Feeds:
Posts
Comments

Udah lama banget gue gak nulis… banyak banget yang pengen gue tulis tapi entah kenapa rasanya selalu ada yang melarang gue melakukannya karena ‘belum saatnya’… Tapi hari ini pengen banget gue nulis, karena kembali lagi gue susah ngomong, hehehe… so funny, some of my friends may say that I’m ’bawel’ enough, but to tell you the truth, this is the true J-e-n-n-i-f-e-r, a 30 years old woman who is chasing her dream…

Kali ini gue pengen nulis, soal diri gue, gak banyak yang tau gue sedalam-dalamnya, mungkin termasuk nyokap gue tercinta, apalagi almarhum bokap yang bahkan nama bener gue aja doi lupa…hihihi sorry ya pi, dibawa-bawa, abis tadi pagi mimpi papi sih. Benernya gue nulis kali ini karena gue lagi ngerasa sedih, gue sedih karena apa? Kadang gue juga gak tau sebabnya, terlalu banyak yang gue pikirin sampe capek betul rasanya gue, tapi ya itulah gue… aduh untung aja lagi kagak ada bos di kantor, n gue duduk di pojokan, dari tadi gue udah nangis dan lucu nya gue gak tau gue nangis kenapa, ya pengen nangis aja rasanya, atau mungkin karena denger lagu mandarin dengan irama dan arti yang sedih ya? Hm… emang dasarnya gue cengeng sih…

Jennifer itu rada sombong, gitu kata nyokap tentang gue hanya karena gue jarang banget bisa negur orang duluan. Yah…mungkin ya mi, tapi mami tau gak kalau gue tersiksa banget saat berhadapan dengan orang baru, di otak dan hati gue ini dah banyak kata-kata pengen gue keluarin buat sekedar say hi ataupun yang lainnya, tapi sayangnya semua cuma sampe di kerongkongan dan kagak berhasil buat pita suara gue bergetar dan mulut gue terbuka sehingga keluar kata sapaan dari bibir gue… dan gue gak suka ini, jujur gue gak suka, karena rasanya tersiksa banget… tapi entah kenapa selalu jadinya begitu… Dan karena itu pula gue jadi suka nulis, karena tangan gue jauh lebih cekatan daripada mulut gue…

Tapi gue menyadari kelemahan gue satu ini bisa menghambat gue, mungkin gue jadi melewatkan banyak kesempatan, bahkan hanya untuk sekedar mendapat seorang teman baru. Karena itu pula gak banyak orang-orang yang gue anggap teman, sekalipun mungkin kalo loe liat di facebook ‘friend’ gue sampe 500an, tapi sejujurnya gak semua ‘teman’ buat gue… sebagian mungkin hanya sekedar kenal, sebagian karena sesama satu sekolah, satu kampung, satu kantor, dan banyak alasan lainnya. Kadangkala gue merasa gue ini orang yang complicated, berpikir terlalu ribet dan gak mudah dimengerti. Karena ini gue jadi mikir gue orang yang ‘aneh’ dan ‘beda’ dari temen-temen gue yang lain. Walau akhirnya gue menyadari ini semua kadangkala ‘persepsi’ gue sendiri, tapi kebiasaan yang sudah berlangsung dari gue kecil ini sudah membentuk karakter gue…

Benernya gue gak tau mo ngomong apa lagi, gue lagi gak konsen banget, bahkan untuk menulis ini pun rasanya bahasa gue udah berantakan banget, tapi gue cuma pengen nulis… ada yang bikin gue lagi sedih, mungkin karena dalam waktu dekat ini ada orang-orang yang mungkin bisa gue bilang teman yang akan pergi jauh dan belum tentu bisa gue temuin lagi. Pertemuan ataupun perpisahan, gue yakini merupakan ‘jodoh’, seperti yang pernah gue tulis, mungkin gue akan tampak berlebihan, karena toh orang-orang itu pun sebenarnya tidak terlalu dekat dengan gue. Tapi buat gue kehadiran mereka punya arti tersendiri. Mungkin karena gue gak gampang berteman tadi, jadi kehilangan yang ada di depan mata membuat gue cukup bersedih.

Rasanya ini efek gak tidur semalaman, kebiasaan gue yang entah kenapa hanya bisa tidur 2 – 3 jam aja, tidur jam 10 semalam bikin gue terbangun jam 12 tengah malam dan gak bisa tidur lagi sampai jam 5 pagi. Gue gak ngerasa ngantuk sama sekali, mungkin karena terlalu lelah, atau otak gue banyak pikiran yang gak gue sadarin, seringkali gue begini. Mencoba tidur jam 5 pagi, malah bikin gue mimpi aneh-aneh, mulai mimpi bokap, tapi sejujurnya gue seneng, dah lama banget gak mimpi ketemu bokap, apalagi di mimpi bokap senyum, setidaknya gue tau dia baek-baek aja, sampe ngigau teriak-teriak manggil nyokap, dan paling parah mimpi dikejar-kejar, sampe capek gue… Kurang tidur, capek badan dan pikiran bikin gue ngoceh gak jelas gini, tapi sekali lagi gue cuma pengen ngoceh aja, biar lega ati gue, karena kalau gue diemin ini semua kata-kata akan muter-muter lagi di otak gue bikin tambah penuh isi otak gue.

Ampir jam 3, ini gue tulis dari pagi, sempet berhenti makan siang, nyambung nulis lagi… gila gak efektif banget kerja gue hari ini… dengan otak lagi begini emang gak bisa dipake mikir, lebih baik emang gue keluarin semua dulu isinya sampe cukup space nya buat isi hal-hal yang penting dan berguna karena emang memory gue terbatas… tarik napas dalam-dalam, 1…2…3… hembuskan, biar hilang semua hal-hal yang gak penting ini… masih banyak yang harus gue kerjain, hal penting di depan mata, impian gue yang masih harus gue perjuangkan… gue gak boleh menyerah dan bermalas-malasan… semoga segala penat ini segera berlalu…

Jakarta, 1 Juni 2010

~Jen~

Kesempatan Kedua


Satu tarikan nafas…kuhembuskan perlahan-lahan…berulang kali, lagi dan lagi… Merasakan setiap kesegaran udara yang masuk dan kelegaan saat menghembuskannya ke luar…

Seringkali aku bertanya di dalam hati, entah kepada siapa pertanyaan ini seharusnya kuajukan…entah siapa yang bisa memberikan jawaban atas tanya yang kerap mengusik diri ini… sebuah pertanyaan yang seringkali membuatku bersedih tetapi sekaligus merasa gembira dan bersyukur… sebuah tanya… mengapa aku masih bernafas hingga detik ini?

Semua orang bisa melakukan kesalahan, entah sebesar apapun atau sekecil apapun. Sayangnya akibat dari kesalahan itu berbeda-beda, seringkali kesalahan kecil mendatangkan malapetaka yang besar dan penyesalan yang tidak bisa tergantikan. Sebaliknya sebuah kesalahan besar bisa saja seolah tidak mendatangkan akibat apa-apa, seolah masih bisa dimaafkan… Kenyataan ini seringkali menimbulkan rasa tidak puas, seringkali menimbulkan tanya atas nama sebuah keadilan.
Kesempatan kedua, yah… sebuah kesempatan kedua yang diberikan setelah sebuah kesalahan dilakukan, kesempatan kedua yang sangat jarang sekali bisa kita dapatkan di dalam hidup ini…

Melihat kembali ke masa lalu, melihat diriku yang dulu rasanya tidak percaya kalau aku bisa menjadi seperti sekarang, terlebih setelah kebodohan yang aku lakukan dulu sekali… Tetapi banyak orang mengatakan kalau hidup adalah serangkaian proses, sebuah proses yang bisa menjadikan seseorang menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi lebih buruk, tergantung dari pilihan masing-masing orang itu sendiri, karena hidup ini juga sebuah pilihan. Aku menyadari, tanpa tumpukan karma baik di kehidupan lampauku, tidak mungkin aku mendapatkan kesempatan kedua… tidak mungkin aku bisa jadi seperti sekarang ini, begitu banyak ‘penolong’ dalam hidupku, begitu banyak hal-hal yang membuatku menjadi seorang manusia seperti saat ini.

Seorang teman mengatakan tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua terjadi karena ada sebabnya. Bukan kebetulan juga bila aku mendapatkan kesempatan kedua, dan aku percaya kesempatan ini diberikan kepadaku agar aku bisa memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan. Bisa menyadari segala kesalahanku, bisa memperbaiki diri, bisa menyembuhkan segala luka yang pernah tergores di hatiku, dan yang terpenting bisa mengerti tujuan hidupku saat ini dan nanti, semua itu bukan suatu kebetulan, semua itu bukan diperoleh dalam semalam, dan aku bersyukur karenanya. Aku bersyukur atas pilihan yang sudah aku buat selama ini yang membawaku kepada diriku sekarang.

Kadangkala sempat terlintas di benakku, seandainya tidak pernah ada kesempatan kedua, takkan pernah ada aku hari ini, masih mungkinkah aku mengenal Dhamma ajaran Sang Buddha? Masih adakah kesempatan buatku untuk mencapai apa yang menjadi tujuan hidupku? Aaahhh… segala kesalahan harusnya hanya sebagai pembelajaran, bukan sebagai sesuatu yang harus disesali berlarut-larut. Aku menyesal telah melakukan kebodohan itu, ya aku menyesal, tetapi saat ini aku sudah memaafkan diriku sendiri, dan belajar dari kesalahan itu. Masa lalu hanyalah sebuah kenangan, baik ataupun buruk. Kita tidak seharusnya hidup dalam kenangan, semua kenangan itu hanyalah pembelajaran untuk kita saat ini.

Sekarang aku hanya ingin berbahagia, merasakan keindahan hidup, menikmati hidup saat ini, di setiap detiknya, di setiap nafas yang masih aku hembuskan… Karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua… karena kesempatan kedua ini begitu tak ternilai harganya, untuk itu aku bertekad tidak akan menyia-nyiakannya! Kesempatan kedua ini, yang sudah diberikan kepadaku, semoga bisa kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya…


Di tengah rasa syukur atas nafas yang masih bisa kurasakan hingga detik ini, dan pelajaran berharga atas kesalahan masa laluku, semoga tekadku bisa terwujudkan di kehidupan ini dan banyak kehidupanku selanjutnya…


“May I be a lamp for those who seek light, a bed for those who seek rest, and may I be a servant for all beings who desire a servant.” ~Shantideva~


Jakarta, 28 February 2010
~Jen~


Aku punya sebuah kegemaran, yang mungkin sedikit agak tidak lazim. Aku juga tidak tahu kapan awalnya aku mulai menyukai hal ini, mungkin sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, saat aku menjadi mahasiswi dan menetap di Jakarta. Seringkali pulang malam karena terlibat berbagai kegiatan atau sekedar hang out dengan teman, menimbulkan satu kegemaran baru buatku. Di dalam mobil yang melintasi jalan-jalan layang ibu kota di malam hari, ada yang menarik perhatianku. Aku selalu memandang keluar jendela dan melihat ke arah lampu-lampu jalan ataupun lampu-lampu gedung bertingkat. Ada perasaan yang tidak bisa kulukiskan dalam hatiku. Rasa senang, rasa damai, sendiri tapi tak sepi, dan aku betul-betul menikmati pemandangan malam dengan lampu-lampu kecil berwarna-warni itu.

Biasanya aku diam, tak banyak bicara, hanya memandangnya, menikmatinya, melebur di dalamnya, seolah aku berada di dunia tiada berbatas, yang gelap dan dingin, namun ada kehangatan kecil di sana, ada sinar-sinar yang memberikan perasaan damai, yang menghilangkan rasa takut ataupun kesendirianku saat berada di ruang tak berbatas itu.

Aku jadi sangat menikmati ritual ini, tiap kali pulang malam dan melewati jalan-jalan layang ibu kota, selalu kupalingkan wajahku ke luar jendela mobil, melebur di dalam kegelapan dan dinginnya malam, dan merasakan kehangatan dari sinar-sinar kecil itu. Lucunya karena begitu menyukai hal ini sempat aku berseloroh dengan temanku, aku ingin cari pacar hanya karena aku ingin diantar keliling kota malam hari, untuk menikmati hobbyku ini ☺.

Sudah lama sekali, aku jarang bisa menikmati hobbyku ini, karena tentunya aku sudah jarang pulang malam, atau kalaupun pulang malam situasinya tidak memungkinkan aku untuk menikmati hobbyku itu. Dan satu hal lagi, sayangnya sampai detik ini aku belum menemukan orang yang tepat yang mau mengantarku keliling kota di malam hari ☺.

Namun beberapa waktu yang lalu, aku harus pulang malam naik ojek dan ternyata melewati jalan layang. Kembali setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menikmati suasana malam dengan lampu-lampu kecil yang begitu indah. Dulu aku sangat takut naik motor dan cenderung memejamkan mataku kalau motor melaju dengan kencang. Lama-lama setelah terbiasa, aku lebih suka membuka mataku untuk menikmati jalanan yang kulewati. Begitu juga malam itu, saat melewati jalan layang, aku membuka mataku lebar-lebar dan kembali merasakan diriku melebur ke dalam langit malam yang gelap. Kali ini tiada lagi kaca jendela mobil yang menjadi penghalang, aku benar-benar merasa menyatu dengan gelap dan luasnya langit malam, di atas motor yang melaju kencang.

Kutolehkan kepalaku ke kanan, melihat titik-titik kecil lampu gedung dan lampu jalan yang banyak dan bersinar di tengah kegelapan malam. Ah… betapa indahnya, perasaan senang ini tak terlukiskan. Sedetik kemudian aku menyadari, mengapa aku begitu menyukai hal ini, mengapa selalu ada perasaan damai terselip di dalam hati walau gelap dan dingin menyelimuti.

Langit malam ini, layaknya samsara, begitu gelap, dingin dan menyakitkan, berulang kali, lagi dan lagi, kita manusia masih terjebak di dalamnya. Begitu pula batin ini, selama masih berada dalam samsara, kegelapan masih menyelimuti di sana. Tetapi, hei… begitu banyak sinar-sinar kecil yang membawa kehangatan, tanpa lelah berusaha memberikan terang di tengah kegelapan, karena itulah ia tampak begitu indah. Sinar-sinar itu adalah benih ke-Buddha-an di dalam hati kita masing-masing, setitik sinar harapan di tengah gelapnya dunia. Yah… itulah yang kurasakan, itulah yang membuatku tetap hidup hingga detik ini, sebuah sinar, setitik kecil harapan, bahwa suatu saat nanti ia akan dapat bersinar begitu terangnya hingga menghalau kegelapan untuk selamanya.

Sinar kecil ini, membuatku tidak merasa sepi ataupun sendiri, walau berada dalam dingin dan gelapnya samsara. Tentu saja, karena ‘Buddha’ selalu ada di sana, di dalam hatiku, sejak dulu, sekarang, nanti dan selamanya. ‘Buddha’ di dalam hatiku, adalah setitik harapan yang membuatku tidak berputus asa, yang membuatku selalu merasakan kedamaian, dan yang pasti membuatku yakin serta percaya, bahwa suatu hari nanti, gelap ini akan berlalu…

Jakarta, 9 February 2010
~Jen~

LAKON

Tak kuingat lagi kapan mulanya… peran-peran itu aku mainkan…
Tak kuingat lagi apa awalnya… hingga aku terjebak dalam beribu lakon ini…

Yang kutahu aku sangat lelah…
Yang kutahu aku sudah muak!

Puji-pujian itu selalu memabukkan,
Bagai anggur merah yang membuatmu ketagihan!
Sorak sorai dan tepukan itu laksana candu yang menjeratmu,
Semakin dalam meresap dan mengakar…

Wajah-wajah penuh suka cita itu tampak bagai seringai serigala,
Yang siap menerkammu kapan saja kau lengah!

Dan cerca maki itu…saat gerak lakumu tak seperti yang mereka mau…
Rasanya begitu menyakitkan…
Bagai pisau sembilu mengiris hatimu,
Perlahan…semakin dalam…menorehkan kepedihan…

Ucapku…ini bukan suaraku!
Nyanyianku… ini bukan laguku!
Tarianku… ini bukan gerakku!
Peranku…ini bukan lakonku!

Aku muak! Aku ingin teriak!
CUKUP! CUKUP! CUKUP!

Cukup sampai di sini…lakon ini kumainkan…
Cukup sampai di sini…semua kepalsuan ini!

Dan heningpun berbicara…
…………………

Panggung ini tetap ada…
Aku masih berdiri di sana…
Di atas panggung bernama kehidupan…

Tapi yang kuucap adalah suara hatiku…
Yang kunyanyikan adalah lagu yang mengalun dalam symphony hidupku…
Gemulai lekuk tubuhku bergerak menarikan tarian jiwaku…
Dan kumainkan lakonku sendiri apa adanya…

Tak perduli ada atau tiada penonton di sana…
Tanpa sorak sorai dan gegap gempita…
Kumainkan lakonku sendiri…
Hingga tirai tertutup, mengakhiri kisahku dalam samsara ini…

Jakarta, 19 January 2010

~Jen~

di dalam diam kubicara…

Refleksi 2009


Kurang dari satu jam lagi tahun 2009 akan berakhir, berganti ke tahun yang baru, tahun 2010. Meskipun setiap detik adalah baru, tetapi pergantian tahun selalu membawa kesan tersendiri. Hampir 365 hari kulewati di tahun 2009 ini, banyak hal yang terjadi pada diriku, banyak hal yang membawa perubahan besar dalam hidupku…

Di tahun ini, tanpa sengaja aku dipertemukan dengan sahabat-sahabat baru yang memberikan warna tersendiri buat hidupku. Aku belajar banyak dari sahabat-sahabatku ini, ya banyak hal, tentang artinya kegembiraan, tentang artinya kebersamaan, tentang artinya cinta, persahabatan dan tentang artinya hidup… Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada sahabat-sahabatku ini…

Di tahun ini aku belajar untuk membuka hatiku agar dapat merasakan betapa indahnya dunia dan hidup ini, bila kita bisa menjalaninya dengan penuh kesadaran… hidup yang semula selalu kuanggap sebagai sesuatu yang menyedihkan dan penuh kesengsaraan… Aku menyadari bahwasanya kebahagiaan sesungguhnya hanya tergantung dari cara pandang saja. Saat aku belajar melihat segala sesuatu dari sudut yang berbeda, aku jadi bisa merasakan betapa beruntungnya aku. Aku lebih bisa memahami dan menghargai orang lain.

Tahun ini banyak kehilangan yang aku rasakan, mulai dari hal-hal kecil hingga kehilangan besar yang semuanya telah mengajarkanku untuk ‘belajar melepas’ , tidak terikat dengan segala sesuatu yang ada, karena pada dasarnya segala yang terkondisi tidak kekal adanya. Tahun ini karena harddisk laptopku rusak, tidak ada satupun data yang selamat, padahal banyak file yang aku tidak memiliki copy nya lagi, file-file yang tentunya penting untukku, tetapi ya sudahlah… Kehilangan terbesar yang terjadi padaku di tahun ini adalah kepergian popo dari kehidupan ini. Aku sempat menyaksikan popo yang terbaring lemah di saat-saat terakhirnya, yang membuatku jadi menyadari memang tiada yang abadi, setiap kita pasti akan bertambah tua, menderita sakit dan akhirnya mati, itu adalah pasti. Kita yang masih hidup di dalam lingkaran samsara ini tidak akan luput dari kematian.

Belajar berbesar hati, itu juga pelajaran yang kudapat di tahun 2009 ini. Menyukai satu orang untuk waktu lebih dari sepuluh tahun lamanya, kadangkala membuatku bertanya sendiri, apakah ini cinta? Apakah ini hanya sekedar rasa penasaran belaka? Ataukah ini sesungguhnya hanya keterikatan yang berbalut kesetiaan? Pada akhirnya aku menyadari, dan aku bisa menerima dengan berbesar hati, dia bukanlah untuk diri ini. Pada akhirnya aku bisa melangkah maju melepaskan diri dari belenggu keterikatan masa laluku….

Akhir tahun ini, perubahan besar terjadi pada hidupku. Mendapat pekerjaan baru yang semula tidak pernah kuduga, pekerjaan yang seharusnya menjadi impianku, tetapi ternyata semua tidak semudah yang aku bayangkan. Aku sendiri tak tahu mengapa aku menerima pekerjaan ini, karena semula aku sudah memiliki rencana yang lain untuk hidupku. Tetapi kembali lagi hidup ini pilihan, aku sudah menetapkan pilihan mengikuti kata hatiku, dan untuk itu aku harus percaya, ada hal yang harus kupelajari dari setiap kesusahan yang aku alami, dari setiap air mata yang aku teteskan dan dari setiap sakit hati yang aku rasakan. Semua itu pun mungkin sesungguhnya hanya persepsiku saja? Sesungguhnya tidak ada yang namanya kesusahan itu, tidak perlu air mata dan tidak seharusnya hatiku merasakan sakit? Aku tidak tahu, aku hanya percaya, semua yang terjadi pasti ada sebabnya, dan semua yang terjadi dalam hidup ini adalah sebuah proses pembelajaran yang bisa menjadikan kita lebih baik.

Saat ini, di tengah sedikit rasa bimbang yang masih kurasa, rasa sepi yang kadangkala menyapa dan rasa hampa yang kerap menyiksa, tahun akan segera berganti tanpa memberiku sedikit waktu untuk bisa menemukan jawabannya…

Tahun akan segera berganti, jalan panjang baru akan kutapaki, semoga aku selalu memiliki semangat, kesabaran dan kesadaran di dalam menjalaninya. Karena kutahu yang pasti, semua ini semata untuk satu tujuan, tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya…

Selamat Tahun Baru 2010, kembali tak putus kumohonkan harapan yang selalu sama lagi dan lagi: “Semoga semua makhluk berbahagia…”

Jakarta, 31 Desember 2009
~Jen~

Kristal


Aku suka kristal, karena buatku kristal itu cantik dan indah.
Kristal itu bening dan sedikit menyilaukan.
Dari segala jenis barang berharga, kristal memiliki magnet tersendiri buatku.
Kristal itu menyimpan kekuatan di dalam setiap sudutnya yang bening
Tetapi sekali kau menjatuhkannya dia bisa hancur berkeping-keping…
Kristal itu tampak kokoh walau nyatanya dia begitu mudah terluka…

Memandang kristal ada perasaan tersendiri terselip di hatiku…
Bagai dapat merasakan kesepian sekaligus keheningan dalam diamnya yang dingin…
Tak banyak orang menyukai kristal, yang sepertinya sangat sulit dipahami…
Apa indahnya sebongkah kaca yang tak bermakna?
Tak banyak yang menganggapnya berharga karena merasa tak ada fungsinya…

Tetapi tetap aku menyukai kristal, karena kilau kecilnya telah menyentuh hatiku…
Sekalipun cahaya itu bukan berasal dari dalam dirinya, tetapi sekecil apapun cahaya yang diterimanya akan dibaginya untuk yang lain…
Lewat kilaunya yang indah, ke segala penjuru…

Aku sangat sangat menyukai kristal…
Mengapa?
Karena bagiku kristal begitu mirip dengan aku…

Jakarta, 29 Desember 2009
~Jen~

The Journey


Bulan November sudah hampir berlalu, tapi belum ada satupun tulisan yang aku hasilkan di bulan ini selain dua buah puisi. Bukan, bukan karena aku kehilangan inspirasi untuk menulis, banyak sekali yang ingin kutulis, tetapi rasa lelah dan penat membuatku enggan untuk memulainya. Kesibukan di tempat kerja baru sangat menyitaku, karena masih dalam masa penyesuaian tentunya dan ini bukan hal yang mudah. Beradaptasi buatku bukan hal yang sulit, tetapi kali ini agak berbeda, karena aku harus berhadapan dengan sesuatu yang sebenarnya merupakan kelemahanku. Tetapi aku tidak mau lari, aku menyadari ini harus kuhadapi, sekarang atau nanti, kalau aku tidak berusaha mengatasinya, ini akan jadi sebuah masalah. Dengan mengatasinya aku percaya akan ada kebaikkan yang bisa kudapat. Lagipula belajar mengatasi kelemahanku ini juga sekaligus melatih kesabaranku.

Bicara mengenai lari dari masalah, ini sekali lagi mengingatkanku akan kehidupan yang aku jalani. Aku menyadari, sungguh menyadari bahwa hidup ini adalah rangkaian ketidakpuasan buat aku yang masih berada dalam lingkaran samsara. Menyaksikan popo yang terbaring di ranjang rumah sakit, dengan tubuh yang tinggal tulang dibalut kulit, dan nafas yang terasa berat, aku dihadapkan pada kenyataan bahwa segala yang terkondisi tidak kekal adanya. Aku jadi sedikit mengerti bagaimana perasaan pangeran Siddharta saat melihat orang tua dan orang sakit. Suatu hari nanti tubuh ini pun akan seperti itu, tubuh yang saat ini mungkin susah payah kita rawat dengan biaya yang tidak sedikit, suatu hari semua itu tidak lagi ada artinya… yang tersisa hanyalah keriput di sana sini, rambut yang memutih, gigi yang sudah tak lengkap lagi, dan tenaga yang bahkan untuk membuka matapun sudah tidak sanggup…

Melihat kenyataan ini, lagi dan lagi, di dalam diri ini ada ketidakpuasan, mengapa diri ini masih harus mengalaminya? Mengalami lagi kelahiran yang berulang? ‘Jalan’ sudah ditunjukkan oleh guru Buddha “yang sadar”, tetapi sudahkah diri ini menapaki ‘jalan’ itu? Mengapa begitu sulit untuk memutuskan? Kadangkala keinginan itu timbul di dalam hati kecil ini, keinginan untuk menapaki ‘jalan’ sepenuhnya. Tetapi rangkaian proses di dalam hidupku telah memberiku banyak pelajaran. Hidup dalam tekanan, rasa ego, keinginan untuk memuaskan setiap orang, dan banyak lagi hal lainnya, akhirnya membuatku menyadari apa yang seharusnya kulakukan dalam hidup ini, apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidupku saat ini, nanti dan selamanya. Walaupun kadangkala masih sedikit kurasa sedih di dalam hati, merasa ada yang patut disayangkan karena tak dapat diwujudkan… tetapi aku tidak mau menjadikan ‘jalan’ ini sebagai pelarianku atas masalah-masalah dalam hidupku saat ini. Aku ingin menempuh ‘jalan’ ini dengan keikhlasan, ketulusan dan keyakinan yang kuat bahwa suatu hari nanti, entah setelah berapa banyak kehidupan lagi, di dalam ‘jalan’ ini akan kucapai tujuanku. Dan saat itu adalah akhir dari perjalanan panjang tak berujung ini…

Aku percaya dalam kelahiran ini ada yang harus kulunasi dan kutuntaskan, ada kebajikan yang harus kulakukan dalam proses menuju kesempurnaan. Dan aku menyadari bahwa kesempurnaan bukanlah suatu yang dengan mudah diperoleh dalam semalam, aku yang masih penuh noda, butuh waktu untuk perlahan-lahan mengikis semua noda ini. Perlu proses untuk bisa melihat kebenaran secara utuh dan nyata, bukan hanya sebagai potongan-potongan yang seringkali tampak berbeda. Untuk itulah aku sudah memutuskan pilihanku, untuk menerima apa yang menjadi karmaku dengan tangan terbuka dan hati yang lapang, serta menjalaninya dengan sepenuh hati, apapun itu, di dalam keyakinanku, semoga karenanya aku bisa menjadi lebih baik lagi agar dapat terus melanjutkan perjalananku menyeberangi samudera samsara menuju ke pantai bahagia, Nibbana

Jakarta, 29 November 2009
~Jen~

Sebuah Teguran

shame

Kemaren sore gue pergi ke dokter gigi, seperti biasa benerin gigi gue yang emang dah ancur-ancuran. Pulangnya rada malem juga, karena cukup lama prosesnya harus bongkar crown gigi gue yang lama dan akan diganti yang baru. Hampir jam 8 gue baru selesai, dan gue orang terakhir di klinik itu. Untungnya kost gue gak jauh dari klinik gigi nya, so biar malem gue gak terlau masalah. Karena dah malem gue pikir ya naek taxi aja deh kali, tapi waktu gue keluar gerbang, ada ibu-ibu separuh baya yang nawarin ojek? Hm.. boleh juga neh naek ojek bakal lebih cepet gue pikir. Ya alhasil gue putusin naek ojek, waktu gue tanya berapa ongkosnya langsung dibilang lima belas ribu, karena biasa bawaan nawar, gue tawar deh tuh, tapi dengan sopan tuh ibu bilang, wah dah murah ini gak dimahalin, biasa juga dua puluh ribu. Okelah gue gak mo memperlama waktu karena dah malem juga. Sempat gue denger si ibu nawarin ke rekan ojeknya yang cowok, mau narik atau nggak? Tapi ditolak oleh rekannya, sehingga akhirnya gue tetep naek ojek si ibu.

Sepanjang perjalanan dari klinik sampai kost, ibu ojek itu banyak cerita. Benernya gue gak bisa terlalu denger apa yang dia ceritakan karena tentunya dia ngomong sambil ngadep depan ditambah pula suara angin, jadi hanya sebagian-sebagian yang gue denger. Awalnya dia cerita bagaimana rekan ojek nya yang tadi ditawari narik itu sudah punya istri cantik tapi masih juga nyeleweng, padahal perempuan selewengannya itu sama sekali kagak cantik dan gak sebanding sama istrinya. Dia cerita juga bagaimana kadangkala temannya sesama tukang ojek seringkali mengumpat dan marah-marah karena tidak ada sewa dan biasanya si ibu selalu nawarin dulu ke rekan ojek yang lain kalau ada sewa, karena prinsipnya rejeki gak lari ke mana, Tuhan sudah mengatur. Sampai terakhir dia ada cerita seringkali dia ngantar orang sampai jam 1 pagi ke arah Pondok Indah, pernah juga ke Kelapa Gading, dan paling sedih kalau kena ranjau paku, habis sudah duit hasil ojek untuk ganti ban. Polisi-polisi di sekitar tempat dia mangkal biasa sudah kenal sama dia.

Gak kerasa sepanjang jalan gue dengerin ceritanya, tau-tau sudah sampe juga di kost. Gue buka dompet, yang terlihat duit dua puluh ribu, tanpa pikir panjang gue kasih aja ke si ibu, gue seneng karena dia orang yang ramah, jadi buat gue gak masalah kasih dia lebih, lagian kayaknya emang masih pantas ongkos segitu. Dan yang cukup buat gue surprised, si ibu yang mendapat duit lebih dari gue itu gak cuma ucapin terima kasih, sambil nepuk tangan gue, dia bilang ‘makasih ya de, ibu doain biar sukses’. Gue cuma bisa bales ‘sama-sama bu, kali aja besok-besok saya ke klinik situ lagi, saya butuh diantar ibu lagi’.

Setelah itu otak gue jadi mikir, hampir seminggu ini mood gue lagi jelek banget, hanya karena harus ngadepin bos di kantor yang cerewetnya minta ampun, tapi kalau dipikir-pikir gak sebanding banget apa yang gue alami sama yang si ibu harus hadapin tiap hari. Dia gak muda lagi, gue bisa liat dari penampilan dan uban yang menghiasi rambutnya, tapi semangatnya untuk bekerja dan berjuang dalam hidup ini bisa gue rasain dan itu jauh lebih dibandingkan apa yang gue miliki. Seorang perempuan dalam usianya yang tidak muda lagi, harus berprofesi jadi tukang ojek dan seringkali membawa penumpang hingga tengah malam bahkan pagi, tetapi masih bisa melakoninya dengan penuh semangat dan senyuman. Gile gue bener-bener merasa ditampar… gue duduk di kursi yang nyaman, di depan laptop, dalam ruangan ber-AC, dengan kerjaan yang tidak terlalu berat tapi gue masih mengeluh hanya karena harus dengerin bos gue yang ngoceh-ngoceh?? Ow ow ow gue malu banget… kenapa rasanya kok gue jadi gak mensyukuri apa yang gue dapet, kenapa rasanya gue jadi gak punya semangat untuk berjuang? Gue tau, ‘Tuhan’ selalu punya cara untuk ‘menegur’, ‘mengingatkan’ atau bahkan sekedar untuk ‘menyadarkan’ gue. Hari ini gue dipertemukan dengan ‘malaikat’ yang hebat, wanita yang tidak hanya punya semangat juang tinggi tetapi juga kebaikan hati, gue bisa merasakan itu.

Gue nulis ini untuk mengingatkan diri gue dan untuk penghargaan ke si ibu ojek itu. Gue mo bilang terima kasih sekali lagi, bukan untuk doa nya ke gue biar gue sukses, tapi lebih dari itu, terima kasih untuk mengingatkan gue untuk mensyukuri apa yang sudah gue dapatkan di hidup gue ini, dan untuk terus memiliki semangat dalam menjalani kehidupan gue sesulit apapun itu.

“Terima kasih ya bu atas pelajaran yang saya dapat dari ibu. Saya sama sekali gak ada apa-apanya dibanding ibu, semoga ibu bisa selalu berbahagia, serta tetap memiliki semangat dan kebaikan hati di dalam menjalani kehidupan ini…”

Jakarta, 29 Oktober 2009

~Jen~