Feeds:
Posts
Comments

photoSudah lama tidak nonton film, karena merasa harus meluangkan waktu untuk diri sendiri dan atas saran beberapa teman, akhirnya memutuskan untuk menonton film “Life of Pi”. Seperti biasa, dari setiap film yang aku tonton, pastinya ada pelajaran yang bisa diambil. Kali ini aku mencoba menulis apa yang aku tangkap dari film tersebut, terlepas dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh si penulis cerita ataupun sang sutradara, di sini aku menuliskan apa yang aku ‘rasa’kan dari menonton film tersebut. Jadi bisa saja ini tidak seperti maksud yang ingin disampaikan oleh si pembuat cerita, tapi buatku ini adalah ‘pesan’ yang tertangkap dan inilah yang akan kutuliskan di sini.

Awal film ini lebih banyak adegan berbicara, yang buat sebagian orang mungkin agak sedikit membosankan, walaupun dalam setiap adegan itu tetap saja terkandung banyak pesan dan nilai, tetapi aku juga tidak terlalu tertarik untuk menuliskannya di sini. Sejujurnya tidak seperti film-film lainnya, dimana saat menonton pun aku sudah bisa menangkap ‘pesan’ yang ingin disampaikan, untuk film ini aku perlu berpikir untuk bisa memahami apa yang ingin disampaikan, entahlah mungkin aku sedikit kurang konsentrasi waktu menonton karena masih diselingi mengerjakan kerjaan kantor yang kebetulan darurat, atau memang karena pesan yang ingin disampaikan terlalu dalam.

Buatku, pesan dari film ini dimulai dari perjuangan Pi di tengah lautan, dan harus hidup berdua saja dengan Richard Parker si macan bengala. Richard Parker sesungguhnya melambangkan ‘keakuan’ dalam diri setiap manusia. Manusia terlahir dan hidup dalam samsara ini dengan membawa keakuan dalam diri masing-masing, seperti juga Pi yang harus tinggal bersama Richard Parker terombang-ambing di tengah lautan. Aku bisa melihat betapa angkuh dan sombong nya si macan, karena mungkin merasa di sana dialah yang paling hebat, seperti halnya ‘keakuan’ dalam diri kita masing-masing yang sering merasa kitalah yang paling hebat dari orang lain. Dengan kesombongan dan ‘alasan’ mempertahankan hidup, ‘aku’ seringkali mengorbankan makhluk lainnya, seperti si macan yang memangsa zebra, hyena dan orang utan. Keserakahan si ‘aku’ juga diperlihatkan oleh si macan saat adegan perahu mereka dilewati ikan-ikan terbang. Richard Parker si macan, masih ingin merebut ikan yang besar dari Pi, padahal sudah begitu banyak ikan-ikan yang bisa ia santap yang berjatuhan di dalam perahu tersebut. Entah mungkin merasa tidak cukup, mungkin merasa ikan yang besar itu lebih baik, atau bisa jadi karena merasa harus mendapatkan ‘yang lebih’. Seperti itu juga kita manusia selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah ada pada diri kita, hidup kita. Satu adegan memperlihatkan kebodohan si ‘aku’, saat Richard Parker terjun ke laut demi memangsa ikan yang ada di laut. Saat itu jelas ia tidak berpikir panjang, yang ada di pikirannya mungkin hanya bagaimana caranya dapat menyantap ikan-ikan tersebut, tanpa berpikir caranya dia bisa kembali ke atas perahu, dan bahwa ada resiko dia akan mati karena harus berada di tengah samudra yang begitu luas. Atau bisa jadi sebenarnya dia tahu resiko itu, hanya saja keserakahan dan mungkin kesombongannya sudah membuatnya melakukan tindakan bodoh itu. Demikian halnya dengan manusia, seringkali melakukan tindakan-tindakan yang bisa menjerumuskan diri mereka sendiri, karena ‘kebodohan’ mereka, yang akhirnya membuat mereka terus berada di samudra samsara ini.

Lalu bagaimana dengan Pi sendiri? Di awal perjalanan Pi lebih banyak ‘takut’ dengan Richard Parker, lalu pada akhirnya Pi merasa harus mulai berkomunikasi dan ‘berdamai’ dengan si macan, karena menyadari harus melalui perjalanan itu hanya berdua dengan si macan. Beberapa dari kalian yang membaca kalimat yang aku tulis ini mungkin bisa menangkap maksudnya, tapi buat yang lain mungkin tidak mengerti. Kita hidup di dunia ini, masing-masing membawa ‘keakuan’ kita, dan itulah yang sebenarnya membuat kita masih lahir dan lahir lagi di samsara ini. Sebagian besar kita tidak menyadari bahwa kita harus hidup bersama si ‘aku’ yang sangat berbahaya, seperti Pi yang harus hidup bersama si macan di tengah lautan. Menaklukkan ‘keakuan’ seperti halnya Pi yang berusaha menjinakkan Richard Parker. Tidak selamanya cara yang keras bisa digunakan untuk menaklukkan hal-hal di dunia ini, tapi pada satu titik, ‘berdamai’ dan ‘memahami’ adalah ‘kunci’ dari ‘menaklukkan’ itu sendiri. Sesaat setelah badai, Pi memangku Richard Parker yang sudah kelelahan, pada saat itulah mereka bisa ‘menyatu’.

Saat akhirnya perahu mereka bisa tiba di daratan, Richard Parker pergi meninggalkan Pi, dalam film itu dikisahkan Pi merasa sedih karena menyadari selamanya tidak pernah bisa bersahabat dengan Richard Parker dan merasa menyesal mengapa Richard Parker meninggalkannya setelah apa yang mereka lalui, tanpa ia sempat menyampaikan kata perpisahan. Buat aku adegan ini adalah klimaks, kepergian Richard Parker meninggalkan Pi seorang diri setelah mereka sampai di daratan adalah apa yang memang seharusnya terjadi. Setelah kita bisa ‘menaklukkan’ sang ‘aku’ dalam diri kita masing-masing dan mencapai ‘pantai seberang’, pada saat itu kita memang harus ‘melepas’ sang ‘aku’ sehingga sudah tidak ada lagi ‘aku’, itulah tujan akhir dari perjalanan ini…

Fiuuuhh… tulisan kali ini agak berat ya, mungkin banyak dari kalian yang tidak memahami, tapi tidak mengapa, aku menuliskan ini atas dasar apa yang aku tangkap dan pahami, aku tidak menuntut dari kalian yang membacanya setuju ataupun bisa mengerti. Karena aku menyadari masing-masing orang sedang menempuh perjalannya sendiri, dan sejauh mana perjalannya, hanya diri masing-masing yang tahu. Tidak memahami ini sekarang bukan berarti selamanya tidak akan bisa memahami, hanya saja mungkin aku sudah melalui bagian ini, sementara yang lainnya belum. Bisa jadi ada yang sudah jauh melewati bagian ini, jauh berada di depanku dan merasa bukan seperti ini seharusnya? Tidak apa-apa, itu sah-sah saja, benar dan salah itu relatif, dan kembali kutegaskan ini adalah pemahaman yang aku dapat, bisa diterima bisa juga tidak, anggap saja sebagai dongeng atau bacaan dikala iseng jika tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiranmu.

Jakarta, 9 Desember 2012

~Jen~

IMG01262-20121205-1740

Hujan gerimis di sore ini, memandang ke luar jendela dari lantai 16 gedung Plaza Mutiara dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dada. Aku memilih menulis daripada menangis ataupun marah-marah mengeluarkan segala kekesalan yang ada. Tulisanku, teman yang paling setia, yang tak banyak bicara, dan selalu ada. Heeehhh…. rasanya menarik napas sepanjang apapun masih gak cukup untuk menghilangkan semua penat ini… Memandang butiran air yang menetes di kaca gedung, melihat ke arah luar langit yang sedikit aneh, hujan gerimis, dengan awan gelap tebal, tapi di ujung sana masih terlihat sedikit cahaya matahari, benar-benar langit sore yang aneh, tapi indah menurutku…

Perut yang terasa lapar, diganjal dengan sebatang coklat toblerone, berharap manis nya bisa memberikan sedikit kegembiraan untuk hati ini. Lagu ‘I won’t give up’ nya Jason Mraz masih bersenandung di telinga lewat earphone, menutupi seluruh suara dari luar, hanya sesekali suara rintik hujan yang menyeruak masuk memanfaatkan sedikit celah yang ada.  Masih mengamati langit Jakarta sore ini, benar-benar aneh, sekarang warnanya sedikit kemerahan, bercampur dengan gelap, memberi kesan remang-remang, masih tetap indah menurutku…

Entah kenapa memberi judul tulisan ini ‘Impian, Kenyataan, dan Harapan’, mungkin karena merasa sedang berhadapan dengan ketiganya. Impian yang sedang dikejar, berhadapan dengan kenyataan yang ada, namun masih tak berhenti berharap. Fiuh, kenapa jadi kompleks ya rasanya. Semua ibarat langit sore ini, campur aduk tapi tetap terasa indah, karena begitulah hidup ini… Mencoba belajar dari setiap peristiwa yang ada, rasa sakit karena ketidakjujuran, kekecewaan karena tidak seperti yang dibayangkan, kepercayaan yang dihancurkan, impian yang terpaksa harus dibuang… semua datang silih berganti, tapi tak bertahan lama…

Mengamati segala perasaan yang timbul dan tenggelam, mencoba untuk bersikap netral, mengendalikan pikiran yang liar ini, sungguh bukan hal yang mudah… Ini adalah ujian terberat, lebih berat daripada harus menyelesaikan hitungan algoritma. Menghabiskan sisa potongan coklat terakhir, tak juga merasa sedikit gembira, mungkin otak ini sudah terlalu bebal, rasa ini sudah mati, atau justru sebaliknya terlalu peka? Entahlah…

Mencoba mengingat segala pesan yang pernah tersampaikan, menjalani kehidupan ini dengan tulus, menjalankan segala konsekuensi dari pilihan yang sudah diambil. Tidak perlu merasa kecewa bila tulus, tidak perlu merasa sakit hati bila melakukan dengan tulus, tidak perlu marah bila tulus. Benar-benar tidak mudah, sungguh tidak mudah… tapi bila ini teratasi, aku percaya hal yang baik tengah menantiku. Seperti pelangi yang menampakkan diri saat matahari berhasil menyeruak diantara gelapnya langit yang tengah menangis, membiaskan titik-titiknya menjadi sapuan warna warni yang indah…

Langit di luar sana sudah gelap, semakin indah, karena sekarang kulihat titik-titik sinar yang gemerlapan bertebaran di bawah sana… Sudah lama tidak menikmati langit malam dengan lampu-lampu kecilnya, sinar-sinar yang memberikan harapan. Mungkin buat orang-orang, aku ini aneh, bahkan teman dekatku mulai mengatakan aku aneh. Aku sendiri tidak suka menjadi aneh, aku sendiri ingin menjadi biasa-biasa saja. Tapi aku harus menerima diriku apa adanya, dengan segala keanehan ini, kepekaan yang tinggi, yang selalu menangkap rasa yang tak terlihat, terkecap, teraba ataupun terdengar, dan otak yang seringkali berpikir keras untuk mencari jawaban atas segala rasa itu. Kadangkala aku lelah, sangat lelah, tetapi pada satu titik meyadari ini adalah berkah, dan berkah sepatutnya disyukuri.

Semua ini adalah proses dalam hidupku, segala yang terjadi pasti ada alasannya, ada yang masih harus kupelajari, ada yang harus kurelakan, ada yang harus kulalui… semoga aku mampu menjalaninya, demi sebuah harapan yang rela kutukar dengan apapun milikku, termasuk impianku… semoga ‘Tuhan’ mendengar doa tulusku…

Jakarta, 5 Desember 2012

~Jen~

06:44 pm

Sayap Sayap Patah

Sayap-sayap patah…

ini bukan puisi dari Kahlil Gibran,

tapi tak lebih dari sebuah gejolak dari dalam batin,

yang tiba-tiba menyeruak muncul dan memberi kesadaran…

Sayap-sayap patah…

Entah mengapa aku merasa sayapku sedang dipatahkan,

Entah mengapa aku merasa harusnya sudah terbang jauh dan tinggi,

Menuju ke arah cahaya mentari…

Kalian bisa saja mematahkan sayap-sayap kecilku,

Tapi tidak impianku! Ingat!

Kalian bisa saja memadamkan gairahku,

Tapi tidak semangat juangku!

Lihatlah, tunggulah saja!

Rasa sakit ini tidak menyurutkan langkahku,

Rasa sakit ini laksana bensin yang menyulut api dalam diriku,

Membakar semangatku, memicuku meraih impianku!

Tunggu saja, tunggu saja!

Tunggu sampai sayap kecil ini pulih,

Tunggu hingga sayap ini bisa mengepak kembali,

Dan ia akan membawaku terbang lebih tinggi lagi!

Saat itu jangan kalian salahkan aku,

jika terpaksa aku harus pergi meninggalkan kalian,

Wahai ranting-ranting yang menghalangiku…

Jakarta, 27 November 2012

~Jen~

I won’t give up!

I won't give up!

              

Lagi lagi harus terdampar di pinggir luar Jakarta, kali ini di Cileungsi, desa bener dah ini tempat, kalau suruh pergi sendiri mah kagak bakalan nyampe kayaknya, untung kali ini minta dijemput sama supplier. Udah nyampe sini jam 9 pagi, gara-gara tukang tinta telat datang, alhasil buang waktu setengah hari, padahal yang mau di proof ada 4, ini cuma kebagian 3 deh, mana warnanya gak ketemu-ketemu, haizzz….

Dan lagi-lagi ujan lagi… deres banget dan rada serem, untung tadi bawa sweater, kalo gak udah mati beku di ruangan ini sendirian, untung peralatan perang lengkap, laptop, charger, ipad, handphone, jadi setidaknya kagak mati bosen. Tetep aja biar nun jauh di sini kerjaan jalan terusss… makanya gue gak pernah bisa lepas dari hape, bb, laptop, modem, dan gadget-gadget lainnya yang menghubungkan gue dengan dunia luar sana, hihihi… kek kemana aja ya?

Beberapa hari ini lagi sering denger lagu I won’t give up nya Jason Mraz, hohoho… pertama karena suka musiknya, iseng cari liriknya, eh ternyata lumayan bagus juga ya. Cerita orang yang gak akan menyerah terhadap pasangannya, gak mau melepaskan begitu aja.

Gara-gara ini jadi inget postingan boss soal DREAM kemaren, sebuah artikel motivasi yang mengatakan kalau kita harus mengejar ‘mimpi’ kita, orang lain boleh mengecilkan kita, bilang kita gak mampu, tapi kita tetap harus berjuang untuk ‘mimpi’ itu.

Hehehe… emang gak ada yang kebetulan ya, dan susahnya jadi gue adalah, tingkat kepekaan yang tinggi ini selalu mengirim sinyal ke otak dan otak dengan cepat memprosesnya, menjadi sebuah pemikiran dan akhirnya pemahaman, sebuah petunjuk untuk gue. Yah, gue gak boleh menyerah, tadi jadi inget, kayaknya lagu I won’t give up ini ada versi Indonesia nya deh, itu dari D’masive, judulnya ‘Jangan Menyerah’ wkwkwk… mirip lah ya (maksa) 😛

Gak bisa komen panjang-panjang kali ini secara udah kelar neh yang harus diproof, bentar lagi gue bakal diusir pulang dari sini, harus matiin laptop, so pesan hari ini singkat padat dan jelas. I won’t give up! Mimpi itu harus dikejar, ada saatnya kita hanya perlu berhenti sejenak, menarik nafas sebentar untuk kemudian kembali berlari lebih kencang lagi!

I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make

I won’t give up!

Cileungsi, 23 November 2012
~Jen~

Hai hai… Ketemu lagi dalam sesi chit chat ala gue… Hihihi… Begini neh nasib orang yang lagi terdampar di pojok luar Jakarta (baca: Cikarang). Karena hujan deras, mana becek, macet, ga ada ojek, ya iyalah masa loe mau balik ke Cengkareng dari Cikarang naek ojek? Yang boneng aje… Kasihan abang ojeknya! Hihihi… Alhasil terdampar (lagi) di Citywalk Cikarang. Kali ini milih Starbuck buat tempat nongkrong hohoho…

And as usual buat ilangin bosen, browsing, maenin ipad, dan bbm-an ama temen gile gw, sorry ya jack, eh jack bukan namanya ya, dan itu juga bukan abang ojeck, hahaha. Temen gokil yang preman satu ini emang penghibur gw (awas ketauan dia pasti minta dibayar dia) hahaha… Nah dari gw makan sampe sekarang nongkrong ngupi2, kagak berenti jempol gw mencet tombol di bebeh sampe udah ilang semua neh huruf2nya hahaha… Dan dari obrolan hari ini jadi membahas yang namanya Donald duck. Loh apa hubungannya ya? Nah ini die ceritanya… Huahahaa kek apa aje ye…

Temen gokil gw ini suka Donald duck, kenapa? Tau gak alasannya? Karena katanya dia bilang selain Donald lucu, Donald itu bener-bener apa adanya, kalo mo marah ya marah, mo happy ya happy, kalo lagi mo diem ya diem aja… Hmmm bener juga sih ye… Hehehe walaupun menurut gw Donald itu bawel setengah mati dan ampun galak juga, rada mirip gw mungkin ya, wkwkwk, ampun bisa diomelin temen gw, dia bilang jangan merusak bayangannya akan Donald dengan nyama2in diri gw sama Donald! Hahaha… Gw juga gak mau kaleeee Donald itu bebek! Gw masih orang! :p

Nah gara-gara omong soal Donald, gue jadi keinget, kebetulan beberapa hari lalu ketemu gambar Goofy, loh jadi malem ini topiknya karakter Disney neh? Ya eyalah emang ada yang larang? Hahaha… Suka suka gue donk ah.. Balik ke Goofy lagi ye, 2 taon lalu waktu gue jalan ke Singapore sendiri, gile ya gue emang suka gila, kabur sendiri gak ada tujuan sampe di sana ketemu tukang taxi ncek2 udh tua, sampe dia geleng2 kepala waktu dia tanya gw, dan gw jawab gw pergi sendiri, sampe segitu khawatirnya dia yang repot suruh gue hubungi temen gue waktu gw bilang gw ke sana sendiri tapi mo ketemu temen. Hahaha thank you ya ncek, gile gue kadang bersyukur banget, Tuhan bener2 gak pernah biarkan gue sendiri, bahkan nyasar di negeri orang, dimana orang bilang penduduk sana suka sok, eh gue malah ditunjukin jalan sampe diprint-in peta sama store manager nya Burger King Clark Quay dan ketemu supir taxi ncek-ncek yang begitu perhatian sama gue! Hahaha… Mungkin dipikirnya neh cewek Indo lagi patah hati kale sampe ke negeri orang sendiri kagak ada tujuan, wkwkwk 😛

Aihh jadi ngelantur kan, balik lagi nah, ceritanya waktu gue di sana, gue kan keluyuran sendiri tuh, entah kenapa tiba-tiba gue liat tuh boneka Goofy di 7eleven sana, dan gw pengen banget beli, dan akhirnya gue beli sih, zzzz gile tiap ke negeri orang gue pasti beli boneka! Hahaha gak bisa menghilangkan jiwa anak-anak gue… Nah singkat cerita bukan cuma boneka Goofy yang dibeli, akhirnya gue beli 3 boneka Mickey, Mini n Goofy yang kecil lagi, selain 1 boneka Goofy yg ukurannya lebih besar! Hahaha… Bener-bener masa kecil kurang bahagia…

Gara-gara kebanyakan beli boneka, neh otak gak normal gue jadi mikir, kenapa gue kok rasanya lebih suka jadi Goofy ya? Padahal Goofy kan oon ye? Hahaha sadis ya gw, tapi beneran kan, loe semua pasti setuju kalau gue bilang Goofy itu oon, asli oon alias bodo, eitsss tapi ntar dulu, dibalik ke-oon-an nya, gw merasa Goofy adalah orang paling bahagia sedunia, n gw pengen banget jadi kek dia! Hahaha tau kenapa? Kenapa gue gak pengen jadi Mickey yang pinter dan hebat? Gue jadi mikir sih, beneran mikir neh serius… Mickey dengan kepinterannya selalu dapat masalah, bener gak? Meskipun dia selalu bisa mengatasi masalah, tapi liat deh di film-film nya, rasanya jadi Mickey itu capek betuuullll hahahaha, ya gak? Coba deh bayangin diri loe jadi Mickey dengan kepinteran loe, tapi selalu ada yang harus loe beresin. Nah beda dengan Goofy, dia gak pernah kelihatan susah, liat aja dia selalu nyengir gitu, bagus dia bukan kuda, eh bener kan, dia sejenis anjing kalo gak salah, kalo salah ya maap dah. Hahaha…
Goofy yang kita bilang oon, walaupun kena masalah tapi tetep aja ketawa, gak pernah kelihatan susah, malah rasanya hidup itu begitu lepas, gak pernah marah juga, sekali dua kali tapi kalo mo disimpulkan ampir gak pernah marah. Nah kebahagiaan Goofy ini bikin gue mikir, gue pengen jadi kek dia, kenapa dia bisa gitu? Karena gue merasa Goofy itu sangat tulus, apa yang dilakukannya bukan apa adanya aja, tapi dia seperti tidak punya niat buruk. Dia benar-benar hanya melakukan saja dan apa pun hasilnya atau masalah yang dihadapi buat dia itu bukan masalah. Dia menerima semua yang terjadi dengan senyuman. Dan yang seperti ini kadang buat kita yang ‘kepinteran’ akan menilai ‘oon’. Tapi itulah sebenarnya kebahagiaan. Gue jadi bener-bener iri sama Goofy, kadang memilih menjadi ‘bodoh’ saja lebih baik, karena terlalu ‘pintar’ seperti Mickey membuat hidup loe jadi gak menyenangkan. Hehehe… Kok jadi serius ya? Hahaha… Mulai bener neh otak gue tandanya :p

Kalo gue liat, kadangkala Mickey itu sering menyimpan ‘kepura-puraan’, apa yang dilakukan selalu ingin tampak bagus, benar, dan alhasil yang seperti itu benernya bikin dia capek sendiri. Kadangkala Mickey juga ‘bermain’ dengan kepandaiannya, memang sih gak salah juga, tapi yang seperti ini jadi tidak tulus, saat ada “niat” itu sudah akan membuahkan hasil, dan hasil ini pasti akan ikut terus, mau itu baik or buruk.

Dalam perjalanan hidup gue, gue selalu banyak menerima nasihat, jalanilah hidup ini dengan TULUS. Ya tulus sepertinya kalimat yang sederhana, tapi sesungguhnya itu bukan hal yang mudah. Sejujurnya sampai detik ini gue masih jadi Mickey, dan manusia kebanyakan juga masih seperti Mickey, sebagian lagi mungkin seperti Donald. Tapi boleh gue katakan mungkin hampir tidak ada yang seperti Goofy. Gue bener-bener berharap gue bisa belajar ketulusan dari Goofy, membuang kesombongan gue, menjalani kehidupan apa adanya dan menjadi bahagia. Sederhana, sangat sederhana, tapi begitu sulit… Semoga suatu hari gue bener-bener bisa menjadi seperti itu…

Cikarang, 21 November 2012
~Jen~

HUJAN

Aku suka hujan, saat rinainya turun perlahan jatuh menyentuh bumi dan menjadikannya basah, menghalau kekeringan yang telah sekian lama mendera.

Aku suka hujan, saat airnya menetes di atap rumah dan menimbulkan bunyi yang membentuk irama lagu alam nan indah.

Aku suka hujan, saat titik airnya menetes di atas daun, lalu turun meluncur dengan bebasnya, beradu cepat antara satu dan lainnya.

Aku suka hujan, saat angin kencang meniupnya, membawa butiran kecilnya menerpa wajah dan tubuhku hingga basah, memberikan kesegaran yang menyadarkan.

Aku suka hujan, saat tetesannya berbaur dengan airmataku sehingga tidak ada yang tahu saat aku menangis.

Aku suka hujan, karena derainya serasa melarutkan segala kesedihanku, dan membuatku kembali tersenyum saat mentari kembali bersinar dan membiaskan pelangi di langit sana, bak memberikan sebuah harapan yang baru.

Jakarta, 18 November 2012
~Jen~

Saat hujan turun membasahi langit Jakarta siang ini…

20121118-123246 PM.jpg

IMPIAN

Setiap orang pasti punya impian dalam hidupnya, saya, anda, dia, mereka, masing-masing pasti punya impian yang hanya kita sendiri yang tahu. Sejujurnya beberapa orang juga masih tidak begitu paham sebenarnya apa sih impian atau cita-citanya? Sewaktu saya kecil, saya pernah bercita-cita jadi penari ballet, padahal belajar ballet pun saya tidak pernah. Saya hanya suka melihat keindahan dari kostum maupun gerak si penari ballet, karena itu dalam hati saya lalu timbul keinginan untuk menjadi ballerina.

Di lain waktu saya sempat pula begitu ingin menjadi pemain ice skating, sempat terpikir ingin punya toko kue yang lucu ataupun membuka bridal. Karena terlalu banyak keinginan saya, mami saya sampai bilang, “ah kamu terlalu banyak maunya tapi tidak ada satupun yang ditekuni”. Setelah saya dewasa saya pikir ada benarnya sih omongan mami saya, tapi saya jadi kembali mikir, semua keinginan-keinginan itu hanyalah sekedar ‘ingin’ sesaat saja, tapi bukan benar-benar impian saya.

Tidak mudah menemukan apa yang benar-benar menjadi impian kita. Sepanjang hidup saya selama lebih dari 30 tahun ini, rasanya baru sekitar 8 tahun yang lalu untuk pertama kalinya saya benar-benar memahami apa impian saya sebenarnya. Ternyata saya begitu ingin menjadi seorang marketer dimana produk yang saya hasilkan dapat dikenal dan digunakan serta bermanfaat bagi orang banyak. Hmmm impian yang cukup sederhana ya, tapi ternyata untuk menyadarinya saya butuh 26 tahun.

Ternyata semua impian itu juga ada dasarnya, mengapa saya bisa begitu ingin jadi seorang marketer? Ternyata kalau saya coba ingat-ingat lagi, dari kecil saya sudah terbiasa membantu papi saya jualan di toko yang menjadi mata pencaharian keluarga kami, dan seringkali di waktu senggang saya dan papi, berdua, membahas banyak hal sehubungan dengan produk yang dijual di toko kami. Papi saya adalah guru marketing saya yang pertama, dan bagi saya ia sangat hebat. Mungkin kebiasaan kecil ini dan rasa sayang saya kepada papi saya yang membuat hal ini begitu membekas di hati saya dan akhirnya menjadi jalan yang saya pilih untuk karir saya.

Tapi layaknya cerita sinetron ataupun dongeng, kehidupan nyata juga seperti itu adanya. Mengejar impian itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dalam perjalanan karier saya yang terbilang rata-rata relatif singkat, saya seringkali dihadapkan pada situasi yang membuat saya tidak dapat meraih apa yang saya impikan. Namun sejauh ini saya sangat konsisten dengan impian saya sehingga pada akhirnya menyebabkan saya sering pindah kerja seolah saya ini kutu loncat yang tidak betah. Hanya saya yang tau alasan mengapa saya pindah dari satu tempat ke tempat lain, apapun alasan yang saya katakan jelas hanya akan terdengar sebagai ‘excuse’ bagi orang lain. Tapi saya tidak perduli, setiap langkah yang saya ambil bagi saya adalah yang terbaik untuk saya, untuk impian saya, toh nyatanya sampai detik ini saya merasa akhirnya benar-benar bisa lengkap belajar.

Kembali kepada impian, saat ini saya merasa sudah dihadapkan pada sebuah tantangan, impian saya ada di depan mata dan menanti untuk saya wujudkan, namun ternyata lagi-lagi hidup ini memang ternyata layaknya sinetron, nasib baik ternyata memang jarang berpihak pada saya. Impian saya kembali terbentur satu hal. Saya sedih, sangat sedih, karena untuk melepas sesuatu yang begitu kamu cintai itu tentunya sangatlah berat. Tapi saya menyadari, saya pun tidak boleh egois, ada kepentingan yang lebih besar yang harus saya pikirkan. Maka dengan berat hati kembali kali ini saya harus membuang impian saya.

Ternyata rasanya sangat menyakitkan, memang dibutuhkan kekuatan yang besar untuk dapat melepas, karena satu sisi kamu berhadapan dengan ego-mu sendiri. Tapi hidup tidak berhenti sampai di sini, betapapun menyedihkannya, menyakitkannya, semua adalah pilihan yang sudah saya ambil dan sebagai konsekuensinya harus saya terima dengan lapang dada.

Dalam setiap peristiwa selalu ada pelajaran dan hikmah buat kita, segala rasa sakit bagaikan obat yang jika kita yakini akan menyembuhkan sebagian dari diri kita yang ‘sakit’. Hidup adalah sebuah proses, setiap peristiwa harus kita hadapi dengan berani dengan sepenuh hati, rasa syukur dan ikhlas. Mungkin nilai-nilai inilah yang masih harus saya pelajari sehingga selalu saja saya menghadapi rintangan dalam menggapai impian saya.

Saya percaya ada rencana besar di balik ini semua, tujuan hidup saya yang mendasar, yang lebih dari sekedar impian ini. Bagaimana saya harus belajar melepas ego saya, melatih kesabaran saya dan semuanya untuk tujuan akhir yang saya yakini lebih indah, yang sudah ‘Tuhan’ siapkan untuk saya. Semoga saya diberikan kesabaran, ketabahan, ketulusan, keikhlasan dan kebaikan dalam menghadapi semua permasalahan ini. Sadhu sadhu sadhu.

Jakarta, 17 November 2012
~Jen~

PILIHAN (lagi)

Hm… Udah satu tahun lebih blog ini terlantar, karena penulisnya sibuk kerja, otaknya cuma diisi kerjaan, yang dipikirin sih banyak, yang mau ditulis juga mungkin segudang, tapi ya itu, otaknya terlalu capek sampai gak bisa memerintahkan syaraf untuk menggerakkan tangan dan menulis di blog ini.

Sekarang, tengah malam menjelang pagi, saat penyakit lama kambuh (baca: insomnia), kebiasaan yang gak tau bagus atau buruk, cuma bisa tidur sebentar, karena tidur jam 9an lalu jam 1 malam terbangun, dan sekarang malah gak bisa tidur lagi karena abis nangis! ►˛◄ ђª!zZ (>_<!') Pusing juga… Syukurlah teknologi sekarang canggih, gak perlu buka komputer or laptop, ipad juga lagi dicharge, masih ada blackberry yang bisa dipakai blogging hihihi… Tulisan pertama yang ditulis pakai blackberry, hmmm asal jangan sering2 kayaknya bisa kapalan jempolnya neh!

Malem ini benernya gak tau mo nulis apa, ya sekedar obrolan ringan mungkin sesuai kategori nya, chit chat ala gue, pengisi waktu menunggu sang mentari terbit, cieee bahasa puitisnya mulai keluar deh. Benernya kangen nulis yang bener, loh jadi yang sekarang gak bener nih? Hihihi… Ya baca aja yang sekarang mungkin lebih mirip ocehan orang yang mabok, tapi kadang perlu juga yang begini, daripada terlalu serius ya gak?

Bingung nentuin judul juga sampe akhirnya keluarlah kata 'PILIHAN' (lagi), karena mungkin dulu udah pernah nulis topik yang mirip tapi versi serius hohoho. Kenapa pilihan? Karena lagi merasa harus memilih, merasa sudah salah memilih, merasa terlanjur memilih, nah loh?! Ini maksudnya apa ya? Hehehe… Hidup ini kan rangkaian pilihan, setiap yang kita lakukan benernya adalah pilihan, sampai ke detik ini adalah hasil dari banyak pilihan-pilihan yang sudah kita buat.

Malam menjelang pagi ini lagi pengen sejenak mengingat-ingat pilihan yang sudah dibuat, dari urusan milih kerjaan, sempat mikir seandainya dulu milih itu bukan ini, lalu mundur lagi ke belakang, waktu masa-masa kuliah, sendainya ambil jurusan itu bukan ini, kuliah di sana bukan di sini, mundur lagi ke jaman SMU, seandainya waktu SMU begitu, bukan begini, tarik mundur lagi jaman SMP, kalau saja waktu SMP aku bertindak ini, bukan begitu, mundur lebih jauh lagi ke SD, coba waktu SD aku ini seperti ini, bukan seperti itu, lalu mundur lagi ke jamannya TK, seandainya waktu TK gak bareng sama kakakku, walah ujung-ujungnya malah mikir, seandainya dulu aku tinggalnya gak di situ, lalu pikiran lebih jahat lagi, seandainya aku lahir bukan di keluarga ini tapi keluarga itu, lebih gila lagi ujung-ujungnya malah seandainya aku gak pernah lahir! Nah loh?! Udah mentok deh kalau sampe sini hihihi… Lalu seperti video yang tadi udah direwind, sekarang dengan cepet balik lagi ke posisi saat ini! Ya, cuma saat ini yang ada, hidup bukan seperti DVD yang bisa direwind, dimundurin lagi atau malah bisa diedit-edit ulang. Ada pepatah bilang hidup seperti aliran air yang mengalir, yang sudah dilewati tak bisa kembali lagi. Hmmm jadi mikir bener-bener pengennya sih punya mesin waktu ya! Hahaha…

So stop crying for the past! Benernya ini intinya. Yang sudah lalu gak perlu ditangisi atau disesali, sebenarnya semua itu adalah proses yang memang harus dilalui dan yang menjadikanmu seperti saat ini. Cieee sok filosofis deh gue, udah tambah gak ngantuk nih cuy… Hahaha… Benernya kalau mo dipikirin nanti ya seperti yang gue tulis di atas tadi, apa yang disesali akan banyak sekali, coba begini begitu nya akan panjang dan ujung-ujungnya kalo gue sampe kepikir coba gak dilahirin! Tapi kan gak mungkin (untuk saat ini karena dah terlanjur lahir hihihi), yang ada sekarang justru gimana caranya bisa menerima konsekuensi dari segala pilihan yang udah kita ambil.

Penyesalan emang datang terlambat, dulu ada yang bilang nyesel yang duluan itu cuma nyesel karena berdiri di depan kambing yang tau-tau nyeruduk kita dari belakang, hahaha! Jadi emang gak ada gunanya menyesal, toh udah kejadian, yang penting kita bisa belajar dari setiap kejadian yang sudah terjadi, hmmm sok filosofis lagi deh gue hihihi…

Yah yah yah, dalam hidup gue juga banyak penyesalan, tapi gue bersyukur, gue melalui semua itu dan itu menjadikan gue seperti hari ini. Ke depan masih banyak pilihan-pilihan di dalam hidup ini yang harus gue buat, apapun hasilnya dari pilihan itu, gue udah ikhlas. Orang bijak bilang, jalanilah hidup dengan tulus dan ikhlas, baru kita bisa merasakan kebahagiaan. Semoga ya, gue sendiri belom bener-bener bisa melakukannya. Banyak hal yang belum bisa gue terima, yang kalau mau gue pikir ulang adalah semata-mata karena ego gue yang terlalu besar. Heh… Bicara ego akan tambah pusing lagi. Udah deh nanti bisa panjang banget neh tulisan, dan jadi serius dan loe mulai males bacanya, hahaha!

Yah kesimpulan dari ocehan gila gue menjelang pagi ini adalah, gue gak bisa menyesali apa yang sudah terjadi, yang terjadi semua adalah konsekuensi dari apa yang udah gue pilih, ke depan gue harus bener-bener bisa memilih dengan bijak, dan apapun hasilnya itu nantinya, gue harus bisa menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas. Gue harus belajar menerima kekurangan diri gue sendiri, juga kelebihannya, yang terparah adalah kelebihan berat badannya! Hahaha… Ya gue harus menerima ketidaknormalan gue, kegilaan gue, dan apapun itu yang ada di gue, lalu menjalani kehidupan ini dengan penuh rasa syukur dan tulus. Aiiihh kenapa tiba-tiba gue nangis? Ini termasuk ketidaknormalan gue lagi, ada saat-saat gue bisa meneteskan airmata tanpa sebab. Menulis ini serasa bukan gue yang nulis, makanya gue nangis, ada yang ingin bilang ini ke gue, tertuang dalam tulisan gue yang rada kacau ini, tapi maknanya kalau dibaca sangat dalam. Gue tau banyak yang sayang gue, gue berterima kasih dan bersyukur karenanya. Untuk setiap yang tak terlihat yang selalu mendampingi gue, mengajari gue, menegur dan menasihati gue, terima kasih sekali, kalian semua membuat gue tetap bertahan hidup hingga saat ini dan belajar untuk menjadi lebih baik.

Aduh air mata nya gak mo berhenti, gue udah gak tau musti nulis apa lagi. Gue perlu menenangkan diri dulu, untuk bisa mengerti apa yang perlu gue lakukan. Dah ya semua, sampai di sini dulu obrolan malam menjelang pagi kita. See yaaa!!!