Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Contemplation’ Category

visa
Lebih kurang satu minggu lagi, seluruh umat Buddha di dunia akan memperingati hari Tri Suci Waisak, dimana tahun ini kita di Indonesia memperingatinya pada tanggal 9 Mei 2009. Banyak dari kita sebagai umat Buddha hanya sekedar memperingati hari Waisak saja, tanpa mencoba memahami makna sebenarnya dari peringatan hari Tri Suci Waisak, demikian juga halnya dengan saya. Seumur hidup saya tidak pernah mencoba untuk memahami apa makna hari Waisak yang sesungguhnya. Bagi saya Waisak sekedar merupakan hari raya umat Buddha, dan karena saya termasuk umat Buddha, jadi saya juga memperingatinya.

Tetapi tahun ini ada yang berbeda, buat saya tahun ini penuh dengan perenungan, entahlah apakah karena usia saya yang sudah hampir memasuki kepala tiga sehingga membawa saya kepada kematangan, atau juga karena belakangan saya mulai mendalami Dhamma dengan lebih serius. Ini membuat saya jadi memikirkan makna Waisak yang sesungguhnya bagi kita umat Buddha, dan buat saya pribadi khususnya.

Kita semua tahu, Waisak memperingati tiga peristiwa penting: Kelahiran Pangeran Siddharta, Pencapaian Pencerahan Sempurna (Menjadi Buddha), serta Buddha Parinibbana (Kematian). Cukup lama saya mencoba merenungi ketiga hal ini dalam kaitannya dengan peringatan hari Waisak. Dan apa yang tertuang di sini adalah hasil perenungan saya yang mendalam mengenai makna Waisak untuk kita saat ini.

Kelahiran
Peristiwa pertama yang kita peringati adalah kelahiran Pangeran Siddharta, seorang calon Buddha. Merupakan suatu peristiwa yang luar biasa bahwa telah lahir seorang calon Buddha di dunia ini, dan tentunya hal ini patut kita kenang. Tetapi lebih dari sekedar mengenang kelahiran dari Pangeran Siddharta, saya justru menemukan bahwa makna yang sesungguhnya adalah lebih kepada proses kelahiran itu sendiri. Kita semua ada dan hidup di bumi ini karena kita dilahirkan, dan kita tahu bahwa selama masih ada kelahiran, berarti kita masih terjebak dalam samsara. Seharusnya kita berusaha untuk tidak terlahir kembali, seperti yang telah ditunjukkan oleh Buddha sendiri. Tetapi disamping itu, kita juga patut mensyukuri kelahiran kita sebagai manusia, yang sulit terjadi. Dengan kelahiran sebagai manusia berarti kita berkesempatan untuk mencapai pembebasan sejati, dan untuk itu kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada ini.

Pencapaian Pencerahan Sempurna
Peristiwa kedua yang kita peringati adalah bagaimana Pangeran Siddharta menjadi Buddha. Pangeran Siddharta merasakan ketidakpuasan dalam hidup ini, mengapa orang bisa menderita sakit, mengapa orang bisa menjadi tua, mengapa orang akan berakhir dengan kematian, sampai beliau menyadari bahwa semua manusia memang akan mengalami yang namanya kelahiran, menjadi tua, menderita sakit dan akhirnya akan mati. Saat melihat seorang petapa, beliau jadi bertekad untuk menemukan jalan pembebasan dari penderitaan itu. Bukanlah sesuatu yang mudah untuk bisa memperoleh hal tersebut, bahkan cara yang ekstrim sekalipun pernah dijalani oleh Pangeran Siddharta. Apa yang telah dilalui oleh Pangeran Siddharta dalam mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha adalah sebuah proses. Mulai dari berguru pada satu guru ke guru yang lain, dan mengalami banyak rintangan, sampai akhirnya semua berhasil dilalui dan menjadi Buddha (yang ‘Sadar’). Ini adalah suatu peristiwa yang sangat penting bagi kita manusia, karena dengan ‘kesadaran’ yang diperoleh-Nya, kita semua dapat mengetahui jalan untuk membebaskan diri dari samsara.
Bagi saya, makna dari pencapaian pencerahan sempurna ini adalah pada ‘tindakan’ yang telah diambil oleh Pangeran Siddharta, dan pada proses dalam usaha pencapaian itu sendiri. Pangeran Siddharta dilimpahi dengan segala kemewahan sebagai seorang putra raja, namun beliau dengan tekad yang kuat untuk membebaskan manusia dari penderitaan duniawi dan menemukan kebahagiaan sejati, telah mengambil ‘langkah besar’ dengan meninggalkan semua yang beliau miliki.
Begitu pula dalam kehidupan kita saat ini, sebenarnya kita cukup beruntung karena Buddha sudah menunjukkan jalan, tidak harus kita cari sendiri. Masalahnya, apakah kita akan ‘bertindak’ dan mengambil ‘langkah’ untuk berjalan di jalan yang sudah ditunjukkan-Nya? Kebanyakan kita sudah mengetahui jalan yang ditunjukkan oleh Buddha, tetapi sudahkah kita menjalaninya? Dan seperti halnya Buddha, butuh proses yang panjang, halangan dan rintangan dalam mencapainya, begitu juga yang akan kita alami. Meskipun sulit, Pangeran Siddharta tetap tidak menyerah sehingga dapat berhasil, lalu bagaimana dengan kita? Mampukah kita bertahan dan berjuang terus untuk mencapainya, dengan segala kesulitan yang ada?

Parinibbana (Kematian)
Peristiwa terakhir yang kita peringati di hari Waisak adalah peristiwa wafat (parinibbana) Buddha. Mengapa Buddha harus wafat? Karena memang seharusnya seperti itu, karena setiap manusia akan mengalami kematian. Jika Buddha tidak wafat, justru akan mematahkan apa yang sudah diajarkan oleh-Nya sendiri, bahwa segala yang terkondisi adalah tidak kekal (anicca).
Bagi saya, peristiwa ini memiliki makna yang tak kalah pentingnya dibandingkan kedua peristiwa lainnya. Kematian adalah hal yang pasti, itu yang harus kita sadari. Selama ada kelahiran, kematian sudah menanti. Moment Parinibbana Buddha harusnya menyadarkan kita bahwa hidup ini anicca, bahkan seorang Buddha sekalipun tidak dapat lari dari kenyataan ini. Dengan demikian, memaknai peristiwa ini, hendaknya kita menyadari bahwa kematian bisa kapan saja menghampiri kita, dan itu adalah pasti. Sekarang bagaimana kita bisa siap menghadapinya dengan bekal ‘jalan’ yang sudah ditunjukkan oleh Buddha?

Akhirnya, saya sampai pada kesimpulan dari perenungan saya, setiap tahun kita memang memperingati Waisak sebagai tiga peristiwa penting yang sudah dilalui oleh guru junjungan kita, Buddha. Tetapi lebih dari pada itu, makna Waisak yang sesungguhnya buat saya adalah menyadari bahwa saya dan juga banyak makhluk lainnya masih belum terbebas dari siklus kelahiran dan kematian, sementara jalan pembebasan sudah ditemukan. Saya cukup beruntung untuk terlahir sebagai manusia dan dapat mengenal Dhamma ajaran Buddha, tetapi sudahkah saya mengambil ‘tindakan’ dan melangkah di jalan yang akan membebaskan saya dari siklus itu?
Dengan makna yang seperti ini, bagi saya setiap detik adalah peringatan Waisak, karena setiap detik pula saya seharusnya menyadari atas kelahiran, kematian dan jalan pembebasan yang harus saya tempuh.

Selamat Hari Waisak 2553,
Semoga Tri Suci Waisak mengingatkan kita semua untuk senantiasa meneladani Buddha melalui tiga peristiwa, sehingga bisa mencapai kebahagiaan sejati….

Jakarta, 1 Mei 2009; 5:05 AM
Jennifer Vidyadharmi

Read Full Post »

KECEWA

kecewa

Kemarin, seperti biasa dalam perjalanan ke kantor aku selalu mendengarkan musik untuk menghilangkan kejenuhan. Kebetulan lagu yang terputar dari handphone adalah lagunya BCL – Kecewa. Entah kenapa, tiba-tiba saja otakku jadi terus memikirkan kata ‘kecewa’ ini, lebih dari kecewa karena pacar yang tidak datang, seperti yang dilukiskan pada lirik lagu itu. Seharian kemarin, semalam, sampai sekarang akhirnya aku menuangkan apa yang aku pikirkan.

Aku berpikir, selama 29 tahun lebih aku hidup di dunia ini, sudah berapa banyak kekecewaan yang aku alami? Berapa banyak yang sudah terlupakan begitu saja? Berapa banyak yang masih menyisakan bekas di hati? Berapa banyak yang meninggalkan penyesalan? Dan berapa banyak yang sampai sekarang masih terasa sakit? Kita semua pastinya pernah kecewa, atau mungkin ada di antara pembaca ada yang tidak pernah sama sekali merasa kecewa? Rasanya tidak yakin ada, kalau ada, mungkin bisa berbagi resepnya di sini.

Waktu kecil aku seringkali kecewa karena tidak dibelikan mainan oleh orang tuaku, kecewa karena tidak berhasil mendapat nilai sepuluh waktu ulangan, kecewa karena tidak diajak pergi jalan-jalan, serta beribu kekecewaan anak-anak lainnya. Tapi kusadari, hampir tidak ada kekecewaan itu yang masih membekas di hatiku, sebagian besar malah sudah kulupakan, entah mengapa, karena waktu yang sudah menghapusnya kah? Atau karena kekecewaan itu lahir dari pikiran seorang anak-anak yang ketika beranjak dewasa menjadi bukan hal yang penting lagi? Entahlah, aku tidak tahu…

Ketika remaja dan beranjak dewasa, lebih banyak lagi kekecewaan yang terasa agak menyakitkan, yang aku rasakan. Kecewa dengan nilai Ebtanas yang entah kenapa bisa tiba-tiba jelek, kecewa karena terpaksa harus melanjutkan SMA di kampung, tidak jadi di Jakarta, kecewa waktu aku tahu cowok yang aku suka ternyata suka-nya ke cewek lain dan beribu kecewa lainnya yang masih bisa kuingat walaupun sudah tak lagi kusesali…
Satu kekecewaan terbesar dalam hidupku yang sangat sulit untuk dilupakan, dan entahlah apakah akan menyisakan bekas atau tidak, adalah kekecewaan atas kepergian ayahku lebih dari 6 tahun yang lalu.

Aku mulai merenungi kenapa manusia bisa merasa kecewa. Dari apa yang aku alami, dari seluruh kekecewaanku, ternyata penyebabnya adalah keinginan yang tidak terpenuhi dan harapan yang tidak terbalas. Ternyata memang ‘kecewa’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai tidak puas, tidak puas karena tidak terkabulnya harapan ataupun keinginan seseorang. Dan kita tahu ketidakpuasan itulah dukkha. Sebagian besar keinginan itu didasari atas keterikatan dan keserakahan.
Kita selalu bermain dengan hitung-hitungan dan pamrih: kalau aku melakukan ini, aku harus mendapat itu, kalau aku melakukan itu padanya, harusnya ia membalasku seperti ini. Kita selalu dipenuhi harapan-harapan yang kita ciptakan dalam pikiran kita sendiri. Dan saat harapan-harapan itu tidak terwujud, kecewa lah yang timbul.

Selama kita masih terbelenggu oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan, selama itu pula kita masih akan terus merasa kecewa. Tetapi bisakah kita melaluinya? Kalau melihat bagaimana aku bisa melupakan kekecewaan-kekecewaan masa kecilku, berarti kita bisa juga melaluinya, tapi bagaimana bisa? Ternyata itu terjadi seiring dengan adanya perubahan, ya perubahanku dari anak kecil yang menjadi dewasa. Aku tidak lagi membutuhkan mainan, aku tidak lagi butuh nilai sepuluh untuk ulangan, tidak lagi kecewa karena tidak diajak jalan-jalan oleh orang tuaku karena sekarang aku bisa pergi sendiri, ya karena masa-masa itu sudah berlalu, sekarang kondisi sudah berubah.
Tapi mengapa ada beberapa kekecewaan yang masih menyisakan rasa sakit di hatiku? Hei itu karena aku menyimpannya begitu lama, aku tidak meninggalkannya saat itu seharusnya sudah berlalu.

Lalu bisakah kita tidak merasa kecewa? Bisa saja, tapi sudah pasti tidak mudah, dan aku sendiri masih belum berhasil untuk tidak merasa kecewa sama sekali. Kita tahu kecewa itu karena adanya harapan yang tidak terkabul, karenanya jangan pernah berharap! Bukan berarti di sini aku mengajarkan untuk berputus asa, bukan dalam pengertian itu. Tapi jangan pernah berharap untuk balasan, lakukanlah segala sesuatu dengan tulus. Aku menyadari ini, kenapa aku begitu kecewa atas kepergian ayahku, karena aku dengan ego-ku berharap akan punya waktu yang lebih lama untuk hidup bersamanya.

Janganlah bermain dengan kalkulator untuk menghitung untung-rugi serta balasan dari apa yang kita lakuan, karena itu semua hanya akan berakhir dengan kekecewaan bila tidak berjalan sesuai dengan hitungan kita. Dan ingatlah, semuanya akan berlalu, apapun itu, tiada yang pasti dan kekal.

Berlatihlah untuk melakukan segala sesuatu dengan tulus, berlatihlah berpuas diri dengan apa yang kita dapatkan, dan berlatihlan untuk menyadari bahwa semuanya akan berlalu.
Semoga dengan demikian kita tidak akan lagi merasa kecewa…

Jakarta, 29 April 2009; 05.00 AM

Read Full Post »

hourglass-copy1
Bila esok tak pernah ada untukku, apa yang harus kulakukan? Dan aku memang tengah menghadapinya!
Hm… aku jadi tidak bisa menikmati hangatnya sinar matahari esok pagi, tidak bisa juga merasakan dinginnya malam di bawah cahaya bulan yang romantis…

Kenapa sih aku hanya punya sisa waktu 24 jam saja? Itupun sudah kupakai 8 jam untuk tidur semalam… Sekarang jam 8 pagi, aku mau menikmati sinar matahari barang sebentar untuk terakhir kalinya…

8.15
Aduh waktuku kan tidak banyak, apa yang harus kuperbuat sekarang? Sebenarnya aku kesal, kenapa sih aku harus mati besok? Padahal masih banyak yang ingin kulakukan, aku belum menikmati jalan-jalan ke luar negeri, belum memiliki karir yang bagus, belum membeli mobil yang aku mau, heeeh.. kenapa hidup ini terasa tidak adil?
09.00
Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?? Ah ya, aku ingin menikmati barang-barang yang kupunya untuk terakhir kali… hm.. yang pertama apa ya? Ah, koleksi baju, sepatu dan aksesories, kalung, gelang, dan anting2 kesayanganku… Duh padahal ada anting2 baru yang sama sekali belum kupakai… Hm sebaiknya semua kucoba satu persatu untuk terakhir kalinya…
10.00
Aih… ternyata untuk mencoba seluruh baju-baju dan aksesorisku tidak cukup waktu 1 jam! Tapi aku harus melakukan yang lain… ah apa ya? Apa ya? Aku jadi bingung sendiri… hm… Ah ya, aku mau bersenang-senang di mall! Aku ingin jalan2, aku mau cari baju, tas, sepatu, dan aksesoris yang terbaik, aku ingin tampak cantik nanti saat aku mati. Hey sekalian 1 gelas kopi Starbuck untuk yang terakhir kalinya…
12.00
Aku lapar… aku ingin makan semua makanan kesukaanku… Tapi rasanya perutku tidak akan cukup, jadi apa yang harus kumakan ya? Nasi Goreng? Mie? Steak? Pempek? Duh…bingung….
15.00
Aduh… apalagi yang harus kulakukan? Buku! Aku baru ingat belum selesai baca buku novel yang baru kubeli, bisa mati penasaran kalo aku tidak tahu endingnya….
17.00
Oh hampir aku lupa, DVD Drama Korea yang baru kubeli… Hm… lihat si ganteng Bae Yong Jun untuk terakhir kali…Uh… kenapa waktuku tidak banyak lagi?
19.00
Astaga… Sudah jam 7? Makan… Hm… makanan terakhir… mie instant? Wah kok gak seru? Tapi kapan lagi aku bisa makan mie instant? Ya sudahlah mi instant jadi makanan terakhirku…
20.00
Aku lelah, aku ingin tidur, tapi nantilah, 4 jam lagi aku juga akan tidur dan tak bangun lagi… Hm…. Aku telepon saja seluruh keluargaku satu persatu…
21.00
Film…film drama di televisi… Uh… Aku gak akan pernah tau akhir ceritanya… Hiks….
22.00
Aku harus say goodbye ke teman-temanku… Hmm kalo kutelepon satu persatu waktuku tidak akan cukup, kutulis saja pesan di facebook, friendster, YM dan melalui email-emailku…
23.00
Astaga aku lupa…!! Surat wasiat…. Hm.. aku harus buat surat wasiat dulu, mau kuberikan pada siapa satu lemari penuh buku-buku yang aku punya ya? Belum lagi boneka-boneka kesayanganku? Si Bonbon, Bonny, Tangtang, Cuncun, dan teman2nya… Siapa yang bisa merawat mereka sebaik aku merawat mereka? Dan aku tidak mau mereka terpisah-pisah…
23.30
Setengah jam lagi… arrgghhh… aku masih ingin hidup! Aku tidak rela harus meninggalkan ini semua, aku masih ingin bersenang-senang? Hey… apa aku kurang bersenang-senang seharian ini? Hm… entahlah.. tapi aku tidak merasa senang… belum, belum cukup… aku masih butuh waktu lebih lama… aku masih belum bahagia, aku masih harus melakukan banyak hal, mencoba banyak hal..!!
23.45
Di mana aku harus mati, bagaimana posisi yang baik ya? Aku tidak mau kelihatan jelek, aku mau segalanya sempurna… Aku mau orang ingat akan aku terus… Eh? Ingat akan aku? Ingat sebagai apa? Orang bodoh yang mati dengan cantik? Ingat aku sebagai apa? Apa yang akan mereka ingat akan aku?? Apa berita kematianku akan dibicarakan orang nantinya? Berapa lama orang akan membicarakan aku? Apa mereka akan terus mengingatku?
23.59
Tidak…!! Tidak..!! Aku masih ingin hidup!! Aku tidak mau mati seperti ini, aku belum merasa BAHAGIA!! Aku masih harus melakukan banyak hal!! TIDAK!!!

00.00
………….

00.01
Eh? Aku masih hidup? Tanggal.. ini tanggal berapa?? Masih tanggal kemarin? Jadi 24 jam yang kulewati seharian ini? Apa aku masih diberi kesempatan sekali lagi?

Ah ya, aku tahu ini pasti kesempatan untukku, aku tidak boleh menyia-nyiakannya lagi! Kalau kupikir-pikir, yang kulakukan seharian kemarin hanya untuk kepuasan yang sebenarnya tidak pernah cukup… tidak pernah ada kebahagiaan di dalamnya. Aku tidak merasakan kebahagiaan, karena semuanya hanya membawa ketidakpuasan yang membuatku merasa cemas, takut, marah dan menyesal.

Di sisa hidupku, aku ingin merasa berkecukupan, merasa puas diri, sehingga aku bisa merasakan kebahagiaan itu… Aku tahu aku harus berbuat apa, walaupun ini harusnya kulakukan selama aku masih hidup, bukan hanya di saat-saat terakhirku saja, tapi sudahlah, masih bagus aku diberi kesempatan untuk bisa menyadarinya….

Aku akan mengatakan pada orang tuaku betapa aku berterima kasih atas kasih sayang yang sudah mereka berikan untukku, dan permohonan maaf atas segala kesalahan yang mungkin sudah pernah kulakukan. Tidak hanya kepada orang tuaku, ini juga akan kulakukan ke saudara-saudaraku, teman-temanku, semua orang yang kukenal, bahkan musuhku. Aku akan bilang betapa aku menyayangi mereka semua… terdengar klise dan mudah, tapi pernahkah kulakukan selama ini?

Di saat terakhirku aku ingin menghibur teman-temanku yang sakit, dan mengatakan pada mereka, betapa berharganya hidup ini, hidup sebagai manusia… Mereka harus lebih menghargai kesehatan mereka, mereka masih punya waktu setidaknya lebih banyak dari aku, seharusnya mereka bisa mengambil langkah agar bisa merasakan kebahagiaan seperti yang ingin kudapatkan saat ini…

Ke panti jompo, ya aku ingin ke sana, tempat para orang tua yang seringkali merasa hidupnya tersingkir… aku ingin mengatakan pada mereka bahwa aku menyayangi mereka, dan betapa mereka masih beruntung karena memiliki waktu hidup yang cukup lama, tidak seperti aku… tapi sebenarnya selain itu aku juga bersyukur, dengan waktu hidup yang singkat ini aku tidak harus mengalami menjadi seperti mereka…

Lalu, panti asuhan, ya ya… tempat anak-anak yang kurang beruntung, membagi sedikit kasih sayangku yang tersisa untuk mereka… dan dengan melihat mereka membuatku bersyukur selama ini aku hidup dengan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuaku…

Semua yang kulakukan ini adalah latihan dan persiapan agar hatiku bisa merasa berkecukupan, sehingga saat aku menutup mata, tiada lagi penyesalan yang tertinggal, tiada lagi hal-hal yang memberatkanku, aku bisa berlapang dada menerima karmaku. Dan yang terpenting aku bisa dengan tenang mengarahkan pikiranku menyadari setiap hembusan nafas terakhirku….

Tak perduli lagi aku akan seluruh harta bendaku, tiada perduli aku atas nama baik dan kehormatan, tiada penyesalanku meninggalkan orang-orang yang kukasihi, tiada lagi yang mau aku lakukan, karena semua sudah terasa cukup… cukup buatku melangkah menuju hidupku yang baru….

Sebuah perenungan buat kita yang seringkali terlena dan menganggap waktu hidup kita masih lama…
Buat orang-orang yang selalu mencari kebahagiaan untuk hidupnya yang singkat, yang mungkin belum menyadari arti ‘kebahagiaan’ yang sesungguhnya…


Ditulis dengan penuh cinta dan dipersembahkan untuk semua makhluk yang masih berada dalam siklus hidup dan mati tanpa terkecuali…

Jakarta, 16 April 2009, 12:41 AM

Read Full Post »

CB025411

Setelah lebih dari 3 tahun (mungkin malah lebih lagi?) tidak menginjakkan kaki di Wihara untuk melakukan puja bakti, akhirnya kemarin dengan niat dan tekad saya melakukannya.
Banyak sekali alasan mengapa saya tidak ke Wihara selama ini, mulai dari rasa malas, rasa bosan, hingga pembenaran diri yang menganggap kebaktian atau puja bakti hanyalah suatu ritual yang tidak harus dilakukan di Wihara bahkan sah-sah saja bila tidak dilakukan sama sekali! Karena berpikir demikian sampai-sampai, tahun lalu saat hari Waisak pun saya tidak ke Wihara.

Alasan saya yang mungkin jadi alasan kebanyakan orang untuk tidak pergi ke Wihara, pertama karena malas. Apapun dalihnya, entah karena jauh, tidak ada waktu, tidak ada kendaraan, sibuk, tetap saja ujungnya itu kemalasan. Kita punya waktu 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu, waktu yang kita habiskan di Wihara paling-paling hanya 4 -5 jam saja dan itu pun seminggu hanya sekali. Kalau kita memang niat, sejauh apapun bisa kita tempuh dengan kendaraan apapun juga. Kemarin saya mencoba membuang rasa malas ini, biasa hari Minggu saya bangun lebih siang, kemarin saya bangun pagi-pagi. Walaupun tidak ada kendaraan, dan saya masih belum tahu letak Wiharanya, tapi saya tetap memutuskan untuk pergi dengan naik ojek. Toh akhirnya saya sampai juga dan bisa ikut puja bakti dan mendengarkan ceramah Dhamma.

Alasan yang kedua, saya menganggap puja bakti hanya sekedar ritual saja. Sebenarnya dulu sekali saya tidak berpikir demikian, tetapi karena dalam perjalanan saya belajar Dhamma dan menangkapnya setengah-setengah, saya merasa toh puja bakti dalam Buddhis itu bukannya berdoa yang berarti sama dengan memohon/meminta. Selain itu saya melihat banyak orang rajin ke Wihara melakukan puja bakti tapi tetap saja melakukan keburukan, jadi buat apa puja bakti? Bagi saya seperti itu memperlihatkan kemunafikan, dan saya tidak suka! Makanya saya memilih tidak ke Wihara. Ditambah lagi Wihara tempat saya biasa pergi waktu kuliah dulu, semakin lama semakin dijejali dengan umat, hm.. harusnya bagus sih, tapi kok saya malah merasa tidak nyaman lagi ya? Karena saya hanya merasa kebanyakan mereka ke Wihara lebih kepada embel-embel yang lain, cari pacar lah, berorganisasi lah, mencari eksistensi diri, saya jadi merasa terganggu saja, saya berharap pergi ke Wihara untuk bisa dengan tenang mendengarkan Dhamma.

Alasan ketiga, saya tidak cocok dengan tradisi Wihara itu. Kenapa sih sudah tau penuh, jauh, masih juga maunya pergi ke situ, Wihara itu? Memangnya tidak ada yang lebih dekat? Sebenarnya ada sih, Wihara yang mungkin lebih dekat, tetapi, balik lagi alasan bahwa cara puja baktinya berbeda, suasananya beda, tradisinya beda! Lagi-lagi saya membuat alasan dan pembenaran untuk tidak pergi ke Wihara.

Alasan yang keempat, saya tidak suka penceramahnya kadang-kadang suka menjelek-jelekkan yang lain, entah agama yang lain, penceramah yang lain, bahkan tradisi yang lain yang notabene sebenarnya masih dalam satu ajaran Buddha juga! Heh.. capek saya kalo dengar penceramah yang kayak begini, walaupun mungkin hanya sebagian kecil saja, tapi lagi-lagi ini jadi alasan saya untuk tidak ke Wihara…

Cukup lama saya hidup dengan pembenaran-pembenaran diri, yang setelah saya renungi, semuanya itu karena adanya lobha, dosa dan moha yang masih meliputi saya. Lalu mulai satu persatu saya coba merenungi alasan-alasan itu dan sampai pada kesadaran yang membawa saya kembali ke Wihara.

Wihara, secara umum kita katakan tempat ibadah umat Buddha. Buat saya pergi ke Wihara adalah saat saya untuk sejenak lepas dari rutinitas harian saya. Saya datang ke hadapan Guru Agung Buddha untuk menyatakan (lagi) perlindungan saya pada Triratna, mendengarkan Dhamma, ajaran-Nya dan berkumpul di dalam kelompok Sangha dan menghormat pada Arya Sangha. Untuk yang pertama mungkin sebenarnya bisa saya lakukan di rumah, yang kedua mungkin bisa saya dapatkan dari membaca buku atau sumber lainnya, tapi yang ketiga? Wihara memang seharusnya menjadi tempat berkumpulnya teman seperjalanan yang sama-sama sedang belajar Dhamma. Dan saya menyadari rentetan kegiatan itu semua bukanlah sekedar ritual biasa.

Sewaktu saya melakukan puja bakti dan melafalkan paritta, seharusnya saya merenungi artinya bukan sekedar mengucapkannya di mulut saja. Saat mendengarkan penceramah membawakan ceramah Dhamma, terlepas dari apa yang disampaikannya, masalah benar atau salah adalah sepenuhnya harus lahir dari pemahaman saya sendiri (Ehipassiko). Dan menyikapi sikap orang-orang maupun penceramah yang kadangkala tidak sesuai dari apa yang diucapkan dan diperbuat, saya pikir pada dasarnya kita semua ini masih manusia, yang belum terbebas dari lobha, dosa dan moha tadi. Karena itulah, kadangkala kesalahan ataupun keburukan itu justru menjadi guru yang paling baik untuk saya belajar. Agar saya sendiri senantiasa diingatkan untuk tidak hanya bisa berbicara tapi juga bisa berlaku sesuai apa yang saya bicarakan.

Lalu masihkah saya harus pergi ke Wihara yang sesuai dengan tradisi yang cocok dengan saya? Masalah cocok tidak cocok, kalau kita masih merasa seperti itu pada Dhamma yang sesungguhnya adalah satu, berarti kita masih bermain dengan ’ego’ kita dan ’terikat’ pada rasa suka. Saya belajar untuk ’melepas’, apapun itu yang disebut tradisi, yang paling utama adalah saya tahu yang saya dapat di satu Wihara itu adalah Dhamma yang memang diajarkan oleh guru Buddha.

Yang terakhir, alasan saya kembali ke Wihara adalah untuk mengenalkan Ibu saya pada Dhamma, yang merupakan tanda bakti saya sebagai seorang anak. Hal yang tidak sempat saya lakukan ke almarhum Ayah saya, yang kalaupun ingin disesali sudah tidak berguna lagi, karena masa lalu sudah berlalu. Karena itulah saya tidak mau membuang kesempatan yang sekarang ada di depan saya.

Dari kesadaran yang timbul sebagai hasil perenungan diri saya, satu tekad sudah saya ucapkan…

WIHARA, I’m Back!

Read Full Post »

Berubah

change1

Apa yang terlintas dalam benakmu saat pertama kali mendengar kata “berubah“?
Sebagai seorang Buddhis kita kenal apa yang disebut ” Anicca” atau “tidak kekal” Karena segala sesuatu yang terkondisi tidak kekal, maka yang namanya perubahan tidak dapat kita hindari. Dari sehat menjadi sakit, dari muda menjadi tua, dari hidup menjadi mati, semua perubahan-perubahan ini secara nyata dapat kita lihat dalam hidup ini. Tetapi pernahkah kita sadari bahwa dari detik ke detik pun ada yang berubah? Kadangkala kita hanya sibuk memikirkan sesuatu yang jauh dari apa yang kita lakukan setiap hari, ya tidak salah memang, tapi apa tidak sebaiknya kita juga belajar dan mengamati apa yang kita alami sehari-hari? Karena kita masih menjalani kehidupan kita sebagai manusia biasa?

Kembali ke masalah perubahan, setiap orang bisa berubah, berubah dalam konteks kali ini mengacu pada perbuatan atau tingkah laku seseorang. Orang bisa berubah ke arah yang lebih baik, dan tentunya ini yang kita harapkan, tetapi bisa pula menjadi lebih buruk. Kita boleh saja kecewa atas perubahan yang terjada pada diri seseorang, tapi cobalah kita renungkan, bukankah rasa kecewa ini timbul karena adanya “ego” kita? Karena kita berharap orang itu tetap seperti yang kita mau? Padahal kalau mau jujur, kita harus bisa melihat bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang adalah sepenuhnya hak dia? Dan yang paling penting adalah perubahan ini, entah ke arah baik atau buruk, adalah pilihan yang sudah diambil oleh orang tersebut? Jadi kita sama sekali tidak berhak untuk merasa kecewa, karena segala resiko pun akan ditanggung yang bersangkutan.

Beberapa bulan lalu, saya dan teman kantor sedang membahas satu orang kantor yang kita anggap sudah berubah. Sebut saja namanya Pak X, ia orang yang cukup alim, gak macam-macam, taat menjalankan agamanya. Bahkan sempat dalam satu kesempatan Pak X ini mengutarakan keinginannya untuk kelak menjadi pemuka agamanya bila sudah pensiun nanti. Hm.. apa  yang ada dalam bayangan anda tentang Pak X ini? Orang baik kan? Tapi tak lama berselang aku dan temanku melihat kenyataan yang berbeda. Kupikir bukan karena Pak X menyembunyikannya dariku atau dari temanku, tapi memang dia sudah berubah! Ini bisa kurasakan, karena sikap canggungnya kepadaku belakangan ini. Yah aku masih melihat dilema dalam dirinya. Memang semenjak dipindah ke departemen lain, dimana karakter orang-orang di sana berbeda jauh dari departemenku, tempat Pak X berada sebelumnya, sikap Pak X sedikit berubah, entah karena adaptasi, atau apapun itu, yang jelas dia sudah memilih untuk menjadi seperti itu! Awalnya aku sempat kecewa, bukan kecewa karena perubahannya, tapi kecewa karena  ia berubah tidak menjadi lebih baik! Tapi setelah mencoba memahami berbagai alasan yang mungkin, akhirnya aku menyadari, dan kesadaran ini ternyata tidak ada kaitannya dengan seribu satu alasan tadi, tapi lebih pada perenungan bahwa benar kita tidak bisa lari dari yang namanya perubahan. Masing-masing orang bisa berubah sesuai apa yang sudah dipilih untuk hidupnya. Dan yang terpenting masing-masing orang juga menanggung sendiri akibat dari pilihan yang sudah ditentukannya.

Belum lama ini seorang sahabat mengeluhkan hal yang serupa, ia kecewa atas perubahan yang terjadi pada orang terdekatnya, lebih jauh lagi ia bahkan diminta untuk ikut berubah, dan ia tidak suka itu! Inilah kadangkala batas ’ego’ dan ’sayang’ itu begitu tipis. Dengan dalih rasa sayang dan alasan untuk kebaikan dirinya, seseorang diminta berubah, padahal kebaikan, kebenaran dan kebahagiaan itu berbeda-beda untuk setiap orang! Kita seringkali sok tahu dan dengan seenaknya memaksakan hal yang kita anggap baik, benar dan membahagiakan kepada orang lain. Di pihak lain, orang yang di minta berubah juga menyimpan ’ego’ nya sendiri, tidak suka diatur, tidak suka diubah, merasa itu bukan dirinya, lebih suka jadi dirinya sendiri apa adanya! Padahal kalau ia mau melihat ke dalam barang sebentar saja, mungkin saja sebenarnya ada sebagian kecil atau bahkan seluruhnya dari apa yang diminta ke dia itu sebenarnya bisa diterima!

Tidak usah bicara jauh ke orang lain, dari pengalaman saya pribadi, kadangkala saya suka merasa ada dualitas dalam diri saya. Dua sisi yang saling bertentangan, satu sisi saya yang lebih condong ke arah negatif dan sisi lain yang terus berusaha untuk menjadi baik. Pagi ini saya sampai pada kesimpulan, karena itulah dikatakan pada dasarnya setiap orang memiliki benih ke-Buddha-an, hanya saja memang kita masih tidak terlepas dari Lobha, Dosa dan Moha. Dan ini adalah pilihan masing-masing orang, untuk terus menumbuhkan benih ke-Buddha-an itu atau justru sebaliknya. Hal semacam ini tidak bisa kita paksakan ke orang lain dengan dalih apapun juga, karena kita tahu bahkan Buddha sendiri mengajarkan prinsip Ehipassiko. Ini bukan suatu alasan untuk pembenaran, tapi coba kita renungkan, sesuatu yang dipaksakan tidak akan dilaksanakan dengan sepenuh hati, lalu apa bisa kita mencapai tujuan kita? Rasanya akan sulit bukan?

Jadi buat saya, sebagai seorang sahabat seperjalanan, kita hanya bisa membantu mengarahkan, menunjukkan jalan, membukakan pikiran, tapi bukan memaksakan! Orang harus sadar dengan sendirinya untuk memutuskan perubahan bagi dirinya dalam usahanya menemukan kebenaran yang sejati.

Read Full Post »

contemplation

Pernahkah kamu mengalami masalah yang datang bertubi-tubi? Yang telah membuatmu tidak sempat untuk menarik nafas barang sebentar saja? Pernahkah kamu merasa hidupmu sangat ruwet, sampai-sampai kamu tidak tau lagi mana ujung pangkal permasalahannya, semua terjadi saling bersilangan bagaikan benang kusut? Pernahkah kamu merasa kamu sudah begitu lelah menghadapi semua masalah itu? Dan berpikir untuk memejamkan matamu barang sedetik lalu saat kamu membuka matamu semua masalah itu sudah lenyap? Atau sebaliknya, lebih parah, kamu berpikir kamu tidak akan pernah membuka matamu lagi untuk kembali mengadapi masalah yang ada? Aku pernah mengalaminya, dan rasanya tidak hanya sekali…karena aku manusia yang sebenarnya sudah tahu bahwa hidup itu dukkha, tapi masih saja belum bisa mengatasinya…

Lalu apa yang kamu lakukan saat itu semua terjadi pada dirimu? Pernahkah kamu berpikir untuk ‘memasrahkan’ hidupmu pada ‘Dia’, sesuatu di luar dirimu yang katanya mengatur kehidupan ini? Jujur kukatakan, aku pernah dan aku malah sempat merasa menjadi seorang Buddhist itu arrogant sekali, karena masing-masing kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri, seolah-olah tidak butuh ‘orang lain’. Apakah pengetahuanku akan ajaran Buddha masih kurang? Ya memang, tapi rasanya untuk hal yang satu itu aku sudah tahu. Lalu mengapa hal itu bisa tetap terjadi padaku? Ada beberapa penyebab mengapa pikiran untuk seolah-olah menyerahkan hidupku pada ‘sesuatu’ di luar diriku itu bisa seringkali muncul, dan terus terang ini sangat menggangguku!

Sebagai manusia, kita tidak bisa hidup sendiri, kita butuh orang lain. Dari pertama kali kita lahir dalam kehidupan kita saat ini, peranan orang lain di luar kita sudah bisa kita rasakan. Kita bisa lahir karena adanya orang tua kita tentunya, dan itu berarti orang lain di luar diri kita. Dalam proses kelahiran kita ada dokter ataupun bidan, lalu kita hidup dalam keluarga bersama kakek nenek, kakak adik, saudara-saudara kita. Kemudian kita butuh makan, sekolah, berorganisasi, dan kegiatan-kegiatan lainnya dimana itu semua tidak terlepas dari peranan orang lain di luar kita. Kondisi saling bergantung ini tanpa kita sadari kadangkala membuat kita sering berpikir kalau kita ini adalah makhluk yang lemah.

Lalu yang lebih mendukung kondisi ini adalah sebagian besar doktrin yang ada di dunia ini mengatakan kalau kehidupan manusia itu ada ‘sosok’ yang mengatur, yang mengatur ini sudah punya rencana seperti ini dan itu atas nasib masing-masing orang. Yang mengatur ini sangatlah adil, maha tahu, maha pencipta dan segudang maha-maha lainnya. Lalu apakah itu semua salah? Tidak salah buat yang meyakininya, dan pertanyaannya menjadi apa aku meyakininya? Dan apa kamu meyakininya?

Dulu, sebagai penganut agama Buddha tapi belum mengenal Dhamma, dan lebih banyak dijejali doktrin ajaran lain sedari kecil, aku selalu berpikir hal itu benar. Dan rasanya banyak juga orang-orang yang sejenis denganku. Tetapi memang tidaklah mudah untuk mengubah sesuatu yang kamu anggap benar, yang sudah kamu yakini lebih dari separuh hidupmu. Akan banyak pertanyaan dan penolakan-penolakan yang tidak disadari, karena kita sedang berusaha menemukan ‘kebenaran’ itu sendiri.

Baru-baru ini aku mengalami masalah yang buatku cukup melelahkan, dan tanpa sengaja aku mendengar lantunan lagu rohani non-buddhis yang sebagian besar isinya berisikan penguatan, bahwa kita tidak sendiri, bahwa ada yang mengatur semuanya, dan dengan menyerahkan masalahmu pada-Nya segalanya bisa teratasi? Ini membuat perasaan itu kembali muncul, dan akhirnya aku melontarkan rasa tidak puasku ini pada seorang Bhikku. “Mengapa aku selalu merasa menjadi seorang Buddhis itu arrogant sekali, karena kita bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri, seolah-olah tidak butuh ‘orang lain’?”

Dan akhirnya aku mendapatkan jawaban yang cukup memuaskanku, sebuah analogi yang sangat sesuai untuk diriku. Bertanggung jawab atas tindakan sendiri tidak berarti kita tidak butuh orang lain. Seperti seorang ibu yang bertanggung jawab terhadap anak-anak yang dilahirkannya, dalam memenuhi tanggung jawab itu tetap tergantung pada bantuan dan kerjasama orang lain dan ini tidak ada kaitannya dengan arogansi. Tindakan/karma kita itu ibarat anak kita, kita yang melahirkan karma dan untuk itu kita harus memeliharanya dengan penuh kasih sayang.

Dari uraian singkat itu, satu point yang sangat berarti yang bisa kuambil: “Jika aku seorang ibu, tidak mungkin aku ‘memasrahkan’ anak yang kulahirkan pada ‘orang lain’, dengan sepenuh hati aku akan merawatnya sendiri karena ia adalah tanggung jawabku.”


Bagaikan seorang ibu melahirkan anaknya, begitu pula aku melahirkan karmaku.

Bagaikan seorang ibu bertanggung jawab atas anak yang dilahirkannya, begitu pula aku bertanggung jawab atas karma yang kulahirkan.

Bagaikan seorang ibu  mengarahkan anaknya untuk menjadi baik, begitu pula aku akan mengarahkan karmaku ke arah yang baik.


Tulisan ini sekedar sharing dari apa yang aku alami, mungkin tidak semua sependapat karena memang harus masing-masing kita sendiri yang ‘menemukan kebenaran untuk diri kita sendiri’.


If it suitable for you, you can take it, otherwise just leave it.

Read Full Post »

Berawal dari obrolan dengan seorang teman di Kolam Teratai (mami Luna you’re the inspiration) tiba-tiba aku jadi teringat dengan kenangan masa kecilku. Lebih dari 20 tahun yang lalu aku ingat di kampung tempat tinggalku, sebuah desa kecil di Lampung sana, sempat kukenal seorang pria bernama Amiaw. Siapa sih si Amiaw ini sampai-sampai aku masih bisa mengingatnya hingga sekarang?

Si Amiaw ini kulihat hampir setiap hari, sewaktu aku sedang berada di toko papi di pasar. Yang masih teringat dalam bayanganku, Amiaw waktu itu berumur sekitar 40an tahun, berkulit putih bersih mengenakan pakaian lengkap walaupun hanya pakaian sederhana, tapi tanpa alas kaki. Yah Amiaw ini adalah salah satu korban orang-orang yang tidak bisa menerima adanya ‘anicca’. Konon Amiaw dulunya orang yang cukup kaya dan berada, entah karena apa tiba-tiba dia harus kehilangan semuanya. Karena tidak memahami ‘anicca’, Amiaw tidak bisa menerima perubahan yang terjadi pada hidupnya, kehilangan yang harus dia alami, sehingga berujung pada hilangnya akal sehat dan kesadaran. Sangat disayangkan, dan tak bisa kita pungkiri bahwa banyak orang-orang seperti ini di sekitar kita, yang terlalu melekat pada satu kondisi yang menyenangkan, dan saat perubahan itu datang, orang-orang ini tidak siap menghadapinya.

Walaupun masuk dalam golongan orang yang tidak waras, latar belakang Amiaw masih terlihat dari tingkah lakunya, gaya bangsawan-nya membuat dia tetap tampil bersih dan dia tidak pernah teriak-teriak ataupun membuat kekacauan. Amiaw hanya diam seribu bahasa dan yang dilakukannya setiap hari adalah berjalan dan berjalan. Lalu apa yang membuat si Amiaw ini begitu istimewa sampai bisa memberikan inspirasi buatku? Setiap hari Amiaw melakukan aktivitasnya, yaitu berjalan, Amiaw berjalan dalam diam, seolah dia ingin mencapai suatu tujuan. Tapi eeeh… tunggu dulu… kenapa setelah dia maju 3 – 4 langkah lalu dia mundur lagi 2 – 5 langkah? Hm… inilah istimewa-nya si Amiaw… karena seolah diliputi kebingungan, Amiaw selalu berjalan maju dan mundur!

Coba kalau kita pikir, bagaimana ia bisa sampai di suatu tempat kalau dia jalan maju mundur seperti itu? Itu seolah-olah hanya jalan di tempat saja bukan? Pastilah kita akan berpikir seperti itu, tapi ternyata kita salah! Aku salah! Amiaw tidak hanya terlihat di sekitar pasar di kampung ku, tapi kadangkala aku bisa melihatnya di kampung sebelah, yang jauhnya bisa ditempuh dalam waktu 15 – 20 menit kalau menggunakan mobil!

Hei… ini jadi membuatku berpikir… aku menarik pembelajaran dari gerak-gerik si Amiaw ini…. Dalam hidup kita seringkali mengalami kegagalan, saat kita melangkah maju dan gagal, apa yang kita lakukan? Saat kita melangkah maju dan harus dipaksa mundur, apa yang kita perbuat? Ternyata kita tidak boleh diam dan menyerah! Kadangkala justru langkah mundur itu kita butuhkan. Belajar Dharma ajaran Buddha buat sebagian orang terasa sangat sulit, untuk belajar teori nya saja sulit, apalagi mempraktikkan meditasi! Tapi kita tidak boleh menyerah… pukulan mundur satu dua langkah kadangkala harus kita alami, tapi setelah itu kita harus tetap melangkah maju. Maju terus dan maju dan kita tidak akan diam di tempat, walaupun mungkin lebih lambat dari teman-teman kita yang lain, tapi percayalah dengan ketekunan dan tekad yang kuat, suatu hari kita akan bisa mencapai tujuan itu.
Dan Amiaw sudah membuktikannya!

Seperti pesan terakhir guru kita Buddha: ”APPAMADENA SAMPADETHA”, Berjuanglah terus dengan penuh kesadaran!

Kudedikasikan tulisan ini untuk Amiaw, sosok yang memberi inspirasi, tak terbatas seperti apapun kondisinya, semoga ia bisa terlahir di alam yang lebih baik.

Read Full Post »

‘Wishing Game’

Lima orang anak bermain ‘wishing game’, sebuah permainan dimana setiap anak harus menyebutkan permohonannya dan anak yang memiliki permohonan yang lebih baik dan bisa mengalahkan permohonan-permohonan lainnya akan keluar menjadi pemenang.

Anak pertama mengajukan permohonan, ia sangat ingin bisa makan burger Mc Donald’s karena selama ini ibunya tidak pernah memperbolehkan anak ini untuk makan makanan itu.

Anak kedua mengajukan permohonan, ia ingin memiliki restoran Mc Donald’s sehingga dia bisa memperoleh lebih banyak burger mengalahkan permohonan anak pertama.

Anak ketiga mengajukan permohonan, ia ingin memiliki uang $1 juta sehingga dia bisa membeli tidak hanya burger Mc Donald’s tetapi juga seluruh restoran Mc Donald’s dan masih memiliki cukup banyak uang untuk melakukan hal lainnya. Sebuah permohonan yang jauh lebih hebat dibandingkan dua permohonan sebelumnya.

Anak keempat mengajukan permohonan, ia ingin memiliki 3 permohonan, dimana permohonan yang pertama adalah ia bisa memiliki restoran Mc Donald’s, permohonan kedua ia memiliki uang $1 juta dan permohonan ketiga adalah ia mempunyai 3 permohonan lagi! Hm… tentu saja ini menjadi permohonan yang tiada habisnya dan pastinya menjadi pemenang di antara permohonan sebelumnya.
Lalu apakah permohonan anak kelima yang ternyata bisa mengalahkan empat permohonan sebelumnya?

Anak kelima ini meminta sebuah permohonan dimana ia memiliki hati yang puas dan berkecukupan sehingga ia tidak lagi perlu mengajukan permohonan apapun juga….

Cerita di atas adalah cara paling sederhana yang digunakan oleh Ajahn Brahm dalam menggambarkan apa itu ‘NIBBANA‘.

ajahn1

Kudengar sendiri dari Ajahn Brahm pada acara ‘Dhamma Talk’  @ The Golf –  PIK, tanggal 28 Februari 2009 yang lalu.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »