Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Contemplation’ Category

Menjelang detik Waisak 2013, masih di kost di Cikarang, tidak ada keramaian umat, tiada lantunan pujian kepada Tri Ratna, tiada kepulan dupa, harum wangi bunga ataupun nyala lilin persembahan. Yang tersisa di sini hanya sebuah hati, yang mencoba merenungi kembali kelahiran sebagai manusia, merenungi tujuan datang ke dunia, merenungi perjalanan yang masih harus ditempuh…

Menyadari sungguh betapa beruntungnya terlahir sebagai manusia, betapa beruntungnya dapat mengenal Dhamma ajaran Buddha.
Merenungi betapa diri ini masih diliputi keserakahan, kebencian dan kebodohan, dan sang “Aku” yang berkuasa.
Merenungi bahwa diri ini masih “tertidur”, masih terlalu banyak debu di mata yang harus disingkirkan, agar mata ini dapat terbuka dan “melihat” apa itu “kebenaran” yang sejati…

Teringat nasihat salah seorang Bhikku, “saat kematian bukan lagi merupakan hal yang menakutkan, maka tiada lagi yang perlu dikhawatirkan di dunia ini”. Mencoba memaknai dan menjalaninya saat ini…
Teringat akan sahabat batin yang sejati, yang selalu menyertai setiap langkah ini, Guru dan teman seperjalanan di dunia ini, dan di banyak kehidupan. Berikrar selamanya mengikuti langkah Guru, sekarang, selamanya di banyak kehidupan, sampai tercapai akhir pembebasan sejati…

Dan sebuah mimpi…cita-cita…ikrar… Yang saat ini belum dapat dijalankan…
Air mata ini adalah kesedihan atas “kemalasan” diri ini, bukan sebuah penyesalan, karena semua berjalan atas karma, “kehendakku” sendiri…

Semoga Waisak kali ini, kembali mengingatkanku untuk tidak “malas”, menyadari bahwa segala yang terkondisi tidak kekal, dan mengajakku untuk terus berjuang dengan penuh kesadaran…

Appamadena Sampadetha!

Selamat Hari Tri Suci Waisak 2557 BE/2013
Semoga semua makhluk berbahagia…

20130525-112815 AM.jpg

Cikarang, 25 Mei 2013
~Jen~

Read Full Post »

20130518-083523 PM.jpg

Tuhan…
Mengapa aku merasa Engkau tengah menguji kesetiaanku?
Saat ini, saat aku begitu membutuhkanMu, mengapa Engkau seolah menjauh dariku?

Tuhan…
Apa salahku padaMu? Tidakkah Kau percaya aku akan selalu setia kepadaMu?
Bahkan saat terberat dalam hidupku, saat Kau tak mengabulkan pintaku, malah mengambil harta berhargaku, saat itu walau aku sangat marah kepadaMu, tapi tak sedikitpun aku berpaling dariMu. Sebaliknya aku justru berusaha untuk lebih mengenalMu.

Tuhan…
Apa yang Kau inginkan dariku? Apa yang harus kuperbuat agar Kau selalu bersamaku?
Mengapa Kau membiarkanku seorang diri dalam kebingungan?
Apakah aku harus menemukan sendiri jawaban atas semua tanya ini, tanpaMu menyertaiku?

Tuhan…
Aku tak tahu apakah aku akan mampu bertahan dalam kebingungan ini.
Apakah aku akan mampu melewati segala rasa sakit ini?
Apakah proses ini memang harus kulalui sendiri tanpaMu?
Bahkan tak Kau sisakan seorang temanpun untukku, mengapa Tuhan?

Maaf…aku tak pernah bemaksud mempertanyakan ini padaMu…
Maaf…seharusnya aku percaya padaMu, percaya bahwa Kau selalu ada untukKu…
Walau saat ini aku merasa sendiri, mungkin ada saat aku memang harus berjalan sendiri…
Tapi aku percaya, Kau ada di ujung perjalanan ini, menantiku dengan tanganMu yang terbuka lebar untukku… Selalu…
Kau selalu ada di sana menantiku, untuk sampai kepadaMu…

Cikarang, 18 May 2013
~Jen~

Dalam sendiriku dan kerinduanku akan-Mu, Tuhan…

Read Full Post »

Lem Tikus

Sebenarnya peristiwa ini sudah lama terjadi, dulu sekali sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Aku lupa tepatnya kelas berapa, tapi rasanya antara kelas 4 atau 5 SD. Entah kenapa kejadian saat itu masih kuingat sampai saat ini, terutama saat-saat aku lagi teringat akan almarhum papi. Lucunya sambil mengingat peristiwa itu, otakku terus berpikir menelaah ‘pesan’ apa yang sebenarnya bisa kupelajari dibalik peristiwa itu. Setelah sekian lama berpikir, rasanya aku sudah bisa memahami makna yang bisa kuambil dari peristiwa tersebut dan baru sekarang ini sempat kutuliskan.

Ceritanya dulu aku punya sebuah rautan pensil model yang diputar, berbentuk kereta api. Rautan model ini mungkin masih menjadi barang langka di tahun 80an, apalagi buat kota kecil (baca: desa) tempatku tinggal. Rautan tersebut adalah oleh-oleh yang diberikan pamanku dari Taiwan, dan hasil rautannya sangat runcing, berbeda dengan rautan pensil dengan cermin yang umumnya dipakai pada jaman itu, sehingga lengkaplah sudah rautan berbentuk kereta api tersebut jadi barang mewah yang sangat disayangi oleh kami bertiga, aku, kakak dan adikku, pada saat itu.

20130202-100521 PM.jpg

Suatu ketika, entah karena terlalu sering dipakai, atau juga ada kesalahan dalam pemakaian, pemutar yang ada di bagian belakang rautan tersebut patah. Kami bertiga pada saat itu tidak tahu pasti siapa yang sudah merusaknya, rasanya tiap anak punya andil dalam rusaknya rautan tersebut. Karena pemutarnya patah, maka rautan tersebut tidak lagi dapat digunakan. Tapi sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami untuk tidak begitu saja membuang barang yang rusak. Papi adalah pedagang, tapi rasanya kalau jaman itu papi punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, kupikir papi akan mendapatkan gelar insinyur. Tidak sedikit perabot di rumah kami yang rusak tapi bisa diperbaiki oleh papi, termasuk juga alat-alat elektronik, jika kerusakannya ringan, papi akan bisa memperbaikinya. Oleh karena itulah rautan pensil yang patah itu tidak serta merta kami buang, selain karena rasa sayang tentunya, tapi juga karena dirasa masih bisa diperbaiki. Maka rautan pensil tersebut masuk dalam daftar tunggu benda-benda yang akan papi perbaiki di waktu senggang.

Belum sempat rautan itu diperbaiki oleh papi, aku sudah ingin menggunakannya, dan entah karena darah keturunan papi yang mengalir di tubuhku, atau aku sendiri memang orang yang tidak bisa diam dan selalu berusaha sendiri, maka timbullah keinginanku untuk memperbaiki sendiri rautan pensil tersebut. Aku mencoba melihat kerusakannya, “hmm, ini hanya karena patah saja, jika aku berhasil merekatkan kembali pemutar yang ada di bagian belakang tersebut, maka rautan ini bisa kugunakan kembali,” begitu pikirku saat itu. Maka mulailah aku memutar otak, kira-kira lem apa yang cukup kuat, yang bisa kupakai untuk merekatkan bagian yang patah tersebut. Aku berpikir keras, lalu mencoba sebuah lem yang biasa dipakai untuk merekatkan bahan kertas, kain dan bahkan kayu, namun tidak berhasil, tentu saja karena rautan pensil itu terbuat dari bahan semacam plastik. Kembali aku putar otak, dan tiba-tiba terlintas dalam benakku, “Aha! Pakai lem tikus aja, pasti akan menempel dengan kuat, tikus aja bisa nempel,” begitu yang ada dalam pikiranku. Maka ku ambillah lem tikus yang kebetulan kulihat di depan mataku. Apalagi di kotak lem tikus itu ada gambar gajah yang ikut nempel, makin yakinlah aku bahwa lem ini akan merekat dengan kuat. Namun apa yang terjadi? Bukannya merekat kuat, lem itu tidak kering-kering dan bagian pemutar yang patah itu tetap tidak bisa menempel kembali. Putus asa melihat hasilnya, akhirnya kubiarkan saja rautan itu apa adanya.

Waktu berselang, tiba giliran rautan itu untuk diperbaiki papi, dan kebetulan aku sedang duduk di dekat papi. Papi mengeluarkan rautan itu dari kotaknya, memperhaikan sebentar kerusakan yang ada, lalu mulai mengutak-atik bagian yang rusak. Tiba-tiba dengan heran papi bergumam, “Kenapa kok ini lengket ya?” katanya sambil memegang bagian yang patah. Lalu aku yang melihat dan sadar akan hasil perbuatanku serta merta berkata, “Eee kayaknya waktu itu Jen pernah coba benerin dan pakein lem tikus, Pi.” “Hah! Dasar bodoh! Mana bisa nempel, bedul, lem tikus mah bikin lengket, mana bisa kering! Pantesan lengket begini,” seru papi kepadaku. (Umpatan “bodoh” sudah cukup lazim di keluarga kami, tanpa maksud mengatai bodoh dalam arti sesungguhnya, karena jelas kami bertiga anak papi selalu dapat juara di kelas, mungkin karena itulah kalau ada perbuatan kami yang dinilai tidak mencerminkan kepintaran kami, papi atau mami akan mengatakan kami “bodoh”; sementara “bedul” entah bahasa apa, tapi kami anak-anaknya sering dipanggil begitu oleh papi). Saat itu aku hanya bisa nyengir saja, tapi otak anak umur 9 – 10 tahun-ku saat itu masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin yang namanya “lem” yang seharusnya fungsinya melekatkan, tidak bisa membuat benda menempel, padahal tikus saja bisa nempel!

Dalam perjalanan waktu, dan banyak pelajaran yang kuterima, akhirnya aku bisa memahami mengapa yang namanya “lem tikus” itu bisa membuat tikus menempel di papan umpan, tapi tidak bisa merekatkan rautan pensilku. Meski begitu, selama bertahun-tahun peristiwa “lem tikus” itu kerap melintas dalam pikiranku. Aku kerap berpikir apakah dengan melakukan hal itu berarti aku ini “bodoh”? Hmmm rasanya tidak juga, kalau aku bodoh, tidak mungkin saat itu IQ ku 133, ukuran yang termasuk genius (sombong dikit ya, hihihi). Tapi benar-benar peristiwa itu buat aku mikir. Dan sekarang sepertinya aku mulai memahami, apa yang kulakukan saat itu memang sebuah “kebodohan”. “Kebodohan” bukan berarti otakku yang bebal, tapi “kebodohan” karena “ketidaktahuan”.

Demikian halnya dengan kehidupan kita sebagai manusia. Sang Buddha menyampaikan ada tiga racun yang meliputi manusia, yaitu keserakahan, kebencian dan kebodohan. “Kebodohan”, ini sering disebut sebagai “kegelapan batin”, mengapa? Karena “kebodohan” di sini adalah “ketidaktahuan”, orang yang tidak tahu ibarat berada dalam kegelapan. Dari peristiwa “lem tikus” ini ternyata memberiku banyak pelajaran, yang pertama, “kebodohan” atau “ketidaktahuan” bisa menjerumuskan manusia. Tidak dapat memahami benar dan salah seringkali membuat manusia melakukan perbuatan yang merugikan dirinya sendiri. Benar dan salah memang sangat “relatif” di dunia ini, karena itulah dibutuhkan “kebijaksanaan” untuk dapat “melihat”-nya. Yang kedua, manusia bisa “belajar” untuk dapat mengikis “kebodohan”, tentu saja diperlukan waktu dan proses pembelajaran, seperti halnya aku yang pada akhirnya dapat memahami cara kerja “lem tikus”. Yang ketiga, kadangkala apa yang “terlihat” seringkali tidak demikian adanya, ditambah lagi dengan “kebodohan” kita, “ketidaktahuan” kita, “kegelapan batin” kita, membawa kita pada pengertian yang salah, dan parahnya kita lalu mengangap itu sebagai hal yang benar. Seperti aku kecil yang menganggap bahwa yang namanya “lem” akan dapat melekatkan benda yang ingin kutempel, maka aku berpikir bahwa jika seekor tikus saja bisa menempel, maka lem itu sudah pasti sangat kuat dan mampu merekatkan rautan pensilku, ini pengertian yang salah yang saat itu kuanggap benar! Untungnya kembali ke point kedua, dalam perjalanan waktu aku mau “belajar”, “mengkaji”, “membuktikan”, dan akhirnya “memahami”‘ “mengakui” dan “menerima” bahwa aku telah “salah”. Sehingga ini menjadi point keempat, asalkan ada kemauan untuk belajar, mau mengakui kesalahan, tidak ngotot dengan pemahaman sendiri atau merasa diri sudah benar, maka dengan membuka diri kita, kita dapat “melihat kebenaran” di sekitar kita, dan perlahan-lahan mengikis “kegelapan batin” atau “kebodohan” kita.

Semoga peristiwa “lem tikus” ini bisa senantiasa menjadi pengingat bagiku dalam “menempuh perjalanan” ini. Semoga anda yang membacanya dapat pula mendapatkan manfaat, apapun itu, bisa jadi hanya sebagai sekedar hiburan atau bacaan iseng, it’s oke, setidaknya ada manfaat. Segala karma baik yang ditimbulkan oleh tulisan ini, semoga melimpah pada almarhum papi dan semua makhluk, semoga semua senantiasa berbahagia dan terbebas dari penderitaan, Sadhu Sadhu Sadhu.

Jakarta, 3 Februari 2013
~Jen~

10.38 pm

Read Full Post »

20130108-061533 PM.jpg

Beberapa hari ini suasana hatiku sedang tidak menentu, mungkin tepatnya agak mellow. Bukan karena gejala penyakit wanita bulanan, tapi entahlah, sepertinya ada pesan yang tak tersampaikan yang masih harus kutemukan jawabnya. Jujur aku tidak suka dalam kondisi ini, saat aku kehilangan gairah, menjadi malas bicara dan yang terparah adalah menangis tanpa sebab dan aku tidak bisa mengontrol air mataku.

Heh rasanya sangat melelahkan, kalau pagi-pagi saat harus bergelut dengan macetnya jalanan ibukota, tiba-tiba kamu merasa begitu sedih dan menangis, tapi kamu bahkan tidak tahu apa yang membuatmu sedih, karena memang kamu tidak sedang memikirkan hal apapun yang membuatmu sedih, tapi ya itulah yang terjadi padaku. Ketidaknormalan yang seringkali melelahkanku dan menjadikanku orang yang aneh. Beberapa hari yang lalu saat melihat awan di langit yang cerah, awalnya aku merasa begitu gembira, tapi sesaat kemudian air mata mulai menetes dari kedua mataku. Aku jadi ingat, sejak kecil aku sangat suka memandang awan-awan yang berarak di langit. Seringkali aku membayangkan bentuk-bentuk tertentu dari awan-awan itu, tapi setelah itu aku merasa sedih dan menangis. Setiap kali memandang awan di langit terbersit rasa senang sekaligus sedih, entah mengapa, seolah di atas sana di balik awan-awan itu, ada sesuatu yang begitu kurindukan dan ingin kugapai namun tak pernah berhasil kuraih.

Aku jadi ingat, kira-kira dua bulan yang lalu, saat pulang dari kantor melewati jalan tol di saat senja, tiba-tiba melintas sekawanan burung yang seolah hendak pulang ke sarangnya. Saat melihat mereka, seketika aku merasa begitu gembira. Sungguh aneh, perasaannya tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Aku seolah melihat ‘teman-temanku’, setelah sekian lama terpisah dari mereka, sehingga aku merasa begitu gembira. Malamnya saat hendak tidur, aku kembali teringat akan kawanan burung itu, dan aku mulai menangis, merasakan kerinduan yang sekian lama terpendam, dan dari dalam hatiku seperti berteriak, “aku ingin pulang”, “aku rindu untuk kembali”… Aku hanya merasa sudah terpisah sekian lama dari ‘keluargaku’, ‘teman-temanku’ dan dari tempat di mana seharusnya aku berasal. Aku begitu ingin pulang, bersama kawananku….

Sebenarnya hari itu aku ingin menuliskan perasaanku itu, tapi entah mengapa selalu tidak ada waktu, sampai hari ini, saat suasana hatiku sedang tidak terlalu baik, sehingga aku memilih menyepi di tengah keramaian orang-orang yang sedang menikmati secangkir kopi, tanpa sengaja aku membaca sebuah artikel di web Tzu Chi mengenai kegiatan Tzu Ching Camp Internasional, dan di dalam artikel tersebut terulis sebuah judul lagu 燕子歸來 (Yan Zi Gui Lai) yang berarti ‘Burung Walet Pulang Kembali’. Isi lagu ini mengandung makna kembalinya sekelompok murid dari berbagai negara ke ‘kampung halaman batin’ yang diumpamakan sebagai sekelompok burung walet yang kembali pulang. Seketika aku jadi teringat kembali akan peristiwa kawanan burung itu, ingat akan perasaanku saat itu.

Mungkin memang tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, dan setiap tanyaku selalu terjawab meskipun kadangkala membutuhkan waktu. Aku tahu sudah saatnya aku ‘pulang’, kembali ke ‘kawananku”, kembali ke “rumahku”. Dan bukan sebuah kebetulan pula kalau nama mandarinku adalah 燕妮 (yen nie) yang berarti “burung walet perempuan”. Sekumpulan burung yang kulihat sore itu, perasaanku saat melihat mereka, dan berbagai pertanda lain yang mungkin sebagian besar belum kusadari, sebenarnya menuntunku untuk “kembali”.

Tekadku sudah bulat, ikrar sudah terucap, jalan sudah terbentang, tinggallah kakiku yang melangkah. Tinggal sayap kubentangkan untuk terbang kembali pulang bersama kawananku, kembali ke ‘rumahku’. Semoga cuaca bersahabat, semoga langit merestui perjalananku, semoga awan senantiasa menemaniku, dan cahaya mentari menyinari jalanku, dalam perjalanan pulangku, ke pangkuan “ibu” yang senantiasa menungguku kembali. Aku akan ‘pulang’, pasti….

Jakarta, 8 January 2013
~Jen~

7.33 pm

Read Full Post »

Doa

Tuhan…
Satu tahun lagi sudah berganti,
dan Kau masih berikan aku nafas untuk menjalaninya…
Terima kasih atas segala berkat dan rahmat-Mu yang senantiasa menyertaiku hingga hari ini.

Tuhan…
Maafkan aku seringkali tak mendengar-Mu,
Maafkan aku seringkali mengabaikan ajaran-Mu, dan memilih mengikuti mara dalam diriku…

Tuhan…
Tlah sekian lama aku berhenti ‘berdoa’ kepada-Mu…
Sejak tak Kau kabulkan satu pinta sederhana-ku…
Sejak kepergian orang yang paling berharga dalam hidupku, ayahku…

Tuhan…
Bukan, bukan karena aku marah lalu meninggalkan-Mu
Tapi aku belajar memahami bahwa doa bukan sekedar meminta dari-Mu,
Bahwa doa ku adalah segala laku-ku, tutur kata-ku, perbuatan-ku…

Tapi aku lupa Tuhan…
Aku lupa kalau Kau selalu ada untukku…
Lalu aku menjadi sombong hingga merasa Kau bukan apa-apa…
Dan aku lupa menyertakan-Mu dalam setiap ‘doa’ku…

Maafkan aku Tuhan…
Hari ini aku bersujud di hadapan-Mu,
Menyadari kesalahanku dan kembali memohon pada-Mu,
Sertailah aku selalu, kabulkanlah doa yang kupanjatkan dalam setiap laku-ku.
Jangan biarkan ‘doa’ itu tidak sesuai kehendak-Mu…

Satu pinta tulusku padaMu,
Jadilah selalu pelita di dalam hatiku,
Terangilah aku di dalam menempuh perjalanan panjang ini…
Tetaplah terus bersamaku, peluklah aku selalu dalam kasih-Mu,
Biarkan aku merasakan damai dan cinta-Mu,
Biarkan aku menyatu dengan-Mu…
Hingga tiada Kau dan aku, ataupun kita,
dan yang tersisa hanya cinta…

Sadhu, Sadhu, Sadhu…

Jakarta, 1 Januari 2013
~Jen~
03.12 am

Di tengah kesadaranku akan hadir-Mu Tuhan

Read Full Post »

photoSudah lama tidak nonton film, karena merasa harus meluangkan waktu untuk diri sendiri dan atas saran beberapa teman, akhirnya memutuskan untuk menonton film “Life of Pi”. Seperti biasa, dari setiap film yang aku tonton, pastinya ada pelajaran yang bisa diambil. Kali ini aku mencoba menulis apa yang aku tangkap dari film tersebut, terlepas dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh si penulis cerita ataupun sang sutradara, di sini aku menuliskan apa yang aku ‘rasa’kan dari menonton film tersebut. Jadi bisa saja ini tidak seperti maksud yang ingin disampaikan oleh si pembuat cerita, tapi buatku ini adalah ‘pesan’ yang tertangkap dan inilah yang akan kutuliskan di sini.

Awal film ini lebih banyak adegan berbicara, yang buat sebagian orang mungkin agak sedikit membosankan, walaupun dalam setiap adegan itu tetap saja terkandung banyak pesan dan nilai, tetapi aku juga tidak terlalu tertarik untuk menuliskannya di sini. Sejujurnya tidak seperti film-film lainnya, dimana saat menonton pun aku sudah bisa menangkap ‘pesan’ yang ingin disampaikan, untuk film ini aku perlu berpikir untuk bisa memahami apa yang ingin disampaikan, entahlah mungkin aku sedikit kurang konsentrasi waktu menonton karena masih diselingi mengerjakan kerjaan kantor yang kebetulan darurat, atau memang karena pesan yang ingin disampaikan terlalu dalam.

Buatku, pesan dari film ini dimulai dari perjuangan Pi di tengah lautan, dan harus hidup berdua saja dengan Richard Parker si macan bengala. Richard Parker sesungguhnya melambangkan ‘keakuan’ dalam diri setiap manusia. Manusia terlahir dan hidup dalam samsara ini dengan membawa keakuan dalam diri masing-masing, seperti juga Pi yang harus tinggal bersama Richard Parker terombang-ambing di tengah lautan. Aku bisa melihat betapa angkuh dan sombong nya si macan, karena mungkin merasa di sana dialah yang paling hebat, seperti halnya ‘keakuan’ dalam diri kita masing-masing yang sering merasa kitalah yang paling hebat dari orang lain. Dengan kesombongan dan ‘alasan’ mempertahankan hidup, ‘aku’ seringkali mengorbankan makhluk lainnya, seperti si macan yang memangsa zebra, hyena dan orang utan. Keserakahan si ‘aku’ juga diperlihatkan oleh si macan saat adegan perahu mereka dilewati ikan-ikan terbang. Richard Parker si macan, masih ingin merebut ikan yang besar dari Pi, padahal sudah begitu banyak ikan-ikan yang bisa ia santap yang berjatuhan di dalam perahu tersebut. Entah mungkin merasa tidak cukup, mungkin merasa ikan yang besar itu lebih baik, atau bisa jadi karena merasa harus mendapatkan ‘yang lebih’. Seperti itu juga kita manusia selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah ada pada diri kita, hidup kita. Satu adegan memperlihatkan kebodohan si ‘aku’, saat Richard Parker terjun ke laut demi memangsa ikan yang ada di laut. Saat itu jelas ia tidak berpikir panjang, yang ada di pikirannya mungkin hanya bagaimana caranya dapat menyantap ikan-ikan tersebut, tanpa berpikir caranya dia bisa kembali ke atas perahu, dan bahwa ada resiko dia akan mati karena harus berada di tengah samudra yang begitu luas. Atau bisa jadi sebenarnya dia tahu resiko itu, hanya saja keserakahan dan mungkin kesombongannya sudah membuatnya melakukan tindakan bodoh itu. Demikian halnya dengan manusia, seringkali melakukan tindakan-tindakan yang bisa menjerumuskan diri mereka sendiri, karena ‘kebodohan’ mereka, yang akhirnya membuat mereka terus berada di samudra samsara ini.

Lalu bagaimana dengan Pi sendiri? Di awal perjalanan Pi lebih banyak ‘takut’ dengan Richard Parker, lalu pada akhirnya Pi merasa harus mulai berkomunikasi dan ‘berdamai’ dengan si macan, karena menyadari harus melalui perjalanan itu hanya berdua dengan si macan. Beberapa dari kalian yang membaca kalimat yang aku tulis ini mungkin bisa menangkap maksudnya, tapi buat yang lain mungkin tidak mengerti. Kita hidup di dunia ini, masing-masing membawa ‘keakuan’ kita, dan itulah yang sebenarnya membuat kita masih lahir dan lahir lagi di samsara ini. Sebagian besar kita tidak menyadari bahwa kita harus hidup bersama si ‘aku’ yang sangat berbahaya, seperti Pi yang harus hidup bersama si macan di tengah lautan. Menaklukkan ‘keakuan’ seperti halnya Pi yang berusaha menjinakkan Richard Parker. Tidak selamanya cara yang keras bisa digunakan untuk menaklukkan hal-hal di dunia ini, tapi pada satu titik, ‘berdamai’ dan ‘memahami’ adalah ‘kunci’ dari ‘menaklukkan’ itu sendiri. Sesaat setelah badai, Pi memangku Richard Parker yang sudah kelelahan, pada saat itulah mereka bisa ‘menyatu’.

Saat akhirnya perahu mereka bisa tiba di daratan, Richard Parker pergi meninggalkan Pi, dalam film itu dikisahkan Pi merasa sedih karena menyadari selamanya tidak pernah bisa bersahabat dengan Richard Parker dan merasa menyesal mengapa Richard Parker meninggalkannya setelah apa yang mereka lalui, tanpa ia sempat menyampaikan kata perpisahan. Buat aku adegan ini adalah klimaks, kepergian Richard Parker meninggalkan Pi seorang diri setelah mereka sampai di daratan adalah apa yang memang seharusnya terjadi. Setelah kita bisa ‘menaklukkan’ sang ‘aku’ dalam diri kita masing-masing dan mencapai ‘pantai seberang’, pada saat itu kita memang harus ‘melepas’ sang ‘aku’ sehingga sudah tidak ada lagi ‘aku’, itulah tujan akhir dari perjalanan ini…

Fiuuuhh… tulisan kali ini agak berat ya, mungkin banyak dari kalian yang tidak memahami, tapi tidak mengapa, aku menuliskan ini atas dasar apa yang aku tangkap dan pahami, aku tidak menuntut dari kalian yang membacanya setuju ataupun bisa mengerti. Karena aku menyadari masing-masing orang sedang menempuh perjalannya sendiri, dan sejauh mana perjalannya, hanya diri masing-masing yang tahu. Tidak memahami ini sekarang bukan berarti selamanya tidak akan bisa memahami, hanya saja mungkin aku sudah melalui bagian ini, sementara yang lainnya belum. Bisa jadi ada yang sudah jauh melewati bagian ini, jauh berada di depanku dan merasa bukan seperti ini seharusnya? Tidak apa-apa, itu sah-sah saja, benar dan salah itu relatif, dan kembali kutegaskan ini adalah pemahaman yang aku dapat, bisa diterima bisa juga tidak, anggap saja sebagai dongeng atau bacaan dikala iseng jika tidak sesuai dengan apa yang ada dipikiranmu.

Jakarta, 9 Desember 2012

~Jen~

Read Full Post »

IMG01262-20121205-1740

Hujan gerimis di sore ini, memandang ke luar jendela dari lantai 16 gedung Plaza Mutiara dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dada. Aku memilih menulis daripada menangis ataupun marah-marah mengeluarkan segala kekesalan yang ada. Tulisanku, teman yang paling setia, yang tak banyak bicara, dan selalu ada. Heeehhh…. rasanya menarik napas sepanjang apapun masih gak cukup untuk menghilangkan semua penat ini… Memandang butiran air yang menetes di kaca gedung, melihat ke arah luar langit yang sedikit aneh, hujan gerimis, dengan awan gelap tebal, tapi di ujung sana masih terlihat sedikit cahaya matahari, benar-benar langit sore yang aneh, tapi indah menurutku…

Perut yang terasa lapar, diganjal dengan sebatang coklat toblerone, berharap manis nya bisa memberikan sedikit kegembiraan untuk hati ini. Lagu ‘I won’t give up’ nya Jason Mraz masih bersenandung di telinga lewat earphone, menutupi seluruh suara dari luar, hanya sesekali suara rintik hujan yang menyeruak masuk memanfaatkan sedikit celah yang ada.  Masih mengamati langit Jakarta sore ini, benar-benar aneh, sekarang warnanya sedikit kemerahan, bercampur dengan gelap, memberi kesan remang-remang, masih tetap indah menurutku…

Entah kenapa memberi judul tulisan ini ‘Impian, Kenyataan, dan Harapan’, mungkin karena merasa sedang berhadapan dengan ketiganya. Impian yang sedang dikejar, berhadapan dengan kenyataan yang ada, namun masih tak berhenti berharap. Fiuh, kenapa jadi kompleks ya rasanya. Semua ibarat langit sore ini, campur aduk tapi tetap terasa indah, karena begitulah hidup ini… Mencoba belajar dari setiap peristiwa yang ada, rasa sakit karena ketidakjujuran, kekecewaan karena tidak seperti yang dibayangkan, kepercayaan yang dihancurkan, impian yang terpaksa harus dibuang… semua datang silih berganti, tapi tak bertahan lama…

Mengamati segala perasaan yang timbul dan tenggelam, mencoba untuk bersikap netral, mengendalikan pikiran yang liar ini, sungguh bukan hal yang mudah… Ini adalah ujian terberat, lebih berat daripada harus menyelesaikan hitungan algoritma. Menghabiskan sisa potongan coklat terakhir, tak juga merasa sedikit gembira, mungkin otak ini sudah terlalu bebal, rasa ini sudah mati, atau justru sebaliknya terlalu peka? Entahlah…

Mencoba mengingat segala pesan yang pernah tersampaikan, menjalani kehidupan ini dengan tulus, menjalankan segala konsekuensi dari pilihan yang sudah diambil. Tidak perlu merasa kecewa bila tulus, tidak perlu merasa sakit hati bila melakukan dengan tulus, tidak perlu marah bila tulus. Benar-benar tidak mudah, sungguh tidak mudah… tapi bila ini teratasi, aku percaya hal yang baik tengah menantiku. Seperti pelangi yang menampakkan diri saat matahari berhasil menyeruak diantara gelapnya langit yang tengah menangis, membiaskan titik-titiknya menjadi sapuan warna warni yang indah…

Langit di luar sana sudah gelap, semakin indah, karena sekarang kulihat titik-titik sinar yang gemerlapan bertebaran di bawah sana… Sudah lama tidak menikmati langit malam dengan lampu-lampu kecilnya, sinar-sinar yang memberikan harapan. Mungkin buat orang-orang, aku ini aneh, bahkan teman dekatku mulai mengatakan aku aneh. Aku sendiri tidak suka menjadi aneh, aku sendiri ingin menjadi biasa-biasa saja. Tapi aku harus menerima diriku apa adanya, dengan segala keanehan ini, kepekaan yang tinggi, yang selalu menangkap rasa yang tak terlihat, terkecap, teraba ataupun terdengar, dan otak yang seringkali berpikir keras untuk mencari jawaban atas segala rasa itu. Kadangkala aku lelah, sangat lelah, tetapi pada satu titik meyadari ini adalah berkah, dan berkah sepatutnya disyukuri.

Semua ini adalah proses dalam hidupku, segala yang terjadi pasti ada alasannya, ada yang masih harus kupelajari, ada yang harus kurelakan, ada yang harus kulalui… semoga aku mampu menjalaninya, demi sebuah harapan yang rela kutukar dengan apapun milikku, termasuk impianku… semoga ‘Tuhan’ mendengar doa tulusku…

Jakarta, 5 Desember 2012

~Jen~

06:44 pm

Read Full Post »

IMPIAN

Setiap orang pasti punya impian dalam hidupnya, saya, anda, dia, mereka, masing-masing pasti punya impian yang hanya kita sendiri yang tahu. Sejujurnya beberapa orang juga masih tidak begitu paham sebenarnya apa sih impian atau cita-citanya? Sewaktu saya kecil, saya pernah bercita-cita jadi penari ballet, padahal belajar ballet pun saya tidak pernah. Saya hanya suka melihat keindahan dari kostum maupun gerak si penari ballet, karena itu dalam hati saya lalu timbul keinginan untuk menjadi ballerina.

Di lain waktu saya sempat pula begitu ingin menjadi pemain ice skating, sempat terpikir ingin punya toko kue yang lucu ataupun membuka bridal. Karena terlalu banyak keinginan saya, mami saya sampai bilang, “ah kamu terlalu banyak maunya tapi tidak ada satupun yang ditekuni”. Setelah saya dewasa saya pikir ada benarnya sih omongan mami saya, tapi saya jadi kembali mikir, semua keinginan-keinginan itu hanyalah sekedar ‘ingin’ sesaat saja, tapi bukan benar-benar impian saya.

Tidak mudah menemukan apa yang benar-benar menjadi impian kita. Sepanjang hidup saya selama lebih dari 30 tahun ini, rasanya baru sekitar 8 tahun yang lalu untuk pertama kalinya saya benar-benar memahami apa impian saya sebenarnya. Ternyata saya begitu ingin menjadi seorang marketer dimana produk yang saya hasilkan dapat dikenal dan digunakan serta bermanfaat bagi orang banyak. Hmmm impian yang cukup sederhana ya, tapi ternyata untuk menyadarinya saya butuh 26 tahun.

Ternyata semua impian itu juga ada dasarnya, mengapa saya bisa begitu ingin jadi seorang marketer? Ternyata kalau saya coba ingat-ingat lagi, dari kecil saya sudah terbiasa membantu papi saya jualan di toko yang menjadi mata pencaharian keluarga kami, dan seringkali di waktu senggang saya dan papi, berdua, membahas banyak hal sehubungan dengan produk yang dijual di toko kami. Papi saya adalah guru marketing saya yang pertama, dan bagi saya ia sangat hebat. Mungkin kebiasaan kecil ini dan rasa sayang saya kepada papi saya yang membuat hal ini begitu membekas di hati saya dan akhirnya menjadi jalan yang saya pilih untuk karir saya.

Tapi layaknya cerita sinetron ataupun dongeng, kehidupan nyata juga seperti itu adanya. Mengejar impian itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dalam perjalanan karier saya yang terbilang rata-rata relatif singkat, saya seringkali dihadapkan pada situasi yang membuat saya tidak dapat meraih apa yang saya impikan. Namun sejauh ini saya sangat konsisten dengan impian saya sehingga pada akhirnya menyebabkan saya sering pindah kerja seolah saya ini kutu loncat yang tidak betah. Hanya saya yang tau alasan mengapa saya pindah dari satu tempat ke tempat lain, apapun alasan yang saya katakan jelas hanya akan terdengar sebagai ‘excuse’ bagi orang lain. Tapi saya tidak perduli, setiap langkah yang saya ambil bagi saya adalah yang terbaik untuk saya, untuk impian saya, toh nyatanya sampai detik ini saya merasa akhirnya benar-benar bisa lengkap belajar.

Kembali kepada impian, saat ini saya merasa sudah dihadapkan pada sebuah tantangan, impian saya ada di depan mata dan menanti untuk saya wujudkan, namun ternyata lagi-lagi hidup ini memang ternyata layaknya sinetron, nasib baik ternyata memang jarang berpihak pada saya. Impian saya kembali terbentur satu hal. Saya sedih, sangat sedih, karena untuk melepas sesuatu yang begitu kamu cintai itu tentunya sangatlah berat. Tapi saya menyadari, saya pun tidak boleh egois, ada kepentingan yang lebih besar yang harus saya pikirkan. Maka dengan berat hati kembali kali ini saya harus membuang impian saya.

Ternyata rasanya sangat menyakitkan, memang dibutuhkan kekuatan yang besar untuk dapat melepas, karena satu sisi kamu berhadapan dengan ego-mu sendiri. Tapi hidup tidak berhenti sampai di sini, betapapun menyedihkannya, menyakitkannya, semua adalah pilihan yang sudah saya ambil dan sebagai konsekuensinya harus saya terima dengan lapang dada.

Dalam setiap peristiwa selalu ada pelajaran dan hikmah buat kita, segala rasa sakit bagaikan obat yang jika kita yakini akan menyembuhkan sebagian dari diri kita yang ‘sakit’. Hidup adalah sebuah proses, setiap peristiwa harus kita hadapi dengan berani dengan sepenuh hati, rasa syukur dan ikhlas. Mungkin nilai-nilai inilah yang masih harus saya pelajari sehingga selalu saja saya menghadapi rintangan dalam menggapai impian saya.

Saya percaya ada rencana besar di balik ini semua, tujuan hidup saya yang mendasar, yang lebih dari sekedar impian ini. Bagaimana saya harus belajar melepas ego saya, melatih kesabaran saya dan semuanya untuk tujuan akhir yang saya yakini lebih indah, yang sudah ‘Tuhan’ siapkan untuk saya. Semoga saya diberikan kesabaran, ketabahan, ketulusan, keikhlasan dan kebaikan dalam menghadapi semua permasalahan ini. Sadhu sadhu sadhu.

Jakarta, 17 November 2012
~Jen~

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »