Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My life journey’ Category

IMG01262-20121205-1740

Hujan gerimis di sore ini, memandang ke luar jendela dari lantai 16 gedung Plaza Mutiara dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dada. Aku memilih menulis daripada menangis ataupun marah-marah mengeluarkan segala kekesalan yang ada. Tulisanku, teman yang paling setia, yang tak banyak bicara, dan selalu ada. Heeehhh…. rasanya menarik napas sepanjang apapun masih gak cukup untuk menghilangkan semua penat ini… Memandang butiran air yang menetes di kaca gedung, melihat ke arah luar langit yang sedikit aneh, hujan gerimis, dengan awan gelap tebal, tapi di ujung sana masih terlihat sedikit cahaya matahari, benar-benar langit sore yang aneh, tapi indah menurutku…

Perut yang terasa lapar, diganjal dengan sebatang coklat toblerone, berharap manis nya bisa memberikan sedikit kegembiraan untuk hati ini. Lagu ‘I won’t give up’ nya Jason Mraz masih bersenandung di telinga lewat earphone, menutupi seluruh suara dari luar, hanya sesekali suara rintik hujan yang menyeruak masuk memanfaatkan sedikit celah yang ada.  Masih mengamati langit Jakarta sore ini, benar-benar aneh, sekarang warnanya sedikit kemerahan, bercampur dengan gelap, memberi kesan remang-remang, masih tetap indah menurutku…

Entah kenapa memberi judul tulisan ini ‘Impian, Kenyataan, dan Harapan’, mungkin karena merasa sedang berhadapan dengan ketiganya. Impian yang sedang dikejar, berhadapan dengan kenyataan yang ada, namun masih tak berhenti berharap. Fiuh, kenapa jadi kompleks ya rasanya. Semua ibarat langit sore ini, campur aduk tapi tetap terasa indah, karena begitulah hidup ini… Mencoba belajar dari setiap peristiwa yang ada, rasa sakit karena ketidakjujuran, kekecewaan karena tidak seperti yang dibayangkan, kepercayaan yang dihancurkan, impian yang terpaksa harus dibuang… semua datang silih berganti, tapi tak bertahan lama…

Mengamati segala perasaan yang timbul dan tenggelam, mencoba untuk bersikap netral, mengendalikan pikiran yang liar ini, sungguh bukan hal yang mudah… Ini adalah ujian terberat, lebih berat daripada harus menyelesaikan hitungan algoritma. Menghabiskan sisa potongan coklat terakhir, tak juga merasa sedikit gembira, mungkin otak ini sudah terlalu bebal, rasa ini sudah mati, atau justru sebaliknya terlalu peka? Entahlah…

Mencoba mengingat segala pesan yang pernah tersampaikan, menjalani kehidupan ini dengan tulus, menjalankan segala konsekuensi dari pilihan yang sudah diambil. Tidak perlu merasa kecewa bila tulus, tidak perlu merasa sakit hati bila melakukan dengan tulus, tidak perlu marah bila tulus. Benar-benar tidak mudah, sungguh tidak mudah… tapi bila ini teratasi, aku percaya hal yang baik tengah menantiku. Seperti pelangi yang menampakkan diri saat matahari berhasil menyeruak diantara gelapnya langit yang tengah menangis, membiaskan titik-titiknya menjadi sapuan warna warni yang indah…

Langit di luar sana sudah gelap, semakin indah, karena sekarang kulihat titik-titik sinar yang gemerlapan bertebaran di bawah sana… Sudah lama tidak menikmati langit malam dengan lampu-lampu kecilnya, sinar-sinar yang memberikan harapan. Mungkin buat orang-orang, aku ini aneh, bahkan teman dekatku mulai mengatakan aku aneh. Aku sendiri tidak suka menjadi aneh, aku sendiri ingin menjadi biasa-biasa saja. Tapi aku harus menerima diriku apa adanya, dengan segala keanehan ini, kepekaan yang tinggi, yang selalu menangkap rasa yang tak terlihat, terkecap, teraba ataupun terdengar, dan otak yang seringkali berpikir keras untuk mencari jawaban atas segala rasa itu. Kadangkala aku lelah, sangat lelah, tetapi pada satu titik meyadari ini adalah berkah, dan berkah sepatutnya disyukuri.

Semua ini adalah proses dalam hidupku, segala yang terjadi pasti ada alasannya, ada yang masih harus kupelajari, ada yang harus kurelakan, ada yang harus kulalui… semoga aku mampu menjalaninya, demi sebuah harapan yang rela kutukar dengan apapun milikku, termasuk impianku… semoga ‘Tuhan’ mendengar doa tulusku…

Jakarta, 5 Desember 2012

~Jen~

06:44 pm

Read Full Post »

Sayap-sayap patah…

ini bukan puisi dari Kahlil Gibran,

tapi tak lebih dari sebuah gejolak dari dalam batin,

yang tiba-tiba menyeruak muncul dan memberi kesadaran…

Sayap-sayap patah…

Entah mengapa aku merasa sayapku sedang dipatahkan,

Entah mengapa aku merasa harusnya sudah terbang jauh dan tinggi,

Menuju ke arah cahaya mentari…

Kalian bisa saja mematahkan sayap-sayap kecilku,

Tapi tidak impianku! Ingat!

Kalian bisa saja memadamkan gairahku,

Tapi tidak semangat juangku!

Lihatlah, tunggulah saja!

Rasa sakit ini tidak menyurutkan langkahku,

Rasa sakit ini laksana bensin yang menyulut api dalam diriku,

Membakar semangatku, memicuku meraih impianku!

Tunggu saja, tunggu saja!

Tunggu sampai sayap kecil ini pulih,

Tunggu hingga sayap ini bisa mengepak kembali,

Dan ia akan membawaku terbang lebih tinggi lagi!

Saat itu jangan kalian salahkan aku,

jika terpaksa aku harus pergi meninggalkan kalian,

Wahai ranting-ranting yang menghalangiku…

Jakarta, 27 November 2012

~Jen~

Read Full Post »

I won't give up!

              

Lagi lagi harus terdampar di pinggir luar Jakarta, kali ini di Cileungsi, desa bener dah ini tempat, kalau suruh pergi sendiri mah kagak bakalan nyampe kayaknya, untung kali ini minta dijemput sama supplier. Udah nyampe sini jam 9 pagi, gara-gara tukang tinta telat datang, alhasil buang waktu setengah hari, padahal yang mau di proof ada 4, ini cuma kebagian 3 deh, mana warnanya gak ketemu-ketemu, haizzz….

Dan lagi-lagi ujan lagi… deres banget dan rada serem, untung tadi bawa sweater, kalo gak udah mati beku di ruangan ini sendirian, untung peralatan perang lengkap, laptop, charger, ipad, handphone, jadi setidaknya kagak mati bosen. Tetep aja biar nun jauh di sini kerjaan jalan terusss… makanya gue gak pernah bisa lepas dari hape, bb, laptop, modem, dan gadget-gadget lainnya yang menghubungkan gue dengan dunia luar sana, hihihi… kek kemana aja ya?

Beberapa hari ini lagi sering denger lagu I won’t give up nya Jason Mraz, hohoho… pertama karena suka musiknya, iseng cari liriknya, eh ternyata lumayan bagus juga ya. Cerita orang yang gak akan menyerah terhadap pasangannya, gak mau melepaskan begitu aja.

Gara-gara ini jadi inget postingan boss soal DREAM kemaren, sebuah artikel motivasi yang mengatakan kalau kita harus mengejar ‘mimpi’ kita, orang lain boleh mengecilkan kita, bilang kita gak mampu, tapi kita tetap harus berjuang untuk ‘mimpi’ itu.

Hehehe… emang gak ada yang kebetulan ya, dan susahnya jadi gue adalah, tingkat kepekaan yang tinggi ini selalu mengirim sinyal ke otak dan otak dengan cepat memprosesnya, menjadi sebuah pemikiran dan akhirnya pemahaman, sebuah petunjuk untuk gue. Yah, gue gak boleh menyerah, tadi jadi inget, kayaknya lagu I won’t give up ini ada versi Indonesia nya deh, itu dari D’masive, judulnya ‘Jangan Menyerah’ wkwkwk… mirip lah ya (maksa) 😛

Gak bisa komen panjang-panjang kali ini secara udah kelar neh yang harus diproof, bentar lagi gue bakal diusir pulang dari sini, harus matiin laptop, so pesan hari ini singkat padat dan jelas. I won’t give up! Mimpi itu harus dikejar, ada saatnya kita hanya perlu berhenti sejenak, menarik nafas sebentar untuk kemudian kembali berlari lebih kencang lagi!

I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make

I won’t give up!

Cileungsi, 23 November 2012
~Jen~

Read Full Post »

HUJAN

Aku suka hujan, saat rinainya turun perlahan jatuh menyentuh bumi dan menjadikannya basah, menghalau kekeringan yang telah sekian lama mendera.

Aku suka hujan, saat airnya menetes di atap rumah dan menimbulkan bunyi yang membentuk irama lagu alam nan indah.

Aku suka hujan, saat titik airnya menetes di atas daun, lalu turun meluncur dengan bebasnya, beradu cepat antara satu dan lainnya.

Aku suka hujan, saat angin kencang meniupnya, membawa butiran kecilnya menerpa wajah dan tubuhku hingga basah, memberikan kesegaran yang menyadarkan.

Aku suka hujan, saat tetesannya berbaur dengan airmataku sehingga tidak ada yang tahu saat aku menangis.

Aku suka hujan, karena derainya serasa melarutkan segala kesedihanku, dan membuatku kembali tersenyum saat mentari kembali bersinar dan membiaskan pelangi di langit sana, bak memberikan sebuah harapan yang baru.

Jakarta, 18 November 2012
~Jen~

Saat hujan turun membasahi langit Jakarta siang ini…

20121118-123246 PM.jpg

Read Full Post »

IMPIAN

Setiap orang pasti punya impian dalam hidupnya, saya, anda, dia, mereka, masing-masing pasti punya impian yang hanya kita sendiri yang tahu. Sejujurnya beberapa orang juga masih tidak begitu paham sebenarnya apa sih impian atau cita-citanya? Sewaktu saya kecil, saya pernah bercita-cita jadi penari ballet, padahal belajar ballet pun saya tidak pernah. Saya hanya suka melihat keindahan dari kostum maupun gerak si penari ballet, karena itu dalam hati saya lalu timbul keinginan untuk menjadi ballerina.

Di lain waktu saya sempat pula begitu ingin menjadi pemain ice skating, sempat terpikir ingin punya toko kue yang lucu ataupun membuka bridal. Karena terlalu banyak keinginan saya, mami saya sampai bilang, “ah kamu terlalu banyak maunya tapi tidak ada satupun yang ditekuni”. Setelah saya dewasa saya pikir ada benarnya sih omongan mami saya, tapi saya jadi kembali mikir, semua keinginan-keinginan itu hanyalah sekedar ‘ingin’ sesaat saja, tapi bukan benar-benar impian saya.

Tidak mudah menemukan apa yang benar-benar menjadi impian kita. Sepanjang hidup saya selama lebih dari 30 tahun ini, rasanya baru sekitar 8 tahun yang lalu untuk pertama kalinya saya benar-benar memahami apa impian saya sebenarnya. Ternyata saya begitu ingin menjadi seorang marketer dimana produk yang saya hasilkan dapat dikenal dan digunakan serta bermanfaat bagi orang banyak. Hmmm impian yang cukup sederhana ya, tapi ternyata untuk menyadarinya saya butuh 26 tahun.

Ternyata semua impian itu juga ada dasarnya, mengapa saya bisa begitu ingin jadi seorang marketer? Ternyata kalau saya coba ingat-ingat lagi, dari kecil saya sudah terbiasa membantu papi saya jualan di toko yang menjadi mata pencaharian keluarga kami, dan seringkali di waktu senggang saya dan papi, berdua, membahas banyak hal sehubungan dengan produk yang dijual di toko kami. Papi saya adalah guru marketing saya yang pertama, dan bagi saya ia sangat hebat. Mungkin kebiasaan kecil ini dan rasa sayang saya kepada papi saya yang membuat hal ini begitu membekas di hati saya dan akhirnya menjadi jalan yang saya pilih untuk karir saya.

Tapi layaknya cerita sinetron ataupun dongeng, kehidupan nyata juga seperti itu adanya. Mengejar impian itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dalam perjalanan karier saya yang terbilang rata-rata relatif singkat, saya seringkali dihadapkan pada situasi yang membuat saya tidak dapat meraih apa yang saya impikan. Namun sejauh ini saya sangat konsisten dengan impian saya sehingga pada akhirnya menyebabkan saya sering pindah kerja seolah saya ini kutu loncat yang tidak betah. Hanya saya yang tau alasan mengapa saya pindah dari satu tempat ke tempat lain, apapun alasan yang saya katakan jelas hanya akan terdengar sebagai ‘excuse’ bagi orang lain. Tapi saya tidak perduli, setiap langkah yang saya ambil bagi saya adalah yang terbaik untuk saya, untuk impian saya, toh nyatanya sampai detik ini saya merasa akhirnya benar-benar bisa lengkap belajar.

Kembali kepada impian, saat ini saya merasa sudah dihadapkan pada sebuah tantangan, impian saya ada di depan mata dan menanti untuk saya wujudkan, namun ternyata lagi-lagi hidup ini memang ternyata layaknya sinetron, nasib baik ternyata memang jarang berpihak pada saya. Impian saya kembali terbentur satu hal. Saya sedih, sangat sedih, karena untuk melepas sesuatu yang begitu kamu cintai itu tentunya sangatlah berat. Tapi saya menyadari, saya pun tidak boleh egois, ada kepentingan yang lebih besar yang harus saya pikirkan. Maka dengan berat hati kembali kali ini saya harus membuang impian saya.

Ternyata rasanya sangat menyakitkan, memang dibutuhkan kekuatan yang besar untuk dapat melepas, karena satu sisi kamu berhadapan dengan ego-mu sendiri. Tapi hidup tidak berhenti sampai di sini, betapapun menyedihkannya, menyakitkannya, semua adalah pilihan yang sudah saya ambil dan sebagai konsekuensinya harus saya terima dengan lapang dada.

Dalam setiap peristiwa selalu ada pelajaran dan hikmah buat kita, segala rasa sakit bagaikan obat yang jika kita yakini akan menyembuhkan sebagian dari diri kita yang ‘sakit’. Hidup adalah sebuah proses, setiap peristiwa harus kita hadapi dengan berani dengan sepenuh hati, rasa syukur dan ikhlas. Mungkin nilai-nilai inilah yang masih harus saya pelajari sehingga selalu saja saya menghadapi rintangan dalam menggapai impian saya.

Saya percaya ada rencana besar di balik ini semua, tujuan hidup saya yang mendasar, yang lebih dari sekedar impian ini. Bagaimana saya harus belajar melepas ego saya, melatih kesabaran saya dan semuanya untuk tujuan akhir yang saya yakini lebih indah, yang sudah ‘Tuhan’ siapkan untuk saya. Semoga saya diberikan kesabaran, ketabahan, ketulusan, keikhlasan dan kebaikan dalam menghadapi semua permasalahan ini. Sadhu sadhu sadhu.

Jakarta, 17 November 2012
~Jen~

Read Full Post »

Hm… Udah satu tahun lebih blog ini terlantar, karena penulisnya sibuk kerja, otaknya cuma diisi kerjaan, yang dipikirin sih banyak, yang mau ditulis juga mungkin segudang, tapi ya itu, otaknya terlalu capek sampai gak bisa memerintahkan syaraf untuk menggerakkan tangan dan menulis di blog ini.

Sekarang, tengah malam menjelang pagi, saat penyakit lama kambuh (baca: insomnia), kebiasaan yang gak tau bagus atau buruk, cuma bisa tidur sebentar, karena tidur jam 9an lalu jam 1 malam terbangun, dan sekarang malah gak bisa tidur lagi karena abis nangis! ►˛◄ ђª!zZ (>_<!') Pusing juga… Syukurlah teknologi sekarang canggih, gak perlu buka komputer or laptop, ipad juga lagi dicharge, masih ada blackberry yang bisa dipakai blogging hihihi… Tulisan pertama yang ditulis pakai blackberry, hmmm asal jangan sering2 kayaknya bisa kapalan jempolnya neh!

Malem ini benernya gak tau mo nulis apa, ya sekedar obrolan ringan mungkin sesuai kategori nya, chit chat ala gue, pengisi waktu menunggu sang mentari terbit, cieee bahasa puitisnya mulai keluar deh. Benernya kangen nulis yang bener, loh jadi yang sekarang gak bener nih? Hihihi… Ya baca aja yang sekarang mungkin lebih mirip ocehan orang yang mabok, tapi kadang perlu juga yang begini, daripada terlalu serius ya gak?

Bingung nentuin judul juga sampe akhirnya keluarlah kata 'PILIHAN' (lagi), karena mungkin dulu udah pernah nulis topik yang mirip tapi versi serius hohoho. Kenapa pilihan? Karena lagi merasa harus memilih, merasa sudah salah memilih, merasa terlanjur memilih, nah loh?! Ini maksudnya apa ya? Hehehe… Hidup ini kan rangkaian pilihan, setiap yang kita lakukan benernya adalah pilihan, sampai ke detik ini adalah hasil dari banyak pilihan-pilihan yang sudah kita buat.

Malam menjelang pagi ini lagi pengen sejenak mengingat-ingat pilihan yang sudah dibuat, dari urusan milih kerjaan, sempat mikir seandainya dulu milih itu bukan ini, lalu mundur lagi ke belakang, waktu masa-masa kuliah, sendainya ambil jurusan itu bukan ini, kuliah di sana bukan di sini, mundur lagi ke jaman SMU, seandainya waktu SMU begitu, bukan begini, tarik mundur lagi jaman SMP, kalau saja waktu SMP aku bertindak ini, bukan begitu, mundur lebih jauh lagi ke SD, coba waktu SD aku ini seperti ini, bukan seperti itu, lalu mundur lagi ke jamannya TK, seandainya waktu TK gak bareng sama kakakku, walah ujung-ujungnya malah mikir, seandainya dulu aku tinggalnya gak di situ, lalu pikiran lebih jahat lagi, seandainya aku lahir bukan di keluarga ini tapi keluarga itu, lebih gila lagi ujung-ujungnya malah seandainya aku gak pernah lahir! Nah loh?! Udah mentok deh kalau sampe sini hihihi… Lalu seperti video yang tadi udah direwind, sekarang dengan cepet balik lagi ke posisi saat ini! Ya, cuma saat ini yang ada, hidup bukan seperti DVD yang bisa direwind, dimundurin lagi atau malah bisa diedit-edit ulang. Ada pepatah bilang hidup seperti aliran air yang mengalir, yang sudah dilewati tak bisa kembali lagi. Hmmm jadi mikir bener-bener pengennya sih punya mesin waktu ya! Hahaha…

So stop crying for the past! Benernya ini intinya. Yang sudah lalu gak perlu ditangisi atau disesali, sebenarnya semua itu adalah proses yang memang harus dilalui dan yang menjadikanmu seperti saat ini. Cieee sok filosofis deh gue, udah tambah gak ngantuk nih cuy… Hahaha… Benernya kalau mo dipikirin nanti ya seperti yang gue tulis di atas tadi, apa yang disesali akan banyak sekali, coba begini begitu nya akan panjang dan ujung-ujungnya kalo gue sampe kepikir coba gak dilahirin! Tapi kan gak mungkin (untuk saat ini karena dah terlanjur lahir hihihi), yang ada sekarang justru gimana caranya bisa menerima konsekuensi dari segala pilihan yang udah kita ambil.

Penyesalan emang datang terlambat, dulu ada yang bilang nyesel yang duluan itu cuma nyesel karena berdiri di depan kambing yang tau-tau nyeruduk kita dari belakang, hahaha! Jadi emang gak ada gunanya menyesal, toh udah kejadian, yang penting kita bisa belajar dari setiap kejadian yang sudah terjadi, hmmm sok filosofis lagi deh gue hihihi…

Yah yah yah, dalam hidup gue juga banyak penyesalan, tapi gue bersyukur, gue melalui semua itu dan itu menjadikan gue seperti hari ini. Ke depan masih banyak pilihan-pilihan di dalam hidup ini yang harus gue buat, apapun hasilnya dari pilihan itu, gue udah ikhlas. Orang bijak bilang, jalanilah hidup dengan tulus dan ikhlas, baru kita bisa merasakan kebahagiaan. Semoga ya, gue sendiri belom bener-bener bisa melakukannya. Banyak hal yang belum bisa gue terima, yang kalau mau gue pikir ulang adalah semata-mata karena ego gue yang terlalu besar. Heh… Bicara ego akan tambah pusing lagi. Udah deh nanti bisa panjang banget neh tulisan, dan jadi serius dan loe mulai males bacanya, hahaha!

Yah kesimpulan dari ocehan gila gue menjelang pagi ini adalah, gue gak bisa menyesali apa yang sudah terjadi, yang terjadi semua adalah konsekuensi dari apa yang udah gue pilih, ke depan gue harus bener-bener bisa memilih dengan bijak, dan apapun hasilnya itu nantinya, gue harus bisa menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas. Gue harus belajar menerima kekurangan diri gue sendiri, juga kelebihannya, yang terparah adalah kelebihan berat badannya! Hahaha… Ya gue harus menerima ketidaknormalan gue, kegilaan gue, dan apapun itu yang ada di gue, lalu menjalani kehidupan ini dengan penuh rasa syukur dan tulus. Aiiihh kenapa tiba-tiba gue nangis? Ini termasuk ketidaknormalan gue lagi, ada saat-saat gue bisa meneteskan airmata tanpa sebab. Menulis ini serasa bukan gue yang nulis, makanya gue nangis, ada yang ingin bilang ini ke gue, tertuang dalam tulisan gue yang rada kacau ini, tapi maknanya kalau dibaca sangat dalam. Gue tau banyak yang sayang gue, gue berterima kasih dan bersyukur karenanya. Untuk setiap yang tak terlihat yang selalu mendampingi gue, mengajari gue, menegur dan menasihati gue, terima kasih sekali, kalian semua membuat gue tetap bertahan hidup hingga saat ini dan belajar untuk menjadi lebih baik.

Aduh air mata nya gak mo berhenti, gue udah gak tau musti nulis apa lagi. Gue perlu menenangkan diri dulu, untuk bisa mengerti apa yang perlu gue lakukan. Dah ya semua, sampai di sini dulu obrolan malam menjelang pagi kita. See yaaa!!!

Read Full Post »

Sejak semula kupikir hatiku bagai kristal kaca
Begitu bening dimana dapat kau lihat wajahmu di sana
Yang mampu memantulkan cahaya hingga berkilau tujuh warna

Sejak semula kupikir hatiku bagai kristal kaca
Yang begitu rapuh dan mudah terluka
Dengan sedikit benturan akan tergores bahkan hancur tak bersisa

Kerasnya hantaman batu akan menghancurkanku!
Tajamnya mata pisau akan menggoresku!
Panasnya bara api akan membakarku!

Ternyata aku salah…
Hatiku bukanlah kristal kaca,
Hatiku adalah telaga…

Hantaman batu hanya membuat riak kecil di sana,
dan itu pun tak lama…
Tajamnya pisau takkan pernah membuat luka,
Apalagi api tak ada tempat baginya tuk membara…

Karena hatiku adalah telaga…
Yang luas bak samudra,
Bening bak kristal kaca…

Hatiku adalah telaga…
Yang menanti sang riak untuk tiada…

Jakarta, 16 August 2011

 ~Jen ~

感恩上人, 你打开我的眼睛…

Read Full Post »

Akhir-akhir ini entah kenapa aku jadi punya kegiatan baru, kegiatan yang semula sama sekali tidak aku sukai. Menonton film di bioskop, ya, dulu aku tidak suka nonton film di bioskop, karena buatku agak sedikit membosankan, harus duduk manis di ruangan yang gelap selama 2 jam bersama orang-orang yang tidak aku kenal. Herannya justru sekarang di saat film-film import sulit masuk ke Indonesia, aku malah jadi hobby menonton. Sebenarnya ini pun bukan merupakan hobby, kegiatan ini hanyalah sekedar untuk menghabiskan waktu ku, menghilangkan kepenatan di tempat kerja. Dan yang terutama, aku selalu mencari hal-hal baru dan pembelajaran dari setiap film yang aku tonton.

Sesungguhnya dari segala hal kita bisa belajar, bahkan dari hal kecil di sekeliling kita, yang kita lakukan sehari-hari pun, kita bisa belajar, asalkan kita mau sedikit lebih peka dan melihat dari segala sisi. Mungkin karena ‘hobby’ belajar ini pula yang membuat otak ku jadi terbiasa berpikir dan aku jadi seorang pemikir. Entahlah, kadangkala melelahkan memang, tapi dibandingkan rasa lelah, kupikir ‘pelajaran’ yang kudapat jauh lebih berharga.

Lucunya lagi seringkali pelajaran yang kudapat itu seperti menjawab pertanyaan yang sedang berkutat di otakku, ataupun sekedar mengingatkanku bagaimana seharusnya mengambil sikap dalam menghadapi permasalahan yang tengah terjadi. Seperti yang selalu kuyakini, ‘Tuhan’ selalu punya cara-Nya sendiri untuk ‘menegurku’ atau sekedar ‘mengingatkanku’…

Dari empat film yang kutonton dalam waktu satu setengah bulan terakhir ini, aku belajar banyak hal, bahkan ada yang seolah memberi ‘tamparan’ cukup keras, yang membuatku tersadar akan kesalahanku selama ini. Dan sekarang, aku mencoba menuliskannya kembali satu per satu, menuliskan kembali apa yang aku dapat, sebagai pengingat untuk diriku, kelak jika aku lupa atas pelajaran ini.

Berperan Hingga Akhir Cerita

Dalam hidup ini, siapa yang tidak memiliki masalah? Sesungguhnya hidup itu sendiri adalah sebuah ‘masalah’, dan bisa juga menjadi ‘bukan masalah’. Masalah ada karena kita menganggapnya demikian. Saat menghadapi sebuah kejadian yang kita anggap suatu ‘masalah’, kita seringkali tidak dapat mengontrol diri kita. Kemarahan, kebencian, dendam, putus asa, segala reaksi bisa saja terjadi karena kita tidak dapat berpikir dengan jernih. Salah satu adegan di film ‘My Sassy Girl’ yang aku tonton, memperlihatkan bagaimana seorang pria yang kecewa karena dikhianati kekasihnya berniat untuk membunuh sang kekasih beserta pacar barunya. Saat diingatkan kalau tindakannya itu malah justru akan merugikan dirinya, dia berbalik ingin bunuh diri. Tetapi lagi-lagi dia diingatkan, bunuh diri pun bukan penyelesaian masalah. Dengan kematiannya apakah akan membawa dampak bagi si kekasih? Kematiannya mungkin tidak akan berarti apa-apa, dan hanya sia-sia belaka. Saat itu si pemeran utama wanita mengatakan ke pria ini, bahwa memang menyakitkan dikhianati dan mengalami hal yang demikian, tetapi hidupnya tetap terus berjalan, dengan atau tanpa kekasihnya. Dia harus memainkan perannya sendiri dalam kehidupan ini hingga usai.

Rasa putus asa seringkali membuat orang berpikir pendek dan ingin mengakhiri hidupnya, padahal kehidupan ini sungguh berharga. Segala kesusahan, segala kesedihan, kesenangan dan kegembiraan, tidak ada yang abadi, semua hanyalah ilusi dan akan berlalu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian, seberapa senangnya kita, seberapa sedihnya kita saat ini, semua akan segera berlalu, karena kita hidup di ’saat ini’ yang terus berjalan, ’saat ini’ yang tidak pernah sama dari detik ke detik. Jadi janganlah berhenti sebelum ’peran’ mu usai, karena kamu tidak akan tahu akhir dari cerita hidupmu.

Takdirmu Ada di Tanganmu

Masih dari film yang sama, ‘My Sassy Girl’, adegan menjelang akhir cerita benar-benar seperti sebuah tamparan buatku. Diceritakan si pemeran utama wanita dan pemeran utama pria sama-sama menuliskan surat dan menyimpannya di bawah sebuah pohon di taman. Mereka lalu berjanji untuk bertemu kembali di tempat itu setahun kemudian untuk saling membaca isi surat mereka masing-masing. Saat yang ditentukan, hanya si pria yang datang, dan di surat wanita itu menulis bahwa sebenarnya dia memiliki seorang kekasih yang sudah meninggal, dan rasa kehilangannya belumlah pulih. Jika pada hari yang ditentukan dia datang ke tempat itu, maka itu berarti dia sudah pulih, dan jika dia tidak datang, itu berarti dia belum pulih dan untuk itu dia tidak mungkin bersama dengan si pria. Dengan ketidakhadiran si wanita, jelas berarti dia masih belum sembuh dari rasa kehilangannya dan mereka tidak dapat bersama. Namun ternyata keesokan harinya si wanita datang ke tempat itu, dia telah pulih dari rasa kehilangannya, sehari setelah tanggal yang ditentukan. Di sana si wanita bertemu dengan seorang kakek yang menasihatinya untuk menelepon si pria, tetapi apa yang dikatakan si wanita? Kenyataan bahwa dia pulih sehari setelah tanggal yang dijanjikan itu menandakan kalau ’takdir’ mereka memang tidak untuk bersama. Dan si kakek mengatakan kalau takdir itu seharusnya dia sendiri yang menentukan, bukannya lantas dia pasrah terhadap takdir.

Menyaksikan adegan ini membuatku teringat dengan diriku sendiri. Selama ini aku selalu melakukan hal yang serupa. Saat pindah kerja misalnya, kadangkala aku seperti ’bermain judi’, jika diterima aku pindah, jika tidak ya sudah, walaupun seringkali apa yang ditawarkan di tempat kerja baru tidak sebaik di tempat kerja sebelumnya. Padahal bisa saja aku menolak jika memang  penawarannya tidak sesuai, tetapi aku menerimanya atas nama ’takdir’!. Entah kalau mau dihitung sudah berapa banyak hal serupa terjadi, termasuk saat aku menyukai seseorang, aku pun melakukan hal yang sama. Jika dia membalas sapaanku, berarti dia jodohku, dan seterusnya. Dan disadari atau tidak, tindakanku ini secara tidak langsung adalah ’menyerah’ pada keadaan. Aku sama sekali tidak berusaha untuk ’mengejar’ apa yang aku inginkan. Kadangkala sempat terbersit kalau harusnya aku bisa lebih dari aku yang sekarang, tetapi karena ’pasrah pada takdir’ tadi, aku hanya jadi aku yang sekarang. Menyesalkah aku? Ya aku menyesal, menyesal karena baru menyadarinya sekarang . Tetapi bukan penyesalan yang terpenting, yang terpenting adalah bagaimana aku bisa menyadari kalau takdir itu kita sendiri yang menentukan. Sekalipun kadangkala memang ada hal di luar kuasa kita yang menentukan, tetapi itu pun sesunggunya ’diri kita’ juga yang menentukan. Kita sendirilah penulis naskah untuk cerita yang akan kita jalani dalam kehidupan ini. Jadi tentukanlah jalan cerita yang terbaik untuk diri kita masing-masing, dan perankanlah itu sebaik-baiknya. Cerita sedih ataukah bahagia, sesungguhnya tidaklah penting, bagi seorang aktor yang utama adalah memerankan cerita hingga usai dengan sebaik-baiknya…

Jakarta, 1 July 2011

~Jen~

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »