Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Contemplation’ Category

Belajar ‘Melepas’

Sekali lagi rasanya topik mengenai uang ataupun materi jadi hal yang selalu mengusikku. Aku tidak tau seberapa butuhnya manusia akan uang ataupun materi lainnya termasuk pangkat dan kedudukan. Tapi kadangkala hal-hal ini jadi sesuatu yang menimbulkan keburukan.

Apa aku tidak butuh uang ataupun materi? Jelas aku butuh, sebagai manusia sama seperti yang lainnya banyak hal-hal yang aku butuhkan dan memerlukan uang. Tapi apakah lantas aku jadi mengejarnya dan menjadikannya ukuran dalam pencapaianku? Terus terang kukatakan aku belajar untuk tidak! Kenapa? Aku sudah melihat dan cukup merasakan bagaimana uang dan materi bagaikan candu yang membuatmu ketagihan dan melemahkan kesadaranmu.

Aku tak tau apakah ini ada hubungannya juga dengan idealismeku atau kekeraskepalaanku. Tapi aku belajar untuk tidak terikat dengan uang ataupun materi. Dan baru kusadari saat aku ‘melepas’ aku justru mendapatkannya…. Saat aku tidak mengejarnya, justru mereka datang kepadaku dengan sendirinya. Aku percaya apa yang disebut dengan karma tentunya. Saat kamu banyak memberi kamu akan banyak mendapatkan, walaupun tidak mentah-mentah kamu memperolehnya ataupun secara langsung terjadi. Tapi semua itu berbuah pada waktunya, pada saat-saat yang tepat….

Aku ingin menyampaikan hal ini pada teman-temanku, tapi aku tak tahu apakah penyampaianku yang salah tapi sepertinya aku bisa dipandang sebagai sosok yang idealis dan sombong ya… tidak butuh uang dan materi, mungkin dalam hati mereka berkata ‘kalau gitu sini saja buat saya, karena saya lebih butuh’, mungkin kata-kata itu yang ada di benak kalian. Tapi mungkin kembali harus kutegaskan aku bukannya tidak butuh uang ataupun materi, tapi aku belajar untuk tidak terikat dan tidak mengejarnya. Karena pada akhirnya aku menyadari bahwa seperti hal nya cinta, kedudukan dan materi, bila terlalu erat ‘digenggam’ akan ‘lari’ dan menjauh darimu….

Tapi sewaktu kau dengan berlapang dada menerima segala kondisi yang ada, tanpa keserakahan, tanpa hawa nafsu, mereka akan datang padamu dengan sendirinya….

Karena itulah teman… aku selalu belajar untuk ‘melepas’…

Read Full Post »

Teguran Semut

Semalam ada hal yang menurutku cukup aneh. Seperti biasa mendekati deadline pengumpulan bahan buku, aku selalu lembur mengerjakannya sampai lewat jam 1 pagi. Setelah menyelesaikan tulisanku dan mengirimkannya melalui email, aku beranjak pergi tidur. Seperti malam-malam biasanya, sebelum tidur aku menyempatkan diri ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku menemukan hal yang menurutku cukup aneh. Aku melihat begitu banyak barisan semut kecil keluar dari sela-sela dinding yang terbuka. Semutnya kecil-kecil sekali dan jumlahnya sangatlah banyak.

Sesaat aku tertegun, tidak ada sisa makanan atau apapun di dalam kamar mandi yang notabene baru saja kubersihkan pada pagi harinya. Dan selama ini memang tidak pernah ada seekor semut pun yang pernah terlihat di kamar mandi itu. Aku terpaku, dalam hati timbul pertanyaan, apa yang harus kulakukan? Terus terang aku geli sekali melihat begitu banyaknya barisan semut itu, tapi haruskah aku membunuh mereka semua?

Ada bisikan dalam hati kecilku, “mereka tidak bersalah dan mereka juga ingin hidup”. Bisikan kecil ini membuatku memutuskan untuk membiarkan semut-semut itu tanpa menggubrisnya sama sekali, walaupun sempat terlintas dalam pikiranku untuk menyemprotkan obat nyamuk untuk menyingkirkan barisan hewan kecil itu. Pada akhirnya aku tidak melakuan apapun terhadap mereka. Aku melihat di dalam bak mandi terdapat beberapa ekor semut yang mungkin secara tidak sengaja terjatuh ke dalamnya. Aku masih sempat mengambil beberapa gayung air sambil mengeluarkan hewan-hewan kecil itu dari dalam bak, sebelum akhirnya beranjak tidur.

Saat akan beranjak tidur, tiba-tiba pikiran itu muncul, pikiran yang membawaku pada satu kesadaran lagi. Ternyata memang mudah bicara tapi sulit untuk melaksanakannya. Aku dan juga teman-teman lainnya yang tergabung dalam team penyusun buku, mungkin saja dengan mudah menulis sesuatu yang mengajarkan orang untuk tidak berbuat ini dan berbuat itu. Jangan berbuat demikian karena ini salah, jangan berbuat begitu karena itu menyakiti makhluk lain. Berbuatlah seperti ini karena ini baik, berbuatlah seperti itu karena itu membawa kebaikan bagi makhluk lain. Tapi di antara kami semua, apakah kami sendiri sudah menjalankan apa yang kami tulis? Ketika kami menyampaikan semua itu, apakah kami sendiri sudah patut dan pantas untuk menjadi panutan mereka?

Menyadari hal ini, kadangkala aku merasa malu, malu pada diriku sendiri, malu pada orang-orang yang mungkin membaca apa yang aku tulis. Ternyata memang mudah untuk sekedar menulis atau berbicara, menyuruh orang untuk ini dan itu. Tapi apakah kita sendiri sudah melaksanakannya? Apakah kita sudah cukup suci untuk melarang dan mengajarkan orang lain untuk melakukan ini dan itu?

Aku bersyukur, karena semalam aku memutuskan untuk membiarkan semut-semut itu seperti apa adanya, setidaknya aku telah mencoba melakukan sesuatu yang baik, yang juga sudah kusarankan untuk dilakukan oleh orang lain.

Semua tidak berhenti di sini, saat tadi pagi aku hendak mandi, aku kembali dibuat tertegun. Tidak ada lagi semut-semut itu, bahkan seekor pun tak meninggalkan bekas sama sekali. Otakku mulai berputar, mungkinkah mereka sudah disingkirkan oleh kakakku yang terlebih dahulu masuk ke kamar mandi? Tapi sekalipun mereka disingkirkan oleh kakakku, dengan apapun itu, aku yakin pasti akan meninggalkan bekas, setidaknya beberapa ekor yang mungkin terjatuh ke dalam bak. Tetapi apa yang kulihat, kamar mandi itu bersih, tak tampak bekas sedikitpun yang memperlihatkan tanda-tanda sudah adanya pembantaian semut-semut.

Aku jadi merasa semalam aku sedang diuji ataupun ditegur dan diingatkan kembali, bahwa yang terpenting bukan hanya bisa mengajarkan orang untuk melakukan kebaikan ataupun menghindari kejahatan. Tetapi lebih dari itu aku sendiri harus bisa melaksanakannya, menjadi panutan dalam melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan.

Sejujurnya aku sendiri masih ragu, apakah benar semut-semut itu pada akhirnya selamat, ataukah mereka berakhir mengenaskan. Tapi terlepas dari semua itu aku hanya berharap semoga mereka berbahagia….

Read Full Post »

Dua hari yang lalu, saat sedang berada di mobil jemputan yang mengantarku ke kantor, tiba-tiba saja pencerahan itu muncul. Selama ini aku selalu berpikir untuk belajar melepaskan diri dari ‘keterikatan’, keterikatan yang ternyata baru kusadari hanya sebatas terhadap materi.

Sesaat itu aku merasa ada teguran di dalam hatiku yang mengatakan betapa terikatnya aku. Ya aku ternyata begitu terikat pada perasaanku pada dirinya. Bagiku mungkin mudah untuk tidak terikat pada materi, tapi tidak terhadap ‘perasaan’. Aku baru menyadari betapa hampir 10 tahun ini aku begitu terikat terhadap perasaanku kepadanya.

Ternyata batas ‘kesetiaan’ dan ‘keterikatan’ begitu tipis… sampai-sampai tidak bisa kita sadari. Dengan tameng ‘kesetiaan’ aku terus ‘terikat’ dengan dirinya….

Aku ingin belajar ‘melepaskan’, tidak hanya pada materi semata, tapi justru yang terberat bagiku adalah ‘melepaskan’ dirimu….

Dengan begini harus kukatakan padamu, seseorang yang hampir 10 tahun ini selalu ‘bersamaku’ di dalam ‘pikiran’ ku…. mulai saat ini aku akan ‘melepaskanmu’ semoga dengan ‘melepasmu’ aku bisa membuka lembaran baru dan melanjutkan hidupku sehingga pada akhirnya aku bisa benar-benar menemukan titik ‘keseimbangan’ ku.

Kalau memang masih ada ikatan karma di antara kita, suatu saat akan ada pertemuan itu, dan aku bisa tersenyum sambil berkata, ‘hello, my friend….’

“Seek no intimacy with the beloved and also not with the unloved, for not to see the beloved and to see the unloved, both are painful. Therefore hold nothing dear, for separation from the dear is painful. There are no bonds for those who have nothing beloved or unloved.” (Dhammapada 210 – 211)

Read Full Post »

Kepuasan

Lega rasanya setelah hampir seminggu sibuk berkutat dengan presentasi yang membuat stress akhirnya semua selesai hari ini.

Hari ini aku menyadari satu hal lagi, hal yang seringkali disadari dan tidak disadari oleh orang banyak. Manusia seringkali diperbudak oleh materi, ukuran kepuasan seseorang seringkali diukur dengan besarnya materi yang bisa diperoleh. Uang tepatnya, apakah sebegitu hebatnya? Ini bukan masalah pembenaran karena aku tidak memenangkan kompetisi berhadiah uang itu, tapi lebih dari itu sebenarnya apalah artinya menang dan kalah, aku tidak pernah perduli. Bagiku waktu kata pujian ‘it’s very good’ itu terlontar dari mulut orang nomor satu dan itu ditujukan kepadaku, itu lebih dari segalanya.

Dari dulu uang bukanlah ukuran kebahagiaanku, tak kupungkiri, ya aku memang butuh uang tapi aku tidak pernah mau diperbudak oleh uang. Bekerja bagiku bukan semata untuk mencari uang ataupun materi. Kadangkala aku merasa sudah cukup apabila bisa menikmati apa yang aku kerjakan, bahkan kadangkala hanya dengan sedikit kata penghargaan dari atasan ataupun rekan kerjaku. Ya hanya itu saja. Tapi aku menyadari ukuran kepuasan masing-masing orang berbeda. Entahlah kadangkala hal ini membuatku merasa menjadi orang yang sangat idealis.

Tapi aku ingat sekali, saat akan resign dari perusahaan tempatku bekerja sebelum ini, dimana aku kerap berhubungan dengan customerku: salah satu badan PBB, sedikit kata-kata perpisahan yang diucapkan mereka, yang mungkin hanya sekedar basa-basi, tapi bagiku itu adalah penghargaan setinggi-tingginya. Dan itu yang membuatku merasa berat harus berpisah dengan mereka. Lucunya, dulu aku merasa mereka sangat menyebalkan sekali. Rasanya kesal harus melepaskan impianku menjadi seorang marketer dan harus berurusan dengan mereka kumpulan orang menyebalkan yang sangat demanding. Tapi kenyataannya pada akhirnya justru mereka yang membuatku berat meninggalkan perusahaan itu. Dengan segala masalah yang sudah kualami bersama mereka, yang akhirnya membuat kami saling mengerti satu sama lain dan aku merasakan mereka jauh lebih menghargaiku dibandingkan perusahaan yang menggajiku, rasanya berat untuk berpisah dengan orang-orang itu….

Kembali ke masalah ‘kepuasan’, memang sulit mengukur tingkat kepuasan seseorang dan rasanya ini jadi berhubungan dengan yang namanya ‘keterikatan’…. Untuk itulah aku belajar untuk ‘melepaskan’ dan perlahan-lahan mencari titik ‘keseimbangan’ ku sendiri agar bisa merasa ‘puas’ dan bersyukur atas apa yang aku dapatkan hari ini….

Read Full Post »

BADUT

Aku berjalan menuju toilet di ujung lorong ini. Di sepanjang lorong kulihat banyak orang duduk-duduk beristirahat melepas lelah, beberapa tampak sedang menikmati makan siang. Sebagian besar dari mereka adalah para SPG dan penjaga stand, beberapa lagi adalah para penghibur anak-anak.

Di sudut kulihat seraut wajah yang tampak lelah dengan kostum boneka yang tampak membebani tubuhnya. Di sampingnya tampak kepala boneka besar berbentuk singa yang sedang tersenyum. Sesaat terlintas di dalam benakku, Badut-badut itu, di balik topeng yang selalu tersenyum, adakah di dalam hati mereka juga tersenyum? Saat mereka harus berusaha menghibur dan membuat anak-anak tertawa riang… adakah wajah di balik itu juga tertawa riang?

Saat melihat wajah-wajah lelah itu apakah mereka memang menikmati peran mereka? Beberapa mungkin ya, beberapa lagi mungkin karena alasan yang hanya mereka sendiri yang tau…

Manusia… seperti badut-badut itu juga… kadangkala kita harus memerankan sesuatu yang tidak kita inginkan karena satu dan lain hal itu harus kita lakukan… demi membuat orang lain tersenyum…

Read Full Post »

Kesadaran

Berapa hari ini moodku sedang tidak baik. Dari masalah perlakuan tidak adil yang aku terima di kantor, atasan yang tidak bisa diajak bicara, teman yang berprasangka buruk hingga masalah keluarga yang membuat kepalaku terasa mau pecah.

Aku kecewa karena seorang teman telah menilaiku dengan rendah. Aku sama sekali tidak menyangka dia yang kuanggap orang baik bisa berprasangka buruk kepadaku. Aku tidak habis pikir, tapi rasanya susah sekali untuk mengingat kesalahan apa yang pernah kuperbuat sampai-sampai aku dituduh hanya mau berteman dengan orang yang membawa keuntungan. Oh my…. apakah aku seburuk dan serendah itu?

Aku sadar kadangkala orang hanya melihat sesuatu dari luarnya… dan aku sadar dari luar aku bagaikan benteng pertahanan yang kokoh dan tidak gentar menghadapi serangan….
Tapi aku yang paling tau isi hatiku….
Aku tak pernah mau orang tau isi hatiku, aku tak pernah ingin orang merasa kasihan kepadaku… aku ingin orang hanya mengenal aku yang ceria, kuat dan selalu tegar….
Aku kecewa… ya sangat kecewa….
Aku sedih… ya sangat sedih….
Tapi aku berusaha menerimanya dengan berbesar hati….

Aku paling tidak suka ketidakadilan apalagi aku yang jadi korbannya, tapi mau tak mau aku harus mengalaminya dan atasanku yang hanya bisa diam tak berkata-kata….
Aku kecewa… ya sangat kecewa….
Aku sedih… ya sangat sedih….
Tapi sekali lagi aku berusaha menerimanya dengan berbesar hati….

Aku punya impian, bisa berkumpul dalam satu keluarga yang lengkap dan bahagia dalam rumah yang kami miliki sendiri….
Tapi aku tau itu tak mungkin bisa terwujud…. karena ‘waktu’ yang kuminta tak pernah diberikan kepadaku…. dan aku harus menerima kenyataan bahwa waktu Papi untuk berkumpul bersama kami di dunia ini sudah habis….
Masih ada harapan dalam hatiku walaupun tanpa Papi, kami sekeluarga bisa berkumpul dan merasakan kebahagiaan, tapi ternyata hidup tak semudah apa yang diharapkan…. aku harus ‘kehilangan’ adikku….
Harusnya aku bahagia karena dia sudah memilih jalannya sendiri, jalan yang menurutnya terbaik untuk dirinya, dan mudah-mudahan memang begitu adanya…. tapi entah mengapa aku merasa gagal…. gagal mewujudkan impianku dan bahkan aku merasa gagal mewujudkan harapan Papi….
Aku kecewa… ya sangat kecewa….
Aku sedih… ya sangat sedih….
Tapi masih bisakah aku menerimanya dengan berbesar hati?

Semua permasalahan ini membuatku diam,
aku sudah lelah untuk membantah,
aku lelah untuk membela diri,
aku lelah untuk membujuk….

Sampai teguran itu menyadarkanku….
“Jen, memang benar apa yang sang Buddha katakan… hidup ini adalah penderitaan karena itu terimalah….”

Aku tau…aku tau dan sadar itu… tapi kemana aku selama ini?
Kalau boleh meminjam istilah… aku bersyukur Tuhan mengirim Malaikat untuk menyadarkanku….

Terima kasih…. terima kasih atas kesadaran yang datang padaku, yang menyadarkanku untuk menerima buah karmaku….
Kesadaran yang mengingatkanku untuk tetap berjuang….
Berjuang untuk ‘melepaskan’….
Semoga aku tidak lagi menyia-nyiakan waktuku….

Read Full Post »

« Newer Posts