Feeds:
Posts
Comments

Menjelang detik Waisak 2013, masih di kost di Cikarang, tidak ada keramaian umat, tiada lantunan pujian kepada Tri Ratna, tiada kepulan dupa, harum wangi bunga ataupun nyala lilin persembahan. Yang tersisa di sini hanya sebuah hati, yang mencoba merenungi kembali kelahiran sebagai manusia, merenungi tujuan datang ke dunia, merenungi perjalanan yang masih harus ditempuh…

Menyadari sungguh betapa beruntungnya terlahir sebagai manusia, betapa beruntungnya dapat mengenal Dhamma ajaran Buddha.
Merenungi betapa diri ini masih diliputi keserakahan, kebencian dan kebodohan, dan sang “Aku” yang berkuasa.
Merenungi bahwa diri ini masih “tertidur”, masih terlalu banyak debu di mata yang harus disingkirkan, agar mata ini dapat terbuka dan “melihat” apa itu “kebenaran” yang sejati…

Teringat nasihat salah seorang Bhikku, “saat kematian bukan lagi merupakan hal yang menakutkan, maka tiada lagi yang perlu dikhawatirkan di dunia ini”. Mencoba memaknai dan menjalaninya saat ini…
Teringat akan sahabat batin yang sejati, yang selalu menyertai setiap langkah ini, Guru dan teman seperjalanan di dunia ini, dan di banyak kehidupan. Berikrar selamanya mengikuti langkah Guru, sekarang, selamanya di banyak kehidupan, sampai tercapai akhir pembebasan sejati…

Dan sebuah mimpi…cita-cita…ikrar… Yang saat ini belum dapat dijalankan…
Air mata ini adalah kesedihan atas “kemalasan” diri ini, bukan sebuah penyesalan, karena semua berjalan atas karma, “kehendakku” sendiri…

Semoga Waisak kali ini, kembali mengingatkanku untuk tidak “malas”, menyadari bahwa segala yang terkondisi tidak kekal, dan mengajakku untuk terus berjuang dengan penuh kesadaran…

Appamadena Sampadetha!

Selamat Hari Tri Suci Waisak 2557 BE/2013
Semoga semua makhluk berbahagia…

20130525-112815 AM.jpg

Cikarang, 25 Mei 2013
~Jen~

Tanyaku

20130518-083523 PM.jpg

Tuhan…
Mengapa aku merasa Engkau tengah menguji kesetiaanku?
Saat ini, saat aku begitu membutuhkanMu, mengapa Engkau seolah menjauh dariku?

Tuhan…
Apa salahku padaMu? Tidakkah Kau percaya aku akan selalu setia kepadaMu?
Bahkan saat terberat dalam hidupku, saat Kau tak mengabulkan pintaku, malah mengambil harta berhargaku, saat itu walau aku sangat marah kepadaMu, tapi tak sedikitpun aku berpaling dariMu. Sebaliknya aku justru berusaha untuk lebih mengenalMu.

Tuhan…
Apa yang Kau inginkan dariku? Apa yang harus kuperbuat agar Kau selalu bersamaku?
Mengapa Kau membiarkanku seorang diri dalam kebingungan?
Apakah aku harus menemukan sendiri jawaban atas semua tanya ini, tanpaMu menyertaiku?

Tuhan…
Aku tak tahu apakah aku akan mampu bertahan dalam kebingungan ini.
Apakah aku akan mampu melewati segala rasa sakit ini?
Apakah proses ini memang harus kulalui sendiri tanpaMu?
Bahkan tak Kau sisakan seorang temanpun untukku, mengapa Tuhan?

Maaf…aku tak pernah bemaksud mempertanyakan ini padaMu…
Maaf…seharusnya aku percaya padaMu, percaya bahwa Kau selalu ada untukKu…
Walau saat ini aku merasa sendiri, mungkin ada saat aku memang harus berjalan sendiri…
Tapi aku percaya, Kau ada di ujung perjalanan ini, menantiku dengan tanganMu yang terbuka lebar untukku… Selalu…
Kau selalu ada di sana menantiku, untuk sampai kepadaMu…

Cikarang, 18 May 2013
~Jen~

Dalam sendiriku dan kerinduanku akan-Mu, Tuhan…

Hi hi… (Baca: hai hai…) Ketemu lagi di sesi chit chat ala gue… Masih dari Starbuck Lippo Cikarang, kali ini bukan dalam rangka terjebak kemacetan, tapi gue bener-bener udah terjebak sampe harus tinggal di daerah ini… Zzzz… Ternyata ya, sebelum ke sini Tuhan udah kasih gue uji coba dulu, neh rasain deh tempat ini, oke gak? Ntar loe bakal tinggal di sini untuk sementara waktu…mungkin gitu kata Tuhan ke gue, dalam bahasa gue tentunya hihihi…

Udah lama gak nulis, sejak gue musti kost di daerah ini, dan nyemplung di pabrik, dan tetep aja nggak ada perubahan jam kerja, tetep aja gue pulangnya malem karena seharian sibuk urus ini itu plus meeting ini itu, masih pula harus kerjain administrasi ini itu, kerjaan ini itu yang nggak jelas, kadang urusan sapa, gue juga yang digeret-geret, heran pada kuat ya geret-geret gue, padahal gue berbobot gini, hihihi… Banyak hal yang mo gue tulis karena banyak hal yang terjadi di sekeliling gue yang membuat gue pengen nulis, tapi balik lage, 24 jam sehari itu kurang buat seorang Jennifer, padahal gue udah tidur cuma 4-5 jam aja sehari, gimana kalo gue tukang tidur ya? Lebih kurang lagi neh waktu.

Kembali ke topik, loh emang dari tadi gue dah buka topik? Perasaan dari tadi gue masih ngoceh ngalor ngidul gak jelas gini, hahaha… Baiklah kembali ke ipad, hahaha… Karena gw nulis di ipad so bukan kembali ke laptop ye… Topik kita malem ini, yang pengen banget gue tulis itu soal “bekerja dengan hati”. Kenapa gue pengen nulis soal ini? Banyak hal belakangan ini yang bikin gue berkali-kali harus bilang kalo orang tuh kalo kerja musti pake hati. Terakhir kejadian gue sama salah satu customer service jasa pengiriman paket yang udah terkenal dari dulu. Gak usah sebut merek lah tapi kalo ditanya yang 3 huruf ato 4 huruf? Gue jawab 4 huruf. Hahaha… Jadi ceritanya kiriman paket gue ke Medan gak sampe-sampe, padahal paket ini sampel, mana dikirimnya ke customer yang cerewetnya amit-amit dah, eh paketnya yang harusnya sampe dalam semalem malah kagak nyampe juga. Gue tracking di web nya statusnya dah sampe Medan tapi belum dikirim ke alamat tujuan. Maka teleponlah gue ke customer service nya, pertama gue salah telpon ke kantor nya, disuruh telpon ke no customer service, oke dah gue telpon, eh mba yang angkat jawabnya ogah-ogahan pas gue tanya status kiriman gue, malah langsung dijawab telpon aja ke medan langsung. Lah gue tanya lagi donk emang gak bisa dicek, eh malah dia jawab lagi kali ini dengan nada setengah ketus suruh gue telpon ke no Medan yang dia kasih. Oke gw masih bisa sabar walau gue sempet nanya, oh gini ya pelayanannya, eh bukannya say sorry malah jawab dengan nada gak enak kalo aturannya emang kayak gitu. Akhirnya gue telpon ke no Medan yang dikasih, baru gue nanya status kiriman dengan sebut nomor resi nya, yang terima telpon langsung suruh gue telpon lagi ke nomor lainnya lagi, di Medan juga. Habislah kesabaran gue dan gue ngomong dengan ketus, oh jadi gini cara pelayanannya? Gue dioper sana sini? Lebih marah lagi waktu gue telpon ke nomor yang terakhir dikasih ke gue malah dijawab kalau alamatnya gak jelas?? Padahal orang pabrik gue udah tulis alamat dengan jelas.

Dan dengan rasa kesal gue menulis email ke customer service untuk komplain atas pelayanannya yang menurut gue mengecewakan dan yang namanya customer service nya bener-bener gak layak untuk disebut customer service! Gue tau yang namanya cs alias customer service emang bukan pekerjaan mudah, mau lo lagi kesel, bete, marah ataupun sedih, lo kudu musti harus memperlihatkan muka senyum atau kalau loe cs online ya setidaknya suara loe harus terdengar ramah dan manis, bukannya jutek dan sebangsanya, karena itu adalah bagian dari job desc dan tanggung jawab kerja yang harus loe lakonin karena sudah memilih pekerjaan itu!

Sama juga dengan profesi lainnya, mau loe seorang marketing, sales, QC, produksi, ataupun cuma seorang admin, loe seharusnya bekerja dengan “hati” loe! Oke mungkin loe kecewa dengan perusahaan, dengan atasan dan lain sebagainya, tapi tetep aja loe punya tanggung jawab atas pekerjaan loe! Dari dulu kalau gue kerja pasti gue akan kerja sepenuh hati, karena buat gue kerja itu ibadah. Kerja bukan hanya pekerjaan, tapi seluruh “kerja” dalam pengertian “perilaku” gue itu adalah ibadah dan tanggung jawabnya sama diri gue sendiri dan sama Tuhan gue. Lalu mungkin loe tanya kenapa kalau gitu gue sering pindah-pindah kerja? Sebenernya gue punya alasan untuk masing-masing, tapi apapun itu buat orang lain itu akan jadi sebuah “alasan”. Maka gue hanya bisa bilang, gue hanya mengikuti kata hati gue aja. Karena uang tidak bisa “membeli” gue, pekerjaan gue dan loyalitas gue. Gue gak munafik, gue butuh uang untuk hidup, tapi gue gak mau diperbudak oleh uang, jadi yang membuat gue bertahan di satu pekerjaan adalah “hati” gue.

Kadangkala loe harus melakukan hal yang belum tentu sesuai dengan keinginan loe, harapan loe atas pekerjaan ideal, pekerjaan impian loe. Hmm kalo bicara pekerjaan impian, mungkin gue orang yang banyak punya mimpi. Gue sempet pengen punya sekolah khusus anak bermasalah alias anak-anak bandel, pengen juga punya toko kue atau bridal sendiri karena gue suka yang manis-manis dan cantik. Sempet punya cita-cita jadi penulis sambil keliling dunia. Lalu gue akhirnya kerja jadi marketing dan gue sangat menyukai pekerjaan itu, tapi sekarang malah jadi harus ngurus pabrik, ngurus hal-hal yang mungkin kalau boleh milih dan boleh jujur gue akan bilang kalau gue gak suka, sekalipun gue mampu melakukannya, karena dalam kamus seorang Jennifer gak ada yang gak bisa dilakukan! Tapi balik lagi, kerja itu buat gue ibadah, dan loe gak selalu dapetin apa yang loe mau, dan yang terpenting, “hati” gue masih menyuruh gue untuk melakukan ini. Apapun itu, tidak ada hal yang kebetulan, segala sesuatu terjadi ada sebab dan juga ada akibatnya. Dan yang pasti gue percaya bahwa ada hal yang harus gue pelajari dari ini semua, karenanya gue tetap bekerja dengan sepenuh hati gue, suka tidak suka dengan yang gue hadapi, gue tetap menjalankan “ibadah” gue dengan semampu dan sebaik mungkin. Dan gue percaya tidak ada yang sia-sia jika loe mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, entah kapan dan dalam bentuk apa, suatu hari loe akan memetik hasilnya,

Aiiihhh kenapa sekarang jadi serius gini ya? Hahaha ini gue jadi nulis panjang lebar, udah pindah sekarang dah di kost karena gue udah nyaris di usir tadi karena udah tutup Starbuck nya, bahkan mobil gue jadi mobil ketiga terakhir yang ada di parkiran Citywalk, hihihi…. Sayang tuh Starbuck kagak 24 jam, kalau 24 jam mungkin gue bisa nongkrong sampe pagi! Hahaha… yang 24 jam cuma McD yang ada di sebelahnya dan rasanya gak seru kalau nongkrong di McD dan cuma ditemani segelas coke?! Hohoho… Ok saatnya mengakhiri tulisan ini, semoga tulisan gak jelas ini bisa bikin yang baca “mikir” sedikit, asal jangan “mikir” karena bingung sama ocehan gue aja, hahaha…

Ok gue tutup dengan satu pesen dari paman gue almarhum Steve Job di bawah ini. Kata-katanya bener banget, dan apakah gue masih “mencari” atau gue sudah “menemukan”? Hmmm…. Nggak tau, gue cuma mengikuti kata hati gue aja 😀 so mysterious? Yes, I am! Hihihi…. Ciaoooo…..

20130422-114847 PM.jpg

Cikarang, 22 April 2013
~Jen~
11.59 pm

Lem Tikus

Sebenarnya peristiwa ini sudah lama terjadi, dulu sekali sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Aku lupa tepatnya kelas berapa, tapi rasanya antara kelas 4 atau 5 SD. Entah kenapa kejadian saat itu masih kuingat sampai saat ini, terutama saat-saat aku lagi teringat akan almarhum papi. Lucunya sambil mengingat peristiwa itu, otakku terus berpikir menelaah ‘pesan’ apa yang sebenarnya bisa kupelajari dibalik peristiwa itu. Setelah sekian lama berpikir, rasanya aku sudah bisa memahami makna yang bisa kuambil dari peristiwa tersebut dan baru sekarang ini sempat kutuliskan.

Ceritanya dulu aku punya sebuah rautan pensil model yang diputar, berbentuk kereta api. Rautan model ini mungkin masih menjadi barang langka di tahun 80an, apalagi buat kota kecil (baca: desa) tempatku tinggal. Rautan tersebut adalah oleh-oleh yang diberikan pamanku dari Taiwan, dan hasil rautannya sangat runcing, berbeda dengan rautan pensil dengan cermin yang umumnya dipakai pada jaman itu, sehingga lengkaplah sudah rautan berbentuk kereta api tersebut jadi barang mewah yang sangat disayangi oleh kami bertiga, aku, kakak dan adikku, pada saat itu.

20130202-100521 PM.jpg

Suatu ketika, entah karena terlalu sering dipakai, atau juga ada kesalahan dalam pemakaian, pemutar yang ada di bagian belakang rautan tersebut patah. Kami bertiga pada saat itu tidak tahu pasti siapa yang sudah merusaknya, rasanya tiap anak punya andil dalam rusaknya rautan tersebut. Karena pemutarnya patah, maka rautan tersebut tidak lagi dapat digunakan. Tapi sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami untuk tidak begitu saja membuang barang yang rusak. Papi adalah pedagang, tapi rasanya kalau jaman itu papi punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, kupikir papi akan mendapatkan gelar insinyur. Tidak sedikit perabot di rumah kami yang rusak tapi bisa diperbaiki oleh papi, termasuk juga alat-alat elektronik, jika kerusakannya ringan, papi akan bisa memperbaikinya. Oleh karena itulah rautan pensil yang patah itu tidak serta merta kami buang, selain karena rasa sayang tentunya, tapi juga karena dirasa masih bisa diperbaiki. Maka rautan pensil tersebut masuk dalam daftar tunggu benda-benda yang akan papi perbaiki di waktu senggang.

Belum sempat rautan itu diperbaiki oleh papi, aku sudah ingin menggunakannya, dan entah karena darah keturunan papi yang mengalir di tubuhku, atau aku sendiri memang orang yang tidak bisa diam dan selalu berusaha sendiri, maka timbullah keinginanku untuk memperbaiki sendiri rautan pensil tersebut. Aku mencoba melihat kerusakannya, “hmm, ini hanya karena patah saja, jika aku berhasil merekatkan kembali pemutar yang ada di bagian belakang tersebut, maka rautan ini bisa kugunakan kembali,” begitu pikirku saat itu. Maka mulailah aku memutar otak, kira-kira lem apa yang cukup kuat, yang bisa kupakai untuk merekatkan bagian yang patah tersebut. Aku berpikir keras, lalu mencoba sebuah lem yang biasa dipakai untuk merekatkan bahan kertas, kain dan bahkan kayu, namun tidak berhasil, tentu saja karena rautan pensil itu terbuat dari bahan semacam plastik. Kembali aku putar otak, dan tiba-tiba terlintas dalam benakku, “Aha! Pakai lem tikus aja, pasti akan menempel dengan kuat, tikus aja bisa nempel,” begitu yang ada dalam pikiranku. Maka ku ambillah lem tikus yang kebetulan kulihat di depan mataku. Apalagi di kotak lem tikus itu ada gambar gajah yang ikut nempel, makin yakinlah aku bahwa lem ini akan merekat dengan kuat. Namun apa yang terjadi? Bukannya merekat kuat, lem itu tidak kering-kering dan bagian pemutar yang patah itu tetap tidak bisa menempel kembali. Putus asa melihat hasilnya, akhirnya kubiarkan saja rautan itu apa adanya.

Waktu berselang, tiba giliran rautan itu untuk diperbaiki papi, dan kebetulan aku sedang duduk di dekat papi. Papi mengeluarkan rautan itu dari kotaknya, memperhaikan sebentar kerusakan yang ada, lalu mulai mengutak-atik bagian yang rusak. Tiba-tiba dengan heran papi bergumam, “Kenapa kok ini lengket ya?” katanya sambil memegang bagian yang patah. Lalu aku yang melihat dan sadar akan hasil perbuatanku serta merta berkata, “Eee kayaknya waktu itu Jen pernah coba benerin dan pakein lem tikus, Pi.” “Hah! Dasar bodoh! Mana bisa nempel, bedul, lem tikus mah bikin lengket, mana bisa kering! Pantesan lengket begini,” seru papi kepadaku. (Umpatan “bodoh” sudah cukup lazim di keluarga kami, tanpa maksud mengatai bodoh dalam arti sesungguhnya, karena jelas kami bertiga anak papi selalu dapat juara di kelas, mungkin karena itulah kalau ada perbuatan kami yang dinilai tidak mencerminkan kepintaran kami, papi atau mami akan mengatakan kami “bodoh”; sementara “bedul” entah bahasa apa, tapi kami anak-anaknya sering dipanggil begitu oleh papi). Saat itu aku hanya bisa nyengir saja, tapi otak anak umur 9 – 10 tahun-ku saat itu masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin yang namanya “lem” yang seharusnya fungsinya melekatkan, tidak bisa membuat benda menempel, padahal tikus saja bisa nempel!

Dalam perjalanan waktu, dan banyak pelajaran yang kuterima, akhirnya aku bisa memahami mengapa yang namanya “lem tikus” itu bisa membuat tikus menempel di papan umpan, tapi tidak bisa merekatkan rautan pensilku. Meski begitu, selama bertahun-tahun peristiwa “lem tikus” itu kerap melintas dalam pikiranku. Aku kerap berpikir apakah dengan melakukan hal itu berarti aku ini “bodoh”? Hmmm rasanya tidak juga, kalau aku bodoh, tidak mungkin saat itu IQ ku 133, ukuran yang termasuk genius (sombong dikit ya, hihihi). Tapi benar-benar peristiwa itu buat aku mikir. Dan sekarang sepertinya aku mulai memahami, apa yang kulakukan saat itu memang sebuah “kebodohan”. “Kebodohan” bukan berarti otakku yang bebal, tapi “kebodohan” karena “ketidaktahuan”.

Demikian halnya dengan kehidupan kita sebagai manusia. Sang Buddha menyampaikan ada tiga racun yang meliputi manusia, yaitu keserakahan, kebencian dan kebodohan. “Kebodohan”, ini sering disebut sebagai “kegelapan batin”, mengapa? Karena “kebodohan” di sini adalah “ketidaktahuan”, orang yang tidak tahu ibarat berada dalam kegelapan. Dari peristiwa “lem tikus” ini ternyata memberiku banyak pelajaran, yang pertama, “kebodohan” atau “ketidaktahuan” bisa menjerumuskan manusia. Tidak dapat memahami benar dan salah seringkali membuat manusia melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri. Benar dan salah memang sangat “relatif” di dunia ini, karena itulah dibutuhkan “kebijaksanaan” untuk dapat “melihat”-nya. Yang kedua, manusia bisa “belajar” untuk dapat mengikis “kebodohan”, tentu saja diperlukan waktu dan proses pembelajaran, seperti halnya aku yang pada akhirnya dapat memahami cara kerja “lem tikus”. Yang ketiga, kadangkala apa yang “terlihat” seringkali tidak demikian adanya, ditambah lagi dengan “kebodohan” kita, “ketidaktahuan” kita, “kegelapan batin” kita, membawa kita pada pengertian yang salah, dan parahnya kita lalu mengangap itu sebagai hal yang benar. Seperti aku kecil yang menganggap bahwa yang namanya “lem” akan dapat melekatkan benda yang ingin kutempel, maka aku berpikir bahwa jika seekor tikus saja bisa menempel, maka lem itu sudah pasti sangat kuat dan mampu merekatkan rautan pensilku, ini pengertian yang salah yang saat itu kuanggap benar! Untungnya kembali ke point kedua, dalam perjalanan waktu aku mau “belajar”, “mengkaji”, “membuktikan”, dan akhirnya “memahami”‘ “mengakui” dan “menerima” bahwa aku telah “salah”. Sehingga ini menjadi point keempat, asalkan ada kemauan untuk belajar, mau mengakui kesalahan, tidak ngotot dengan pemahaman sendiri atau merasa diri sudah benar, maka dengan membuka diri kita, kita dapat “melihat kebenaran” di sekitar kita, dan perlahan-lahan mengikis “kegelapan batin” atau “kebodohan” kita.

Semoga peristiwa “lem tikus” ini bisa senantiasa menjadi pengingat bagiku dalam “menempuh perjalanan” ini. Semoga anda yang membacanya dapat pula mendapatkan manfaat, apapun itu, bisa jadi hanya sebagai sekedar hiburan atau bacaan iseng, it’s oke, setidaknya ada manfaat. Segala karma baik yang ditimbulkan oleh tulisan ini, semoga melimpah pada almarhum papi dan semua makhluk, semoga semua senantiasa berbahagia dan terbebas dari penderitaan, Sadhu Sadhu Sadhu.

Jakarta, 3 Februari 2013
~Jen~

10.38 pm

Basa Basi Basi

20130114-083443 PM.jpg

Lagi bosen hari ini, otak yang lagi gak bisa diajak kompromi dan mulut yang lagi males ngomong, bener-bener penyakit komplikasi. Kalau suasana hati lagi begini, diajak bercanda pun kagak minat. Paling enak emang menumpahkan unek-unek lewat tulisan, karena tulisan ini paling jujur dan satu-satunya teman yang bisa menampung segala keluh kesah.

Benernya agak bingung mo nulis soal apa, tapi intinya malem ini cuma mo habisin waktu aja, membuang kekesalan dan menanti jalanan gak macet. Karena pengen nonton gak bisa (lagi) gara-gara urusan kerjaan. Heh, rasanya pengen ngilang sejenak dari muka bumi. Semalam tidur gak nyenyak, or terlalu nyenyak, sampai terbangun tiap jam mulai dari jam 1 sampe pagi jam 5. Ini susahnya jadi orang yang cuma bisa tidur 4 – 5 jam, terlalu lelah, ketiduran waktu siang selama 3 jam, alhasil malam susah tidur. Coba tidur jam 11 alhasil ya tadi, terbangun tiap jam mulai dari jam 1! Zzzz badan jadi gak enak rasanya, karena kalaupun bangun gak tau mau apa, coba tidur lagi ya gitu, bangun berkali-kali…

Akhirnya mutusin menulis soal basa basi, ya basa basi basi?! Kenapa gue kasih judul gitu? Entahlah belakangan lagi muak menghadapi basa basi yang basi. Susahnya jadi orang dengan kepekaan yang tinggi, loe akan tau kalau orang itu sekedar basa basi or emang tulus. Kadang gue sebel dengan berkah ini, karena apa? Gue lama-lama jadi muak menghadapi semua basa basi ini. Makanya kenapa gue selalu jadi orang yang to the point, terlalu to the point kadangkala, karena gue gak suka kepura-puraan. Kalau gue bilang A ya itu emang A buat gue, bukan sekedar basa basi, karena gue tau rasanya menerima basa basi itu memuakkan, sebisa mungkin gue akan apa adanya, walau ada orang yang justru suka basa basi dan malah gak suka dengan keterusterangan. Tapi gue tetep akan jadi diri gue apa adanya. Apa yang gue omong ya tandanya itu emang apa adanya, atau gue memilih males ngomong, gak usah ngomong sekalian daripada musti basa basi yang basi!

Dunia ini sendiri adalah sebuah ilusi, kepalsuan semata, jangan lagi loe tambah dengan basa basi loe yang penuh kepalsuan juga, yang bikin orang tambah tersesat gak bisa lagi bedain mana nyata dan mana ilusi, karena terbuai oleh mimpi! Heh, tapi itulah manusia, lebih suka terbuai mimpi indah daripada bangun dan melihat kenyataan yang ada. Karena orang suka disanjung, karena orang begitu buta dan bodoh! Kadang gue kesel, karena gue juga masih termasuk di dalamnya, sekalipun gue bisa ngomong ini dan itu, tapi gue juga belom membuka “mata” gue. Gue masih tidurrrr, sama dengan yang lainnya, dan ini sangat mengesalkan!

Dan tanpa basa basi lagi gue cuma mau orang tau, lebih baik ngomong apa adanya sama gue, walau kadang mungkin menyakitkan, tapi itu adalah proses. Bagi gue untuk membuat orang “terbangun” dari tidur, kadang loe musti melakukan sedikit “kekerasan”. Kalau gini gue jadi inget sepupu gue yang sempet satu kamar kost dengan gue, dia demen bener tidur. Jaman dia kuliah gue udah kayak ibu tiri, tiap hari musti bangunin dia buat pergi kuliah. Gue sampe harus ikutan hafal jadwal kuliahnya hanya buat bangunin dia buat kuliah pagi! Waktu itu biar udah dipangil berkali-kali kagak bangun juga tuh anak, sampe musti gue pukul-pukul pake bantal! Nah ini dia “kekerasan” yang gue maksud, tapi balik lagi semua itu tergantung “niat” di hati loe kan? Dan loe lakukan itu untuk kebaikan! Jadi berhentilah berbasa basi basi sama gue! Gue udah muak!

Jakarta, 14 January 2013
~Jen~

9.13 pm

20130108-061533 PM.jpg

Beberapa hari ini suasana hatiku sedang tidak menentu, mungkin tepatnya agak mellow. Bukan karena gejala penyakit wanita bulanan, tapi entahlah, sepertinya ada pesan yang tak tersampaikan yang masih harus kutemukan jawabnya. Jujur aku tidak suka dalam kondisi ini, saat aku kehilangan gairah, menjadi malas bicara dan yang terparah adalah menangis tanpa sebab dan aku tidak bisa mengontrol air mataku.

Heh rasanya sangat melelahkan, kalau pagi-pagi saat harus bergelut dengan macetnya jalanan ibukota, tiba-tiba kamu merasa begitu sedih dan menangis, tapi kamu bahkan tidak tahu apa yang membuatmu sedih, karena memang kamu tidak sedang memikirkan hal apapun yang membuatmu sedih, tapi ya itulah yang terjadi padaku. Ketidaknormalan yang seringkali melelahkanku dan menjadikanku orang yang aneh. Beberapa hari yang lalu saat melihat awan di langit yang cerah, awalnya aku merasa begitu gembira, tapi sesaat kemudian air mata mulai menetes dari kedua mataku. Aku jadi ingat, sejak kecil aku sangat suka memandang awan-awan yang berarak di langit. Seringkali aku membayangkan bentuk-bentuk tertentu dari awan-awan itu, tapi setelah itu aku merasa sedih dan menangis. Setiap kali memandang awan di langit terbersit rasa senang sekaligus sedih, entah mengapa, seolah di atas sana di balik awan-awan itu, ada sesuatu yang begitu kurindukan dan ingin kugapai namun tak pernah berhasil kuraih.

Aku jadi ingat, kira-kira dua bulan yang lalu, saat pulang dari kantor melewati jalan tol di saat senja, tiba-tiba melintas sekawanan burung yang seolah hendak pulang ke sarangnya. Saat melihat mereka, seketika aku merasa begitu gembira. Sungguh aneh, perasaannya tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Aku seolah melihat ‘teman-temanku’, setelah sekian lama terpisah dari mereka, sehingga aku merasa begitu gembira. Malamnya saat hendak tidur, aku kembali teringat akan kawanan burung itu, dan aku mulai menangis, merasakan kerinduan yang sekian lama terpendam, dan dari dalam hatiku seperti berteriak, “aku ingin pulang”, “aku rindu untuk kembali”… Aku hanya merasa sudah terpisah sekian lama dari ‘keluargaku’, ‘teman-temanku’ dan dari tempat di mana seharusnya aku berasal. Aku begitu ingin pulang, bersama kawananku….

Sebenarnya hari itu aku ingin menuliskan perasaanku itu, tapi entah mengapa selalu tidak ada waktu, sampai hari ini, saat suasana hatiku sedang tidak terlalu baik, sehingga aku memilih menyepi di tengah keramaian orang-orang yang sedang menikmati secangkir kopi, tanpa sengaja aku membaca sebuah artikel di web Tzu Chi mengenai kegiatan Tzu Ching Camp Internasional, dan di dalam artikel tersebut terulis sebuah judul lagu 燕子歸來 (Yan Zi Gui Lai) yang berarti ‘Burung Walet Pulang Kembali’. Isi lagu ini mengandung makna kembalinya sekelompok murid dari berbagai negara ke ‘kampung halaman batin’ yang diumpamakan sebagai sekelompok burung walet yang kembali pulang. Seketika aku jadi teringat kembali akan peristiwa kawanan burung itu, ingat akan perasaanku saat itu.

Mungkin memang tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, dan setiap tanyaku selalu terjawab meskipun kadangkala membutuhkan waktu. Aku tahu sudah saatnya aku ‘pulang’, kembali ke ‘kawananku”, kembali ke “rumahku”. Dan bukan sebuah kebetulan pula kalau nama mandarinku adalah 燕妮 (yen nie) yang berarti “burung walet perempuan”. Sekumpulan burung yang kulihat sore itu, perasaanku saat melihat mereka, dan berbagai pertanda lain yang mungkin sebagian besar belum kusadari, sebenarnya menuntunku untuk “kembali”.

Tekadku sudah bulat, ikrar sudah terucap, jalan sudah terbentang, tinggallah kakiku yang melangkah. Tinggal sayap kubentangkan untuk terbang kembali pulang bersama kawananku, kembali ke ‘rumahku’. Semoga cuaca bersahabat, semoga langit merestui perjalananku, semoga awan senantiasa menemaniku, dan cahaya mentari menyinari jalanku, dalam perjalanan pulangku, ke pangkuan “ibu” yang senantiasa menungguku kembali. Aku akan ‘pulang’, pasti….

Jakarta, 8 January 2013
~Jen~

7.33 pm

Nostalgia

Belakangan ini entah kenapa tiba-tiba jadi sering teringat dengan orang-orang yang pernah ditemui di masa lalu. Seperti judul tulisan ini, rasanya jadi ingin bernostalgia, mengenang masa-masa yang sudah lewat. Sebenarnya tulisan ini sudah ingin ditulis dari tahun lalu, sejak banyak peristiwa yang mengingatkanku akan orang-orang tersebut. Tapi karena kesibukan di akhir tahun dan kondisi fisik yang kurang baik, membuat aku selalu tidak sempat menuliskannya, dan baru sekarang aku menuliskannya setelah bertambah lagi sederetan nama yang muncul dalam kenanganku.

Orang-orang yang aku tuliskan di sini, adalah mereka-mereka yang sempat ‘berjodoh’ denganku, bertemu di kehidupan ini, beberapa meninggalkan kesan yang mendalam, beberapa hanya biasa-biasa saja tapi masih sering muncul dalam memoryku, dan semuanya akan kutuliskan satu persatu dalam edisi nostalgia ini.

Orang yang baru saja terlintas dalam ingatanku adalah dua orang yang pernah hadir dalam kehidupanku sebagai guru sekolahku. Yang satu adalah guru matematika SMP ku, orang yang aku tau menaruh perhatian atas kemampuanku dalam bidang itu. Yang masih membekas dalam ingatanku adalah bagaimana di hari-hari mendekati ujian nasional, beliau khusus meminjamkan buku matematika-nya yang mungkin sudah seperti kitab suci baginya, yang penuh berisi coretan pembahasan soal-soal itu kepadaku. Aku tahu saat beliau meminjamkan buku itu beliau menaruh harapan besar buatku, agar aku bisa meraih nilai 10, nilai sempurna seperti yang sudah dilakukan oleh kakak kelasku. Untungnya saat itu aku berhasil memenuhi harapannya dengan mempersembahkan nilai 10 di ujian nasional, untuk pelajaran matematika.
Yang kedua adalah almarhum guru Bahasa Indonesia ku di SMU. Sebenarnya aku sangat sedih untuk menuliskan ini, karena setelah lulus dari SMU belum pernah sekalipun aku berkesempatan bertemu beliau. Pak Kasworo, guruku itu mungkin adalah orang pertama yang menghargai bakat menulisku. Beliau juga yang menyadarkanku bahwa aku memiliki talenta dalam bidang ini. Aku tau dan bisa merasakan dia menyayangiku, dan memberi perhatian khusus dengan bakat yang aku miliki ini. Beliau mendorongku untuk menulis pertama kalinya dengan mengikuti lomba menulis resensi buku. Aku masih ingat kalau tidak salah judul bukunya adalah “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari, sebuah karya sastra Indonesia. Aku tidak menang apapun dalam lomba itu, tapi aku merasa senang karena saat itulah untuk pertama kali aku bisa menyelesaikan sebuah tulisan, sementara begitu banyak coretan2 cerita pendekku yang tidak pernah selesai, yang kutulis semasa masih duduk di bangku SMP. Perhatian pak Kasworo tidak berhenti di situ, sampai aku bisa menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah sekolah, dan mulai menulis cerita-cerita pendek. Sayang penyakit kanker menggerogoti beliau hingga harus menghadap Sang Pencipta tahun lalu. Tak sempat aku menengoknya di kampung halamanku, padahal aku begitu ingin bertemu dan mengucapkan, “Terima kasih pak, lihatlah sampai sekarang saya masih tetap menulis, karena Bapak yang membuat saya menyadari betapa menyenangkannya menulis itu”. Hanya doa yang bisa aku panjatkan semoga beliau bisa tenang di sisi-Nya.

Orang-orang berikutnya yang melintas dalam ingatanku adalah orang-orang yang pernah mengisi hari-hariku semasa menjadi mahasiswi di Trisakti. Yang pertama adalah abang tukang buah di belakang terminal Grogol. Aku tidak tahu berapa usianya waktu itu, mungkin sekitar 20an lebih, belum terlalu tua sepertinya. Di awal-awal kuliah saat masih kost di belakang terminal, setiap hari kalau pergi ke kampus aku pasti melewatinya dan gerobak buah dagangannya. Dan saat kuliah, demi menjaga berat badanku, juga sekaligus irit dengan uang hidup yang pas-pas an selama jadi mahasiswi, abang tukang buah ini menjadi langgananku. Setiap hari membeli buah, buah yang sama, pepaya, nanas dan sedikit bengkoang, sampai-sampai aku sudah tidak perlu lagi menyebutkan pesananku, si abang sudah tau apa yang akan kubeli. Kalau diingat-ingat, kulit abang tukang buah itu hitam sekali karena mungkin setiap hari terbakar panasnya mentari ibukota. Saat sudah pindah kost, sesekali bila melewati terminal aku masih bisa menemuinya. Tapi sekarang entahlah, mungkin dia masih berjualan di situ, mungkin juga tidak. Si abang bukan tipe yang banyak bicara, tapi cukup ramah walau hanya senyum saja yang biasanya dia berikan tiap kali aku lewat dan menegurnya.
Berikutnya adalah pak Parto tukang es dung-dung yang berjualan seputar jalan Susilo. Bapak ini sudah cukup tua, mungkin sekitar 50an usianya waktu itu. Beliau mencari nafkah di ibukota sebagai tukang es keliling, meskipun demikian anak-anaknya bisa bersekolah di universitas negeri yg cukup bergengsi. Beda dengan si abang buah, pak Parto sangat hobby bercerita. Sambil melayani pesananku dia bisa cerita macam-macam. Aku sih senang-senang saja menanggapi ceritanya, kebanyakan beliau bercerita soal keluarganya, soal kehidupan dan seringkali terselip beberapa nasihat dalam setiap obrolan kami. Pak Parto selalu punya banyak waktu untuk cerita, karena untuk membuatkan pesananku butuh waktu yang lama dengan kondisi tangannya yang sudah gemetar, mungkin karena usia. Saat aku lulus dan sudah kerja, tapi masih kost di Grogol, aku masih sering melihat pak Parto jualan, tapi belakangan beliau sudah tidak kelihatan lagi, entahlah mungkin anak-anaknya sudah berhasil semua dan melarang bapaknya untuk jualan, walau dulu pun sudah pernah dilarang tapi memang pak Parto masih ingin jualan, atau karena memang kondisi usianya yang sudah tidak memungkinkan beliau untuk berjualan. Aku tidak pernah tahu lagi kabarnya.
Yang terakhir adalah si bapak tukang sapu jalanan, masih di seputar jalan Susilo, Grogol. Aku tidak ingat bagaimana awalnya, hanya yang kutahu setiap kali berpapasan dengan si bapak, aku yang selalu menyapanya, dan bak melihat pejabat yang lewat, si bapak otomatis akan berhenti menyapu, tersenyum ke arahku sambil mengangkat tangannya. Kami tidak pernah mengobrol, tapi selalu adegan itu yang terjadi tiap kali kami berpapasan. Aku menyapanya dengan senyuman dan memanggil “Pak…” Dan si Bapak akan berhenti menyapu, membalas senyumku sambil mengangkat tangan, dan sesekali berkata “Ya Non”, atau “Berangkat Non?”. Aku tidak tau usia si Bapak, sampai aku kerja si Bapak masih jadi tukang sapu jalanan. Dan sejak aku kerja, tiap lebaran aku pasti menyisihkan sedikit rejeki untuk si Bapak, tidak banyak mungkin, tapi aku tau buat si Bapak itu bisa jadi sangat berarti. Aku akan dengan sengaja mencari si Bapak, menelusuri jalan-jalan yang menjadi wilayah kerjanya. Selama beberapa tahun aku melakukannya, sampai aku sudah tidak kost lagi, seingatku ada sempat 1 kali aku dengan sengaja mencari si Bapak saat mendekati lebaran hanya untuk sekedar membagi kebahagiaan dan merasa bahagia juga tentunya dengan melihat wajah si bapak yang tersenyum sambil berkata “Alhamdullilah”. Sudah empat tahun ini aku tidak pernah lagi melihat si Bapak. Pertama karena aku memang sudah tidak tinggal di Grogol lagi, kedua mungkin memang si Bapak sudah tidak kerja lagi? Entahlah, aku sempat beberapa kali bertanya ke sepupuku yang masih kost di Grogol, apakah pernah melihat si Bapak tukang sapu ini? Tapi sepertinya sepupuku pun sudah tidak pernah melihatnya lagi.

Sehari sesudah Natal, aku mendapat sms dari pak Tikno, tukang ojek langgananku. Meskipun tidak merayakan Natal, tapi perhatiannya padaku cukup membuatku terharu. Pak Tikno pernah mengantarku pergi interview kerja di dua tempat kerjaku yang lama. Pernah juga mengantarku subuh-subuh ke stasiun Gambir saat akan perjalanan dinas kantor ke Cirebon, karena aku khawatir taxi akan susah menemukan tempat kost ku yang letaknya di gang sempit. Dengan teknologi, kami masih bisa berhubungan sampai saat ini, sudah sekitar 5 tahun dari mengenal pak Tikno pertama kali, karena diperkenalkan oleh teman kantorku, dan sejak itu jadi ojek langganan yang siap mengantarku ke mana saja. Aku sempat berpikir, satu hari nanti mungkin pak Tikno akan sama seperti guruku, si tukang buah, pak Parto ataupun si Bapak tukang sapu jalan. Hanya menjadi kenangan buatku…

Satu kali aku pernah “menerima” sebuah nasihat, melepaskan kepergian orang yang meninggal, seperti halnya pertemuan kita dengan orang-orang ini. Orang-orang yg sempat hadir di kehidupan kita untuk sesaat. Saat ini di manakah mereka? Kita tidak tahu. Baik-baik sajakah keadaannya? Kita pun tidak tahu. Begitu pula seharusnya kita melepaskan mereka yang sudah pergi meninggalkan kita. Hanya karena kita merasa mereka itu ‘milik’ kita, ayah kita, ibu kita, saudara kita, saat kehilangan kita merasa tidak rela. Anggap saja kepergian mereka seperti kita yang tidak lagi bertemu dengan orang-orang yg pernah hadir dalam hidup kita. Mereka masih ada (mungkin), di suatu tempat. Satu saat kita (mungkin) akan bertemu dengan mereka lagi. Jadi janganlah terlalu melekatinya dan bersedih saat kita ditinggal oleh mereka. Huft nasihat yang mungkin sulit dipahami ya, sakit kepala rasanya kalau harus memikirkannya. Dan sejujurnya sampai saat ini aku sendiri masih sulit untuk menerapkannya.

Dalam hidup kita seringkali menemui orang-orang yang meskipun hanya satu atau dua kali bertemu tapi masih berbekas dalam ingatan kita, karena mereka sudah memberikan kesan yang mendalam. Tapi ada juga orang-orang yang mungkin hanya lewat dalam kehidupan kita, yang sesekali saja namanya muncul dalam ingatan kita. Namun banyak juga orang yang walaupun pernah hadir cukup lama dalam hidup kita, tapi buat kita biasa saja sehingga tak ada ruang dalam memory kita untuk mengingatnya.
Masih banyak sederet nama yang sebenarnya melintas dalam ingatanku, termasuk mantan boss ku dulu pak H.K., karena tak sengaja kemarin membuka file chat kami yang lama. Meskipun kadangkala nyebelin, tapi aku tahu hatinya baik, meskipun seringkali dibuat sakit hati, tapi selalu bisa aku maafkan. Dan ternyata saat kubaca ulang obrolan kami saat aku sudah pindah kerja, dia cukup perhatian dan banyak menasihatiku juga. Tapi dasarnya aku yang sableng, gak pandang bulu, mau boss mau owner mau siapa pun, kalau menurutku salah, pasti akan aku ocehin. Heh kebiasaan buruk nih, entah buruk atau baik, mungkin tergantung porsinya, karena di satu sisi aku hanya merasa harus terus terang, dan terbuka, tapi mungkin gak semua orang akan suka.

Dan akhirnya, sekarang aku harus menutup edisi nostalgia ini, karena sudah cukup panjang, sangat panjang bahkan, kalau diteruskan akan jadi novel. Jadi sebaiknya diakhiri sampai di sini, dengan masih menyisakan sederet nama-nama lain di kepala, dan wajah-wajah mereka satu persatu yang muncul dalam ingatanku, dan tak sempat kutuliskan semua di sini. Aku hanya berharap di manapun mereka semua berada sekarang, mereka bisa berbahagia. Pernah bertemu berarti ‘berjodoh’, dan semoga kelak masih bisa ‘berjodoh’ lagi…

Jakarta, 4 January 2013
~Jen~

01.15 am

Doa

Tuhan…
Satu tahun lagi sudah berganti,
dan Kau masih berikan aku nafas untuk menjalaninya…
Terima kasih atas segala berkat dan rahmat-Mu yang senantiasa menyertaiku hingga hari ini.

Tuhan…
Maafkan aku seringkali tak mendengar-Mu,
Maafkan aku seringkali mengabaikan ajaran-Mu, dan memilih mengikuti mara dalam diriku…

Tuhan…
Tlah sekian lama aku berhenti ‘berdoa’ kepada-Mu…
Sejak tak Kau kabulkan satu pinta sederhana-ku…
Sejak kepergian orang yang paling berharga dalam hidupku, ayahku…

Tuhan…
Bukan, bukan karena aku marah lalu meninggalkan-Mu
Tapi aku belajar memahami bahwa doa bukan sekedar meminta dari-Mu,
Bahwa doa ku adalah segala laku-ku, tutur kata-ku, perbuatan-ku…

Tapi aku lupa Tuhan…
Aku lupa kalau Kau selalu ada untukku…
Lalu aku menjadi sombong hingga merasa Kau bukan apa-apa…
Dan aku lupa menyertakan-Mu dalam setiap ‘doa’ku…

Maafkan aku Tuhan…
Hari ini aku bersujud di hadapan-Mu,
Menyadari kesalahanku dan kembali memohon pada-Mu,
Sertailah aku selalu, kabulkanlah doa yang kupanjatkan dalam setiap laku-ku.
Jangan biarkan ‘doa’ itu tidak sesuai kehendak-Mu…

Satu pinta tulusku padaMu,
Jadilah selalu pelita di dalam hatiku,
Terangilah aku di dalam menempuh perjalanan panjang ini…
Tetaplah terus bersamaku, peluklah aku selalu dalam kasih-Mu,
Biarkan aku merasakan damai dan cinta-Mu,
Biarkan aku menyatu dengan-Mu…
Hingga tiada Kau dan aku, ataupun kita,
dan yang tersisa hanya cinta…

Sadhu, Sadhu, Sadhu…

Jakarta, 1 Januari 2013
~Jen~
03.12 am

Di tengah kesadaranku akan hadir-Mu Tuhan