Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Contemplation’ Category

image

Lagi-lagi sekarang masih menunggu waktu boarding di bandara Phnom Penh. Sambil menunggu pesanan makanan yang belum tiba, rasanya pengen nulis sesuatu.

Belakangan ini kembali kadangkala otak gue berpikir terlalu keras, atau malah kadangkala seperti tidak mikir sama sekali, tapi berasa ada yang hilang, atau ada sesuatu yang belum terpecahkan.

Kesibukan kerjaan gue sekarang yang mengharuskan gue pergi ke negara satu dan lainnya, seringkali menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan dalam diri gue. Bertemu dengan banyak orang dari latar belakang, budaya, dan pemikiran yang berbeda, kadangkala menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru dalam diri gue.

Tujuan hidup gue sebenarnya bisa gue katakan sudah gue ketahui. Tapi jalan yang harus gue tempuh, sejujurnya kadangkala masih terasa samar-samar. Pekerjaan gue yang kerap kali berganti, bagi sebagian besar orang seringkali menimbulkan persepsi ‘kutu loncat’, bahkan beberapa seringkali bertanya “apa yang loe cari?” Sejujurnya gue sendiri gak tau apa yang gue cari. Bukan pangkat, ketenaran ataupun uang, jelas, karena beberapa kali gue punya kesempatan untuk mendapatkan itu tetapi gue tolak. Lantas apa yang gue cari?

Kadangkala gue merasa sedang berada dalam labirin, gue hanya mengikuti saja alurnya, tapi saat dihadapkan pada persimpangan, gue pun hanya membiarkan kemana kaki membawa gue melangkah. Gue tau seharusnya jawaban atas semua ini akan bisa gue dapatkan kalau gue mau mengenal diri gue sendiri lebih dalam dan bertanya ke diri gue sebenarnya apa yang gue mau. Tapi nyatanya itu tidak pernah gue lakuin, sepertinya ada rasa ‘takut’ yang besar jika jawaban itu tidak seperti yang gue harapkan.

Yah gue masih menaruh ‘harapan’ dan ‘keinginan’ yang seharusnya gue hilangkan. Entahlah kadang gue merasa lelah, berharap saat bangun dari tidur semua ini bisa segera berlalu.

Tahun bentar lagi akan berganti, usia hidup gue pastinya akan berkurang. Tapi pertanyaan itu belum juga terjawab…

Phnom Penh, 11 November 2015
~Jen~
2.44pm

Read Full Post »

Demi menghilangkan rasa bosan dalam 1.5 jam perjalanan dari Ho Chi Minh ke Singapore, akhirnya gue memilih menulis di blog ini. Walaupun mungkin nanti baru akan dipublish saat tiba di Singapore, setidaknya ada kegiatan yang bisa gue lakuin selama 1.5jam perjalanan ini. Dan Singapore bukan tujuan akhir perjalanan gue, kali ini gue akan balik ke Jakarta, Indonesia, negara tempat di mana gue berkesempatan lahir dan tinggal di kehidupan ini.

Entah kenapa perjalanan kali ini dari awal berangkat rasanya gue udah gak terlalu happy. Mungkin bisa jadi bosan juga, kalau dalam setahun loe harus pergi ke satu negara tapi bukan untuk wisata. Gue bukan tipe yang suka travelling. Kemarin gue baru aja mengingat-ingat ke negara mana saja gue udah pernah pergi dalam rangka liburan. Ternyata hanya 2 kali gue pergi ke luar negeri dalam rangka liburan, sisanya karena urusan kerja dan satu lagi adalah perjalanan rohani yang buat gue adalah ‘perjalanan pulang’.

Mungkin gue emang bukan tipe yang suka jalan dan menikmati object wisata di negara lain, ataupun pergi shopping seperti yang banyak dilakukan oleh orang Indonesia yang cukup berada. Buat gue pergi ke satu tempat yang jauh dari tempat tinggal gue adalah karena gue butuh waktu untuk sendiri. Gue perlu ada di satu tempat di mana gak ada yang gue kenal, dan gak ada yang perduli dengan gue. Dan yang gue lakuin biasanya hanya bersantai, berdiam diri di hotel, atau jalan ke sekitar hotel gue tinggal. Hmm buat orang lain mungkin gue ini aneh, tapi inilah gue.

Kali ini gue cuma pengen nulis lagi-lagi tentang gak ada yang namanya kebetulan. Dalam perjalanan kali ini, buat gue ada beberapa kebetulan-kebetulan yang memudahkan gue. Sebenarnya ini bukan pertama kali buat gue dan bukan hal yang aneh juga buat gue. Gue selalu percaya saat loe berusaha menjaga hati loe untuk tetap bersih, segala kebaikan akan selalu menyertai langkah loe. Gue tau kadangkala yang tak terlihat pun membantu gue, dan gue sangat berterima kasih dan bersyukur karenanya.

Entah kenapa gue hanya merasa akan ada satu hal besar yang akan terjadi dalam hidup gue. Dalam perjalanan ini gue seperti diingatkan kembali, bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kehidupan gue sepertinya sudah diatur sedemikian rupa oleh alam semesta untuk memasuki dan menapaki jalan ini. Hanya tinggal menunggu waktu dan karma baik yang matang.

Dan kemarin gue mendapati satu quote oleh ibu peri dari cerita Cinderella: “Even miracles take a little time”. Kalimat ini sangat menguatkan gue, membuat gue untuk bisa lebih bersabar untuk keajaiban itu.

Cahaya hanya akan kembali ke dalam cahaya, meninggalkan kegelapan yang selalu ada. Sejatinya cahaya tidak pernah dapat menghalau gelap, karena bukan gelap yang menjadikannya terang.

image

Singapore, September 22, 2015
~Jen~
10.52 am
“Dalam perjalananku menuju cahaya…”

Read Full Post »

Kalau baca judul tulisan ini, pasti tau donk, kali ini gue lagi di Myanmar. Yak hampir setahun yang lalu gue menginjakkan kaki di negara ini, dan sekarang kembali lagi gue datang ke sini. Masih dengan urusan yang sama, pekerjaan, yang membuat gue mungkin akan sering mengunjungi beberapa negara di Asia Tenggara. Ini hari terakhir gue di sini dalam kunjungan gue yang kedua di negara ini. Seperti biasa, hari terakhir gue sambil menunggu detik-detik pulang, gue menyempatkan diri menulis.

Tidak banyak yang terlalu berubah dari negara ini setahun yang lalu, walaupun ada juga yang berubah sangat drastis, salah satunya adalah handphone. Tahun lalu waktu ke sini gue masih gak beli nomor lokal, karena harganya masih di atas 500 ribu rupiah, tapi tahun ini harga simcard udah murah, hanya sekitar 15ribu rupiah untuk nomor baru, dan voucher isi ulang kurang lebih 5,000 kyatt atau plus minus 60rb rupiah, gue udah bisa akses internet. Hampir setiap orang sudah pegang handphone, dan di jalan banyak ditemui brandingan lebih dari satu provider telepon sellular. Ditambah lagi yang paling gue notice adalah sekarang banyak Billboard mengiklankan produk-produk Handphone lebih dari satu merek, mulai dari merek terkenal dengan tipe terbarunya hingga handphone cina. Waktu satu tahun sudah cukup membawa kemajuan dalam hal telekomunikasi.

Membandingkan negara yang baru membuka diri 3 tahun terakhir ini dengan negara-negara lain yang juga sering gue kunjungi, gue cuma merasa di sini waktu berjalan sedikit lambat, dan suasana di sini cenderung lebih tenang dan kalem. Berbeda dengan Kamboja, gue hanya merasa di sana suasana lebih ‘hidup’. Mungkin karena nuansa Buddhist di Myanmar sini masih kental, ditambah negara ini sebelumnya juga masih tertutup, menjadikan suasananya jadi tenang seperti ini. Setiap pagi gue masih melihat barisan Bhikku maupun Bhikkuni berpindapata, dan entah kenapa saat melihat barisan Bhikkuni kecil yang berjalan sambil melantunkan syair-syair, ada rasa haru di hati gue.

Morning Pindapata - Yangon, 10 April 2015

Morning Pindapata – Yangon, 10 April 2015

Sebelum berangkat ke sini, otak gue masih dipenuhi satu pertanyaan besar, tapi entah kenapa mungkin suasanan tenang di sini membuat gue bisa berpikir jernih, dan sepertinya gue udah punya jawaban atas pertanyaan itu.

Gue udah harus jalan ke airport, padahal masih banyak yang pengen gue tulis, mungkin nanti setelah balik ke Jakarta gue akan menulis satu per satu apa yang ada di pikiran gue saat gue berkunjung ke Golden Land, tanah di mana gue pernah hidup dan membina diri, jauh di masa yang lalu…

Yangon, 13 April 2015
~Jen~
12.16 PM waktu Myanmar

Read Full Post »

“Apakah harus ada alasan untuk tersenyum?”

Tiba-tiba aja kalimat itu jadi mengusik pikiran gue. Kalimat sederhana yang gue denger dari pertunjukkan ‘Smile of Angkor’ di Siem Riep, Kamboja. Ya di sinilah gue sekarang, di Siem Riep untuk pertama kalinya. Melengkapi perjalanan gue ke negara-negara dunia ketiga (ini menurut kakak gue). Hari ini hari terakhir gue di Siem Riep sebelum sore ini terbang ke Ho Chi Minh, Vietnam untuk melanjutkan tugas kantor gue. Mengambil kesempatan di sela weekend di negara orang, setelah minggu lalu meeting di Phnom Penh, gue nekad pergi ke Siem Riep seorang diri. Kalau dipikir-pikir sebenernya gue bukan orang yang cukup berani untuk pergi sendiri, dengan tujuan wisata. Kalau urusan kerja mau gak mau gue udah harus terbiasa pergi sendiri, tapi urusan travelling, sebenernya gue bukang seorang traveler kayak sepupu gue yang emang biasa pergi sendiri. Gue biasa pergi sendiri kalau tempatnya itu yang sudah biasa gue pergi, seperti ke Bali, dan mungkin belakangan ini Vietnam, karena urusan kerja. Tapi mengunjungi tempat baru sendirian, hm.. baru gue lakuin satu kali waktu gue ke Singapore. Tapi entah mengapa setiap pergi sendiri gue selalu merasa ‘terbantu’ dan selalu aja dimudahkan.

Dan sekarang di sini gue, di Siem Riep, udah hari ke 3 dan udah mengunjungi Angkor Wat yang emang gue pengen. Tapi kalau boleh jujur, setelah gue mengunjungi Angkor Wat, gue merasa Borobudur jauh lebih hebat, dan gue jadi pengen mengunjungi lagi, setelah sekian puluh tahun dari kunjungan terakhir gue. Seperti selalu gue bilang gak ada yang namanya kebetulan, sebenernya gue mau naik bus malam dari Phnom Penh ke Siem Riep sehingga gue akan sampai di Siem Riep hari Sabtu pagi sekitar jam 6. Tapi gak tau kenapa kemarin masih ada sedikit keraguan sampe akhirnya gue beneran kehabisan tiket bus. Dan terpaksalah di detik-detik terakhir hari Jumat gue beli tiket pesawat plus booking hotel 1 malam lagi. Tapi gara-gara itu gue jadi bisa mengunjungi Angkor Wat dari pagi-pagi dan menunggu terbitnya sang matahari.

Sun Rise-Angkor Wat, 21 Maret 2015

Sun Rise – Angkor Wat, 21 Maret 2015

Menunggu cukup lama bersama ratusan turis lainnya, akhirnya matahari yang ditunggu muncul juga, seketika itu gue pengen nangis, ada rasa syukur karena dalam hidup gue masih diberi kesempatan untuk melihat dan merasakan keindahan dunia ini. Mungkin gue juga jadi sentimentil karena sebelumnya pagi itu gue mendengar berita yang menyedihkan, salah satu rekan kantor lama gue meninggal dunia. Umurnya belum tua, dengan 2 orang anak yang relative masih kecil, Ko Kardiman yang selalu penuh lelucon sudah meninggalkan dunia ini. Selamat jalan ko Kardiman, semoga karma baikmu menuntunmu pada kehidupan yang lebih bahagia dan kembali berkesempatan mengenal Dhamma.

Kehidupan ini memang tidak ada yang bisa mengerti, segala kondisi berganti dan berubah hanya dalam helaan nafas. Selama tiga puluh lima tahun hidup gue, gue udah melihat banyak hal, sebuah perputaran, seperti yang selalu gue pahami dari ajaran Buddha, bahwa hidup ini bagaikan roda yang berputar. Tidak hanya dalam hal materi bahkan dalam kehidupan masing-masing orang. Gue udah melihat bagaimana si kaya menjadi miskin dan kembali menjadi kaya lagi, begitu juga sebaliknya, si miskin menjadi kaya lalu kembali menjadi miskin. Orang yang tadinya sehat lalu menjadi sakit-sakitan, yang tadinya sakit ada juga yang lalu menjadi sehat. Kehidupan ini sungguh tidaklah kekal, lalu kembali pertanyaan lama itu timbul, mengapa gue masih di sini? Berada di dalam ketidakkekalan yang hanya mendatangkan penderitaan?

Selama masih di dalam lingkaran kehidupan ini, merasakan ketidakkekalan, bagaimana mungkin bisa tersenyum tanpa alasan? Di saat sakit, di saat tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, sudah pasti yang ada kesedihan dan penderitaan. Hanya ‘Dia yang Sadar’ akan bisa tersenyum tanpa alasan. Mungkin ini jawaban mengapa sedari kecil setiap kali melihat rupang Buddha, gue selalu bisa merasakan kedamaian dan kebahagiaan, karena bagi gue, yang selalu gue lihat adalah wajah yang tersenyum, dan senyum yang meneduhkan ini tidak gue temukan di wajah-wajah lainnya. Dan karena alasan sederhana ini juga gue tetep mengikuti sang jalan yang sudah diajarkan oleh guru Buddha.

Semakin memahami ini, membuat gue semakin bersedih, sedih karena melihat diri gue yang masih belum bisa ‘tersenyum’, karena masih terlalu banyak kemelekatan dan ketidaktahuan yang mengotori batin gue. Saat ini gue cuma bisa berdoa, berharap segala kumpulan karma baik gue akan mendukung tindakan gue dan membawa gue pada jalan yang membebaskan. Sebuah jalan yang akan membuat gue bisa tersenyum tanpa alasan, senyum yang meneduhkan dan membawa kedamaian.

Siem Riep, March 22nd, 2015
~Jen~
2.25 pm

Read Full Post »

Cinta…

Cinta…
Terlalu banyak pertanyaan tentang cinta yang ada di benakku saat ini. Mulai dari apa itu cinta sesungguhnya? Seperti apa rasanya jatuh cinta? Sampai bagaimana seharusnya kita mencintai? Entah mengapa dari dulu aku tak pernah berpikir untuk hal yang satu ini. Banyak alasan, terlalu banyak alasan mengapa aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang cinta. Rasa takut, rasa sakit, dan berjuta rasa lainnya yang bercampur aduk menjadi satu hingga menghambarkan segala rasa yang ada. Dan aku menjalani hidupku selama ini tanpa pernah ingin tahu seperti apa itu cinta, mencinta dan dicinta…

Dulu aku sempat berteori bahwa ada perbedaan antara suka, sayang dan cinta. Mungkin ada banyak orang yang kusukai, entah karena wajahnya yang tampan, hatinya yang baik, atau alasan lain yang membuatku bisa menyukai seseorang, tapi itu hanya sebatas rasa suka terhadap sesuatu yang mungkin dimiliki orang itu. Sementara dari sekian banyak orang yang kusuka, mungkin hanya ada beberapa yang aku sayangi. Aku menyayangi mereka sebagai keluarga, sebagai sahabat, atau sebagai yang lainnya yang aku rasa memiliki ikatan lebih daripada hanya rasa suka. Sementara cinta, menurut teoriku dulu, hanya akan ada satu orang yang aku cintai seumur hidupku ini. Rasanya terdengar terlalu teoritis atau bahkan terlalu idealis. Sebuah pemikiran dari seseorang yang bahkan untuk mencoba mencintaipun enggan…

Dan sekarang, entah mengapa aku merasa “Tuhan” tengah mengajakku untuk memahami apa itu “cinta” yang sesungguhnya. “Tuhan” tengah mengajariku untuk ‘mencintai’ dengan cara-Nya… Caranya yang buatku manusia yang lemah ini menjadi sangat menyakitkan. Karena “Ia” menghadirkan “cinta” ditengah situasi yang menurutku tidak seharusnya. Karena “Ia” mengajariku mencintai orang yang tak sepatutnya kucintai… Walaupun aku mengerti karena “cinta” juga aku belajar “pemaafan”, aku bisa memaafkan orang yang mungkin bersalah padaku, orang yang sepatutnya kubenci.

Saat aku menulis ini aku tengah berada di atas langit yang luas, meskipun belum seluas jagad raya. Dan telinga serta kepala yang mulai panas akibat segelas wine yang disajikan oleh pramugari atas permintaanku. Jantungku sedikit berdebar walau kesadaranku masih belum berkurang sedikitpun. Sensasi ini apakah seperti ini rasanya jatuh cinta? Mengapa terasa lebih menyakitkan daripada bahagia?

Tapi aku paham, ” Tuhan” benar-benar tengah mengajariku ‘cinta’. ‘Cinta’ yang sesungguhnya, yang lebih besar daripada cinta yang memabukkan bak segelas wine. Rasa sakit ini harus kulalui untuk dapat memahami apa itu ‘cinta’ yang sesungguhnya. Karena ‘cinta’ yang diajarkan “Tuhan” adalah abadi dan membebaskan…

“Tuhan” kuatkan aku… Tolong kuatkan aku untuk melalui segala godaan cinta yang egois dan memabukkan ini… dan maafkan aku belum bisa benar-benar memahami ‘cinta’ yang Kau ajarkan padaku…  Namun biarkan aku tetap mencoba belajar memahami ‘cinta’-Mu, karena aku tahu hanya ‘cinta’ yang Kau ajarkanlah yang akan membawaku padaMu. Hanya ‘cinta’ yang sesungguhnya yang akan menyatukan Kau dan aku di dalam keabadian dan pembebasan sejati…

image

Di atas langit Jakarta yang cerah, 16 July 2014
~Jen~
04.58 pm

Read Full Post »

20140207-055350 AM.jpg

Banyak orang bilang hidup ini adalah sebuah misteri, karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada kita nanti. Dan bagi sebagian orang yang meyakininya, kita juga tidak pernah tau apa yang sebelumnya terjadi pada kehidupan kita yang lalu. Banyak hal yang mungkin sulit diterima oleh akal manusia waras. Banyak hal juga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata bagi sebagian orang yang memiliki berkah untuk sedikit memahami misteri hidup ini.

Kadangkala banyak hal terjadi di luar apa yang pernah kita bayangkan, rasa benci, rasa sayang, yang timbul tanpa satu sebab dan alasan, yang sebenarnya tentunya bukan tanpa sebab, tapi bagi kita yang ‘belum dapat’ memahami, semua itu menjadi sebuah misteri. Di dunia ini tidak ada yang terjadi tanpa sebab, karena hukum alam sebab akibat begitu nyata. Banyak dari manusia menyalahkan ‘Tuhan’ atas ‘ketidakadilan’ yang mereka terima dalam kehidupan ini, terlahir cacat, miskin, dan kekurangan-kekurangan lainnya. Yah, jika hanya melihat satu kehidupan manusia yang relatif singkat, kita akan menyalahkan apa yang diyakini sebagai ‘Sang Pencipta’, ‘tempat’ bagi kita untuk melempar segala kesalahan yang sebenarnya kita perbuat sendiri.

‘Sang Pencipta’ sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Segala keburukan dan kebaikan yang kita terima adalah buah dari segala keburukan dan kebaikan yang kita perbuat. Banyak orang takut pada ‘Tuhan’, pada hukuman-Nya jika kita melanggar apa yang diyakini sebagai perintah-Nya. Manusia lupa, jika apa yang mereka yakini bahwa ‘Tuhan’ itu begitu adil, Maha Tahu, Maha Bijaksana, Maha segala-galanya, mengapa lantas dibiarkan-Nya keburukan terjadi di muka bumi yang merupakan ciptaan-Nya juga? Apakah begitu kurang kerjaan-Nya ‘Tuhan’ dengan menciptakan kebaikan namun sekaligus keburukan bagi manusia, dan lantas menjadi ‘penonton’ atas semua yang terjadi? “Tentu tidak! Jelas Tuhan tidak seperti itu! Iblis dan setan lah yang telah menggoda manusia sehingga terjerumus ke dalam dosa dan lantas meninggalkan Tuhan!” Bagus, bagus sekali! Dan kembali manusia ‘menciptakan tempat’ untuk lagi-lagi melempar apa yang sebenarnya menjadi konsekuensi yang harus diterimanya.

Sungguh kasihan ‘Tuhan’, sungguh kasihan ‘setan dan iblis’, yang selalu menjadi ‘sasaran’ atas ‘EGO’ manusia. Lantas salahkah manusia? Benar-Salah adalah hal yang relatif. Patokan ‘Kebenaran’ apa yang akan dijadikan tolok ukur? ‘Kebenaran’ bagi siapa? Daripada meributkan benar dan salah, yang pasti ‘Ketidaktahuan’ lah yang menyebabkan ini semua. Ketidaktahuan manusia atas ‘Kebenaran’ yang sesungguhnya, ketidaktahuan manusia atas misteri hidup ini…

“Tuhan tak pernah tidur”, “Dia” yang “Sadar” telah menemukan “Tuhan” yang sesungguhnya. “Mereka” yang telah terbebas dari “Ketidaktahuan” telah sampai pada “Tuhan”, yang sebenarnya berada begitu dekat dengan kita. Berhentilah mencari ‘Tuhan’, tapi “temukanlah Ia” di dalam dirimu…

“Tuhan tak pernah tidur” maka “Bangunlah!” dan segala misteri dalam hidup ini akan tak lagi menjadi misteri bagimu yang telah sadar…

Selat Panjang, 7 Februari 2014
~Jen~
05.55 am

Read Full Post »

Hallo… Ketemu lagi dalam sesi chit chat ala gue kali ini dari Ubud Bali, the island of God. Udah sejak taon 2010, tiap taon gue pasti “pulang” ke Bali. Lucu ya seolah Bali itu kampung halaman gue, padahal kampung halaman gue itu Lampung dan sejak nenek gue meninggal, gue udah jarang pulang ke sana. Taon ini tanpa sengaja gue kembali “pulang” ke Bali dan kebetulan waktu yang gue pilih bertepatan dengan event “Ubud Writers and Readers Festival”. Gue suka nulis, gue sempet punya cita-cita untuk keliling dunia sambil menulis dan sekarang gue lagi coba mulai, nulis blog dari Bali hahaha…

Ok balik ke rencana ke Bali, sebenernya gue pengen nyepi di sini, terbebas sejenak dari kepenatan kota metropolitan Jakarta, terbebas dari rutinitas gue sebagai karyawan yang harus pergi pagi pulang malam karena macetnya Jakarta, sejenak melupakan semua masalah yang ada di pekerjaan gue. So gue ke Bali, sendiri, tapi entahlah memang nasib gue atau ini cara “Tuhan” menunjukkan ke gue, bahwa “Dia” tak pernah “membiarkan” gue sendiri, tiba-tiba aja sepupu gue yang dari Lampung pengen jalan ke Bali. Alhasil, kembali kali ini gue gak berhasil “menyendiri” hihihi…

Karena bertepatan dengan event UWRF2013, gue iseng coba ikut salah satu workshop menulis. Kebetulan juga di event itu ada acara special ‘jalan jalan’ yang dibawakan oleh penulis dari Australia kenalan sahabat gue, so gue iseng dan kembali membeli tiketnya. Harga tiketnya lebih mahal dari workshop, 350ribu rupiah, tapi karena gue beli online dari website, harga pakai dollar kena kurs alhasil jadi sekitar 450rb! Ya sudahlah demi event yang mungkin jarang-jarang gue ikutin.

20131014-100659 AM.jpg

Workshop sudah berjalan kemarin, ya cukup menarik walaupun pesertanya mayoritas dari luar dan dengan kemampuan kosa kata Inggris gue yang masih standard, agak sulit buat menulis panjang lebar, mungkin kalau itu bahasa Indonesia akan lain cerita, gue udh nyerocos panjang lebar kayak sekarang, hihihi… Tapi overall it’s interesting… Hehehe sok inggris neh… :p
Dan pagi ini jam 8 seharusnya acara event “Jalan Jalan”, gue udah mikir seh kayaknya event ini bakal jalan bukan diem di tempat, walaupun disebutkan acara di salah satu resto di Ubud. Dan… Entah mengapa, karena sudah capek seharian kemaren, kurang tidur juga, pagi-pagi walau alarm sudah bunyi, rasanya males banget untuk bangun. Gue dan sepupu gue masih enak meringkuk di balik selimut. Dan entah kenapa pula rasanya hati ini agak berat untuk pergi cepat-cepat, gue malah nyantai-nyantai sarapan dulu di hotel, jam 8 lewat baru jalan ke lokasi, dan jalan itu cukup jauh, makan waktu 20menit. Waktu tiba di tempat dengan napas yang udah pas-pasan dan badan penuh keringat, ternyata kata penjaga restonya acara sudah mulai, mereka sudah jalan dari jam setengah 8 pagi!

Ok, gue ketinggalan! Dan 450rb gue melayang begitu aja! Tapi apa yang gue rasa saat itu? Ya sudahlah, namanya udah ketinggalan mau gimana lagi. Di dunia ini ada yang namanya “jodoh” kalau pakai istilah agama gue ya “buah karma”, karena gue males-malesan ya udah gue ketinggalan dan resikonya gue kehilangan 450rb sia-sia. Jadi siapa yang harus disalahkan? Gak perlu susah-susah jawabannya ya sudah pasti GUE! Hihihi… Wah kok gue jadi kayak orang pasrah gini ya? Nggak, ini bukan pasrah, tapi gue cuma mengikuti kata hati.

Dan seperti yang selalu gue yakini, ada yang namanya hukum sebab akibat, jadi tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Karena batal acara, untuk beristirahat meluruskan kaki gue yang udah pegel karena jalan jauh, dan seperti sebuah kebetulan (lagi) gue liat ada starbuck, oke akhirnya gue memutuskan untuk mampir dan istirahat sejenak, menikmati kopi dan berpikir untuk menulis. Gak lama handphone gue bunyi, hmmm orang pabrik, gak lama lagi bunyi lagi, orang pabrik lagi, lalu sekali lagi, orang pabrik lagi, alamak, ternyata pabrik nggak jadi libur, dan kalau pabrik nggak libur, artinya gue juga kagak libur zzzz…
So… Gak ada yang kebetulan kan? Kalau gue ikut event gue gak bakal bisa angkat telpon, padahal telpon nya penting. Kalau gue angkat telpon, gue bakal gak konsen ikut event… Jadi alam sudah mengatur ini semua hihihi… Dari gue telat bangun lalu gue yang males-malesan untuk berangkat, ternyata ada maksudnya… Hehehe…

Kalau melihat cerita gue, gue yakin sebagian besar reaksi kalian akan bilang, “ah itu mah loe nya aja, bego aja orang lagi cuti mau angkat telpon, bego aja dah beli tiket males-malesan dateng.” Ya ya itu reaksi yang wajar, dan gue bilang dengan terus terang juga, kalau gue yang dulu juga mungkin akan berpikir begitu, lebih ekstrim malah seharian gue akan menyesali karena udah batal ikut event. Tapi tidak gue yang sekarang. Gue bukan tidak menyesali gagal ikut event, sayang uang yang sudah gue keluarkan, tapi gue saat ini jauh lebih sayang sama diri gue. Orang bijak selalu mengatakan hiduplah saat ini, jadi segala penyesalan itu sudah gue tinggalkan, dan dengan seperti itu gue merasa hidup ini lebih ringan, tidak ada yang membebani diri gue, hati gue juga jadi belajar untuk menerima dengan lapang. Ini bukan hal yang mudah untuk diterima, gue tau, gue pun bisa seperti saat ini setelah melalui perjalanan yang panjang, dan ini pun gue masih merasa belum benar-benar sempurna. Gue sedang dalam proses, gue tau itu, dan gue gak jalan di tempat.

Kembali ke judul tulisan ini ‘Tidak Ada Kebetulan’, ya tidak ada kebetulan di dunia ini, segala masalah, segala kegembiraan dan kesedihan yang gue alami semua tidak ada yang kebetulan. Bagaimana reaksi gue terhadap itu semua adalah yang utama. Sedikit demi sedikit gue mulai mengerti apa yang disebut dengan “upekkha”, “keseimbangan batin” dan gue bisa memahami makna kalimat “good, bad, who knows?”. Semua adalah pelajaran yang gue terima dari “alam” dalam menempuh perjalanan ini. Dan gue tau itu semua menuntun gue untuk sampai ke tujuan…

Ubud – Bali, 14 Oktober 2013
~Jen~
10.54 WITA

20131014-105525 AM.jpg

Read Full Post »

20130907-083824 PM.jpg

Malam ini kembali duduk sendiri ditemani segelas es kopi favorite di gerai kopi favorite di sebuah kota di luar Jakarta yang bernama Cikarang. Tak terasa sudah lebih dari 6 bulan aku tinggal di kota ini, di kost yang sangat nyaman menurutku dan di lingkungan yang entah kenapa sangat aku suka. Aku memang bukan orang yang cerewet dalam hal tempat tinggal, tapi ada daerah yang benar-benar membuatku tidak nyaman dan enggan untuk tinggal lama-lama di sana. Tetapi tidak demikian dengan kota ini. Secara tidak sengaja sebelum tinggal di kota ini, ada beberapa kali aku mampir di sini, di kompleks perumahan ini, bahkan pernah sekali aku bermalam di hotel yang ada di sini karena pulang terlalu larut dan karena hujan turun dengan deras yang menyebabkan macet dan banjir di Jakarta, sehingga aku memilih untuk tidak balik ke Jakarta.

Mungkin memang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, karena ternyata setelah itu aku harus tinggal di tempat ini. Lucunya langsung dapat tempat kost yang dulu merupakan tempat kost sepupuku. Sekali melihat langsung merasa betah dan akhirnya memutuskan untuk kost di sana. Selama tinggal di kota ini, di kompleks ini, tidak pernah sekalipun aku merasa tidak nyaman, aku sangat suka tinggal di tempat ini, dengan suasananya, sekalipun di sini hanya ada satu mall dengan toko-toko yang terbatas, dan satu tempat sejenis mall dimana banyak tempat makan dan yang terpenting ada gerai kopi favorite ku tempat aku bisa menghabiskan waktu luangku. Tidak hanya itu, menurutku tempat ini cukup lengkap, karena ada juga karaoke keluarga serta timezone, dimana aku bisa melampiaskan rasa penatku karena pekerjaan di kantor.

Dan sekarang aku tinggal menghitung hari untuk angkat kaki dari tempat ini. Ada sedikit rasa berat hati, entahlah karena aku memang lebih suka sendiri, aku hanya merasa tempat ini sangat cocok untukku dengan hobbiku itu. Hobbi yang tak lazim ya, hehehe. Tapi begitulah aku, daripada berkumpul dengan banyak teman, saudara ataupun keluarga, jika boleh memilih aku lebih suka berdiam sendiri. Karena saat sendiri aku menemukan ketenangan, saat sendiri aku merasa begitu nyaman… Tapi ini akan berakhir sebentar lagi…

Bisa kembali ke kantor di Jakarta tentu menyenangkan, karena aku tidak lagi harus dipusingkan dengan banyaknya kerjaan yang harus aku urus di dua pabrik sekaligus, walaupun tetap sepertinya pekerjaanku juga tidak berkurang, hanya saja mungkin kepusingan itu tidak secara langsung tertuju kepadaku. Kalau boleh jujur, sekalipun melelahkan, tetapi dengan menghandle pekerjaan ini banyak hal yang aku dapat, mulai dari belajar menjadi seorang pemimpin, yang pastinya tidak mudah, belajar menghadapi sekian banyak orang dengan berbagai latar belakang dan karakter yang harus menjadi bawahanku langsung, sampai belajar untuk mau mengerjakan hal-hal kecil yang mungkin seharusnya bukan pada level aku yang harus mengerjakannya. Tapi semua itu adalah sebuah pengalaman berharga buatku, bahkan sesungguhnya aku merasa sedikit berat untuk melepaskan itu sekarang. Bukan, bukan karena pangkat atau kedudukan, tapi lebih karena kebersamaan yang sudah terjalin selama ini dengan mereka yang menjadi bawahanku.

Tapi hidup terus berjalan, ada saatnya kita harus melepaskan, meninggalkan hari kemarin yang sudah berlalu, dan mempersiapkan diri kita saat ini untuk menyongsong hari esok. Dan aku pun harus mengucapkan selamat tinggal pada kota ini, kompleks perumahan ini, tempat kostku, mba di kost, barista gerai kopi favorite ku yang sampai sudah hafal pesananku karena tiap kali datang selalu menu itu yang aku pesan. Selamat tinggal semuanya, terima kasih untuk 6 bulan yang menyenangkan di sini, terima kasih sudah begitu bersahabat denganku. Aku akan merindukan tempat ini, sungguh… Bodoh! Menulis seperti ini saja membuat aku menitikkan airmata, siapa yang tau aku ini begitu cengeng, karena aku sangat galak kalau di kantor, hehehe… Kita memang tidak pernah bisa menilai penampilan luar orang. Seringkali malaikat ada di dekatmu, tidak dalam wujud yang kau bayangkan, tanpa sayap, tidak cantik jelita maupun rupawan. Jauh dari kesan anggun dan menawan, mungkin dia tampak begitu tak sempurna, tapi dia ada di dekatmu, selalu bersamamu, menolongmu dan mensupportmu, dengan caranya sendiri, yang mungkin kadang bagimu sangat jauh dari kelakuan malaikat seharusnya. Tapi dialah malaikat sejatimu…

“Goodbye Cikarang, I’m gonna miss you… Thank you for being nice to me for the last six months…”

Cikarang, 7 September 2013
~Jen~
09:25 pm

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »