image

Satu lagi karma baik gue bisa menginjakkan kaki di sebuah negara baru yang kebetulan (lagi) merupakan negara Buddhis, Kingdom of Cambodia alias Negara Kamboja. Entah kadang gue suka gak habis pikir, mimpipun mungkin gue dulu gak pernah, bagaimana mungkin gue sekarang bisa melanglang buana seperti ini dan gratis alias karena gue kerja jadi dibayarin oleh kantor.

Gue selalu bilang gak ada yang namanya kebetulan, yah emang gak ada yang namanya kebetulan ya. Di dunia ini segala sesuatu sudah bekerja sebagaimana mestinya sesuai ‘hukum alam’. Kalau gue sekarang bisa ke negara ini pastilah ada ikatan karma antara gue dengan tempat ini. Entah kenapa gue merasa tidak terlalu asing dengan tempat ini. Suasananya seperti membawa gue ke masa-masa kecil gue saat dulu hidup di daerah. Yang paling mengherankan adalah begitu banyak hiasan ular berkepala banyak seperti raja ular yang memayungi Buddha saat bertapa dan diterpa badai. Gue pernah ‘melihat’ ular ini. Waktu itu sekelebat muncul dalam bayangan gue. Sebenarnya sampai sekarang gue masih belum bisa mengerti maksud dari ‘penglihatan’ ini. Sekarang saat gue melihat begitu banyak patung ular tersebut di sini, apakah itu tandanya suatu hari gue akan datang ke negara di mana banyak terdapat patung ular ini? Entahlah sampai sekarang gue masih belum bisa memahaminya.

Hari ini hari terakhir gue di negara ini, banyak hal terjadi selama lebih dari tiga minggu perjalanan gue hidup di negara orang. Mulai dari tanggal 18 Agustus lalu saat gue berangkat ke Vietnam dan lalu disambung ke Kamboja 5 hari yang lalu. Kalau mau ditulis isi otak gue sebenernya udah penuh dengan pemikiran-pemikiran. Tapi seringkali rasa lelah mengalahkan segalanya dan akhirnya semua hanya tetap berada di otak gue.

Kadang gue ngerasa lelah dengan semua ini. Pekerjaan yang menyita sebagian besar waktu gue, pemikiran yang memenuhi otak gue dan yang lebih melelahkan dari semua itu adalah perasaan yang begitu menyesakkan di dada ini. Perasaan apa ini? Entahlah sungguh sulit untuk diungkapkan ataupun dilukiskan. Kadangkala perasaan ini membuat gue menitikkan air mata, karena seringkali sesaknya membuat gue sulit untuk bernafas.

Duh kenapa tulisan ini jadi begini ya? Gue gak tau, gue cuma pengen menumpahkan segala perasaan gue. Perasaan yang mungkin tidak akan pernah tersampaikan, atau mungkin juga sebenarnya rasa ini sudah lama kau rasakan, karena kita sama-sama memiliki rasa yang sama tapi kita pun tahu kalau rasa itu tak seharusnya ada.
Semua jadi terasa makin kompleks. Gue ada membaca satu quote yang gue rasa itu cocok banget sama kondisi gue. Kurang lebih isinya seperti ini: “satu masa dalam hidup loe, berapapun usia loe saat itu, loe akan menemukan seseorang yang bisa menyalakan api dalam jiwa loe, orang yang membuat loe merasa ‘hidup’, namun sayangnya pada kenyataannya orang ini bukanlah orang yang akan bersama dengan loe menghabiskan sisa hidup loe”. Rasanya sedih banget ya bacanya, yah apalagi kalau loe yang mengalaminya dan itu yang terjadi dengan gue saat ini.

Jika bisa mengatasi ini gue yakin satu ujian akan gue lewati. Gue yakin gue bisa ‘melawan’ apa yang sudah digariskan ini. ‘Melawan’ dalam arti mengatasinya dengan akhir yang bahagia buat semuanya.

‘Tuhan’ aku sudah pernah meminta padamu sekali dan ‘Engkau’ sudah mengabulkannya, menurutku. Kalau nyatanya ini belum berakhir, kumohon bantulah aku sekali lagi untuk mengakhirinya dengan bahagia.

Phnom Penh, 11 September 2014
~Jen~
01.00 pm
Di tengah rasa gundah yang melanda…

Cinta…

Cinta…
Terlalu banyak pertanyaan tentang cinta yang ada di benakku saat ini. Mulai dari apa itu cinta sesungguhnya? Seperti apa rasanya jatuh cinta? Sampai bagaimana seharusnya kita mencintai? Entah mengapa dari dulu aku tak pernah berpikir untuk hal yang satu ini. Banyak alasan, terlalu banyak alasan mengapa aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang cinta. Rasa takut, rasa sakit, dan berjuta rasa lainnya yang bercampur aduk menjadi satu hingga menghambarkan segala rasa yang ada. Dan aku menjalani hidupku selama ini tanpa pernah ingin tahu seperti apa itu cinta, mencinta dan dicinta…

Dulu aku sempat berteori bahwa ada perbedaan antara suka, sayang dan cinta. Mungkin ada banyak orang yang kusukai, entah karena wajahnya yang tampan, hatinya yang baik, atau alasan lain yang membuatku bisa menyukai seseorang, tapi itu hanya sebatas rasa suka terhadap sesuatu yang mungkin dimiliki orang itu. Sementara dari sekian banyak orang yang kusuka, mungkin hanya ada beberapa yang aku sayangi. Aku menyayangi mereka sebagai keluarga, sebagai sahabat, atau sebagai yang lainnya yang aku rasa memiliki ikatan lebih daripada hanya rasa suka. Sementara cinta, menurut teoriku dulu, hanya akan ada satu orang yang aku cintai seumur hidupku ini. Rasanya terdengar terlalu teoritis atau bahkan terlalu idealis. Sebuah pemikiran dari seseorang yang bahkan untuk mencoba mencintaipun enggan…

Dan sekarang, entah mengapa aku merasa “Tuhan” tengah mengajakku untuk memahami apa itu “cinta” yang sesungguhnya. “Tuhan” tengah mengajariku untuk ‘mencintai’ dengan cara-Nya… Caranya yang buatku manusia yang lemah ini menjadi sangat menyakitkan. Karena “Ia” menghadirkan “cinta” ditengah situasi yang menurutku tidak seharusnya. Karena “Ia” mengajariku mencintai orang yang tak sepatutnya kucintai… Walaupun aku mengerti karena “cinta” juga aku belajar “pemaafan”, aku bisa memaafkan orang yang mungkin bersalah padaku, orang yang sepatutnya kubenci.

Saat aku menulis ini aku tengah berada di atas langit yang luas, meskipun belum seluas jagad raya. Dan telinga serta kepala yang mulai panas akibat segelas wine yang disajikan oleh pramugari atas permintaanku. Jantungku sedikit berdebar walau kesadaranku masih belum berkurang sedikitpun. Sensasi ini apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? Mengapa terasa lebih menyakitkan daripada bahagia?

Tapi aku paham, ” Tuhan” benar-benar tengah mengajariku ‘cinta’. ‘Cinta’ yang sesungguhnya, yang lebih besar daripada cinta yang memabukkan bak segelas wine. Rasa sakit ini harus kulalui untuk dapat memahami apa itu ‘cinta’ yang sesungguhnya. Karena ‘cinta’ yang diajarkan “Tuhan” adalah abadi dan membebaskan…

“Tuhan” kuatkan aku… Tolong kuatkan aku untuk melalui segala godaan cinta yang egois dan memabukkan ini… dan maafkan aku belum bisa benar-benar memahami ‘cinta’ yang Kau ajarkan padaku…Β  Namun biarkan aku tetap mencoba belajar memahami ‘cinta’-Mu, karena aku tahu hanya ‘cinta’ yang Kau ajarkanlah yang akan membawaku padaMu. Hanya ‘cinta’ yang sesungguhnya yang akan menyatukan Kau dan aku di dalam keabadian dan pembebasan sejati…

image

Di atas langit Jakarta yang cerah, 16 July 2014
~Jen~
04.58 pm

Pernah gak sih loe bayangin kalau loe itu bakal pergi ke negara-negara di mana menurut orang yang mungkin punya kemampuan khusus, loe itu pernah hidup dan tinggal di negara itu? Gue dah dua kali mengalami hal ini. Eits tentu saja karena gue adalah seorang Buddhist n di ajaran yang gue anut percaya adanya kelahiran kembali, maka gue bisa bilang begini. Buat loe pada yang gak percaya ya anggap saja tulisan gue ini sebuah cerita fiksi penghilang rasa bosan πŸ˜›

Ok kembali ke pengalaman gue ya, yang pertama gue dibilang pernah lahir sebagai perempuan India penjual kain sari. Hohoho… India…gak kebayang gue pernah jadi orang India. Tapi cerita ini juga lucu, awalnya gue bisa tau ini karena ada satu acara dimana gue ketemu dengan salah satu anak indigo beserta keluarganya. Waktu itu adalah pertama kalinya gue ketemu mereka. Anehnya saat pertama melihat mama si anak, gue seperti merasa kenal, sampai gue berusaha mengingat-ingat siapa ya ini orang? Di mana ya gue ketemu dia? Dan lebih aneh lagi, ternyata perempuan itu merasakan hal yang sama dengan gue! Dia bahkan sampai bertanya ke gue, apakah gue tinggal di sebuah tempat yang mungkin dekat dengan rumahnya? Gue jawab nggak, bahkan gue mungkin baru pertama kali itu ketemu dia. Singkat cerita ternyata kemudian si anak menyampaikan bahwa gue dan mamanya dulu ternyata berteman baik, kami waktu itu sama-sama lahir di India, dan gue saat itu terlahir sebagai seorang perempuan India penjual kain sari! Wah rasanya lucu ya kalau kita tahu seperti itu, dan gue jadi mikir oh ternyata karena itu mungkin ya pertama kali gue kerja dengan orang India dan di perusahaan garmen! Gak jauh-jauh dari kain ya? Hahaha…

Lalu cerita gak berhenti di sini, taon lalu karma baik gue berbuah, gue punya kesempatan untuk pergi ke India! Ke tempat-tempat bersejarah dalam ajaran Buddha. Gue seneng karena bisa ‘pulang’ ke kampung halaman gue hehehe… Dan ada satu cerita saat gue di sana. Selain untuk ziarah, kelompok tour gue sempat mengunjungi salah satu tempat kerajinan kain sari yang katanya dulu adalah pembuat kain untuk para raja. Saat itu gue dan beberapa orang sedang asik mengamati seorang bapak tua dengan badan yang hitam legam dan kurus kering dan hanya berkaus singlet putih, sedang membuat sulaman kain sari. Entah bagaimana tiba-tiba si bapak tua ini berhenti bekerja dan berbalik ke arah gue, melambaikan tangan meminta lengan gue dan memasangkan tali ungu dengan benang emas ke pergelangan tangan gue. Saat itu gue sedikit bingung, setelah selesai memasangkan gue tali sebagai gelang, gue memberi si bapak tua ini sedikit uang sebagai imbalan. Entah kenapa setelah itu perasaan gue gak karuan, ada perasaan haru yang gue rasakan. Antara rasa sedih, bahagia, rindu dan sayang, semua bercampur jadi satu. Sesaat gue jadi teringat perkataan tentang kehidupan gue sebagai perempuan India penjual kain sari. Mungkin saja bapak tua ini adalah cicit buyut keturunan gue? Entahlah… Dari sekian banyak orang yang ada di sana kenapa dia memilih gue yang pertama untuk diberikan gelang itu? Dan sorot matanya yang seakan bicara meski mulutnya tak mengeluarkan sepatah katapun tapi ada rasa yang tersampaikan dari dirinya ke gue. Gue sedikit menitikkan air mata saat itu. Siapapun dia, gue selalu percaya tidak ada kebetulan di dunia ini. Bisa bertemu berarti ‘berjodoh’, ada ikatan di antara kami dan benang ungu berlapis emas yang dia sematkan di pergelangan tangan gue seakan menguatkan itu.

image

Dan sekarang cerita berikutnya. Lagi-lagi karma baik gue berbuah, gue punya kesempatan ‘pulang’ lagi, kali ini ke Myanmar, The Golden Land, negara di mana katanya dulu gue pernah hidup sebagai seorang Bhiksuni. Ya gue adalah seorang biarawati Buddhist, begitu katanya, dan gue percaya itu, karena apa? Karena ikatan gue terhadap ajaran ini sangat kuat, kalau gue tidak pernah menjadi seorang Bhiksuni, mungkin gue saat ini belum tentu bisa memiliki karma baik sehingga bisa mengenal ajaran Buddha, dan gue sangat bersyukur karenanya. Menginjakkan kaki di negara ini rasanya tidak pernah mimpi sebelumnya, tapi gue percaya semua ini sudah diatur oleh ‘yang maha pengatur’.

Tidak ada perasaan apapun saat tiba di negara ini, rasanya biasa saja walau mungkin secara suasana kota sangat tidak asing karena sedikit mirip dengan Indonesia tanah kelahiran gue sekarang. Semua biasa sampai satu kali saat makan siang di sebuah restoran yang menghidangkan makanan khas Myanmar, setelah makan dikeluarkanlah 3 toples kecil, yang 2 berisi seperti kacang dan yang satu makanan pencuci mulut di dalam toples tersebut sedikit mirip kacang chesnut. Dari ketiga toples gue paling tertarik dengan si kacang chesnut, maka gue membuka toples itu. Karena sebenarnya sedikit gak yakin dengan isinya, maka yang pertama gue lakuin adalah mencium bau makanan yang ada di dalam toples itu. Hei ternyata aromanya seperti gula jawa! Gula jawa alias gula aren yang sangat gue suka. Tanpa pikir panjang gue ambil sepotong dan memasukkannya ke dalam mulut. Benar saja ini gula jawa! Hahaha gue girang banget, kenapa? Gue suka banget makanin gula jawa! Dari kecil kebiasaan gue adalah mengambil potongan gula jawa dari dapur dan memakannya begitu saja. Dulu gue dan juga orang di sekitar gue pikir kebiasaan gue makan gula jawa ini karena gue suka permen jadi gue juga suka makan gula jawa. Tapi ternyata sekarang ada alasan lain, rupanya gula aren yang ada di toples itu adalah kebiasaan orang Myanmar yang menyajikannya sebagai makanan penutup mulut atau camilan, dan kebiasaan gue suka makan gula jawa alias gula aren mungkin karena gue pernah lahir sebagai orang Myanmar! Dan gue akhirnya beli tuh gula aren made in Myanmar di supermarket!

image

Hahaha…lucu ya? Ya…kalau mau dihubung-hubungkan sih semua bisa aja, sekarang balik lagi ke pribadi masing-masing. Tapi buat gue semua semakin jelas terlihat. Semua tanya gue satu persatu mulai terjawab. Mungkin semua masih jauh, terlalu jauh bahkan. Tapi gue tau gue terus melangkah maju. Sekalipun banyak hal yang mungkin tampaknya tidak sesuai dengan harapan gue, tapi itu tadi gue selalu percaya kepada ‘yang mengatur’, ‘karma’ gue yang mengatur segalanya, yang membawa gue sejauh ini, bahkan sampai ke negara ini, tempat yang gue tau pastinya sangat berarti buat gue.

Dan tulisan ini akan gue akhiri dengan satu pesan buat seseorang yang saat ini gue tau sangat membutuhkannya. Percayalah kadangkala semua hal tampaknya berjalan tidak seperti yang kita rencanakan, kita harapkan dan kita pintakan dari Tuhan. Tapi ‘Tuhan’ gak pernah tidur, dia akan selalu menuntun kita ke tempat dan situasi yang sesuai untuk kita, bukan ke tempat atau situasi yang kita inginkan. Karena yang kita inginkan kadangkala hanyalah yang baik menurut kita, bukan yang memang sesungguhnya baik untuk kita. Apapun situasi yang kita hadapi, tetaplah menjaga hati agar senantiasa lapang dan bersih. Karena hati loe adalah tempat di mana Tuhan berada…

Yangon – Myanmar, 13 Juni 2014
~Jen~
11.00 pm waktu Myanmar

IMG_20140615_084201

Oke kali ini dari Philippine, untuk kedua kalinya gue punya kesempatan ke negara ini. Mungkin memang segala sesuatu itu saling berkaitan, bahkan berkaitan tidak hanya di saat ini bahkan di masa lalu dan kehidupan lalu. Tentunya ini berlaku untuk yang mempercayai bahwa kehidupan ini tidak hanya satu kali.

Bicara soal Philippine, mungkin dulu gue pernah lahir di negara ini? Entahlah, yang pasti pertama kerja ketemu atasan orang Philippine asli dan sekitar 9 tahun lalu gue punya kesempatan dateng ke negara ini. Dan sekarang kembali gue punya kesempatan ke sini. Buat gue negara ini mungkin gak terlalu jauh beda dengan negara gue, Indonesia. Tapi untuk makanan mungkin gue kurang cocok karena terlalu banyak makanan berdaging di sini, sementara gue gak terlalu suka namanya daging. Untuk lalu lintas walaupun macet tapi sepertinya lebih baik daripada Indo karena jumlah motornya gak terlalu banyak. Gak kayak Vietnam yang bikin gue stress karena lalu lintasnya. Tapi untuk makanan gue lebih suka dengan makanan di Vietnam.

Sebenernya gue pengen nulis satu topik semalem tapi karena terlalu capek seharian jalan, ditambah cuaca yang lagi panas banget di sini. Akhirnya gue pules tidur dan gak jadi nulis πŸ˜€

Sekarang sambil ngantuk-ngantuk nunggu orang sales lagi bicara soal report ke distributor di sini, otak gue tiba-tiba kagak bisa diem dan jadilah tulisan ini.

Ok kayaknya ini dulu hello from Philippine, dari sebuah kota bernama Mexico di daerah Pampanga, berjarak hampir 2jam perjalanan dari Manila.
Ketemu lagi nanti di Jakarta dan baru gue akan nulis soal topik yang mulai menggelitik hati gue, hihihi… Tambah penasaran kan? πŸ˜›
Just wait for my next posting!

Mexico-Pampanga, Philippine, 22 May 2014
~Jen~
04.05 pm (waktu Philippine tentu saja)

IMG_20140514_130617

Yak, sambil nunggu waktu boarding dan untuk memenuhi cita-cita menulis sambil keliling dunia, maka tulisan ini gue tulis. Hahaha kesannya maksa ya. Hmmm benernya pengen nulis semalam tapi apa daya capek banget n masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. Dan bener aja barusan gw dapet bbm dari boss kalau senin harus terbang lagi ke Philippine.

Ya sekarang mungkin kerjaan gue adalah terbang sana sini karena gw urus export. Kalau mau lihat ke belakang rasanya mimpi pun mungkin gw gak berani membayangkan gw bakal kerja keliling dunia hahaha…

Tapi memang Tuhan seringkali memiliki rencana lain untuk kita. Dan kadangkala kesulitan dan kesedihan kita hanyalah sebuah pelajaran agar kita dapat lebih siap menghadapi masa depan yang menanti kita.

Gak bisa panjang-panjang karena dah mau boarding. Sekarang gw cuma berusaha menjalankan yang terbaik yang bisa gue jalanin dan selalu bersyukur atas apa yg gw dapatkan dalam hidup ini.

Saigon, 14 Mei 2014
Jen
13.43

20140207-055350 AM.jpg

Banyak orang bilang hidup ini adalah sebuah misteri, karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada kita nanti. Dan bagi sebagian orang yang meyakininya, kita juga tidak pernah tau apa yang sebelumnya terjadi pada kehidupan kita yang lalu. Banyak hal yang mungkin sulit diterima oleh akal manusia waras. Banyak hal juga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata bagi sebagian orang yang memiliki berkah untuk sedikit memahami misteri hidup ini.

Kadangkala banyak hal terjadi di luar apa yang pernah kita bayangkan, rasa benci, rasa sayang, yang timbul tanpa satu sebab dan alasan, yang sebenarnya tentunya bukan tanpa sebab, tapi bagi kita yang ‘belum dapat’ memahami, semua itu menjadi sebuah misteri. Di dunia ini tidak ada yang terjadi tanpa sebab, karena hukum alam sebab akibat begitu nyata. Banyak dari manusia menyalahkan ‘Tuhan’ atas ‘ketidakadilan’ yang mereka terima dalam kehidupan ini, terlahir cacat, miskin, dan kekurangan-kekurangan lainnya. Yah, jika hanya melihat satu kehidupan manusia yang relatif singkat, kita akan menyalahkan apa yang diyakini sebagai ‘Sang Pencipta’, ‘tempat’ bagi kita untuk melempar segala kesalahan yang sebenarnya kita perbuat sendiri.

‘Sang Pencipta’ sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Segala keburukan dan kebaikan yang kita terima adalah buah dari segala keburukan dan kebaikan yang kita perbuat. Banyak orang takut pada ‘Tuhan’, pada hukuman-Nya jika kita melanggar apa yang diyakini sebagai perintah-Nya. Manusia lupa, jika apa yang mereka yakini bahwa ‘Tuhan’ itu begitu adil, Maha Tahu, Maha Bijaksana, Maha segala-galanya, mengapa lantas dibiarkan-Nya keburukan terjadi di muka bumi yang merupakan ciptaan-Nya juga? Apakah begitu kurang kerjaan-Nya ‘Tuhan’ dengan menciptakan kebaikan namun sekaligus keburukan bagi manusia, dan lantas menjadi ‘penonton’ atas semua yang terjadi? “Tentu tidak! Jelas Tuhan tidak seperti itu! Iblis dan setan lah yang telah menggoda manusia sehingga terjerumus ke dalam dosa dan lantas meninggalkan Tuhan!” Bagus, bagus sekali! Dan kembali manusia ‘menciptakan tempat’ untuk lagi-lagi melempar apa yang sebenarnya menjadi konsekuensi yang harus diterimanya.

Sungguh kasihan ‘Tuhan’, sungguh kasihan ‘setan dan iblis’, yang selalu menjadi ‘sasaran’ atas ‘EGO’ manusia. Lantas salahkah manusia? Benar-Salah adalah hal yang relatif. Patokan ‘Kebenaran’ apa yang akan dijadikan tolok ukur? ‘Kebenaran’ bagi siapa? Daripada meributkan benar dan salah, yang pasti ‘Ketidaktahuan’ lah yang menyebabkan ini semua. Ketidaktahuan manusia atas ‘Kebenaran’ yang sesungguhnya, ketidaktahuan manusia atas misteri hidup ini…

“Tuhan tak pernah tidur”, “Dia” yang “Sadar” telah menemukan “Tuhan” yang sesungguhnya. “Mereka” yang telah terbebas dari “Ketidaktahuan” telah sampai pada “Tuhan”, yang sebenarnya berada begitu dekat dengan kita. Berhentilah mencari ‘Tuhan’, tapi “temukanlah Ia” di dalam dirimu…

“Tuhan tak pernah tidur” maka “Bangunlah!” dan segala misteri dalam hidup ini akan tak lagi menjadi misteri bagimu yang telah sadar…

Selat Panjang, 7 Februari 2014
~Jen~
05.55 am

Hallo… Ketemu lagi dalam sesi chit chat ala gue kali ini dari Ubud Bali, the island of God. Udah sejak taon 2010, tiap taon gue pasti “pulang” ke Bali. Lucu ya seolah Bali itu kampung halaman gue, padahal kampung halaman gue itu Lampung dan sejak nenek gue meninggal, gue udah jarang pulang ke sana. Taon ini tanpa sengaja gue kembali “pulang” ke Bali dan kebetulan waktu yang gue pilih bertepatan dengan event “Ubud Writers and Readers Festival”. Gue suka nulis, gue sempet punya cita-cita untuk keliling dunia sambil menulis dan sekarang gue lagi coba mulai, nulis blog dari Bali hahaha…

Ok balik ke rencana ke Bali, sebenernya gue pengen nyepi di sini, terbebas sejenak dari kepenatan kota metropolitan Jakarta, terbebas dari rutinitas gue sebagai karyawan yang harus pergi pagi pulang malam karena macetnya Jakarta, sejenak melupakan semua masalah yang ada di pekerjaan gue. So gue ke Bali, sendiri, tapi entahlah memang nasib gue atau ini cara “Tuhan” menunjukkan ke gue, bahwa “Dia” tak pernah “membiarkan” gue sendiri, tiba-tiba aja sepupu gue yang dari Lampung pengen jalan ke Bali. Alhasil, kembali kali ini gue gak berhasil “menyendiri” hihihi…

Karena bertepatan dengan event UWRF2013, gue iseng coba ikut salah satu workshop menulis. Kebetulan juga di event itu ada acara special ‘jalan jalan’ yang dibawakan oleh penulis dari Australia kenalan sahabat gue, so gue iseng dan kembali membeli tiketnya. Harga tiketnya lebih mahal dari workshop, 350ribu rupiah, tapi karena gue beli online dari website, harga pakai dollar kena kurs alhasil jadi sekitar 450rb! Ya sudahlah demi event yang mungkin jarang-jarang gue ikutin.

20131014-100659 AM.jpg

Workshop sudah berjalan kemarin, ya cukup menarik walaupun pesertanya mayoritas dari luar dan dengan kemampuan kosa kata Inggris gue yang masih standard, agak sulit buat menulis panjang lebar, mungkin kalau itu bahasa Indonesia akan lain cerita, gue udh nyerocos panjang lebar kayak sekarang, hihihi… Tapi overall it’s interesting… Hehehe sok inggris neh… :p
Dan pagi ini jam 8 seharusnya acara event “Jalan Jalan”, gue udah mikir seh kayaknya event ini bakal jalan bukan diem di tempat, walaupun disebutkan acara di salah satu resto di Ubud. Dan… Entah mengapa, karena sudah capek seharian kemaren, kurang tidur juga, pagi-pagi walau alarm sudah bunyi, rasanya males banget untuk bangun. Gue dan sepupu gue masih enak meringkuk di balik selimut. Dan entah kenapa pula rasanya hati ini agak berat untuk pergi cepat-cepat, gue malah nyantai-nyantai sarapan dulu di hotel, jam 8 lewat baru jalan ke lokasi, dan jalan itu cukup jauh, makan waktu 20menit. Waktu tiba di tempat dengan napas yang udah pas-pasan dan badan penuh keringat, ternyata kata penjaga restonya acara sudah mulai, mereka sudah jalan dari jam setengah 8 pagi!

Ok, gue ketinggalan! Dan 450rb gue melayang begitu aja! Tapi apa yang gue rasa saat itu? Ya sudahlah, namanya udah ketinggalan mau gimana lagi. Di dunia ini ada yang namanya “jodoh” kalau pakai istilah agama gue ya “buah karma”, karena gue males-malesan ya udah gue ketinggalan dan resikonya gue kehilangan 450rb sia-sia. Jadi siapa yang harus disalahkan? Gak perlu susah-susah jawabannya ya sudah pasti GUE! Hihihi… Wah kok gue jadi kayak orang pasrah gini ya? Nggak, ini bukan pasrah, tapi gue cuma mengikuti kata hati.

Dan seperti yang selalu gue yakini, ada yang namanya hukum sebab akibat, jadi tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Karena batal acara, untuk beristirahat meluruskan kaki gue yang udah pegel karena jalan jauh, dan seperti sebuah kebetulan (lagi) gue liat ada starbuck, oke akhirnya gue memutuskan untuk mampir dan istirahat sejenak, menikmati kopi dan berpikir untuk menulis. Gak lama handphone gue bunyi, hmmm orang pabrik, gak lama lagi bunyi lagi, orang pabrik lagi, lalu sekali lagi, orang pabrik lagi, alamak, ternyata pabrik nggak jadi libur, dan kalau pabrik nggak libur, artinya gue juga kagak libur zzzz…
So… Gak ada yang kebetulan kan? Kalau gue ikut event gue gak bakal bisa angkat telpon, padahal telpon nya penting. Kalau gue angkat telpon, gue bakal gak konsen ikut event… Jadi alam sudah mengatur ini semua hihihi… Dari gue telat bangun lalu gue yang males-malesan untuk berangkat, ternyata ada maksudnya… Hehehe…

Kalau melihat cerita gue, gue yakin sebagian besar reaksi kalian akan bilang, “ah itu mah loe nya aja, bego aja orang lagi cuti mau angkat telpon, bego aja dah beli tiket males-malesan dateng.” Ya ya itu reaksi yang wajar, dan gue bilang dengan terus terang juga, kalau gue yang dulu juga mungkin akan berpikir begitu, lebih ekstrim malah seharian gue akan menyesali karena udah batal ikut event. Tapi tidak gue yang sekarang. Gue bukan tidak menyesali gagal ikut event, sayang uang yang sudah gue keluarkan, tapi gue saat ini jauh lebih sayang sama diri gue. Orang bijak selalu mengatakan hiduplah saat ini, jadi segala penyesalan itu sudah gue tinggalkan, dan dengan seperti itu gue merasa hidup ini lebih ringan, tidak ada yang membebani diri gue, hati gue juga jadi belajar untuk menerima dengan lapang. Ini bukan hal yang mudah untuk diterima, gue tau, gue pun bisa seperti saat ini setelah melalui perjalanan yang panjang, dan ini pun gue masih merasa belum benar-benar sempurna. Gue sedang dalam proses, gue tau itu, dan gue gak jalan di tempat.

Kembali ke judul tulisan ini ‘Tidak Ada Kebetulan’, ya tidak ada kebetulan di dunia ini, segala masalah, segala kegembiraan dan kesedihan yang gue alami semua tidak ada yang kebetulan. Bagaimana reaksi gue terhadap itu semua adalah yang utama. Sedikit demi sedikit gue mulai mengerti apa yang disebut dengan “upekkha”, “keseimbangan batin” dan gue bisa memahami makna kalimat “good, bad, who knows?”. Semua adalah pelajaran yang gue terima dari “alam” dalam menempuh perjalanan ini. Dan gue tau itu semua menuntun gue untuk sampai ke tujuan…

Ubud – Bali, 14 Oktober 2013
~Jen~
10.54 WITA

20131014-105525 AM.jpg

20130907-083824 PM.jpg

Malam ini kembali duduk sendiri ditemani segelas es kopi favorite di gerai kopi favorite di sebuah kota di luar Jakarta yang bernama Cikarang. Tak terasa sudah lebih dari 6 bulan aku tinggal di kota ini, di kost yang sangat nyaman menurutku dan di lingkungan yang entah kenapa sangat aku suka. Aku memang bukan orang yang cerewet dalam hal tempat tinggal, tapi ada daerah yang benar-benar membuatku tidak nyaman dan enggan untuk tinggal lama-lama di sana. Tetapi tidak demikian dengan kota ini. Secara tidak sengaja sebelum tinggal di kota ini, ada beberapa kali aku mampir di sini, di kompleks perumahan ini, bahkan pernah sekali aku bermalam di hotel yang ada di sini karena pulang terlalu larut dan karena hujan turun dengan deras yang menyebabkan macet dan banjir di Jakarta, sehingga aku memilih untuk tidak balik ke Jakarta.

Mungkin memang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, karena ternyata setelah itu aku harus tinggal di tempat ini. Lucunya langsung dapat tempat kost yang dulu merupakan tempat kost sepupuku. Sekali melihat langsung merasa betah dan akhirnya memutuskan untuk kost di sana. Selama tinggal di kota ini, di kompleks ini, tidak pernah sekalipun aku merasa tidak nyaman, aku sangat suka tinggal di tempat ini, dengan suasananya, sekalipun di sini hanya ada satu mall dengan toko-toko yang terbatas, dan satu tempat sejenis mall dimana banyak tempat makan dan yang terpenting ada gerai kopi favorite ku tempat aku bisa menghabiskan waktu luangku. Tidak hanya itu, menurutku tempat ini cukup lengkap, karena ada juga karaoke keluarga serta timezone, dimana aku bisa melampiaskan rasa penatku karena pekerjaan di kantor.

Dan sekarang aku tinggal menghitung hari untuk angkat kaki dari tempat ini. Ada sedikit rasa berat hati, entahlah karena aku memang lebih suka sendiri, aku hanya merasa tempat ini sangat cocok untukku dengan hobbiku itu. Hobbi yang tak lazim ya, hehehe. Tapi begitulah aku, daripada berkumpul dengan banyak teman, saudara ataupun keluarga, jika boleh memilih aku lebih suka berdiam sendiri. Karena saat sendiri aku menemukan ketenangan, saat sendiri aku merasa begitu nyaman… Tapi ini akan berakhir sebentar lagi…

Bisa kembali ke kantor di Jakarta tentu menyenangkan, karena aku tidak lagi harus dipusingkan dengan banyaknya kerjaan yang harus aku urus di dua pabrik sekaligus, walaupun tetap sepertinya pekerjaanku juga tidak berkurang, hanya saja mungkin kepusingan itu tidak secara langsung tertuju kepadaku. Kalau boleh jujur, sekalipun melelahkan, tetapi dengan menghandle pekerjaan ini banyak hal yang aku dapat, mulai dari belajar menjadi seorang pemimpin, yang pastinya tidak mudah, belajar menghadapi sekian banyak orang dengan berbagai latar belakang dan karakter yang harus menjadi bawahanku langsung, sampai belajar untuk mau mengerjakan hal-hal kecil yang mungkin seharusnya bukan pada level aku yang harus mengerjakannya. Tapi semua itu adalah sebuah pengalaman berharga buatku, bahkan sesungguhnya aku merasa sedikit berat untuk melepaskan itu sekarang. Bukan, bukan karena pangkat atau kedudukan, tapi lebih karena kebersamaan yang sudah terjalin selama ini dengan mereka yang menjadi bawahanku.

Tapi hidup terus berjalan, ada saatnya kita harus melepaskan, meninggalkan hari kemarin yang sudah berlalu, dan mempersiapkan diri kita saat ini untuk menyongsong hari esok. Dan aku pun harus mengucapkan selamat tinggal pada kota ini, kompleks perumahan ini, tempat kostku, mba di kost, barista gerai kopi favorite ku yang sampai sudah hafal pesananku karena tiap kali datang selalu menu itu yang aku pesan. Selamat tinggal semuanya, terima kasih untuk 6 bulan yang menyenangkan di sini, terima kasih sudah begitu bersahabat denganku. Aku akan merindukan tempat ini, sungguh… Bodoh! Menulis seperti ini saja membuat aku menitikkan airmata, siapa yang tau aku ini begitu cengeng, karena aku sangat galak kalau di kantor, hehehe… Kita memang tidak pernah bisa menilai penampilan luar orang. Seringkali malaikat ada di dekatmu, tidak dalam wujud yang kau bayangkan, tanpa sayap, tidak cantik jelita maupun rupawan. Jauh dari kesan anggun dan menawan, mungkin dia tampak begitu tak sempurna, tapi dia ada di dekatmu, selalu bersamamu, menolongmu dan mensupportmu, dengan caranya sendiri, yang mungkin kadang bagimu sangat jauh dari kelakuan malaikat seharusnya. Tapi dialah malaikat sejatimu…

“Goodbye Cikarang, I’m gonna miss you… Thank you for being nice to me for the last six months…”

Cikarang, 7 September 2013
~Jen~
09:25 pm