Feeds:
Posts
Comments

Belajar

42-17020128

Belajar buat sebagian orang merupakan hal yang mudah, tapi mungkin bagi sebagian besar lainnya adalah hal yang sulit. Ada orang-orang yang sangat suka sekali belajar, tapi sebagian ada yang malas, dan beberapa lainnya mungkin tergantung pada apa yang harus dipelajari. Aku termasuk orang  yang suka belajar, tapi aku bukan seorang kutu buku, aku suka belajar apapun dari pengalaman hidupku sehari-hari.

 

Sewaktu aku naik taxi aku belajar jalan-jalan pintas  yang dilalui oleh supir taxi sehingga di lain waktu saat aku bepergian sendiri ataupun masih dengan taxi, aku sudah tau jalan-jalan itu yang mungkin bisa menghindari kemacetan. Sewaktu aku kecil, aku belajar cara berdagang dari papi, bukan dengan pengajaran langsung, tapi dengan memperhatikan bagaimana papi berdagang di toko. Begitu pula saat aku bekerja, aku belajar untuk mencintai pekerjaanku dan menekuninya…

 

Dari semua yang aku pelajari, buatku belajar dari suatu kesalahan ataupun kegagalan adalah yang paling penting. Tidak bisa kupungkiri, kadangkala aku berpikir seharusnya aku bisa menghindari kesalahan ataupun kegagalan itu, tapi aku tidak pernah menyesal, aku bersyukur justru dengan kesalahan/kegagalan itu aku bisa belajar dan menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Aku pernah melakukan kesalahan dan  mengalami kegagalan tentunya, dan aku menyesalinya, lalu aku belajar untuk tidak mengulanginya lagi.

 

Tapi belajar dari kesalahan ataupun kegagalan tidaklah mudah, dan ternyata juga tidak semua orang bisa cepat belajar ataupun bahkan mau sedikit saja belajar. Untuk bisa belajar dari kesalahan/kegagalan, kita harus lebih dahulu bisa menerima kesalahan/kegagalan itu dengan mengakuinya.  Selain mengakui kita juga harus menyingkirkan perasaan bersalah dan menyesal. Kita perlu menyesal tapi bukan berlarut-larut. Point nya adalah ”what’s next?”

 

Belakangan ini aku baru menyadari, ternyata tidak semua orang dengan mudah bisa belajar dari kesalahan atau kegagalannya. Sebagian dikarenakan kesombongan diri, merasa ”nothings wrong with me”, sebagian lagi mungkin karena ’kebodohan batin’: tidak bisa melihat sesuatu secara bijaksana. Kadangkala kita harus melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda. Aku seringkali melakukan hal ini, bukan untuk menjadi beda dengan pendapat orang kebanyakan, tapi lebih kepada melihat secara adil, memposisikan diri kita pada situasi itu, karena kadangkala berbicara itu mudah, tapi untuk melaksanakan ataupun mengalaminya sendiri, itu yang sulit.

 

Biar bagaimanapun kita tidak pernah bisa memaksa seseorang untuk belajar. Proses belajar akan maksimal bila datangnya dari dalam diri masing-masing orang. Orang lain hanya bisa membantu untuk mengarahkan, mendukung, tapi tetap yang terpenting adalah si pelaku utama, yaitu orang itu sendiri.

Untuk itulah aku harus mengingatkan diriku lagi, bahwa kita tidak pernah bisa memaksa orang lain untuk belajar, karena tidak semua orang bisa belajar, bahkan  sekalipun dengan pengalaman pahit yang mendatangkan penyesalan seumur hidup. Di sini aku hanya ingin menyampaikan pada semua, jangan pernah malas belajar, terutama dari kesalahan atau kegagalanmu, karena yang terpenting bukanlah suatu keberhasilan tapi bagaimana kamu bisa bangkit dari kegagalan dan memperbaiki kesalahan serta menemukan kebenaran.  

Di tahun 2009 ini aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian karena beberapa alasan. Yang pasti bukan karena ikut-ikutan trend ataupun juga karena aku sangat perduli atas himbauan untuk menjadi vegetarian dengan alasan untuk menyelamatkan bumi. Bukan, bukan karena hal itu. Aku pernah menjadi vegetarian selama 1 tahun lebih, dan itu sudah 10 tahun yang lalu. Ya, dengan berbagai alasan pembenaran diri dan kebulatan tekad yang kurang kuat, akhirnya aku berhenti jadi seorang vegetarian.

Aku punya alasan mengapa aku memutuskan untuk menjadi vegetarian (lagi). Lebih dari 14 tahun yang lalu aku pernah mengucap ikrar untuk menjadi seorang vegetarian. Ikrar seorang anak kecil yang lahir dari rasa kekecewaan dan putus asa, yang akhirnya tidak pernah bisa dilaksanakan. Walau sudah lama berlalu, ikrar itu tetap selalu bisa kuingat dengan jelas, seolah hutang yang harus kubayar.

Tetapi diluar rasa tanggung jawab untuk membayar hutang, keputusanku untuk menjadi seorang vegetarian adalah lebih kepada karena aku ingin belajar untuk mengembangkan cinta kasih yang universal, cinta kasih yang tidak hanya terbatas kepada manusia tetapi juga kepada hewan dan makhluk lainnya.

Memang tidak ada keharusan untuk menjadi seorang vegetarian dalam Buddhisme, tetapi bila niat untuk menjalankannya adalah untuk pengendalian diri dan mengembangkan cinta kasih, menjadi vegetarian baik untuk dilakukan.

Untuk itulah, melengkapi ikrar yang pernah terucap serta untuk berlatih mengembangkan cinta kasih, aku memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian (lagi).

Sampai kemarin siang aku masih berpikir kata-kata papi mengenai dalam hidup ini yang penting kita tidak melukai orang lain dan kita berbuat baik itu sudah cukup, adalah benar. Bahkan akhir tahun 2008 pun aku masih mendengar ceramah yang menguatkan statement itu, dengan cukup menjadi baik (be good), surga sudah ada dalam genggaman kita. Kalau demikian hal nya bukankah papi seharusnya sudah terlahir di surga? Dengan penilaian yang cukup objective bahwa papi adalah seorang yang baik? Tetapi sayangnya, menjadi baik saja tidaklah cukup bahkan hanya untuk bisa terlahir sebagai manusia lagi, apalagi terlahir di surga!

Sebagai anak mengetahui papi harus terlahir di alam yang sengsara, pastilah aku bersedih. Pertanyaanku selama ini terjawab sudah, ‘bahagiakah papi?’, ternyata jawabnya TIDAK! Jawaban ini sudah sejak lama kuketahui dari mimpiku, saat aku melihat wajah sedih papi saat itu. Dan hari ini aku sangat bersyukur atas karma baik yang membuatku bisa mengetahui dengan pasti kalau papi memang sudah terlahir di alam yang menyedihkan, entah alam apa itu pastinya, mulut kecil itu tidak sampai hati menyampaikannya padaku, tetapi dengan begitu aku jadi bisa berusaha untuk menolong papi ‘melewatinya’….

Mungkin ini hanya dugaanku saja, tapi tingkat keyakinanku 90%, bahwa penyebab papi terlahir di alam sengsara adalah karena rasa tidak bisa menerima. Papi meninggal juga bukan karena sakit yang berat tapi lebih kepada sakit pikiran. Sakit pikiran yang timbul karena tidak bisa menerima keadaan yang selalu berubah, sakit pikiran karena penyesalan atas harapan yang tidak terkabulkan. Sekali lagi aku menyesal karena saat itu pemahamanku tentang dharma juga belum cukup sehingga aku tidak bisa mengajarkan kepada papi bahwa ada yang namanya ‘dukkha’ dan ‘anicca’.

Pada akhirnya dengan mengetahui hal ini juga aku jadi disadarkan, ternyata hanya dengan label ‘orang baik’ saja tidak bisa menjamin kita bisa lahir lagi menjadi manusia. Kita harus kembali pada empat kebenaran mulia yang sudah ditemukan oleh Sang Buddha:

” Hidup ini adalah penderitaan,

Adanya sebab dari penderitaan,

Adanya akhir dari penderitaan (bisa diakhiri),

Dan cara mengakhiri penderitaan dengan jalan mulia berfaktor delapan.”

That’s why, just being good is not enough!

Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat yang baik bagi orang-orang yang membacanya, dan karma baik yang kuperoleh bisa melimpah pada papi supaya bisa terbebas dari penderitaan….

Semoga sekali lagi kita bisa berjodoh sebagai ayah dan anak seperti di kehidupan sekarang dan di kehidupan yang lalu….

A New Day A New Hope

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sebentar lagi kita akan mengakhiri tahun ini dan memulai tahun yang baru. Seperti tahun yang sudah-sudah, setiap kali pergantian tahun, pastinya kita memiliki harapan yang baru. Satu tahun sudah kita lewati, banyak hal yang menyenangkan dan mungkin juga tidak menyenangkan. Banyak harapan-harapan yang belum terwujudkan, ada kegagalan yang mungkin harus kita telan, ataupun kesalahan-kesalahan yang terlanjur kita lakukan. Dan kita berharap di tahun yang baru, kita dapat memulai lagi dari awal, memperbaiki kesalahan yang sudah kita lakukan di tahun yang lalu, serta kita memiliki pengharapan baru agar segala sesuatu menjadi lebih baik.

Aku jadi teringat, kurang lebih delapan tahun yang lalu, sebagaimana layaknya mahasiswa perantauan yang hidup di ibukota, aku mencoba mencari penghasilan tambahan dengan mengajar les anak SD. Dalam satu kesempatan si anak mendapat tugas dari sekolah, menuliskan apa harapannya untuk tahun yang baru. Dalam karangannya si anak berharap agak ibunya lekas sembuh. Yah, walau tidak pernah terucapkan tapi aku menyadari bahwa si ibu pastilah mengidap suatu penyakit yang serius. Setelah pertemuan pertama, untuk jangka waktu tiga bulan lamanya aku tidak pernah melihat si ibu karena sepertinya ia pergi ke Belanda entah untuk urusan apa.  Dan ia mempercayakan pelajaran sekolah si anak sepenuhnya kepadaku yang saat itu harus 5 hari dalam seminggu, datang mengajari si anak. Dan sejak itu selama empat tahun lamanya, dari si anak kelas 6 SD hingga hampir SMU, aku selalu menemaninya belajar, sekaligus menjadi teman dan kakak.

Tapi harapan seringkali tinggal harapan, kita boleh saja menaruh harapan, tapi saat harapan itu tidak terwujud, kita juga harus bisa menerimanya. Karena tidak semua doa akan terjawab dan tidak semua pengharapan akan berbalas. Setelah berhenti mengajar empat tahun yang lalu, beberapa minggu yang lalu aku punya kesempatan untuk berbincang dengan si anak. Sudah lama sekali kami tidak ngobrol walaupun kami tetap terhubung karena keajaiban yang ditawarkan oleh teknologi bernama internet melalui friendster dan facebook. Aku bertanya kepadanya, bagaimana keadaan ibunya. Dan sangat menyesal aku harus mendengar jawaban ini: “Sorry ci2, aku tidak sempat kasih tau, mother passed away 2 tahun yang lalu….” Entah mengapa aku tidak terlalu kaget mendengarnya walaupun juga tidak menyangka akan secepat itu, karena sejak semula aku sudah yakin pastilah penyakit kanker yang diderita oleh si ibu. Setelah itu yang terlintas di dalam ingatanku adalah potongan kejadian-kejadian masa lalu, bagaimana harapan si anak atas kesehatan ibunya….

Pada akhirnya aku kembali diingatkan, bagaimana kita harus bersikap tulus, bahkan atas harapan yang kita sampaikan sendiri. Tulus, tanpa mengharapkan balasan. Agak aneh memang, bagaimana mungkin kita memiliki pengharapan atas sesuatu, tapi kita juga tidak boleh mengharap balasannya? Tapi itulah caranya ‘melepas’ agar kita bisa mengatasi ‘keterikatan’ yang seringkali mendatangkan ketidakpuasan yang berujung penderitaan.

Dalam hitungan hari, kita akan memulai tahun yang baru, harapan yang baru. Harapanku untuk tahun yang baru, dalam situasi yang mungkin serba sulit dan menjadi lebih sulit, aku hanya berharap setiap orang masih memiliki hati yang berbelas kasih dan penuh cinta, supaya tidak ada perselisihan, pertikaian dan tidak ada yang saling melukai. Agar kehidupan menjadi lebih baik….

Tahun yang baru, harapan baru yang selalu sama:
Semoga semua makhluk berbahagia….

blessloving-kindness04_1280x1024_eng2


Suatu siang, 21 tahun yang lalu….

Aku senang sekali hari ini karena mendapatkan hadiah kenaikan kelas berupa meja belajar baru merek Ligna berwarna coklat khas kayu. Sebelumnya aku harus berbagi dengan koko, sebuah meja belajar merek Olympic yang dibeli oleh mami. Tapi mulai hari ini aku punya meja belajar sendiri karena aku berhasil ranking 1 saat naik ke kelas 3 SD. Yang membuatku senang bukan hanya karena mendapat meja belajar yang baru, tapi lebih dari itu karena meja ini special dibeli papi dari kota untukku. Jarang sekali papi memberikan kami hadiah. Walaupun tidak ada gambar boneka lucu seperti yang ada di meja yang lama, tapi aku lebih menyukai mejaku sendiri. Belakangan adikku pun mendapatkan meja belajarnya sendiri. Sama seperti koko, meja belajarnya bermerek Olympic dan dibelikan oleh mami. Sejak itu meja belajarku menjadi lebih istimewa karena satu-satunya yang bermerek Ligna, dibeli di kota dan dibeli oleh papi.

Sampai sekarang meja ini jadi terasa lebih istimewa karena merupakan satu-satunya barang kenangan yang tersisa dari papi untukku…
Walaupun kaki mejanya sudah mulai rusak karena umurnya yang sudah lebih dari 20 tahun dan telah berpindah rumah 3 kali, aku tetap ngotot mempertahankannya sampai di Jakarta sekarang ini.
Karena tak ada yang tersisa dari papi, rumah tempatku dibesarkan yang penuh kenangan akan papi, sofa tua tempat papi duduk sehari-hari membaca koran yang juga menjadi tempatnya menghembuskan nafas terakhir… tidak ada satupun yang tersisa….
Hanya meja tulis Ligna tua ini yang menyisakan sedikit kenangan akan papi….

Suatu siang, 20 tahun yang lalu…

Aku mendapat nilai 8 untuk ulanganku, senang sekali rasanya karena sebagian besar teman sekelasku hanya mendapat nilai 6. Dengan bangga kutunjukkan nilaiku disertai harapan sedikit pujian dari papi. Tapi ternyata aku salah, papi hanya berkata, “Kok cuma 8?” “Ini udah bagus pi, karena anak laen banyak yang dapat nilai 6,” jawabku bangga. “Ada yang dapat 10 gak?” tanya papi lagi. “Ada sih 1 orang,” jawabku. “Kalau gitu kenapa nilaimu gak bisa 10?” Aku hanya bisa diam dan sedikit membenarkan pernyataan papi itu. Tadinya aku berpikir kalau papi adalah tipe yang tidak pernah puas, tapi belakangan aku menyadari dan aku belajar bahwa papi hanya ingin menunjukkan bahwa aku tidak pernah boleh merasa cepat puas dengan apa yang sudah kuraih kalau itu ternyata belum kuusahakan secara maksimal.

Suatu senja, hampir 20 tahun yang lalu….

Seorang anak laki-laki lusuh dan kotor tidur di teras depan rumahku. Papi yang kebetulan melihat, timbul rasa belas kasih dan menyuruh kami mengambilkan makanan, sepiring nasi dan lauknya. Tapi tidak sempat kami bertindak, mami keluar, dan dengan dalih mungkin saja anak itu gelandangan yang gila, mami mengusirnya pergi dari rumah kami.  Saat itu papi hanya bisa diam….

Waktu itu aku yang masih kecil belum bisa memahami apa-apa, tapi setelah dewasa, aku baru melihat dan merasakan kebaikan hati papi. Kadangkala aku suka bertanya, dari mana asalnya rasa belas kasih yang aku miliki? Sekarang aku tau dari mana dan aku bersyukur karena mewarisinya dari papi.

Hari-hari penuh keributan….

Aku tidak pernah mengerti kenapa dua orang yang hidup berumah tangga karena saling mencintai harus seringkali mewarnai hari-harinya dengan keributan. Pertengkaran-pertengkaran papi dan mami seringkali jadi tontonan kami sehari-hari, walaupun hanya pertengkarang kecil. Tapi kebanyakan pertengkaran itu disebabkan oleh mami yang kurasa sangat tidak sabar, dan aku mengangkat topi untuk kesabaran papi yang tiada habisnya…. Buatku, papi adalah orang paling sabar di dunia.

Suatu siang, lebih dari 14 tahun yang lalu….

Seperti biasa aku selalu membatu papi di toko, diantara kami bertiga, anak papi dan mami, hanya aku yang sepertinya suka berjualan di toko. Waktu pembeli sedang sepi, aku dan papi seringkali berbincang-bincang. Apa saja yang kami perbincangkan? Sebagian besar kami membahas barang-barang yang kami jual, bagaimana konsumen mau beli barang itu, bagaimana kita set harga untuk barang itu dengan adanya program-program promosi dari distributor. Saat itu aku tidak menyadari, bahwa apa yang sering aku perbincangkan dengan papi kelak berguna bagi pekerjaanku sekarang. Bahkan baru kusadari, mengapa aku begitu mencintai dunia marketing, ternyata sejak kecil aku sudah terjun langsung di dalamnya. Dan papi, adalah guru marketing-ku yang pertama….

Entah kapan, lebih dari 14 tahun yang lalu….

‘Dagang tidak usah ambil untung terlalu besar, kalau kita dapat diskon dari agen, kita bisa potong lagi untuk konsumen,’ kata papi mengajariku. Waktu itu aku tak tau atas dasar apa papi mengambil tindakan seperti itu, tindakan yang justru oleh adiknya dan oleh mami dianggap ‘bodoh’ karena melepaskan kesempatan mendapat untung besar.

Belakangan setelah aku belajar, memang dalam bisnis tindakan papi tidak sepenuhnya salah. Tapi lebih dari itu, pada dasarnya papi tidak suka ambil untung yang besar karena papi memiliki hati yang baik, terlalu baik, dan memiliki perasaan tidak tega terhadap orang lain. Sifat ini juga yang papi wariskan untukku, aku menyadarinya akhir-akhir ini, dan aku tidak pernah menyesal karena mewarisi sifat papi ini….

Entah kapan, aku tak pernah tau tepatnya….

Papi bilang untuk apa sayang ke anak perempuan, karena jika sudah besar toh diambil orang…. Karena itulah papi tidak pernah memanjakanku, satu-satunya anak perempuan yang dimilikinya. Sebaliknya banyak sekali tanggung jawab yang dibebankan kepadaku. Papi bahkan tidak pernah memelukku. Lalu apa aku sedih karenanya? Aku tidak pernah sedih, tidak juga marah. Aku justru berusaha keras, membuat papi melihat keberadaanku, melihat bahwa aku ini punya arti, karenanya aku selalu berusaha jadi anak yang baik untuk papi, anak yang bisa segalanya, yang bisa membuat papi bangga….

Sampai sekarang aku jadi terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri, terlalu mandiri, karena aku selalu ingin menunjukkan kepada papi walaupun aku perempuan aku juga bisa berguna. Belakangan aku merenungi perkataan dan tindakan papi, setelah mencoba memahami sifat-sifat papi, aku sampai pada kesimpulan, bukan papi tidak menyayangiku anak perempuannya, tapi papi hanya tidak ingin terlalu sakit dan bersedih jika suatu saat aku anak perempuannya harus pergi meninggalkannya untuk hidup berumah tangga. Aku tidak tau apakah penafsiran ini benar atau salah, dan ini juga bukan pembenaran ataupun penghiburan untuk diriku, tapi lebih dari itu, aku bersyukur, karena semua sikap papi itu telah menempaku untuk menjadikan aku kuat. Tidak pernah terbayangkan kalau saja papi memanjakanku dari dulu, mungkin saat papi pergi meninggalkan kami, aku sudah hancur dan tidak akan bisa jadi seperti sekarang ini….

Hari-hari libur kuliah, 11 – 8 tahun yang lalu ….

Sejak aku kuliah di Jakarta, tiap kali pulang liburan, banyak hal yang aku perbincangkan dengan papi. Entah kenapa aku menjadi semakin merasa dekat pada papi. Banyak hal-hal yang kami bicarakan bersama, entah itu soal kuliah, soal toko, ataupun permasalahan-permasalahan kecil lainnya. Papi adalah lawan bicara yang menyenangkan….

Di lain kesempatan papi pernah berkata kepadaku, ‘Papi tidak bisa mewariskan harta, yang bisa papi kasih ke kalian adalah warisan yang berupa ilmu.’ Karena itulah papi berjuang agar kami semua anaknya bisa sekolah hingga bangku kuliah.

Taukah papi, warisan dari papi ini lebih berharga dari emas dan permata? Warisan ‘ilmu’ yang papi berikan ke kami ini tidak pernah habis dan selalu berguna. Papi, terima kasih untuk memberikan kami, anak-anak papi, warisan yang tak ternilai harganya….

Entah kapan, aku tak mengingat waktunya….

Papi bukan orang yang taat beragama, bukan pula seorang atheis. Papi hanya orang yang memiliki prinsip hidup untuk tidak berbuat jahat kepada orang lain. Satu kata-kata yang kuingat dari papi, “Untuk apa jadi orang yang rajin berdoa, siang malam, tapi selalu marah-marah ke orang lain. Percuma saja mengucap doa, kalau kelakuannya tetap tidak baik.” Dulunya aku pikir papi salah, tapi sekarang aku membenarkan apa yang diucapkannya. Tapi tentunya aku menambahkan keyakinan di dalamnya, serta dharma sebagai dasarnya. Satu peristiwa yang juga kuingat jelas, papi bersedih karena adikku yang merupakan anak kesayangannya, harus seringkali mengalami nasib yang lebih jelek dibandingkan aku dan koko. Adikku lebih banyak harus berusaha sendiri. Saat itu aku hanya bisa berkata kalau itu adalah karmanya, dan papi marah karena ucapanku. Sayang… hal yang sangat aku sesalkan….aku tidak pernah sempat mengajarkan dharma kepada papi, meski aku tau, walaupun tidak mengenal dharma, hidup yang papi jalankan sebagian besar sudah sesuai dengan dharma….

Sekitar 8 tahun yang lalu….

Popo harus pergi meninggalkan kami…. Papi sangat menyayangi popo yang merupakan mamanya. Aku ingat mami pernah cerita, dulu saat mami sedang kesal karena hidup di keluarga besar, mami ingin pindah dan mencari rumah sendiri, saat itu papi menyetujuinya. Tapi belakangan papi meminta pengertian mami, bahwa papi tidak akan pernah tega meninggalkan popo, mamanya. Papi adalah anak yang sangat berbakti pada orang tua….

19 Oktober, 6 tahun yang lalu…

Hari ini hari wisuda koko dan aku, walaupun aku harus menunggu setengah tahun agar bisa wisuda bersama dengan koko, aku tidak merasa sedih. Aku senang karena hari ini satu keluarga berkumpul bersama, dan kami bisa memiliki foto keluarga. Papi terlihat sangat lelah, saat berjalan-jalan di mall malam itu, untuk pertama kalinya aku menggandeng lengan papi. Baru kusadari lengan papi begitu kokoh, papi memang memilki badan yang bagus. Aku merasa akan sangat aman sekali bila berada dalam pelukan papi. Tapi aku tau saat itu papi sangat lelah, aku bisa merasakan tubuhnya agak sedikit dingin. Malam itu kami makan bersama, sebenarnya aku ingin sekali malam itu jadi perayaan untuk ulang tahun perkawinan perak papi dan mami 4 hari kemudian, yaitu tanggal 23 Oktober. Tapi cukuplah malam itu dua keluarga, keluarga kami dan keluarga ku acen, makan bersama, semua merasa senang. Malam itu karena terjadi kesalahpahaman kecil, aku jadi tertinggal di mall sendiri dan harus balik ke penginapan yang untungnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan penyeberangan yang cukup panjang. Aku melihat wajah papi yang khawatir saat tau aku jadi harus pulang malam-malam sendirian. Tapi aku hanya tersenyum dan berkata, ‘Tidak usah kuatir, Jen sudah biasa…’

20 Oktober, 6 tahun yang lalu…

Papi dan mami harus kembali ke Lampung, sebelum masuk mobil, papi merangkulku dan adikku. Ia memegang pundakku seperti takut kehilangan dan seperti mengkhawatirkan sesuatu, papi juga terlihat seperti ingin menangis. Saat itu aku hanya bisa berkata, “Papi tidak usah khawatir, Jen kan sudah kerja, lagipula koko juga sudah diterima kerja. Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. King-king sebentar lagi juga akan lulus. Papi tenang saja, tidak usah banyak mikir…”  Aku tidak pernah mengira, itu adalah kata-kata terakhirku untuk papi, karena 4 hari kemudian, hari ini tanggal 24 Oktober, 6 tahun yang lalu, diusianya yang baru 61 tahun, papi pergi meninggalkan kami semua untuk selama – lamanya… hanya beberapa detik setelah sesak nafas yang menyerangnya, papi menghembuskan nafas terakhir di atas sofa tua tempatnya biasa duduk menonton televisi ataupun membaca koran sambil merokok….

“Memang benar, orang baik biasanya mati muda….”

Semua kenangan ini kuabadikan untuk papi tercinta, agar aku selalu ingat akan papi, sosok tegar, sabar dan baik, yang akan selalu hidup dalam hatiku….

Kematian

Kematian masih menjadi misteri bagi sebagian besar orang. Kita seringkali bertanya, apakah kematian itu? Seperti apa rasanya? Kapan ia akan datang ke hadapan kita? Kemana perginya kita setelah mati? Semua pertanyaan-pertanyaan itu seringkali hadir di hadapan kita terutama saat-saat kita melihat orang lain menghadapi kematian. Saat kita ditinggalkan oleh orang-orang di sekeliling kita, orang-orang yang kita sayangi, saat kematian datang menghampiri mereka.

 

Dengan prinsip Ehipassiko (datang dan buktikan sendiri), tidakkah kamu ingin mengalaminya sendiri baru kamu bisa mengerti dan memahami apa itu kematian? Tapi apakah mungkin? Saat kematian sudah datang menghampirimu, apakah kamu masih bisa kembali berada di dunia ini dengan kondisi  yang sama? Rasanya hampir tidak mungkin, karena itulah, kematian masih saja menjadi misteri.

 

Saat sekarang ini, dimana iechong sedang terbaring sakit, dan besok adalah genap 6 tahun meninggalnya papi, dan baru saja aku mendengar kabar bahwa salah satu distributor kantorku meninggal, padahal bulan Januari lalu, ia masih terlihat begitu sehat dan penuh semangat, pemikiran tentang kematian itu tiba-tiba saja muncul dalam benakku.

 

Perkawinan seringkali disebut sebagai permulaan hidup baru, tapi kalau kita berpikir lebih dalam, bukankah kematian yang lebih cocok disebut sebagai permulaan hidup baru? Karena dalam Buddhisme, ajaran yang aku anut, kematian bukan berarti akhir dari kehidupan, justru sebaliknya kematian adalah permulaan kehidupan yang baru. Kalau dalam perkawinan kita punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari tempat, waktu, tanggal, acara, dan lain-lainnya, agar pada hari besar itu segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik, sebaliknya kematian lebih suka memberi kita kejutan. Ia seringkali datang tiba-tiba, tanpa tanda-tanda, tanpa pemberitahuan, kapan saja dan di mana saja bisa terjadi. Cukup mendebarkan bukan? Lalu bagaimana dengan persiapan kita? Kapan kita bisa melakukan persiapan agar permulaan hidup yang baru bisa kita mulai dengan baik, seperti halnya dengan perkawinan?

Sebelum menjawab itu semua, satu pertanyaan lagi timbul, dalam menghadapi perkawinan, sudah sepatutnya semua orang akan menyambut gembira, tapi apakah demikian halnya dengan kematian? Sama-sama permulaan hidup yang baru, tapi mengapa yang satu kita sikapi dengan penuh tawa sementara yang satu lagi dengan isak tangis dan air mata?

 

Tidak bisa disalahkan bila ada air mata, karena dalam memulai hidup baru, kita berarti meninggalkan sesuatu yang lama, berpisah dengan kondisi kita yang lama. Lihatlah dalam perkawinan, saat anak meminta restu kedua orangtuanya untuk memulai hidup baru, hampir bisa dipastikan ada air mata yang mengalir. Karena apa? Baik orang tua maupun si anak sama-sama berat karena harus ’berpisah’ walau bukan dalam arti kata sebenarnya. Begitu juga yang kita hadapi saat kematian terjadi, saat seseorang akan memulai hidup baru-nya, ia harus berpisah, meninggalkan keluarganya dan apa yang ia miliki saat ini, makanya tak heran semua merasa sedih dan menitikkan air mata karenanya. 

 

Lalu, disaat kita harus menghadapi kematian, bagaimana agar kita bisa bersikap sama seperti kita menghadapi suatu perkawinan? Walaupun ada tangis, tapi kita pergi dengan bahagia, dilepas dengan perasaan suka cita?

Bagi orang-orang tertentu yang diberi waktu untuk mempersiapkan kematiannya, mungkin hal ini jadi lebih mudah. Saat sakit, saat hidup kita divonis hanya tinggal hitungan tahun, bulan, hari atau bahkan detik, walau hanya singkat, kita masih punya kesempatan untuk mempersiapkannya. Saat itu, lakukanlah yang terbaik, sesuatu yang tidak saja membuat dirimu bahagia, tapi juga membuat orang-orang disekelilingmu bahagia. Karena kamu akan memulai hidup baru-mu, relakanlah semua yang kau miliki saat ini, keluargamu, harta bendamu, hewan peliharaanmu, teman-temanmu, pangkat dan kedudukanmu serta apapun yang sudah kamu capai saat ini, lepaskanlah. Lepaskan juga segala kekhawatiranmu, masalah-masalahmu, semua itu akan segera berlalu, kamu akan memulai sesuatu yang baru. Biarkanlah dirimu menjadi bersih dari keterikatan, biarkan dirimu hanya menyadari setiap hembusan nafasmu yang dalam hitungan sepersekian detik mungkin akan segera berubah menjadi nafas dirimu yang baru. Bagi yang ditinggalkan, relakanlah kematian seseorang, karena waktunya untuk memulai hidup yang baru sudah tiba. Perpisahan ini bukan untuk selamanya, karena selama masih ada ikatan karma, entah kapan kitapun akan bertemu kembali dalam ruang, wujud, dan waktu yang berbeda.

 

Bagaimana jika kita tidak cukup beruntung untuk memiliki persiapan menghadapi kematian kita? Entahlah aku sendiri tidak tahu. Aku mungkin bisa saja menuliskannya di sini, tapi apakah aku bisa melakukannya? Belum tentu, tapi aku akan belajar dan berusaha….

Karena itu, setiap detik dalam hidup kita, hendaknya kita tidak terikat, hendaknya kita tidak mengecewakan orang lain. Kalau bisa kita membuat orang lain dan diri kita sendiri bahagia, agar setiap saat kita harus memulai hidup baru, kita bisa memulainya dengan baik walau tanpa persiapan khusus….

 

Jika aku mati,

Aku ingin saat itu tidak ada yang menangis untukku,

Karena aku pergi untuk memulai hidupku yang baru,

Bukan untuk mengakhiri kehidupanku saat ini…

 

Jika aku mati,

Aku ingin ada senyum menghias bibirku,

Yang kutujukan untuk semua mahluk tanpa terkecuali,

Dengan ucapan tulus dari hati:

’Sampai bertemu kembali….’

Tak Harap Kembali

“Tak Harap Kembali”,  judul tulisan ini sudah lebih dari 3 bulan berada dalam draft dan entah kenapa sebagian kata-kata yang sudah kutulis belum bisa kuselesaikan. Tapi hari ini aku rasa aku bisa menyelesaikannya dan aku tau apa yang harus kutulis selanjutnya….

Hari ini sebuah peristiwa membuatku teringat kembali akan makna kata-kata tersebut dalam kehidupanku. ‘Tak Harap Kembali’, sebuah kalimat pendek yang terdengar begitu sederhana tapi kalimat ini sudah menyadarkanku dan membawaku pada penerimaan atas doa-ku yang tidak terjawab dan atas segala harapan-harapanku yang mungkin tidak semua dapat terwujudkan.

Entah sejak kapan dimulainya aku tidak pernah ingat, saat itu, setiap kali berdoa yang kuminta adalah ‘waktu’. Aku sendiri tidak pernah tau kenapa selalu ada kekhawatiran bahwa aku sedang berlomba dengan sang ‘waktu’…. Aku tidak meminta harta yang berlimpah, kesehatan ataupun kecantikan… saat itu di dalam setiap doaku selalu yang kuminta adalah berikan aku ‘waktu’, ‘waktu’ buatku untuk membalas budi kepada kedua orangtuaku, membahagiakan mereka… Aku pikir ini permintaan yang sederhana, tidak terlalu sulit kan, Tuhan?

Tapi saat kulihat jam arlojiku berhenti, hari itu, tanggal 23 Oktober 2002, tepat 25 tahun ulang tahun perkawinan perak orangtuaku, aku sudah merasa kalau aku kalah…. Tanggal 24 Oktober 2002 tepatnya, aku harus menerima kenyataan kalau harapanku tidak dapat kuwujudkan. Papi telah pergi untuk selamanya dan sang ‘waktu’ tidak pernah ada buatku agar aku dapat mewujudkan harapanku….

Aku marah pada Tuhan, aku berteriak padaMu, apakah yang kuminta terlalu sulit, Tuhan?

Untuk sekian lama aku tidak dapat menerima kenyataan bahwa papi harus pergi meninggalkan kami. Untuk sekian lama pula aku mempertanyakan jawaban atas doa-doaku…. Aku masih bersyukur, kemarahan tidak membawaku lari dan pergi meninggalkanMu….

Aku tenggelam dalam kesibukanku dan masalah-masalah dalam hidupku sepeninggal papi. Tapi tetap dalam hati kecilku ada yang hilang dan masih kupertanyakan…. Pertanyaan-pertanyaan itu membawaku pada pencarian yang aku sendiri tak tau apa…. mungkin aku hanya butuh sesuatu untuk mengisi kekosongan di hatiku, tempat dimana seharusnya papi berada….

Satu retret kulewati tanpa memberikan jawaban atas pertanyaanku, masih tersisa keraguan…. sampai akhirnya dalam satu pelatihan aku mendapatkan kesadaran itu…. Dalam doa tidak seharusnya kita berharap balasan, karena bila kita masih mengharapkan balasan, saat kita tidak memperolehnya, kita akan sangat kecewa…. Rasa kecewa inilah yang membawa kita pada perasaan ketidakadilan, ditinggalkan dan kemarahan, lalu menyalahkan pihak lain atas tidak terwujudnya harapan kita?

Belakangan aku mencoba memahami kata-kata itu lebih dalam, aku belajar mengenal ‘Tuhan’-ku, ‘doa’-ku…. Hingga akhirnya aku sampai pada pemahaman bahwa ‘doa’ ku adalah hidupku, segala perbuatan dan tindakanku, sehingga segala sesuatu yang kulakukan dalam hidupku, baik untuk diriku sendiri ataupun orang lain, aku berusaha untuk melakukannya dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Sehingga saat segala sesuatu tidak terjadi sesuai harapanku, aku bisa menerimanya dengan berbesar hati….

Hari ini, aku membagi pemahaman ini pada seorang teman yang sudah dengan berani mengambil tindakan besar untuk masa depannya dengan segala resiko yang harus ditanggungnya. Aku hanya berdoa, semoga ia diberi kekuatan untuk melalui semuanya. Di dalam keyakinannya yang tertuang dalam doa-doanya, semoga ia bisa melakukannya dengan tulus, tak harap kembali, sehingga saat doa-doa itu tidak terjawab, masih ada keyakinan dan kebaikan yang tetap bisa dilakukan….

Jodoh

Kalau mendengar kata ‘jodoh’ apa yang ada dalam pikiranmu? Sebagian besar orang akan bicara mengenai pasangan hidup, ya tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Beberapa hal membuatku berpikir mengenai makna ‘jodoh’ lebih dalam.

Kita mungkin pernah dengar dalam konteks mencari pekerjaan, seseorang tidak diterima di suatu perusahaan untuk pekerjaan tertentu, dan ada yang mengatakan ‘belum jodoh’. Lain lagi saat aku sedang mencari rumah, semula sudah ada 1 rumah yang aku, kakak dan adikku suka, tapi akhirnya rumah tersebut sudah keburu dibeli orang lain. Akhirnya kami hanya bisa berkata ‘ya mungkin belum jodoh, karena cari rumah juga jodoh-jodohan’.  Yang paling meninggalkan kesan adalah saat aku menonton drama “Seputih Cahaya Rembulan” dalam salah satu episode-nya A Cua terpaksa harus berjanji kepada ibu mertua-nya untuk tidak menjadi Bhiksuni, dan ia akhirnya dengan berbesar hati menerima itu dengan mengatakan kurang lebih seperti ini: “Mungkin dalam kehidupan ini aku belum berjodoh untuk menjadi seorang Bhiksuni.”

Dari contoh-contoh itu jelas makna ‘jodoh’ sangat luas sekali, tidak terbatas pada masalah hubungan antar manusia tapi juga dengan kejadian ataupun hal-hal di luar itu. Sebenarnya buatku makna dari kata ‘jodoh’ lebih pada ikatan karma. Pada kehidupan ini aku berjodoh dengan kedua orang tuaku, kakak-adikku dan saudara-saudaraku sehingga kami bisa menjadi keluarga. Dalam kehidupan ini aku berjodoh bertemu dengan sahabat-sahabatku. Semua itu erat kaitannya dengan karma masa laluku tentunya. Tapi ‘jodoh’ ini sendiri kusadari punya batas waktu. Tadi pagi aku berusaha mengingat-ingat berapa banyak teman lamaku yang sudah sama sekali tidak pernah berhubungan denganku, baik yang sudah pernah bertemu atau bahkan belum pernah sama sekali. Lucu ya, belum pernah bertemu sama sekali tapi bisa disebut berjodoh? Ya aku merasa berjodoh, karena sebagian dari mereka bisa membawa perubahan untuk diriku.

Aku jadi teringat seorang teman lama yang kutemui di dunia maya. Kami bisa begitu akrab walaupun tidak pernah bertatap muka secara langsung terlebih jarak yang jauh, dia di Australia sementara aku di Jakarta. Waktu itu masa-masa sulit dalam hidupku, kehilangan, sakit hati, semua masalah yang kualami bisa kubagi dengannya. Aku baru menyadari mungkin kalau dulu aku tidak punya sahabat sepertinya yang bisa memberiku semangat untuk terus berjuang, menghiburku saat kesusahan, aku belum tentu bisa jadi seperti sekarang ini. Itulah gunanya seorang sahabat, sahabat yang bisa dengan tiba-tiba hadir dalam hidupku karena ‘jodoh’. Sayangnya kami sampai sekarang tidak pernah bertemu, anehnya aku malah sudah pernah bertemu dengan istrinya. Mungkin belum ‘jodoh’ aku bertemu dengannya. Sejak tahun 2004 malah kami tidak pernah lagi berhubungan… sayang sebenarnya, seorang sahabat yang baik yang sempat memberikan warna dalam hidupku yang meninggalkan jejak dalam hatiku…. Sempat terpikir untuk menghubunginya kembali tapi entah kenapa sampai detik ini belum kulakukan, apalagi waktu berlalu sudah begitu lama, kadangkala aku berpikir apakah ia masih mengingat diriku? Bisa jadi tidak, padahal waktu itu walaupun terpisah jarak jauh, aku merasa sangat dekat…. ya mungkin ‘jodoh’ kita sebagai sahabat memang hanya sebatas itu….

Ada lagi seorang teman, kami bertemu waktu kuliah, beberapa kesamaan membuatku merasa cocok dengannya. Beberapa teman sempat menuduhkan aku jatuh cinta padanya. Tapi entah kenapa aku bisa mengatakan ‘tidak’. Bagiku dia lebih dari sekedar sahabat, kakak dan orang yang aku kagumi. Aku tau begitupun dengan dirinya, baginya aku juga hanya seorang sahabat. Dengan segala kekurangan dirinya yang aku tau, aku bisa menerima dia apa adanya sebagai sahabat yang menjadikan kami begitu dekat sebatas kesamaan hobby. Berbeda dengan sahabatku sebelumnya dimana aku bisa menumpahkan segala isi hatiku, masalahku, untuk sahabatku yang ini aku tidak ingin membagi itu semua dengannya. Cukup kami berbagi hobby dan kesukaan yang sama. Dan aku menangis untuk sahabatku yang satu ini, saat aku menyadari kami telah menjadi begitu jauh karena kesibukan masing-masing. Padahal untuk sahabat yang pertama dimana aku berbagi lebih banyak hal, saat kami tidak lagi berhubungan aku tidak terlalu merasa kehilangan…. Entahlah apakah ini ada kaitannya dengan ‘jodoh’? Mungkin karena rasa sayangku pada sahabatku yang kedua lebih besar daripada pada sahabatku yang pertama? Aku tidak tau….

Masih banyak lagi sahabat-sahabatku yang telah datang dengan sendirinya karena ‘jodoh’ dan sekarang sudah tak pernah lagi berhubungan denganku yang mungkin juga karena ‘jodoh’ yang sudah berakhir? Tapi yang pasti semua sedikit banyak telah meninggalkan bekas di hatiku….

‘Jodoh’ yang paling kurasakan adalah saat harus kehilangan orang yang aku sayangi. Sampai sekarang masih sering aku menyesali kenapa ‘waktu’ datang begitu cepat, ‘waktu’ bagiku untuk mengakhiri ‘jodoh’ ku dengan papi di kehidupan ini…. Kadangkala aku masih berharap papi bisa ada di tengah-tengah kami saat ini. Tapi kembali lagi, ‘jodoh’ atau ‘ikatan karma’ antara papi dan kami sudah harus berakhir, mau tidak mau aku harus menerimanya dengan berbesar hati…. Semoga di kehidupan yang akan datang kita masih bisa berjodoh sehingga aku bisa membalas budi kepada papi yang mungkin tidak sempat kulakukan di kehidupan sekarang.

Jadi apalah artinya ‘jodoh’? Ada pertemuan dalam satu kesempatan, dan ada perpisahan saat ikatan berakhir….

“Dedicated to my old friend Danny Wirawan (wherever you are), although we’d never met each other but you mean so much to me…. Thanks for being such friend during my difficult times…. “