Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Contemplation’ Category

Hari Sabtu kemarin aku menghadiri satu acara seminar dengan salah satu pembicaranya adalah YM.Bhante Uttamo. Seminar ini mengambil tema ‘Sukses Meraih Impian dengan Buddhisme di Tahun 2009’. Bhante menyampaikan bahwa untuk bisa sukses meraih impian, terlebih dahulu kita harus tau apa yang menjadi impian kita. Untuk itu kita perlu mengetahui kecenderungan bakat atau kemampuan apa yang kita miliki. Pada sesi tanya jawab, seorang peserta menanyakan kepada Bhante, bagaimana Pangeran Siddharta yang memiliki kecenderungan bergelimang harta, pangkat dan kedudukan bisa memilih menjadi seorang pertapa dan berhasil menjadi seorang Buddha. Saat itu Bhante menjawab bahwa kecenderungan Pangeran Siddharta tidak hanya pada harta dan kedudukkannya, tetapi ia sudah diramalkan akan menjadi seorang raja yang terkenal atau menjadi seorang pertapa yang hebat. Bahkan di usia yang belia Pengeran Siddharta sudah mencapai tingkat kesucian Sotapana, dan hal ini menunjukkan bakatnya. Jadi memang ada dua kecenderungan yang pada akhirnya salah satu telah dipilih oleh Pangeran Siddharta, yaitu menjadi seorang pertapa yang kemudian menjadi Buddha. Pada akhirnya semua itu balik lagi kepada ‘pilihan’ karena apa yang terjadi dalam hidup kita ini adalah sebuah ‘pilihan’.

Setelah mendengar penjelasan itu, aku mulai berpikir, dalam hidup ini kita memang seringkali dihadapkan tidak hanya dengan satu pilihan, kadangkala lebih dari dua pilihan yang harus kita hadapi. Kita mungkin saja memiliki banyak kemampuan dan juga cita-cita, tapi kita biasanya harus menentukan satu pilihan yang akan benar-benar kita jalani, supaya pilihan yang merupakan impian kita itu bisa terwujud. Jika kita terlalu serakah ingin semua impian itu terwujud, kita biasanya justru tidak bisa mewujudkan bahkan satu saja diantaranya, karena kita sulit untuk berupaya secara maksimal pada semua impian itu sekaligus. Belum lagi apabila dari impian-impian itu ada yang saling bertentangan. Bayangkan bagaimana kehidupan seorang raja yang bergelimang harta dan kekuasaan dibandingkan dengan kehidupan seorang pertapa? Bisa dipastikan kita tidak akan bisa meraih keduanya sekaligus. Karena itulah pangeran Siddharta telah memilih satu dan pergi meninggalkan yang lainnya.

Dibutuhkan keberanian yang besar untuk memilih, saat kita dihadapkan pada pilihan yang bertolak belakang, dimana saat kita memilih yang satu berarti kita meninggalkan yang lainnya. Saat menetapkan pilihan mungkin banyak pertimbangannya, yang kadangkala juga mendatangkan rasa cemas, takut dan rasa bersalah. Tapi saat tekad sudah dibulatkan, dengan dilandasi tujuan yang baik untuk kebahagiaan banyak orang, keberanian itu pastilah datang dengan sendirinya.

Kemarin juga aku melihat bagaimana teman-temanku yang telah memilih jalan hidup mereka sebagai perumahtangga. Aku melihat satu fase kehidupan sudah mereka lalui dan mereka sudah memasuki fase yang lainnya. Aku bisa menyaksikan bagaimana mereka bermetamorfosis menjadi bentuk yang lebih sempurna dengan bertambahnya usia dan kematangan. Dari seorang gadis biasa menjadi seorang istri lalu seorang ibu. Tapi yang mengherankan aku tidak bisa melihat keindahan di dalamnya. Aku dapat merasakan cinta yang mereka miliki, tapi kenapa saat yang bersamaan aku juga merasakan adanya masalah dan penderitaan? Entahlah, justru bukan keinginan untuk menjadi seperti mereka yang timbul di hatiku, tetapi justru dorongan yang mengatakan bahwa menjadi seperti itu adalah halangan untuk bisa mewujudkan keinginanku?

Memasuki tahun ini, dengan berbagai peristiwa yang kualami, juga karena mengetahui kenyataan bahwa aku pernah menjadi seorang bhikkuni di kehidupan yang lalu, sedikit demi sedikit keinginan itu timbul. Sayangnya keberanianku masih belum cukup, aku masih butuh sedikit saja waktu lagi untuk bisa sampai pada keputusan itu. Seperti yang Bhante Uttamo katakan, masih dalam seminar yang sama, menjawab pertanyaan bagaimana caranya agar kita bisa berani, aku masih harus mengumpulkan informasi. Informasi yang cukup sehingga aku bisa memahami dan bisa menyingkirkan rasa takut yang menjadi belenggu. Agar aku menjadi berani untuk memilih jalanku sendiri, seperti yang dilakukan oleh Pangeran Siddharta….

Read Full Post »

Belajar

42-17020128

Belajar buat sebagian orang merupakan hal yang mudah, tapi mungkin bagi sebagian besar lainnya adalah hal yang sulit. Ada orang-orang yang sangat suka sekali belajar, tapi sebagian ada yang malas, dan beberapa lainnya mungkin tergantung pada apa yang harus dipelajari. Aku termasuk orang  yang suka belajar, tapi aku bukan seorang kutu buku, aku suka belajar apapun dari pengalaman hidupku sehari-hari.

 

Sewaktu aku naik taxi aku belajar jalan-jalan pintas  yang dilalui oleh supir taxi sehingga di lain waktu saat aku bepergian sendiri ataupun masih dengan taxi, aku sudah tau jalan-jalan itu yang mungkin bisa menghindari kemacetan. Sewaktu aku kecil, aku belajar cara berdagang dari papi, bukan dengan pengajaran langsung, tapi dengan memperhatikan bagaimana papi berdagang di toko. Begitu pula saat aku bekerja, aku belajar untuk mencintai pekerjaanku dan menekuninya…

 

Dari semua yang aku pelajari, buatku belajar dari suatu kesalahan ataupun kegagalan adalah yang paling penting. Tidak bisa kupungkiri, kadangkala aku berpikir seharusnya aku bisa menghindari kesalahan ataupun kegagalan itu, tapi aku tidak pernah menyesal, aku bersyukur justru dengan kesalahan/kegagalan itu aku bisa belajar dan menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Aku pernah melakukan kesalahan dan  mengalami kegagalan tentunya, dan aku menyesalinya, lalu aku belajar untuk tidak mengulanginya lagi.

 

Tapi belajar dari kesalahan ataupun kegagalan tidaklah mudah, dan ternyata juga tidak semua orang bisa cepat belajar ataupun bahkan mau sedikit saja belajar. Untuk bisa belajar dari kesalahan/kegagalan, kita harus lebih dahulu bisa menerima kesalahan/kegagalan itu dengan mengakuinya.  Selain mengakui kita juga harus menyingkirkan perasaan bersalah dan menyesal. Kita perlu menyesal tapi bukan berlarut-larut. Point nya adalah ”what’s next?”

 

Belakangan ini aku baru menyadari, ternyata tidak semua orang dengan mudah bisa belajar dari kesalahan atau kegagalannya. Sebagian dikarenakan kesombongan diri, merasa ”nothings wrong with me”, sebagian lagi mungkin karena ’kebodohan batin’: tidak bisa melihat sesuatu secara bijaksana. Kadangkala kita harus melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda. Aku seringkali melakukan hal ini, bukan untuk menjadi beda dengan pendapat orang kebanyakan, tapi lebih kepada melihat secara adil, memposisikan diri kita pada situasi itu, karena kadangkala berbicara itu mudah, tapi untuk melaksanakan ataupun mengalaminya sendiri, itu yang sulit.

 

Biar bagaimanapun kita tidak pernah bisa memaksa seseorang untuk belajar. Proses belajar akan maksimal bila datangnya dari dalam diri masing-masing orang. Orang lain hanya bisa membantu untuk mengarahkan, mendukung, tapi tetap yang terpenting adalah si pelaku utama, yaitu orang itu sendiri.

Untuk itulah aku harus mengingatkan diriku lagi, bahwa kita tidak pernah bisa memaksa orang lain untuk belajar, karena tidak semua orang bisa belajar, bahkan  sekalipun dengan pengalaman pahit yang mendatangkan penyesalan seumur hidup. Di sini aku hanya ingin menyampaikan pada semua, jangan pernah malas belajar, terutama dari kesalahan atau kegagalanmu, karena yang terpenting bukanlah suatu keberhasilan tapi bagaimana kamu bisa bangkit dari kegagalan dan memperbaiki kesalahan serta menemukan kebenaran.  

Read Full Post »

Di tahun 2009 ini aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian karena beberapa alasan. Yang pasti bukan karena ikut-ikutan trend ataupun juga karena aku sangat perduli atas himbauan untuk menjadi vegetarian dengan alasan untuk menyelamatkan bumi. Bukan, bukan karena hal itu. Aku pernah menjadi vegetarian selama 1 tahun lebih, dan itu sudah 10 tahun yang lalu. Ya, dengan berbagai alasan pembenaran diri dan kebulatan tekad yang kurang kuat, akhirnya aku berhenti jadi seorang vegetarian.

Aku punya alasan mengapa aku memutuskan untuk menjadi vegetarian (lagi). Lebih dari 14 tahun yang lalu aku pernah mengucap ikrar untuk menjadi seorang vegetarian. Ikrar seorang anak kecil yang lahir dari rasa kekecewaan dan putus asa, yang akhirnya tidak pernah bisa dilaksanakan. Walau sudah lama berlalu, ikrar itu tetap selalu bisa kuingat dengan jelas, seolah hutang yang harus kubayar.

Tetapi diluar rasa tanggung jawab untuk membayar hutang, keputusanku untuk menjadi seorang vegetarian adalah lebih kepada karena aku ingin belajar untuk mengembangkan cinta kasih yang universal, cinta kasih yang tidak hanya terbatas kepada manusia tetapi juga kepada hewan dan makhluk lainnya.

Memang tidak ada keharusan untuk menjadi seorang vegetarian dalam Buddhisme, tetapi bila niat untuk menjalankannya adalah untuk pengendalian diri dan mengembangkan cinta kasih, menjadi vegetarian baik untuk dilakukan.

Untuk itulah, melengkapi ikrar yang pernah terucap serta untuk berlatih mengembangkan cinta kasih, aku memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian (lagi).

Read Full Post »

Sampai kemarin siang aku masih berpikir kata-kata papi mengenai dalam hidup ini yang penting kita tidak melukai orang lain dan kita berbuat baik itu sudah cukup, adalah benar. Bahkan akhir tahun 2008 pun aku masih mendengar ceramah yang menguatkan statement itu, dengan cukup menjadi baik (be good), surga sudah ada dalam genggaman kita. Kalau demikian hal nya bukankah papi seharusnya sudah terlahir di surga? Dengan penilaian yang cukup objective bahwa papi adalah seorang yang baik? Tetapi sayangnya, menjadi baik saja tidaklah cukup bahkan hanya untuk bisa terlahir sebagai manusia lagi, apalagi terlahir di surga!

Sebagai anak mengetahui papi harus terlahir di alam yang sengsara, pastilah aku bersedih. Pertanyaanku selama ini terjawab sudah, ‘bahagiakah papi?’, ternyata jawabnya TIDAK! Jawaban ini sudah sejak lama kuketahui dari mimpiku, saat aku melihat wajah sedih papi saat itu. Dan hari ini aku sangat bersyukur atas karma baik yang membuatku bisa mengetahui dengan pasti kalau papi memang sudah terlahir di alam yang menyedihkan, entah alam apa itu pastinya, mulut kecil itu tidak sampai hati menyampaikannya padaku, tetapi dengan begitu aku jadi bisa berusaha untuk menolong papi ‘melewatinya’….

Mungkin ini hanya dugaanku saja, tapi tingkat keyakinanku 90%, bahwa penyebab papi terlahir di alam sengsara adalah karena rasa tidak bisa menerima. Papi meninggal juga bukan karena sakit yang berat tapi lebih kepada sakit pikiran. Sakit pikiran yang timbul karena tidak bisa menerima keadaan yang selalu berubah, sakit pikiran karena penyesalan atas harapan yang tidak terkabulkan. Sekali lagi aku menyesal karena saat itu pemahamanku tentang dharma juga belum cukup sehingga aku tidak bisa mengajarkan kepada papi bahwa ada yang namanya ‘dukkha’ dan ‘anicca’.

Pada akhirnya dengan mengetahui hal ini juga aku jadi disadarkan, ternyata hanya dengan label ‘orang baik’ saja tidak bisa menjamin kita bisa lahir lagi menjadi manusia. Kita harus kembali pada empat kebenaran mulia yang sudah ditemukan oleh Sang Buddha:

” Hidup ini adalah penderitaan,

Adanya sebab dari penderitaan,

Adanya akhir dari penderitaan (bisa diakhiri),

Dan cara mengakhiri penderitaan dengan jalan mulia berfaktor delapan.”

That’s why, just being good is not enough!

Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat yang baik bagi orang-orang yang membacanya, dan karma baik yang kuperoleh bisa melimpah pada papi supaya bisa terbebas dari penderitaan….

Semoga sekali lagi kita bisa berjodoh sebagai ayah dan anak seperti di kehidupan sekarang dan di kehidupan yang lalu….

Read Full Post »

A New Day A New Hope

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sebentar lagi kita akan mengakhiri tahun ini dan memulai tahun yang baru. Seperti tahun yang sudah-sudah, setiap kali pergantian tahun, pastinya kita memiliki harapan yang baru. Satu tahun sudah kita lewati, banyak hal yang menyenangkan dan mungkin juga tidak menyenangkan. Banyak harapan-harapan yang belum terwujudkan, ada kegagalan yang mungkin harus kita telan, ataupun kesalahan-kesalahan yang terlanjur kita lakukan. Dan kita berharap di tahun yang baru, kita dapat memulai lagi dari awal, memperbaiki kesalahan yang sudah kita lakukan di tahun yang lalu, serta kita memiliki pengharapan baru agar segala sesuatu menjadi lebih baik.

Aku jadi teringat, kurang lebih delapan tahun yang lalu, sebagaimana layaknya mahasiswa perantauan yang hidup di ibukota, aku mencoba mencari penghasilan tambahan dengan mengajar les anak SD. Dalam satu kesempatan si anak mendapat tugas dari sekolah, menuliskan apa harapannya untuk tahun yang baru. Dalam karangannya si anak berharap agak ibunya lekas sembuh. Yah, walau tidak pernah terucapkan tapi aku menyadari bahwa si ibu pastilah mengidap suatu penyakit yang serius. Setelah pertemuan pertama, untuk jangka waktu tiga bulan lamanya aku tidak pernah melihat si ibu karena sepertinya ia pergi ke Belanda entah untuk urusan apa.  Dan ia mempercayakan pelajaran sekolah si anak sepenuhnya kepadaku yang saat itu harus 5 hari dalam seminggu, datang mengajari si anak. Dan sejak itu selama empat tahun lamanya, dari si anak kelas 6 SD hingga hampir SMU, aku selalu menemaninya belajar, sekaligus menjadi teman dan kakak.

Tapi harapan seringkali tinggal harapan, kita boleh saja menaruh harapan, tapi saat harapan itu tidak terwujud, kita juga harus bisa menerimanya. Karena tidak semua doa akan terjawab dan tidak semua pengharapan akan berbalas. Setelah berhenti mengajar empat tahun yang lalu, beberapa minggu yang lalu aku punya kesempatan untuk berbincang dengan si anak. Sudah lama sekali kami tidak ngobrol walaupun kami tetap terhubung karena keajaiban yang ditawarkan oleh teknologi bernama internet melalui friendster dan facebook. Aku bertanya kepadanya, bagaimana keadaan ibunya. Dan sangat menyesal aku harus mendengar jawaban ini: “Sorry ci2, aku tidak sempat kasih tau, mother passed away 2 tahun yang lalu….” Entah mengapa aku tidak terlalu kaget mendengarnya walaupun juga tidak menyangka akan secepat itu, karena sejak semula aku sudah yakin pastilah penyakit kanker yang diderita oleh si ibu. Setelah itu yang terlintas di dalam ingatanku adalah potongan kejadian-kejadian masa lalu, bagaimana harapan si anak atas kesehatan ibunya….

Pada akhirnya aku kembali diingatkan, bagaimana kita harus bersikap tulus, bahkan atas harapan yang kita sampaikan sendiri. Tulus, tanpa mengharapkan balasan. Agak aneh memang, bagaimana mungkin kita memiliki pengharapan atas sesuatu, tapi kita juga tidak boleh mengharap balasannya? Tapi itulah caranya ‘melepas’ agar kita bisa mengatasi ‘keterikatan’ yang seringkali mendatangkan ketidakpuasan yang berujung penderitaan.

Dalam hitungan hari, kita akan memulai tahun yang baru, harapan yang baru. Harapanku untuk tahun yang baru, dalam situasi yang mungkin serba sulit dan menjadi lebih sulit, aku hanya berharap setiap orang masih memiliki hati yang berbelas kasih dan penuh cinta, supaya tidak ada perselisihan, pertikaian dan tidak ada yang saling melukai. Agar kehidupan menjadi lebih baik….

Tahun yang baru, harapan baru yang selalu sama:
Semoga semua makhluk berbahagia….

blessloving-kindness04_1280x1024_eng2


Read Full Post »

Kematian

Kematian masih menjadi misteri bagi sebagian besar orang. Kita seringkali bertanya, apakah kematian itu? Seperti apa rasanya? Kapan ia akan datang ke hadapan kita? Kemana perginya kita setelah mati? Semua pertanyaan-pertanyaan itu seringkali hadir di hadapan kita terutama saat-saat kita melihat orang lain menghadapi kematian. Saat kita ditinggalkan oleh orang-orang di sekeliling kita, orang-orang yang kita sayangi, saat kematian datang menghampiri mereka.

 

Dengan prinsip Ehipassiko (datang dan buktikan sendiri), tidakkah kamu ingin mengalaminya sendiri baru kamu bisa mengerti dan memahami apa itu kematian? Tapi apakah mungkin? Saat kematian sudah datang menghampirimu, apakah kamu masih bisa kembali berada di dunia ini dengan kondisi  yang sama? Rasanya hampir tidak mungkin, karena itulah, kematian masih saja menjadi misteri.

 

Saat sekarang ini, dimana iechong sedang terbaring sakit, dan besok adalah genap 6 tahun meninggalnya papi, dan baru saja aku mendengar kabar bahwa salah satu distributor kantorku meninggal, padahal bulan Januari lalu, ia masih terlihat begitu sehat dan penuh semangat, pemikiran tentang kematian itu tiba-tiba saja muncul dalam benakku.

 

Perkawinan seringkali disebut sebagai permulaan hidup baru, tapi kalau kita berpikir lebih dalam, bukankah kematian yang lebih cocok disebut sebagai permulaan hidup baru? Karena dalam Buddhisme, ajaran yang aku anut, kematian bukan berarti akhir dari kehidupan, justru sebaliknya kematian adalah permulaan kehidupan yang baru. Kalau dalam perkawinan kita punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari tempat, waktu, tanggal, acara, dan lain-lainnya, agar pada hari besar itu segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik, sebaliknya kematian lebih suka memberi kita kejutan. Ia seringkali datang tiba-tiba, tanpa tanda-tanda, tanpa pemberitahuan, kapan saja dan di mana saja bisa terjadi. Cukup mendebarkan bukan? Lalu bagaimana dengan persiapan kita? Kapan kita bisa melakukan persiapan agar permulaan hidup yang baru bisa kita mulai dengan baik, seperti halnya dengan perkawinan?

Sebelum menjawab itu semua, satu pertanyaan lagi timbul, dalam menghadapi perkawinan, sudah sepatutnya semua orang akan menyambut gembira, tapi apakah demikian halnya dengan kematian? Sama-sama permulaan hidup yang baru, tapi mengapa yang satu kita sikapi dengan penuh tawa sementara yang satu lagi dengan isak tangis dan air mata?

 

Tidak bisa disalahkan bila ada air mata, karena dalam memulai hidup baru, kita berarti meninggalkan sesuatu yang lama, berpisah dengan kondisi kita yang lama. Lihatlah dalam perkawinan, saat anak meminta restu kedua orangtuanya untuk memulai hidup baru, hampir bisa dipastikan ada air mata yang mengalir. Karena apa? Baik orang tua maupun si anak sama-sama berat karena harus ’berpisah’ walau bukan dalam arti kata sebenarnya. Begitu juga yang kita hadapi saat kematian terjadi, saat seseorang akan memulai hidup baru-nya, ia harus berpisah, meninggalkan keluarganya dan apa yang ia miliki saat ini, makanya tak heran semua merasa sedih dan menitikkan air mata karenanya. 

 

Lalu, disaat kita harus menghadapi kematian, bagaimana agar kita bisa bersikap sama seperti kita menghadapi suatu perkawinan? Walaupun ada tangis, tapi kita pergi dengan bahagia, dilepas dengan perasaan suka cita?

Bagi orang-orang tertentu yang diberi waktu untuk mempersiapkan kematiannya, mungkin hal ini jadi lebih mudah. Saat sakit, saat hidup kita divonis hanya tinggal hitungan tahun, bulan, hari atau bahkan detik, walau hanya singkat, kita masih punya kesempatan untuk mempersiapkannya. Saat itu, lakukanlah yang terbaik, sesuatu yang tidak saja membuat dirimu bahagia, tapi juga membuat orang-orang disekelilingmu bahagia. Karena kamu akan memulai hidup baru-mu, relakanlah semua yang kau miliki saat ini, keluargamu, harta bendamu, hewan peliharaanmu, teman-temanmu, pangkat dan kedudukanmu serta apapun yang sudah kamu capai saat ini, lepaskanlah. Lepaskan juga segala kekhawatiranmu, masalah-masalahmu, semua itu akan segera berlalu, kamu akan memulai sesuatu yang baru. Biarkanlah dirimu menjadi bersih dari keterikatan, biarkan dirimu hanya menyadari setiap hembusan nafasmu yang dalam hitungan sepersekian detik mungkin akan segera berubah menjadi nafas dirimu yang baru. Bagi yang ditinggalkan, relakanlah kematian seseorang, karena waktunya untuk memulai hidup yang baru sudah tiba. Perpisahan ini bukan untuk selamanya, karena selama masih ada ikatan karma, entah kapan kitapun akan bertemu kembali dalam ruang, wujud, dan waktu yang berbeda.

 

Bagaimana jika kita tidak cukup beruntung untuk memiliki persiapan menghadapi kematian kita? Entahlah aku sendiri tidak tahu. Aku mungkin bisa saja menuliskannya di sini, tapi apakah aku bisa melakukannya? Belum tentu, tapi aku akan belajar dan berusaha….

Karena itu, setiap detik dalam hidup kita, hendaknya kita tidak terikat, hendaknya kita tidak mengecewakan orang lain. Kalau bisa kita membuat orang lain dan diri kita sendiri bahagia, agar setiap saat kita harus memulai hidup baru, kita bisa memulainya dengan baik walau tanpa persiapan khusus….

 

Jika aku mati,

Aku ingin saat itu tidak ada yang menangis untukku,

Karena aku pergi untuk memulai hidupku yang baru,

Bukan untuk mengakhiri kehidupanku saat ini…

 

Jika aku mati,

Aku ingin ada senyum menghias bibirku,

Yang kutujukan untuk semua mahluk tanpa terkecuali,

Dengan ucapan tulus dari hati:

’Sampai bertemu kembali….’

Read Full Post »

Tak Harap Kembali

“Tak Harap Kembali”,  judul tulisan ini sudah lebih dari 3 bulan berada dalam draft dan entah kenapa sebagian kata-kata yang sudah kutulis belum bisa kuselesaikan. Tapi hari ini aku rasa aku bisa menyelesaikannya dan aku tau apa yang harus kutulis selanjutnya….

Hari ini sebuah peristiwa membuatku teringat kembali akan makna kata-kata tersebut dalam kehidupanku. ‘Tak Harap Kembali’, sebuah kalimat pendek yang terdengar begitu sederhana tapi kalimat ini sudah menyadarkanku dan membawaku pada penerimaan atas doa-ku yang tidak terjawab dan atas segala harapan-harapanku yang mungkin tidak semua dapat terwujudkan.

Entah sejak kapan dimulainya aku tidak pernah ingat, saat itu, setiap kali berdoa yang kuminta adalah ‘waktu’. Aku sendiri tidak pernah tau kenapa selalu ada kekhawatiran bahwa aku sedang berlomba dengan sang ‘waktu’…. Aku tidak meminta harta yang berlimpah, kesehatan ataupun kecantikan… saat itu di dalam setiap doaku selalu yang kuminta adalah berikan aku ‘waktu’, ‘waktu’ buatku untuk membalas budi kepada kedua orangtuaku, membahagiakan mereka… Aku pikir ini permintaan yang sederhana, tidak terlalu sulit kan, Tuhan?

Tapi saat kulihat jam arlojiku berhenti, hari itu, tanggal 23 Oktober 2002, tepat 25 tahun ulang tahun perkawinan perak orangtuaku, aku sudah merasa kalau aku kalah…. Tanggal 24 Oktober 2002 tepatnya, aku harus menerima kenyataan kalau harapanku tidak dapat kuwujudkan. Papi telah pergi untuk selamanya dan sang ‘waktu’ tidak pernah ada buatku agar aku dapat mewujudkan harapanku….

Aku marah pada Tuhan, aku berteriak padaMu, apakah yang kuminta terlalu sulit, Tuhan?

Untuk sekian lama aku tidak dapat menerima kenyataan bahwa papi harus pergi meninggalkan kami. Untuk sekian lama pula aku mempertanyakan jawaban atas doa-doaku…. Aku masih bersyukur, kemarahan tidak membawaku lari dan pergi meninggalkanMu….

Aku tenggelam dalam kesibukanku dan masalah-masalah dalam hidupku sepeninggal papi. Tapi tetap dalam hati kecilku ada yang hilang dan masih kupertanyakan…. Pertanyaan-pertanyaan itu membawaku pada pencarian yang aku sendiri tak tau apa…. mungkin aku hanya butuh sesuatu untuk mengisi kekosongan di hatiku, tempat dimana seharusnya papi berada….

Satu retret kulewati tanpa memberikan jawaban atas pertanyaanku, masih tersisa keraguan…. sampai akhirnya dalam satu pelatihan aku mendapatkan kesadaran itu…. Dalam doa tidak seharusnya kita berharap balasan, karena bila kita masih mengharapkan balasan, saat kita tidak memperolehnya, kita akan sangat kecewa…. Rasa kecewa inilah yang membawa kita pada perasaan ketidakadilan, ditinggalkan dan kemarahan, lalu menyalahkan pihak lain atas tidak terwujudnya harapan kita?

Belakangan aku mencoba memahami kata-kata itu lebih dalam, aku belajar mengenal ‘Tuhan’-ku, ‘doa’-ku…. Hingga akhirnya aku sampai pada pemahaman bahwa ‘doa’ ku adalah hidupku, segala perbuatan dan tindakanku, sehingga segala sesuatu yang kulakukan dalam hidupku, baik untuk diriku sendiri ataupun orang lain, aku berusaha untuk melakukannya dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Sehingga saat segala sesuatu tidak terjadi sesuai harapanku, aku bisa menerimanya dengan berbesar hati….

Hari ini, aku membagi pemahaman ini pada seorang teman yang sudah dengan berani mengambil tindakan besar untuk masa depannya dengan segala resiko yang harus ditanggungnya. Aku hanya berdoa, semoga ia diberi kekuatan untuk melalui semuanya. Di dalam keyakinannya yang tertuang dalam doa-doanya, semoga ia bisa melakukannya dengan tulus, tak harap kembali, sehingga saat doa-doa itu tidak terjawab, masih ada keyakinan dan kebaikan yang tetap bisa dilakukan….

Read Full Post »

Pilihan Dalam Hidup

“Life is a choice” kalimat ini kuyakini memang benar, bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Menjadi baik ataupun buruk adalah pilihan, kita sendiri yang menentukan akan jadi seperti apa diri kita kelak di dalam kehidupan ini ataupun kehidupan yang akan datang.

3 hari yang lalu aku berkesempatan untuk melihat dan merasakan cinta yang universal melampaui batas ras, agama, suku, status sosial dan tanpa pamrih saat menghadiri perayaan ulang tahun ke 5 Rusun Cinta Kasih Tzu Chi. Entah kenapa pula, setiap kali menonton tayangan drama di DAAI TV, membaca ataupun mendengarkan kata-kata perenungan dari Master Cheng Yen, ada keharuan yang membuatku selalu tak kuasa untuk menitikkan air mata. Seperti ada perasaan aneh yang mengusik hatiku dan aku tak tau apa itu.

Kadangkala aku menyesal karena sampai sekarang belum ada kesempatan bagiku untuk mengenal Tzu Chi lebih jauh dan turut ambil bagian di dalamnya. Saat melihat apa yang sudah dilakukan oleh mereka para relawan Tzu Chi, dan melihat orang-orang yang berbahagia karena pertolongan itu, rasanya ada kerinduan untuk turut melakukan hal yang sama. Aku jadi berpikir tentang hal ini….

Setelah satu demi satu masalah bisa terselesaikan dan timbul masalah baru lainnya, akhirnya aku tau apa yang ingin aku lakukan dalam hidup ini…. aku mulai membuat banyak rencana untuk ke depan. Aku ingin mengajak mami untuk jalan-jalan ke luar negeri, aku ingin membeli mobil, aku ingin kuliah lagi…. semua keinginan itu tentunya bukan tanpa dasar, bahkan aku sudah mengurutkan berdasarkan prioritas…

Yang pertama tentunya aku ingin mengajak mami jalan untuk membahagiakan dirinya, walaupun aku tau kebahagiaan mami bukan semata-mata karena hal itu saja, tapi aku hanya ingin ia bisa merasakan itu…. Lalu aku ingin membeli mobil, karena apa? Aku butuh, dan aku butuh bukan semata-mata untuk kesenangan, tapi aku berharap bila ada mobil aku bisa mengajak mami jalan, mengajak mami ke wihara, ke rumah temannya atau kemanapun yang ia mau dan tidak lagi bergantung kepada orang lain… Dan yang terakhir, aku ingin kuliah lagi.. untuk apa? Bukan hanya karena ini adalah cita-cita ku dari kecil yang ingin sekolah terus… tapi saat ini aku sudah tau kemana arahnya hidupku, aku ingin kuliah psikologi supaya aku bisa menggunakannya untuk membantu orang-orang di sekelilingku… Entahlah kadangkala aku merasa aku memiliki talenta untuk memahami orang lain, karena itu aku berharap kelak dengan bekal ini aku bisa berbuat lebih banyak untuk menolong orang lain….

Masih banyak hal yang ingin kulakuan karena itulah aku masih ingin sendiri…. bukan karena aku sombong ataupun egois, tapi bagiku dengan sendiri aku bisa melakukan hal-hal yang aku mau tanpa membuat orang lain kecewa. Karena hidup berumah tangga tidaklah mudah, bila sudah memutuskan untuk menjadi seorang istri hendaknya menjadi istri yang baik dan menjalankan kewajiban terhadap suami. Menjalankan kewajiban sebagai ibu terhadap anak-anak. Atas dasar pertimbangan itu aku memilih untuk sendiri dan melakukan banyak hal yang sebelumnya belum sempat untuk kulakukan….

Tapi ternyata aku diperlihatkan pada kenyataan dan dihadapkan pada pilihan lagi…. Mami memang tidak pernah memaksaku, apalagi selalu dengan tegas kukatakan agar jangan memaksaku untuk married, karena itu adalah komitmen seumur hidup yang harus kujalankan sendiri. Tapi kemarin waktu aku mendengar kata-kata ini di telepon yang keluar dari mulut adik papiku, “Susuk sehat-sehat, susuk akan sehat-sehat dan menunggu Jenny dan Koko berkeluarga….” rasanya seperti sebuah tamparan keras yang menyadarkanku dari mimpi yang tak ingin kuakhiri….  Aku mulai merenungi mengapa setiap orang tua berharap anak mereka hidup berumah tangga? Kalau aku jadi orang tua apa yang aku rasakan? Aku sampai pada kesadaran bahwa semua orang tua tentunya berharap anak mereka dapat hidup bahagia. Semua orang tua selalu ingin melindungi anaknya, tapi sampai kapan? Lamanya hidup tidak bisa diduga, kematian bisa kapan saja datang pada siapapun. Orang tua kita hanya merasa mereka akan ‘pergi’ terlebih dahulu dari kita, karenanya mereka harus memastikan kita, anaknya, akan baik-baik saja sepeninggal mereka. Lalu siapa yang bisa diharapkan oleh mereka untuk menjaga kita? Itulah alasannya kenapa setiap orang tua berharap anaknya hidup berumah tangga, supaya ada yang menjaga kita menggantikan mereka menjaga kita…. Aku jadi semakin menyadari bahwa ternyata cinta orang tua begitu besarnya sampai mereka memikirkan hal ini….

Hal ini tentu mengusik hatiku, apakah aku ingin membuat orang tua ku kelak mengkhawatirkanku bahkan sampai akhir hidupnya. Aku juga jadi berpikir, aku melihat begitu banyak relawan Tzu Chi, pria dan wanita, ada yang tua dan ada yang muda, sebagian besar mereka juga berkeluarga, tetapi mereka tetap bisa melakukan kebaikan, membantu orang lain?

Aku sampai pada satu keputusan…aku tau apa yang ingin kulakukan dalam hidupku, aku tau tidak semua keinginanku bisa aku wujudkan, aku tau bakti terhadap orang tua adalah hal yang sudah sepatutnya, karenanya aku sudah menetapkan pilihan untuk memasrahkan hidupku….

Aku hanya bisa berdoa, jika dalam kehidupan ini karma mengharuskanku untuk hidup berumah tangga, semoga aku dipertemukan dengan jodoh yang memiliki kemurahan hati dan kebijaksanaan yang bisa mendukungku untuk mewujudkan harapan dan keinginanku untuk membantu sesama dan membagi cinta kasih yang tak terbatas….

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »