Feeds:
Posts
Comments

UP_Poster_AllCharSemua orang pastilah memiliki impian atau sebuah harapan yang ingin diwujudkan. Sayangnya tidak semua orang memperjuangkan impiannya ini, dan sebaliknya ada yang terlalu ngotot mengejar impiannya sehingga tidak mau melihat kenyataan yang ada. Menyaksikan film ‘UP’ produksi Disney Pixar, membuat saya merenung dan belajar akan hal ini.

Carl, tokoh utama pria dalam film tersebut, seorang penjual balon, punya sebuah impian masa kecil bersama dengan almarhumah istrinya, Ellie. Mereka mempunyai impian untuk pergi berpetualang ke Amerika Selatan dan membangun sebuah rumah di dekat air terjun di sana.  Sayangnya dalam perjalanan hidup mereka banyak hal yang membuat impian itu tidak pernah terwujudkan, walaupun mereka sudah mengusahakannya.  Sampai akhirnya Ellie meninggal dunia dan meninggalkan impian itu untuk Carl seorang diri.

Carl yang hidup seorang diri sepeninggal Ellie, menjadi seorang pemurung, dan mengurung dirinya dari dunia luar. Carl terus ‘hidup’ dalam mimpinya bersama Ellie untuk pergi bepetualang ke Amerika Selatan.  Sampai suatu hari dengan mengikatkan balon yang banyak pada rumahnya, Carl pergi bertualang dengan rumah terbangnya menuju Amerika Selatan. Di sini saya belajar bahwa dibutuhkan keinginan yang kuat untuk bisa mencapai sebuah impian, walaupun impian itu terlihat mustahil.

Tetapi cerita tidak berhenti di sini, petualangan Carl menjadi bertambah seru dengan kehadiran Russell, seorang anak laki-laki kecil yang sedang berusaha mendapatkan lencana ‘membantu orang tua’ dari perkumpulan pecinta alam, yang tanpa sengaja ikut di dalam petualangan Carl.

Singkat cerita, Carl bertemu dengan idola masa kecilnya, Charles Muntz, seorang penjelajah dan petualang. Tetapi di luar dugaan, Muntz menginginkan Kevin, seekor burung langka yang bersahabat dengan Russel. Muntz menginginkan Kevin untuk membuktikan kepada dunia bahwa ia tidaklah berbohong, karena sebelumnya Muntz dituduh telah berbohong dengan mengatakan bahwa ada burung langka sejenis Kevin. Seperti kebanyakan manusia yang masih diliputi oleh kesombongan dan keserakahan, begitupula halnya dengan Muntz. Demi harga diri dan ego semata, Muntz dengan tega berusaha menyingkirkan Russel dan Carl untuk mendapatkan Kevin.

Carl sendiri ternyata juga bersikap egois, bagi Carl mewujudkan impiannya bersama Ellie adalah yang paling utama. Hal ini membuat Carl jadi mengorbankan Kevin. Demi melindungi rumahnya yang dibakar oleh Muntz, Carl telah membiarkan Kevin ditangkap oleh Muntz dan mengingkari janjinya pada si kecil Russel untuk menjaga Kevin. Bahkan Carl tidak mau perduli lagi dengan Russel, baginya yang terutama adalah membawa ‘rumah’nya ke pinggir air terjun seperti mimpinya bersama Ellie.

Saat sedang membuka buku petualangan milik Ellie, tanpa sengaja Carl membuka halaman yang selama ini dikiranya kosong, halaman yang seharusnya berisikan hal-hal yang akan dilakukan Ellie bila ia berhasil pergi ke Amerika Selatan. Ternyata di halaman-halaman itu sudah terisikan oleh foto-foto kenangan mereka berdua, mulai dari foto pernikahan mereka, foto saat mereka piknik , foto saat mereka bersantai, dan di akhir bagian tertulis ucapan terima kasih Ellie untuk ‘petualangan’ indah yang sudah diberikan Carl untuknya.

Up-Carl-Ellie-web

Sebuah pelajaran yang sangat berharga yang saya dapatkan. Seringkali kita hidup untuk mengejar apa yang kita inginkan, apa yang menjadi impian kita, sehingga kita jadi tidak dapat menikmati hidup kita. Kita lupa, bahwa ternyata selain impian itu, hidup ini bisa memberikan kita kebahagiaan yang lain, dan Ellie sudah mengajarkan kita untuk bersikap demikian. Ellie mungkin saja sangat ingin pergi ke Amerika Selatan, tetapi di luar impian itu Ellie dapat ‘melihat’ bahwa hidup yang dijalaninya bersama dengan Carl, jauh lebih berharga daripada impian masa kecilnya. Ellie bisa ‘menemukankebahagiaan itu dengan hidup di dalam kenyataan. Dan hal inilah yang semula tidak disadari oleh Carl yang selalu berpikir bahwa kebahagiaan buat Ellie adalah bila berhasil mewujudkan impian masa kecilnya.

Setelah menyadari kesalahannya, Carl lalu berusaha menolong Kevin dari sandera Muntz. Akhir cerita, Muntz berakhir mengenaskan, tewas dengan harga diri dan egonya, sementara Carl bisa berbahagia di masa tuanya ditemani si kecil Russel yang semula hidup kesepian tanpa perhatian dari kedua orangtuanya.

Di dalam hidup ini, kita semua boleh memiliki impian yang setinggi-tingginya dan sudah seharusnya pula kita memperjuangkan mimpi itu. Namun yang perlu diingat, dalam mencapai impian itu hendaknya kita tidak mengorbankan orang lain, karena pada akhirnya itu tidak akan membuat kita bahagia. Dan harus kita sadari, bahwa kadangkala tidak semua impian kita dapat terwujud, sekeras apapun usaha kita untuk mewujudkannya. Untuk itulah, di dalam mengejar impian, kita juga tidak boleh membutakan mata kita, menutup telinga kita rapat-rapat, dan mematikan perasaan kita sendiri sehingga kita jadi tidak bisa melihat dan merasakan, bahwa selain impian itu, kita hidup dalam kenyataan, dan kita masih bisa menemukan kebahagiaan di dalam kenyataan itu, bukan semata-mata dari impian kita saja. Hidup saat ini, adalah yang utama, berbahagia dengan apa yang kita miliki serta berpuas diri, tampaknya adalah hal yang mudah, tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Ellie tidak membuang mimpinya, seumur hidup ia dan Carl tetap mengusahakannya, tetapi disamping itu, dia bisa menemukan kebahagiaan dari hidup bersama dengan Carl daripada sekedar mengejar impiannya yang memang sampai akhir hayatnya tidak pernah terwujud.

Semoga kita semua bisa bersikap seperti Carl, yang memiliki keinginan dan tekad yang kuat untuk mewujudkan impiannya. Namun kita juga harus bersikap seperti Ellie, bisa menemukan kebahagiaan dari hidup kita yang nyata, bukan dari impian kita saja.

Jakarta, 17 Agustus 2009

~Jen~

GELAP

j0438756

Gelap, sebagian besar orang aku rasa memiliki sisi gelap dalam hidupnya. Satu sisi pada satu masa yang dirasa sangat menyakitkan, yang ingin disembunyikan dan tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Saat sulit yang membuatmu merasa seorang diri, sepi, dingin dan gelap tentunya! Begitupula dengan aku, pada suatu waktu, suatu masa, aku juga berada dalam kegelapan. Hanya kesendirian, sepi dan putus asa yang bisa kurasakan.

Memang benar seperti yang dikatakan orang, dengan pernah melihat gelap kamu akan lebih bisa merasakan indahnya terang, Karena manusia cenderung  untuk membandingkan, dan lebih bisa menghargai dan mensyukuri sesuatu bila ada pembandingnya. Sangat manusiawi karena dalam proses melihat terang butuh perjuangan, usaha, kerja keras yang kadangkala harus disertai dengan pengorbanan dan air mata. Tapi disitulah keindahan dari sebuah pencapaian. Tidak ada yang salah dengan gelap, asalkan kita yang berada di dalamnya berusaha untuk melaluinya dan menuju ke arah cahaya.

Berada di dalam gelap, buatku bagaikan mimpi buruk yang panjang, dan hanya ada dua pilihan, memejamkan mataku lebih rapat hingga aku bisa terlelap dalam tidur yang panjang dan berharap dapat menghilangkan mimpi buruk itu, atau berusaha untuk bangun dan sadar, serta menghadapi kenyataan dengan berbesar hati…
Semula kupilih yang pertama, memejamkan mataku, membutakan hatiku, tapi ternyata semakin aku terjerat dalam gelap yang dingin dan menyakitkan.
Tetapi karena gelap juga, akhirnya aku dapat melihat setitik cahaya yang menandakan adanya sebuah harapan. Setitik terang yang menyadarkanku dan menuntunku pada ‘jalan’ yang membuatku bangun dari tidur panjang dalam kegelapan.

Gelap, aku tidak lagi mau berada di dalamnya, karena buatku itu sangat menyakitkan. Walau jalan yang kutempuh tidaklah mudah, tapi kutahu jalan ini akan membawaku keluar dari kegelapan untuk selamanya.
Namun, tidak pernah ada penyesalan buatku telah berada dalam gelap, karena gelap mengajarkanku banyak hal, karena gelap telah memicuku untuk bangkit, karena gelap telah membuatku berusaha berjalan menuju terang dan menemukan kebenaran! Dan sekarang telah kurasakan betapa indahnya kebenaran itu…


Semula kupikir hidup ini hanyalah sebuah mimpi,
Karena itulah kupejamkan mataku lebih rapat,
Mencoba membuatku terlelap hingga mimpi itu hilang,
Atau sekedar mencoba mencari mimpi yang lebih indah.

Hanya hitam dan putih yang kulihat,
Tiada indah yang kurasa…
Dingin dan sepi…

Tapi saat kulihat setitik cahaya kecil di dalam gelap,
Kusadari ini bukanlah mimpi,
Kusadari akulah yang tidak pernah mau membuka kedua mataku,
Untuk melihat keindahan yang sesungguhnya dari hidup ini…

Aku mengurung diriku sendiri di dalam gelap,
Dengan berdalih kalau semua hanya mimpi,
Padahal kenyataannya tidaklah seperti itu…

Perlahan kubuka kedua mataku,
Dan ya, aku melihat warna-warni yang indah…
Ternyata hidup bukanlah hitam putih sebuah mimpi,
Hidup ini sangatlah indah, saat aku dapat melihat kebenaran itu…

Jakarta, 15 Agustus 2009

~Jen~

giftSemua dari kita sudah akrab dengan kata ‘memberi’ dan saya percaya pasti semua orang pernah melakukannya walau sekecil apapun dan atas dasar apapun. Memberi mengandung makna yang luas, memberi tidak hanya terbatas pada materi saja, perhatian, dan nasehat, juga merupakan bentuk-bentuk pemberian. Di dalam ajaran Buddha, kita mengenal sepuluh parami, dan memberi (dana) berada di urutan pertama, karena memberi dengan kemurahan hati merupakan dasar dari kebajikan lainnya.

Memberi sudah seharusnya membawa manfaat bagi si penerima kebaikan, mereka akan merasa dihargai, merasa berbahagia, merasa dicintai dan berbagai manfaat lainnya. Tetapi sebenarnya selain membawa manfaat bagi si penerima, memberi justru membawa manfaat yang lebih besar bagi si pemberi. Mengapa bisa dikatakan demikian? Dengan memberi secara tulus, seseorang akan merasakan kedamaian, kebahagiaan, dan perasaan yang membebaskan.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman lama membutuhkan tempat untuk bicara, tempat untuk berkeluh kesah dan meminta sedikit masukan. Menyadari kalau ia membutuhkan semua itu, saya berusaha memberikannya, walaupun jam sudah menunjukkan pukul dua pagi dan saya harus kembali begadang malam itu karenanya, tapi saya tetap melakukan semuanya dengan tulus, saya berusaha menjadi pendengar yang baik dan mencoba memberikan nasihat semampu saya. Dan sangat aneh, setelah acara curhat itu, saya merasakan satu perasaan yang sangat berbeda, saat itu saya merasa saya tidak sendiri di dunia ini.

Hidup di dunia yang sangat kompleks seringkali membuat kita stress, membuat kita berpikir betapa malangnya diri kita, dibebani dengan berbagai masalah, itu juga yang sering saya rasakan. Ditambah lagi berbagai pertanyaan yang juga kerap muncul dalam diri saya, mengenai siapa saya ini, untuk apa saya berada di dunia ini? Ternyata setelah saya memberi, saya dapat merasakan bahwa saya tidak sendiri, ada orang lain yang mungkin justru lebih tidak beruntung dibandingkan saya. Saat kita bisa merasakan hal itu, kita akan lebih bisa menerima kondisi kita dan merasa bersyukur, menyadari kita bukan yang terburuk dan tidak sendirian dalam kesusahan kita.

Bagaimana memberi bisa membawa manfaat bagi si pemberi?

Kita seringkali terjebak dalam pemikiran bahwa dengan memberi saya akan menerima balasannya, dan ini seringkali menjadi alasan kita memberi. Pemikiran ini tidak salah, karena kita tahu hukum karma bekerja sedemikian adanya. Selain itu seringkali memberi dilakukan dengan alasan gengsi semata, untuk mendapatkan nama baik, ataupun dilakukan dengan terpaksa karena diminta oleh orang lain. Walaupun sangat manusiawi dan tidak dapat disalahkan, memberi dengan didasari oleh hal-hal tersebut akan kurang membawa manfaat, dan kita tidak akan dapat merasakan kebahagiaan dari memberi ini secara maksimal. Memberi harus dilandasi dengan niat yang benar agar kita dapat merasakan manfaatnya. Saat memberi kita harus tahu bahwa itu akan meringankan penderitaan makhluk lain dan membawa kebahagiaan buat mereka. Memberi juga harus dilakukan dengan hati yang tulus tanpa mengharapkan balasan apapun. Perasaan yang membebaskan akan dapat kita rasakan saat kita memberi dengan didasari dengan kerelaan dan tanpa berharap apapun dari tindakan kita itu. Memberi yang seperti ini juga membantu kita dalam berlatih mengikis keserakahan dan kemelekatan, dimana harus kita sadari bahwa keserakahan dan kemelekatan seringkali menjadi sumber ketidakpuasan dalam kehidupan ini.

Memberi tidak harus berupa materi.

Seperti sudah dikemukakan di awal, memberi tidak harus berupa materi, jadi tidak usah khawatir bila anda merasa tidak mampu melakukan pemberian berupa materi. Meluangkan sedikit waktu anda untuk seorang teman yang membutuhkan perhatian, menjadi pendengar yang baik saat orang lain butuh tempat untuk curhat, atau sekedar memberikan sedikit ucapan semangat ataupun pujian pada orang lain yang sedang membutuhkannya, semua itu adalah bentuk-bentuk memberi yang seringkali tidak kita sadari. Memberi materi jelas melatih kita untuk melepaskan keterikatan akan materi. Sedangkan memberi pujian ataupun semangat, dapat melatih kita untuk bersikap rendah hati, melepaskan ego dan kesombongan kita yang seringkali merasa lebih dari orang lain. Apapun bentuk pemberian kita, yang terpenting dari memberi adalah ketulusan hati saat melakukannya.

Cobalah anda mulai untuk memberi dengan tulus, dan coba rasakan apa yang anda alami sesudahnya.

Apakah anda dapat merasakan kebahagiaan?

Apakah anda merasakan sesuatu yang membebaskan?

Apakah anda masih merasa sendiri?

~Jen~

PH02474J
Tersebutlah si monster ‘aku’, yang tinggal di dalam diri manusia.
‘aku’ ini suka sekali maen petak umpet, bersembunyi dan muncul sesuka hati.
‘aku’ bisa menjadi begitu besar, walau kadangkala juga ia mengecil.
Tanpa disadari oleh manusia, si ‘aku’ memegang kendali.

Buat ‘aku’, segala sesuatu haruslah sesuai dengan keinginannya.
Keluarga, sahabat, lingkungan, semua harus mengikuti maunya.
‘aku’ jarang sekali mau mengalah, kalau bisa, ia selalu jadi yang terbaik dalam segala hal.
‘aku’ sangat suka bila dipuji, dan menjadi sedih saat tak ada seorang pun yang perduli.

‘aku’ kadangkala melukai hati yang lain, tetapi tetap ‘aku’ tidak perduli.
Bahkan maaf pun rasanya berat untuk ‘aku’ sampaikan.

‘aku’ selalu merasa sudah sepantasnya mendapatkan apa yang ia dapatkan.
‘aku’ menganggap semua adalah miliknya dan selamanya akan jadi miliknya.
Itu membuat ‘aku’ menjadi selalu tidak pernah merasa puas.
Tanpa disadari kian hari ‘aku’ menjadi bertambah buruk dan menyeramkan.
Sayangnya ‘aku’ tidak pernah menyadari betapa buruknya ’aku’.

Sampai suatu kali ‘aku’ tidak mendapatkan apa yang ‘aku’ mau.
Biasanya itu hanya membuat ‘aku’ marah dan kecewa yang menjadikannya lebih buruk.
Tetapi kali ini sebuah ’kehilangan’ membuat ‘aku’ larut dalam kesedihan.
Sampai air matanya yang jatuh berlinang menggenang menjadi sebuah kolam.

Untuk pertama kalinya ‘aku’ melihat pantulan dirinya di kolam itu.
Betapa terkejutnya ‘aku’! Betapa buruk rupanya ‘aku’!
Sesaat ‘aku’ berpikir, seandainya ‘aku’ mengubah diri menjadi lebih baik, mungkin ‘aku’ tidak akan menjadi seburuk ini.

Lalu ‘aku’ mulai berbuat kebaikan, ‘aku’ belajar untuk bersabar.
‘aku’ banyak mengalah, ‘aku’ mencoba membantu dan menyenangkan siapa saja.
Tapi apa yang terjadi? Oh tidak!! ‘aku’ bertambah buruk lagi!
Rasanya ‘aku’ ingin menjerit! Apa yang salah?!

‘aku’ ingin lari, tapi ‘aku’ terpenjara, tidak bisa kemana-mana!
‘aku’ ingin berteriak tapi percuma tak ada yang akan mendengar!
‘aku’ ingin minta tolong tetapi tak tahu kepada siapa!

Sampai ‘aku’ merasa lelah dan mencoba untuk diam, diam di dalam keheningan.
Bertanya kepada dirinya, mengapa ‘aku’ malah bertambah buruk?
Ternyata apa yang ‘aku’ lakukan hanya didasari keinginan untuk mendapatkan perhatian.
Ternyata ‘aku’ mengharapkan pujian dan pengakuan yang justru memperjelas eksistensinya.

Lama ‘aku’ merenung…
Dalam diam akhirnya ‘aku’ melihat, bahwasanya seharusnya tidak pernah ada ‘aku’.
Selama ini ‘aku’ terbentuk oleh keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan.
Sebuah kesombongan yang mencoba memunculkan eksistensi ‘aku’.
‘aku’ tidak akan pernah menjadi cantik, ‘aku’ akan selalu buruk…
Dengan begitu sampai kapanpun ‘aku’ hanya akan menderita…
Dan untuk itu ‘aku’ harus dilenyapkan!

Sayangnya monster ‘aku’ terlanjur terbentuk…
Dan untuk melenyapkannya bukan hal yang mudah.
Kadangkala dalam kondisi yang tidak menyenangkan si ’aku’akan muncul.
Begitupula saat senang, ’aku’ pun masih ada.

‘aku’ masih harus berjuang dengan mencoba mengamati dirinya.
Menyadari setiap saat akan ‘aku’ yang seharusnya tidak pernah ada.
Sampai suatu hari nanti… kan didapati bahwa tiada lagi ‘aku’…

Jakarta, 21 Juli 2009

~Jen~

Layang layang

Beberapa waktu yang lalu saat sedang memindahkan file-file lagu ke dalam laptop, tanpa sengaja saya melihat sebuah file lagu lama yang sangat saya sukai. Lagu Can’t Cry Hard Enough, yang pernah dinyanyikan oleh William Brothers, tapi kebetulan file yang saya punya ini versi yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita: Bellefire. Saya sangat suka lagu ini, entah mengapa, mungkin karena lirik dan melody nya yang mellow atau memang karena kebetulan saya suka jenis musiknya. Lagu ini menceritakan tentang kehilangan orang yang dikasihi. Iseng-iseng saya putar lagu ini dan coba mendengarkan liriknya satu per satu.

I let go of you like, a child letting go of his kite
There it goes up in the sky
There it goes beyond the clouds
for no reason why…

Ah, tiba-tiba saja saya merasa lirik ini begitu indah… lirik ini memberi saya sedikit pencerahan.

Setelah mengenal Dharma, saya menyadari bahwa ‘keterikatan’ seringkali menjadi sumber ‘ketidakpuasan’. Karena keterikatan pada benda-benda yang kita sayangi, keterikatan akan pangkat dan kedudukan kita, saat itu semua ‘pergi’ dari kita, entah karena rusak, hilang, ataupun diambil secara paksa dari kita, biasanya itu membuat kita menjadi bersedih, marah dan beribu perasaan tidak menyenangkan lainnya. Begitu pula dengan keterikatan akan orang-orang yang kita sayangi dan cintai. Suatu bentuk keterikatan yang menurut saya sangat halus, sehingga seringkali tidak kita sadari, karena sebagian bersembunyi dibalik tameng rasa sayang dan kesetiaan.

Coba anda tanya diri anda, apakah rasa cinta dan kesetiaan yang membuat anda begitu menyayangi keluarga anda, ayah ibu, kakak adik, suami istri dan anak-anak anda? Atau adakah si ‘monster ego’ dalam diri anda yang perlahan-lahan membangun tameng ‘keterikatan’ anda pada mereka semua?

Perpisahan dengan orang yang kita cintai, putus dengan pacar, ataupun kematian orang yang kita cintai membuat kita sedih. Kita sedih karena tidak lagi bisa bersama-sama dengan orang-orang itu. Kita sedih karena kita terlalu terikat. Seringkali keterikatan itu membuat kita menutup rapat hati kita dan kita hanya hidup dalam kenangan akan mereka, tanpa berusaha untuk melihat ke depan, ke kehidupan yang masih harus kita jalani. Begitu hebatnya ‘keterikatan’ ini sampai-sampai seringkali merusak masa depan kita.

Sebait lirik lagu tadi telah menyadarkan saya dan mengajarkan saya bagaimana caranya untuk belajar tidak terikat. Sebuah filosofi sederhana dari seorang anak yang bermain layang-layang…

Kalau anda pernah bermain layang-layang saat anda kecil, apa yang paling membuat anda senang? Saat melihat layang-layang itu bisa terbang tinggi, semakin tinggi, tinggi…hingga mencapai awan bukan? Begitu juga seharusnya kita belajar untuk melepas, belajar untuk tidak terikat pada yang kita cintai, apapun itu. Semakin anda bisa melepaskan diri dari keterikatan, semakin kebahagiaan itu bisa anda rasakan. Sekalipun terbang begitu tinggi, masih ada benang yang menghubungkan anda dengan layang-layang itu, anda masih bisa mengendalikannya, terhubung dengannya. Sama halnya dalam hidup ini, tidak terikat dengan apa yang anda cintai bukan berarti anda cuek dan serta merta tidak terkait sama sekali. Ada ikatan yang tetap menghubungkan anda, tetapi anda tidak menjadi terikat olehnya, anda yang mengendalikannya.

Sampai suatu saat, angin tidak bersahabat dengan anda, menerbangkan layang-layang anda ke arah pohon sehingga tersangkut lalu putus benangnya, dan anda kehilangan layang-layang itu. Mungkin ada layang-layang lain yang tiba-tiba menyabotnya dan benang layang-layang anda tidak cukup kuat sehingga putus. Atau tanpa ada sebab yang jelas, benang itu putus begitu saja.

Sewaktu anda kecil, apa yang anda rasakan saat benang layangan anda putus dan anda kehilangan layang-layang anda? Saya masih ingat, sedikit rasa sedih karena saya harus kehilangan layang-layang itu, tapi kesedihan itu hanya sebentar dan sama sekali tidak mengganggu aktivitas saya lainnya, tidak menggangu kehidupan saya. Bahkan pernah saat saya sedang bermain begitu asyiknya bersama kakak dan adik saya, layang-layang yang putus itu tidak membuat saya sedih justru sebaliknya malah membuat kami tertawa-tawa?

Demikianlah dalam hidup, karena kita semua memahami bahwa segala sesuatu selalu berubah, akan sampai saatnya kita harus berpisah dari apa yang kita cintai, seperti layang-layang yang putus benangnya. Berakhir sudah ikatan kita dengan yang kita cintai, apapun itu termasuk kehidupan kita sendiri. Dan seperti anak kecil yang kehilangan layang-layangnya, kehilangan itu tidak akan sampai menghancurkan kita.

Belajarlah untuk tidak terikat dengan menganggap apa yang ada pada hidup kita ini bagaikan layang-layang. Semakin jauh kita melepasnya semakin bahagia kita rasa. Sampai saatnya benang yang menghubungkan kita dengan itu semua putus, dan kita terpisah darinya. Saat itu kita masih tetap bisa tersenyum dan tidak kehilangan kebahagiaan sejati kita.

“I let go of you like, a child letting go of his kite…”

Jakarta, 29 Juni 2009
~Jennifer~

Ada sebuah pepatah mengatakan “Banyak jalan menuju Roma“, ya banyak jalan buat kita untuk bisa mencapai sesuatu, belajar sesuatu dan bahkan hanya sekedar untuk mengetahui sesuatu.
Kadangkala kita seringkali membatasi diri kita, bahwa untuk mencapai suatu tujuan hanya bisa ditempuh dengan cara tertentu saja, cara yang umumnya digunakan oleh sebagian besar orang, ataupun yang diajarkan oleh guru-guru ternama.

j0437195

Kira-kira sebulan yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah seminar mengenai bagaimana meningkatkan kecerdasan dan kreativitas anak. Sebuah seminar yang sangat menarik menurut saya, karena selain dibawakan oleh Kak Seto, yang kita tahu memang seorang pakar dalam dunia psikologi anak, tetapi juga karena apa yang disampaikan menurut saya sangat membuka wawasan.
Orangtua seringkali memaksakan anak untuk bisa belajar dan mencapai apa yang ditargetkan oleh mereka, dengan cara-cara yang konservatif. Konservatif maksudnya anak dipaksa belajar sesuai aturan yang diterapkan tanpa melihat bakat dan potensi si anak, serta bidang yang digemarinya. Cara pengajaran seperti ini justru membuat si anak seringkali jadi pemberontak dan akhirnya bisa mematikan potensi dan kreativitasnya.

Di dalam seminar tersebut, kak Seto menyampaikan, cara yang terbaik membuat anak belajar adalah melihat apa yang menjadi minatnya, dengan demikian kecerdasan dan kreativitasnya dapat berkembang secara maksimal. Bila anak suka menggambar, ajaklah ia belajar melalui gambar. Bila anak suka bercerita, ajarkan anak melalui cerita, Begitu pula jika anak suka menyanyi, cobalah ajak anak untuk menghafal pelajaran dengan menyanyikannya. Demikian pula dengan anak yang gemar menari, ajaklah ia belajar melalui tarian. Yang menarik bahkan, bila anak suka bermain sulap, pelajaran fisika pun bisa diajarkan melalui permainan sulap. Semua yang saya sebutkan tadi benar-benar dicontohkan oleh kak Seto dengan sangat menarik.

Saya jadi teringat akan murid les saya 9 tahun yang lalu. Anak ini tidak suka pelajaran ilmu pasti, entah itu matematika ataupun fisika. ”Bikin pusing dan itu tidak perlu buat saya, karena cita-cita saya hanya ingin jadi koki dan punya sebuah toko kue,” begitu katanya. Waktu itu saya katakan padanya, meskipun hanya mau jadi koki pembuat kue, matematika itu penting. Bagaimana kamu bisa menimbang adonan dengan tepat untuk menghasilkan kue yang enak kalau kamu tidak kenal matematika? Kalau membuat kue ada perbandingan antara jumlah bahan satu dan lainnya, itu semua adalah matematika. Sejak saya mengetahui minat anak ini, saya selalu berusaha membuat soal dengan menggunakan contoh-contoh seputar kesukaan dan cita-citanya. Yah sedikit banyak ini cukup membantu saya membuat si anak mau belajar dan merasa matematika itu ternyata menyenangkan dan memang diperlukan.

Saya juga jadi teringat akan apa yang disebut “skillful means” (Upaya-kaushalya), yang secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk mengetahui cara atau metode agar seseorang dapat mengenal Dhamma, kemampuan yang dimiliki oleh Buddha Gotama sehingga bisa membuat begitu banyak Bhikku dan umat awam mencapai tingkat kesucian tertentu. Buddha mengetahui tingkat kematangan kebijaksanaan masing-masing orang, ada yang cukup hanya melalui mendengar Dhamma-Nya langsung bisa mencapai tingkat kesucian tertentu, tetapi ada juga yg harus melalui cara-cara lain, seperti terhadap Bhikku Culapanthaka. Karena kesalahannya di kehidupan lalu, Bhikku Culapanthaka terlahir sebagai orang yang bodoh sehingga bahkan tidak mampu mengingat satu syair pun. Tetapi Buddha hanya memberikan sebuah kain lap dan menyuruhnya untuk menggosok kain lap tersebut sambil mengucap satu kata: ’rojaharanam’ yang artinya ’kotor’, sehingga akhirnya saat Bhikku Culapanthaka melihat kain yang menjadi kotor, ia menyadari bahwa segala yang terkondisi tidaklah kekal dan pada akhirnya Bhikku Culapanthaka bisa mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dari sini saya menyadari, ternyata tidaklah mudah untuk membuat orang bisa memahami Dhamma ajaran Buddha, dibutuhkan ”skillful means” seperti yang dimiliki oleh Buddha. Tetapi siapa yang memilikinya di saat sekarang ini? Mungkin hanya segelintir orang atau bahkan tidak ada sama sekali? Lalu bagaimana kita bisa membuat orang mengenal Dhamma sesuai dengan tingkat kebijaksanaannya? Saya pikir ya itu tadi, seperti orang tua yang mengajarkan anak melalui minatnya, begitupula yang bisa kita lakukan, menyediakan berbagai jalan agar orang bisa mengenal Dhamma.
Ada yang suka belajar melalui membaca, oke kita sediakan buku-buku Dhamma, ada yang suka belajar melalui ceramah, kita adakan seminar-seminar, tapi jangan lupa mungkin ada juga yang menyukai seni, baik itu puisi, tari-tarian ataupun lagu. Sebisa mungkin kita memfasilitasi itu semua, dengan satu tujuan mulia tentunya, membuat orang bisa mengenal Dhamma ajaran Buddha yang sesungguhnya indah pada awal, tengah dan akhirnya.

Seperti kata pepatah ”Banyak jalan menuju Roma” demikian pula ”Banyak jalan yang membuat orang bisa mengenal Dhamma dan mencapai pencerahan”.

Jakarta, 8 Juni 2009
~Jen~

j0438647
Akhir-akhir ini aku jadi hampir lupa menulis untuk diriku sendiri, karena terlalu sering menulis buat orang lain. Menulis buat orang lain maksudnya aku memang memperuntukkan tulisanku dibaca orang lain, jadi baik isi maupun tata bahasanya harus aku pikirkan supaya orang nyaman membacanya. Terus terang aku lebih suka menulis untuk diriku sendiri, dengan gaya dan bahasaku sendiri dan yang paling penting adalah isi yang aku tujukan terutama untuk diriku sendiri.

Terakhir kali aku menulis bagaimana aku merasa ‘blank’ kehilangan arah dan tujuan hidupku. Aku bahkan sempat tidak bisa menuliskan apa-apa walaupun begitu banyak yang terlintas di dalam otakku dan begitu inginnya aku tuangkan dalam tulisan. Seolah-olah aku merasa tidak ada gunanya aku menulis, karena aku sendiri tidak mengenal diriku, tidak tahu apa tujuan hidupku…

Tetapi aku menyadari bahwa dalam hidup kadangkala kita harus melewati fase itu, fase di mana kita jadi kehilangan pegangan dan arah. Beruntunglah aku tidak terlalu lama berada dalam kondisi itu. Aku sudah menemukan apa yang jadi tujuan hidupku, hei kalau kupikir sebenarnya aku sudah tahu itu, tapi aku sempat melupakannya dan tidak menyadarinya. Aku yang sekarang sudah bisa menerima diriku apa adanya dan aku siap untuk terus berjuang dalam hidup ini.

Awalnya aku terlalu banyak berpikir dan menyesali apa yang ada di hidupku sekarang ini. Menyesali mengapa aku harus menanggung segala beban hidup yang ada. Karena aku percaya akan karma, aku percaya apa yang terjadi di kehidupanku saat ini adalah akibat dari perbuatanku di kehidupan yang lalu tentunya, aku jadi bertanya-tanya apa salahku dulu? Aku mulai hidup dalam rasa penyesalan yang besar… mempertanyakan mengapa ‘aku yang dulu’ berbuat begitu banyak kesalahan sehingga ‘aku yang sekarang’ yang harus menanggungnya. Semua pertanyaan, rasa tidak puas dan penyesalan itu selalu menghantuiku. Aku seperti tidak dapat memaafkan diriku sendiri dan aku jadi lupa dengan apa yang seharusnya kulakukan saat ini.

Sampai suatu hari aku membaca sebuah artikel, bagaimana cara Buddha memaafkan orang, dan aku jadi menyadari kalau ‘aku yang sekarang’ ini berbeda dengan ‘aku yang kemarin’, karena segala yang terkondisi selalu berubah. Kalaupun dulu aku telah melakukan kesalahan, itu adalah ‘aku yang lalu’, dan ‘aku yang sekarang’ sudah menjadi ‘aku yang baru’ dan sudah seharusnya tidak sama dengan ‘aku yang lalu’ asalkan aku tidak mengulangi kesalahan yang sama. Untuk itulah aku belajar dari Sang Buddha yang memaafkan orang yang telah menyakitinya, dengan memaafkan diriku sendiri. Aku menyadari bahwa meskipun aku yang sekarang berbeda, tetapi aku tetap harus menanggung akibat dari perbuatanku yang dulu. Yang terpenting untukku saat ini adalah menyadari bahwa aku memang telah melakukan kesalahan dan aku pasti akan menanggung akibatnya, tetapi aku tidak akan berlarut dalam penyesalan itu, aku hidup saat ini untuk membayar apa yang menjadi hutangku yang lalu.

Saat yang bersamaan juga, aku sedang mempelajari kitab Jataka, dimana berisi kelahiran-kelahiran yang lalu dari Buddha Gotama. Dari situ aku belajar, bahwa kehidupan yang berulang itu bukannya tanpa maksud. Kehidupan yang berulang itu ditujukan untuk memperbaiki kesalahan dan menyempurkan diri kita. Sebelum lahir menjadi seorang manusia dari suku Sakya dengan gelar pangeran, Siddharta Gotama, yang kemudian menjadi Buddha, sudah mengalami kelahiran yang tak terhitung banyaknya. Dan tidak hanya sebagai manusia, tetapi juga sebagai hewan, sebagai dewa dan sebagai makhluk lainnya. Dalam kelahiran yang berulang itu Bodhisattwa bakal Buddha melakukan begitu banyak kebajikan, beliau menyempurnakan Parami-nya sampai pada kelahiran terakhirnya sebagai Pangeran Siddharta.

Dari sini aku belajar, begitu pula halnya diriku saat ini, aku lahir sebagai manusia merupakan suatu berkah yang tak ternilai harganya karena dapat mengenal Dhamma ajaran Buddha. Kelahiranku kali ini tentunya juga memiliki maksud dan tujuan. Aku lahir sebagai manusia dan mengenal Dhamma adalah hasil dari karmaku, pastilah dulu aku telah berbuat suatu kebajikan sehingga bisa lahir dalam kondisi seperti itu. Tetapi aku menyadari bahwa ada banyak kesalahan yang sudah aku perbuat, dan aku harus membayarnya di kehidupan ini dan mungkin di kehidupan-kehidupan selanjutnya. Belajar dari kisah Jataka, aku juga menemukan bahwa seringkali kesalahan yang sama diulang kembali dalam kehidupan yang selanjutnya. Untuk itulah kita hendaknya selalu sadar dan berusaha sebaik mungkin menjalankan Dhamma ajaran Buddha sehingga kesalahan yang sama tidak terulang kembali.

Tujuan hidupku saat ini, seperti halnya Bodhisattwa bakal Buddha, adalah menyempurnakan Parami-ku sehingga bisa menemukan kebahagiaan sejati Nibbana. Aku percaya di setiap makhluk terdapat benih ke-Buddha-an, karena itulah seharusnya dalam kelahiran ini dan mungkin banyak lagi kelahiran berikutnya, aku harus berjuang untuk menyempurnakannya sampai aku berhasil mencapai Nibbana.

Semoga kesadaran akan tujuan hidupku ini, bisa membuatku senantiasa hidup sesuai dengan Dhamma yang menuntunku pada ‘kesempurnaan’…

Silent

ist2_2634427-lonely-child

Sometimes we do not need any words to tell anyone what had happened.
Just a simple picture and it tells you a lot…
Even though there are so many words on my mind but my hands cannot write any of it to tell anyone what I feel…