Feeds:
Posts
Comments

Baik vs Bodoh

104676-bigthumbnail

Banyak yang bilang, orang baik itu hampir tidak ada bedanya dengan orang bodoh. Entahlah sampai sekarang aku masih belum berani untuk menilai apakah statement itu benar atau salah, karena bagiku segala sesuatu itu sangatlah relatif, tergantung dari situasi, kondisi, tempat, waktu dan banyak hal lainnya. Menjadi orang baik itu tidak mudah menurutku, tapi jadi orang bodoh jauh lebih mudah dan lebih sering kita lakukan. Kadangkala aku berpikir apa sih yang sering membuat orang beranggapan kalau orang baik itu cenderung bodoh? Mungkin karena kebaikan seseorang, seringkali ia jadi dimanfaatkan, dan karena itu orang menilainya bodoh? Entahlah, kembali menurutku semuanya itu relatif.

Aku sendiri bukan seorang malaikat yang baik hati, tetapi dalam hidup ini aku berusaha untuk menjadi orang baik. Aku menyadari dan mengalaminya sendiri, kadangkala kebaikanku memang seringkali dimanfaatkan oleh orang lain. Cukuplah aku sendiri yang tahu akan hal itu, dan memang sudah menjadi pilihanku untuk tetap melakukannya, sehingga aku bukannya bodoh, tetapi karena memang aku ingin berbuat baik saja. Sebab bagiku berbuat baik bukanlah karena aku ingin mendapatkan pujian, bukan karena itu… melainkan karena aku tahu disakiti itu tidak menyenangkan, karena aku tahu dibohongi itu mengesalkan, dan karena aku tahu menjadi orang baik itu adalah sebuah latihan buatku…

Masalah menjadi orang baik ini, aku rasa semua agama mengajarkannya. Kalau diteliti lebih jauh, banyak kisah orang suci yang berbuat baik, saking baiknya malah, sampai-sampai jadi dinilai bodoh, karena tak jarang mereka mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan orang ataupun makhluk lain yang bukan siapa-siapa mereka, dan bahkan sebaliknya yang sudah menyakiti mereka. Tetapi aku menyadarinya, bagi mereka yang melakukan kebaikan sedemikian rupa, adalah karena rasa cinta kasih yang begitu besar, sebuah pengorbanan yang tidak dapat dinilai dengan apapun juga, yang bagi mereka apa yang dilakukan bukanlah apa-apa, hanya merupakan sebuah bentuk latihan untuk penyempurnaan diri.

Dalam kehidupan di dunia saat ini, sulit sekali menemukan orang-orang seperti itu, karena hidup kadangkala menuntut manusia untuk bersikap egois, yang seringkali pun sebenarnya hal ini hanyalah dalih dan pembenaran semata. Bagi manusia yang masih menggenggam erat ‘aku’, cenderung untuk mendahulukan kepentingan ‘aku’ dibanding memiliki rasa belas kasihan ke orang lain, ataupun hanya sekedar untuk memikirkan kepentingan orang banyak.

Tetapi memang kita juga tidak bisa menuntut orang-orang untuk menjadi baik hingga rela berkorban sampai sedemikian rupa, karena segala tindakan itu seharusnya dilandasi dengan kebijaksanaan. Dan sebenarnya semua itu balik lagi ke yang namanya pilihan. Menjadi orang baik itu sebuah pilihan, sementara menjadi orang bodoh itu lebih karena nasib dan keadaan. Kebanyakan orang mengira si baik hati ini bodoh sekali, tetapi sebenarnya seringkali itu memang pilihannya untuk menjadi baik hati, dilandasi oleh kesadaran, cinta kasih dan ketulusan, sehingga sesungguhnya kita tidak bisa mencapnya sebagai orang yang bodoh, walau bagi orang yang melihat hanya ‘luar’ nya saja akan menganggap demikian.

Orang bodoh sendiri kalau menurutku adalah mereka yang memang sesungguhnya tidak memahami dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Mereka hanya ikut di dalam arus tanpa tahu untuk apa, untuk siapa, dan mengapa. Mereka tidak tahu  tujuan mereka, dan hanya ‘mengikuti’ maunya orang lain.

Ternyata memang benar sekali kata pepatah, dalamnya laut bisa diduga, tapi hati orang siapa yang tahu? Kita tidak pernah tahu maksud dan pemikiran orang lain, begitu banyak orang munafik di dunia ini. Banyak yang tampak baik di luar tetapi tidak demikian sesungguhnya, sementara yang lainnya tampak begitu bodoh tetapi sesungguhnya mereka hanya berusaha menjadi orang baik. Ya semua adalah pilihan masing-masing orang, dan kita seharusnya menghargai itu. Semua orang punya tujuan dalam hidupnya yang ditempuh dengan caranya masing-masing. Cara-cara yang kadangkala mungkin ‘membodohi’ orang lain, cara-cara yang kadangkala merugikan dan menyakiti orang lain. Tetapi kembali lagi semua itu sangat relatif, baik-buruk, jahat-baik, bodoh-pintar, tergantung sudut pandang yang menilai. Apapun itu, biarlah setiap orang bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat…

Jadi, apakah orang baik itu bodoh? Anda tidak akan pernah tahu…

Jakarta, 28 Oktober 2009

~Jen~

Papi, apa kabar?

Tidak terasa 7 tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari dimana papi harus pergi meninggalkan kehidupan ini, meninggalkan mami, koko, Jen dan King-king. Rasanya masih seperti kemarin, masih terbayang jelas di ingatan Jen saat harus melepas kepergian papi. Selama hampir 5 hari menahan air mata, betapa beratnya untuk Jen, yang paling tidak tahan dengan perpisahan, tapi karena tidak mau memberatkan papi, Jen menahan air mata itu supaya tidak jatuh. Sampai akhirnya, saat aba-aba untuk menekan tombol oven kremasi diucapkan, tumpah juga segala kesedihan itu… isakan tangis tanpa air mata, yang baru sekali seumur hidup Jen alami… ternyata istilah air mata buaya itu tidak salah juga, karena kesedihan yang sesungguhnya itu membuat kita bahkan tidak mampu untuk menitikkan air mata…

Papi, Jen gak mau cerita yang sedih-sedih lagi sama papi, semua kesedihan sudah seharusnya berlalu. Surat yang Jen tulis ini, sebagai pengganti cerita yang ingin Jen sampaikan ke papi, seperti dulu saat kita sering ngobrol di toko, tentang banyak hal. Jen merindukan hari-hari itu, karena buat Jen, papi adalah teman bicara yang menyenangkan. Jen yang termasuk sulit bila harus bicara dengan orang, sama seperti papi tentunya, tapi kalau kita sudah bicara, rasanya menyenangkan sekali, apalagi  saat kita membahas soal marketing. Dan taukah papi, sekarang Jen menekuni pekerjaan itu, pekerjaan marketing.

Papi, sebenarnya banyak yang ingin Jen ceritakan ke papi, soal pekerjaan Jen, Koko, dan King-king tentunya, juga soal mami, tapi rasanya semua itu tidak akan habis ditulis. Yang pasti Jen hanya mau bilang ke papi, kita semua di sini baik-baik saja, tidak ada yang perlu papi khawatirkan. Pada kesempatan ini Jen cuma mau bilang ke papi:

“Terima kasih papi sudah menjadi seorang suami yang baik untuk mami.”

“Terima kasih papi sudah menjadi seorang ayah yang baik untuk Koko, Jen dan King-king.”

“Terima kasih papi sudah membekali kita, anak-anak papi dengan harta yang tidak akan pernah habis, yaitu ilmu pengetahuan.”

“Terima kasih papi sudah mengajarkan Jen kesabaran yang tiada habisnya, belas kasih yang tanpa pamrih, serta mengajari Jen untuk mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna… dan semua pelajaran itu telah papi contohkan dengan melakukannya sendiri…”

Papi, rasanya tidak cukup menuliskan semua kebaikkan papi di sini, dan segala ucapan terima kasih ini tidak akan bisa membalasnya.

Papi, kesempatan kali ini juga mau Jen gunakan untuk meminta maaf  sama papi:

“Maaf karena selama hidup papi mungkin seringkali Jen membuat papi kecewa, entah karena tidak bisa mendapat nilai yang bagus di sekolah, tidak bisa menjadi juara kelas, ataupun karena hal lainnya. Maaf pi, mungkin Jen bukannya tidak mampu, tetapi Jen memang kurang berusaha hingga akhirnya membuat papi kecewa…”

“Maaf karena sebagai anak Jen belum bisa membalas budi atas semua kebaikan yang sudah papi berikan sebagai orang tua. Jen belum bisa membahagiakan papi semasa papi hidup. Taukah papi entah kapan mulainya Jen selalu merasa takut ditinggal papi, selalu di dalam hati Jen merasa papi akan pergi meninggalkan Jen, karena itu di dalam setiap doa Jen selalu meminta ‘waktu’ dan ‘kesempatan’ agar bisa membalas budi papi dan mami serta membahagiakan kalian berdua. Tetapi rupanya permintaan sederhana itupun tidak dikabulkan pi… Jen gak menyalahkan siapapun, tetapi Jen hanya ingin papi tau kalau selalu dalam hati ini Jen berdoa untuk kebahagiaan papi, dimanapun papi berada…”

Papi, Jen gak tau sekarang papi ada di mana… banyak teori tentang kehidupan setelah kematian, apapun itu tetap menjadi misteri bagi yang masih hidup dan belum mengalaminya. Ada yang bilang pilihannya hanya dua, surga dan neraka, orang baik masuk surga, orang jahat masuk neraka. Papi orang baik, Jen percaya kalau pilihannya hanya dua, papi akan ada di surga. Tetapi lain lagi kalau pilihannya bukan hanya dua. Lain lagi ceritanya kalau suatu hari nanti kita diberi kesempatan untuk kembali berjodoh sebagai orang tua dan anak, seperti yang mungkin dulu pun pernah terjadi.

Apapun itu, Jen hanya ingin hidup saat ini, dimanapun papi berada saat ini, semoga papi selalu berbahagia, semoga papi tidak mengkhawatirkan kita semua yang masih hidup. Mami, Koko, Jen, dan King-king semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan pi, cekcok kecil hal biasa dalam hidup, semua pasti bisa kita lalui dengan baik. Hiduplah dengan tenang, hiduplah dengan senang, Jen ingin melihat papi selalu berbahagia sampai kapanpun, di manapun, dalam wujud apapun, Jen hanya ingin melihat papi selalu tersenyum…

Papi sudah dulu ya, Jen harus tetap menjalani kehidupan ini, dan menikmatinya apapun yang terjadi, menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Jen berusaha untuk selalu berbahagia, karena kita tidak pernah tau kapan saatnya hidup kita berakhir, seperti papi yang begitu cepat meninggalkan kita…

Doa Jen selalu, semoga papi selalu sehat, semoga papi terbebas dari penderitaan, semoga papi selalu berbahagia… Sadhu, sadhu, sadhu…

Jakarta, 25 Oktober 2009

~Jen~

Family

PS. Harusnya surat ini Jen tulis kemarin pi, tapi semalem mati lampu di rumah 🙂

Oh ya papi belum lihat foto keluarga kita kan? Banyak yang bilang foto ini bagus, dan di sini semua bilang muka Jen kayak papi… 😀

missing_you-1809
Dari dulu gue benci yang namanya ‘perpisahan’, entah karena gue yang terlalu sentimentil ataukah ini karena masalah ‘keterikatan’ gue yang terlalu kuat. Bentar lagi gue bakal menghadapi yang namanya ‘perpisahan’, pisah dengan teman-teman kantor gue yang sekarang, pisah dengan suasana kerja yang sekarang, pisah dengan produk yang gue pegang sekarang, pokoknya pisah dengan apa yang sudah gue jalani hampir 3 tahun ini karena gue akan pindah kerja.

Dari dulu yang namanya ‘perpisahan’ pasti selalu buat gue menangis. Gue orang yang keras, dan beratnya hidup jarang buat gue nangis, hanya satu hal yang dapat dipastikan buat gue nangis yaitu ‘perpisahan’. Sebelum ini dah 3 kali gue pindah kerja, dan last day di kantor selalu gue isi dengan air mata. I hate being weak! Tapi gue gak bisa juga menyetop air mata ini keluar karena sedihnya ‘perpisahan’ yang harus gue rasakan.

Bicara perpisahan gak lepas dari yang namanya kematian, karena kematian adalah sebuah ‘perpisahan’ untuk selama-lamanya. Mendekati hari-hari terakhir di kantor, ditambah lagi sekarang ini bulan Oktober, membuat gue jadi sedih. Bulan Oktober selalu membuat gue sedih, karena di bulan ini, tujuh tahun yang lalu, gue harus mengalami yang namanya ‘perpisahan’ untuk selama-lamanya. Perpisahan gue dari orang yang paling gue sayangin, papi gue. Sebuah perpisahan terberat yang harus gue alami dalam hidup gue, yang sampai sekarang masih belum bisa gue ‘lepaskan’. There’s a missing puzzle in my heart and it has made me feel not complete…

Semua yang namanya teori akan ‘perpisahan’ sudah gue ketahui, kalau ditanya sudah paham atau belom? Mungkin baru setengah, karena memahami seharusnya bisa mempraktekkannya, tapi gue sama sekali belum bisa mempraktekkannya. Gue hanya memahami sebatas teori. Gue tau kalau gak ada yang abadi, gue tau kalau semua ini hanya sementara, gue tau kalau masa lalu tidak seharusnya terus digenggam, gue tau kalau kita tidak seharusnya ‘terikat’, but all seems bull shit when you can’t do it! Memang bicara itu mudah, tetapi melakukannya itu yang sulit. Apa gue gak pernah berusaha melakukannya? I’m trying but still can’t overcome it…

Memang benar, berpisah dengan orang yang dicintai itu ketidakpuasan… and I’m just like the other human, masih diliputi yang namanya nafsu keinginan, karena masih ada ‘aku’, karena ‘aku’ tidak ingin kehilangan ‘milikku’…

Gue benci perpisahan, karena perpisahan selalu membuat gue menangis dan air mata membuat gue terlihat lemah. Gue benci perpisahan, tapi gue harus menghadapinya, dan melawan pun percuma, jadi ya dinikmati saja segala kesedihan yang ada, hingga tiada lagi rasa…

Jakarta, 13 Oktober 2009

~Jen~

j0433335

“Life is so unpredictable”. Entah sejak kapan kata-kata ini jadi salah satu ‘quote’ favoriteku. Mungkin sejak aku menyadari bahwa hidup yang aku jalani seringkali memberi kejutan-kejutan. Hidup itu memang sulit ditebak, yang akan terjadi nanti, tidak ada seorangpun yang tahu. Kalau memang mau dipikir, siapa sih yang bisa meramalkan masa depan kita secara tepat? Hidup itu pilihan, masa depan tergantung pilihan yang kita ambil. Tetapi kembali lagi hidup itu susah diprediksi, ada hal-hal di luar apa yang kita rencanakan yang tiba-tiba bisa muncul di hadapan kita memberikan sebuah kejutan.

Aku percaya, setiap orang punya impian, mungkin lebih dari satu impian malah. Masing-masing orang tentunya punya caranya sendiri dalam mewujudkan impian-impian mereka. Ada yang dengan sangat rapi telah menyusun langkah untuk mencapai impiannya dan mengusahakannya dengan keras. Ada yang setengah-setengah berusaha karena masih ragu-ragu dengan impiannya sendiri, serta ada pula yang membiarkan impiannya mengalir seiring perjalanan hidupnya.

Aku sendiri punya impian dan pernah menjadi sangat ngotot dalam mengejar impianku, tapi hidup kadangkala tidak seperti yang kita bayangkan, sebaik apapun perencanaan kita, seringkali kenyataan yang kita terima berbeda dari apa yang kita inginkan. Pada akhirnya kita menjadi lelah, sebagian orang mungkin kecewa bila sudah berada dalam kondisi ini, lalu menjadi mempersalahkan hidup, mempersalahkan ‘Tuhan’ karena tidak memberikan apa yang sudah diusahakan dengan sungguh-sungguh. Kalau aku, entah karena keteguhan hati yang masih kurang, ataukah karena aku merasa harus realistis dalam menjalani hidup ini, yang pada akhirnya membuatku membiarkan impianku mengalir seiring perjalanan hidupku. Aku belajar bahwa tidak semua impian kita bisa terwujudkan, tapi bukan berarti kita jadi membuang impian kita.

Bekerja di perusahaan consumer goods, apalagi perusahaan multinational adalah  salah satu impianku sejak aku menginjak dunia kerja. Aku tidak tahu mengapa, tetapi mungkin ini salah satunya dikarenakan sejak kecil aku sudah berkecimpung dalam dunia marketing secara tidak langsung. Sejak kecil aku selalu membantu papi di toko kelontong yang kami miliki. Karena aku suka belajar, aku seringkali mengamati hal-hal kecil dari proses jual beli di tokoku. Dan seringkali pula aku bertanya pada papi, atau sebaliknya tanpa ditanya papi juga sering berbagi ilmu dagangnya padaku. Mungkin ini yang membuat ketertarikanku pada dunia marketing? Entahlah…. Tetapi sayangnya dalam perjalanan karirku, aku tidak pernah bisa mewujudkan cita-citaku ini sekalipun aku pernah melakukan satu langkah mundur. Yah, aku harus realistis, tidak bisa semauku sendiri mengikuti idealismeku. Pada akhirnya, meskipun dalam hati kecilku masih berharap untuk impianku yang satu ini, tetapi aku bersikap pasrah, membiarkan impian ini mengalir seiring perjalanan hidupku.

Entah sejak kapan tepatnya, aku tidak ingat, mungkin sejak aku duduk di bangku SMP, aku pernah berkhayal kalau suatu hari nanti aku punya sebuah sekolah khusus untuk anak-anak bandel. Hehehe.. lucu ya, entah mengapa aku bisa berpikiran seperti itu, mungkin karena aku selalu berpikir bahwasannya anak-anak bandel itu hanya butuh yang namanya perhatian, mereka hanya kurang kasih sayang, dan aku berharap aku bisa membagi kasih sayang untuk mereka sehingga mereka bisa tumbuh menjadi anak yang baik. Impian ini mungkin hanya sempat terlintas begitu saja dalam hidupku dan tidak pernah ada usaha yang khusus kulakukan untuk mewujudkannya. Belakangan karena banyak berkecimpung dalam dunia anak-anak untuk urusan pekerjaanku, aku jadi kembali teringat akan impianku ini. Kupikir sekarang ini saat yang tepat untuk memulai satu langkah yang mendukung impianku, yaitu dengan mengambil kuliah lagi yang berhubungan dengan bidang psikologi dan pendidikan. Bisa menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya juga merupakan harapanku, karena aku suka belajar, dan sudah lama sekali aku memang menginginkan hal ini, yang kembali lagi karena masalah realistis tadi, aku dengan terpaksa menyimpannya.

Dan sekarang, semua tampaknya baik-baik dan mendukung impianku untuk menempuh pendidikan lagi demi mewujudkan impianku yang lainnya. Aku hanya tinggal menunggu waktu pendaftaran saja, dan itu seharusnya tidak lama lagi. Tetapi kembali lagi ternyata life is so unpredictable, entah karena sikap pasrahku, ataukah memang ini jawaban atas ‘doa’ ku, dengan tiba-tiba aku medapatkan tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan consumer goods yang sekaligus perusahaan multinational, dan dalam hitungan waktu yang singkat untuk prosesnya, akhirnya aku diterima. Wow ini seperti mimpi bagiku! Aku merasa seperti sedang dalam perjalanan, dan menurut peta seharusnya aku berjalan lurus ke depan, tetapi tiba-tiba aku menemukan tanda berbelok yang ternyata itu menunjukkan tempat yang aku tuju? Kembali lagi, hidup ini adalah pilihan, akankah aku berbelok mengikuti tanda yang kutemui di jalan ataukah aku tetap berjalan lurus berpedoman pada peta? Keduanya tidak ada yang salah, tinggal bagaimana aku memutuskan, dan aku sudah memutuskannya.

Tidak semua impian dapat kita raih, kadangkala kita harus mengorbankan yang satu untuk yang lainnya, seperti itulah hidup, tetapi apapun pilihan yang sudah kita ambil, dengan segala resikonya, jalanilah dengan sepenuh hati. Kadangkala pula, segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, sekalipun sudah kita rencanakan….

Life is so unpredictable… karena hidup memberimu banyak kejutan, baik yang membuatmu menangis ataupun tertawa. Jalani saja hidup ini dengan sewajarnya, saat ia memberimu kejutan yang menyedihkan menangislah, tetapi cukup saat itu saja, karena setelahnya mungkin akan ada kejutan yang akan membuatmu tersenyum. Terimalah kejutan-kejutan itu dengan hati yang lapang, karena selalu ada pelajaran dan hal baik yang akan kamu dapatkan sesudahnya.

Jakarta, 25 September 2009

~Jen~

Libur lebaran kali ini karena gue memang dah gak punya kampung, karena mami dah tinggal di Jakarta soalnya jadi gak merasa punya kampung lagi, ya gue mengisinya dengan tidak ada rencana sama sekali. Tapi seperti biasa apalagi setelah gue kost sekarang ini, kadang kalau di rumah, rasanya pengen masak atau buat-buat sesuatu. Hm.. pasti deh ada temen-temen yang gak percaya kalo gue bisa masak? Ahahaha dah tau lah kalo gak percaya, ya maklum sih buat sebagian orang gue gak keliatan seperti tipe cewek rumahan yang hobby sama pekerjaan rumah ya? Tapi buat yang sudah kenal gue lama akan tau kalo hobby gue cewek banget, mulai dari masak, jahit, sampe berdandan. Tapi ya itu, memang kalo dari penampilan suka gak keliatan ya.. hehehe… 🙂

Yup kembali lagi, karena kebetulan juga gue ketemu resep untuk buat kroket macaroni dari salah satu majalah, alhasil pagi kemaren gue coba bereksperimen. Ternyata gak susah, bahannya juga cukup gampang, tapi setelah jadi tampilan kroketnya kok jelek ya? Hehehe benernya bisa aja sih kalo mo dibuat bagus, tapi karena dah diburu-buru waktu, mau langsung pergi siangnya, n gue juga mungkin lagi males aja bentuk-bentuk sampe rapi gitu, karena toh mikirnya ini buat makan sendiri, tampilan gak masalah lah.. alhasil si kroket gak mulus bentuknya, sedikit peyang penjol di sana sini. Soal rasa gimana? Coba dulu… hm…rasanya enak tuh.. hahaha.. memang resepnya yang oke sih, tapi tetep kan banyak orang bilang pada dasarnya masak itu tergantung tangan. Mungkin setiap orang bisa masak, dengan resep yang sama, tapi soal rasa…tergantung tangan yang masak, dan ya syukurnya tangan gue gak jelek-jelek amat, setiap masakan gue masih layak makan dan bahkan menurut kakak,-adik dan sepupu gue yang pernah jadi korban uji coba masakan gue bilang cukup enak…

IMG_2801

Gara-gara liat bentuk kroket yang peyang penjol gue jadi inget, jaman dulu gue paling sering bikin agar-agar, karena selain gue doyan, buatnya gampang, itu karena gue ngerasa paling ahli bikin agar-agar. Sampe papi gue pernah bilang, bosen juga masa bisanya bikin agar-agar mulu? Hahaha padahal pernah juga buat yang laen seperti kue bolu, tapi ya emang jarang banget…gak sesering agar-agar. Gue jadi inget juga ada waktu ketika gue lagi tergila-gila buat yang namanya pempek. Karena emang gue doyan, gue jadi pengen buat aja, tapi ya maunya buat yang sederhana, gak pakai ikan, pempek sagu lah. Tiap hari gue eksperimen, gak pakai resep, nekat coba-coba sendiri tuh… dari yang kekerasan sampe yang gak karuan juga, tapi semua masih bisa dimakan sih… yang kasihan waktu itu papi gue, jadi korban uji coba pempek buatan gue. Tapi gue aneh juga, napa gak protes ya si papi? Sempet sih bilang, bosen, tapi dia gak ngoceh-ngoceh sampe gimana? Hm.. mungkin karena dia menghargai usaha gue untuk mencoba terus tanpa berhenti, hahaha…

Urusan masak yang lain, gue hampir gak pernah diajarin atau dapet pelajaran khusus. Dari kecil emang hobby gue ikut belanja ke pasar, trus liatin orang masak di dapur, so dari situ gue belajar gimana sih caranya masak? Ternyata hobby gue ini ada gunanya juga, waktu umur 14 tahun, waktu itu baru mau naek SMA gue, karena koko sakit, mami terpaksa bawa koko ke Jakarta, n gue ditinggal di rumah untuk ngurus papi dan dede tanpa pembantu! Ha! Bayangin aja musti ngurusin makannya mereka juga? Emang sih banyak ditinggalin sayur matang yang siap dipanaskan, tapi karena cukup lama ditinggalnya, ya ada juga saat-saat gue harus masak. Untungnya pembantu gue sebelumnya suka mencatat resep-resep masakan di kertas, dan catatan itu ditinggal di lemari dapur. Alhasil dengan modal nekat, gue bereksperimen lagi, masak ini itu dengan melihat coretan bahan resep dan cara membuat yang gue tangkap dari pengamatan gue selama ini. Untuk lebih dari seminggu kalo gak salah, papi dan dede gue ya makan apa yang gue hidangin di meja, entah itu sayur beli, ataupun masakan eksperimen gue. Dan satu hal yang gue inget banget saat itu, waktu mami pulang, gue diomelin karena rumah berantakan, bak dapur gak dicuci, lap ada yang gak diganti? Wew saat itu gue cuma anak umur 14 tahun yang gak pernah tahu apa aja seluruh pekerjaan rumah itu sebelumnya, n tiba-tiba ditinggal sendiri untuk ngurus semua urusan rumah dan makan papi n adek gue?

“Apa sih yang kamu harap dari anak kecil ini? Kalo papi, masih bisa ada makanan yang bisa disiapin untuk papi makan aja udah syukur,” begitu papi bilang sambil menghibur gue. Ah, gue seneng banget, ternyata yang gue lakuin buat papi itu masih dihargai, ternyata biarpun gue gak bisa membuat semua urusan rapi, tapi setidaknya gue udah berusaha melakukannya dan papi menghargai itu. Gue baru menyadari sekarang, sebenarnya papi sudah mengajari gue beberapa hal, yaitu belajar untuk menghargai usaha orang lain, belajar untuk mensyukuri apa yang sudah didapat  sekalipun itu mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita mau, serta belajar untuk menerima ketidaksempurnaan orang lain apa adanya dengan melihat kebaikan yang sudah dilakukan.

Sekarang dengan melihat kroket macaroni buruk rupa bikinan gue ini, gue jadi merasa diingatkan lagi. Gak ada yang sempurna di dunia ini, yang harus kita lakukan adalah menerima kekurangan yang ada dan melihat sisi baiknya. Seperti kroket ini, sekalipun rupanya jelek, ternyata rasanya enak. Gue juga jadi teringat akan satu quote yang gue temuin di salah satu website: Nilai dari sebuah cinta sejati bukanlah menemukan orang yang sempurna untuk dicintai, tetapi bagaimana kita bisa mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna. Bagi gue, papi adalah salah satu orang yang sudah berhasil melakukan hal ini… Dan gue akan berusaha untuk mencontoh papi, belajar mencintai orang yang tidak sempurna secara sempurna. Begitu juga sebaliknya, gue berharap suatu hari nanti, gue bisa menemukan orang yang bisa menerima dan mencintai gue yang tidak sempurna ini secara sempurna…

Jakarta, 23 September 2009

~Jen~

Meet the Stranger

CB008417

Belom lama ini gue ketemu orang untuk satu urusan, orang baru  yang gak gue kenal sama sekali sebelumnya. Tapi agak sedikit aneh, sewaktu disebutkan namanya, entah mengapa gue jadi membayangkan, ”Oh orang yang namanya ini begini rupanya kurang lebih…” Sebenernya untuk seorang penghayal seperti gue hal ini sudah sering gue lakuin, tetapi kemarin bisa gue pastikan, hal itu terlintas begitu aja di pikiran gue tanpa gue bermaksud berandai-andai.

Sewaktu ketemu untuk pertama kali, cukup surprised gue dibuatnya, ”Kok mirip seperti bayangan gue ya?” Hm.. oke… langsung deh seperti biasa otak gue langsung menilai orang, entah ini kebiasaan baik atau buruk, tapi mungkin ya gak baik gak buruk lah asal gue bisa gunain pada tempatnya ya… gue langsung mikir  ini orang pendiem deh… liat dari tampangnya sih gitu… but… tiba saatnya gue emang harus bicara sama nih orang and guess what? Astaga! Belum pernah gue ketemu orang se’nyolot’ ini!! Buset beda banget dari gambaran pendiem dan kalem yang gue tangkap pertama tadi!

Dan yang minta ampunnya gak berhenti-henti dia mencela gue! Segala yang ada di gue gak ada yang bener…!! Oh mi got! Tapi yang aneh kenapa gue bisa sabar benerrrr ngadepin nih orang ya? Padahal gue paling bete harus ngadepin orang kek begini, apalagi ini cowok ya, rasanya dah pengen gue tabok deh nih orang! Eitss… itu sih gambaran kalo gue masih seperti dulu ya, gue yang gak sabaran, yang kagak mo kalah punya… yang pasti setidaknya gue udah naek darah deh, dan muka n nada suara gue pasti dah sama nyolot n sinis nya kek dia. But sekali lagi… entah ini keajaiban atau emang gue yang dah berubah, kenapa gue cuma bisa senyum-senyum manis dan dengan sabar ngadepin ini orang?? Something wrong with me??  

Entahlah gue jadi mikir aja, gue bisa gak marah apa karena nih orang gak jelek tampangnya (cakep juga maksudnya, hehehe…) n dia punya gigi yang bagus rata kek iklan pasta gigi ya? Tapi harusnya dia punya senyum yang manis donk, tapi ini ampyun!! Sinisnya gak kuat bener-bener minta ditabok, huh! Hm… tapi setelah gue inget-inget lagi, mungkin gue bisa bersabar dan gak marah karena ada kata-katanya yang membuat gue berpikir kalau ini orang pada dasarnya baik. Kalau ini cowok benernya cuma mo jatohin mental gue aja! Ya di awal sempat saat gue bilang kalau di satu tempat gue gak dapetin hal ini tapi gue dapet hal itu, sementara di tempat lain gue dapetin hal ini tapi gak dapet hal itu, dan entah karena emang dia bijaksana or apa gue gak tau, tapi dia bisa bilang hal ini:

 “Nothing’s perfect in this world. You cannot get all you want. But that’s make people tough and success. Just like a diamond, you know the process to make a diamond? Just like that… And like butterfly also, you know before it come into a butterfly, what is it? All of it makes people stronger.”

CB108154

Ow ow ow wait… dia ngomong ini gak dengan tampang sinis loh… mungkin ini yang membuat gue jadi bisa ‘melihat’ hatinya yang sesungguhnya. ‘This man is not that bad…’ dan ternyata kesan pertama ini sudah meluluhkan hati gue sekalipun dia nyolotnya sampe bawa-bawa hal yang sensitif untuk disinggung?? Walah hahaha… ampyun!

Ok, dan kembali entah mengapa, karena begitu terkesan sekali kah gue sama nih orang yang bikin bete, buat gue pengen nabok, tapi ternyata sekaligus sudah mengajarkan gue beberapa hal, sehingga sekarang gue malah jadi menulis tulisan ini buat mengingat dia?! Astaga…!! Ya ya mungkin ini sekedar untuk mengingatkan gue sendiri akan pelajaran yang gue dapet dari si menyebalkan satu itu, bahwa: tidak ada yang sempurna di dunia ini, kita gak pernah bisa dapat semua yang kita mau, dan segala kesulitan itu sebenarnya membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik. Dan satu pelajaran paling berharga buat gue benernya adalah:  KESABARAN! Ya kesabaran untuk menghadapi hal yang tidak menyenangkan… Fiuh benernya masih takjub gue sama diri gue sendiri yang bisa sabar ngadepin orang itu hehehe…

Dan entah mengapa sekarang gue berharap bisa ketemu dia sekali lagi, buat nabok dia, oppsss…. bukan ya, hehehe… Ketemu dia sekali lagi… to see the ‘real’ him and become his friend…^^

 j0438386

Jakarta, 4 September 2009

~Jen~

Dedicated to “Mr. S”: hope we’ll meet again in different situation and don’t be so nyolot ya!

EKSISTENSI

j0399119

Sebenarnya apa sih yang disebut dengan eksistensi? Mengapa rasanya begitu banyak orang-orang yang mengejar hal ini? Eksistensi, keberadaan, dianggap ada dan nyata, penting sekali ya buat seseorang? Seorang teman bilang ‘seseorang akan merasa hidup bila diakui keberadaannya’. Terus terang ini membuatku menjadi berpikir, ‘hidup’ seperti apa yang dimaksud? Sebenarnya ini bukan masalah ’hidup’ itu sendiri. Pengakuan, ya sebenarnya orang hanya butuh sebuah pengakuan atas dirinya. Karena seseorang hanya menuruti ‘ego’ nya untuk mempertegas ‘aku’ yang sesungguhnya tidak ada.

Untuk masalah yang satu ini, aku tidak asal bicara, karena selama 29 tahun hidupku di dunia ini, hal itulah yang selalu aku kejar. Menyedihkan, tetapi untungnya aku memilki kesempatan untuk menyadarinya, menyadari kalau aku telah salah. Menyadari kalau selama ini hidupku sungguh menyedihkan karena berusaha membuat sesuatu menjadi nyata, sesuatu yang sesungguhnya hanyalah ilusi belaka. Menuliskan hal ini sebenarnya sama dengan memperlihatkan kebodohan yang pernah aku lakukan. Menuliskan ini seperti melihat kembali luka yang pernah aku alami. Tetapi kalau aku bisa belajar dari kesalahan dan rasa sakit ini, demikian pula harapanku bahwa ini juga bisa menjadi pelajaran buat orang lain.

Sebagai anak perempuan yang lahir di tengah keluarga yang masih menjunjung tinggi garis keturunan, aku ini bukan apa-apa. Ditambah lagi dengan seorang ayah yang kaku dan bukan orang yang mudah mengekspresikan rasa sayangnya, membuat aku bermain dengan persepsiku sendiri. Kupikir aku harus ‘melakukan sesuatu’ supaya aku ‘dilihat’, supaya orang lain tahu kalau aku ‘ada’ dan tentunya supaya aku ‘disayang’. Untuk itulah segala cara kulakukan, aku harus bisa segalanya, aku harus bisa menjadi anak yang baik, yang manis, penurut, pintar, dan segala lainnya yang dianggap hebat dan baik untuk ukuran seorang anak di mata orang tuanya dan di mata siapa saja. Aku berusaha menyenangkan semua orang, supaya aku juga disenangi semua orang. Tanpa kusadari sekuat apapun aku berusaha selalu saja ada yang kurang… dan karena aku bukan orang yang mudah menyerah, semakin gigih pula aku berusaha memperlihatkan ‘keberadaanku’.

Lalu yang menjadi pertanyaan, bahagiakah aku dengan itu semua? Sama sekali tidak ternyata… kekecewaan demi kekecewaan seringkali harus kutelan, karena setelah apa yang kuperbuat, tetap tidak bisa membuat orang lain senang, tidak membuat orang lain jadi ‘melihat’ diriku. Menyedihkan sekali, mencoba melakukan sesuatu, agar ‘dianggap ada’, agar aku tidak merasa ‘sendiri’. Dan yang lebih parah, dengan kepergian ayahku untuk selama-lamanya dari kehidupan ini, berarti ‘pengakuan’ terbesar itu tidak akan pernah aku dapatkan. Lalu apa gunanya lagi yang kulakukan selama ini? Semua jadi terlihat sia-sia dan aku kehilangan pegangan dan tempat berpijak… Karena selama ini aku tidak berusaha berdiri di atas kakiku sendiri, karena aku selalu berusaha mendapatkan pengakuan dan kebahagiaan dari orang lain!

Bertahun-tahun menjalani hidup seperti ini membuatku menjadi begitu angkuh, karena aku terus memupuk ’ego’ dalam diriku, ’ego’ yang membuat ’aku’ menjadi ’ada’. Tapi sebaliknya juga ini membuatku menjadi minder, merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah orang banyak, karena takut ’tidak dianggap’ oleh mereka. Dan yang pasti aku merasa lelah… sangat lelah karena terus berusaha memperlihatkan keberadaanku dengan menyenangkan semua orang. Aku lelah karena kadangkala tidak bisa menjadi diriku sendiri… bahkan sampai sekarang seringkali aku masih tidak bisa mengenali diriku yang sesungguhnya…

Tetapi dalam hidup kita bisa memilih, memilih untuk terus tenggelam dalam mimpi yang hanyalah ilusi, atau berusaha untuk bangun dan menghadapi kenyataan yang sesungguhnya. Dan rasa sakit telah membuatku belajar dan akhirnya memutuskan untuk bangun dari mimpi burukku selama ini. Aku membuka hatiku, mencoba melihat hidup ini dari sudut pandang yang berbeda. Mencoba merubah diriku, menemukan kebahagiaan dari dalam diriku, bukan dari orang lain atau dari apapun juga. Kusadari ini telah membuatku merasa bebas dan berbahagia.

Seringkali dalam hidup ini, dengan segala permasalah yang dimiliki masing-masing orang, kita jadi merasa hidup ini begitu berat, merasa kita seorang diri, kesepian dan tidak berarti. Masing-masing orang punya caranya sendiri untuk ’lari’ dari masalah tanpa berusaha menghadapinya. Seseorang yang tampaknya baik-baik saja belum tentu begitu adanya, sebaliknya yang terlihat bermasalah bisa jadi sebenarnya baik-baik saja. Banyak orang memakai ’topeng’ untuk menutupi ’diri’ yang sebenarnya. Permasalahan terbesar dalam hidup ini sebenarnya apa sih? Apa yang membuat orang jadi merasa kesepian? Butuh pengakuan? Permasalahannya semua bersumber dari ’ego’ dalam diri kita masing-masing. Karena ’ego’ membuat kita ingin dianggap ’ada’.

Berusaha mencari pengakuan diri dari orang lain, saat kita tidak mendapatkannya hanya membuat diri kita kecewa dan ini tidak akan berhasil. Walau bagaimanapun jika ingin berbuat baik untuk orang lain, seharusnya dilakukan dengan tulus, tanpa berharap balasan apapun, terlebih balasan yang berupa sebuah ’pengakuan’ atas diri kita.

Untuk teman-temanku yang seringkali merasa kesepian, dan mencoba ’lari’ dengan caranya masing-masing, memakai ’topeng’ yang bermacam-macam rupa, secara keras kukatakan ’BANGUNLAH’! Jangan terlelap dalam ’ilusi’ yang menyeretmu pada penderitaan! Temukanlah kebahagiaan dalam dirimu, oleh dirimu sendiri! Kalau orang bisa mengatakan object itu netral, mengapa harus merasa ’sendiri’? Mengapa harus merasa ’kesepian’? Bukankah itu timbul karena sebuah ’persepsi’ atas sebuah ’kondisi’? Dan dengan demikian kamu tidak lagi memandang object itu netral! Aku bukan orang yang bisa bermulut manis, maka kukatakan dengan jelas dan keras sekali lagi, kita tidaklah butuh pengakuan atas keberadaan kita! Karena sesungguhnya eksistensi hanyalah sebuah ilusi! Hadapilah kenyataan yang ada, dan suatu saat nanti kamu akan menyadari bahwa tidak ada ’diri’ ini sesungguhnya…

 

Jakarta, 2 September 2009
~Jen~

PILIHAN

j0385316“Hidup ini menurut loe apa sih?” Beberapa waktu yang lalu seorang teman menuliskan ini di status Facebook-nya. Komentar jawabannya ternyata cukup beragam, ada yang bilang hidup ini perjuangan, ada juga yang mengatakan hidup adalah proses, ada lagi yang bilang hidup ya seperti ini, dan teman saya yang bertanya ini sendiri menjawab kalau hidup adalah saat kita tidak lupa bernafas. Hm… tidak ada yang salah atau benar menurut saya, tergantung dari sudut apa kita memandang hidup itu.

Kalau saya sendiri lebih suka mengatakan bahwa hidup adalah pilihan. Segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini adalah pilihan, termasuk tidak melakukan apapun itu juga sudah merupakan sebuah pilihan. Mengapa bagi saya hidup ini adalah pilihan? Karena hari esok dari hidup yang kita jalani ini semuanya tergantung dari pilihan yang kita ambil di dalam hidup kita pada hari yang telah lalu maupun hari ini.

Secara sederhana pilihan itu hanya ada dua, ya dan tidak. Tetapi toh ternyata hidup tidak sesederhana itu, hidup ini bukan hanya hitam atau putih, hidup ini penuh warna. Oleh karena itu seringkali kita jadi dihadapkan oleh begitu banyak pilihan. Menentukan satu di antara dua pilihan bukan hal yang mudah, karena masing-masing ada konsekuensinya, apalagi bila harus menentukan satu di antara sekian banyak pilihan, ini yang membuat kita jadi merasa hidup itu begitu rumit. Semua perbedaan, semua pilihan dalam hidup adalah indah, asalkan kita dapat menempatkan diri kita secara tepat sehingga kita berada pada posisi yang bisa melihat semua keindahan itu. Dan yang menjadi masalah sekarang adalah, bagaimana satu pilihan yang sudah kita ambil bisa membawa kita pada pilihan-pilihan lain yang tidak menyulitkan kita, pilihan yang bisa membawa kita pada jalan yang berakhir pada kebahagiaan?

Salah satu cerita Jataka berkisah tentang seekor kambing yang akan disembelih oleh seorang pendeta untuk dijadikan persembahan. Saat itu si kambing yang merupakan salah satu kelahiran dari Bodhisatwa mengetahui bahwa kali ini adalah genap 500 kali kepalanya akan dipenggal sebagai akibat dari perbuatannya pada kelahiran terdahulunya yang telah memenggal kepala kambing. Dengan genap 500 kali mengalami kelahiran dan dipenggal kepalanya, maka lunaslah ’hutang’nya dan hal ini membuat si kambing tertawa. Tetapi sesaat kemudian si kambing menyadari bahwa si pendeta sebentar lagi akan mengalami hal yang sama seperti yang dialaminya, yaitu mengalami 500 kali kelahiran dengan berakhir mengenaskan, dipenggal, sebagai akibat perbuatannya memenggal kepala si kambing, dan ini lalu membuatnya menangis. Bingung melihat si kambing yang semula tertawa kemudian menangis, bertanyalah pendeta tersebut kepada si kambing mengenai tingkah lakunya yang kemudian dijelaskan oleh si kambing mengapa ia tertawa kemudian menangis. Setelah mendengar penjelasan dari si kambing, akhirnya si pendeta memutuskan untuk tidak jadi memengal kepala si kambing, sebaliknya ia selalu bersama si kambing untuk memberikan perlindungan supaya si kambing tidak mati dipenggal. Tetapi suatu hari saat mereka melewati sebuah pohon, sebuah kilat menyambar pohon dan membuat sebuah dahan patah menghantam kepala si kambing hingga putus.

Cerita ini membuat saya belajar beberapa hal, yang pertama adalah bahwa apa yang terjadi pada diri kita saat ini adalah kita sendiri yang telah membuatnya. Si kambing harus menerima akibat dari perbuatannya sendiri di masa lalu. Yang kedua, seperti halnya hidup kita saat ini yang ditentukan oleh perbuatan kita di masa lalu, demikian juga masa depan kita ditentukan oleh kita sendiri. Pendeta telah menentukan masa depannya untuk tidak terlahir sebagai kambing yang mati dipenggal dengan mengurungkan niatnya untuk memenggal kepala si kambing. Yang ketiga, hidup ini adalah pilihan yang seringkali tidak kita sadari. Pendeta cukup beruntung karena diberitahu oleh si kambing bahwa ia tengah dihadapkan pada sebuah pilihan, sebuah pilihan yang akan menentukan masa depannya. Bisa saja pilihan yang diambil oleh pendeta adalah tetap memenggal kepala kambing dan pada akhirnya ia akan mengalami kelahiran yang mengenaskan. Yah, sekalipun sudah mengetahui konsekuensi dari sebuah pilihan, semua itu kembali lagi pada orang itu sendiri untuk menentukan pilihan apa yang akan diambilnya.

Begitu pula dalam hidup kita saat ini, kita selalu dihadapkan dengan banyak pilihan, dan seharusnya kita bisa menyadari hal itu. Pilihan-pilihan yang ada di hadapan kita itu masing-masing memiliki akibatnya sendiri. Dan untuk itulah kita harus bijaksana dalam menentukan mana yang akan kita pilih. Sebuah pilihan menentukan masa depan kita, menjadi baik ataukah buruk, itu ada di tangan kita sendiri. Tidak ada orang lain yang bisa membuat kita menjadi baik atau buruk, kita sendirilah yang membuatnya. Orang lain mungkin menjadi ’penolong’ yang bisa mengingatkan kita, agar kita memilih yang tepat, sehingga kita memperoleh hasil yang baik dan membahagiakan. Tetapi sebaliknya, orang lain juga bisa menjadi ’pengacau’ yang justru menjerumuskan kita sehingga mengambil pilihan yang berakibat pada penderitaan. Tetapi semua itu kembali berpulang pada diri kita sendiri si penentu.

Hidup ini adalah pilihan, dan pilihan terbesar yang secara nyata dihadapi oleh semua manusia adalah apakah mau terbebas dari samsara atau tidak. Guru Buddha dengan jelas sudah menunjukkan pada kita tentang empat kesunyataan mulia: bahwa hidup ini adalah ketidakpuasan (dukkha), bahwa ketidakpuasan(dukkha) ini ada sebabnya, bahwa ketidakpuasan (dukkha) ini bisa diakhiri, dan cara untuk mengakhiri ketidakpuasan (dukkha) ini adalah dengan jalan mulia berfaktor delapan. Sekarang semua kembali ke diri kita masing-masing, akankah kita mengambil pilihan yang sudah ditunjukkan oleh Guru Buddha? Semoga kita semua cukup bijaksana di dalam menentukan pilihan kita untuk kebahagiaan diri kita sendiri…

Jakarta, 24 Agustus 2009

~Jen~